She Is Angel

Disclaimer : Chara bukan milik saya melainkan milik Masashi Kismoto. Saya hanya meminjam.

Pairing : SasuFemNaru

Genre : Hurt/comfort, Romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s), gaje, mainstream.

Summary : "Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua bukan?.../Aku hanya ingin orang yang kusayangi bahagia.../Aku tidak tau harus bilang apa?.../Kau benar-benar seperti malaikat."/

Happy Reading

Jepang, 05 July 2025

.

.

.

"Anda bisa memanggilku Eagle." Jawab tamunya yang mengaku bernama Eagle.

"Uhm...Eagle-san, anda mencari siapa?" tanya naruto. Sedangkan Eagle menatap Naruto menyelidik.

"Apa anda bernama Naruto?" bukannya menjawab Eagle justru balik bertanya.

"Ya, nama saya Naruto. Ada apa?" Naruto penasaran ada orang asing mencarinya.

"Saya hanya memastikan ini benar anda." Jawab Eagle.

"Ngnh?" Naruto bingung.

"Seseorang menyuruh saya menjaga keluarga anda nona." Eagle membungkukkan badannya.

"Eh?" Naruto makin tidak paham.

Drt...drt...drt

Handphone Naruto bergetar ada panggilan masuk. Dia melihat siapa yang memanggil. Ternyata dari ibunya. Dia segera menjawab panggilan itu. Eagle hanya menunggu Naruto selesai menjawab panggilan itu.

"Moshi-moshi kaa-chan?"

/Moshi-moshi Naru, kau sudah pulang sekolah?/

"Ne kaa-chan."

/Naru ada dimana sekarang?/

"Naru di rumah kaa-chan."

/Bisa Naru bantu kaa-chan? Cepat datang kesini, hari ini pelanggannya sangat banyak/

"Ha'i."

/Kalau begitu sampai jumpa Naru. Segera kesini kaa-chan tunggu! Jaa/

"Jaa kaa-chan." Naruto menutup pangilannya. Dia mengalihkan pandangan pada Eagle.

"Maaf saya sedang terburu-buru. Saya harus pergi." Naruto merasa tidak enak mengucapkannya.

"Tidak apa-apa. Saya juga akan pergi. Sampai bertemu lagi nona" Eagle berpamitan dan pergi. Setelahnya Naruto mengambil barang yang akan dibawa. Naruto menutup pintu dan menguncinya tak lupa menaruh kunci cadangannya ke tempat semula. Kemudian dia pergi ke restoran.

Ditengah perjalannya menuju restoran melihat wanita paruh baya yang kesulitan membawa barang belanjaannya. Merasa tidak tega Naruto menghampiri wanita itu dan berniat membantu membawa barang belanjaan itu.

"Selamat siang baa-san!" Naruto mendekati wanita paruh baya tersebut.

"Selamat siang nak," wanita itu membalas sapaan Naruto.

"Perkenalkan nama saya Naruto." Naruto memperkenalkan diri pada wanita itu.

"Saya Mikoto. Salam kenal Naru-chan..boleh baa-san panggil begitu?" wanita tua yang bernama Mikoto itu bertanya ragu pada anak perempuan didepannya.

"Tentu saja baa-san." Naruto mengiyakan pertanyaan Mikoto.

"Jadi ada apa Naru-chan?" tanya Mikoto pada Naruto.

"Uhm..sepertinya baa-san kesulitan membawa semua itu?" tanya Naruto sopan.

"Eh iya Naru, hari ini baa-san belanja sendiri. Suamiku sedang sibuk bekerja sedangkan putraku tidak mau menemaniku." Ucap Mikoto sambil mengeluh.

"Memangnya kenapa putra baa-san tidak mau mengantar baa-san belanja?" Naruto penasaran ada anak yang tega membiarkan ibunya pergi sendiri.

"Yah begitulah anak baa-san, mereka gengsi ikut ke tempat yang ramai katanya berisik dan mereka bilang mereka sudah besar jadi malu setiap kuajak berbelanja." Keluh Mikoto.

"Kalau begitu bagaimana kalau Naru bantu saja." tawar Naruto dengan ceria.

"Benarkah? Apa tidak merepotkan Naru-chan?" Mikoto tentuna tidak percaya gadis didepannya ini menawarkan diri membawa barang-barang belanjannya yang bisa dibilang sangat banyak

"Tentu saja. Naru tidak merasa direpotkan kok. Naru juga sering membantu kaa-chan belanja setiap akhir pekan." Seru Naruto.

"Ara, kalau begitu bantu baa-san membawa ini ke mobil yang mengantar baa-san tadi Naru-chan!" ajak Mikoto.

"Ha'i baa-san!" Naruto dengan cekatan membawa barang-barang itu menuju sebuah mobil yang ditunjuk Mikoto.

"Anak itu baik sekali juga ceria. Sungguh beruntung sekali orang tuannya memiliki putri sepertinya, tidak seperti kedua putraku yang dingin dan kaku. Huh sudahlah sebaiknya aku cepat." Mikoto memuji Naruto yang berjalan menuju mobil pribadi kelurganya dan membanding-bandingkan Naruto dengan anaknya. Dia pun segera menyusul Naruto.

