Chapter 3
.
"So, I love you because the entire universe conspired to help me find you." - Paulo Coelho -
.
Satu bulan sebelumnya...
Hiruma masuk ke apartemen mewahnya di Amerika. Sudah dua tahun dia tinggal disini, dan tempat inilah yang membuatnya paling nyaman dibanding tempat-tempat lain. Hiruma melepas dasi dan membuka kancing paling atas kemejanya. Dia berjalan ke meja untuk melihat laptopnya. Cerberus, yang semakin hari semakin tua hanya bisa tidur terus selama Hiruma bekerja. Saat pulang malam pun, tetap tidur dan bersantai-santai di depan jendela besar ruang tengah Hiruma.
Hiruma menyalakan laptop, untuk melakukan webcam dengan manager utamanya yang bekerja di Jepang.
"Selamat malam Direktur Hiruma," salam Keith di layar laptop.
"Ada perkembangan?" tanya Hiruma langsung ke pokok utamanya.
"Belum ada. Pelamar lain sudah banyak yang masuk. Tapi sesuai perintah anda, bahwa saya hanya akan menerima lamaran dari Anezaki Mamori."
"Benar."
"Apa saya harus menaruh brosur itu di perpustakaan kota tempatnya bekerja?"
"Tidak perlu. Kalau seperti itu, email yang masuk akan tambah banyak."
"Mungkin karena waktu satu bulan itu akan memberatkannya karena dia sedang menjalani S2?"
"Aku tahu memang itu masalahnya. Jadi ditunggu saja."
"Baik. Sesuai perintah anda. Saya akan menghubungi anda saat sudah ada perkembangan," ujarnya. "Kalau begitu selamat malam. Selamat beristirahat."
Hiruma menutup layar webcam-nya. Hiruma memang sudah jarang pulang ke Jepang. Terakhir dia kembali kesana saat setengah tahun lalu untuk mengurus masalah di perusahaan utama mereka. Hiruma memang lebih memegang perusahaan yang ada di Amerika ini, sedangkan di Jepang, manager sekaligus tangan kanan Hiruma, Keith, yang mengurus segala sesuatunya disana. Karena memang, perusahaan pertama mereka adalah yang di Amerika, sedangkan yang di Jepang adalah anak dari perusahaan.
Masalah yang dihadapi Hiruma cukup rumit. Dua tahun lalu, tiba-tiba saja kakeknya yang tinggal di Amerika pulang, dan meminta Hiruma untuk menjadi pewaris perusahaan games miliknya yang sudah diambang bangkrut. Dia butuh seseorang yang lebih muda untuk mengurus perusahaannya. Hiruma tidak bisa menolak. Sifat Hiruma yang mengancam itu bukan turunan dari ayahnya, tapi dari kakeknya. Jadi, kakeknya akan menggunakan segala cara, agar Hiruma mau ikut dengannya ke Amerika. Dan sebagai tambahan, Hiruma tidak boleh berhubungan lagi dengan siapapun yang ada di Jepang kecuali keluarganya. Namanya pun diganti, menjadi nama keluarga kakeknya. Dan hanya Keith-lah yang tahu dan selalu memanggil Hiruma dengan nama Jepangnya.
Hubungannya dengan Mamori pun harus berakhir. Hiruma memang meninggalkannya. Tapi Hiruma berjanji untuk kebaikannya sendiri, bahwa dia akan mengambil Mamori kembali. Dia hanya butuh waktu, dia harus menunggu sampai kakeknya mengakui semua jerih payahnya dan mau mengabulkan permohonannya. Dan akhirnya waktu itu tiba. Jadi dengan cepat dia menyusun rencana ini.
Ya, rencana yang dia susun matang-matang dengan bantuan Keith. Dia memberitahu rencananya, dan Keith yang mengurus semuanya. Dia yang memberitahu HRD untuk membuat brosur lowongan kerja, dan Keith pula yang memberitahu beberapa pihak tentang rencananya ini. Tentang lowongan kerja untuk memancing Mamori kembali kepadanya.
- End of flashback -
.
.
