NARUTO PUMYA MASASHI KISHIMOTO
I KNEW IT [hhibin]
Pairing : HINATA.H x SASUKE.U
RATE : M
NOTE : OCC, TYPO, AU.
#PERJALANAN MENUJU KONTRAK
"Mengenalnya?" tanya Sasuke khawatir.
"Iya, tapi dimana ya? Wajahnya dan suaranya pernah ku kenal?" jawab ibu Sasuke dengan raut wajah yang serius. Ia terus mencoba mengingat-ngingat wanita didepannya ini.
3 Bulan Sebelumnya
Seorang wanita paruh baya terlihat seperti orang yang kebingungan. Wanita paruh baya ini berasal dari keluarga yang berada makanya ia kebingungan dan engga untuk bertanya, karna memang ia tidak pernah bertanya pada seseorang dijalan. Biasanya wanita ini selalu menyuruh supir pribadinya yang bertanya pada orang ketika mereka berpergian tapi, sekarang ia tidak mempunyai supir? Jadi wanita ini akan menyuruh siapa untuk bertanya? Ini adalah salah satu kerugian dan kekurangan yang wanita paruh baya punya. Gadis yang ada disampinya tau jika wanita paruh baya ini kebingungan.
"Konnichiwa, ada yang bisa aku bantu? Sepertinya Obasan sedang kebingungan. Tanya saja padaku," ucap gadis berambut panjang dengan mata pucatnya.
Wanita paruh baya ini engga untuk menjawab pertanyaan gadis didepannya ini yang selalu tersenyum jika berbicara.
"Sepertinya Obasan jarang bertanya, kalau begitu biar aku yang tanya saja. Obasan memangnya ingin kemana?" tanya gadis ini sekalih lagi dengan senyum yang terus ada diwajahnya. Wanita ini melihat ketulusan dari raut wajah gadis ini pun menjawab dengan ragu dan tanpa menatap gadis ini.
"Aku ingin ke stasiun bawah tanah."
Gadis itu tersenyum ketika orang yang ditanyanya menjawab.
"Oh begitu, yasudah biar aku antar. Aku tau jika Obasan ini tidak pernah naik angkutan umum makanya tidak tau kan?" bertanya dan berjalan mendahului wanita paruh baya tadi. Yang ditanya hanya bisa mengangguk malu dan tetap mengikutinya.
"Hehe, sudah lah jangan malu. Obasan berjalan disamping ku saja, sini," ucap gadis ini berhenti sebentar dan menggengam tangan wanita paruh baya tadi.
"Aku seperti berjalan dengan Kaasanku," ucapnya lagi tersenyum.
Wanita paruh baya ini hanya tersenyum dengan perilaku gadis ini. Ia senang untuk pertama kalinya ketika bertanya karena ada anak yang seusia anak laki-lakinya yang hampir mirip dengan sifat anak pertamanya yang selalu tersenyum dan lumayan ramah seperti gadis yang menggenggam tangannya.
I Knew It
"Oh aku ingat. Gadis yang mengantarku ke stasiun bawah tanah. Kau masih ingat?" tanya ibu Sasuke heboh. Ia bahkan langsung menarik tangan Hinata agar duduk disampingnya. Hinata yang kaget langsung menurut dan duduk disamping ibu Sasuke. Dengan perasaan yang bingung, Hinata tetap mengingat-ngingat ucapan ibu Sasuke padanya.
"Oh, aku ingat. Obasan kau rupanya, bagaimana kabar Obasan?" tanya balik Hinata dengan nada yang lebih heboh dari ibu Sasuke. Ia sampai-sampai lupa jika ada Sasuke yang memperhatikannya dan juga ketakutan sekaligus kegugupannya tadi hilang begitu saja ketika berbicara dengan ibu Sasuke. Hinata cenderung lebih gampang akrab jika berbicara dengan wanita dibandingkan dengan pria. Yah.. contohnya seperti Sasuke, ia susah untuk akrab ataupun leluasa berbicara dengan Sasuke.
"Ah.. tentu saja baaik, jangan memanggil ku Obasan panggil aku Kaasan, kau kan kekasih anak ku. Bagaimana kabarmu juga?" tanya balik Ibu Sasuke. Hinata hanya mengangguk dan tersenyum menandakan keadaanya baik sama seperti ibu Sasuke
"Aku kira apa, ternyata hanya obrolan BIASA", ucap Sasuke dalam hati sambil tetap memperhatikan Ibunya dan Hinata mengobrol sangat heboh, tanpa sadar ia masih berdiri dihadapan dua wanita ini. Tidak lupa sesekalih ada canda dan tawa diantara Hinata dan Ibunya. Lagipula kalau dilihat-lihat juga Hinata dan ibunya cocok sekalih sebagai ibu dan anak. Tanpa sadar Sasuke tersenyum.
Hinata dan ibu Sasuke yang tidak sengaja melihat Sasuke tersenyum hanya bisa bingung melihatnya, pasalnya ibunya sendiri juga jarang melihat Sasuke tersenyum seperti itu, apalagi Hinata yang baru pertama kali melihat senyum Sasuke seperti itu?..
