Chapter 3 – The Unhappy Prince
Malam itu hujan turun dengan kencangnya. Lu Xun kesal karena ia meninggalkan jas hujannya di kamarnya sehingga sekarang badannya basah. Setidaknya kopi yang harus diantarkannya sudah ia bungkus dengan kotak transaparan sehingga tidak basah. Jalan menuju rumah yang dituju juga menanjak sehingga membuat Lu Xun cukup kelawahan. Angin yang bertiup dengan kerasnya membuat Lu Xun semakin sulit dalam melewati jalan tersebut. Baru berjalan beberapa kilometer, tiba-tiba petir menyambar dengan kerasnya. Lu Xun segera menghentikan sepedanya dan menundukan badannya.
Tiba-tiba Lu Xun mendengar suara keras dari belakangnya. Rupanya pohon di belakang Lu Xun roboh sehingga menghalangi jalan. Lu Xun menyenderkan sepedanya ke pohon sebelum menuju ke arah batang pohon. Batang pohon tersebut sangat berat sehingga sulit bagi Lu Xun untuk memindahkannya. Tiba-tiba cahaya terang menyorot wajahnya. Cahaya tersebut berasal dari sebuah mobil sedan silver yang jalannya terhalang oleh batang pohon tersebut. Tak lama keluarlah seorang pria berbadan besar memakai kemeja hitam.
" Anda tidak apa-apa?" tanya pria tersebut.
" Ya, saya tidak apa-apa. Saya hendak memindahkan batang pohon ini sehingga tidak menghalangi jalan, tapi saya tidak kuat karena batang ini sangat berat."
" Baiklah akan saya bantu," kata pria tersebut sambil mendatangi Lu Xun,, " Nama saya Xiahou Yuan. Jarang ada anak muda yang peduli dengan pengendara lain seperti Anda."
" Nama saya Lu Xun. Jalan ini adalah satu-satunya jalan pulang saya, jadi jika batang pohon ini menghalangi jalan, maka bukan hanya anda saja yang terganggu, namun saya juga tidak bisa pulang."
Xiahou Yuan memegang batang pohon besar tersebut, " Ayo kita angkat sama-sama, satu... dua... tiga!" Walaupun sudah memakai kekuatan 2 orang, batang pohon itu masih belum bisa dipindahkan juga. Waktu terus berlalu namun usaha mereka masih sia-sia. " Tuan Muda pasti sangat marah jika begini..."
" Tuan muda?" tanya Lu Xun.
Belum sempat Xiahou Yuan menjelaskan, tiba-tiba seorang pria muda berambut hitam panjang keluar dari mobil. " Lama sekali! Kalau tidak cepat pulang bisa-bisa aku dihukum lagi oleh Sima Yi!"
" Maaf, tuan muda. Nampaknya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil karena batang pohon ini menghalangi jalan. " jawab Xiahou Yuan.
" Maksudmu aku harus pulang dengan jalan kaki? Di tengah hujan deras begini? Yang benar saja!" Cao Pi berteriak. " Lihat, baru sebentar saja bajuku sudah basah begini, bahkan tidak ada payung sama sekali di mobil."
" Tapi Tuan sendiri yang meminjamkan payung Tuan ke tunangan Tuan tadi sore." Jawab si sopir santai.
" Ah, sudahlah! Sekarang bagaimana kita bisa pulang kalau begini?" tanya Cao Pi.
" Mungkin lebih baik telepon mobil derek... Tapi jika menelepon semalam ini dan dalam keadaan seperti ini, aku tidak yakin mereka bisa melayani dengan cepat..." jawab Xiahou Yuan sambil melihat telepon genggamnya, " Dan di sini aku tidak menemukan sinyal... mungkin karena cuaca dan karena area di sini banyak pepohonan..."
Cao Pi menggeleng kepalanya, " Gawat, latihan untuk teater tadi saja sudah cukup memakan waktu... Ditambah kecelakaan seperti ini... Sinyal telepon juga tidak ada... Sima Yi pasti akan sangat marah..."
Lu Xun masih tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depannya karena hujan, tapi dia bisa mendengar pertengkaran di antara mereka berdua. " Maaf, jika kalian sedang terburu-buru... mungkin saya bisa membantu Tuan pulang dengan menggunakan sepeda saya selagi Pak Xiahou Yuan meminta bantuan dari tempat terdekat...?"
" Hm? Siapa kamu?" tanya Cao Pi.
" Nama saya Lu Xun. Saya hendak mengantarkan minuman yang dipesan di depan sana. Mungkin saya bisa membonceng Tuan selagi saya mengantar pesanan..."
" Baiklah." Cao Pi melompati batang pohon yang besar itu, " Ayo segera berangkat!"