Setelah mengurus cuti di kampusnya seharian kemarin setelah dari perusahaan, minggu pagi ini akhirnya Mamori akan melakukan penerbangannya ke Amerika. Keith bilang kalau Mamori tidak perlu memakai pakaian formal, karena dia baru akan memulai kerja hari senin. Jadi, sekarang Mamori hanya memakai celana jins biru panjang dan sheer panel sleeveless shirt kuning dengan blazer putih di tangannya, dipadankan dengan wedge cordova putih. Cukup casual menurutnya.
Mamori membawa satu koper besar dan tas selempang kecil. Tadi dia diantar sampai bandara dengan Suzuna yang berkaca-kaca sekaligus gembira mengantarkan kepergiannya. Mamori hanya bisa tersenyum melihat Suzuna yang seperti itu.
Dua belas jam lebih Mamori di pesawat. Dia akhirnya tiba di bandara New York, masih di tanggal yang sama, namun di jam yang berbeda dengan di Jepang. Malah bahkan, waktu disini lebih pagi dibanding saat dia berangkat dari Jepang tadi.
Mamori berjalan dan melihat seseorang memegang kertas yang bertuliskan namanya. Bapak itu sudah lumayan tua, mungkin umurnya hampir enam puluh tahun.
Mamori lalu menghampirinya dan tersenyum. "Hello, saya Anezaki Mamori," sapa Mamori dalam bahasa Inggris, karena orangtua itu tidak terlihat seperti orang Jepang.
Kakek itu membungkuk lalu berkata, "tuan muda sudah menunggu anda. Silahkan ikut saya."
Mamori lalu berjalan mengikuti kakek itu. Sekarang dia tambah tidak mengerti. Siapa kakek ini? Tuan muda? Jadi kakek ini semacam pelayan pribadinya? Dan kalau dia punya pelayan pribadi yang berbicara bahasa Inggris, berarti direktur itu juga bisa bahasa Inggris. Jadi untuk apa Mamori disini!? debatnya dalam hati.
"Jadi, paman. Apa tuan muda, oh maaf, maksud saya direktur bisa bahasa Inggris?" tanya Mamori tidak ragu lagi karena dia sudah tidak tahan dengan kebingungannya sendiri.
"Tentu saja bisa, Nona." jawabnya lalu membukakan pintu mobil untuk Mamori.
Mamori masuk dan kakek itu menutupnya lalu berjalan memutari mobil untuk duduk di kursi samping pengemudi, dan mobil pun langsung jalan.
Mamori tetap sibuk dengan pikirannya sendiri sambil melihat ke jalanan. Keanehan itu semakin jelas sekarang, direktur itu bisa berbahasa Inggris. Jadi sudah jelas kalau dia merasa ditipu disini. Tapi Mamori tidak boleh berpikiran negatif dulu. Bisa jadi dia juga salah paham dengan orang yang dimaksudnya, atau dengan orang yang dimaksud kakek itu. Atau mungkin juga dia bekerja untuk orang lain, bukan untuk tuan muda atau siapapun itu. Jadi Mamori tetap berusaha tenang.
"Maaf, paman. Saya boleh tahu siapa nama direktur yang mempekerjakan saya?"
Kakek itu menoleh ke Mamori dan menunduk sedikit. "Beliau tuan muda Andersen."
"Orang Amerika?"
"Bukan Nona, beliau orang Jepang."
Mamori mengangguk dan berterima kasih. Dia kembali berkelut dengan pikirannya. Jadi direkturnya memang orang Jepang dengan nama Amerika. Mamori menyesal. Seharusnya dia bertanya-tanya dulu mengenai direktur itu kepada Keith. Mamori pikir kalau direktur mereka itu lelaki tua yang sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris dan membutuhkan jasanya. Tapi sekarang, sudah jelas. Yang mempekerjakannya adalah lelaki muda yang sangat mengerti bahasa Inggris.
Tiga puluh menit Mamori sudah sampai di suatu tempat. Supir itu membukakan pintu untuk Mamori, setelah itu mengambil koper besar di bagasi. Mamori mendongak melihat apartemen super mewah di depannya. Jadi, direktur muda itu tinggal di apartemen mewah seperti ini. Wajar saja. Tapi tunggu dulu. Mamori lalu menoleh ke kakek itu.
"Saya akan bertemu dengan direktur disini?" tanya Mamori cepat.
"Ya Nona," jawab kakek itu.
