"Jangan lupa makan Jongin, jaga dirimu baik baik."

"Jangan lupa makan Jongin, jaga dirimu baik baik."

"Tolong." Suara bayangan itu tetap jelas walau bercampur dengan segala kekacauan ,sangat jelas , menggema dalam otaknya, menambah rasa sakitnya.

"ARGHHHH!"

.

.

TIME ZONE chap 3

Kaki Sehun pegal. Hampir setengah jam ia berdiri didepan pintu rumah Kai sambil memencet bel tapi Kai tak kunjung datang. Berkali kali Sehun melihat celah pintu yang memperlihatkan cahaya dari dalam. Ada cahaya berarti ada orang dirumah. Kai selalu mematikan lampu saat pergi , kemungkinan untuk lupa sangat tipis.

"Sialan." desisnya. Dia mulai menggedor pintu itu karna kesal. Tidak peduli akan ada orang yang terganggu.

Lima menit kemudian Sehun menyerah dia bersandar sejenak pada dinding disamping pintu. Sehun sudah ingin pulang jika saja pandangannya tidak sengaja bertemu dengan proyeksi kode pintu. Sehun kenal Kai lama tapi dia tidak pernah ingin tau kode kode semacam itu. Dan sekarang Jari kurus Sehun terulur mencoba memasukan kode secara acak. Sehun mecoba tanggal lahir Kai , tanggal dia pertama memenangkan lomba dance, tinggi badan ditambah ukuran sepatu, bahkan tanggal ulang tahun Sehun sendiri ia masukan. Dan semuanya salah. Hingga dengan putus asa Sehun memencet sederet kode dengan angka yang sama "00000" dan kode pun disetujui. Oh ya Sehun lupa jika Kai memang semalas itu.

-o-

Rumah ini sepi. Tidak ada tanda tanda Kai dimanapun. Apa mungkin dia salah, mungkin Kai memang pergi dan lupa mematikan lampu. Tapi memang mereka sudah berjanji untuk main game bersama disini , atau mingkin Kai lupa. Setelah mengecek kekamar Sehun melangkah kearah ruang makan dan disana ia melihat tubuh Kai terbaring tak bergerak.

Sehun langsung panik. Ia berlari menghampiri Kai dengan luka lebam disekitar kepalanya yang berdarah. Sehun mengecek apakah pria itu masih bernafas, dan saat mengetahui bahwa jawabanny iya ia segera menopang Kai berdiri dengan bantauan kedua tangannya. Kai terlalu berat untuk Sehun angkat jadi dia hanya meletakkan kedua tangan Kai dibahunya lalu menyeret pria itu.

-o-

Sehun meletakkan Kai asal ke kasur king sizenya. Dia ingin bisa bekerja langsung namun nafas yang tak beraturan menghalangi Sehun, dia kurang baik saat berolahraga.

Sehun membenarkan letak Kai dengan dirinya yang masih sesak nafas. Setelah semuanya selesai barulah dia memiliki waktu untuk berlari mengambil obat yang dia perlukan dan kembali melihat separah apa luka Kai.

-o-

Gelap. Kai melihat keseliling bangunan tua tempatnnya berada. Air menetes. Angin berhembus. Diluar ada matahari yang baru terbit dari timur. Langit kelabu perlahan berubah menjadi oranye dan kuning.

Kai memandangi langit sampai suara tetesan air memudar ditutupi suara langkah kaki yang menggema.

Tap

Tap

Terjadi lagi. Perlahan lahan Kai mulai terbiasa dengan semua ini. Tengkuknya meremang dengan sendiri membuat Kai melemas. Perlahan dia berbalik melihat wajahnya sendiri dengan mata merah didepannya.

"Sebenarnya siapa kau?" ujarnya lirih.

"Xeldom." Jawabnya. Kai merinding sampai suhu panas mulai menguasai dirinya. Membakar. Membuatnya meringis.

"Lepaskan segelnya." Ucapan terakhir Xeldom menambah segala rasa sengsara pada dirinya. Semuanya didalam dirinya terbakar seiring detik detik Xeldom menghilang.

Panas

Panas

Panas

Gelap.

-o-

Kai terduduk. Peluh mengucur dari tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat. Diantara pandangannya yang memburam dia menyadari bahwa ada seseorang selain dirinya disini. Dia hampir saja menerjang orang yang dikiranya penyusup jika saja suara Sehun yang memanggil namanya tidak mengalir keluar dari mulut orang itu. Itu Sehun, dengan rambut karamelnya dan baju santai.

"Kai."

Kai menarik nafas leganya sekali. Balutan kain kasa dan plester dikepalanya terasa janggal. Bahkan Kai tidak tau kapan luka itu tercipta yang jelas saat saat diruang makan tado adalah saat yang mengerikan.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sehun. Wajahnya terlihat datar tapi mata itu tak bisa menutupi rasa khawatirnya.

"Lembek seperti spaghetty."

Dengan tanpa tenaga Kai menjatuhkan dirinya kembali kekasur sementara Sehun menduduki bagian samping yang kosong.

"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi agar aku tidak perlu menerka nerka sendiri?" ujar Sehun pelan. Kai ingat perjanjiannya untuk main game tadi siang. Dia ingin lebih menggerakan kakinya jika saja sedetik kemudian tidak muncul rasa sakit disitu. Kai bahkan lupa dengan hukuman ayahnya semalam yang membuat betisnya bengkak. Detik kemudian Kai menceritakan semuanya kepada Sehun karna yakin temannya itu tak akan menganggapnya gila atau yang lainnya.