...

"Nah sudah selesai baa-san." Ucap Naruto riang.

"Terima kasih Naru-chan atas bantuannya." Mikoto berterimakasih pada Naruto.

"Ah sama-sama baa-san. Sesama manusia kan wajar saling tolong-menolong. Bisa jadi nanti Naru yang akan ditolong baa-san." Naruto merendahkan diri.

"Sekali lagi terima kasih. Mau sekalian kami mengantarmu Naru?" tawar Mkoto.

"Tidak usah baa-san, Naru ada pekerjaan membantu kaa-san di restoran dekat sini." Tolak Naruto.

"Baiklah kalau tidak mau, tapi kapan-kapan kalau bertemu ajak baa-san ke restoran ibumu ya?" pinta Mikoto.

"Tentu saja baa-san. Saya pergi dulu baa-san. Jaa..." Naruto berpamitan dan beranjak pergi.

"Anak itu. Semoga nanti bisa bertemu lagi." Harap Mikoto.

.

.

.

Di Restoran

kLING...KLING

"Halo kaa-chan!" sapa Naruto setelah didalam restoran.

"Halo Naru, kamu tidak apa-apa? Kenapa kau lama kesini? Kau dihadang seseorang?" tanya Kushina bertubi-tubi setelah menangkap Naruto dalam pandangannya.

"Naru tidak apa-apa kaa-chan, tadi Naru membantu baa-san dulu membawa belanjaannya, kasihan tidak ada yang membantunya." Naruto menjawabnya dengan tenang.

"Baa-san?" Kushina mengulangi kata baa-san.

"Iya, tadi Naru bertemu baa-san itu diperjalanan. Dia kelihatan sangat kewalahan karena barang belanjaannya banyak sekali. Anak-anaknya juga tidak mau membantu bahkan menemani, mengantar saja tidak." Naruto menceritakan hal yang dialaminya diperjalanan.

"Oh syukurlah." Kushina mengusap dada tanda lega putrinya tidak apa-apa.

"Sudahlah kaa-chan, Naru mau bekerja dulu." Naruto menuju kearah pelanggan direstoran dan mencatat menunya. Disini Naruto bekerja sebagai pelayan.

"Selamat Datang!..." Naruto menyapa pelanggan dengan ceria. Berkatnya restoran ini jadi banyak pelanggan karena keceriaan yang disebarkan selain karna lokasi restoran mereka berada diseberang kantor perusahaan dan pabrik.

"Huh anak itu." Kushina hanya geleng-geleng kepala dengan sikap putrinya yang kelewat ceria itu.

...

.

.

.

Kediaman Uchiha

"Tadaima!" sapa Mikoto dari pintu depan.

"Hn"

"Hn"

"Itterashai"

"Kalian memang tidak berubah. Dingin dan irit kata." Mikoto mencibir suami dan kedua putranya yang irit kata. Dia menyuruh sopir mengambil belanjaannya dan menaruhnya di dapur.

"Dari dulu Uchiha memang seperti ini kaa-san." Sahut Uchiha Itachi putra sulungnya yang sedikit berbeda dengan ayah dan adiknya. Dia masih bisa mengucapkan kalimat yang panjang meskipun simple.

"Hn"

"Hn"

Tuh kan ayah dan adiknya yang super irit kata. Jika Itachi mirip kaa-sannya, adiknya Uchiha Sasuke seperti duplikat ayahnya Uchiha Fugaku.

"Itachi, Sasuke cepat kesini bantu kaa-san." Perintah Mikoto.

"Apalagi ini kaa-san!" keluh Itachi.

"Hn" dua huruf favorit lah yang terdengar dari Sasuke.

"Otouto, bisakah hilangkan sedikit kebiasaan anehmu itu!" nasihat Itachi.

"Ck, baka" decih Sasuke.

"Hei kau berani mengatai nii-sanmu ini?" tanya Itachi tidak percaya.

"Hn"

"Ck," Itachi sudah tidak mau meladeni Sasuke yang irit kata itu. Itachi sudah terbiasa dengan sikap dingin dan kaku adiknya. Itachi pun pernah berharap bisa menukar Sasuke dengan orang lain. Tetapi dia menghilangkan pemikiran aneh itu. Karna walau bagaimanapun sikap Sasuke, Sasuke tetap adiknya. Itachipun juga sangat menyayanginya.

Itachi menghentikan lamunannya dan beranjak kedapur membantu kaa-sannya tercinta. Itachi melihat kaa-sannya sedang mengeluarkan barang-barang belanjaan dari kantong plastik dan Sasuke membantu mengeluarkan barang-barang itu. Sedangkan Itachi mulai menyusun barang-barang dikulkas. Mereka mau membantu Mikoto karena ancaman Mikoto yang akan menghilangkan nama tomat dalam daftar kebutuhan sehari-hari. Entah mengapa para pria Uchiha suka sekali dengan yang namanya tomat, apalagi si Uchiha Bungsu. Setelahnya Mikoto mulai memasak makan siang. Keluarga mereka lebih suka berkumpul dirumah saat makan siang memakan masakan Mikoto dari pada keluar.

