SEMUSIM
Saat ini kita bertegur sapa,menjalin sebuah hubungan karena bertemunya satu rasa yang sama.
Tapi, jika semua hal itu terjadi pada satu musim saja, jika suatu hari berganti musim yang lain akankah tetap terpaut pada perasaan yang sama?
Disclaimer: A Naruto belong to Masashi Kishimoto
PERINGATAN!
AU, typo(s), OOC (bacaan hanya diperuntukkan usia diatas 17tahun)
Main Chara : Naruto X Hinata
OoOoO
Pagi itu ketika Naruto terbangun dari tidurnya ia mendapati Nagato sedang duduk diujung kasurnya.
"Kak Nagato?"
"Kau sudah bangun?"
Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mengembalikan kesadarannya.
"Iya.." Naruto menyingkap selimutnya kesamping dan menurunkan kakinya kelantai. "Ada apa sepagi ini?"
"Sepupuku, Karin. Besok akan kesini" Nagato berdiri bertumpu pada tongkatnya."Sementara itu, besok ada undangan dari rekan kerjaku"
"Jadi.. Aku harus memilih antara menemani sepupumu atau pergi memenuhi undangan rekan kerjamu?"Naruto menguap.
"Begitulah, tapi aku berasumsi kau takkan bisa menghadapi sepupuku yang bawel" Nagato menghela nafas."Tapi kunjungan itu juga lama"
"Kalau itu bisa membantumu, kenapa tidak?" Naruto nyengir."Lagipula aku bisa sambil jalan-jalan. Kan?"
Nagato hanya menanggapi dengan senyuman.
"Maaf mengganggu" Sebuah suara yang terdengar lembut mengalihkan pandangan mereka."Semuanya sudah bersiap memulai pembersihan, kak Nagato"
"Pembersihan?"
"Kau mau rumahku menjadi gunung salju?" Kata Nagato dengan canda menuju kearah Hinata,tepatnya keluar dari kamar Naruto.
"Aku akan segera turun" Naruto bergegas mengenakan pakaian tebal.
...
"Apa kau tidak mandi dulu, Naruto?" Tanya Hinata yang mengekor Naruto turun tangga.
"Kau mau menbunuhku, Hinata? Dingin begini bisa mati beku deh hahaha." Oceh Naruto yang melirik Hinata dibelakangnya, sedangkan yang dilirik hanya tersenyum geli.
Ruangan itu cukup luas,dengan warna coklat kayu, kursi yang besar beserta TV yang lebar berada diruangan yang sama. Butuh beberapa menit bagi mereka untuk menuju pintu keluar karena banyak lorong di beberap ruangan.
"Lah, kenapa ada banyak orang disini? Kak Nagato mana?"Naruto celingukan mencari sosok pria rambut merah khas Uzumaki.
"Mana mungkin beliau ikut, Naruto" Hinata mengambil dua skop besar. "Kak Nagato menyewa orang-orang ini untuk membantu kita"
"Kita?"
Hinata mengangguk, memberikan satu skop pada Naruto dan ia segera bergabung dengan yang lainya.
Sementara Hinata dan orang lain sibuk menyingkirkan salju dari tepian rumah itu, Naruto malah dengan santainya membuat bola salju dan tanpa pikir panjang dia langsung melemparkan bola salju itu ke arah Hinata.
Tak hanya sampai disitu, Naruto terus mengusili Hinata dengan bola-bola salju buatannya, membuat yang bersangkutan kesal karena mengganggu pekerjaannya dan jadi tambah berantakan.
"Naruto! Sampai kapan kau akan bermain-main?" Omel Hinata yang mulai capek. Naruto mendekat kesamping Hinata.
"Kau berubah drastis sekali, Hinata" kata Naruto, yang kemudian ikut menyekop salju dan membuangnya kesamping.
"Aku tetap sama." Sahut Hinata acuh.
"Well.. Dulu setahuku, kau amat pendiam dan pemalu"
"Mungkin.." Hinata menghela nafas dan menjauh dari Naruto, tidak ingin masa lalunya terbongkar.
"Atau kau marah karena semalam?" Tanya Naruto dan yang ditanya malah memalingkan wajahnya.
