Halo minna-san~
Anri akhirnya muncul kembali, jreeeeng jreeeeeeng jreeeeeeeeng, rasany udah lama bangeet ga update, yah mohon dimaklumi soalnya Anri mencapai semester akhir kuliah, semester dimana sibuk-sibuknya tapi Anri akan usahain nulis, hehe,
Selamat menikmati chapter ini~
Thanks to reviewers~
Aiko Michisige : Lanjuuut~ :D
nelsonthen52 : Udah update ;D
kyuubi no kitsune 4485 : arigatou xD ini udah update
Namikaze Otorie : halo Otorie chan ;D iyaah, emang bener kok itu, gomen ne info fic ini bakalan di rewrite ada di chap 13 kmaren tp udah Anri hapus, Anri juga kmaren lupa nulis di summary kalo fic ini bakalan di rewrite. Untuk alur ceritany masih sama kok, cuma agak Anri ubah sedikit SasuNarunya, hehe,
Ryuusuke583 : hayuuu pilih yg mana #plakkk xD Haru doong, dia kan sifatny sebelas dua belas ama Kyuubi tuh, wkwkwk, arigatou ne~
SNlop : wkwkwk, iyaaah xD Naru lemah ama muka stoic, lanjuuut~
choikim1310 : Iyaaah, SasuNaru ama ItaaKyuu, Anri ga rela kalo Itachi jd ukee xO kalo Haruto udah ketauan hintsny ama syp di chap ini, tp belum ada kepastian lebih lanjut #dibogem Iyaah, chap aslinya udah sampe 13 tp Anri rewrite lg, lanjuut~
Vianycka Hime : iyaaah xD waaah, kalo lemonan siiih #nosebleed keliatan banget ya haruhinanya wkwk, baikkan dong, ItaKyuu kn pair fav Anri setelah SasuNaru ;) lanjuut
devilanathelittledemon : gomen ne, iyaah, fic ini Anri rewrite dr awal, soalny pas Anri baca ulang chap awal"ny ancur banget, bikin pembaca ga ngerti, jadi Anri tulis ulang masih dgn cerita yg sama cuma agak Anri ubah plotnya, ;D
SNLove : Iyaaah, lanjuuut yaak xD
andika yoga : arigatou ;D iyaah, fic ini kayany bakal panjang bgt wkwkwk lanjuut~
: iyaaah, lanjuuuut ;)
AyaPutrii : iyaah, aslinya udah sampe 13 tp Anri rewrite ulang, arigtou ;D lanjuuut~
blackjackcrong : arigatou xD maap yah lama, Anri semi hiatus soalny, hhehe, lanjuuut~
Guest : Typing typing~ :D
hayato : waaaah, kalau naruto jd cewe seutuhnya siih, kita liat ntar yak :p wkwk
.
.
.
Summary : (REWRITE) Sebuah jurnal yang ditinggalkan sang ayah membawa mereka pada kenyataan dibalik pengeboman sebuah pulau di Jepang, dunia baru, keluarga, persahabatan, cinta dan juga pengorbanan. "Aku percaya mereka masih hidup." / "Kaa-san, Tou-san, minna…" / "Namaku Narumi. Uzumaki Narumi." WARNING ! AU, OOC, OCs, Yaoi, word pendek, dll.
.
.
.
Chapter III
It was Him
.
.
.
Naruto POV's
Aku tahu ada yang salah dari diriku, semenjak tiga tahun lalu saat aku melihatnya. Seorang anak laki-laki berambut raven melawan gravitasi. Dari ramainya manusia yang berkumpul dari seluruh penjuru dunia hari itu, aku melihatnya. Anak yang duduk bosan ditemani oleh teman yang sangat antusias di sebelahnya. Dengan wajah acuh dia sibuk bermain handphone di saat-saat yang mendebarkan waktu itu. Di saat-saat semua orang sedang memperhatikan jalannya pertandingan dengan serius, hanya dia satu-satunya orang yang tidak tertarik.
Lalu untuk apa dia datang ke sini?
