Disclaimer : Selamanya Yunho dan Jejoong milik diri mereka sendiri.

Main cast : Jung Yunho & Kim Jaejoong.

Gendre : Drama, Romance.

Theme : Winter

Lenght: 3 0f

Warning : BL (boys love). Yaoi. Mpreg. MalexMale. Penuh typo. Alur berantakan. Adegan kekeran. Bikin sarap kepala jadi tegang. Dan, DON'T LIKE DON'T READ. NO BASH my character in my fic.

Flame jangan tapi kalu konkrit sangat boleh. ^^

Shin SeounRa| Choco Momo

[Presented]

An Alternative Universe Fanfiction

Rain Fall

Story presented by © Sora Yagami.

Insipired by © Love in the ice_TVXQ

Cast and anything in this story © SMent & CJes Ent.

Chapter 2: It call a Destiny

Dia berusaha tetap meneruskan langkahnya yang tertatih merasakan sakit dipergelangan kaki kirinya ketika dia terjatuh ketika ujung sepatunya tanpa sengaja tersandung dan mendatangkan tawa menggema oleh para siswa penghuni kelas tanpa ada satupun yang berniat membantunya bahkan untuk sekedar berdiri bangkit dari jatuhnya.

Namja bermata musang itu berdecih pelan menanggapi kecerobohan teman sekelasnya itu, berusaha mengacuhkan hatinya yang berdesir pelan membisikan keinginan aneh agar dirinya beranjak dari duduk untuk menolong namja malang itu.

Mata mereka bersirobok. Entah kenapa, lagi-lagi perasaan familiar yang terasa asing itu menghinggapi benaknya setiap kali dia menatap mata besar yang bening itu menyapa penglihatannya.

Dia yakin mereka sama sekali tidak pernah bertemu sebelumnya dan dia tidak mengenal namja bernama Kim Jaejoong itu tidak lebih dari sekedar hubungan sebagai teman satu kelas karena memang kasta Jaejoong berada jauh dibawahnya dan selain itu dia baru saja kembali dari study panjangnya di Jepang. Dia selalu dikelilingi oleh orang-orang berwajah munafik yang menyembunyikan kelicikan mereka dibalik nama besar terpandang sedangkan Jaejoong hanyalah namja kutu buku yang berhasil diterima disekolah mewah ini karena mendapatkan beasiswa.

Hanya keberuntungan orang miskin. Kira-kira seperti itulah komentar yang para siswa lain yang seakan sedang mempertontonkan kecemburuan mereka pada kepintaran namja berkacamata tebal itu.

"Yunho Oppa, apa tidak kekantin. Aku sudah lapar, oppa mau menenamaniku kan?" tanyanya manja. Berusaha menarik perhatian namja tampan didepannya ini.

"Kau pergi sendiri saja Ahra, aku sedang malas."

Wajah cantik gadis bernama ara itu segera berubah cemberut. "Tapi Oppa. Aku tidak suka makan sendirian."

"Kau pergi saja dengan teman-temanmu." ucap Yunho tidak perduli tanpa melepaskan tatapan matanya pada seorang namja bertubuh mungil yang sedang berjalan tertatih menuju kursinya yang terletak dibarisan palong pojok. Berusaha mengusir kehadiran gadis yang terasa sangat mengganggu.

Sadar kehadirannya tidak diinginkan, gadis itu pergi menahan sakit hati sambil menghentakkan kedua kakinya kesal.

Disinilah dia sekarang, berdiri mematung sambil menatap hampa sebuah rumah mungil dengan cat putih yang telah mengelupas, sulur-sulur tanaman yang merambat hampir menutup separuh bagian rumah dan juga banyaknya semak-semak yang mulai meninggi semakin meyakinkan Yunho kalau tempat ini telah lama ditinggalkan begitu saja.

