'Ya. Jika surat ini sampai di tanganmu, alih-alih aku yang menceritakan semuanya langsung padamu, bisa kukatakan dengan yakin bahwa … saat ini aku pun sudah melebur bersama langit biru yang awalnya begitu kubenci. Bersama Dei-niichan. Bahkan mungkin Sasori-nii.

Dan aku pun tidak akan bisa menyampaikan langsung padamu bahwa mungkin aku …

.

.

.

tidak lagi membenci langit biru.'


「ごめんなさい」 Aozora e

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

I don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.

Story © Sukie 'Suu' Foxie

Genre: Angst/Drama/Hurt/Comfort/Mystery

Warning: Probably rush and a bit OOC. Semi-Canon-setting. Some relationships between the character is so NOT CANON.

Death-chara.

Few dialogue—Naruto's POV.


Chapter 3. Sumikitta Aoi Sora

.

Clear Blue Sky


Aku kembali ke sini. Ke pantai yang menjadi favoritku. Dari dulu sampai sekarang, tidak berubah. Hanya posisi tempat aku menikmati sayup-sayup suara ombak yang berpindah.

Di ujung tebing yang sudah lama tidak menjadi tempat singgah inilah, aku berdiri menengadah. Cuaca cerah. Langit dan lautan biru terlihat indah.

Berbeda dengan kondisiku yang masih saja kelabu. Dengan pakaian hitam sekelam duka, aku terus menunggu. Meskipun demikian, aku tahu. Menunggu sampai kapan pun, ia tidak akan pernah kembali ke sisiku. Ia tidak bisa lagi berdiri di sampingku—menemaniku.

.

.

.

Malam masih melarut dan hujan tidak juga berhenti mengguyur permukaan bumi. Aku berlari tanpa kenal lelah—beberapa kali terjatuh tergelincir karena jalanan dan dahan yang licin. Aku tidak berhenti barang sekejap pun karena aku tahu, aku tidak bisa membuang waktu lebih lama.

Kuakui, adalah kecerobohan bergerak seorang diri, adalah kegegabahan bertindak di tengah malam, dengan angin dan hujan yang tidak bersahabat. Tapi sungguh, aku tidak bisa berpikir lebih jauh.

Satu hal yang terus-menerus kupinta sepanjang perjalanan ini: Ino selamat. Aku terus berdoa dalam hati agar apa pun yang terjadi, aku tidak terlambat.

Beberapa jam perjalanan kutempuh dengan kondisi tubuh yang semakin terasa berat. Beberapa kali aku merasa tersesat dan akhirnya aku hanya bisa mengandalkan firasat. Begitu aku merasa semakin sekarat, aku bisa merasakan bahwa tujuanku sudah dekat.

Aku pun memaksakan diri. Sampai di perbatasan Kiri, langit mulai menunjukkan cahaya meski hujan belum berhenti sepenuhnya. Tak terasa, dini hari sudah menjelang. Cahaya matahari akan membantuku lebih cepat menemukan Ino. Ini hal yang sangat menguntungkan.

Atau demikianlah yang aku pikirkan saat mendadak aku merasa bahwa gravitasi terasa sangat memberatkan. Mataku tidak sanggup lagi membuka lebih lama. Pandanganku terasa berkunang-kunang sebelum akhirnya aku hanya bisa melihat gelap….

.

.

.

Aku terbangun karena mendengar suara-suara di sekelilingku. Susah payah, aku berusaha membuka kelopak mata.

"Kaachan, dia sudah bangun."

Sekilas ilusi, yang kulihat adalah sosok gadis berambut pirang dikuncir kuda. Gadis itu tersenyum riang ke arahku—memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rata. Terkejut, aku pun langsung bangkit dari posisi tidur.

"Ino!" teriakku.

"Hyaaa?"

Gadis berambut kecokelatan yang ternyata masih kecil itu pun terlonjak mendengar teriakanku. Ia loncat ke belakang dan bahkan memilih sembunyi di belakang salah satu tiang kayu penyangga rumah.

Setelah mengerjap beberapa kali, segera saja aku menyadari, aku tidak sedang berada di kamarku sendiri. Aku berada di rumah seseorang yang tidak kukenal di Kiri.

Aku ternyata akhirnya roboh—pingsan. Dan itu … membuatku telah membuang banyak waktu.

"Kuso!" umpatku sambil menyibakkan selimut dan segera turun dari tempat tidur. Aku langsung membuka satu-satunya jendela yang ada di sana dan meletakkan kakiku di kusennya—siap meloncat keluar.