"Lupakan saja."Hinata pindah ke samping Naruto, lebih tepatnya menghindarinya,akan tetapi Naruto terus mendekatinya.
"Mungkin ya, karena meski kita dulu kuliah bersama. Tapi beda fakultasnya, jadi aku tidak begitu tau tentangmu" Naruto mengingat dulu saat Hinata selalu memergokinya diperpustakaan bersama Sakura. Dan Hinata hanya tersipu tatkala bertatapan langsung dengannya, tapi melihat Hinata yang sekarang Naruto jadi janggal. Perubahan yang sangat besar. Apa iya jadi psikiater juga merubah psikisnya?
"Naruto, cepat kerjakan. Sudah hapir selesai"
Hinata jadi tampak seperti wanita galak nan sangar, tapi tidak bisa dipungkiri, wajahnya semakin cantik dibanding dahulu. Tubuhnya pun tampak sangat membentuk.
"Ah, iya"Naruto tersenyum sendiri.
OoOoO
Butuh waktu kurang lebih 2 jam menyingkirkan gundukan salju itu untuk benar-benar rapi seperti semula, Naruto beserta yang lainnya segera berisirahat.
"Kak Nagato, kenapa kau tidak merekrut pembantu saja?" Tanya Naruto yang ngos-ngosan karena selama bekerja Hinata terus mengomeli dan menyuruhnya ini-itu.
"Mereka sekarang yang akan melakukannya" Nagato melirik orang-orang sewaan itu.
"Kenapa kebanyakan laki-laki? 8 orang, sedangkan perempuannya cuma ada 4?"Naruto menghitung jumlahnya.
"Ya kan permpuan hanya mengurusi bagian didapur. Sedangkan laki-laki sekeliling rumah. Sebenarnya kurang" Nagato menyesap teh hijaunya. "Kalian boleh kembali ketempat kalian" Para pekerja itu segera meninggalkan mereka bertiga.
"Apa setiap tahun seperti itu?"
"Kadang-kadang sih, Tetsu memang kota salju jadi tidak tentu apakah tiap tahun, bulan, minggu atau hari. Tapi kita bisa memprediksinya lewat satelit"
"Benar-benar merepaotkan, hoaaaamsss" Naruto menguap, melirik Hinata yang sedang menikmati kue keringnya, Naruto terpaku pada mata Hinata yang sangat sejuk.
"Hinata.."Panggil Nagato
"Ya, kak Nagato?"
"Apa kau keberatan jika kau menggatikanku keluar kota?"
"Tentu tidak, selama kak Nagato percaya padaku"
"Baiklah, besok kalian pergi ke Namigakure. Sekarang bereskan pakaian kalian dahulu"
"Kalian?"
"Iya, kau Hinata, bersama Naruto. Besok Karin akan kemari, kau tak usah khawatir" Kata Nagato dan ekor matanya melirik Naruto "Pakailah mobilku, nanti kalian menginap dipondok tepi danau punya kakekku"
Naruto dalam hati menggerutu, bagaimana dia bisa bersama Hinata yang penuh dengan ego?
Hanya berdua.
OoOoO
"Naruto tidakkah kau menyetir terlalu cepat?"
Kedua tangan Naruto mencengkram kemudi, melihat fokus kearah depan tidak memperdulikan Hinata yang mimik mukanya sudah memerah menahan amarah.
"Aku menyetir dengan kecepatan yang sama dengan orang lain."
Hinata melirik spidometer."Aku ingin sampai disana dalam keadaan utuh." Entah sejak kapan sikap Hinata begitu memuakkan. Dan sepertinya akan cukup lama mereka di Namigakure. Benar-benar hari yang panjang.
Saat melewati jalur keluar Naruto berhenti didepan sebuah mini mart mengingat mereka membutuhkan persediaan makanan.
"Apa kau akan membiarkanku memilih menu sesuai seleraku?"Naruto melirik Hinata yang duduk disampingnya.
"Tentu saja tidak."
Keduanya turun dari mobil dan masuk kesebuah minimart.
Sangat kaku tidak seperti kemarin.
