Because I Love You
.
.
.
NoonaRyeo
.
Warning : Hanya cerita abal dengan ide yang mungkin sangat pasaran. EYD tidak beraturan dengan typo yang sanggup bikin pusing kepala.
Tulisan yang saiia buat,masih sangat jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran,sangat diharapkan.
GS for this story. Yang tidak suka GS dimohon tidak memaksa untuk membaca.
.
.
Saiia hanya meminjam nama para Cast disini. Hanya CERITA ini yang Murni PUNYA SAIIA.
.
.
"No Plagiat... No Flame... No Copy Paste."
and,Don't Bashing the Chara.
.
.
Selalu terapkan prinsip " DON'T LIKE DON'T READ ." Okeeehh.
.
.
Enjoy~
.
.
Chapter 3
Yunho membawa keduanya mengelilingi deret toko yang berjejer. Musangnya sesekali melirik pakaian-pakaian yang terpajang didepan mata. Hampir satu jam ia dan Jaejoong mengelilingi Mall. Mencari pakaian yang cocok untuk perempuan itu. Dan hampir satu jam itu pula keduanya baru mendapat beberapa potong baju.
Jaejoong hanya menurut kemana Yunho membawa langkah kakinya. Sudah beberapa kali ia meminta Yunho untuk menghentikan kegiatannya mencari baju. Jaejoong heran, padahal ia yang membutuhkan baju-baju itu,tapi kenapa justru Yunho yang lebih bersemangat mencarikan baju yang cocok untuknya.
"Yun,bisakah kita pulang sekarang? Aku pusing."
Seketika langkah kaki Yunho terhenti. Tubuhnya berbalik cepat guna menatap Jaejoong. Setelah beberapa hari Jaejoong tinggal bersamanya,baru kali ini Yunho mendengar Jaejoong mengeluh. Biasanya, perempuan itu lebih suka diam untuk menutupi rasa sakitnya. Setidaknya itu yang Yunho rasakan.
"Apa kepalamu sakit? Oke,kita pulang sekarang." Yunho langsung menggandeng lengan putih Jaejoong. Sorot matanya menyiratkan sebuah kekhawatiran akan kondisi Jaejoong.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit merasa pusing." Jaejoong menyela cepat. Tidak ingin membuat Yunho khawatir. Dia sadar jika selama ia tinggal bersama Yunho, lelaki itu selalu bersikap berlebihan jika melihat keanehan pada dirinya.
"Maafkan aku karena sudah membuatmu kelelahan." Yunho memandang Jaejoong penuh rasa bersalah. Jaejoong yang melihat tatapan bersalah Yunho langsung menggeleng cepat. Dalam hati,perempuan itu berjanji tidak akan lagi membuat Yunho seperti ini. Karena ia sadar,mungkin Yunho menyimpan perasaan bersalah yang teramat besar padanya.
"Tidak perlu cemas,Yun. Aku sudah tidak apa-apa. Sungguh. Aku hanya merasa pusing biasa." Jaejoong mengatakannya sembari mengukir senyum lembut. Mencoba meyakinkan Yunho jika dirinya memang tidak apa-apa.
"Kau yakin?"
Jaejoong mengangguk. "Percaya padaku."
Yunho menghela napas lega. Ditatapnya lembut Jaejoong yang masih tersenyum. Yunho tertegun saat sadar jantungnya kembali berdetak kencang seperti tempo hari. Hari dimana ia tidak bisa tidur karena memikirkan Jaejoong dan semua tingkah lakunya. Hari dimana pikiran ingin mengklaim bibir Jaejoong menyerang, membelunggu kepalanya. Tanpa sadar,fokus matanya beralih menatap bibir penuh Jaejoong yang terlihat menggoda. Lipstick tipis yang terpoles disana justru membuatnya semakin terlihat kenyal dan basah.
Sial!
Yunho berdehem gugup. Sadar karena sudah membiarkan pikiran liar kembali bersarang didalam otaknya. Dalam benak,umpatan demi umpatan ia rapalkan untuk dirinya sendiri. Jaejoong yang melihat tingkah Yunho yang sedikit aneh hanya menaikan sebelah alisnya.
