"Apa anda yakin, Hime? Dialah orangnya?" seorang pemuda yang terluka bertanya pada seorang anak perempuan berambut hitam panjang, matanya putih keabuan, pakaian yang ia kenakan adalah kimono mewah. Yang hanya para bangsawan zaman dulu saja yang memakainya. Kimono putih dengan beberapa hiasan indah.

Ia duduk, tepatnya di dalam ruang remang yang cukup luas, tirai transparan mengelilinginya seakan dia tak boleh terlihat oleh manusia biasa. Ia ditemani dua ninja wanita yang berdiri di kanan dan kiri tak jauh darinya. Siap untuk melindunginya.

Ya, saya yakin. Shino-san.

Kalimat itu terlintas dalam pikiran si pemuda yang bernama Shino. Jawaban dari pertanyaannya tadi."Tapi, dia begitu keras dan tak peduli orang lain. Dia tak peduli akan ada yang terluka atau tidak."

Saya tahu, tapi saya yakin dialah yang ada di dalam mimpi saya.

Sekalilagi jawaban dari anak perempuan itu terlintas dalam pikiran si pemuda yang sedang dipapah, oleh wanita berambut merah muda. Benar, cara berkomunikasi yang dilakukan memang tak biasa karena anak gadis itu terlahir layaknya boneka, yang hanya bisa diam dan tak melakukan apapun. Tidak bisa berbicara, melihat, mendengar, atau berjalan. Ia hanya duduk diam di tempatnya tanpa bergerak.

Tapi Tuhan adil, bukan? Dia akan menciptakan setiap makhluknya dengan kelebihan dan kekurangan. Begitu juga dengannya, walau anak perempuan itu tak bisa mendengar dengan sepasang telinganya, tapi ia bisa mendengar dengan hati, berbicara dengan pikiran, melihat dan berjalan di dunia mimpi yang nyata.

Apa anda meragukan saya, Shino-san?

"Bukan, saya tidak meragukan anda, Hanabi-hime. Tapi orang seperti dia ..."

Dia baru berumur tujuh belas tahun dan harus menanggung takdir dunia ini, bisakah anda bayangkan bagaimana perasaannya?

Shino terdiam saat kalimat yang dikirim Hanabi muncul di benaknya.

Sebaiknya anda beristirahat, anda harus memulihkan tubuh anda. Temari, tolong bantu Shino-san.

"Baik." jawab salah satu pengawal sang anak perempuan yang berada di sisi kirinya. Shino membungkuk hormat, lalu dengan wanita bernama Temari itu beranjak dari ruangan sang anak perempuan berambut hitam panjang.

Apa kau Sakura, Haruno Sakura?

Hanabi mengirimkalimat pada wanita berambut merah muda, dan sang wanita berkimono putih pada atasannya serta merah marun di bawahnya itu mengangguk hormat.

Terima kasih telah menolong Shino-san. Apa Anda salah satu tujuh penjaga naga langit? Miku Kuil Kazekage?

"Ya, Hime. Saya miku dari Kuil Kazekage," jawab Sakura formal, "Saya ke kota ini disuruh Nyonya Tsunade untuk melindungi sang penyelamat, Sang Kamui."

Ya, saya tahu. Tsunade-dono sudah memberi tahu saya. Sekarang sebaiknya anda istirahat dulu, sepertinya pemuda dari Kuil Raikage ada di dekat sang penyelamat, jadi kita bisa tenang.

"Baik kalau begitu, Saya permisi." dengan itu ia berjalan keluar dari ruangan yang berada di bawah tanah dengan pintu geser khas Jepang, dan sesudah ia menghilang di balik pintu, si anak perempuan tersenyum kecil.

Anko aku mau tidur, pergilah dulu.

"Baik, Hime." dan tinggalah anak perempuan itu sendiri.

"Apa kau akan memulainya? Kau yakin bisa mengubah masa depan?" tiba-tiba suara lembut laki-laki muncul dari balik pintu seiring dengan bayang seseorang yang berdiri di sana.

"Tidak, masa depan pasti berubah dengan begini," anak perempuan itu berbicara dengan bibirnya, ia terlihat tak suka pada lelaki itu,"kenapa kau di sini?"

"Karena aku juga sama sepertimu," pintu geser terbuka menampakkan sesosok pemuda berambut keabuan agak panjang, dengan dua titik hitam di dahinya, yukata berwarna putih. Tubuhnya terbilang kurus dan kulitnya pucat, "Kimimaro Kagoya. Penjelajah mimpi dari tujuh malaikat, naga bumi. Musuh naga langit," dengan tenang pemuda bernama Kimimaro memperkenalkan diri, sebagai musuh.

