Chapter 3

Hunhan © God

My only one girl © FujoAoi

Genre :

Drama, Romance, Hurt/Comfort

WARNING: TYPO, LAMBAT UPDATE (BANGET), ADEGAN YANG TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR, GS! OFFICIAL COUPLE, COMPLICATED STORY

. . .

Luhan bangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya. Sehun yang lebih dulu bangun kemudian mengelus rambut Luhan. "Hai, gadisku," sapa Sehun dengan mengerlingkan matanya. Luhan menatap Sehun malas. "Hai, Tuan mesum,"

Luhan bangun dan meyandarkan diri di kepala kasur. Sehun kemudian menyandarkan dirinya disamping Luhan. "Hm… Bagaimana jika kita piknik di gazebo kolam?" tanya Luhan. Sehun berpikir, "Lebih baik berenang," saran Sehun.

"Aku tidak bisa berenang," kata Luhan. "Oh, sayang sekali," gumam Sehun.

"Baiklah. Ayo piknik di belakang," ucap Sehun final. Luhan tersenyum. Ia turun dari kasur dan mengambil pakaian Sehun. Ia keluar dari kamar Sehun dan berjalan menuju kamarnya. Luhan kemudian mandi dan menyiapkan makanan untuk sarapan.

"Hai!" sapa Sehun. Luhan mengangguk dan tetap menata makanan di atas piring. Sehun memeluk Luhan dari belakang dan mengecup bahu Luhan. "Hentikan. Aku bisa saja menusukkan garpu ini ke bibirmu Tuan Sehun," ucap Luhan ketus sambil mengacungkan garpu ditangan kanannya.

Sehun diam dan menjauh. Ia menghentikannya. Ia tidak ingin bibirnya tidak bisa digunakan untuk mengecup setiap inchi tubuh Luhan lagi. Sehun tertawa. Ia membiarkan Luhan bekerja. "Kau mengancam akan memotong propertiku tadi malam. Lalu, kau mengancam akan merenggut bibirku. Kau kejam sekali," ujar Sehun dengan nada manja yang dibuat-buat.

Luhan membawa piringnya ke belakang tanpa menghiraukan Sehun yang menatapnya. Sehun menyusul Luhan sambil membawa piring yang lain. "Hanya ini yang aku siapkan," kata Luhan. Sehun menatap salad, sandwich, pudding—yang sudah dibuat oleh koki di rumah Sehun, dan juga lemon tea. "Aku ingin mencicipinya," kata Sehun.

Sehun duduk dan mencicipi masakan Luhan. "Enak. Aku suka," kata Sehun. 'Kau menyukai diriku, tubuhku, dan makananku. Tapi, kau membuat peraturan yang membuatku tidak ingin jatuh padamu,' batin Luhan.

"Lu?"

"Oh? Ya? Kenapa?" tanya Luhan. "Kau melamun," jawab Sehun. Luhan menggeleng. "Bukan apa-apa," bantah Luhan.

Mereka menghabiskan hari hingga sore untuk saling memeluk, berciuman, dan menikmati angin. Akhirnya ketika sore menjelang, matahari menyiram cahayanya yang berwarna oranye. Luhan tampak sangat terpesona. "Aku ingin berfoto di sini," kata Luhan dengan sangat tertarik. "Benarkah?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk. "Tunggu sebentar!" Sehun berlari ke dalam memanggil seorang pelayan. Sehun memberikan ponselnya serta membisikkan sesuatu. "TUAN OH! MATAHARINYA BISA PERGI!" kata Luhan yang sangat khawatir.

Sehun berlari ke arah Luhan. Sehun menarik pinggang Luhan dan merapatkan tubuh mereka. Sehun mendekatkan bibirnya dengan bibir Luhan. Ia mencium Luhan dalam siraman cahaya matahari sore.

Pelayan tadi memotret Sehun dan Luhan yang sedang berciuman dengan suasana romantis di atas gazebo indah. Luhan akhirnya melakukan selfie dan memasukkannya ke dalam instagramnya sebagai post pertama.

7_Luhan_m : Ini dunia yang belum bisa aku tinggalkan. Indah. Hingga bertemu dengannya yang gelap, tetap saja indah.

Tak lama, Kyungsoo mengomentari foto Luhan.

Kyung_SoOwl : apa maksudmu dengan hitam? Maksudmu Jongin?

Luhan tertawa. Sehun yang sibuk dengan ponselnya kemudian melihat apa yang dilakukan Luhan.

7_Luhan_m : Bukan. Ini adalah es yang terjatuh ke dalam oli

Sehun dengan iseng mengomentari foto Luhan.

oohsehun : Kau maksud aku?