Naruto mendesah ketika ia melihat sederetan rak mie-cup segera ia mengambil beberapa buah dan memasukkannya pada keranjang belanjaannya, berikutnya pada rak kue kering,susu dan minuman lainnya.
Setelah usai mereka bertemu lagi ditempat kasir pembayaran.
"Biar aku yang membayarnya."Kata Naruto begitu melihat Hinata akan mengeluatkan kartu kreditnya.
Setelah pembayaran mereka bergegas menuju mobil.
"Sebelum kita sampai dipondok, kita harus menetapkan peraturan."Mata Hinata melirik Naruto yang hanya mengangguk. "Aku hanya akan mencuci pakaianku sendiri, aku tidak akan membereskan sampahmu. Aku juga hanya akan memasak untuk diriku sendiri, karena lidah kita belum tentu satu selera"
Oh, sempurna. Iya sempurna hidup bersama seorang wanita tapi melakukan hal-hal itu seperti hidup sendiri. Naruto hanya menghela nafas tersenyum.
"Kurasa akan cukup adil jika kita berbagi tugas, nona Hyuuga."
"Oke."
Mereka akhirnya sampai ditempat tujuan yang diberitahukan oleh Nagato.
Pondok itu mungil dan kuno serta terawat rapi. Pemandangan keseluruhan sangat indah bak lukisan.
Naruto menghentikan mobil depan pondok dan mematikan mesin. Segera ia menuju kebelakang mobil membuka bagasi dan mengeluarkan koper mereka.
"Kunci pondoknya ada padamu kan, nona Hyuuga?"
Hinata hanya mengangguk mengiyakan.
Mereka memasuki pondok itu, segera membereskan barang-barang mereka dan segera menuju kamar masing-masing.
"Kau bisa melakukannya sendiri, bukan?" Tiba-tiba Hinata berada dibelakang Naruto yang baru saja membuka kopernya.
"Hmm.."
"Oia, aku sudah menata persediaanmu dilemari dan dikulkas."
"Terimakasih Hi- nona Hyuuga.." Naruto jadi enggan memanggil nama kecilnya. Tapi kemudian Hinata tersenyum sangat manis dan menawan. Naruto tertegun sejenak sebelum membalas senyumannya.
"Baiklah sampai nanti."
Benar-benar gadis yang sulit ditebak. Apakah ia berusaha profesional? Aku bahkan bukan pasiennya. Pikir Naruto.
OoOoO
"Jadi kau adalah spesialis dokter umum?" Tanya Hinata disaat makan malam mereka.
"Iya, tapi aku sudah beberapa bulan tidak aktif. Kau sendiri?"
"Aku ya seperti ini, dan terkadang mengikuti mau pasienku agar pemulihannya tidak terhambat."
"Sepertinya kau cukup keras melakukannya. Mengingat kak Nagato sama sekali tidak bisa berdiri. Apa psikiater selalu nekat?"
Hinata dan lagi tersenyum dengan anggunnya.
Cantik.
"Aku bukan seorang pskiater, Dok. Tapi fisioterapis." Ujar Hinata.
"Bukan psikiater katamu? Bagaimana bisa, sedangkan kau jurusan psikologi!?"Sahut Naruto
"Dulu saat aku pertama kali praktik aku cukup syok. Sehingga aku terkena trauma dalam jangka waktu yang cukup lama sampai mentalku benar-benar stabil." Hinata menyantap makannya."Setelah itu kupikirkan lagi, apa aku akan bisa. Sampai pada akhirnya kak Neji menyarankanku untuk kuliah kembali mengambil jurusan yang sekiranya mentalku sanggup." Tutur Hinata.
"Jadi kau seperti ini karena rasa traumamu?"
"Tentu saja bukan."
"Lalu?" Mata Hinata melirik tajam seolah mengatakan jangan ikut campur.
Naruto menelan ludah, mengerti dari balik tatapan itu.
"Bagaimana denganmu?" Hinata berbalik tanya.
"Apanya?"
"Hubunganmu, setahuku dulu kalian tampak sangat serasi sekali."
"Itu..."
OoOoOoO
Bersambung~
Sampai jumpa, dan terimakasih :)
