Terlihat Naruto berdiri di depan cermin datar yang berada dalam satu lemari pakaian miliknya. Naruto bersiul kencang sambil menyisir rambutnya yang pirang jabrik dengan perasaan yang senang sekali. Karena hari Sabtu ini, ia akan mengajak kekasihnya untuk pergi kencan. Hanya berdua saja.
"Baiklah, semuanya sudah selesai," sahut Naruto tersenyum sambil mengamati penampilannya yang sangat keren."Aku akan segera pergi ke rumah Koneko-chan. Aku akan membuatnya senang hari ini."
Hari ini, Naruto memakai sebuah baju kaos berwarna biru dipadu dengan jaket berwarna jingga yang bertudung. Bawahannya adalah celana jeans berwarna biru. Lalu tercium bau parfum yang wangi dari tubuhnya. Naruto benar-benar gagah.
Ia sangat bersemangat di hari kencan pertamanya dengan seseorang yang menjadi cinta pertamanya dan juga kekasih pertamanya. Siapa lagi kalau bukan si Toujou Koneko. Gadis monster yang sangat ditakuti di sekolahnya dan tidak ada yang berani mendekatinya. Namun, pada akhirnya si gadis monster itu bertekuk lutut kepadanya dan menjadi kekasihnya sekarang. Koneko menjadi gadis yang paling berarti dalam hidupnya sekarang.
Teringat dengan Koneko, Naruto tersenyum sambil meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja belajarnya. Di mana di layar utama ponselnya, terpapang foto sang kekasih. Naruto tidak berhenti tersenyum menatap foto Koneko tersebut. Wajahnya merona merah.
"Koneko, my cute girlfriend," gumam Naruto lembut.
.
.
.
Disclaimer :
Naruto : Masashi Kishimoto
High School DxD : Ichiei Ishibumi
KONEKO, MY CUTE GIRLFRIEND
By Hikari Syarahmia and my story
Pairing : Naruto x Koneko
Rating : T
Genre : romance/humor/hurt/comfort
Writing Time : Jumat, 19 Juni 2015
.
.
.
MY CUTE GIRLFRIEND
Chapter 3 : Kencan pertama yang kacau (Part. 1)
.
.
.
Naruto turun dari tangga. Ia ingin menemui kedua orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga.
Tampak sang ayah yang berambut pirang dan bermata biru. Ia sedang membaca sebuah koran sambil menyesap secangkir teh hangat. Lalu sang ibu berambut merah panjang yang diikat ponytail sedang mempersiapkan sarapan pagi. Keduanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga sang anak laki-laki datang menghampiri mereka.
"Ohayou, Tousan dan Kaasan!" sapa Naruto yang duduk tepat berhadapan dengan sang ayah.
"Ohayou, Naruto-chan!" balas ayah dan ibu.
Naruto mengambil sepotong roti bakar yang berada di atas piring melamin. Lalu roti bakar itu dimakannya dengan segera.
Sang ayah yang bernama Minato sejenak memperhatikan Naruto dengan teliti.
"Hm, Naruto-chan! Ada apa gerangan ini? Kamu kelihatan keren hari ini. Kamu mau kemana?" tanya sang ayah dengan tatapan heran.
Naruto menelan roti yang sudah ia kunyah ke dalam tenggorokannya. Ia langsung menjawab dengan jujur.
"Aku mau pergi kencan dengan kekasihku sekarang, Tousan."
BRAK!
Tiba-tiba sang ibu menancapkan pisau ke atas meja.
"APA? KAMU MAU PERGI KENCAN DENGAN KEKASIHMU, NARU-CHAN?" seru sang ibu keras. Membuat sang ayah dan Naruto kaget setengah mati karena melihat perubahan drastis dari sang ibu yang bernama Kushina itu.
Wajah sang ibu menjadi hancur seperti monster. Rambutnya yang merah berkibar-kibar di udara seperti bendera. Ada aura hitam membunuh tengah merayap-rayap di belakang tubuhnya sekarang.