Kira-kira hampir 3 tahun ibu Sasuke tidak melihat anak bungsunya tersenyum dan sekarang pada akhirnya ia melihat senyuman itu lagi. Sedangkan Hinata tau jika kepribadian Sasuke itu bisa hangat sehangat senyumnya itu.
"Kaasan senang jika kau tersenyum lagi Sasuke," ucap ibu Sasuke menatap anak bungsunya dengan hangat.
Setelah Ibunya berbicara begitu, Sasuke langsung mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.
"Memangnya ia tidak pernah tersenyum Kaasan?" tanya Hinata penasaran. Ia rupanya mulai tertarik dengan sifat Sasuke. Ibu Sasuke hanya menjawabnya dengan anggukan yang menyatakan perkataan Hinata memang lah benar.
"Oh seperti itu, Kaasan sudah sarapan?"tanya Hinata lembut, mengalihkan pembicaraan. Karena menurutnya jika terlalu ikut campur urusan pribadi itu tidak baik.
"Belum, kalian berdua sudah sarapan?"
"Belum"jawab Sasuke Hinata berbarengan.
"Cocok sekalih ya, kalian berdua pasangan yang sangat Kaasan sukai. Kaasan tidak menyangka juga kau bisa melupakan gadis itu Sasuke, pasti ini semua karena Hinata-chan kan? Hinata-chan kau hebat."
Ibu Sasuke tersenyum kemudian memeluk Hinata. Hinata yang dipeluk hanya bisa membalasnya dan tersenyum kaku, lagi pula sekarang ia juga sedikit bingung dengan perkataan ibu Sasuke, perempuan itu? Siapa sebenarnya perempuan itu? Itu adalah pertanyaan yang membuat Hinata lumayan tambah bingung. Ia jadi tambah penasaran dengan kehidupan Sasuke, orang dingin dan sedikit menakutkan di hadapannya sekarang.
"Sekarang kita buat sarapan bersama, kau mau ikut?" tanya Ibu Sasuke tiba-tiba dan sukses membuat Hinata sedikit kaget.
"Tidak usah kaget seperti itu."
"Hehe."
Hinata langsung tersenyum setuju dengan Ibu Sasuke.
"Bagus lah, ayo Hinata. Aku senang seperti punya anak perempuan yang bisa memasak masakan yang sama dengan ku. Kau jauh lebih baik dibandingkan perempuan itu," ucap Ibu Sasuke dan berjalan kearah dapur meninggalkan Hinata dan Sasuke. Hinata dengan gerakan cepat langsung mengikutinya dari belakang, ia berjalan cepat agar menjauh dari Sasuke karena ia sedikit canggung. Lagipula ia juga masih saja memikirkan orang yang dimaksud ibunya Sasuke. Sebenarnya siapa orang itu? Mantan pacarnya kah?
"Kaasan aku ingin bertanya?"tanya Hinata ketika sudah sampai didapur dan memastikan disekelilingnya apakah ada Sasuke atau tidak.
"Apa?" tanya balik ibu Sasuke sambil tetap mencari bahan masakan yang ia butuhkan didalam kulkas.
"Emm, Kaasan selalu menyebut perempuan itu. Sebenarnya perempuan itu siapa? Aku penasaran se-sekalih."
Nada terakhir yang keluar dari mulut Hinata terdengar ragu dan gugup. Ia ragu karena ia takut jika Sasuke mendengar pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi masing masing. Lagi pula dikontrak ia dan Sasuke ada atau tidak peraturan yang tidak memperbolehkan ikut campur urusan masing-masing?
Lalu kenapa ia malah bertanya soal urusan masing-masing yang belum jelas ada atau tidak dikontraknya? Hinata langsung mencubit dirinya sendiri agar sadar dari perkataan lancangnya itu.
"Eh aku tidak jadi penasaran Kaasan," ucap Hinata cepat dan memperlihatkan cengiran gugupnya sebelum ibu Sasuke menjawab dan sebelum Sasuke datang. Ia jadi takut jika hal itu ada dalam Kontraknya, bisa-bisa Uchiha itu mengamuk dengannya dan meminta uang pelanggaran kontrak padanya. Jika Sasuke meminta kan, Hinata posisinya sama sekalih tidak mempunyai uang sebanyak itu.
"Kenapa? Kau memang harus tau Hinata. Perempuan itu adalah mantan kekasih Sasuke, ia berpacaran dengan Sasuke selama hampir 3 tahun. Terus 2 tahun yang lalu ia putus dengan Sasuke, Kaasan juga tidak tau apa penyebabnya. Tapi setelah putus dengan wanita itu ia tidak tersenyum dan juga menjadi lebih pendiam. Ia juga tidak pernah dekat dengan wanita lain, Sasuke! Persediaan bahan makanannya habis, bagaimana Kaasan ingin memasak," teriak ibu Sasuke dari dapur. Hinata hanya memerhatikan ibu Sasuke yang berteriak sambil tetap memikirkan wanita yang dimaksud itu. Kenapa ia jadi penasaran sekalih?...
"Wanita itu hebat sekalih," gumam Hinata pelan.
"Ah, iya. Aku lupa membeli stok persediaan," ucap Sasuke yang sudah ada didapur.
"Bagaimana kau ini, yasudah biar Kaasan dan Hinata yang membelinya. Hinata mau ikut berbelanja dengan Kaasan?" ajak Ibu Sasuke.