Luhan kaget melihat Sehun bisa tau akun instagramnya. Sehun hanya menatap santai ponselnya. "ISHHH!"

Sehun tersenyum melihat komentar Luhan selanjutnya.

" 7_Luhan_m : Kau siapa? Dasar orang sok kenal!

Sehun menatap tajam Luhan. "Kita bahkan pernah melakukan seks, Luhan. Apa itu yang kau sebut tidak mengenal?" Luhan merengut kesal.

Luhan tidak mau melihat Sehun. Ia melanjutkan chatingan dengan Kyungsoo dan Baekhyun di LINE-nya.

. . .

Sebulan dan satu minggu kehidupan mereka telah berlalu, Sehun dan Luhan semakin akrab. Luhan semakin penurut kepada Sehun. Sedangkan Sehun mulai meninggalkan jalang-jalang di luar sana. Luhan sering merasa kesal ketika Sehun pulang lambat dan mengatakan bahwa dirinya ada makan malam penting dengan kliennya yang membujuknya ke sebuah rumah hiburan tradisional.

Pagi ini, Luhan tampak pucat, terbangun di dalam pelukan Sehun. Mereka melewati satu malam panas, karena itu Luhan terbangun dalam keadaan telanjang. Luhan merasakan perutnya sakit dan ia mual. "Hoekkk…Humphhh…"

Luhan berlari menuju kamar mandi Sehun. Sehun yang kaget kemudian bangun dan mengejar Luhan ke kamar mandi. "Hoekkk… Hoekkk… Hummhh…" Luhan mengeluarkan isi perutnya. Namun, hanya air yang keluar. "Kita butuh dokter," kata Sehun panik. "Tidak perlu…" kata Luhan lirih.

"Kita butuh!" Sehun mengambil bajunya dan memakaikannya ke Luhan. Luhan berbaring di kasur. Kepalanya pusing. Sehun menelepon seseorang untuk segera datang. "Istirahatlah," kata Sehun mengusap pelan dahi dan rambut Luhan. Luhan mengangguk. Sehun memakai bajunya dan segera berjalan menuju ruang tengah.

Seorang dokter bergender yeoja—yang pasti Sehun khususkan karena ini menyangkut Luhan—datang dan memeriksa Luhan. "Anda kekasihnya?" tanya dokter itu pada Sehun. "Seberapa kali kalian melakukan hubungan badan?" tanyanya lagi. Sehun mengangkat bahunya tidak tau. "Begini. Jangan pernah berniat menggugurkan anak ini," kata dokter itu.

Luhan menoleh pada dokter itu dan menyandar di kepala kasur dengan mata yang berkaca-kaca. "A-Aku hamil?" tanyanya. Dokter itu mengangguk. Luhan kaget. Begitu pula Sehun. Luhan shock. Dokter itu menatap jamnya. "Maaf aku harus pergi. Aku ada janji dengan seorang pasien, permisi,"

Sehun dan Luhan tinggal berdua di dalam kamar Sehun. Sehun kaget, namun hatinya merasa ada perasaan senang membuncah dan meluap. Sedangkan Luhan menatap kosong langit-langit kamar Sehun dengan mata yang semakin berair. "Sebaiknya ki—"

"Jangan gugurkan… Aku mohon!" kata Luhan menangis. Sehun menatap Luhan iba. Luhan takut padanya. Ia terlihat kejam dimata Luhan. Itu yang menyebabkan pikiran Luhan mengatakan dirinya akan menggugurkan anak yang ada dalam rahimnya itu. "Tidak. Aku tidak akan,"

Luhan menangis. Ia hamil, hasil perbuatannya dengan namja yang masih berdiri itu. Hasil perbuatannya dengan namja yang mengaku menyukainya. Luhan akan sangat bahagia jika saja ia dan Sehun saling menyukai, mencintai, dan terikat dalam pernikahan yang suci. Tapi, mereka terikat dalam sebuah hubungan yang tidak jelas—itu yang menyebabkannya menangis.

Hanya terikat antara pemilik properti dan properti itu sendiri. Luhan kemudian mengelus perutnya. "Aku ingin dia hidup!" kata Luhan lirih. "ia satu-satunya yang mungkin memiliki hubungan darah denganku saat ini," tambah Luhan "Kita tidak akan pernah menggugurkan anak itu. Tidak akan, Luhan," kata Sehun dengan senyuman. Luhan menghela nafas lega karena kalimat Sehun barusan.

Kebahagiaan mengerubungi tubuh Luhan. Sehun memeluk Luhan yang menyandar kepadanya. Menjadi anak yang tidak diinginkan merupakan hal yang menyakitkan bagi Sehun. Dan Sehun tidak ingin anaknya juga merasakan hal itu.