Wajah Naruto pucat pasi melihatnya. Pasalnya sang ibu tidak suka kalau Naruto mempunyai kekasih. Ibunya sangat protektif terhadap Naruto. Sampai urusan cintanya juga, sang ibu akan ikut campur. Itulah mengapa Naruto tidak pernah berani menembak seorang gadis yang menjadi incarannya. Hingga hatinya tertambat kepada gadis imut seperti Koneko. Karena sifat Koneko sama persis dengan sifat ibunya. Jadi, Naruto memberanikan dirinya untuk menembak Koneko. Atas bantuan sahabat karibnya yaitu Uciha Sasuke.
'Gawat, aku malah keceplosan begini sih? Dasar, aku payah sekali!' batin Naruto panik di dalam hati.
Sang ibu menatap tajam Naruto. Naruto merasa horror sekarang.
"NAMIKAZE NARUTO, SUDAH BEBERAPA KALI KAASAN BILANG PADAMU KALAU KAMU TIDAK BOLEH PACARAN DULU. PACARAN ITU AKAN MENYITA WAKTU BELAJARMU. APALAGI KAMU ADALAH KETUA OSIS DI SEKOLAHMU. KAMU HARUS MEMBERI CONTOH YANG BAIK UNTUK TEMAN-TEMANMU. KAMU HARUS BELAJAR DENGAN BAIK ..."
BLA ... BLA ... BLA ...
Kushina terus berpidato panjang lebar. Minato hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Naruto memasang wajah sewot untuk sang ibu.
"Mengerti? Apakah kamu mengerti, Naru-chan?"
"Iya, aku mengerti."
Naruto tetap berwajah sewot sambil memakan habis roti bakarnya.
"Bagus. Tapi, Kamu tidak boleh pacaran dulu. Kaasan mau kamu fokus belajar dan bersikaplah tegas. Lalu putuskan pacarmu itu sekarang juga."
Naruto membelalakkan matanya mendengarnya. Ia pun tercekik.
"Apa? Memutuskan pacar? Huk ... Huk ... Huk ...," Naruto buru-buru mengambil segelas air untuk mengusir roti bakar yang tersangkut di tenggorokannya. Lantas diteguknya air putih itu sampai tandas.
Kushina terdiam. Wajahnya pun menjadi cemas.
"Naru-chan, kamu tidak apa-apa?" tanya sang ibu panik melihat anaknya tercekik.
"Iya. Tidak apa-apa, Kaasan," jawab Naruto yang sudah selesai minum. Akhirnya roti itu hanyut sampai ke lambungnya.
Minato hanya mampu terdiam menyaksikan ibu dan anaknya saling bersitegang.
Naruto menghelakan napasnya. Akhirnya dia selamat.
"Naru-chan, dengar tidak dengan apa yang Kaasan bilang tadi?"
"Iya, dengar. Tapi ..."
Naruto berwajah datar. Kushina mengerutkan keningnya.
"Tapi, apa?"
"Sampai kapanpun aku tetap berpacaran dan aku minta izin pergi kencan kepada Kaasan dan Tousan. AKU PERGI!"
SREK!
Secara langsung Naruto kabur sambil mengembat satu potong roti bakar di piring sang ayah. Minato yang ingin makan roti bakarnya. Ia cuma bengong melihat roti bakarnya diembat oleh sang anak. Sementara sang ibu sudah berwajah mengerikan melebihi wajah monster yang sangat mengerikan. Wajahnya merah padam. Kedua tangannya mengepal kuat.
"NARU-CHAAAAN! KAMU MAU KEMANA? DASAR, ANAK YANG MENYEBALKAAAAAN!"
Teriakan kemarahan sang ibu menggema sampai ke jagad raya sana. Membuat siapa saja akan pingsan mendengarnya.
.
.
.
Di sisi lain, di rumah Koneko.
Tampak Koneko yang sedang mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia kebingungan seperti gerakan setrika. Sang kakak yang duduk di tepi tempat tidur. Ia bengong melihat adiknya kasak-kusuk.
"Koneko-chan, kamu kenapa? Kenapa panik begitu?" tanya sang kakak yang bernama Kuroka.
Koneko melirik sang kakak perempuannya itu. Ia berhenti mondar-mandir dan bersimpuh di depan kakaknya.
"Aku ... Aku ... Gugup," sahut Koneko polos.
BRAK!
Sang kakak terjungkal dari tempat tidur. Koneko sweatdrop di tempat.