.

.

.

Di Sunagakure seorang pria berambut jingga duduk berhadapan dengan pria paruh baya berambut merah kehitaman. Dari ekspresinya mereka seperti sedang berdebat.

"Sudah kubilang aku tidak mengijinkanmu Kyuu!" seru pria paruh baya itu yang bernama Akashi.

"Ayolah Pak tua, kau tau aku sangat merindukan rubah kecilku itu!" bujuk Kyuubi.

"Kau kira kami tidak merindukannya juga?" balas Akashi cepat.

"Cih aku tau itu, tapi..."

"Kau tetap disini sampai tahun depan titik!" sebelum Kyuubi menyelesaikan ucapannya Akashi sudah memotongnya.

"Huh! Dasar kakek tua!" ucap Kyuubi ketus dan keluar ruangan plus suara bantingan pintu yang ditutup.

"Rubah itu benar-benar!" ucap Akashi sambil menghela nafas.

.

.

.

"Moshi-moshi Naru!" sapa Kyuubi yang saat ini tengah menelpon Naruto

/Moshi-moshi nii-chan/

"Bagaimana kabarmu Naru?" tanya Kyuubi.

/Baik nii-chan, nii-chan sendiri?/

"Nii-chan baik Naru, hanya saja nii-chan merindukanmu dan juga kaa-chan." Keluh Kyuubi.

/Huh nii-chan Naru juga rindu nii-chan. Tapi Naru tau nii-chan sedang bekerja keras demi Naru, kaa-chan juga/

"Begitulah Naru, pak tua itu tidak mengijinkanku menemuimu," seru Kyuubi sambil mengacak rambutnya frustasi.

/Jangan begitu nii-chan, bagaimanapun juga dia kakek kita/

"Nii-chan tau Naru. Tapi kenapa harus tahun depan boleh menemui kalian Naru?" Kyuubi masih tidak terima dengan keputusan kakeknya.

/Itu demi kebaikan kita nii-chan. Siapa tahu setelah nii-chan pulang, nii-chan tidak mau kembali kesana lagi/

"Kau benar Naru" Kyuubi menyetujui pendapat Naruto.

/Tuh kan nii-chan kebiasaan terlalu emosi, kalau nii-chan tidak bekerja lagi nanti siapa yang akan Naru pamerin sama teman-teman Naru dong? Masa Nagato nii-chan yang bisanya tebar pesona itu?/

"Ha ha kau bisa saja Naru, kau selalu membuat nii-chan berpikiran tenang Naru." Puji Kyuubi.

/Tentu, siapa dulu Naruto he he/

"Ya sudah kalau begitu nii-chan tutup dulu teleponnya, nii-chan mau ngelanjutin kerja" seru Kyuubi.

/Iya nii-chan, selamat bekerja/

"Jaa Naru"

/Jaa nii-chan/

Setelah menutup teleponnya Kyuubi kembali bekerja. Sekarang hatinya sudah kembali tenang.

.

.

.

Kushina menghampiri putrinya setelah Naruto mengakhiri panggilannya dengan Kyuubi. Kushina bertanya panggilan dari siapa dan Naruto mengatakan dari Kyuubi. Kushina hanya menganggukkan kepala kemudian mengajak Naruto pulang. Saat ini memang sudah menjelang malam, restoran mereka sudah waktunya tutup. Segera setelah membersihkan dan mengunci restoran mereka pulang. Diperjalanan pulang Naruto menceritakan kejadian yang dialaminya seharian ini. Ekspresinya berubah-ubah sesuai keadaan saat bercerita. Naruto menceritakan secara detail tak terkecuali pertemuannya dengan Uchiha Sasuke. Kushina hanya mendengarkan sesekali menimpali cerita Naruto.

.

.

.

...TBC...

.

.

.

Halo minna! Mimi datang kembali membawa chapter 3. Apa kalian udah bosen sama cerita mimi? Gak papa mimi sadar kok kalau cerita mimi itu idenya pasaran. Banyak typonya pasti. Ngebosenin karna tidak ada yang menarik. Ngaret! Apa lagi ntah masih banyak lagi. Tapi terima kasih buat yang masih nunggu cerita mimi ya. Oh ya padahal pairnya SasuFemNaru tapi adegan romance mereka belum juga muncul, gomen. Rencananya sih mau mimi masukin di chapter ini tetapi entah kenapa mood mimi kurang baik jadi mimi potong untuk chapter 4. Konfliknya belum ada ya? Konfliknya mulai terasa setelah chapter 4 mungkin. Mimi nggak bisa janji soalnya mimi masih amatiran belum bisa buat cerita yang bagus. Sebenarnya tadinya udah kepikiran adegan SasuFemNaru tapi karna masalah pribadi ide itu hilang jadi samar-samar. Ya begitulah akibat mimi habis uts dan jeng jeng nilai mimi anjlok sampai kedasar-dasarnya parah kan. Yee malah curhat*nyengir. And for megumichan and Rikatokato thanks for your review*sokbahasainggris. Sekian cuap-cuap dari saya, sampai jumpa chapter depan.