Anak perempuan itu tersenyum lembut lalu berkata, " Masa depan ada dua, dan jika aku mengarahkan orang-orang pada satu masa depan yang kuinginkan, maka para naga bumi pun tak akan bisa mengubahnya."

"Masa depan tak akan bisa diatur, kau ingat? Jalan mana pun yang kau harapkan, masa depan tak akan berubah ..."

"Bumi akan ditata-ulang ..."

.

.

THE LAST YEAR

Disclaimer:
Naruto belong to © Masashi Kishimoto
This fiction belong to © Ai. Cwe. Conan
Story by Manga X belong to © CLAMP
Beta Readers: Hyucchi

WARNING: OOC, AU, RATE M NOT FOR LEMON. LIME, GORE, Misstypo, ada beberapa hissatsu/jurus di Naruto maupun dari X nyempil demi jalan cerita, sifat Sasuke dan Naruto akan berubah seperti di X, etcs.

CATATAN : Kamui di sini adalah gelar bukan nama orang atau jurus. Sama artinya dengan Kamui di X.

DON'T LIKE DON'T READ!

Enjoy reading!

Chapter 2: Bintang Kebar.

Panas ...

Ibu ...

Ibu ...

'Pergilah ke Tokyo, anakku. Waktunya sudah tiba kau memilih.'

Ibu ayo keluar dari sini.

'Tidak, ibu akan mati demi bumi. Pergilah, Naruto. Sang Kamui harus hidup, walau mengorbankan banyak hal.'

Tidak, ibu ...

Ibu!

"IBUUU!"Pemuda bersuai pirang itu terbangun dari mimpi buruknya.

Ya, bayang-bayang di hari ibunya meninggal masih tergambar dengan jelas. Rumahnya terbakar saat ia pulang sekolah, api begitu besar melahap hampir seluruh rumahnya, dan ia baru sadar bahwa ibunya masih di dalam saat ia tak bisa menemukannya di kerumunan orang-orang yang menonton kejadian itu.

Ia sempat masuk ke dalam rumahnya yang terbakar, berniat menolongnya. Tapi ketika pemuda itu mendekatinya, seperti ada tembok transparan di depanya.

Aneh, tapi ia tak menyerah.

Naruto memukul-mukul tembok transparan itu, tapi tak bisa.

Ia masih ingat, ibunya berbicara tentang Kamui. Sejak Naruto kecil, ibunya sering berkata bahwa Kamui adalah penyelamat bumi ketika bumi akan hancur. Tapi ... apa maksudnya Kamui yang ibunya katakan saat itu?

Pada akhirnya, ia tak bisa menyelamatkan satu-satunya keluarganya. Naruto tak tahu apa yang terjadi saat itu, ia hanya mendengar dari polisi bawah api berasal dari ruangan di mana ibunya di temukan, sudah hangus terbakar.

Dua bulan lamanya kejadian itu terjadi, tapi ia merasa seperti baru kemarin itu semua terjadi karena selalu memimpikannya, hampir setiap malam.

Setelah beberapa saat terdiam karena mimpi buruknya, hingga tak sadar bahwa ada seseorang yang tertidur di dekatnya tanpa beralas apa pun. Seorang gadis cantik tertidur di lantai dalam posisi menyamping, rambut hitam panjangnya dibiarkan begitu saja hingga terlihat bak model lukisan cantik. Gadis berkulit putih itu terlihat sangat lelap. Untunglah lantainya kayu, jadi ia tak terlalu merasa dingin, tapi tetap saja tanpa selimut akan jadi masalah kan?

"Hinata-chan. Jangan tidur di sini." Suara lembut pemuda pirang itu mengalir ke alam mimpi sang putri tidur cantik, yang malah semakin menyamankan diri. Naruto akhirnya menyentuh bahu Hinata dan sedikit menggoyangkan bahunya, "Hinata-chan!" ia memanggil nama gadis itu agak keras sambil menggoyangkan bahunya sekali lagi.

"Hm ..." mengeram pelan, mata sang gadis perlahan terbuka. Menampakkan manik abu berkilau, "Na―Naruto-kun! K-Ka ... Kau sudah ba―bangun ..."

"Kau tidur di sini sejak semalam?" tanya Naruto, kuatir.