Melihat anak itu benar-benar membuatku kesal. Banyak orang di luar sana yang tidak mendapatkan kesempatan sepertinya. Kesempatan untuk datang dan duduk melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, sebuah pertandingan spektakuler yang hanya dilaksanakan lima tahun sekali. Pertandingan internasional The Seven Swords Tournament.
Melihatnya benar-benar menyebalkan.
Wajah itu tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.
Dasar Teme!
Aku ingat kata-kata Shion waktu itu.
"Tidak semua orang menyukai The Seven Swords Tournament, Nar."
Tapi tetap saja, kalau dia memang tidak berminat seharusnya diam saja dirumah dan tidur sana! Bukannya malah datang dan mengacuhkan jalannya pertandingan. Heck, dia malah asik main handphone. Lebih baik berikan tiketmu pada orang yang menginginkannya, teme! Entah kenapa melihat wajahnya saja jadi membuatku keki setengah hidup! Memangnya dia dibesarkan dimana sih sampai tidak tertarik dengan turamen seperti ini? di hutan, heh?
"Kau aja yang terlalu fanatic, Nar."
Shion, sumpah akan kusumpal mulutmu kalau tidak diam sekarang juga. Jawabku waktu itu dan hanya dibalas dengan tawa.
Dan kini, aku melihatnya lagi sekarang.
Di sini.
Naruto POV's End.
.
.
.
Konoha Boarding School
Naruto © Masashi Kishimoto
Runriran
Chapter III
WARNING : AU, OOC, OC-insert, Yaoi, Semi-Gender Bender, Word pendek
.
.
.
• 3 Tahun Lalu, Paris – Prancis •
Di sebuah sekolah elite di Prancis, seorang anak berumur 13 Tahun sedang berlari dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia mempercepat larinya saat mendengar suara orang yang mengejarnya tertinggal beberapa meter dibelakang. Anak itu berbelok, mencari celah-celah sempit diantara gedung-gedung sekolah sebelum ia masuk ke sebuah kelas kosong dan bersembunyi di bawah meja guru.
"Hehehe, aku memang jenius." Ucapnya pelan sambil memeluk lututnya.
"Naruto!" Mendongak, mata sebiru langit itu bertemu dengan ungu pucat.
Mengela nafas, Naruto keluar dari tempat persembunyiannya. "Ternyata kau. Aku pikir Ebisu-ero."
Gadis dengan rambut blondie pucat itu hanya menggelengkan kepalanya, "Baka" lalu memukul kepala Naruto pelan, "Kau selalu saja bikin onar, Naruto."
"Hehe, bu-"
"Ya ya ya, bukan Naruto namanya kalau ga bikin onar." Potong gadis itu.
"Shion! Jangan memotong kata-kataku ttebayo!" ucapnya sebal.
"Ya ya, terserah." Ucap Shion seraya merogoh saku baju sekolahnya. Naruto menatap gadis itu heran, "Aku tau kau tidak pernah baca berita. Ya kan?" Senyuman lebar Naruto adalah jawabannya. "Jadi aku kesini mencarimu." Shion menyerahkan Handphone Opplenya pada Naruto, karena dia merupakan salah satu orang yang up to date tentang berita-berita harian. "Lihat headline newsnya."
Naruto menscroll kebawah dan matanya melebar begitu melihat berita baru hari itu. Shion tersenyum melihat ekspresi Naruto yang bagai mendapat doorprize miliaran dolar. "Oh, GOD!" pekik Naruto pelan sebelum ia menoleh pada Shion dengan senyum lebarnya.
"What you wanna say?"
"Tu es le meilleur, Shion!" Naruto memeluk gadis itu pelan sebelum mengecup bibirnya sekilas. Shion hanya menanggapinya dengan tertawa kecil. "Aku tidak sabar lagi!" Naruto melompat-lompat senang.
"Yah, ini kesempatanmu Naruto. Jarang-jarang loh diadakan di Prancis, lagian cuma lima tahun sekali sih." Naruto mengangguk-angguk antusias.
"The Seven Swords Tournament!"
•°
•°Konoha Boarding School°•
°•
"Serius!?"
[Serius. Aku sudah janji dengan temanku untuk datang melihat turnamennya, dia ikut daftar katanya.] jawab suara dari handphone orange milik Naruto.