"Wae?"
Mati saja kau Jung Yunho!
Yunho menggeleng sembari tersenyum kaku. Samar-samar,napasnya tertarik beberapa kali. Dia harus bisa kembali menenangkan detak jantungnya yang melebihi batas.
"Kau lapar tidak?"
Jaejoong kembali menaikan sebelah alisnya. Disusul kepalanya yang menggeleng. "Kenapa? Kau lapar?"
"Tidak. Mau langsung pulang?"
Jaejoong mengangguk. "Ya."
"Baiklah. Jja."
Yunho hendak menggandeng tangan Jaejoong. Entah sejak kapan ia mulai berani melakukan itu. Tapi Yunho mengakui jika ia menyukai saat dimana tangan keduanya bersentuhan intim seperti ini. Tapi langkah keduanya terhenti saat melihat seseorang yang mereka kenal ada didepan mata. Tersenyum sopan menatap keduanya. Dokter Lee.
Yunho membungkuk sopan saat Dokter paruh baya itu melempar senyum padanya. Matanya yang berbingkai kacamata minus menatap Jaejoong sekilas yang berdiri disamping Yunho,dengan kepala menunduk dan jemarinya yang saling bertaut. Membuahkan senyum tipis dibibir sang Dokter.
"Lama tidak berjumpa,Yunho-sshi."
Yunho hanya tergelak mendengar sapaan sang Dokter. Nada menggoda terselip disana. Yang entah kenapa sedikit membuatnya bingung. Lelaki tampan itu bahkan tidak menyadari Jaejoong yang terus menunduk disampingnya.
"Apa yang sedang Dokter lakukan disini? Bukankan seharusnya Dokter ada dirumah sakit dan memeriksa pasien?" Yunho mengatakannya dengan nada bercanda. Dokter bermarga Lee didepannya hanya tertawa menanggapi candaan Yunho.
"Bagaimana kabar Jaejoong? Tidak ada keluhan apa-apa?"
Yunho mendongak menatap Jaejoong. Seharusnya perempuan itu memang harus check up sesekali. Memeriksakan kondisinya. Tapi Jaejoong selalu menolak jika ia memintanya untuk ke rumah sakit,dengan alasan jika ia sudah baik-baik saja. Jaejoong keras kepala,dan Yunho tahu itu.
"Seperti yang Dokter lihat. Dia masih baik-baik saja. Walaupun sesekali ia seperti terlihat menahan rasa sakit." Yunho tersenyum tipis saat Jaejoong menatapnya sekilas.
"Terlihat?"
Yunho tertawa. "Dokter tahu? Dia tidak akan mau mengatakannya kepadaku jika ia merasakan sakit dikepalanya."
Dokter Lee tertawa mendengar penjelasan Yunho. Yunho adalah pemuda yang menyenangkan,menurutnya. Fokus matanya kembali teralih pada Jaejoong. Perempuan cantik itu tengah menatapnya lurus, dalam diam. Dokter Lee menggeleng pelan sembari mendecak samar.
.
..::.. YunJae ..::..
.
Yunho membanting pelan tubuhnya keatas kursi. Mengangsurkan selembar kertas kehadapan tiga orang didepannya yang memandangnya bingung. Dia baru saja dari ruang administrasi. Mencoba mencari tahu tentang alamat rumah Jaejoong pada petugas yang berjaga. Dan itu sangat sulit. Sang petugas kekeuh tidak mau memberi tahu dengan alasan sebuah privasi. Tapi well,dia Jung Yunho,semua orang tau siapa lelaki tampan itu. Setelah beberapa lama berdebat,sang petugas akhirnya mau memberi tahu alamat rumah Jaejoong,dengan terpaksa.
"Kau mendapatkannya?"
Suara Yoochun terdengar. Junsu mengambil kertas yang tergelatak diatas meja. Membacanya sebentar dengan kening yang berkerut.
"Apartement?" gumam Junsu menatap Yunho saat mendapati sebuah alamat yang tertulis disana. Alamat yang ia tahu adalah sebuah tempat kawasan apartement berada.