Flashback

Ibu Sehun duduk di sampingnya yang sedang memakan es krim—Sehun 14 tahun. "Sehun-ah… Eomma boleh bertanya sesuatu?" tanya ibunya. Sehun menatap ibunya. "Tentu boleh," jawab Sehun.

"Jika suatu waktu, kau membuat seseorang hamil, kalian belum menikah, apa yang akan kau perbuat?" tanya Ibu Sehun. "Kenapa ibu mengatakan seperti itu?"

Ibu Sehun diam dan tersenyum. "Kau adalah anak yang tidak diinginkan oleh ayahmu, sayang. Hanya ibu yang menginginkannya. Ibu berharap untuk memiliki anak. Ayahmu tidak. Wanita akan merasa sakit hati ketika harus menggugurkan kandungannya," jelas Ibu Sehun.

Sehun merasa hatinya dicubit. Ia tidak diinginkan. Ia tidak ingin anaknya juga mengalami hal yang sama dengannya jika begini adanya. "Setiap manusia punya hak hidup," gumam Sehun. Ibu Sehun tersenyum.

"Kalau begitu, kau tidak ingin anakmu memiliki ayah seperti ayahmu, benar?" tanya Ibu Sehun. Sehun mengangguk.

"Jadi, jangan pernah katakan kau ingin anakmu, darah dagingmu sendiri untuk mati sebelum lahir. Terlebih kau yang membuatnya meninggal sebelum merasakan hangatnya sebuah keluarga. Arraseo?" tanya Ibu Sehun dengan tatapan tajam yang dibuat-buat.

"Ne!" Sehun tersenyum senang. Ibunya. Segalanya. Yang mengajarkannya semua itu.

Flashback off

Sehun masih memeluk Luhan yang sedang duduk bermanjaan dengan dirinya. "Jadi, bagaimana anak kita nanti? Aku harus sekolah, Tuan Oh," kata Luhan dengan nada rendah. "Kita akan menunggu sampai perutmu agak membuncit sedikit, lalu kalian berdua akan homeschooling. Bagaimana?" tanya Sehun.

"Benarkah?" tanya Luhan. Sehun mengangguk. "Ta-Tapi, aku baru saja masuk sekolah beberapa minggu. Dan sudah akan keluar sekolah?" tanya Luhan lagi dengan kecewa. "Ini demi dirimu dan anak ini, Lu. Aku mohon kau mau," jawab Sehun dengan bijak.

Luhan merasa dirinya sangat menyukai Sehun yang sekarang. Yang lemah lembut dan penuh perhatian pada dirinya yang selalu berkata judes. Luhan merasa dirinya telah jatuh cinta pada Sehun. Ia takut ia salah. Tapi, ia juga tidak mungkin berakhir dan bepisah dengan Sehun. Bagaimaa jika anaknya ini nanti lahir tanpa ayah?

TIDAK!

Luhan memeluk Sehun dengan manja. "Kenapa, Lu?" tanya Sehun. Luhan menggeleng. "Kau janji tidak akan meninggalkanku ya?" tanya Luhan.

. . .

Luhan bangun dari atas kasurnya dengan rasa mual yang masih menyelubungi dirinya. Luhan memuntahkan semua air yang terus mendesak ke mulutnya. Luhan duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Pusing juga menyelubungi dirinya. Ia tidak yakin apakah bisa datang ke sekolah hari ini.

Minseok datang membawakan seragam Luhan. Minseok mencari-cari Luhan dan menemukannya duduk dengan kepalanya ada di lutut yang ia tekuk. Minseok memegang bahu Luhan. "Lu?"

Luhan menatap Minseok denga wajah pucat. "Kau baik?" tanya Minseok sambil menarik Luhan untuk berdiri. "Morning sickness," jawab Luhan singkat. Luhan berjalan menuju kasurnya dan bergelung di dalam selimut lagi. "Aku akan kembali membawakan sesuatu yang bisa mengurangi morning sickness mu," Minseok berlalu keluar dari kamar Luhan.

Sehun masuk ke dalam kamar Luhan dengan wajah khas orang baru bangun tidur. Ia naik ke atas kasur Luhan dan memeluk Luhan yang tidur menyamping, sehingga Luhan bisa berhadapan dengan dada Sehun yang agak terbuka karena piyamanya tidak ia kancingkan.

"Semakin buruk?" tanya Sehun. Luhan menggeleng. Matanya sayu, ia masih mengantuk. "Tidak usah sekolah hari ini. Kita ke rumah sakit. Kita harus memeriksakannya," saran Sehun. "Tidak usah. Aku harus se—"

"Luhan, dengarkan perintahku!" kata Sehun kesal. Luhan akhirnya menundukkan kepalanya. "Baiklah," Luhan menyamankan kepalanya di dada bidang Sehun dan akhirnya menutup mata untuk segera mengisi tenaga lagi.