Melangkahkan kaki menapaki beranda yang berdebu lalu kemudian menarik pintu yang tidak tertutup dengan sempurna hingga menimbulkan suara derit yang mengerikan.

Yang pertama kali tertangkap matanya adalah sebuah foto keluarga yang tergantung miring didinding. Tangannya bergerak untuk mengusap perlahan permukaan kaca yang telah berdebu dan menampilkan gambaran sebuah keluarga bahagia dengan seorang ayah, ibu dan putra mereka.

"Aku sangat merindukanmu Boo. Kau ada dimana?" bisiknya lirih.

Sunyi. Hanya ada kesendirian yang berselubung rasa rindu.

Dia tidak akan pernah melupakan ketika Boo mengajaknya untuk bermalam dirumah mungil sederhana yang dipenuhi kehangatan ini.

Rasanya seperti kembali kemasa lalu.

Kilasan balik ketika mereka berjalan mengendap-endap seperti pencuri makan diruang tamu ini untuk mencapai kamar Boo yang terletak dilantai dua agar tidak ketahuan penghuni rumah melintas dikepalanya.

Flask back.

Dia ingat hari itu turun salju dengan sangat lebat dan nyaris berubah menjadi badai tetapi dia tetap nekat pergi keBusan hanya agar bisa bertemu dengan Boo dan mereka bermain lempar salju bercampur lumpur hingga waktu menjelang hampir malam.

"Bear, apa kau akan pulang setelah ini?" tanya Boo ketika mereka telah duduk berdampingan sambil menatap danau kecil yang permukaannya tertimpa kilauan senja.

Dia mengangguk. "Kemana lagi aku harus kembali."

"Tapi sebentar lagi malam. Kau kan masih kecil. Tidak baik kalau anak kecil bepergian jauh seorang diri."

Kata-kata Boo yang terkesan menasihati justru malah membuat tawa Yunho meledak seketika dan mendatangkan tatapan kesal dari Boo.

"Kenapa kau tertawa?" marahnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Yunho dengan gemas mencubit kedua pipi gembul itu hingga semakin memerah. "Kau lebih kecil daripada aku. Lihat saja tubuhmu. Kau pendek."

Boo mendelik kesal. "Bear jahat. Aku tidak pendek, hanya belum tinggi."

Yunho terkekeh semakin keras hingga nyaris tertawa. "Itu sama saja. Kau pendek."

"Aku tidak pendek." teriak Boo.

"Iya,"

"Tidak,"

"Iya,"

Merasa kalah argumen, Boo berdiri dari duduk dan kemudian melangkah menjauh darinya dengan wajah ditekuk. "Bear menyebalkan. Aku tidak pendek. Padahal aku ingin ajak Bear menginap dirumah, tapi bear malah jahat padaku."gerutunya.

Yunho segera mengejarnya Boonya yang melarikan diri dan menggenggam pergelangan tangan kecil itu.

"Mian Boo, Bear hanya bercanda. Jangan marah lagi ne," bujuknya sambil memasang wajah penuh senyum.

Boo membuang muka tidak perduli, rupanya bocah itu masih kesal pada beruangnya. Yunho sebisa mungkin menahan diri agar tawanya tidak meledak keluar dari mulutnya dan membuat temannya semakin kesal melihat reaksi Boo yang justru terlihat semakin menggemaskan.

"Malam ini aku akan menginap dirumahmu. Boleh kah?"

Boo mendongakkan wajahnya dan menatap Yunho dengan mata yang berbinar. "Sungguh? Kau mau menginap?"

Yunho mengangguk mantap. "Ne, jadi jangan marah lagi." ucapnya sambil mengusap pipi Boo lembut.

Boo menggeleng. "Ani, aku tidak marah. Ayo pulang." ajaknya, tetapi Yunho justru malah berjongkok didepan Boo dan membuat temannya itu hanya diam sambil menatap bingung.

"Ayo naik."