Hinata hanya mengangguk dan langsung menggengam tangan Ibu Sasuke lagi.
"Ayo Kaasan," ucap Hinata cepat. Ia langsung melewati Sasuke yang diam ditempat memerhatikan mereka.
"Tunggu! Bagaimana...kalau kita pesan makanan saja kaasan, aku sudah lapar." Sasuke mencegah dua perempuan ini agar tidak keluar dengan berdiri tepat didepan mereka.
Dengan cepat Ibu Sasuke langsung mencubit lengan Sasuke sedangkan Hinata hanya diam memerhatikan Sasuke. Ia masih memikirkan wajah mantan Sasuke, seperti apa rupanya? Cantik? sexy? atau bagaimana?
"Tidak baik makan-makanan siap saji terus, sudah tunggu Kaasan dan Hinata. Jangan sampai memesannya, jika memesan awas saja. Kaasan tidak akan segan-segan memenggal kepalamu," ucap Ibu Sasuke tegas kemudian berjalan melewati Sasuke. Hinata yang tadinya serius berfikir jadi terkekeh mendengar ucapan ibu Sasuke sedangkan Sasuke hanya mengangguk malas dan menatap Hinata dingin.
"Apa yang kau lihat?" tanya Sasuke kesal. Hinata hanya menggeleng.
"Dengarkan perkataannya Uchiha-sama," ejek Hinata. Ia tanpa sadar menepuk kedua pipi Sasuke dan pergi mengikuti Ibu Sasuke. Sasuke juga tanpa sadar malah mengikuti dua wanita didepannya. Merasa ada yang mengikuti, Hinata dan ibu Sasuke berhenti. Mereka langsung berbalik badan menatap Sasuke dengan bingung.
"Kenapa menatapku seperti itu?".
"Kau ingin ikut?" tanya Ibu Sasuke ragu. Baru kali ini ia melihat anaknya mengikuti dirinya ketika ia pergi berbelanja. Dengan cepat Sasuke menggeleng.
"Terus kenapa mengikuti kami?"
Sekarang giliran Hinata yang bertanya.
"Aku ingin membeli majalah dan koran pagi,"jawab Sasuke gugup. Ia jadi meruntuki dirinya sendiri. Kedua perempuan ini hanya diam sambil tetap memerhatikan Sasuke, mereka sedikit bingung dan tidak percaya.
"Kau sakit?"ucap Hinata memegang kening Sasuke dan menyamakannya dengan suhu keningnya. Sasuke menepisnya dengan kasar.
"Tidak sakit dia Kaasan. Koran dan majalah kan sudah ada di meja depan, kau aneh sekalih."
Mendengar ucapan Hinata, ibu Sasuke langsung senyum menggoda ke arah Sasuke.
"Bilang saja kau ingin ikut kan?"
"Tidak."
"Oh, Kaasan tau. Pria kalau bilang tidak berarti iya, sudah lah Kaasan tau jika kau tidak ingin berpisah dengan Hinata. Benar kan?"goda ibu Sasuke.
"Tidak, sudah cepat katanya ingin berbelanja. Aku sudah lapar Kaasan," usir Sasuke salah tingkah.
"Kau bilang tidak tandanya iya, Hinata ingat sifat Sasuke mu ini."
"Ya Kaasan, ayo kita pergi," ucap Hinata menarik dua Uchiha ini. Tanpa sadar lagi Sasuke tersenyum terus ketika Hinata menariknya. Sebenarnya apa yang membuatnya tersenyum terus ketika melihat Hinata menariknya? Hinata saja tidak tersenyum ketika menariknya?
Mereka bertiga pun langsung berjalan beriringan keparkiran.
"Naik mobil Kaasan saja, mobilku hanya cukup untuk 2 orang," ucap Sasuke sambil memerhatikan mobil merah metalik milik ibunya.
"Ah, kau itu punya mobil bukan hanya satu saja. Bilang saja kau tidak membawa kunci, makanya jangan terlalu terburu-buru takut ditinggal oleh Hinata. Tenang saja ia tidak akan pergi jauh."
Ibu Sasuke menggodanya lagi dengan senang. Akhirnya ia bisa menggoda anaknya lagi.
"Kaasan jangan mengodanya terus, kasihan," ucap Hinata membela Sasuke dan seperti biasa menepuk kedua pipi Sasuke agar terkesan lebih romantis. Pada akhirnya, Hinata sudah tidak gugup ataupun takut ketika bersama dengan Sasuke hampir beberapa jam.
"Kalian berdua itu sama," ucap Sasuke kesal dan langsung mengambil kunci mobil Ibunya dengan cepat. Setelah mendapat kunci, ia membuka mobilnya dan duduk dikursi kemudi, sedangkan Hinata dan Ibunya duduk di belakang.
"Kalian duduk disana?" tanya Sasuke tidak percaya setelah melihat pergerakan dua orang wanita dari kaca spion mobilnya.
"Iya," ucap mereka berbarengan. Dengan watadosnya mereka memakai sabuk pengaman dan tersenyum memandang Sasuke lewat kaca spion.
"Harusnya salah satu dari kalian duduk didepan, jika seperti ini aku seperti supir yang siap mengantar kalian semua."