"Kaachaaannn! Dia mau pergii!" teriak anak itu lagi masih dari tempatnya bersembunyi.

"Ukh. Maaf, ya, adik kecil. Aku tidak ada waktu. Aku harus segera pergi mencari teman—"

"Kau shinobi Konoha, bukan?" Sebuah suara feminin yang memotong ucapanku sekejap mematahkan keinginanku untuk keluar dari jendela. Aku pun menoleh dan mendapati raut wajah ketakutan dari seorang wanita yang kuperkirakan sebagai sang pemilik rumah sekaligus ibu dari si gadis cilik.

Tanpa perlu mendapat pertanyaan ulang, aku mengangguk. Wanita itu seolah merefleksikan gerakanku dan ikut mengangguk.

"Ikut denganku. Sepertinya … orang-orang desa baru saja menemukan temanmu—"

Aku terbelalak. Wanita itu tampak ragu-ragu. Ia membuka mulutnya dan mengatupkannya kembali. Lalu setelah melihat aku yang masih bergeming, seolah bertanya melalui pandangan mata, ia pun meralat ucapannya.

"Tepatnya," ia meneguk ludah sejenak, "mayat temanmu."

.

.

.

Di hutan yang berjarak sekitar tiga puluh menit dari rumah sang wanita yang sudah berbaik hati merawatku, berdiri sekitar delapan orang. Orang-orang itu tampak mengerubungi sesuatu. Lalu, begitu melihatku, kasak-kusuk di antara mereka berakhir dan nyaris spontan mereka menyingkir. Kini, begitu tidak ada lagi satu hal pun yang menghalangi pandangan, aku bisa melihat tubuh dari orang yang kucari sampai rela meninggalkan Konoha di tengah malam, di tengah hujan.

Tubuhku menjadi kaku dalam sekejap. Rasanya ingin aku langsung berteriak, tapi semua teriakan mendekam tanpa bisa kukeluarkan dari tenggorokan.

Semua khayalan bahagiaku pun musnah. Segala keoptimisanku lenyap sudah. Tidak ada tawa riang yang menyambutku. Tidak ada mata biru yang menatapku tanpa ragu.

Yang ada hanyalah sosok tubuh yang terbaring di dekat sebatang pohon dengan baju putih yang tampak melekat menutupi sebagian tubuhnya. Baju putih yang memperlihatkan simbol kipas berwarna merah dan putih itu tampak sedikit koyak serta ternoda oleh darah. Hujan sekalipun rupanya tidak berhasil membersihkan jejak darah kecokelatan yang tampaknya sudah ada di sana selama dua atau tiga hari yang lalu.

Sejujurnya, aku dapat menduga dengan cukup akurat, siapa pemilik baju putih tersebut. Tapi sungguh, aku tidak bisa lagi berpikir lebih jauh dari ini. Aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan, pun mengenai alasannya menutupi tubuh Ino dengan bajunya sendiri.

Apa ia ingin menunjukkan kemenangannya atas nyawa seseorang dan kemudian menyebarkan teror? Atau sungguh ini adalah sedikit kemurahan hati pada raga yang telah ia renggut kehidupannya?

Tidak. Aku tidak bisa lagi menduga-duga apa yang sebenarnya telah terjadi. Pikiranku mendadak kosong dan aku hanya bisa bergerak berdasarkan insting. Aku pun melangkah maju satu langkah.

"I … no…."

Hanya itu kata yang meluncur dari mulutku sebelum aku bergerak cepat ke arah sosok gadis yang masih terbaring itu. Aku menyingkirkan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan kibasan tangan—meski itu sebetulnya tidak kubutuhkan. Mereka semakin menyingkir dengan sendirinya saat aku menerjang.

Aku pun langsung memeluk tubuh dingin yang juga terasa lembap itu. Ia kaku. Ia tidak bergerak. Ia tidak lagi hidup.

Tapi aku … aku tidak mau mengakui apa yang telah dilontarkan rasioku! Aku menolak untuk percaya bahwa Ino telah tiada!

"Ino! Ino!" panggilku berulang kali sambil mengguncang tubuhnya. "Katakan kau hanya bercanda-ttebayo! INOOOOO!"

Padahal aku telah berhasil menemukannya. Tapi tidak ada tawa riang yang menyambutku. Tidak ada mata biru yang menatapku tanpa ragu. Hanya senyum bisu dan tubuh kaku yang kini berada dalam pelukanku. Beserta janji yang telah patah remuk, tak bisa kutepati sampai kapan pun waktu berlalu.