"Kenapa?" tanya Koneko heran.
Kuroka bangkit berdiri.
"Kenapa kamu malah gugup? Padahal cuma kencan, kan?"
"Iya sih. Tapi, ini kencan pertamaku dengan Naruto-kun. Aku benar-benar gugup, Kuroka-nee. Apa yang harus kulakukan?"
Koneko berwajah kusut. Kuroka berwajah datar. Lantas ia bersimpuh dan menghadap ke arah Koneko.
"Baiklah, Nee-chan akan membantumu agar kencan pertamamu sukses."
"Benarkah?"
Wajah Koneko berbinar-binar senang.
"Iya, benar."
Kuroka manggut-manggut. Koneko tertawa senang.
"Yang pertama. Aku akan mendandanimu menjadi cantik agar Naruto semakin mencintaimu," sambung Kuroka yang mulai pergi ke arah lemari pakaian Koneko. Koneko memperhatikannya dengan serius.
Kuroka mengeluarkan beberapa pakaian milik Koneko dari lemari pakaian. Membuangnya satu persatu setelah memikirkan pakaian yang tidak cocok buat Koneko. Tapi, tak lama kemudian, Kuroka menemukan pakaian yang cocok buat Koneko. Wajah Kuroka terang benderang seperti lampu teplok.
"AHA, INI DIA!" seru Kuroka tertawa senang. Koneko hanya ternganga melihatnya.
Setelah itu, Koneko didandani habis-habisan oleh Kuroka. Itu memakan waktu hampir setengah jam.
.
.
.
Pukul delapan tepat, pintu rumah Koneko diketuk seseorang.
TOK! TOK! TOK!
Kuroka yang membuka pintu tersebut.
KRIEET!
"Ya, siapa?" kata Kuroka saat melihat siapa yang berdiri di balik pintu.
Rupanya Naruto. Ia tersenyum manis untuk Kuroka. Kuroka terpana melihatnya. Ia menganga seperti ikan kehabisan napas. Ia membeku di tempat.
'Hyaaa, dia tampan sekali,' batin Kuroka yang terkagum-kagum melihat penampilan Naruto yang memang gagah.
Naruto mengangkat salah satu alisnya. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Kuroka.
"Halo, kamu kenapa?" tanya Naruto. Kuroka masih mematung. Wajahnya memerah rona. Seakan-akan ada bunga-bunga mekar yang beterbangan di sekitar Kuroka sekarang. Saking terpesonanya.
CTEK!
Seseorang menjentikkan jarinya di telinga Kuroka. Kuroka kaget setengah mati. Lamunan indahnya buyar seketika.
"Eh, ada apa?" tanya Kuroka sadar dan langsung menoleh ke arah seseorang yang telah menjentikkan jarinya tadi.
Ternyata Koneko. Ia sewot karena sang kakak terpaku memandangi Naruto dengan aneh. Kuroka menyadari maksud perubahan wajah Koneko itu.
"Kuroka-nee, kamu kenapa?" tanya Koneko masih berwajah sewot. Ia cemburu karena Kuroka memandangi Naruto dengan lama.
"Hahaha, tidak ada. A-ano i-itu ada pacarmu, Koneko," Kuroka tertawa cengengesan sambil menunjuk ke arah Naruto. Koneko langsung melihat ke arah Naruto.
JREENG!
Naruto dan Koneko sama-sama terpaku di tempat. Mereka ternganga karena saling terpesona bersama-sama. Kuroka bengong di tempat.
'Ada apa ini?' batin Kuroka bingung di dalam hatinya.
Lalu Kuroka menjentikkan dua jari tangannya untuk menyadarkan Naruto dan Koneko.
CTEK! CTEK!
Naruto dan Koneko sadar juga. Wajah mereka sama-sama memerah.
"Kalian berdua kenapa melamun begitu?" tanya Kuroka menatap Naruto dan Koneko secara bergantian."Kalian berdua jadi pergi kencan, kan?"
"Ja-jadi, Kuroka-nee," jawab Koneko agak gugup. Ia mengangguk. Naruto juga mengangguk.
"Tapi, kamu siapanya Koneko?" Naruto menatap Kuroka dengan penuh tanda tanya.