Ucapannya kali ini sukses membuat ibunya mengerti dengan perasaanya ketika marah.
"Hinata kau didepan saja, biar Kaasan yang duduk dibelakang. Nada bicaranya sudah berubah, jadi cepatlah," bisik ibu Sasuke. Hinata mengangguk mengerti. Ia cepat-cepat melepaskan sabuknya dan langsung keluar untuk pindah kebangku depan.
Setelah pindah baru Sasuke menyalakan mobilnya dan pergi menuju supermarket yang terdekat.
Didalam perjalanan menuju Supermarker tidak ada yang berbicara sama sekalih, Ibu Sasuke pun diam tidak mengeluarkan suara sama seperti Hinata, tapi kedua orang ini mempunyai pemikiran tentang Sasuke yang sama makanya mereka juga sama-sama menatap Sasuke lewat kaca spion.
"Jangan menatapku seperti itu Kaasan, Hinata kau juga."
Setelah Sasuke bicara begitu, dua wanita ini tidak gentar dengan nada bicara ataupun tatapan Sasuke, buktinya mereka masih tetap menatap Sasuke. Sasuke yang tau hanya diam tidak banyak bicara lagi.
Setelah 15 menit didalam susana yang tidak enak, mereka akhirnya sampai disupermarket.
"Kaasan jangan terlalu lama memilihnya ya," ucap Hinata lembut ketika sudah berada didalam supermarket. Sasuke yang melihat percakapan mereka berdua hanya diam tidak ikut campur sama sekalih.
"Iya, Sasuke jangan diam seperti itu. Tidak enak dilihat orang, cepat bawa troli itu," perinta Ibu Sasuke tegas. Sasuke hanya menurut mengambil troli dan mendorongnya.
Hampir 23 menit mereka memilih bahan yang mereka butuhkan, akhirnya terkumpul dan tinggal membayar kekasir.
"Hinata," teriak pria dari belakang mereka. Merasa ada yang memanggilnya, Hinata pun menengok. Senyumnya mengembang ketika melihat orang yang memanggilnya, tanpa ragu ia berlari menuju seseorang yang memanggilnya dan meninggalkan dua Uchiha ini diantrian kasir. Hinata langsung memeluk pria berambut merah, pirang dan orang yang bertopeng dengan bergantian tanpa perduli Sasuke dan Ibunya.
"Aku rindu kalian,"ucap Hinata dipelukan Sasori. Sasori pun membalas pelukan Hinata dengan lembut.
"Kami juga sama, bagaimana kabar Hime kami ini?" tanya Deidara dan mengelus rambut Hinata pelan.
"Tidak baik sepertinnya, wah Tobi-nii aku paling merindukanmu,"ucap Hinata memeluk Tobi lagi.
"Benarkah? aku juga sama Hinata. Ayo kita pergi ketaman Hiburan, Hinata-chan kan suka kesana. Kali ini biar Tobi yang bayar, kan biasanya Hinata- chan yang membayar," ucap Tobi dengan nada layaknya anak-anak yang mengajak ibunya agar pergi.
"Wah hebat, baru sehari saja Tobi-nii sudah mempunyai uang banyak. Tapi nanti saja kapan- kapan aku akan pergi denganmu ya Tobi-nii?"
Tobi mengangguk setuju dengan perkataan Hinata.
"Oh iya kabar yang lainnya bagaimana?"tanya Hinata pada Sasori lagi.
"Tidak terlalu baik juga sepertimu, apalagi dia. Dia lebih sering tidur dikamarmu," jawab Sasori serius. Ia serius memperhatikan dua orang Uchiha dikasir, orang itu juga ternyata memerhatikan mereka.
"Oh seperti itu, aku jadi ingin bertemu dengannya. Besok boleh aku kesana?" tanya Hinata lagi. Tobi pun mengangguk menjawab pertanyaan Hinata.
"Itu lah adik dan orang tua Itachi," bisik Deidara pada Sasori.
"Iya, bertingkahlah seolah kita tidak mengetahui nama mereka dan tidak mengenal mereka. Bilang juga pada Tobi."
"Baik."
Deidara langsung membisikan masalah tadi dengan Tobi. Tobipun mengacungkan jempolnya bertanda ia mengerti dengan ucapan Deidara.
"Ekhem..."
Sasuke berdehem dibelakang mereka setelah selesai membayar di kasir tadi. Hinata baru sadar kalau ia melupakan Sasuke dan Ibunya.
"Aku lupa."
Hinata langsung berlari kearah Sasuke dan mulai menarik tangan Sasuke dan Ibunya.
"Kenalkan ini Sasuke dan ini Kaasan Sasuke."
Hinata memperkenalkannya pada Deidara, Tobi Sasori. Ibu Sasuke yang mendengar ucapan Hinata barusan menatap Hinata dengan tatapan syok, ia syok karena Hinata tidak mengungkapkan status lengkapnya. Kenapa?
"Akushina Sasori."
"Deidara."
"Aku Tobi," ucap mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing. Ibu Sasuke pun menatap nya dengan dingin.
"Uchiha Mikoto, Kaasan dari KE-KA-SIH Hinata."