Aku mengatur napas. Aku menggigit bibir bawah—menahan keinginan untuk kembali berteriak. Dan kemudian, aku harus meneguk ludah pahit melihat ekspresi wajah maupun posisi tubuhnya yang tidak juga berubah.

Meski demikian, semakin kusadari satu hal. Ya, mataku sedari tadi tidak salah. Meski simpul, Ino tersenyum. Meski di bawah bibirnya darah kecokelatan tetap bertengger, tapi lengkung itu menyiratkan ketenangan. Bukan luka, bukan derita.

"Kenapa … kau bisa tersenyum seperti ini?" ujarku dengan suara lamat-lamat sambil berusaha menyeka darah di sudut bibirnya dengan ujung ibu jariku. Ia masih tetap bergeming.

Aku pun menggerakkan tanganku untuk sedikit menyibakkan poninya yang belum juga kering akibat—kuduga—terdiam di bawah guyuran hujan semalam. Dengan suara bergetar, aku kembali bertanya, "Kenapa kau tersenyum, Ino? Kau … kau bahkan tidak berhasil membalaskan dendammu, 'kan?"

Tetap tidak ada jawaban, tentu saja. Kali ini ia tidak hanya berpura-pura untuk bisu sementara. Suaranya memang tidak akan pernah lagi tertangkap telinga.

Berusaha mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, aku pun menoleh ke arah orang-orang yang masih berkerumun di belakangku. Tidak ada yang bersuara. Beberapa di antara mereka hanya menggeleng. Yang lainnya memejamkan mata dan menundukkan kepala dengan khidmat. Nyonya yang tadi mengantarkanku pun hanya bisa menutup mulutnya dengan ekspresi kalut.

Mereka juga tidak bisa memberitahukan jawaban yang paling ingin kuketahui. Tidak akan ada yang bisa. Semua kembali ke awal. Semua kembali ditelan kabut tebal.

Berbagai pemikiran mulai berkecamuk. Sesal membuatku ingin mengamuk. Tapi tak ada sepatah kata yang terucap lagi. Hanya loncatan-loncatan pemikiran yang mulai menari.

Kenapa aku tidak sadar lebih cepat?

Kenapa aku begitu terlambat?

Kenapa aku bahkan tidak bisa menjaga agar nyawa seorang gadis tetap selamat?

Aku menundukkan kepala. Saat itulah, setetes likuid bening jatuh ke wajah Ino. Tetesan itu berhenti di bawah salah satu matanya yang terus terpejam. Tidak, Ino tetap tidak memberikan respons apa pun. Ia tidak lantas menggerakkan tangannya untuk menyeka tetesan air yang baru saja menyentuh permukaan kulitnya.

Ia … tidak akan bisa memberikan respons apa pun lagi. Sama sekali.

Tanpa kusadari, tetes demi tetes air mata itu jatuh semakin deras—terus melaju. Warna darah tidak kunjung pudar dan tetes air mata ini tidak akan mengubah fakta bahwa surat yang datang padaku bukanlah sekadar kabar samar.

Semua nyata. Ino benar-benar sudah meregang nyawa. Surat yang ia kirimkan padaku bukan lelucon yang jenaka.

Hujan sudah lama mereda. Namun air mata yang tak lagi tersembunyi ini tetap ada. Tidak hilang selama beberapa masa. Tidak akan mengering untuk jangka waktu yang cukup lama.

.

.

.

Sebagaimana yang tertulis dalam surat, ia tidak berhasil membalaskan dendamnya pada Sasuke. Sebaliknya, niat itu justru berbalik membunuhnya. Membuatnya tidak bisa lagi menikmati angin musim gugur yang bertiup lembut—angin yang mengarak awan hingga memberikan kesempatan untuk semakin jelas melihat langit biru.

Aku memiringkan kepalaku sendikit. Mataku mengecil saat aku membiarkan diriku hanyut dalam suara-suara ombak yang mendebur menghantam karang.

"Dendam. Pada akhirnya, dendam hanya akan menunjukkan kemenangan yang semu. Bukan kebahagiaan yang nyata."

Aku mengembuskan napas panjang. Bahuku bergerak naik turun tatkala aku melakukan hal itu. Lalu, tanpa ada lagi waktu yang disia-siakan, kualihkan perhatian pada surat yang ada di tangan.

'Ya. Jika surat ini sampai di tanganmu, alih-alih aku yang menceritakan semuanya langsung padamu, bisa kukatakan dengan yakin bahwa … saat ini aku pun sudah melebur bersama langit biru yang awalnya begitu kubenci. Bersama Dei-niichan. Bahkan mungkin Sasori-nii.