Kuroka melirik Naruto. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Naruto.
"Aku kakaknya Koneko. Kenalkan, namaku Toujou Kuroka."
Naruto juga tersenyum sambil menyambut tangan Kuroka.
"Aku Namikaze Naruto. Salam kenal buat Nee-san."
Kuroka terpaku lagi saat menatap Naruto. Ia terpesona tanpa kata-kata.
'Naruto ... Dia memang tampan ya. Beruntung sekali Koneko mendapatkannya. Ah, aku iri,' batin Kuroka di dalam hatinya.
Naruto menjadi heran lagi. Tangannya digenggam kuat oleh Kuroka.
KIITS!
Mata emas Koneko menyala dan bersinar. Api cemburunya sudah mulai terbakar saat menyaksikan tangan Naruto masih dipegang oleh Kuroka. Koneko kesal melihatnya.
"KUROKA-NEE! LEPASKAN TANGANMU ITU!" seru Koneko yang keras dan membuat Kuroka kaget setengah mati dari kekagumannya terhadap Naruto. Naruto juga kaget melihat perubahan wajah dan sikap Koneko itu.
"Koneko-chan ..." wajah Naruto pucat pasi. Ia tidak menyangka Koneko sudah berwajah seperti monster yang akan mengamuk.
BATS!
Tangan Kuroka ditepis keras oleh Koneko. Lalu Koneko menarik tangan Naruto dengan cepat.
"Ayo, kita pergi, Naruto-kun!"
"Eh? Eh? Eh? Koneko-chan. Tunggu dulu!"
Koneko tidak menoleh sama sekali ke arah Naruto. Ia kesal. Ia marah sekali. Ia cemburu. Ia benar-benar sudah berada di puncak gunung berapi sekarang.
Naruto terus terseret oleh langkah Koneko. Hingga tiba di dekat motor milik Naruto itu, Koneko melepaskan genggaman tangannya dari Naruto.
"Ayo, hidupkan motormu! Kita pergi sekarang!" pinta Koneko yang masih memasang wajah sewot.
Naruto cuma mengangguk patuh. Dia tahu kalau suasana hati Koneko sedang mengalami kebakaran alias panas. Ia hanya mampu terdiam tanpa kata-kata.
BRUUUM!
Motor pun hidup dan menderu. Koneko dan Naruto sudah naik di atas motor tersebut. Mereka mengenakan helmet untuk melindungi kepala mereka.
Lalu Koneko memeluk erat perut Naruto. Naruto bersiap menaikkan gas motornya.
"Koneko-chan, kamu sudah siap?" tanya Naruto hati-hati.
"Ya," jawab Koneko singkat dengan nada singkat. Cukup membuat hati Naruto terkena tajamnya kekesalan Koneko.
BRUUUM!
Motor yang dikendarai Naruto pun pergi meninggalkan tempat itu. Bersama Koneko yang masih berwajah manyun.
Di balik pagar rumah Koneko, Kuroka sedang menelepon seseorang.
"Halo ... Kaasan ..."
["Ya, Kuroka. Ada apa?"]
"Cepat pulang. Aku ingin Kaasan menemani aku ke suatu tempat."
["Memangnya ada apa?"]
"Nanti saja kuceritakan. Pokoknya Kaasan cepat pulang."
["Baiklah, kalau begitu."]
PIP!
Setelah itu koneksi panggilan ponsel ditutup oleh Kuroka. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana panjangnya.
SET!
Kuroka memakai kacamata hitam dan melipat tangan di dada.
"SAATNYA AGEN RAHASIA KELUARGA TOUJOU BERAKSI!"
.
.
.
Koneko dan Naruto sedang pergi keliling kota Konoha tanpa tujuan yang jelas. Mereka saling terdiam tanpa kata-kata. Karena Koneko masih kesal terhadap Naruto. Naruto telah membuatnya cemburu.
Naruto terus mengendarai motornya dengan santai. Sedangkan Koneko yang duduk di belakang Naruto. Koneko masih memasang wajah manyun.
"Koneko-chan, kita mau kemana?" tanya Naruto sekeras mungkin karena suara berisik yang ditimbulkan dari deru berbagai kendaraan yang lalu lalang di jalan. Menghalangi suaranya yang ingin keluar dari tenggorokannya.