Ibu Sasuke menekankan kata-kata kekasih pada mereka bertiga agar orang-orang itu tau jika Hinata adalah kekasih dari anak bungsunya itu. Sasuke hanya bisa menahan tawa mendengar ucapan kekanak-kanakan ibunya itu.
"Uchiha Sasuke, kekasih Hinata."
Sekarang giliran Sasuke yang memperkenalkan statusnya. Mereka bertiga langsung menatap Sasuke, Hinata, secara bergantian. Padahal baru sehari mereka bertemu? kenapa sekarang malah sudah menjadi Kekasih. Apa maksud dibalik kata-katanya?
"Hinata kau jelaskan pada kami nanti yasudah kami pergi dulu. Senang berkenalan dengan kalian," ucap Sasori sopan mewakili Deidara, Tobi kemudian pergi meninggalkan Hinata dan keluarga Uchiha itu. Sebelum benar-benar pergi Tobi memeluk Hinata sebentar, Ibu Sasuke yang melihat pemandangan itupun langsung berusaha melepaskan pelukan Tobi itu. Setelah mereka semua benar-benar pergi, ibu Sasuke menatap malas Hinata, ia berjalan duluan tanpa berbicara ataupun menggenggam tangan Hinata seperti sebelumnya.
"Kaasan," panggil Hinata pelan. Ibu Sasuke hanya diam tidak menanggapinya, ia malah terus berjalan duluan tanpa menunggu Hinata. Hinata yang melihat perubahan sikap ibu Sasuke hanya bisa memandangnya tanpa bisa memanggilnya lagi seperti tadi.
"Kita harus bicara nanti, setelah Kaasan sudah pulang," ucap Sasuka pelan dan pergi menyusul Ibunya yang sudah hampir sampai luar pintu Supermarket ini. Sebenarnya ini ada apa? kenapa jadi suasananya tidak enak seperti ini?
Hinata berjalan dibelakang Sasuke tanpa bisa berbicara apapun, ia menjadi tambah bingung dengan suasana yang ia sedang hadapi sekarang ini. Tanpa Hinata sadari, ternyata mereka sudah sampai diparkiran mobil. Diparkiran, ibu Sasuke tetap diam tidak menatap Hinata dan malah masuk kedalam mobil tanpa menyuruh Hinata untuk masuk juga.
"Cepat masuk."
Hinata langsung menuruti perintah Sasuke barusan. Di perjalanan pulang tidak ada yang berbicara sama sekalih, yang terdengar hanyalah suara deru mesin mobil milik Sasuke.
"Sasuke antarkan Kaasan ke rumah sakit dan juga sore nanti datanglah kerumah sakit. Hinata kau bisa memasak sendiri kan?" tanya Ibu Sasuke dingin. Hinata hanya mengangguk.
Itu adalah ucapan pertama yang di ucapkan ibu Sasuke padanya. Hinata sempat berfikir, ketika seperti ini Sasuke dan Ibunya mirip sekalih gaya berbicaranya. Apakah seluruh keluarga Uchiha seperti ini gaya bicaranya?
Hampir 10 menit, akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Ibu Sasuke langsung keluar tanpa berkata apa-apa pada Hinata.
"Kita makan diluar saja," ucap Sasuke melajukan mobilnya lagi ke restoran biasa ia makan setelah Ibunya masuk kerumah sakit.
Didalam mobil mereka berdua hanya diam, tidak ada yg membuka pembicaraan sama sekalih. Hinata biasanya membuka pembicaraan malah sekarang ia ikut-ikutan diam seperti Sasuke.
"Kita sudah sampai."
Sasuke memberhentikan mobilnya tepat di sebuah restoran sederhana yang menyediakan berbagai macam menu paket sarapan, tanpa banyak tanya Hinata langsung turun mengikuti Sasuke.
"Ohayo, seperti biasa?" tanya pelayan yang memang sudah tau apa yang dipesan Sasuke.
"Iya aku pesan dua."
"Baik, 10 menit lagi makanan kalian akan datang," ucap pelayan itu tersenyum dan kemudian pergi.
Hinata masih saja diam tidak berbicara apapun sedangkan Sasuke hanya memperhatikan sikapnya yang berubah drastis.
"Sasuke, apa semua keluarga Uchiha berbicara dingin seperti Kaasan dan juga kau?" tanya Hinata tanpa memandang Sasuke.
"Tidak."
"Oh begitu ya, aku kira semuanya seperti itu. Aku ingin bertanya soal kontrak mu itu."
"Apa yang ingin kau tanya?"
"Kontrak itu selesai setelah aku melahirkan anakmu itu kan?" tanya Hinata pelan. Sasuke menjawabnya hanya dengan satu anggukan.
"Jadi sebenarnya rencana mu itu apa?"
"Rencanaku, hanya ingin menggagalkan perjodohan ku dengan seseorang. Tapi tenang saja aku pria yang bertanggung jawab," jawab Sasuke yang tiba-tiba bangun dari tempat duduknya menuju meja kasir dan beberapa menit kemudian ia duduk kembali. Lagi pula ada tujuan lain juga selain tujuan yang ia bilang pada Hinata.
"Sepertinya kau sering kesini ya?" tanya Hinata parau. Sepertinya ia masih memikirkan sikap ibu Sasuke yang tiba-tiba dingin padanya tadi.
"Hn."