"Ooh, I could kiss you Haru-nii!"
[Ya ya, sudah dulu. Aku matikan ya. Bye, Nar.]
"Bye, Haru-nii."
KLIK
Sepasang mata berwarna turquoise melirik Naruto, "Haruto?" tanyanya dengan suara pelan.
"Ya! Katanya Haru-nii akan datang melihat turnamen. Asiiiiik!" anak disampingnya hanya mengangguk sebelum kembali membaca buku psikologi yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.
"Nee, nee, Gaara." Naruto menggeser duduknya mendekati teman satu kelasnya itu, "Kau ikut kan? Melihat The Seven Swords Tournament? Kan? Kan?"
Anak laki-laki berambut merah maroon itu menutup bukunya lalu menatap mata Naruto, "Maafkan aku, Naruto. Aku tidak bisa ikut karena ada seminar psikologi yang harus ku ikuti."
Bahu Naruto terjatuh lemas, kecewa. Satu-satunya penggemar The Seven Swords Tournament yang dikenalnya adalah Gaara, kesampingkan Shion karena dia perempuan dan menyukai The Seven Swords Tournament sebagai entertainment biasa.
"Datang saja berdua dengan Shion."
"Tapi Shion itu tidak mengerti apa yang kubicarakan tentang The Seven Swords Tournament."
"Tidak apa-apa. Daripada kau datang sendiri."
"Yah, aku rasa begitu." ucap Naruto sedih.
•°
•°Konoha Boarding School°•
°•
"Rasanya ingin kucincang-cincang dan kuberikan potongan tubuhnya pada ikan hiu!"
Shion menutup mulutnya menahan tawa yang hampir keluar. Jangan sampai Naruto mendengarnya tertawa, kalau tidak, bisa-bisa anak itu bakalan ngambek tiga hari tiga malam. Kan tidak lucu jadinya.
Shion heran dengan anak di sebelahnya ini. Dia sudah lama menanti-nantikan The Seven Swords Tournament tapi entah kenapa yang jadi perhatiannya malah seorang anak berambut raven tak dikenal. Mungkin kesal, ya, tapi tidak seperti ini. Lagi pula Shion bukan penggermar fanatic seperti Naruto, jadi dia tidak bisa mengerti perasaannya.
'Aku suka The Seven Swords Tournament tapi dalam batasan wajar. Kalau Naruto sih sudah di luar batas kewajaran. Mungkin…' batin Shion. "Naruto." Panggilnya berusaha mengalihkan pikiran sahabatnya dari si raven.
"Ada apa ?"
"Kau bilang Haru-nii datang, bukan. Mana dia?" Naruto memiringkan kepalanya sedikit,
"Mungkin dia sedang bersama temannya."
"Bagitu, ayo kita ca-"
"Kau!"
Seorang anak laki-laki berambut raven berjalan di koridor menuju area penonton, namun karena The Seven Swords Tournament pada hari itu sudah selesai tempat tersebut sepi akan pengunjung yang sudah menyerbu ruangan pameran pedang The Seven Swords Tournament yang diadakan.
Anak berambut raven itu menaikkan satu alisnya heran. Tak mengenal anak yang memanggilnya, dia pun memutuskan untuk tidak menghiraukannya. Namun, sepertinya anak berambut pirang itu tidak membiarkannya begitu saja. Ia menarik tangan anak berambut raven sampai mereka berhadapan. Anak berambut raven itu hanya menatap si pirang dengan tatapan bosan.
"Kau tidak menyukai The Seven Swords Tournament huh?"
"Biasa saja. Aku tidak tahu kalau ada orang yang suka mengurusi urusan orang lain sepertimu, dobe."
"Teme!" Naruto menarik kerah baju si raven, "Seharusnya kau menghargai mereka! Kenapa kau yang diberi kesempatan berada disini malah menyia-nyiakannnya? Padahal banyak orang lain di luar sana yang ingin melihat The Seven Swords Tournament tapi tak punya kesempatan!"