Koneko tidak menjawab. Dia masih terdiam membisu. Naruto pun menghelakan napasnya.
Bagaimana caranya untuk membujuk Koneko agar Koneko tidak marah kepadanya lagi?
Motor yang dikendarai Naruto terus berjalan dan berjalan. Hingga menemukan sebuah tempat yang ramai dan bising. Naruto memutuskan berhenti di tempat itu.
CIIIT!
Motor pun berhenti tepat di parkiran yang tersedia di dekat pagar besi. Naruto dan Koneko turun dari atas motornya.
"Ayo, kita pergi ke dalam sana!" pinta Naruto sambil menarik tangan Koneko. Koneko hanya mengangguk dengan muka yang masih manyun.
Maka mereka berdua masuk ke dalam tempat yang sangat ramai dikunjungi orang-orang. Suasananya sangat bising dan terdapat macam-macam permainan di dalamnya. Ternyata tempat itu adalah Konoha Garden. Taman bermain seperti Disneyland.
Setelah membayar tiket masuk ke tempat itu, Naruto dan Koneko terlihat berjalan di antara orang-orang yang lalu-lalang. Mereka berjalan menyusuri jalan paving block yang di kedua sisinya dipenuhi pohon-pohon cemara. Naruto melirik ke belakang. Koneko masih memasang wajah cemberut. Seketika Naruto menghelakan napasnya.
'Sepertinya Koneko-chan masih marah padaku. Tapi, bagaimana caranya membujuknya agar dia tidak marah kepadaku lagi?' pikir Naruto sambil memperhatikan keadaan sekitar. Lalu perhatiannya tertuju kepada sebuah tempat yang menarik.
Naruto tersenyum. Ia menarik tangan Koneko dengan cepat. Koneko hanya menurut saja saat diseret oleh Naruto.
"Koneko-chan, ayo kita naik bianglala itu!" tunjuk Naruto ke arah sebuah kincir besar yang berputar-putar itu. Koneko melihat ke arah yang ditunjuk oleh Naruto.
Koneko berwajah datar.
"Terserah kamu saja."
Begitulah perkataan Koneko. Sukses membuat Naruto terdiam melihatnya.
"Baiklah, kalau begitu."
Naruto dan Koneko segera pergi menuju ke arah bianglala itu. Mereka mengantri dahulu karena banyak orang yang juga ingin naik bianglala itu.
Tak lama kemudian, giliran Naruto dan Koneko tiba juga. Naruto yang membayar dua karcis masuk kepada petugas yang menjaga bianglala itu.
"Terima kasih," ucap Naruto tersenyum kepada petugas.
"Sama-sama. Ayo, silakan naik!" sahut sang petugas yang membuka pintu pada bilik bianglala itu.
Naruto dan Koneko masuk ke dalam bilik bianglala itu. Mereka berdua duduk agak berjauhan. Naruto menatap Koneko. Koneko membuang mukanya saat melihat ke arah luar jendela bilik. Ternyata dia masih marah terhadap Naruto. Naruto menghelakan napas kecewanya.
Beberapa menit kemudian, bianglala pun segera berputar secara perlahan-lahan.
Saat bianglala berputar mencapai ke arah atas, tiba-tiba Koneko menjerit kencang.
"KYAAAA!"
Naruto kaget dan segera memeluk Koneko.
"Koneko-chan, kamu kenapa?" tanya Naruto heran.
Tubuh Koneko agak bergetar. Koneko memeluk erat pinggang Naruto.
"A-aku ta-takut ketinggian."
"Hah?" Naruto membulatkan kedua matanya."Kamu takut ketinggian?"
"I-iya."
"Kenapa kamu tidak bilang tadi? Kalau kamu takut ketinggian. Sudah pasti aku tidak mengajakmu naik bianglala ini."
"A-aku tidak tahu, Naruto-kun. Aku baru sadar kamu mengajakku ke tempat yang tinggi seperti ini. Tapi, aku takut sekali sekarang."
Koneko menutup matanya rapat-rapat. Ia terus memeluk pinggang Naruto dengan erat.