Lu Xun mengambil sepedanya dan menggiringnya ke arah Cao Pi. Ketika mendekat, ia merasa familiar dengan laki-laki yang ada di depannya. " Cao Pi?" tanpa sadar ia mengucapkan nama itu.
" Hm?" Cao Pi mengamati Lu Xun," Apakah kita pernah kenal sebelumnya? Darimana kau tahu namaku?"
" Ah!" Lu Xun menutup mulutnya. Ia bersyukur karena Cao Pi tidak sadar siapa dirinya. " Saya adalah adik kelas Anda. Terkadang teman-teman saya sering membicarakan Anda."
Cao Pi mengamati muka Lu Xun, " Kamu terlihat familiar..."
Lu Xun segera memalingkan mukanya dan mengendarai sepedanya, " Tentu saja, kita kan satu sekolah sehingga tidak heran jika kita sering bertemu. Ayo naik! Jangan buang waktu lagi!"
" Baiklah!" Cao Pi duduk di belakang Lu Xun, " Aku akan memberi tahu jalannya."
Hujan masih turun dengan derasnya. Lu Xun tidak berani mengendarai sepedanya kencang-kencang karena ia tidak bisa melihat dengan jelas jalanan di depannya. Banyaknya lubang di jalan juga membuat perjalanan mereka tidak secepat yang diharapkan. Jalan yang menanjak dan angin yang kencang juga membuat Lu Xun tidak bisa mengayuh sepedanya dengan cepat.
Waktu berlalu, dan akhirnya sepeda mereka berhenti depan di sebuah rumah besar. Rumah itu terlihat sangat luas, mungkin besarnya mencapai 6x luas cafe di mana Lu Xun bekerja, di mana 2x luasnya adalah untuk kebun yang penuh dengan bunga dan pohon. Rumah itu memiliki 2 tingkat, dan dari tingkat 2 terlihat sebuah balkon yang luas. Nampaknya dari balkon itu bisa terlihat pemandangan indah dari kota di malam hari. Cao Pi turun dari sepeda Lu Xun dan berdiri tepat di depan gerbang pagarnya yang berwarna hitam dan berukuran besar.
" Ini rumahmu?" tanya Lu Xun.
Cao Pi mengangguk. Ia melihat jam tangannya dan mengembuskan nafas panjang.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Lu Xun.
Cao Pi terdiam sambil memandang Lu Xun. " Ngomong-ngomong ke mana kamu akan mengantarkan pesanan itu?"
" Oh, alamat itu..." Lu Xun mengambil kertas bertulisan alamatnya dan melihatnya. " Hmm... kelihatannya pesanan ini diantarkan untuk rumahmu..." Lu Xun menyandarkan sepedanya ke tembok, mengambil bungkusan di sepedanya dan menyerahkannya kepada Cao Pi.
" Antar ke dalam ya!" Cao Pi mengambil kunci dari kantongnya dan membuka gerbangnya.
" Hah?"
" Dompetku tertinggal di mobil. Aku tidak bisa membayar pesanan itu..."
Cao Pi membuka pintu depan rumahnya. Saat masuk Cao Pi langsung disambut oleh 6 orang pelayan berpenampilan rapi yang berdiri di kanan dan kirinya, 3 pelayan laki-laki di kiri dan 3 pelayan perempuan di kanan. Ruang tengah yang luas dengan lampu kristal besar di atasnya, lantai marmer berwarna orange yang mengkilap, dan dua tangga yang saling berhadapan di ujung depan. Rumah milik Cao Pi jauh lebih besar dan mewah daripada rumahnya dahulu.
Di tengah ruang tamu seorang pria berambut panjang hitam lurus dan bermata sipit membungkukan badannya, kemudian menatap Cao Pi sambil tersenyum. Senyumannya justru membuat Lu Xun merasa tidak nyaman dan sedikit takut untuk menatapnya lama-lama. Bajunya yang berwarna biru keunguan dan kipasnya yang berwarna hitam menandakan bahwa ia berbeda dengan pelayan lain yang ditemuinya di pintu depan, " Tuan Cao Pi... jika saya tidak salah ingat, saya sudah mengingatkan jam berapa seharusnya Anda pulang..."
Cao Pi melihat jam tangannya, " Ya, ini sudah jam 11 malam, Sima Yi..." katanya dengan nada kesal.
" Anda telat 2 jam dari jam Anda seharusnya... Maka dengan sangat menyesal saya harus mengurangi waktu istirahat Anda besok, dan saya akan menambahkan pekerjaan yang harus Anda kerjakan..."