Yunho menghela napas berat. Mengerti akan kebingungan Junsu. Karena ia pun sempat merasa bingung saat mendapat alamat itu. Bukan apa-apa,hanya saja,entah kenapa ia berpikir jika Jaejoong tinggal sendiri, tidak bersama keluarganya yang lain. Membuatnya kembali bingung karena tidak mendapat informasi tentang keluarga Jaejoong.
"Mungkin kau bisa mencoba datang ke sana." Yoochun yang mengerti kebingungan Yunho hanya menatapnya dalam diam. Karena dia pun tidak tahu harus bagaimana. Sudah seminggu ini mereka mencari informasi tentang Jaejoong,dan mereka tak jua mendapat informasi apapun.
"Aku tidak yakin."
Yunho menatap sekilas Changmin yang tengah menenggak soft drinknya. Lelaki jangkung itu balas menatap Yunho dengan alis terangkat.
"Apa?"
"Kau benar-benar tidak tahu informasi apapun tentangnya?" tanya Yunho langsung.
Changmin mengidik. "Aku memang tidak tahu."
"Kenapa kau terlihat santai sekali,Changmin-ah?" Junsu menyahut. Perempuan imut itu sedikit heran dengan sikap santai Changmin. Bukan karena dia tidak mempercayai ucapan Changmin,hanya saja,hei,dia seharusnya tahu bagaimana kegusaran hyungnya itu.
"... Aku berpikir jika kau tidak sungguh-sungguh mencari informasi tentang Jaejoong." lanjut Junsu lagi.
Changmin mendengus. Menatap malas Junsu yang menatapnya sinis. "Terserah dengan apa yang kau pikirkan." sahutnya teramat santai. Tidak ingin terpancing mendengar ucapan Junsu.
"Tapi apa kau memang benar-benar tidak tahu,Min?"
Changmin memutar malas kedua bola matanya. Tadi Yunho,lalu junsu,dan sekarang Yoochun. Hell,kenapa mereka masih saja menanyakan hal yang benar-benar tidak ia ketahui jawabannya? Membuat kesal saja!
"Mau kalian bertanya sampai Yunho hyung menjadikan Jae nunna pacarnya pun,aku tidak tahu jawabannya. Ayolah,kita dekat bukan berarti aku tahu semua tentangnya. Kalian tahu bagaimana aku,oke."
Yunho langsung mendelik mendengar ucapan Changmin. Tangannya melempar asal kulit kacang kearah sepupunya itu,yang membuat lelaki jangkung itu mengumpat kesal karena lagi-lagi ia yang merasa terbully.
Tsk,berlebihan.
"Mulutmu itu."
"Kenapa dengan mulutku,hyung? Sexy?" sahut Changmin asal. Lelaki jangkung itu terkekeh saat lagi-lagi Yunho mendelik padanya. Yoochun menggeleng melihat tingkah dua sepupu itu.
"Kau sadar tidak,hyung?"
"Apa!?" Yunho menatap Changmin tajam. Sepupunya itu entah kenapa suka sekali berbicara asal. Tak jarang membuatnya kesal juga gemas ingin menggeplak kepalanya.
"Kau terlalu berlebihan." Changmin mencibir.
"Berlebihan kepalamu!"
Changmin mendesau sedikit kasar. Matanya menatap Yunho dengan serius. Tetapi rupanya lelaki tampan yang lebih tua darinya itu masih kesal padanya. Terbukti raut wajahnya yang masih mengkeruh. Sebelah alis Changmin terangkat bingung. Dan Yunho kesal hanya karena dirinya yang mengucapkan kalimat asal seperti itu? Sulit dipercaya.
"Kenapa kau melakukan ini,hyung?" tanya Changmin serius. Sudah lama ia ingin menanyakan tentang hal ini. Dan dia sangat ingin mendengar jawaban Yunho. "Apa hanya karena rasa bersalahmu dan sebagai bentuk tanggung jawabmu?"