Boo hanya mengedipkan kedua bola mata besarnya bingung. "Aku tidak mau kau sakit lagi. Jadi aku akan menggendongmu."

Boo tersenyum girang sambil melingkarkan kedua lengan kecilnya dileher Yunho.

Kedua bocah kecil itu berjalan pelan menyusuri perumahan sederhana dengan jalanan yang sepenuhnya telah tertutup salju tebal sambil menyanyikan lagi tiga beruang. Hanya ada tawa dan canda mengiringi kebersamaan mereka.

"Bear, apa aku berat?" tanyanya cemas.

Yunho menggeleng. "Sama sekali tidak."

Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum kemudian Yunho membuka suara, mengutarakan apa yang tiba-tiba terbersit dikepalanya ketika mendengar suara merdu sahabatnya menyanyikan lagu anak-anak.

"Boo, suatu saat nanti aku berharap bisa seperti tiga beruang."

"Eum, aku tidak mengerti." ucap Boo polos. Dia memang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh temannya itu.

"Aku jadi appa beruang, kau jadi eommanya dan kita akan punya aegya yang cantik." entah kenapa wajah Yunho memerah ketika mengutarakan hal itu.

Tanpa sepengetahuan Yunho, Boo menyembunyikan wajahnya yang tersipu dipunggung temannya itu. Rasanya malu sekali meskipun sebenarnya dia tidak mengerti kenapa wajahnya terasa panas.

"Boo, kau mau kan?"

Boo mengangguk pelan yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Yunho. "Ne, aku mau." cicitnya.

Yunho terkekeh pelan mengingat kejadian paska pelamaran tidak terduga itu. Sungguh, dia sangat ingin bisa mengulang kembali masa paling membahagiakan itu, bersama kembali dengan Boo yang sangat dia rindukan. Tidak ada satuhal pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari namja kecil bermata indah itu, setiap saat tidak perduli dalam keadaan bagaimanapun yang dia inginkan hanya agar bisa kembali bertemu.

Sekarang dia berada didapur mungil yang dulu pernah menjadi bagian dari sebagian ingatan masa lalunya, mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan yang sekarang terlihat berantakan dengan debu tebal menutupi banyak bagian.

Rasanya dia seperti melihat kembali bayangan dirinya delapan tahun lalu, duduk persis ditempat dia duduk sekarang. Berdampingan dengan Boo yang merengek minta disuapi oleh ibunya sambil sesekali mengajak Yunho kecil bersenda gurau.

Seulas senyuman tulus tersungging dibibirnya, keluarga kecil sederhana yang mampu memberikan makna akan kehangatan yang sesungguhnya, yang mungkin tidak akan pernah bisa dia dapatkan dalam hidupnya yang kelam.

Menjajaki satu persatu anak tangga untuk menuju kesebuah kamar dengan nuansa biru pudar yang sekarang kosong melompong. Lemari dan semua yang dia ingat masih berada ditempat seharusnya, kasur kecil ditengah ruangan yang pernah mereka tempati berdua ketika malam pertama sekaligus terkahir dia bermalam dirumah kecil ini.

Saat dia menggendong Boo masuk kedalam rumah, mereka harus sebisa mungkin tidak tertangkap kedua orang tua Boo karena baju dan pakaian mereka yang begitu kotor akibat lumpur telah berhasil mencipatkan genangan becek diseluruh bagian lantai yang telah mereka lalui.

Tetapi meskipun mereka sudah berusaha agar sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara, pada akhirnya mereka berdua tetaplah tertangkap basah dan akhirnya dihukum untuk membersihkan genangan lumpur dilantai hingga benar-benar bersih setelah mengganti pakaian mereka yang berlumuran lumpur dan mendapatkan hadiah berupa camilan kentang goreng dari nyonya Kim.