Dan aku pun tidak akan bisa menyampaikan langsung padamu bahwa mungkin aku …

tidak lagi membenci langit biru.

Sebaliknya, aku kini begitu merindukan langit biru.

Aku rindu. Rindu. Rindu.

Aku rindu langit biru yang selalu terpantul melalui kedua bola matamu, Naruto.

Tapi, semua sudah terlambat, bukan? Sangat terlambat.'

Aku merenung beberapa saat. Aku ingin mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat karena sejujurnya ia bisa mengubah niat dan meninggalkan kesumat. Namun, pada akhirnya kata-kata itu hanyalah penghiburan belaka bagi diriku yang juga sangat terlambat. Aku telah begitu lambat untuk memahami hatinya hingga aku sama sekali tidak sempat untuk menariknya ke jalur yang tepat.

'Naruto, saat surat ini sampai ke tanganmu, tolong sampaikan permintaan maafku pada tousan dan kaasan. Aku telah bersikap egois dengan memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan pada mereka. Aku tidak sanggup melihat, apalagi mengatakannya pada mereka. Aku takut bahwa aku akan berhenti hanya dengan melihat wajah mereka. Sementara aku, aku tidak mau berhenti.

Aku tahu, aku pasti telah membuat tousan dan kaasan menderita, berurai air mata. Aku tahu, aku anak durhaka. Tapi dendam ini terasa semakin menyesakkan semakin lama. Aku ingin segera lepas darinya. Dari bayang-bayang mimpi buruk yang membelenggu setiap malam setelah Dei-niichan tiada.

Lalu, pada Sakura, katakan agar dia tidak keras kepala dan segera mengakuimu sebagai orang yang dia suka. Katakan padanya, lupakan Sasuke. Laki-laki itu … tidak pantas menerima cintanya!

Pada Shikamaru, katakan agar ia segera menghilangkan kata 'mendokuse' sebagai trademark-nya. Ia sudah harus menjadi orang dewasa yang bisa diandalkan, bukan?

Dan untuk Chouji, ada baiknya agar dia sedikit berdiet. Kadang kupikir Chouji akan terlihat lebih keren apabila dia sedikit kurus.

Untuk ketiganya juga, sampaikan permintaan maafku karena tidak bisa mengatakan semuanya secara langsung pada mereka.

Untukmu, Naruto, kau bebas melakukan apa pun yang kau mau dengan suratku ini. Kaubisa menunjukkannya pada orang tuaku, Hokage, Sakura, atau siapa pun sebagai penjelasan dari tewasnya Dei-niichan. Jika kau tidak mau menunjukkannya dan memilih untuk menyimpannya seorang diri, aku juga tidak akan protes. Apa pun, Naruto, aku sudah tidak akan peduli.

Aku sudah tidak bisa peduli.

Hanya, jika aku boleh berandai….'

Bola mataku bergulir ke paragraf akhir. Berulang kali, hanya bagian akhir dari surat itu yang terus kubaca. Sesak kembali memenuhi rongga dada. Namun, perlahan, jari-jariku bergerak. Bersamaan dengan itu, kilasan ingatan balik mulai membuncah keluar. Satu per satu.

Saat aku pertama kali melihatnya di pantai. Sosoknya dalam balutan gaun penunjuk duka.

Saat kedua kalinya aku menemukannya di pantai. Tidak banyak berbeda dan aku merasakan kesalnya diabaikan.

Saat kemudian aku melihatnya menangis meraung-raung dan akhirnya aku menemukan senyumnya yang sempat hilang. Saat ia tertawa santai mengajak piknik hingga raut kesedihan itu kembali ke permukaan.

Semua … saat-saat kebersamaanku dengan Ino.

Begitu tersadar, tiga buah pesawat kertas telah terbentuk di tanganku. Bayangan tentang pesawat kertas yang diterbangkan dan menghilang bersama ombak yang menggulung kini menjadi ingatan yang mendominasi. Aku tahu pasti, ke mana surat-surat ini akan berlabuh. Tapi aku pun sudah tidak bisa lagi peduli.

Perlahan, aku menggerakkan tanganku dan melepas satu pesawat. Pesawat kedua meluncur tidak lama kemudian. Diikuti pesawat ketiga. Tiga benda putih itu pun terbang dalam kecepatan yang cukup terjaga.