"Tapi ini kan, apartemen?"
"Betul. Ini apartemen tuan muda."
"Kenapa saya harus bertemu dengannya di apartemennya? Kenapa tidak di kantor atau tempat lain?"
"Maaf Nona. Tuan muda memerintahkan saya seperti itu."
Mamori menghela napas. Kakek ini terlihat tidak tahu apa-apa dan hanya menjalankan perintah saja. Mamori lalu mengikuti kakek itu masuk ke dalam apartemen dan naik lift. Ternyata apartemen direktur itu ada di lantai 23, dari 25 lantai yang ada di apartemen ini.
Mereka berjalan di lorong panjang dan Mamori begitu terpana dengan dekorasi apartemen ini. Lampunya, lukisannya, bahkan karpetnya begitu berkelas.
"Jadi direktur sudah ada di dalam?" tanya Mamori.
"Beliau bertemu dengan klien pagi ini. Jadi Nona diminta untuk menunggu."
Kakek itu berhenti di kamar nomor 2311. Dia lalu memasukan password untuk membuka pintu. "Silahkan masuk. Tuan muda akan kembali sekitar setengah jam lagi."
Mamori mengangguk. "Terima kasih," balas Mamori dan kakek itu meninggalkannya di dalam apartemen orang yang sama sekali tidak Mamori kenal. Dan orang seperti apa yang memasukkan orang tidak dikenal dan menyuruhnya menunggu sendirian di apartemen mewah seperti ini.
Mamori menarik koper besarnya sampai ke ruang tengah. Dia lalu terpana dengan pemandangan kota dari jendela besar. Saat melangkah untuk mendekat ke jendela itu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang berlari ke arahnya dan menubruknya. Mamori terjatuh ke belakang dan menatap sesuatu di atas pangkuannya.
"Cerberus?" sahut Mamori. Dia lalu mengamati lagi anjing cokelat tua yang tengah terlihat senang menatap Mamori. "Kenapa..."
Mamori tidak mungkin salah mengenali Cerberus. Tidak ada anjing lain yang seperti ini di sekitar Mamori. Yang membuatnya tambah yakin ialah kalung yang dikenakannya. Lagipula, sikap seolah sudah mengenal Mamori inilah yang membuatnya yakin kalau ini Cerberus.
Mamori lalu bangun dari duduknya dan bergegas kembali ke pintu. Namun pintu itu terkunci otomatis dan Mamori sama sekali tidak tahu password-nya. Semua sekarang nampak jelas. Kenapa dia disini dan kenapa semua bisa terjadi seperti ini. Ternyata tuan muda dibalik semua ini adalah orang itu. Si brengsek yang sudah meninggalkan Mamori dua tahun lalu.
Mamori lalu kembali ke ruang tengah untuk mencari bukti kalau pemilik apartemen ini adalah Hiruma. Dia berhenti di atas meja dan mendapati laptop lama milik Hiruma disana. Dia lalu membuka pintu kamar dan melihat jaket lama Hiruma terbaring di atas kasur, serta senapan kesayangannya yang diletakkan di samping rak tempat tidur. Semuanya milik Hiruma.
Mamori mendengar seseorang menekan password apartemen. Sesaat setelah itu suara pintu terbuka dan tertutup lagi. Mamori keluar dan menutup pintu kamar. Mamori menoleh. Sekarang, dia terpaku melihat seseorang yang kini tengah ada di hadapannya.
"Kau sudah datang, heh?" tanya orang itu dengan seringaian khasnya. Dia dengan santai berjalan ke kulkas dan mengambil kaleng minuman dan meminumnya.
Mamori, yang masih terdiam terpaku, sama sekali tidak tahu apa yang dirasakannya. Orang ini, seseorang yang paling ingin dia temui, dan yang telah menghancurkan kehidupannya. Dia merasa kesal sekaligus terkhianati. Tapi yang jelas, amarah lah yang lebih mendominasi dirinya saat ini.
"Kau lelah? Kalau begitu tidur saja dulu di kamarku," sahutnya lagi.
Mamori menahan napasnya dalam-dalam. Dia bahkan tidak ingin bersuara untuk orang ini. Dia tidak ingin menghabiskan tenaganya hanya untuk memarahi orang yang bahkan sama sekali tidak terlihat bersalah dan malah bersikap santai setelah semua yang terjadi dalam hidup Mamori.