"Apa maksudmu,Min?" Yoochun menyahut. Sedang Yunho hanya menatap Changmin bingung bercampur kesal karena tidak mengerti apa maksud ucapan lelaki itu.
"Jae nunna." Changmin terdiam sebentar melihat ekpresi Yunho. "Seingatku,sebelum kecelakaan itu terjadi,kau selalu mencoba menghindarinya. Mengabaikan eksistensinya yang kau bilang selalu mengganggumu. Aku tahu bukan karena kau membencinya. Jadi,apa itu hanya karena rasa bersalahmu kenapa kau bersikap seperti ini?"
Yunho terdiam. Begitupun Yoochun dan Junsu. Ketiganya tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari Changmin. Tapi baik Yoochun ataupun Junsu,mereka membenarkannya dalam hati. Lain Yunho yang masih terpekur mendapat serangan dari Changmin. Lelaki tampan itu termenung. Mencoba memahami sikapnya selama ini pada Jaejoong.
"Ya. Biar bagaimana,aku harus bertanggung jawab akan kondisinya." Yunho menggumam pelan. Tidak yakin. Musangnya berfokus pada jam tangannya. Menatapnya kosong. Walaupun dia tidak mengerti akan arah pembicaraan ini,tapi Yunho sepenuhnya tahu maksud ucapan Changmin.
Changmin mendecak. Punggungnya menyender pada sandaran kursi dengan tangan berlipat. "Kau yakin? Kau tidak sedang membohongi dirimu sendiri,kan? Kau tahu,hyung? Sikapmu tidak mengatakan seperti itu."
Yunho tidak menyahut,hanya mendongak dan menatap Changmin yang masih melempar tatapan serius padanya.
Adakah yang salah dengan sikapnya? Kenapa Changmin bertanya seperti itu? Kenapa Changmin bertanya seolah-olah ia telah melakukan sebuah kesalahan?
Changmin berganti menatap Yoochun dan Junsu bergantian. "Kalian merasakannya juga,kan?"
Junsu mengangguk. Yoochun mendesau dan menatap Yunho intens,sebelum mengiyakannya dengan gumaman. Membuat Yunho semakin bingung dan merasa tersudut.
Berlebihan?
Benarkah ia seperti itu?
.
..::.. YunJae ..::..
.
Mrs. Jung sontak terdiam saat mata tuanya mendapati seorang perempuan duduk disofa ruang tamunya. Begitupun Jaejoong. Keduanya baru saja tiba dirumah setelah berbelanja bersama saat melihat Sung Hee duduk disana. Menatap Mrs. Jung gugup.
Mrs. Jung mendecak. Wanita paruh baya itu memilih mengabaikan seseorang yang tidak diharapkannya datang berkunjung di rumahnya dan langsung melangkah meniti tangga menuju kamar Yunho. Tentu saja.
Jaejoong menatap kepergian Mrs. Jung dalam diam. Kepalanya kembali menoleh pada Sung Hee yang sesaat lalu menghela napas pelan. Langkah kakinya terayun ragu. Jaejoong mendudukan diri didepan Sung Hee yang langsung menatapnya intens. Mungkin wanita itu merasa bingung akan keberadaannya dikediaman Jung?
Keduanya diselimuti sunyi untuk beberapa saat. Jaejoong tidak mengenal perempuan didepannya ini,membuatnya tidak tahu harus berbicara apa. Sementara Sung Hee hanya terus menyibukan dirinya dengan ponsel. Perempuan itu tidak punya alasan untuk sekedar berbasa-basi dengan Jaejoong,sosok yang menurutnya menjadi alasan hubungannya dengan Yunho berakhir beberapa bulan lalu.
Sementara keduanya terus terjebak dikebisuan. Di lantai dua kediaman keluarga Jung,tepatnya di kamar Yunho,justru sebaliknya. Mrs. Jung berkacak pinggang menatap tajam Yunho yang balas menatapnya tak kalah tajam. Napas keduanya menderu saling bersahutan karena emosi.