"Tidak, kok. Baru se-jam, kakak yang menungguimu semalam, dan dia tadi sudah berangkat ke sekolah." jelas Hinata. Naruto terdiam sejenak dan berguman sesuatu yang tak jelas, lalu beberapa saat kemudian pemuda pirang itu beranjak dari kasur gulung yang dipakainya. Hinata yang melihatnya jadi panik, "Na―Naruto-kun? Mau apa?"

"Ke sekolah." singkat, sangat singkat malah. Hinata tahu pemuda yang sangat dirindukannya itu berubah. Tapi ia tetap saja kaget dan sedih saat orang yang dulu sangat ramah, bersemangat, dan selalu tersenyum, sekarang menjadi seperti salju di musim dingin.

"Tapi, lukamu?" Naruto tak menanggapinya, ia langsung saja melewati gadis yang mengawatirkannya menuju pintu kamar, berniat keluar. Tapi ia baru sadar jika ada sesuatu yang berbeda dengan semalam, ia menoleh ke arah Hinata ...

"Seragamku nama?" tanya Naruto dengan wajah dingin. Ya, sekarang ia memakai pakaian serba putih, padahal kemarin ia memakai seragamnya dan ia tak pernah menggantinya, lalu?

"Ah ... Kak Sasuke menyuruhku menyucinya setelah ia mengganti semua pakaianmu. Pakaian dalammu juga." jelas Hinata dengan polos.

"EEEEEEEEH!?"

.

.

Tangan pemuda berambut hitam kebiruan itu sangatlah cepat. Menangkap tangan lawannya dan melemparkannya ke lantai, membuatnya meringis kesakitan. Tapi pemuda itu tak peduli dengan apa yang lawannya rasakan, ia yang menang itu yang pasti. Pemuda itu berjalan ke tepi lapangan arena latih karate, setelah bersalaman pada lawan, karena aturannya begitu. "Kau tetap hebat ya, Hyuuga."

Orang yang berada di samping pemuda bermata hitam itu memujinya saat ia hendak duduk, tapi pemuda lainnya tak menghiraukan dan duduk begitu saja. Ia menatap ke depan. Di mana pertandingan yang baru dimulai. Ini memang hanya latih tanding di antara anggota klub bela diri, tapi cukup membuat badan sakit, sehebat apa pun kau.

Ah, sebenarnya pemuda yang di panggil Hyuuga itu tidak ingin ikut latih tanding hari ini, pikirannya sedang kacau karena mimpinya semalam, ditambah ia harus meninggalkan orang yang sedang terluka parah di kamarnya.

Tapi mimpinyalah yang mengacaukan Hyuuga satu ini. Mimpi yang semalam terlihat nyata, dimana ia melihat adik kesayangannya terlilit dengan kawat besi pada tiang yang mirip salib, lalu saat itu juga ia melihat sesosok pemuda pirang yang sangat ia kenal berdiri di atas tiang. Pemuda itu tersenyum manis, akan tetapi sesaat kemudian seringai kejam muncul di wajahnya. Dia mengangkat tangannya yang memegang sebilah pedang berornamen naga tinggi-tinggi, lalu tanpa ragu dia menghunuskan pedangnya ke arah gadis cantik.

Menusuk dadanya sampai tembus ke punggungnya. Seakan tak puas akan hal itu, si pirang, tetap dengan seringainya, mengambil seutas kawat yang melilit sang gadis berambut panjang―korban―lalu dengan satu hentakkan dia melompat ke tiang lain yang lebih rendah, menyebabkan kawat besi tertarik semakin kencang melilit tubuh gadis tak berdaya itu, dan menebus setiap daging berkulit putih mulus lembut sang korban. Memotong tulang yang rapuh, mencabik-cabik organ gadis rupawan itu menghambur layaknya boneka kaca yang terjatuh.

Pemuda pirang tersenyum bak malaikat di tengah hujan darah dan potongan daging. Kepala sang gadis menggelinding di bawah, tak jauh dari pemuda pirang yang tanpa ragu mengeksekusinya dengan kejam. Pemuda pirang itu kini menapakan sayap malaikat putih yang keluar dari punggung, dia tersenyum manis padanya.

Pemuda bermata hitam itu segera menutup mulutnya dengan tangan kanannya, mengingat mimpi itu membuatnya mual, ia tak bisa membayangkan jika itu terjadi. Adik kecil yang disayanginya dan teman yang ia percayai sejak ia kecil.

