If we Love Again

Chapter3

.

.

"Hahahahhaaha ahjushi gelliiii" Daemin berteriak sambil tertawa kala Jongdae menggelitik tubuh kurusnya. Sejak pertemuannya tadi mereka dengan cepat bisa langsung akrab. Bahkan wajah Jongdae yang semula terlihat pucat kini kembali berwarna.

"Woaahh ice cream! " Daemin segera menutup mulutnya sendiri, baru saja ia melihat iklan ice cream di televisi dan Daemin berteriak spontan.

"Daemin ingin ice cream? " tanya Jongdae, Daemin awalnya menunduk malu namun kemudian kepalanya mengangguk.

"Kajja kita beli ice cream! Bogum ahjushi bisa antar kami ke kedai ice cream? " ujar Jongdae.

"Tentu saja Jongdae-ssi" jawab Bogum, ia senang melihat interaksi antara Jongdae dan Daemin. Anak itu sejak dulu hanya berdua dengan sang eomma, namun Daemin bukanlah anak cengeng ia dapat bergaul dengan siapapun makanya tak heran jika banyak yang menyayangi Daemin.

...

"Daemin mau ice cream nya LIMA! " ujar Daemin penuh semangat membuat dua orang dewasa disana terkekeh karena tingkah lucunya.

"Satu dulu sayang, jangan langsung makan lima. Nanti gigi Daemin sakit" ujar Jongdae sambil mengelus sayang puncuk kepala Daemin.

"Uuhh ahjusi sama saja dengan eomma selalu melarang Daemin makan ice cream banyak-banyak" kini Daemin mengerucutkan bibirnya tanda ia sedang marah.

"Yang eomma dan ahjusi katakan itu benar, lagipula jika gigi Daemin sakit nanti eomma sedih. Daemin mau melihat eomma sedih? " ujar Bogum.

"Andwe! Daemin sayang eomma "

"Anak pintar"

Jongdae memperhatikan wajah Daemin lama, jika di perhatikan bibir Daemin sepintas mirip dengannya namun mata Daemin membuatnya ingat dengan seseorang. Minseok.

Kringgggg

Bogum menatap ponselnya, disana tertera nama Tuan Kang. Pasti kali ini akan membahas masalah surat kepemilikan Sekolah. Bogum menjauh sebentar tak ingin jika obrolannya di dengar oleh Jongdae apalagi Daemin.

"Baiklah aku mengerti"

"..."

"Aku akan ke tempatmu untuk membicarakan semua ini"

Pip

Jongdae melihat perubaham ekspresi pada Bogum, sesuatu pasti telah terjadi.

"Anda baik-baik saja? " tanya Jongdae.

"Ne, saya baik" jawab Bogum " Daemin sayang, sekarang ssaem antar pulang ya? Ssaem harus bertemu dengan seseorang" lanjutnya.

"Andwe! Ini belum habis " jawab Daemin sambil menunjukan mangkuk ice creamnya yang masih penuh.

"Apa anda sedang terburu-buru? " tanya Jongdae lagi dan Bogum mengangguk. "Jika anda percaya, anda bisa meninggalkan Daemin bersama saya"

"Ahh tidak-tidak aku sudah berjanji pada eommanya Daemin untuk menjaga putranya selama ia bekerja."

"Tidak apa-apa ahjusi, saya senang menjaga Daemin. Lagi pula ia anak yang pintar"

Bogum menatap Jongdae dan Daemin bergantian, ia tak bisa meninggalkan Daemin begitu saja. Walaupun Jongdae adalah seorang artis namun tetap saja mereka belum lama mengenal.

Drrrttttt

Bogum melirik pada ponselnya baru saja Tuan Kang mengiriminya pesan. Membuat Bogum harus berpikir cepat.

"Baiklah Jongdae-ssi, aku percaya padamu. Jika Daemin sudah selesai langsung di antar ke rumahnya saja. Tiga puluh menit lagi Minseok akan pulang" ujar Bogum membuat Jongdae terpaku.

"Siapa? " tanya Jongdae.