"Ya, sudah. Tidak apa-apa. Jangan takut. Aku ada di sini bersamamu, Koneko-chan," Naruto mengangkat dagu Koneko."Ayo, buka matamu. Lalu tatap mataku. Pasti ketakutanmu akan hilang."
Koneko membuka matanya. Tampak Naruto tersenyum manis untuknya. Wajah mereka saling berdekatan.
Atas permintaan Naruto, Koneko menatap mata biru Naruto. Warna yang menenangkan dan membuat perasaan Koneko lebih baik.
Tapi, wajah Koneko menjadi memerah di saat wajah Naruto makin dekat dengannya . Terasa terpaan napas Naruto mengenai wajahnya. Dagu Koneko diangkat lebih tinggi oleh Naruto. Naruto sedikit menundukkan kepalanya. Ia memiringkan kepala ke arah kiri.
Wajah Koneko semakin memerah padam. Saat bibirnya dibelai lembut oleh bibir Naruto.
Koneko menutup matanya lagi. Membiarkan Naruto mengecup bibirnya lebih dalam. Sampai akhirnya putaran bianglala pun berakhir.
Naruto melepaskan ciumannya di saat bianglala berhenti. Wajah Naruto dan Koneko sama-sama memerah.
"Bianglala-nya sudah berhenti," bisik Naruto lembut. Ia tersenyum sambil terus memegang dagu Koneko. Wajah Koneko memerah padam.
"A-ayo, kita turun!" pinta Koneko yang sedikit gugup. Ia bangkit berdiri duluan setelah melepaskan pelukannya dari pinggang Naruto. Ia sedikit tersenyum.
Naruto juga bangkit berdiri. Ia tersenyum simpul.
"Koneko-chan, tunggu aku!"
.
.
.
Koneko berjalan duluan. Disusul oleh Naruto dari belakang.
"Koneko-chan!"
Koneko terus berjalan cepat dan tidak mempedulikan panggilan Naruto itu.
"Koneko-chan!"
Naruto memanggilnya dengan keras. Koneko juga tidak mau berhenti.
GREP!
Koneko berhasil ditangkap oleh Naruto. Dengan cara memeluk Koneko dari belakang. Koneko kaget.
"Naruto-kun ...," bisik Koneko pelan. Wajahnya memerah lagi.
"Jangan tinggalkan aku. Aku takut kamu akan hilang dariku," Naruto memeluk Koneko begitu erat di suatu tempat yang agak sunyi dan banyak dipenuhi pepohonan rimbun. Sebuah jalan setapak yang tak jauh dari bianglala itu.
Koneko terpaku saat dipeluk Naruto seperti ini. Naruto sudah membuat semua ketakutannya terhadap ketinggian mendadak hilang saat naik bianglala tadi. Naruto romantis sekali.
Tanpa mereka sadari, ada beberapa orang sedang mengawasi mereka dari balik semak-semak. Mereka adalah ...
["Halo, Sasuke-kun. Kamu di mana?"]
Seorang laki-laki berambut raven yang sedang bersembunyi sendirian di balik pohon. Ia sedang ditelepon oleh kekasihnya.
"Aku di Konoha Garden."
["Kenapa kamu bisa ada di sana? Huh, kamu jahat tidak mengajak aku sekalian ke sana."]
"Untuk apa aku juga mengajakmu, Saku-chan?" sahut laki-laki yang bernama Sasuke itu."Aku cuma disuruh untuk mengawasi Naruto di sini. Atas suruhan Kaasan-nya Naruto."
"Huh, kamu memang tidak romantis ya, Sasuke-kun."
Sasuke membelalakkan matanya ketika mendengar suara sang kekasih kini terdengar dekat darinya. Ia menoleh ke arah samping.
JREEENG!
Tampak beberapa orang sudah berdiri di dekat Sasuke. Sasuke kaget setengah mati.
BRUUUK!
Sasuke terjungkal ke tanah sebentar. Lalu ia bangkit berdiri lagi. Muncul sweatdrop besar di kepalanya. Ia menunjuk ke arah teman-teman sekelasnya yang kini tersenyum ramah ke arahnya.
"Halo, Sasuke!" sapa Ino yang merangkul lengan Sai.
"Ternyata kamu juga di sini, Sasuke," sahut Shikamaru yang juga mengajak kekasihnya, Temari.