Tapi ia yakin, tak mungkin teman masa kecilnya melakukan hal kejam semacam itu. Walau dia memang mengacuhkan dirinya dan dingin terhadapnya, tapi dia masih mau menolong Hinata dari preman dua hari yang lalu. Ia masih percaya akan janji mereka dan akan selalu menepatinya.

Walau sebenar ia masih bingung akan perubahan si pirang, dia seakan tak ingin mengenalnya, bahkan menjauhinya ...

"Sasuke Hyuuga!" teriakan sang guru yang bertindak sebagai wasit itu membuyarkan lamunan sang Hyuuga, "Giliranmu." lanjutnya.

Sasuke berajak dari tempatnya menuju arena tarung, tapi ia tak tahu arena pertarungannya bukanlah di tempat kecil itu. Arena pertarungan yang sebenarnya adalah dunia, dan lawannya adalah takdir, Tuhan akan menjadi wasitnya. Arena pertarungan akan siap sebentar lagi, dan pertarungan besar akan segera dimulai, yang akan menentukan masa depan manusia.

...

Sasuke mengayuh sepedanya dengan santai, menyelusuri jalan perumahan dalam keremangan malam. Ia baru saja pulang sekolah, memang saat ini ia sedang sibuk menyiapkan turnamen judo tingkat nasional yang sebentar lagi akan dimulai. Jadi Sasuke harus latihan lebih keras, apalagi ia adalah andalan tim sekolahnya. Tapi turnamen kali ini rasanya Sasuke tak mau ikut, karena dengan banyak masalah yang ia pikirkan, tak mungkin bisa konsentrasi untuk pertandingan. Tadi saja ia mencederai lawan tandingnya. Jika saja sang guru tidak memaksanya.

Pikirannya selalu kacau sejak Naruto kembali, dan semakin kacau ketika melihat mimpi itu. Sasuke tak habis pikir pada Naruto, dengan lukanya separah itu dia berjalan dari rumahnya ke sekolah memakai seragam basah pula. Anak bodoh, pada akhirnya dia pingsan dan dipulangkan lebih awal.

Menghela nafas lelah diatas sepedanya, Sasuke hendak berbelok ketika tiba-tiba para pejalan kaki lenyap tanpa sisa, seperti masuk ke dalam ruang besar. Bingung pada yang ia alami, Sasuke menghentikan kayuhannya lalu mengamati sekelilingnya, akan tetapi hanya rumah-rumah dan jalanan kosong yang ia lihat, ia melanjutkan perjalanannya tapi tetap tak menemukan seorang pun.

"RAISOOOOOORA!"

Kriiiiiiiiiiiiiiiiis!

Bruuuuuuuur!

"HAI, KAKAK. APA KAU TAK KELELAHAN? KAU KAN BARU PULANG KERJA."

TRIIIIIIIIING!

BRAAAAAAAAAAAAAAAAAR!

"KAU YANG HARUSNYA PULANG, ANAK SMP TAK SEHARUSNYA KELUAR MALAM."

KRIIIIIIIIIIHHHHHHHHSSSSSSSSSSS!

BRAAAAAAAAKKM!

"HAHA ... AKU ADA KEPELUAN DENGAN KAKAK PIRANG YANG BERNAMA NARUTO NAMIKAZE!"

Sasuke sangat terkejut saat melihat dua orang yang terbang dari satu atap ke atap lain, mereka bertarung hebat, menghancurkan setiap rumah yang mereka lewati. Satu orang terlihat seperti pria yang sudah bekerja, dia menggunakan masker, berambut silver, berjas. Senjata yang pria itu gunakan adalah senjata ninja yang Sasuke kenali sebagai kunai, kecil seperti belati. Tapi dia menggunakan sesuatu hingga kunai itu meledak ketika menyentuh korbannya.

Dan seorang pemuda berambut cokelat, bermata mirip kucing, di kedua pipinya terlihat bentuk segitiga merah―entah tato atau stiker―ia memakai jaket putih keabuan, celana panjang cokelat tua. Pemuda itu mengeluarkan petir dari tangannya dan menyerang lawannya itu.

"AKU JUGA INGIN MENEMUINYA!"

BRAAAAK

Saat itu Sasuke berasumsi bahwa orang yang melukai Naruto separah itu adalah kedua orang yang bertarung sekarang. Marah karena orang yang berharga baginya hampir mati, ia tak bisa menahan emosinya. Mata Sasuke menajam waspada, mengepalkan sebelah tangan yang tak memegang stang sepedanya."JADI KALIAN YANG MELUKAI NARUTO!?"