Meski itu adalah kunjungan pertamanya dikeluarga temannya, tetapi kedua orang tua Boo menyambut kedatangannya dengan penuh kehangatan dan mengatakan kalau Boo kerap kali menceritakan tentang dirinya dan betapa bahagianya putra mereka karena bisa mendapatkan seorang teman.

Boo adalah anak kecil yang sangat pemalu juga cengeng. Dia selalu menangis kalau ada anak yang menganggunya karena wajahnya yang cantik juga perawakannya yang kecil seperti anak perempuan. Meskipun Boo selalu diejek, tetapi bocah kecil itu tidak pernah marah dan hanya menerima semua kata-kata cemohan orang-orang disekitarnya dengan senyuman. Hatinya memang secantik wajahnya, Yunho berbisik lirih untuk memuji betapa sempurnanya pribadi teman kecilnya itu.

"Aku pasti akan menemukanmu Boo. Aku berjanji." sumpah yang lebih dia tujukan untuk dirinya sendiri.

Dia bersumpah mereka pasti akan bisa bersama lagi seperti dulu, entah sejak kapan dia mulai menyadari betapa keberadaan namja kecil itu telah berubah dari sekedar dari hanya teman kecil menjadi obsesi besar dalam hidupnya.

Hari ini dia bahkan sengaja mendatangi rumah mungil ini dengan harapan bisa bertemu dan melihat bagaimana rupa teman kecilnya itu sekarang, tapi yang dia dapatkan hanyalah rumah kosong tidak berpenghuni hingga membuatnya terpaksa menelan kekecewaan karena rasa rindu yang kembali tertahan.

Dari bibi yang tinggal didepan rumah Boo, dia mengetahui kalau namja kecil itu sekarang telah hidup sebatang kara tanpa tahu apa yang sebenarnya telah menimpa keluarga kecil harmonis itu. Sayup-sayup berita yang santer terdengar kala itu adalah Tuan Kim yang bunuh diri karena putus asa setelah mengalami PHK hingga mereka harus hidup serba kekurangan dan tidak lama setelah kejadian itu, Nyonya kim menyusul kematian suaminya akibat kecelakaan. Kejadian tragis itu terjadi ketika Boo-nya masih sangat muda, yakini dua belas tahun dan semenjak itu pula tepat setelah pemakaman tidak ada satupun yang pernah melihat putra tunggal keluarga Kim kembali kerumah mereka.

.

.

.

Jaejoong memakai kembali mentelnya setelah membereskan semua barang-barang yang tadinya dia gunakan untuk membersihkan gedung mewah ini setiap pulang sekolah hingga seluruh bagian yang ditugasnya padanya telah bersih karena memang itulah tugasnya sebagai seorang office boy,. Seperti sekarang ini, dia baru bisa kembali pulang keflat kecilnya yang terletak dikawasan yang bisa terbilang kumuh untuk ukuran orang-orang yang hidup berkelimpahan uang ketika waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Ini adalah sebagian kecil resiko yang harus dia tanggung untuk sekedar bisa mendapatkan sedikit uang agar tetap bisa bertahan hidup.

Namja cantik itu berjalan keluar ruangan dengan langkah pelan menuju kearah tangga yang memang diperuntungkan bagia karyawan kecil seperti dirinya.

Sejak kecil dirinya memang tidak pernah menyukai kegelapan dan hal itu seakan menjadi momok tersendiri baginya ketika sekarang dia dihadapkan pada salah satu bagian gedung yang memang jarang digunakan hingga tidak ada apapun yang bisa ditemukan kecuali kesunyian, dia memang kerap kali harus melewati tempat sepi ini untuk bisa mencapai halte bus yang terletak persis dibelakang gedung. Jujur saja, sekarang ini dia sangat takut dan mulai berpikir untuk memutar jalan saja. Biasanya selalu ada temannya sesam office boys pergi untuk melewati tempat yang menurut sebagian orang sangatlah angker karena pernah terdengar teriakan kesakitan seseorang dan juga tangisan wanita yang memilukan, cerita yang oleh sebagain orang hanyalah takhyul itu cukup membuat buku kuduk Jaejoong meremang. Suasana yang remang-remang karena minimnya penerangan semakin memperburuk keadaan.