Minseok datang membawa sebuah baki berisi kripik asin dan juga jahe hangat. Minseok hanya meletakkannya di atas meja belajar Luhan karena tidak ingin mengganggu dua manusia yang masih tidur di atas kasur hangat itu.

Matahari menyingsing dan menerangi kamar Luhan. Sehun terbangun lebih dahulu. Ia kemudian bangkit dan menatap sekitar kamar Luhan. Ini kedua kalinya sejak Luhan datang ke mansion ini, Sehun tidur di kamar ini. Sehun rasa kamar ini butuh tambahan perabotan. Coffee table, lampu kamar, sofa, dan banyak lagi.

Luhan bangun dan mengerjapkan matanya. Ia kembali menutup matanya menghindari pusing. "Sudah bangun?" tanya Sehun. Luhan mengangguk. Sehun membawakan Luhan kripik yang ada di atas meja belajarnya. "Makanlah ini dahulu, mengurangi rasa mual. Jahenya akan kupanaskan terlebih dahulu," kata Sehun. Luhan bangkit dan melihat Sehun keluar.

"Jangan pergi," ucap Luhan dengan suara serak. Sehun menoleh ke arah Luhan. "Tetap disini," kata Luhan lagi. Sehun tersenyum. "Sebentar saja. Aku akan kembali," kata Sehun. Luhan menggeleng. Ia berjalan menuju Sehun dan memeluk Sehun dari belakang. Sehun terkekeh.

Luhan mengikuti langkah Sehun ke dapur. Beberapa pelayan Sehun yang sedang menyiapkan sarapan kaget ketika Sehun datang ke dapur, memegang gelas berisi jahe yang sudah dingin dan juga, seorang manusia yang mmeluknya dari belakang. "Tu-Tuan. Biar saja, sa-saya yang a—"

"Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku akan melakukannya sendiri," kata Sehun dengan nada lembut. Sehun jarang sekali menggunakan nada lembut saat berbicara. Ia lebih sering menggunakan nada yang dingin. "Ba-Baik, Tuan!" kata pelayan lain.

Sehun mengambil panci dan menuangkan jahe tadi ke atas panci. Ia menghidupkan kompor dan berdiri di depannya. Luhan masih memeluknya dari belakang dengan mata setengah mengantuk. Sehun memegang tangan Luhan dan menunggu jahenya sudah hangat.

Ketika jahenya sudah mulai hangat, Sehun mematikan kompor dan menuangkannya ke gelas. Sehun membawa Luhan ke meja makan dan medudukkan Luhan di kursinya. Sehun menyodorkan jahe hangat ke arah Luhan. Luhan memegang gelas jahe itu dan menatap Sehun dengan wajah yang imut. "Kripik," kata Luhan. Sehun teringat akan kripik yang Luhan tinggalkan di kamarnya.

"Aku ambilkan ya," kata Sehun. Luhan menggeleng, ia siap memeluk Sehun lagi. Sehun menghela nafasnya. "Jangan ikuti aku lagi, Luhan," perintah Sehun dengan lembut.

Minseok datang dan meletakkan kripik asin lain ke meja makan. Sehun membuka kripik asin dan menyerahkan kepada Luhan. Luhan memakannya satu. Kemudian ia berjalan menuju dapur. Beberapa pelayan tampak menahan Luhan yang berniat untuk membawa makanan ke meja makan. "No-Nona… Jangan…"

Luhan akhirnya mengalah ketika pelayan itu mengatakan, "Tuan Sehun akan marah jika kami membiarkan anda." Luhan tidak suka jika orang lain terlibat adu mulut dengan Sehun yang suka sekali menatap tajam dan berkata dingin.

Luhan kembali ke meja makan. Ia memukul punggung Sehun sekali. Luhan mengambil jahe hangatnya dan berlalu menuju kamarnya. Sehun kaget melihat perubahan sifat Luhan. Baru beberapa menit lalu ia memeluk Sehun seperti Sehun akan terbang ke langit jika ia keluar dari radius beberapa meter. Sekarang? Luhan bahkan memukulnya.

"Tuan, silahkan dinikmati sarapannya," kata seorang pelayan yang membawakan Sehun nasi goreng kimchi, omelet, dan beberapa makanan lainnya. Pelayan itu membawakan Luhan semangkuk bubur dengan kaldu sapi yang terpisah. "Terima kasih. Dan panggilkan nona Minseok," kata Sehun.