"Jangan terlalu sering makan-makanan seperti ini. Tidak baik."
Nada bicara Hinata menjadi lebih pelan dari sebelumnya. Sasuke tau jika wanita didepannya hampir menangis.
"Kenapa?" tanya Sasuke. Hinata hanya menggeleng lemah ketika ditanya Sasuke.
"Kaasan marah karena kau tidak memperkenalkan ku tadi sebagai kekasihmu. Itu penyebab ia marah dengan mu dan jangan menangis."
Hinata langsung menatap Sasuke kaget sedangkan yang ditatap hanya mengalihkan pandangannya dari Hinata.
"Benarkah?"
"Hn."
Hinata tersenyum senang mendengar penjelasan Sasuke barusan. Setelah 10 menit akhirnya pesanan mereka datang. Sasuke langsung memakannya sedangkan Hinata hanya memperhatikannya tidak berniat menyentuhnya.
Sepertinya diantara anggota Akatsuki ada yang suka makanan ini, tapi siapa orangnya? ia lupa siapa orangnya
"Kenapa?" tanya Sasuke tiba-tiba. Pertanyaannya itu sukes membuyarkan pikiran Hinata.
"Tidak apa," jawab Hinata dan mulai memakannya perlahan. Acara sarapan pagi mereka pada akhirnya makan diluar juga.
"Kami bertemu Hinata tadi,"ucap Sasori pada Itachi.
"Dimana?"
"Disupermarket, dia bersama adik dan Ibumu. Ada sesuatu hal yang membuat kami semua bingung."
"Apa?" tanya Itachi penasaran.
"Hinata dan Sasuke berpacaran dan Ibumu sudah tau. Apa benar adikmu itu kekasih Hinata? Ini tidak masuk akal," ucap Sasori lalu beranjak pergi dari kamar Itachi menuju ruang tengah.
Itachi masih diam ketika Sasori mengatakan soal Hinata dan adiknya, dia masih mencerna perkataan Sasori barusan.
"Berpacaran? Seingat ku Sasuke tidak bisa melupakan perempuan itu? Apa yang akan ia lakukan sekarang?" gumam Itachi. Dengan cepat ia mengambil kunci mobilnya, kemudian pergi.
"Itachi ingin kemana?" tanya Konan pada Sasori ketika melihat Itachi terburu-buru keluar.
"Entah, Konan kau ingin memasak?" tanya Sasori ragu.
"Iya."
"Menurutku kau jangan memasak, kau ingat semalam?" tanya Sasori. Konan mengangguk.
"Bisa-bisa bukan hanya kompor yang terbakar, pasti rumah ini juga akan terbakar."
Sasori mulai membayangkan kejadian saat Konan memasak.
"Hehe, jawab pertanyaan ku!" ucap Konan mengubah mode nada bicaranya.
"Aku tidak tau, kami bertemu Hinata tadi."
"Dimana? bersama Siapa?"
"Supermarket, bersama Sasuke dan ibunya. Mereka sekarang berpacaran," jawab Sasori. Konan masih diam tidak mengeluarkan kata-kata apapun.
Berpacaran?
Setelah berfikir beberapa saat ia teringat Pein.
"Beritahu Pein, dan selidiki apa yang direncanakan Sasuke itu. Aku takut jika Hinata melakukan perjanjian dengan Sasuke, apa Hanabi sudah menghubungimu?"
"Belum, tapi aku sudah mengirimkan email semalam."
"Kita semua menganggapnya sebagai adik kita sendiri, maka dari itu kita harus memberikan yang terbaik untuknya," ucap Konan tegas dan pergi kedapur.
"Aku tau, besok Hinata akan kesini."
Baru 3 detik Sasori bilang Hinata akan kesini, Konan langsung kembali lagi keruang tengah tempat Sasori.
"Benarkah? jam berapa?" Konan langsung bertanya dengan antusias.
"Aku tidak tau, tapi yang pasti Hinata akan datang," ucap Sasori dan mulai menyalakan Tv.
"Apa yang harus aku lakukan? memasak untuk Hinata? Atau apa? Aku bingung Sasori!"
Konan mulai bertingkah seperti orang yang kebingungan.
"Yang pasti jangan memasak untuknya, dan omong-omong kau sekarang jadi lebih banyak bicara semenjak 2 tahun lalu setelah Hinata datang kesini. Apa yang membuatmu jadi lebih cerewet?" goda Sasori. Konan hanya tersenyum ketika ditanya soal itu.
"Dia itu wanita yang paling penurut selama kita menjadi seorang mafia yang hampir setiap satu bulan sekalih melelang wanita dan barang antik. Dia tidak pernah mengeluh seperti yang lainnya, ditambah lagi dia sendiri yang datang ketempat kita tanpa ada paksaan. Aku berubah karena dialah, dia wanita yang kuat dan cantik. Aku menjadi cerewet karena aku sering memarahinya, tapi dia ketika dimarahi hanya tersenyum. Senyum yang ia keluarkan tanpa dibuat-buat dan terkesan tulus. Kau merasakannya juga kan?"
"Iya aku merasakannya."
Sasori mulai membayangkan senyum Hinata.
"Dan juga hubungan kita satu sama lain menjadi lebih dekat, aku menyayanginya seperti aku menyayangi diriku sendiri."