Awalnya Jaejoong hanya melangkah pelan sambil sesekali mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan tetapi semakin jauh dia mulai memacu kakinya semakin cepat hingga akhirnya benar-benar berlari karena rasa takut yang terlanjur menguasai pikirannya.

Jaejoong refleks menumpukan seluruh berat tubuhnya pada kedua lengan ketika kakinya tersandung sesuatu dan membuat keseimbangannya goyah.

Dan seketika itu pula nafasnya tercekat dikerongkongan. Seluruh tubuhnya terasa lumpuh ketika menyadari benda apa yang telah menghalangi jalannya.

Disana, tergeletak begitu saja didekat kakinya. Kepala berlumuran Darah yang telah terpotong dari tubuh dengan mata yang masih melotot tajam seakan ingin mengatakan betapa mata itu bahkan tidak sempat sekedar berkedip ketika nyawanya terlepas dari raga.

Andai saja jemarinya tidak bergerak cepat untuk membungkam mulutnya sendiri, sudah bisa dipastikan maka teriakan histeris akan berhasil lolos dari tenggorokannya.

Jaejoong berusaha menggerakan tubuhnya yang terasa begitu kaku sebelum seorang pria yang sedang berdiri ditengah ruangan sambil menggenggam katana yang membiaskan cahaya temaram lampu pijar berlumuran Darah yang telah digunakan untuk membantai sekelompok orang menyadari kehadirannya. Mencoba beringsut untuk sekedar menyembunyikan dirinya hingga bahkan tidak memiliki sedikit keberanian untuk sekedar menarik napas seolah detak jantungnya yang berdetak menggila dan membuat kehadirannya diketahui oleh sesosok namja yang berdiri dengan dikelilingi tubuh tanpa nyawa yang bergelimpangan disembarang arah.

Namun naas, belum sempat Jaejoong menggerakan kakinya untuk berlari, tanpa sengaja tangannya menyenggol tong sampah kosong yang tidak dia ketahui keberadaannya hingga terjatuh dan menciptakan suara gema memantul keseluruh penjuru gedung dan membuat namja yang berdiri membelakanginya itu menengokan kepalanya kebelakang.

Lari. Instingnya menjerit berteriak untuk menyelamatkan diri.

Dan hanya dalam sekejap mata bahkan sebelum dia berhasil memikirkan cara tercepat untuk melarikan dirinya, tubuh Jaejoong rubuh menghantam lantai ketika rasa sakit menyerang tengkuknya dan membuatnya kehilangan kesadaran.

Lenyapkan semua saksi mata dan singkirkan tanpa terkecuali. Adalah satu kalimat tidak tersurat yang harus dia patuhi ketika ada mata yang lain menyaksikan semua yang telah dia lakukan.

Katana yang melayang diudara itu terjatuh begitu saja dilantai menciptakan suara dentingan logam bertemu marmer yang dingin ketika sepasang mata musang itu memicing untuk menghalau bias cahaya yang terpantul dari seutas cincin yang dikenakan namja itu dilehernya.

"Apa lagi yang kau tunggu hyung? Bunuh dia. Dan lenyapkan semua saksi mata."

Alih-alih melakukan seperti apa yang dikatakan oleh dongsaengnya yang sedang menatap dengan sorot mata ingin membunuh tubuh tidak berdaya seorang kim Jaejoong, dia justru meletakkan kedua lengannya dibawah tubuh itu dan kemudian menggendongnya keluar dari gedung. Meninggalkan sang dongsaeng dengan decisan kesal.

To be continued.

R

E

V

I

E

W

If you don't mind?

Jadi? Bagian mana yang paling kalian sukai?

Add me, Sora Yagami.