Mamori lalu berjalan ke kopernya dan siap untuk keluar dari apartemen ini.
"Mau kemana?"
"Buka pintunya. Aku mau kembali ke Jepang."
"Silahkan saja. Itu kalau kamu bisa membuka password sialan itu."
Hiruma lalu melepas jasnya ke atas sofa. Sekarang dia hanya mengenakan kaus hitam biasa. Dengan santai Hiruma duduk menyilangkan kakinya dan menyalakan televisi.
"Kau..," geram Mamori masih menghadap pintu, namun Hiruma masih bisa mendengarnya.
Dan Hiruma hanya membalas dengan seringaian di wajahnya.
.
.
"Kau tidak lelah berdiri saja disana?" tanya Hiruma, karena Mamori sudah lebih dari lima belas menit berdiri bersandar di dinding dengan tangan dilipat di depan dada tanpa bicara atau menatap ke Hiruma sekalipun. "Sampai kapan kau akan diam dan tidak mau bicara padaku, heh?"
Mamori tetap tidak menjawab. Dia lalu berjalan melewati sofa ke arah meja makan dan duduk di kursinya.
Hiruma membiarkan Mamori yang duduk membelakanginya di kursi meja makan. "Kau lapar?" tanya Hiruma. "Di kulkas ada buah. Kau ambil saja."
Mamori tetap tidak bergerak. Dia sama sekali tidak mau melakukan apapun yang dikatakan Hiruma kepadanya. Mamori menaruh kepalanya di atas meja. Dia lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi pikirannya juga lelah memikirkan apa yang sudah terjadi padanya. Di pesawat pun dia tidak tidur. Jadi sekarang Mamori sangat mengantuk.
Hiruma yang juga ikut mendiamkan Mamori selama beberapa menit tadi, menyadari kalau Mamori sudah tertidur di meja makannya. Hiruma lalu bangun dan menghampiri Mamori yang sudah tertidur pulas. Dengan perlahan Hiruma menggendong Mamori dan membawanya ke dalam kamar. Setelah membaringkan Mamori di atas tempat tidur, Hiruma lalu menyelimutinya dan mengusap ujung kepalanya. "Dasar bodoh."
.
.
"Kau! Berani-beraninya menyentuhku!" Kesal Mamori, membuka keras-keras pintu kamar dan melihat Hiruma di meja depan laptop yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mamori baru saja bangun setelah tertidur pulas selama beberapa jam, dan menyadari kalau dia sudah tidur di dalam kamar.
"Apa sih. Aku hanya memindahkanmu ke dalam, bodoh," balas Hiruma.
"Aku mau pulang! Cepat buka pintunya!" Mamori yang sudah tidak tahan, akhirnya meledak begitu saja.
"Kau tidak bisa pulang. Kau masih ada kontrak satu bulan denganku."
"Kontrak apa!? Kau menipuku!"
Hiruma diam dan menutup laptopnya. Dia lalu berjalan mendekat ke Mamori.
"Jangan mendekat. Berani mendekat, aku akan teriak," ancam Mamori.
Hiruma menyeringai. "Teriak saja. Bukannya dari tadi juga kau sudah teriak-teriak?"
"Aku membencimu!" maki Mamori
Senyum Hiruma makin melebar. "Aku tahu kau mencintaiku."
Mamori lalu membalikkan badan. "Dasar brengsek!" Dia lalu menutup pintu kencang-kencang dan menguncinya.
.
.
To Be Continue
Saya bingung... Tadinya saya mau kasih judul fic ini, "Trap of Love", tapi saya ubah jadi "Love Trap". Sama aja kan ya artinya? XD
Oh iya, tadinya judul awal fic ini "Little Did I Know", tapi ga jadi karena judulnya mirip sama IYLM, LMK. Jadilah saya ubah judulnya. Walaupun sepertinya banyak yang menduga kalau ini cerita oneshot XD
Nah, maaf karena update lama. Karena berhubung saya buntu ide untuk menulis chapter 11 (!?) ! Duh, jadi kebongkar deh fic ini akan jadi berapa chapter XD
Okey, yang sabar ya nunggu chapter 4~!
Review?
Salam: De