Yunho menghela napas,pelan. Mencoba merilekskan tubuhnya yang menegang dan berganti menatap Ibunya lembut. Dia tidak pernah bisa melawan ibunya. Karena ia sangat menyayangi wanita itu. "Aku minta maaf oke,karena sudah membawanya kemari tanpa memberi tahu Umma. Tapi Umma, mengertilah,dia hanya ingin datang berkunjung."
"Umma tidak mau tahu! Bawa dia pergi dari sini. Harusnya kau mengerti Yunho,Umma tidak menyukainya. Dan Umma tidak ingin dia berada disini."
"Umma!" Yunho kembali meninggikan suaranya. Dia tidak menyangka Ibunya bisa berucap kasar seperti itu.
"Lagipula,bukankah hubungan kalian sudah berakhir? Lalu kenapa kau masih saja mau membawanya kemari?"
"Umma tahu?"
Tentu saja Yunho terkejut. Dia tidak pernah menceritakan tentang hubungannya dengan Sung Hee yang sudah berakhir pada sang Ibu. Untuk alasan yang entah apa,ia hanya tidak ingin saja mengatakannya pada Ibunya.
"Tentu saja. Sekalipun kau tidak mengatakannya pada Umma." balasnya dengan nada mencibir.
"Umma mengikutiku?" Sergah Yunho cepat.
"Tsk. Kau pikir Umma tidak punya kesibukan hingga harus mengikutimu?" Mrs. Jung menyahut malas.
"Memang Umma punya kesibukan?" balas Yunho mencibir.
Mrs. Jung melotot. Dan geplakan sayang bersarang kekepala Yunho. Berhasil membuat Yunho meringis sakit.
"Umma!"
Mrs. Jung hanya melirik tak acuh. Wanita paruh baya itu berjalan menuju pintu. Sebelum berdiri dibibir pintu dan memutar kepalanya menatap Yunho. "Umma tidak mau tahu. Cepat bawa perempuan itu keluar dari sini."
Yunho hanya mendengus malas. Melotot saat sang Ibu mengerling padanya dan menyeringai. Sebelum melangkah pergi dan meninggalkannya.
Ibunya itu,entah kenapa ajaib sekali tingkahnya.
.
..::.. YunJae ..::..
.
Jaejoong tersenyum saat Mrs. Jung mengangsurkan sepiring kimchi diatas meja makan. Mrs. Jung sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Sementara dirinya hanya duduk diam diatas kursi. Sebenarnya mau saja ia membantu,tapi ibu Yunho itu melarangnya. Berkata jika ia tidak ingin Jaejoong kelelahan. Padahal Jaejoong yakin jika dirinya sudah lebih dari baik-baik saja.
"Umma."
"Hm?"
"Umma... seperti tidak menyukai Sung Hee?" Jaejoong tahu dirinya lancang bertanya seperti ini. Tapi ia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya saat teringat sikap dingin Mrs. Jung pada Sung Hee tadi.
"Kau mengenalnya?"
"Oh? Ah,tadi kita sempat berkenalan." Jaejoong tersenyum kaku saat Mrs. Jung menatapnya.
"Umma hanya tidak suka jika Yunho berhubungan dengannya." Itu memang benar. Ia tidak suka jika keduanya berhubungan. Itu alasan kenapa ia tidak menyukai perempuan itu.
"Kenapa Umma tidak menyukainya? Dia terlihat baik,juga cantik. Dan lagi,kupikir mereka saling mencintai." Jaejoong terdiam setelahnya mendengar ucapannya sendiri.
Mrs. Jung tersenyum lembut menatap Jaejoong. "Umma tidak berkata dia bukan perempuan baik-baik,sayang. Tidak ada alasan khusus kenapa Umma tidak menyukainya. Umma hanya berpikir jika dia bukan perempuan yang terbaik buat Yunho."
Jaejoong tidak membalas. Terdiam cukup lama. Dia mengerti maksud ucapan Mrs. Jung.
Insting seorang ibu.
Tapi,bukankah ini terdengar berlebihan? Mrs. Jung berbicara seolah-olah hubungan mereka berdua akan berlanjut ketahap yang lebih serius. Dan lagi,bukankah ini terdengar sangat egois?