Luhan sedang memilih-milih pakaiannya dan kemudian segera menuju kamar mandi. Ia mandi dengan sabun beraroma susu. Setelah mandi, Luhan mengenakan bajunya dan berjalan menuju meja makan. Sehun sedang berbicara dengan Minseok. "Baik, akan ku katakan pada Jongdae nanti," kata Minseok yang kemudian pergi meninggalkan Sehun dan Luhan yang sudah duduk berdua di meja makan.

Sehun menghela nafasnya melihat tampilan Luhan—baju kaus putih dan celana hitam separuh paha. "Kenapa memakai celana sependek itu?" tanya Sehun dingin. "Aku suka," jawab Luhan singkat sambil melihat-liat lauk pauk. "Ganti!" perintah Sehun. "Tidak," bantah Luhan yang mengambil daging dengan kuah kecap. "XI LUHAN, KU BILANG GANTI!" Sehun menaikkan nada bicaranya.

Luhan kaget dan menatap Sehun yang marah padanya. "KENAPA KAU MEMBENTAKKU?!" tanya Luhan dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya memberitahumu. Tidak membentak!" kilah Sehun. "Kau membentakku!" kata Luhan sambil mengusap air matanya. "Aku tidak!" kata Sehun yang kemudian berdiri.

"Aku benci padamu. Aku tidak ingin pergi denganmu hari ini!" kata Luhan yang kemudian meletakkan sendoknya. Ia mendorong kursi dan berjalan menuju kamarnya. Sehun menghela nafasnya. Minseok menghela nafas melihat kelakuan Sehun yang membuat Luhan jadi marah. Ibu hamil memang sensitif. Minseok menggelengkan kepalanya.

Luhan keluar dari kamar menyandang tasnya dan sudah rapi dengan seragamnya. "Minseok eonnie, antarkan aku ke sekolah," kata Luhan. Minseok menatap Sehun yang hanya memakan sarapannya. "Baik," kata Minseok.

"LUHAN!" bentak Sehun yang tidak tahan dengan tingkah kekanakan Luhan. "DUDUK DISINI! MAKAN SARAPANMU!" lanjut Sehun.

"Tidak! Aku tidak ingin makan bersama orang kejam sepertimu," balas Luhan. Luhan berjalan menuju pintu depan dan segera masuk ke dalam mobil. Sehun yang melihat Luhan pergi ke depan segera mengikuti Luhan. Sehun meihat mobil yang dibawa Minseok sudah berlalu jauh.

Sehun mendecak kesal.

. . .

Luhan sedang dihukum oleh guru kedisiplinan untuk membersihkan toilet. Wajah Luhan yang pucat kemudian semakin pucat. Luhan duduk di atas kloset salah satu bilik dan menguncinya. Ia memegangi kepalanya yang mulai pusing dan ia mengelus perutnya yang lapar.

Luhan mendengar suara pintu toilet terbuka. "Huahhh… Dimana Luhan hari ini ya?" tanya Baekhyun pada Kyungsoo yang mencuci tangannya. "Entahlah. Mungkin dia sakit," jawab Kyungsoo. "Benarkah? kalau begitu, kita harus menjenguknya," kata Baekhyun yang merapikan rambutnya.

Bruk…

Baekhyun dan Kyungsoo kaget. "A-Apa itu?" tanya Baekhyun yang ketakutan. Kyungsoo juga penasaran. Kyungsoo mendekati bilik toilet yang merupakan asal suara itu. "Pe-Permisi. Ka-Kau tidak apa-apa?" tanya Kyungsoo. Baekhyun memegang ujung almamater Kyungsoo dengan erat. "I-Itu pasti hantu!" kata Baekhyun.

"Kau pasti sudah gila," kata Kyungsoo. Kyungsoo memanjat kloset yang sudah ditutup dan mengintip ke bilik sebelah. "O-OH! LU-LUHAN!" Kyungsoo kaget. Baekhyun kemudian menyuruh Kyungsoo turun dan memastikan benarkah itu Luhan atau tidak dengan mata kepalanya sendiri. "OH! Tidak! LUHAN!" Baekhyun panik dan kemudian menggedor pintu bilik Luhan. "Lu! LU!"

Kyungsoo berlari menuju lockernya dan mengambil celana olahraganya. Ia kembali dan menutup pintu toilet. Kyungsoo membuka roknya di depan Baekhyun. "A-Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun kaget. Kyungsoo mengenakan celana olahraganya dan memanjat kloset lagi.