Teriakan Sasuke mengejutkan keduanya, mereka menoleh ke arah pemuda yang tengah menaiki sepedanya itu, mereka berdua berdiri di dua atap rumah dekat dengan Sasuke. Pemuda berambut cokelat menatap heran Sasuke. "Apa? Seharusnya kekai Ini tak bisa di masuki orang selain naga langit dan naga bumi," guman si pemuda yang bertanda segitiga di setiap pipinya.

"Menarik," kata sang pria bermasker sembari turun dari tempatnya berdiri tadi, lalu berjalan menjauhi dua orang di sana, "yah, aku akan membiarkanmu menemui Kamui lebih dulu. Bocah naga langit!" lanjutnya.

"Eeh? Bagaimana dengan pertarungannya?" balas pemuda itu.

"Nanti saja lanjukan. Byaaa!" Melambai sebentar lalu pergi dengan berjalan kaki, pria itu menghilang di kejauhan.

"Ya, sudahlah." Pemuda itu menarik napas lalu seperti ada kotak besar yang menyempit. Perlahan area di sekitarnya kembali seperti semula, seiring mengecilnya kotak itu hingga segenggaman tangan dan menghilang. Area yang tadinya hancur akibat pertarungan kembali seperti semula, seakan-akan tak terjadi apapun.

Setelah itu pemuda berpupil mata lancip itu turun dari atap rumah tempatnya berdiri tadi, berjalan mendekati Sasuke yang masih menatap sekelilingnya tak mengerti. "Kakak teman Kakak pirang, ya?" tanya pemuda itu sambil tersenyum tapi Sasuke tak menjawab. Pemuda itu mehela nafas, nampaknya ia jadi tersangka atas kejadian kemarin dimata pemuda berambut hitam itu, "dengar Kakak, aku bukan orang yang melukai Kakak pirang."

Sasuke menatap pemuda itu dingin, ia tak percaya apa yang dikatanya. "Aku Kiba, Inuzuka Kiba. Aku bukan orang jahat, kok." bela Kiba dengan senyum memelas.

"Apa maumu dengan Naruto?" ucap Sasuke, dingin.

"Hanya ingin bicara." balas Kiba, "Kumohon, biarkan aku menemuinya sebentar. Dia ada di rumah Kakak, 'kan?" Sasuke memang cukup protektif terhadap orang yang disayangnya, dulu saja jika ada seseorang dekat dengan Naruto dan Hinata, Sasuke akan memelototinya.

.

"Aku pulang!" seru Sasuke sesudah membuka pintu utama rumahnya yang semi modern, langsung disambut teriakan selamat datang oleh adiknya, "Naruto sudah sadar?" tanyanya ketika Hinata muncul di hadapannya.

"Belum, Kak. Dia demam, tadi tapi sekarang sudah turun ..." Hinata sedikit terkejut saat melihat seorang pemuda yang ada di belakang Sasuke, pemuda itu tersenyum manis pada Hinata.

"Yo, Kakak Cantik." sapa Kiba dengan lambaian tangan, membuat Hinata merona.

"Kak Sasuke, siapa dia?" tanya gadis itu pada kakaknya.

"Dia ingin menemui Naruto, jadi kuajak kemari." Jelas Sasuke, "Aku mau melihatnya dulu. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, Hinata." Pemuda berambut hitam kebiruan itu berjalan ke arah tangga yang tak jauh dari pintu. Memberi isarat pada pemuda satunya untuk mengikutinya.

Kiba mengerti dan menaiki tangga mengikuti Sasuke yang lebih dulu naik. Di atas, di ujung tangga ada sebuah pintu kayu berwarna cokelat ukuran standar. Sesapainya di hadapan pintu, Sasuke hendak membukanya. Tapi sebelum tangannya menyentuh pegangan pintu, pintu itu sudah dibuka oleh seseorang yang berada di balik pintu.

Naruto terlihat terkejut saat melihat Sasuke berdiri di depannya, ia juga dapat melihat pemuda bertanda segitiga di setiap pipinya sedang tersenyum padanya di belakang Sasuke. Tapi Naruto hendak melewati Sasuke tak peduli teman menatapnya, ia akan turun dari tangga ketika sebuah tangan menghalanginya.

"Kakak mau ke mana?" Kiba yang menghentikan pemuda pirang itu turun, tersenyum walau ia tahu ada aura pembunuh di sekitar Naruto, "Kakak cantik itu sedang memasak makan malam. Kakak nggak kasihan, sudah susah-susah disiapkan, tapi nggak dimakan?" celotehnya membuat Sasuke mengerutkan dahi bingung.