" Dengarkan dahulu alasanku, Sima Yi. Tadi aku terhalang hujan deras dan lagi jalanku untuk pulang terhalang oleh batang pohon yang roboh. Aku tidak terima jika aku harus dihukum karena kecelakaan yang bukan kesalahanku." Cao Pi mengelak.
Sima Yi tertawa, " Brilian sekali cerita yang kau karang... Apapun alasanmu, aku akan tetap menghukummu..."
" Tidak!" Lu Xun mendadak berteriak dan maju menghadap Sima Yi, " Cao Pi tidak berbohong, Tuan! Lihat pakaian dan rambutnya, basah kuyup seperti hamba. Tuan juga bisa mengecek keluar untuk memastikan bahwa mobil Cao Pi tidak bisa kembali ke sini. Atau akan lebih bijak jika Tuan menelepon Tuan Xiahou Yuan untuk memastikan keadaan mobilnya sekarang. Anda tidak boleh menghukum orang jika Anda tidak berusaha mencari tahu dahulu kebenarannya! Pada kenyataannya, daritadi Anda juga tidak coba menghubungi baik Cao Pi maupun Xiahou Yuan bukan? Selain itu, lihat keadaan Cao Pi sekarang. Pakaian, tubuh, dan rambutnya basah semua. Sebagai pelayan seharusnya Anda lebih memikirkan kesehatannya daripada memarahinya karena pulang terlambat!"
Sima Yi agak mundur melihat Lu Xun yang berapi-api memarahinya. Ia melihat keadaan Cao Pi dan menyuruh pelayannya untuk memeriksa gerbang depan. Tak lama pelayan tersebut kembali dan mengabarkan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh Lu Xun. Sima Yi mendekati Lu Xun sambil menyeringai, kemudian ia memegang dagu Lu Xun dan mengangkat wajahnya. " Menarik... siapa kau?"
" Nama hamba Lu Xun..." Lu Xun menatap muka Sima Yi dalam-dalam, " Aku ke sini untuk mengantarkan kopi pesanan Anda..."
" Ah... Aku suka dengan matamu yang berapi-api..." Sima Yi mengambil kopi di tangan Lu Xun, mengambil uang di kantongnya, dan menyelipkannya di kantong celana Lu Xun, " Baikah... aku tidak akan mengurangi jam istirahat Cao Pi untuk sekarang, namun tambahan pekerjaan akan tetap ada... Pelayan, tolong siapkan air panas dan pakaian ganti untuk Tuan Cao Pi!" Sima Yi tersenyum sambil menutupi mulutnya dengan kipasnya. Perlahan ia berjalan mendekati Cao Pi dan berbisik, " Kau beruntung menemukan orang seperti dia, Tuan Muda... Jika Anda sudah bosan, saya akan menerima anak ini dengan sengan hati..." Ia membalik badannya dan pergi ke kamarnya. Cao Pi menatap kepergian Sima Yi dengan wajah marah.
Lu Xun memandang Cao Pi, " Maaf aku malah jadi mengatakan hal yang tidak semestinya. Urusanku sudah selesai, saya mohon pamit...'
" Tunggu!" Cao Pi menarik tangan Lu Xun.
" Ada apa...?" Lu Xun memandang Cao Pi dengan heran.
" Pelayan, siapkan juga pakaian ganti untuknya dan air panas untuk dia mandi. Rapikan juga kamar tamu sehingga bisa ia pakai!" Cao Pi berteriak.
" Tunggu, tidak perlu repot seperti itu..." kata Lu Xun, " Aku akan segera pulang..."
" Dalam keadaan badai seperti ini? Bisa-bisa pohon lainnya tumbang di atas kepalamu tahu! Selain itu, jalanmu pulang terhalang oleh pohon tadi bukan? Mungkin baru besok pagi pohon tersebut bisa disingkirkan." Cao Pi menarik paksa tangan Lu Xun untuk naik ke kamarnya.
" ..." Lu Xun terdiam, " Baiklah... terima kasih banyak atas kebaikan Anda..."
" Tuan," tiba-tiba seorang pelayan mendatangi Cao Pi ," Untuk sementara kamar tamu tidak bisa dipakai karena atapnya bocor..."
" Bawa kasur cadangan ke kamarku!" kata Cao Pi.
" Kita... sekamar...? Apakah tidak apa-apa...?" Lu Xun bertanya, " Aku hanyalah seorang pelayan di cafe, sementara Anda adalah anak pengusaha..."
" Aku tidak peduli!" jawab Cao Pi cuek, " Turuti kata-kataku, atau kau akan menyesal!"
" Ba... baiklah... Tuan Cao Pi..." Lu Xun hanya bisa mengikuti kata-kata Cao Pi.