"Apa yang kulakukan itu urusanku, lagipula The Seven Swords Tournament bukan hiburan semata. Aku tidak peduli, kalau mereka tidak cukup menarik untuk mendapatkan perhatian seorang penonton artinya mereka tidak berharga sama sekali, dobe." Jawabnya acuh, sebelum menepis tangan si pirang dari kerah bajunya.
Menutup matanya kesal, Naruto mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih sebelum dia melancarkan tinjunya ke wajah si raven namun dengan cepat tinju Naruto ditangkisnya. Anak laki-laki berkulit putih pucat itu mengenggam kedua tangan Naruto dan menghempaskannya. Shion hanya dapat memekik pelan saat mendengar suara punggung Naruto yang berbenturan dengan dinding.
"Yang seperti itu tidak akan mempan terhadapku." si raven mendekatkan wajahnya pada si pirang, "Memangnya apa yang bisa kau lakukan, hm?" Naruto menggertakkan giginya, ia berusaha berontak namun hasilnya nihil melihat kemampuan lawan yang jauh diatasnya.
"Sebaiknya kau lepaskan Naruto sekarang juga!" perintah Shion dengan nada tinggi setelah tersadar dari shock.
Tanpa menoleh sedikitpun pada Shion, anak laki-laki berambut raven itu makin menekan tubuh Naruto pada dinding sehingga terlihat sedikit intense di mata Shion dan membuat gadis itu memekik terkejut, mengkesampingkan pikiran yang ada sebelumnya untuk menolong Naruto.
Merasa tidak akan ada gangguan lebih lanjut, si raven menekan tubuhnya pada tubuh Naruto sehingga tidak ada lagi jarak diantara mereka. "Hmm, jadi namamu Naruto kah." Bisiknya di telinga kiri Naruto.
"Te-teme, mau apa kau!? Menjauh dariku berengsek!" wajah Naruto bersemu merah antara merasa terhina, marah dan malu menjadi satu.
Anak laki-laki bermata onyx itu menyeringai melihat ekspresi Naruto, melupakan rasa kesalnya karena ia mendapat hiburan baru. Ekspresi anak di depannya ini lebih menghiburnya daripada turnamen yang sahabatnya paksa untuk menemaninya menonton hanya karena kakaknya ikut memperebutkan salah satu pedang dari The Seven Swords Tournament.
Oh, betapa dirinya menikmati hal ini.
'Tidak rugi aku datang menemani Suigetsu.' batinya dalam hati.
Baru kali ini dia bermain api seperti ini. Pertamanya, ia melakukan hal itu untuk menakut-nakuti si pirang, karena sudah pasti kalau orang normal akan benar-benar ngeri dengan caranya memperlakukan si blondie. Tapi melihat emosi yang terpancarkan dari mata sebiru laut itu membuatnya berpikir bahwa apa yang dilakukannya sepadan dengan apa yang didapatkannya.
"Bisa tolong kau lepaskan adikku?"
Suara dengan nada kalem itu menginterupsi pikiran si raven, ia menoleh sekilas kepada si pemilik suara sebelum melepaskan kedua tangan Naruto dan berjalan mundur beberapa langkah memberi jarak pada dirinya dan si pirang.
Ia memperhatikan anak laki-laki yang berjalan mendekati mereka. Rambut blondie jabrik sebahu, kulit seputih susu dengan warna mata yang identik dengan Naruto.
'Mereka kembar.'
"Haru-nii!" gadis berambut pirang pucat itu menghampiri anak yang dipanggilnya Haru, "Dari mana saja sih? Kami mencarimu tau!"
"Sasuke!"
Berapa meter di belakang kakak Naruto, Suigetsu melambaikan tangannya dan seorang remaja berumur sembilan belas tahun dengan perawakan yang sangat mirip dengan sahabatnya itu mengikuti di belakangnya.
"Suigetsu. Mangetsu-san." Sapa Sasuke pelan begitu mereka berada pada jarak dengar.
Mangetsu mengangguk menjawab sapaan Sasuke, "Aku bertanya-tanya kemana kau menghilang, ternyata di sini rupanya."