"Makan malam siap...! Kakak bantu aku...!" teriak Hinata dari bawah membuat pemuda berjaket tersenyum makin lebar. Disusul teriakan Sasuke yang mengiyakan dan turun ke bawah. Sebelum turun, Sasuke mengucapkan sesuatu pada Naruto, tapi pemuda bersurai pirang itu tak menanggapinya sama sekali.

Setelah Sasuke turun, tinggal Kiba dan Naruto di sana. Kiba memandangi Naruto yang terdiam seakan memikirkan sesuatu,"Kau dingin sekali, padahal dia mengkhawatirkanmu. Tadi saja dia terlihat ingin membunuhku karena mengira aku yang melukaimu." ucap Kiba lalu melirik Naruto. Sedikit terkejut karena sekias wajah yang tadi keras dan dingin menjadi sedu, serta seperti ingin menangis sekeras mungkin.

"Bukan urusanku." kata Naruto singkat beberapa saat kemudian, Wajahnya kembali dingin, "minggir!"

"Kau, Namikaze Naruto. Sang juru selamat bumi?" Kiba tetap menghalangi pirang itu untuk turun, ia tak menanggapi pengusiran Naruto terhadapnya dan terus bicara, "Aku biksu dari Kuil Raikage, kata kakek tua. Bintang timur mulai bergerak, itu artinya sang juru selamat yang memiliki arti nama angin dan tujuh penjaga, naga langit akan mendekati takdirnya."

Naruto terlihat makin murka, ia tak suka pembicaraan ini, pemuda berbaju seragam sekolah itu dikeliling angin yang tak disadari Kiba. "Aku adalah salah satu tujuh penjaga, tugasku melindungimu," Kiba terdiam, tangannya hendak menyentuh pundak Naruto, "percayalah padaku dan naga langit lainnya." permohonan itu terlihat tulus, namun rasa takut manusia memang sanggup menutupi segala kebenaran yang ada di depan matanya.

Tiba-tiba saja Kiba terpental ke bawah dan membentur dinding di bawah, menimbulkan bunyi cukup keras, "AKU TAK PEDULI DUNIA ATAU BUMI...! JANGAN SENTUH AKU...!" teriak pemuda bersurai pirang itu dari atas tangga, melompat ke bawah dan langsung keluar.

Kiba mengiris kesakitan saat ingin berdiri, mengutuk diri sendiri karena terlalu percaya diri. Ia sangat bingung harus menjelaskan apa yang terjadi pada Sasuke, yang datang saat Naruto sudah membuka pintu rumahnya. Sasuke berteriak memanggil Naruto dan hendak mengejarnya, tapi diurungkan saat melihat keadaan Kiba yang cukup parah.

Namun belum sempat membantu Kiba berdiri, suara dentuman keras terdengar disusul teriak Naruto yang menyuruh seseorang berhenti.

Sasuke langsung keluar dan melihat kepulan asap tipis dari sebarang jalan rumahnya―kuil sang ayah. Pemuda berambut hitam kebiruan itu berlari menuju kuil ayahnya, sedangkan Kiba menyusul Naruto yang mengejar seseorang.

Sasuke tiba di kuil shinto milik keluarganya, kuil itu sudah porak-poranda. Bisa Sasuke lihat beberapa es yang menancam di dinding kayu kuil, yang sebagian sudah hancur. Pemuda bersuai hitam kebiruan itu terus mencari sosok sang ayah di kuil itu.

"AYAH...!" teriak Sasuke saat melihat sosok ayahnya yang terbaring tak berdaya di dekat altar persembahan, ia langsung menghampiri pria paruh baya itu dan mengangkat sebagian tubuhnya, "Ayah...! Ayah...!"

"Sa ... su ... Sa ..." pria itu dengan susah payah menggerakkan bibirnya yang keluh, matanya terbelalak seakan melihat sesuatu yang menakutkan.

"Ayah! Bertahanlah! Jangan bicara!" seru pemuda bermata hitam yang memangkunya.

"Sa ... su ... ke ... ka ... u ... ka ... u ... dan―bin ... tang ... kem ... bar ... Na ... ru ... to―a ... a ... kan ... hancur ... kan ... bumi ..." tarikan napas terakhir telah membawa pergi isi dari jasa sang pendeta, sang abdi dewa.

bersambung


halo ai kembali.

ada nunggu ga ya? nmm kayanya ga ada t.t

ya udah deh kalau ada yang baca tolong review ya. gimana kesannya..

sampai jumpa