Sasuke bengong di tempat.
"Lho, kalian semuanya? Kenapa bisa ada di sini juga?" seru Sasuke yang terheran-heran. Ia tidak menyangka teman-temannya juga berada di sini.
"Kami juga disuruh Kaasan Naruto untuk mengawasi Naruto di sini. Kamu tidak tahu ya, Sasuke?" tukas Lee. Ia juga mengamati Naruto dan Koneko dari kejauhan.
"Tapi, aku mengira cuma aku sendiri yang disuruh. Ternyata kalian juga," Sasuke berwajah datar kembali. Ia memandangi wajah teman-temannya satu persatu.
"Jadi, kamu tidak suka kalau kami ada di sini, Sasuke-kun?" tanya Sakura melototi Sasuke dengan berkacak pinggang.
Sasuke melirik ke arah Sakura.
"Bukan begitu."
"Jadi, apa?" Sakura berwajah seperti biasa.
"Oh ya, karena kita semua sudah berada di Konoha Garden. Bagaimana kalau kita bersenang-senang sekalian di sini? Jarang kesempatan bagus ini kita dapatkan. Hitung-hitung sebagai hiburan buat kita. Karena selama ini kita disibukkan dengan kegiatan OSIS dan sekolah. Bagaimana menurut kalian semua?" ujar Ino tiba-tiba.
"Aha, ide yang bagus, Ino!" ucap Kiba yang berada di samping Hinata."Bagaimana menurutmu, Hinata-chan?"
"A-aku mau saja, Kiba-kun," Hinata mengangguk pelan dengan wajah yang memerah. Maklum Kiba adalah kekasihnya.
"Aku juga mau kencan. Neji sudah menyetujuinya," Ten Ten kelihatan senang karena ia juga membawa kekasihnya yaitu Hyuga Neji. Neji juga mengangguk.
"YEAAAAH, SEMUANYA SETUJU! AYO, KITA KENCAN BERSAMA-SAMA!" seru Ino bersemangat sambil menarik tangan Sai. Mereka berdua pergi begitu saja. Semuanya juga mengikuti langkah pasangan Sai dan Ino tadi.
Tinggallah pasangan Sasuke dan Sakura yang melongo. Juga Lee yang sendirian. Dia tidak mempunyai pasangan.
"Yaaah, semuanya malah pergi kencan. Padahal katanya cuma mengawasi Naruto. Aku ditinggal sendirian. Huhuhu, sayang sekali aku tidak mempunyai pasangan buat kencan," Lee mendadak pundung di tempat.
Sasuke memegang pundak Lee.
"Lee, jika kamu mau. Ajak saja Sakura agar kencan denganmu," tawar Sasuke dengan wajah innocent. Sukses membuat Sakura kaget setengah mati mendengarnya.
"APA? SASUKE-KUN, KAMU SUDAH GILA APA? MASA AKU HARUS KENCAN SAMA SI ALIS TEBAL INI? KAMU JAHAT, SASUKE-KUN!" Sakura mengamuk sejadi-jadinya. Sasuke cuma santai melihatnya.
Lee merasa senang dengan tawaran si Sasuke.
"Benarkah, Sasuke?"
"Iya. Bawa si bawel itu dari sini. Biar aku yang mengawasi Naruto."
Sasuke memukul pelan pundak Lee. Lee terpaku. Dia mengeluarkan air mata terharunya.
"Huwaaa, Sasuke! Baiklah, demi semangat masa muda. Aku akan membawa Sakura-chan kencan denganku. Aku membuatnya senang hari ini," Lee bersemangat sekali sambil mengacungkan jempolnya. Dia tersenyum lebar dengan tampilan gigi putihnya yang bersinar.
Sasuke tersenyum melihatnya. Sakura syok mendengarnya.
Secara langsung, Lee menarik tangan Sakura agar menjauh dari sana. Terdengar suara Sakura yang menjerit keras.
"SASUKE NO BAKA! AKU MEMBENCIMUUU!"
Sasuke hanya berwajah datar saat menatap kepergian Sakura dan Lee. Lalu ia menghelakan napasnya.