"Aniki, sudah kubilang Sasuke itu tidak akan tersesat. Nanti juga dia kembali sendiri." Mangetsu tertawa mendengar penjelasan adiknya yang mengibaratkan Sasuke seperti seekor kucing, sedangkan Sasuke yang kesal menepuk kepala Suigetsu pelan.
"Baka!"
"Itte… Ah, Sasuke, kenalkan ini teman kakakku, Haruto-kun."
Sasuke menoleh dan mendapati kakak Naruto mengulurkan tangannya lalu tersenyum simpul. Sasuke menjabat tangannya.
"Uchiha Sasuke."
"Senang berkenalan denganmu, Uchiha-san."
Setelah berjabat tangan dengan Sasuke, Haruto memberi isyarat pada gadis berambut pirang pucat untuk maju mendekatinya, "Kenalkan, dia Shion dan yang di sana itu adik kembarku, Naruto." Ucap Haruto sebelum berdiri di samping Mangetsu, "Shion, Naruto, dia Hōzuki Mangetsu dan adiknya Suigetsu lalu Uchiha Sasuke."
"Tunggu, Haru-nii. Kau bilang temanmu ada yang mengikuti The Seven Swords Tournament?" tanya Naruto dengan nada antusias.
"Ya, Mangetsu ini," Mangetsu melambaikan tangannya, "Ikut menantang pemilik pedang Hiramekarei atau bisa juga disebut twinsword. Pertandigannya kalau tidak salah tiga hari lagi." Jelas Haruto.
Naruto menggigit bibirnya pelan sebelum berbisik, "BolehakumintatandatanganmuMangetsu-san?"
"Hah? Ngomong apa kau? Tidak kedengaran tau." Ucap Suigetsu,
Mangetsu tertawa melihat wajah Naruto yang memerah sebelum mengelus kepalanya pelan, "Tentu, tentu. Tidak masalah." Naruto lalu tersenyum lebar dengan wajah berseri-seri.
"Merci bien! Mangetsu-san!"
•°
•°Konoha Boarding School°•
°•
"Kenapa aku harus ditinggal berdua denganmu, teme." Gerutu Naruto duduk di ruang tamu gedung apartemen VIP peserta, berhadapan dengan Sasuke. Haruto pergi berdua dengan Mangetsu menemui seseorang di lantai atas, sedangkan Shion menarik Suigetsu entah kemana. Dan di sini dia berdua dengan Sasuke.
"Hn." Sasuke membuka majalah The Seven Swords, tidak menghiraukan Naruto.
"Teme, aku masih penasaran." Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Kau benar-benar tidak tertarik dengan The Seven Swords Tournament?"
"Kau sadar dobe," perempatan muncul di kepala pirang itu, "Kalau kau benar-benar menyukai The Seven Swords Tournament, seharusnya kau tau bahwa pertandingan hari ini hanyalah kamuflase belaka untuk menyenangkan para penonton sebagai acara pembukaan." Sasuke membuka lembaran majalah selanjutnya.
"Tu-tunggu, tidak mungkin seperti itu kan!?"
Menghela nafas, Sasuke menutup majalah di tangannya, "Pikirkan saja, kalau mereka pemenang-pemenang sebelumnya bertanding secara serius, bagaimana mereka akan menghadapi penantang lainnya bila mereka sampai terluka di pertandingan pembukaan?"
Naruto menyandarkan tubuhnya pada sofa, "Benar, masuk akal juga." Ia mengngguk-angguk. "Jadi sebenarnya kau suka The Seven Swords Tournament kan?"
"Untuk apa aku datang jauh-jauh dari Jepang hanya untuk mendatangi turnamen yang tidak kuminati." ucapnya dengan nada bosan.
"Jadi rupanya aku salah menilaimu, Sasuke." Ucap Naruto pelan, namun masih terdengar oleh si raven .
"Hm, kau bilang apa?" tanya Sasuke dengan senyum jahilnya.
"Aku tidak bilang apa-apa teme!"
"Hn," Sasuke kembali membuka majalah The Seven Swords sebelum telinganya mendengar suara familiar dari belakangnya.
"Lihat siapa ini… Adik Itachi."