Konan pun membayangkan wajah Hinata yang tersenyum ketika dimarahi sama seperti bayangan Sasori tentang Hinata.
"Iya, karna itu juga kita semua menjadi tidak tega untuk melelangnya. Dan kita bahkan menganggap hutangnya juga lunas tanpa sepengetahuannya. Kenapa kita jadi membicarakannya Konan?"
Sasori langsung tersadar dari nostalgianya.
"Ini semua karna kau yang memancingku dan juga kenapa rencana kita menjadi gagal. Kita kan niatnya agar Itachi yang membelinya, tapi kenapa sekarang malah adiknya. Huh, aku kesal," ucap Konan kesal.
"Iya aku juga sama, kita ini tujuannya hanyalah membuat Itachi memiliki Hinata karna memang dia menyukainya. Lagi pula jika Hinata mau dengan Itachi tanpa memikirkan hutangnya pada kita, kita dengan senang hati melepaskannya dan tidak meminta uang speser pun. Aku rasa Hinata adalah gadis yang tidak ingin memiliki hutang budi pada siapapun."
"Iya benar Sasori."
Konan memejamkan matanya sebentar dan kemudian ia pergi ke arah dapur.
"Kau jangan menangis di dapur ya Konan," teriak Sasori dari ruang tv sambil tertawa.
Prang.
Konan melemparkan panci kearah Sasori, Sasori yang sudah tau dengan kebiasaan Konan hanya bisa menahan tawanya.
Suasana sore hari apartemen bungsu Uchiha ini terlihat sepi. Tidak ada yang melakukan aktivitas. Yang terlihat hanyalah Hinata yang sedari tadi hanya memainkan handycamnya sendiri. Sesekalih ia merekam dirinya sendiri, Hinata merasa ini adalah kegiatan satu-satunya yang tidak merepotkan orang. Dan ini rekaman kedua yang direkam Hinata.
"Aku bosan disini, apa yang akan kita lakukan?" tanya Hinata sambil tetap merekam dirinya sendiri.
"Memasak, mencuci, atau beres-beres rumah? Aku rasa lebih baik kita tidak melakukan apa-apa karena semuanya sudah selesai," ucap Hinata pada dirinya lagi. Sesekalih ia memperlihatkan ekspresi bosannya yang terkesan lucu itu.
"Yasudah, kita berjalan-jalan sore saja. Aku tutup ya, Sayonara. Chup."
Itu adalah rekaman Hinata hari ini yang diakhiri dengan ciuman terakhirnya sebelum menutup rekamannya.
"Kau boleh pergi kemana-mana yang kau suka, aku harus kerumah sakit," ucap Sasuke yang baru keluar dari kamarnya. Hinata hanya mengangguk dan masuk kekamar yang tadi Sasuke keluar. Mengingat hanya ada satu kamar diapartemen Sasuke, mau tidak mau ia bergantian. Hinata menaruh kameranya dimeja samping ranjang dan kemudian langsung menuju kamar mandi, berendam air hangat. Ia rasanya bosan dan lelah sekaligus. Ditambah lagi ia belum mengirimkan uangbbulanan untuk adiknya yang ada di Singapura, ia belum membayar tagihan rumah sakit.
"Kenapa hidupku jadi lebih banyak masalah?.Tabungan ku juga sudah menipis? Gajiku sebagai pelayan kafe milik Pein-nii juga tidak seberapa," ucap Hinata dan merelekskan dirinya.
Beberapa menit Hinata langsung menyelesaikan acara mandinya ketika ia teringat Konan. Ia harus segera bertemu dengan Konan, karna hanya dia lah yang mempunyai pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Setelah semuanya selesai, ia langsung memakai sepatu ketsnya dan keluar dari apartemen Sasuke.
Diperjalanan menuju halte bus Hinata terus mencoba menghubungi Konan, dan alhasil tidak mendapat jawab sama sekalih.
"Kenapa tidak diangkat?"
Hinata terus mencoba menghubungi Konan ketika menunggu bus.
"Hinata!" teriak seseorang dari belakang yang membuatnya kaget. Hampir saja handphone jadulnya jatuh. Kalau jatuh dan kemudian rusak ia tidak mempunyai alat komunikasi lagi kan.
"Oh Itachi-nii, kau membuat ku kaget saja." Hinata mengelus dadanya pelan, Itachi hanya tertawa.
"Gomen, ingin kemana?"
"Kerumah kalian, Konan-neesan ada tidak?"
"Ada, kebetulan aku juga ingin kesana. Ayo ikut dengan ku," jawab Itachi menarik Hinata dan tersenyum. Hinata hanya menurut ketika ditarik Itachi.
"Kau memarkirkan mobilmu dimana?" tanya Hinata bingung karena sedari tadi tidak terlihat mobil Itachi sama sekalih.
"Disana," jawab Itachi menunjuk mobil sport hitamnya. Hinata hanya ber-oh ria saja ketika Itachi menunjuk mobilnya.
Itachipun membukakan pintu mobilnya, Hinata tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas perlakuan Itachi tadi. Mereka berdua pun masuk kedalam mobil. Didalam mobil Itachi terus tersenyum menatap Hinata.