Kyungsoo menaikkan satu kakinya ke pembatas bilik dan menjulurkan kakinya di bilik Luhan. Ia melakukannya dengan kaki yang satunya lagi. Kyungsoo turun dan memegang pipi Luhan. Ia membuka kunci bilik toilet. Kyungsoo memegangi Luhan yang masih memegang tangkai pel. "Dia kenapa?" tanya Baekhyun yang panik. "Pingsan," jawab Kyungsoo.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?!" tanya seorang guru kedisiplinan yang sedang patroli. Baekhyun menunjuk ke arah bilik Luhan. "Lu-Luhan pingsan, Seongsaengnim,"

Skip time…

Luhan terbangun di dalam ruang kesehatan. Petugas ruang kesehatan menatap Luhan. "Hai, sudah bangun?" sapanya. Luhan mengangguk. "Kau tidak sarapan?" tanya petugas itu lagi. Luhan menggeleng. "Karena itu kau pingsan,"

Luhan memejamkan matanya. Petugas itu menutup pintu ruang kesehatan dan menguncinya. "Aku ingin kau jujur," kata petugas itu. "Ka-Kau tidak hamil kan?" tanyanya. Luhan kaget dan kemudian menggeleng. "Hah… Syukurlah ketakutanku tak beralasan," katanya.

Luhan diam. "Jam makan siang sudah datang. Sebaiknya kau ke kantin dan makan," kata petugas itu. "Tidak. Aku pulang saja," kata Luhan. Luhan mencari ponselnya di saku roknya. "Halo…"

"…"

"Tolong jemput aku,"

"…"

PIP…

"Aku akan dijemput beberapa menit lagi," kata Luhan. Petugas itu mengangguk mengerti. "Baiklah,"

Luhan memejamkan matanya. Ia tertidur lagi. "Oh! Anda mencari Xi Luhan?" tanya petugas itu. "dia pingsan di dalam toilet karena kelelahan," tambah petugas itu. "Oh, benarkah?"

"Ya. Ia pucat. Sebaiknya anda bawa pulang ia," saran petugas itu. "A-Anda siapanya Luhan?"

"Calon suaminya,"

Luhan terbangun dan melihat Sehun duduk di sampingnya dengan wajah khawatir. "Kau menjemputku?" tanya Luhan dengan senyum meremehkan. "Kau mengancam Minseok eonnie?" tanya Luhan lagi.

"Kita ke rumah sakit sekarang," perintah Sehun. "Tidak," kata Luhan. "Jangan membuatku ingin memarahimu disini, Xi Luhan," birik Sehun. Sehun mengambil tas Luhan yang ada di bawah kasur. Sehun menggendong Luhan dengan bridal style. "Saya pamit," kata Sehun.

Sehun membawa Luhan keluar dan menggendongnya sepanjang koridor yang penuh siswa. Luhan mengeratkan pelukannya ke badan Sehun. "Kau membuatku malu," kata Luhan. Sehun diam. Ia membawa Luhan ke mobilnya dan segera membawa Luhan ke rumah sakit.

Selama di perjalanan, Sehun hanya diam merenungi percakapannya dengan Minseok tadi pagi.

Flashback

Sehun merapikan dasinya dan menenteng tasnya. "Kita butuh bicara," kata Minseok yang menunggunya di ruang tengah. Sehun duduk dan menatap jamnya. "Kau tau Luhan sedang hamil. Kenapa kau membuatnya semakin sensitif?" tanya Minseok.

"Aku tidak mem—"

"Kau membuatnya marah Oh Sehun!" kata Minseok. "Dia masih muda. Emosinya belum bisa ia kontrol," kata Minseok. "dan lagi, ia sedang hamil. Moodnya akan berubah-ubah. Bagaimana bisa kau tidak mengerti tentangnya?"

Sehun mendecih. Ia memegang dahinya. "Apa kau mengerti tentangnya?" tanya Sehun. "Tidak," jawab Minseok. "Lalu, kenapa kau bertingkah seolah kau ya—"

"Dia menatapnya seolah kau adalah pusat semestanya saat ini. Ia menganggap dirimu adalah Tuannya. Ia memujamu, Sehun! Dia mengikuti cara mainmu selama ini. Mengikuti peraturanmu. Sakit karena melihat kau membawa yeoja lain, memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Kenapa kau tidak juga mengerti?" tanya Minseok.

Flashback off…

"Se-Sehun!" panggil Luhan. Sehun menoleh. "Kenapa?" tanya Sehun dengan kembali ke jalanan. "Sebaiknya kita pulang dulu," saran Luhan. Sehun meminggirkan mobilnya dan menatap Luhan. "Kenapa lagi?" tanya Sehun malas.

"Be-Begini. Kau mau ditangkap sebagai orang yang bertanggung jawab atas kehamilan seorang siswi High School sepertiku?" tanya Luhan balik. Sehun diam, menghela nafasnya. "Tentu saja aku tidak mau, rusa manis. Apa yang membuatmu bertanya begitu, hm?" tanya Sehun lagi.