Si pemilik suara itu membungkukkan badannya hingga kepalanya bersebelahan dengan Sasuke. Mata Naruto membelalak, menyadari postur tubuh orang (?) yang sedang berada di belakang Sasuke. Kulit berwarna biru karena mutasi genetic, gigi runcing serta mata sebuas hiu. Salah satu pemenang The Seven Swords Tournament selama 10 tahun berurut-turut tak tergeserkan. Hoshigaki Kisame, Monster of The Hidden Mist.
"Hisashiburi, Kisame-san."
"Lama tidak bertemu juga, gaki. Kau datang bersama si bocah Hōzuki." Sasuke mengangguk, "Hm, begitu. Sampaikan salamku pada kakakmu." ucap Kisame seraya mengacak-acak rambut Sasuke sebelum pergi.
"Sasuke?"
"Dobe?"
"Kau kenal dengan Hoshigaki Kisame-san? Monster of The Hidden Mist?" tanya Naruto dengan mata berkaca-kaca.
"Hn, dia teman dekat anikiku."
Tiba-tiba Naruto dengan cepat sudah berpindah tempat duduk, di sebelah Sasuke. Mau tidak mau hal itu membuat anak laki-laki bermata onyx itu sweatdrop. Bagaimana tidak, anak yang tadinya tidak senang satu ruangan denganya malah berubah perilakunya seratus delapan puluh derajat. Belum lagi dengan pemandangan di depannya. Naruto yang menatap Sasuke dengan mata a la puppy eyes benar-benar membuatnya tidak bisa mengacuhkan si pirang itu.
Menghela nafas, Sasuke berdiri dari tempat duduknya. "Hn, kalau kau mau bertemu dengannya lebih baik cepat sebelum aku berubah pikiran." Naruto yang terlampau senang kemudian melompat berdiri sebelum memeluk dan mengecup bibir Sasuke singkat.
"Ayo, teme."
Oh, Sasuke benar-benar akan menyesali hal ini dalam hatinya.
•°
•°Konoha Boarding School°•
°•
"AYO MANGETSU-SAN! HAJAR DIAAAAA!"
Sasuke memijat pelipis kepalanya pusing, "Dobe, berisik. Pelankan suaramu."
"SEMANGAAAAAAAAT MANGETSU-SAAAAAAAN! SERAAAAAAAAAAAAAAAAANG!"
"Dobe! Aku bisa tuli, dobe!"
Shion menepuk pundaknya pelan, "Percuma Sasuke-kun. Apapun yang kau lakukan tidak akan bisa membuatnya diam di saat seperti ini."
"UWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"
"Oh, God!" Shion hanya tertawa pelan melihatnya.
•°
•°Konoha Boarding School°•
°•
"Naruto…"
Merasa namanya dipanggil, Naruto menoleh kebelakang dan mendapati Sasuke yang sedang berjalan ke arahnya.
"Sasuke, kau lihat Haru-nii tidak?" Sasuke mengangkat bahunya tidak tahu. "Kenapa setiap selesai pertandingan mereka selalu menghilang sih."
Naruto menggerutu sebal karena perutnya sudah keroncongan dari tadi, namun Haruto dan Shion lagi-lagi menghilang entah kemana. Dia memperhatikan Sasuke yang sedang membeli minuman kaleng dari mesin penjual otomatis, ia berjalan mendekati Sasuke.
"Teme,"
"Hn," Sasuke membuka kaleng kopi instannya tanpa menoleh pada Naruto sebelum meminumnya,
"Teme," panggilnya lagi,
"Hn," kali ini Sasuke menoleh padanya,
"Aku lapaaaaar," rengek Naruto sambil memegang ujung baju Sasuke, "Temani aku makan, ya? ya? ya?" Sasuke menatap Naruto diam beberapa detik,
"Hn,"
"Asiiiiiiiik!" Naruto melompat-lompat kecil girang, "Ayo, teme!"
Sasuke membiarkan dirinya ditarik oleh anak hiperaktif di depannya. Mereka berdua berjalan menuju kafetaria di lantai bawah gedung apartemen peserta. Mangetsu memiliki apartemen di lantai lima, lantai khusus dimana para peserta The Seven Swords Tournament berada adalah lantai lima ke atas. Sedangkan Haruto menyewa apartemen di lantai empat, begitu pula Sasuke. Karena mereka menginap di lantai yang sama, keduanya jadi sering bertemu, entah itu untuk makan bareng, jalan-jalan mengelilingi Paris serta menghabiskan waktu bersama.