"Akhirnya tenang juga. Jadi, aku bisa mengawasi Naruto sendirian," ungkap Sasuke yang mengarahkan pandangannya kembali ke arah Naruto dan Koneko. Di mana Naruto dan Koneko saling berhadap-hadapan.
Pundak Koneko dirangkul oleh Naruto. Koneko menundukkan kepalanya. Naruto tengah memperhatikan Koneko dengan lembut.
"Kamu tidak marah padaku lagi, Koneko-chan?" tanya Naruto.
Koneko menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak marah lagi padamu, Naruto-kun."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Jadi ..."
"Jadi apa?"
"Cium aku."
Koneko kaget. Wajahnya memerah lagi. Saat Naruto mengatakan hal aneh itu.
"Ci-cium?"
"Iya."
Koneko mengangkat wajahnya. Ia melihat Naruto berwajah lembut. Kedua tangan Naruto telah beralih merangkul pinggang Koneko. Mata biru Naruto sudah menatap ke arah bibir Koneko.
Koneko merangkul leher Naruto dengan erat. Wajahnya memerah saat ia mendekat wajahnya ke arah wajah Naruto secara perlahan-lahan. Naruto juga begitu.
Bibir mereka berdua saling menempel lagi. Mereka berciuman di tengah pengawasan beberapa orang yang memasang wajah yang tidak suka. Salah satunya adalah ibu dan Kuroka.
Ibu menggeram kesal. Pasalnya putri kesayangannya dicium oleh seorang laki-laki di depan matanya secara langsung. Ia hendak pergi menghampiri Koneko dan Naruto sekarang. Ia hendak menghajar Naruto. Tapi, niatnya itu langsung dicegat oleh Kuroka.
"Kaasan, jangan. Biarkan mereka begitu," bujuk Kuroka.
"Aaargh, Koneko-chan. Kaasan tidak suka Koneko-chan dicium oleh laki-laki itu. Akan Kaasan hajar laki-laki itu," sang ibu sudah mengamuk seperti monster yang sangat mengerikan.
"JANGAAAN, KAASAN!"
"LEPASKAN KAASAN, KUROKA! GRRRR! LEPASKAN KAASAN SEKARANG JUGA!"
Kuroka terus berusaha memeluk sang ibu dari belakang agar tidak pergi menghampiri Naruto dan Koneko. Pasalnya nanti Naruto bakal dihajar habis-habisan oleh sang ibu. Dahulunya, ibu Kuroka dan Koneko itu adalah mantan preman yang sangat ditakuti. Jika ada orang yang sekali terkena hantaman atau tinju darinya, orang itu bakal pingsan atau mati. Itu yang paling berbahaya dari ibu Kuroka dan Koneko.
Kini Kuroka sibuk membujuk sang ibu yang sedang dalam tahap emosi tingkat tinggi. Mereka berada dalam semak-semak yang tak jauh dari Naruto dan Koneko.
Di sisi lain, ada juga beberapa orang yang bersembunyi di semak-semak. Mereka mengintai Koneko dan Naruto juga. Tapi, titik fokus pandangan mereka tertancap ke arah Koneko.
"Sepertinya gadis itu orangnya," kata salah satu dari mereka."Sama persis dengan gadis di dalam foto ini."
Satu orang memegang sebuah foto. Foto yang menampilkan Koneko yang berseragam sekolah. Beberapa orang mengangguk cepat.
"Ya, sesuai target."
"Oke, kita tunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya."
"Baiklah, bos."
Semuanya mengangguk cepat. Tatapan mereka menajam ke arah Koneko. Mereka tersenyum sinis.
Sungguh mencurigakan. Siapakah orang-orang itu? Sepertinya Koneko dalam ancaman yang sangat besar sekarang.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N :
Akhirnya selesai juga nih cerita chapter 3-nya. Sesuai permintaan, saya perpanjang sedikit cerita ini.
Ide cerita chapter 3 ini berasal dari teman saya. Juga saran dari para reader. Arigatou, minna-san. Apakah ceritanya jadi melenceng gak ya?
Hm, saya rasa adegan kali ini kurang romantis. Itu menurut saya sih. Nggak taulah kalau menurut para reader gimana.
Please your review ...
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Arigatou ...
Hikari Syarahmia dan my friend
Senin, 6 Juli 2015. Pada pukul 13.15 WIB.