"Kau tidak lihat aku masih menggunakan seragam sekolah?" tanya Luhan sambil memajukan kedua tangannya. Sehun tertawa melihat tingkah lucu Luhan. "Tentu saja aku melihatnya. Tenang saja, aku akan mengaku pada dokter itu kita sudah menikah. Sekarang banyak pasangan muda yang memiliki anak sebelum menikah Xi Luhan," jawab Sehun. Luhan mengerucutkan bibirnya sesaat. "Baiklah. Aku tidak akan menolongmu jika kau ditangkap oleh polisi," kata Luhan.

"Terserah jika kau tidak mempercayai perkataanku, anak kecil," balas Sehun kesal. "Sudah, istirahat sana!" perintah Sehun pada Luhan.

. . .

Sehun duduk menunggui Luhan yang tengah diperiksa. Sehun melihat tabel diagram kehamilan yang terpampang di dinding. "Selesai. Nona Xi sudah boleh duduk," kata dokter itu—Victoria. Sehun menunggu Luhan yang merapikan seragamnya di balik tirai.

"Bagaimana keadaan Luhan?" tanya Sehun pada Victoria yang sedang mencatat sesuatu di kertas. Victoria meletakkan penanya dan memberikan Sehun secarik kertas yang Sehun yakini sebagai obat. "Kurang nutrisi. Terlalu lelah. Dan satu lagi," kata Victoria menatap Luhan tajam. "dia tidak sarapan!"

Luhan menatap tajam Sehun yang telah membuatnya tidak sarapan tadi pagi. Sehun berdeham kecil, "Jadi, hanya itu?" tanya Sehun mencoba mengalihkan topik. "Kandungan Nona Xi merupakan salah satu kandungan yang pada usia yang cukup muda yang pernah saya tangani. Kemungkinan kandungan Nona Xi akan terlihat kecil karena fisiknya yang ke—"

"Aku tidak kecil!" bantah Luhan kesal. Victoria dan Sehun menghela nafas bergantian menatap Luhan yang mengerucutkan bibirnya—kebiasaan baru Luhan.

"Oke, karena fisik Nona Luhan yang masih berada pada masa pertumbuhannya. Jadi, aku mohon jaga baik-baik kandungan Nona Luhan. Nona Luhan juga tidak boleh sering stress. Itu akan berakibat buruk untuk anaknya nanti," jelas Victoria.

"Nona Luhan tidak boleh meminum soju, memakan kacang, dan memakan makanan lainnya yang bisa menyebabkan bayi alergi, cacat, dan kemungkinan buruk lainnya," kata Victoria menatap Luhan. Luhan mengangguk mengerti. "Dan untuk Tuan Sehun," kata Victoria menggantung.

"Kurangi intensitas anda menyentuh Nona Luhan," saran Vctoria. Luhan terkikik senang, sedangkan Sehun menghela nafas kecewa. "Ini demi anak anda juga, Tuan Sehun," kata Victoria mencoba memberi pengertian pada Sehun.

"Oke. Ini demi si kecil," kata Sehun tersenyum. Luhan tersenyum cerah melihat Sehun yang tampak sangat senang dengan kehamilannya. Sehun sudah membayangkan jika ia memiliki keluarga kecil dengan seorang anak yang berlarian ke kamarnya dari kamar Luhan untuk bertemu dengannya yang baru pulang kerja. Hati Sehun menghangat.

Setelah itu, Sehun dan Luhan menuju kantin rumah sakit dan memesan makanan. Luhan makan, sedangkan Sehun hanya menikmati roti dengan isi selai strawberry. "Kau menyukai strawberry?" tanya Luhan. Sehun menggeleng. "Aku hanya ingin," kata Sehun yang mencomot roti lagi. Luhan mengelap sisa selai strawberry dengan jari jempolnya dan menjilatnya.

"Manis. Pantas saja kau suka. Hidupmu harus diisi dengan rasa manis lebih banyak lagi, agar hidupmu tidak menjadi pahit, gelap, dingin dan berbau hal-hal yang kejam lainnya," kata Luhan pada Sehun yang menatapnya tajam. "Apa maksudmu mengatakan itu?" tanya Sehun. "Aku hanya memberitahu mu, Tuan Sehun," kata Luhan yang kemudian menyendokkan nasinya ke dalam mulut.

Luhan memandng seorang lelaki tua berjas digandeng seorang wanita dengan dress berwarna biru terang—berbelahan dada rendah dan hanya seperempat paha. Zeyong! ITU ZEYONG SI MANUSIA BEJAT DAN BRENGSEK! Bagaimana ia masih hidup? Kata Minseok dia sudah mati!