Selama beberapa saat, arah pandang mataku hanya mengikuti arah ketiga pesawat kertas tersebut melayang. Angin yang bersahabat berhasil membawa pesawat kertas itu terbang makin menjauh. Jauh dan terus menjauh. Hingga sosoknya tampak samar; beradu dengan awan di perbatasan horizon, bercampur dengan sinar terik yang memaksa netra untuk sedikit menyipit.

Begitu ketiga pesawat itu tidak bisa lagi kulihat—entah ketiganya masih terus melayang atau sudah kembali tenggelam dilahap ombak—aku pun segera mengalihkan perhatian pada langit biru. Isi surat yang menyatakan pudarnya kebencian terhadap langit biru menyeruak bersamaan dengan ilusi yang memperlihatkan senyum seorang gadis.

"Setelah semua yang terjadi, rasa-rasanya aku paham kenaapa pada awalnya kau begitu membenci hal itu," gumamku sambil memejamkan mata. "Namun, seperti dirimu yang pada akhirnya bisa memaafkan, aku pun tetap tidak bisa membenci langit biru."

Aku menghirup udara dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan asupan oksigen yang cukup. Mati-matian aku bertahan agar air mata tidak lagi tumpah. Aku masih berduka—aku masih sangat berduka. Aku tidak tahu sampai kapan luka ini akan menganga, tapi menangis bukanlah satu-satunya opsi yang kupunya.

Setelah meyakinkan diri bahwa aku masih bisa melangkah maju, aku pun berbalik meninggalkan tebing untuk kembali ke Konoha. Meski aku telah memutuskan untuk menjadikan kebenaran mengenai tewasnya Deidara sebagai rahasiaku, tapi tetap masih ada yang harus kulakukan: menyampaikan isi surat terakhir Ino bagi mereka yang menjadi orang-orang terdekatnya. Permintaan maaf sekaligus beberapa pesan.

Namun, tidak selesai sampai di situ. Sebagaimana perkataanku sebelumnya, banyak hal yang bisa dilakukan di bawah langit biru. Banyak. Masih banyak.

.

.

.

'Hanya, jika aku boleh berandai …

aku berharap bahwa kaulah yang menjadi cinta pertamaku,

bukan Uchiha Sasuke….'

.

.

.

Karena Yamanaka Ino sudah menyetujuinya, maka tidak ada alasan bagi Uchiha Sasuke untuk menyangkal. Pengejaran ini akan terus kulakukan—untuk alasan yang kini telah merampas sebagian dari akal. Mungkin akhirnya aku akan menyesal, tapi ini lebih baik daripada terus diam di titik awal.

Dan jika memang sudah tiba saatnya, maka dengan senang hati, akan kusampaikan padanya—pada ia yang sudah terlanjur melebur dengan langit biru—jawaban atas pengandaian yang ia tujukan padaku melalui surat terakhirnya.

.

.

.

"Setelah semua yang terjadi, rasa-rasanya aku paham kenapa pada awalnya kau begitu membenci hal itu."

.

"Namun, seperti dirimu yang pada akhirnya bisa memaafkan, aku pun tetap tidak bisa membenci langit biru."

.

"Sederhana, karena langit biru itu kini adalah tempat sekaligus wujud barumu

yang tidak akan tersentuh waktu dan terus ada di sana untuk mengingatkanku akan senyum terakhirmu."

.

.

.

***終わり***


Last chapter for '「ごめんなさい」 Aozora e'. Ehehehehe. Maaf yah kalau ending-nya pendek. Tadinya kan mau dibikin one-shot, terus sempet kepikiran jadi two-shots. Tapi akhirnya jadi three-shots dengan chapter 3 ini semacam 'prologue'. Demo ne, sampai akhir saya emang nggak nyeritain soal kasus DeiInoSaso. Jadi, silakan kembangkan imajinasi minna-san, ya, soal apa yang sebenernya udah terjadi. Kan udah dikasih dua pilihan, jadi tinggal pilih, yg pertama atau yg kedua yang lebih cocok sebagai adegan 'terbunuhnya Dei dan sekaratnya Sasori yang bikin Ino sampai depresi'. X"D

Anyway, moga-moga masih tetap bisa dinikmati dan nggak terlalu mengecewakan, ya?X""D

Still, makasiiiihhh banyak untuk semua review, fave, alert yang udah masuk untuk chapter kemarin. Still, untuk yang review login, sudah saya bales via PM langsung yak. :""D

Mmmh, mmmhh, karena lagi nggak tahu mau cuap-cuap apa, langsung aja beritahukan pendapat, pesan, kesan, kritik minna-san tentang chapter ini via review. Okay, okay? XD

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie.

~Thanks for reading~