"Kenapa?" tanya Hinata ketika melihat Itachi hanya tersenyum kearahnya dan tidak menyalakan mobilnya.
Itachi malah menghadap kearahnya ketika ditanya, Hinata mulai gugup ketika jarak mereka sedekat ini.
"Kau harus memperhatikannya," ucap Itachi mengelus rambut Hinata dan baru menyalakan mesin mobilnya. Ternyata Itachi hanya membenarkan sabuk yang digunakannya. Hinata hanya bisa tersenyum malu atas perlakuan Itachi dan pikirannya itu.
"Arigato."
Itachi tersenyum menanggapi ucapan Hinata barusan. Diperjalanan menuju rumah Akatsuki Itachi banyak menanyakan hal pada Hinata, berbagai macam hal pun ditanyakan. Dari sikap orang yang membelinya, keadaan rumahnya, makanan apa yang diberikan orang itu sampai dia tidur dimana dan dengan siapa. Kalau seperti ini hubungan mereka berdua lebih pantas dibilang kekasih daripada adik dan kakak.
"Aku dengar dari Sasori kau berpacaran dengan Uchiha Sasuke. Apa itu benar?" tanya Itachi ketika mereka sudah berada di halaman parkiran rumah Akatsuki.
Hinata hanya diam engga untuk menjawab pertanyaan Itachi tentang hubungannya dengan Sasuke. Ia bingung menjelaskannya, jika Sasuke bilang ia boleh memberitahu orang terdekatnya, sudah pasti orang pertama yang ia beritahu adalah adiknya sendiri dan Itachi.
"Aku belum bisa menjelaskannya sekarang."
Hanya jawaban itu yang bisa keluar dari mulut Hinata. Itachi tersenyum menanggapi jawaban Hinata.
"Tidak apa, aku tidak memintamu menjelaskannya sekarang, tapi ada satu hal yang harus kau ingat Hinata," ucap Itachi serius. Hinata hanya menatapnya sambil menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Itachi.
"Kau pernah bilang padaku, jika hutang mu dan masalah keluargamu sudah selesai kau akan membalas perasaanku. Dan sekarang salah satu masalahmu selesai, apa kau akan tetap membalas perasaanku Hime? Aku butuh jawabanmu."
Perkataan Itachi sekarang ini, sukses membuat Hinata diam tanpa bisa berkata-kata. Ia jadi merasa bersalah pada Itachi, pasalnya Itachi sudah menunggunya kurang lebih satu tahun setengah dan apa? malah sekarang ia berpacaran dengan Sasuke? Jadi apa maksudnya selama ini. Apa ia hanya mempermainkannya?
Hinata hanya mampu diam ketika Itachi mengulangi kata-kata yang ia ucapkan. Sebegitu berpengaruhkah perkataan Hinata pada Itachi?
"Gomenasai, aku sudah mengucapkan kata-kata yang membuatmu selalu menungguku. Aku, aku sekarang mempunyai masalah baru dalam hidupku. Aku rasa aku tidak akan membalas perasaanmu dan juga tidak akan bisa bersamamu dalam waktu yang dekat ini. A-aku..sebenarnya ingin kau mengetahui apa yang ku rasakan sekarang. A-aku," ucapan Hinata terhenti karena Itachi sekarang ini sudah memeluknya. Tanpa sadar ia menangis ketika Itachinmemeluknya.
"Gomenasai Itachi-kun," ucapan Hinata disela-sela tangisannya.
Itachi memeluknya dengan erat dan tanpa sadar ia juga menangis. Ia hanya mampu menjadi tumpuan Hinata ketika ia sedang mempunyai masalah tanpa tau masalah apa yang sedang dihadapi Hinata.
"Sudah lah, jangan menangis," ucap Itachi mengelus rambut Hinata. Ia pun mengangkat dagu Hinata agar menatapnya. Tidak lupa ia menghapus air mata Hinata dengan lembut dan menyelipkan rambut Hinata dibelakang telinga agar Itachi bisa dengan leluasanya melihat wajah Hinata.
"Jika kau sudah memutuskannya, hubungi aku. Dan aku akan terus menunggumu."
Itachi mengecup kening Hinata singkat dan tersenyum lembut. Hinata pun tersenyum manis setelah mendengar perkataan Itachi.
"Ayo kita kedalam," ucap Itachi dan keluar dari dalam mobilnya sambil menggenggam tangan Hinata sesekali ia mencium tangan Hinata yang sedang ia genggam sekarang ini.
Tanpa mereka tau, dua orang pria memerhatikan mereka.
"Jadi benar jika Itachi ikut dalam organisasi Pein ini. Pantas aku pernah melihatnya seusai acara itu. Dia adalah pria yang memegang papan no 79 yang bersaing berat dengan Sasuke. Gaara apa kau sudah memberi tahu Sasuke?" tanya pria berambut nanas pada seseorang yang bernama Gaara tadi.
"Belum, aku rasa Itachi ada hubungan dengan wanita yang dibeli Sasuke. Jika waktunya tepat kita beritahu ini Shikamaru," ucap Gaara. Shikamaru mengangguk mantap dan menjalankan mobilnya pergi dari kediaman Akatsuki.
#TBC
Thanks for review, pertanyaan tentang kenapa akatsuki melelang Hinata udah terjawab di chapter ini yak.