Luhan meninggalkan Sehun yang hendak mengelap mulutnya dengan tissue. Luhan berlari menuju Zeyong. Luhan kehilangan jejak lelaki bejat itu. Ia masih hidup! IBU! Luhan teringat akan ibunya. Dimana ibunya? Tanya Luhan dalam hati. Ia harus menemukan Zeyong.

Luhan hendak berlari menuju meja administrasi ketika akhirnya ia dihadang oleh Sehun yang panik. "Lu, ada apa?" tanya Sehun yang memegang lengan Luhan. Luhan menggeleng. "Ini urusanku. Bukan urusanmu!" ucap Luhan sarkas. Luhan menghempaskan tangan Sehun dan berjalan dengan panik menuju meja administrasi.

Sehun hanya menatap Luhan yang berdiri di depan meja administrasi dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja berkaca bening. Luhan tampak bersikeras kepada petugas rumah sakit. Sehun menyusul Luhan yang kemudian pergi dari meja administrasi. "Aku ingin pulang dan berbicara pada Minseok," kata Luhan dingin.

Sehun menatap Luhan yang kemudian pergi ke parkiran. Sehun membukakan pintu untuk Luhan. Sehun menyalakan mobilnya dan membawa Luhan kembali ke mansion. Luhan diam hanya menatap kosong pemandangan di luar. Sehun yakin, sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang lebih gawat dibandingkan mendengar 100 pot kimchi telah mengotori halaman mansionnya.

Luhan segera berlari ke dalam rumah ketika ia sampai. Sehun mengambil tas Luhan dan melihat Luhan menggoncangkan badan Minseok yang lebih berisi dari Luhan. "Kenapa kau tidak memberitahuku jika Zeyong belum mati?" tanya Luhan pada Minseok dengan mata berkaca-kaca.

Minseok diam. "Kau tidak mengerti, Lu!" jawab Minseok mencoba meyakinkan Luhan. "Aku mengerti!" kata Luhan. "Kenapa, Minseok eonnie?" tanya Luhan lagi. "Kau hanya akan membalaskan dendammu tanpa mengerti apapun!" jawab Minseok dengan berani.

"Aku mengerti apa yang terjadi!" bantah Luhan.

"Lalu, apa kau tau, apa yang terjadi sebenarnya? Malam itu? Malam terakhirmu bertatapan dengan ibumu?" tanya Minseok. Luhan terdiam. Ia hanya berusaha melarikan diri dengan ibunya yang tengah sakit. Yang ia tau, itu usaha pembunuhan terhadap keluarganya.

"Kau pasti mengira itu hanya usaha pembunuhan biasa, benar?" tanya Minseok menatap Luhan. Luhan dengan ragu menganggukkan kepala. Minseok tersenyum miris. "Tidak Luhan. Kau dan Ibumu akan dimusnahkan bersamaan dengan rumah Zeyong. Zeyong yang mengaturnya!"

Luhan menatap Minseok. "Di-Dia mengaturnya?" tanya Luhan.

Minseok mengangguk. "Aku akan memberitahukan mu segalanya," kata Sehun yang berjalan menuju Luhan. "Asal kau berjanji, aku yang akan membayar semua rasa sakit itu pada Zeyong?" tawar Sehun.

. . .

TBC

. . .

Halo-halo-halo!

Akhirnya chapter 3 update juga! Nggak nyangka udah chapter 3 aja. Ini ngebuatnya sambil dengar lagunya Rossa – Hati Yang Kau Sakiti, sama lagunya HowL & J – Perhaps Love. Itu feelsnya lumayan buat bikin sakit-sakit hati.

Chapter depan mungkin agak kurang dimengerti. Jadi, Aoi kasih tau. Chapter depan itu bakalan banyak flashback. Yang udah bertanya-tanya masalah si KyuMin couple, kenapa bisa datang ke kehidupan Luhan? Bakalan terjawab di chapter depan.

So, nikmati FF ini senikmat melihat momen HunHan waktu HunHan masih bersatu. Sebelum di pisahkan oleh lautan dan kesibukan masing-masing #AZZZEEEEKKKK #PlesbekModeOn

Oh, Aoi punya teman yang sedang nulis cerita gitu. Untuk prolognya, dia butuh beberapa review. Jadi, yang berminat untuk baca ceritanya, silahkan PM Aoi untuk Aoi kasih link blognya.

Sekian aja kali ya? Maafin kalau banyak Typo, agak kurang nyambung, atau kecacatan lainnya. Now, Review time…

Mohon berikan review untuk FF ini. Semua review kalian untuk chapter 1 dan 2 udah bikin Aoi semangat ngelanjutin FF ini. Pokoknya, chapter 4 bisa update sebelum hari raya kurban. So, stay tuned!

REVIEW PLEASEEE!