"Umma tahu apa yang kau pikirkan."
Ucapan Mrs. Jung menyadarkan Jaejoong. Perempuan itu mendongak. Menemukan senyum lembut wanita itu yang perpoles dibibirnya. Senyum lembut yang ditujukannya kepadanya. Jaejoong meringis gugup. Merasa tidak enak dengan apa yang sudah dipikirkannya.
"Percayalah,Umma hanya tidak ingin Yunho main-main dengan perempuan. Umma tahu tidak seharusnya Umma bersikap seperti ini,tapi Umma tidak bisa mengontrol diri Umma sendiri untuk tidak merasa khawatir jika Yunho memilih perempuan yang salah. Umma tahu bagaimana Yunho,dan Umma rasa,Sung Hee bukanlah perempuan yang tepat."
Jaejoong terdiam mendengar penjelasan Mrs. Jung. Dia mengerti. Sangat mengerti. Kemudian perempuan itu mendongak. Melempar senyum manis pada Mrs. Jung yang dibalas dengan kekehan pelan oleh wanita paruh baya itu.
"Dan lagi,daripada dengan dia,Umma lebih setuju jika Yunho denganmu."
Dan ucapan Mrs. Jung sontak membuat Jaejoong salah tingkah. Pipinya mendadak terasa panas dan memunculkan semburat merah yang perlahan merayang hingga ketelinga. Jaejoong menggerakan liar bola matanya. Sebisa mungkin tidak menatap Mrs. Jung yang tengah tersenyum menggoda.
Mrs. Jung tertawa. Tidak menyangka jika candaannya berhasil membuat Jaejoong gugup setengah mati. Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa dirinya mengatakan hal seperti itu,dia hanya iseng. Dan siapa yang menyangka jika ia mendapat balasan seperti ini.
"Apa yang Umma katakan?" ucap Jaejoong pelan. Belum berani menatap Mrs. Jung yang kini sudah duduk didepannya. Sementara Mrs. Jung sebisa mungkin menahan senyum untuk tidak kembali melepas tawanya.
Keduanya terdiam. Membiarkan keheningan yang perlahan merayap setelah Mrs. Jung memilih tidak membalas ucapan Jaejoong. Wanita paruh baya itu seperti tengah menunggu Jaejoong bersuara. Karena sudah sedari tadi ia memperhatikan gerak gerik Jaejoong yang seperti ingin menanyakan sesuatu,tapi ia ragu. Mrs. Jung tersenyum lembut saat Jaejoong menatapnya sebentar.
"Umma."
Tanpa sadar,Mrs. Jung menghela napas lega.
"Hm?"
"Jika ada yang membohongi Umma, bagaimana perasaan Umma?" Jaejoong mendongak. Menatap lurus pada Mrs. Jung yang berkerut bingung mendengar pertanyaannya. Kenapa tiba-tiba Jaejoong bertanya seperti itu?
"Kecewa tentu saja. Wae? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu,sayang?"
Jaejoong menggeleng masih menatap wanita paruh baya didepannya. "Kecewa? Tidak marah ataupun kesal?" sahutnya pelan.
"Kekecawaan itulah yang membuat seseorang menjadi marah juga kesal,sayang. Karena merasa dibohongi."
"Sekalipun itu untuk kebaikan?"
Mrs. Jung tersenyum lembut. "Tidak ada yang namanya berbohong untuk kebaikan. Itu hanya omong kosong. Jujur itu lebih baik,sekalipun sangat menyakitkan."
"... Tidak ada sesuatu yang berawal dari kebohongan akan berakhir bahagia. Percayalah, Sekalipun ada,pasti karena seseorang itu sudah berani jujur. Dan sudah berani mengatakan kebohongannya."
Jaejoong termenung mendengar kalimat panjang Mrs. Jung. Mata besar hitamnya menatap kosong meja didepannya dengan pikiran yang berkelana. Sesuatu seperti tiba-tiba saja mencengkram jantungnya. Membuatnya sulit bernapas. Membuatnya sesak. Jaejoong menelan ludahnya kelu.