"Nee, nee, teme," Sasuke menjawab dengan 'hn' singkat, "Ada kedai ramen enak di dekat sini, mau coba kesana?"
"Terserah,"
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor lantai empat menuju lift yang terletak di tengah bangunan. Gedung tersebut dibagi menjadi sisi kiri dan kanan, sedangkan di depan biasanya terdapat kafetaria dan beberapa fasilitas khusus lainnya, yang berbeda setiap lantainya. Setiap lantainya terdiri dari enam koridor vertikal, tiga di sisi kanan dan tiga lagi di sisi kiri. Sedangkan di ujung koridor belakangnya berbentuk horizontal dan tersambung dengan enam koridor vertikal tersebut.
Kamar Sasuke dan Naruto terletak di koridor belakang. Begitu mereka hendak berbelok, Sasuke melihat Haruto dan Mangetsu di koridor nomor lima.
"Ah, itu Haru-nii. Ha-" Sasuke menutup mulut Naruto dengan tangan kannannya dan menarik tubuh si pirang agar tidak terlihat oleh kedua orang itu. Bersembunyi.
"Diam sebentar, dobe."
"Emmph." Naruto mengangguk kecil sebelum Sasuke melepaskannya.
Sasuke dan Naruto kemudian mengintip dari sisi koridor yang (untungnya) waktu itu sedang sepi, karena jarak Haruto dan Mangetsu tidak terlalu jauh, tidak pula terlalu dekat tapi masih dalam jarak dengar mereka.
"Sasuke…" bisik Naruto, masih dengan mata berfokus pada dua orang di depan mereka.
"Hn," balas Sasuke pelan.
"Mengintip dan menguping itu perbuatan tidak terpuji."
"Hn,"
"Terus kenapa kita masih di sini?" desis Naruto pelan.
"Diam dulu, dobe."
"Teme, ka-eemph" bekap Sasuke tidak sabaran sebelum memusatkan perhatianna pada Haruto dan Mangetsu, sedangkan Naruto menghela nafas dalam hati, menyerah, sebelum matanya membulat begitu dia melihat scene di depannya,
"Mangetsu baka! Apa yang kau lakukan!?" desis Haruto pelan.
Mangetsu menekan tubuhnya pada Haruto hingga mereka merapat dinding. Kedua tangan Mangetsu berada di samping kepala Haruto membuat si pirang itu terperangkap, sedangkan kedua tangan Haruto berada di dada Mangetsu sebagai penghalang, namun tidak berhasil, apalagi melihat tinggi badan Haruto yang hanya mancapai dada Mangetsu.
"Hm, aku tidak melakukan apa-apa." Mangetsu tersenyum licik, sebelum menggigit daun telinga kanan Haruto dan membuat wajah pemiliknya berubah merah.
"Tidak melakukan apa-apa my ass!"
Haruto mendorong tangan kiri Mangetsu, begitu telinganya terlepas dari gigitan pemuda di depannya, ia mendorong Mangetsu kuat namun sebelum berhasil pemuda itu menyelipkan kaki kanannya pada selangkangan Haruto dan menekannya ke atas hingga membuat sensasi delight, ups.
"Hmm,"
"Ba-baka! Kau sentuh apa!? Dasar pedofil!?"
"Hmm, aku bukan pedofil Haru-chan~ You wounded me~" ucap Mangetsu sebelum menggigit leher Haruto pelan.
"Nnnngh… B-baka… Ja-jangan di s-sini Ma-nnnnhhh…"
"Kalau begitu, kita lanjutkan di tempat lain." Mata Mangetsu berkilat nakal sebelum mengangkat tubuh Haruto dengan cara bridal style.
Naruto dan Sasuke hanya bisa bertatapan dalam diam…
.
.
.
Chap III Owari °•(̯^┌┐^)•°
Mind to Review Minna~