"Mau kedokter?" tanya Sehun setelah mendengar semuanya. Kai mendecih ringan setelah mendengar pertanyaan itu terlontar.

"Seharusnya tidak kuceritakan. Kau kira aku gila ya?" ujarnya sinis. Sehun memutar bola matanya.

"Bukan itu bodoh! Kau membenturkan kepalamu sampai berdarah ketembok dan kau tidak khawatir kau gegar otak?"

Sehun benar juga. Kenapa Kai tidak khawatir dengan hal itu. Dia banyak mengalami cidera saat berkelahi termasuk dikepala , tapi semuanya selalu berakhir baik baik saja dengan obat seadanya. Tapi kali ini ia baru saja membenturkan kepalanya puluhan kali ke sebuah tembok sekeras mungkin hingga sampai sekarang Kai masih merasakan rasa pusing dan perih dikepalanya.

-o-

Rumah sakit malam malam terasa mencekam. Mereka mungkin adalah pengunjung terakhir sebelum semua dokter pulang. Kai mempertimbangan ajakan Sehun dan akhirnya lebih memilih untuk menolak ide itu karna merasa peningnya sudah hilang tapi Sehun memaksa hingga ia harus diseret kemobil dan berakhir ditempat ini.

Hasil ronsen kebetulan sedang bisa cepat. Kai dan Sehun duduk di belakang meja putih dokter sambil melihat tengkorak Kai yang didalam kilatan mika yang bercahaya. Ini pertama kali Kai melihat tengkoraknya sendiri , memerhatikkan wajahnya tanpa daging dan rambut. Mereka berbohong pada dokter bahwa Kai berkelahi dan dikeroyok karna tidak mungkin mereka menceritakan yang sebenarnya atau menceritakan bahwa Kai membenturkan kepalanya sendiri ketembok tanpa alasan.

Dokter separuh baya itu memberi tahu Jongin jika kejadian itu tidak berdampak apa apa. Beruntungnya tidak ada pendarahan atau retak ditulang.

-o-

Kai dan Sehun berjalan dikoridor mengikuti cahaya remang yang akan menuntun mereka ke lobi. Jalanan terasa sepi dan mencekam. Sehun membayangkan adegan dalam film horror dimana rumah sakit menyimpan banyak arwah penasaran dan mayat mayat yang hidup kembali saat malam mengikuti mereka ke lift dan lainnya.

Bug

Hidung Sehun menabrak bahu Kai yang tiba tiba berhenti. Dengan reflek dia menatap Kai kesal tapi reaksi Kai menunjukan bahwa dia sama sekali tidak peduli akan hal itu pria itu melihat kedepan , terfokus. Sehun mengikuti arah pandang Kai.

Disana ia melihat seorang lelaki tinggi dengan rambut pirang yang agak panjang. Perawakannya dingin dan tegas , dilengkapi dengan jas putih dokter berdiri didepan ruangannya. Entah kenapa Sehun merasa tertarik dan ia tau jika Kai berhenti karna merasakan hal yang sama. Sehun menatap Kai yang ternyata juga menatapnya seakan saling bertanya dan saling menyetujui. Mereka berjalan serempak kearah dokter itu. Dokter itu bersandar di pintu yang lebelnya bertuliskan Psikiater. Dokter itu terlihat masih fokus dengan ponselnya tidak menyadari keberadaan Kai dan Sehun didekatnya.

Perlu beberapa detik bagi pria itu untuk menyadari keberadaan mereka. Dokter itu terlihat sedikit terkejut tapi bisa dikendalikan beberapa detik kemudian.

"Bagian psikiater disini, ada yang bisa saya bantu?" ujarnya sopan.

Entah bagaimana Kai menganggukan kepalanya. Setelah itu sang dokter pun membukakan pintu dan mereka bertiga masuk.

"Namaku Kris , jadi bisakah ceritakan keluhan kalian?"

Dokter itu duduk setelah mempersilahan mereka berdua duduk didepannya. Kai menatap Sehun. Mereka tidak tau kenapa mereka melakukan hal senekat ini tapi yang jelas pria dewasa didepan mereka ini terasa seperti magnet sangat menarik. Seakan Kai dan Sehun dapat menemukan jalan keluar dari dirinya.

Kai memutuskan menceritakan ceritanya , cerita saat dia terbangun dan kelas sudah kosong lalu kembali riuh saat dirinya sendiri hilang. Ia tidak memikirkan persetujuan dari Sehun. Ia sudah siap jika Sehun akan memarahinya setelah ini tapi yang ia dapati justru Sehun yang juga menceritakan kisahnya yang hanya dibalas dengan senyuman tipis dari dokter itu.

"Maaf aku tidak punya solusi untuk masalah itu. Tapi aku pernah mendengar ada orang orang yang mengalami hal yang sama."

Hal yang sama ? Kai dan Sehun bernafas lega saat mendengar hal itu. Walau tidak mendapat jawaban tapi setidaknya mereka tidak hanya berdua. Dan setidaknya dokter itu tidak mengucapkan mereka gila secara blak blakkan.

Kai yang pertama berdiri sambil mengulurkan tangan kepada dokter itu diikuti dengan Sehun. Saat mereka ingin membayar uang pemeriksaan dokter Kris menolaknya dan mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Kai dan Sehun tidak tau apa yang dipikirkan Kris sekarang , mungkin dokter itu hanya iba pada mereka atau sejenisnya. Mereka tidak tau jika dikantornya Kris sedang duduk santai dengan punggung berender pada kursi kerjanya. Seringaian muncul di wajah itu.

"Well Welcome." Ujarnya pelan.

TBC