"Gwechana?" tanya Mrs. Jung melihat keanehan pada sikap Jaejoong.
Jaejoong menggeleng sembari mengukir senyum tipis. Dia tidak menyangka jika jawaban dari Mrs. Jung sanggup membuatnya terdiam.
Maafkan aku
.
.
Because I Love You~
.
.
Doe eyesnya menatap hampa langit-langit kamar yang ditempatinya hampir dua minggu ini. Jaejoong terpekur masih memikirkan ucapan Mrs. Jung. Setelah makan malam, Jaejoong lebih memilih untuk langsung memasuki kamarnya. Mengabaikan Yunho saat lelaki tampan itu menanyakan keadaannya.
Yunho
Jung Yunho
Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum manis saat teringat tentang kebersamaan mereka beberapa hari ini. Jaejoong tidak menyangka jika sosok yang selalu terlihat dingin diluar itu adalah sosok yang sangat hangat. Memperlakukannya begitu lembut hingga tak jarang membuatnya tersipu karena malu, juga gugup. Dan Jaejoong tidak bisa menahan tawa kecilnya mengingat sikap Yunho jika sudah berhadapan dengan Ibunya. Lelaki tampan itu akan berubah menjadi sosok yang sangat manja. Tidak bisa berkutik jika Mrs. Jung sudah memarahinya atau pun melototinya.
Jaejoong berdecak geli saat teringat wajah tampan Yunho yang mengkeruh karena omelan Mrs. Jung saat makan malam tadi. Lelaki itu berniat langsung bergabung dimeja makan setelah tiba di rumah, sementara Mrs. Jung menyuruhnya untuk mandi lebih dulu. Yunho yang kesal karena kalah adu argumen dengan sang Ibu,terpaksa menurut dengan bibir yang terus berkedumel. Membuat Jaejoong tidak bisa menahan tawa melihatnya. Sedang Mr. Jung hanya menggeleng melihat keduanya berseteru karena hal yang sebenarnya tidak penting sama sekali.
Senyumnya memudar perlahan. Jaejoong membalik tubuhnya menyamping. Menatap kosong lemari pakaiannya. Matanya terpejam,dan terbuka setelahnya. Jaejoong menghela napas berat. Berniat memejamkan mata untuk tidur,sebelum benda pintar didalam lemari nakas bergetar lama.
Jaejoong mengulurkan tangan. Menggapai ponselnya dan menemukan sederet angka yang terpampang diatas layar yang menyala. Deret angka yang sudah tidak asing. Deret angka yang sudah sangat ia hapal siapa pemiliknya. Deret angka milik seseorang yang sangat disayanginya.
"Umma."
.
.
TBC~
.
.
Jadi,bagaimana dengan chap ini? Apa mengecewakan? Oh,saiia rasa iya #pundung Maafkan saiia,sudah updatenya lama,tapi cuma bisa ngasih seperti ini #bow
Dan beberapa pertanyaan yang mampir(?) direview sudah terjawab kan ya di Chap ini... #senyumlebar
Apa penceritaannya terlalu cepat? Atau kesannya terlalu buru-buru? Saiia memang tidak mentarget banyak(?) chap untuk cerita ini. Dan alur seperti inilah yang memang saiia pikirkan selama ini(?) #halahbahasanya
Kalo mengecewakan ataupun sangat tidak memuaskan untuk reader sekalian,saiia minta maaf #bow
Special thanks for...
littlecupcake noona, choikim1310, akira lia, , Kim Jae Qua, Light-B, DioRah, , , Damchuu93, nabratz, azahra88, Avanrio11, Aria yunjae, Dewi15, uchiha senju naru hime, iyang, meybi, Mou'chan69, momo chan, Guest, 1004baekie, Panda, ruixi1
Terima kasih sudah mau mengapresiasi ff abal bin gaje ini #tebarkiss :3
Sampai ketemu di Chap selanjutnyaaaa... #terbang
.
.
.
Hope U like it :)
Sorry for typo,and
See Yaa~~
.
.
.
October 9th,2015
NoonaRyeo ^^