"Eommanya Daemin. Saya harus segera pergi. Daemin sayang jangan nakal ya, ssaem harus pergi jadi Daemin sama Jongdae ahjusi dulu, tidak apa-apa kan? "

"Ne ssaem. Hati-hati " jawab Daemin riang.

Setelah kepergian Bogum, Jongdae jadi lebih banyak melamun memikirkan satu nama yang kali ini kembali merusak kinerja otaknya.

"Ahjusii rumah dengan nomor 21 itu rumahnya Daemin" Jongdae mengalihkan perhatiannya pada Daemin yang kini ada di gendongannya. Ia tersenyum hangat membuat Daemin semakin mengeratkan tangannya pada leher Jongdae.

"Kenapa sayang? "

"Aniya, Daemin hanya merasa senang sekali di gendong oleh ahjusi " kaki Jongdae kini sudah berada di depan pintu rumah Daemin. Lalu ia baru sadar satu hal.

"Bagaimana kita masuk? " tanya Jongdae.

"Eomma menyimpan kunci rumah di balik pot itu " ujar Daemin sambil menunjuk sebuah pot kecil. Daemin meminta turun dari gendongan dan kakinya mulai melangkah menuju salah satu pot, senyumnya kembali merekah kala menemukan benda yang ia cari.

Ceklek

Nuansa pastel langsung memenuhi indra penglihatan Jongdae, rumah ini tidak besar namun terlihat nyaman.

Setelah dari pintu depan Jongdae langsung memasuki ruang tamu dan pandangannya terfokus pada beberapa foto yang terpajang rapih disana.

Di dalam barisan foto itu terdapat dua orang wanita dan satu anak kecil, satu wanita dengan mata bulat dan satu anak kecil yang Jongdae tahu adalah Daemin. Namun nafasnya terhenti ketika netranya menangkap sosok yang selama ini ia cari.

"Minseok" lirih Jongdae. Ia kemudian mengambil bingkai foto itu dan menuju kursi dimana Daemin sedang duduk.

"Sayang, ahjusi ingin tanya. Siapa ini? " tanya Jongdae membuat Daemin memgerutkan keningnya namun kemudian senyum cerah langsung tersemat di wajah imutnya.

"Wanita yang ini namanya Kyungsoo Noona, noona selalu membuat makanan yang enak. Noona juga sangat baik" cerita Daemin, Jongdae masih diam memperhatikan menunggu Daemin menyelesaikan kalimatnya. " Kalau yang ini eommanya Daemin namanya Minseok" dunia Jongdae terasa hancur seketika. Jadi Minseok sudah mempunyai anak? Itu berarti ia sudah menikah dan berkeluarga? Perut Jongdae terasa kram dan itu sangat sakit. Hingga di detik ke lima Jongdae kehilangan kesadarannya.

...

Minseok baru saja pulang dari butik milik Seulgi, ia sangat senang karena cita-citanya dulu kini sedikit tersampaikan.

"Ahjussiiiii! "

"Ahjussi ironaaaaa, ahjusiii"

Langkah Minseok terhenti, bukankah itu suara Daemin? Astaga apa telah terjadi sesuatu?

Brak

"Daemin! "

"Eommaaaa " Daemin berlari menghampiri sang eomma yang baru saja memasuki rumah mereka.

"Eomma tolong ahjusii, ahjusi tiba-tiba saja tidur tapi Daemin panggil ahjusi tidak mau bangun"

"Ahjusi siapa? "

"Jongdae ahjusi Eommaa" jawab Daemin membuat Minseok terpaku, tangan kecil Daemin menuntun Minseok untuk lebih masuk ke dalam rumah dan Minseok bagai lupa caranya bernafas karena laki-laki yang kini tengah tak sadarkan diri di rumahnya adalah Kim Jongdae, namja yang sangat ia cintai dan namja yang berstatus sebagai ayah biologis dari putra kecilnya.

Minseok kini tengah membuat sup jagung dengan pandangan kosong, Daemin sudah menceritakan semua padanya, tak sengaja bertemu namun langsung menjadi dekat. Apakah ini ikatan batin antara ayah dan anaknya?

"Ahjusii" Minseok mematikan kompor ketika mendengar suara Daemin.

"Ahjusi gwencana? Masih sakit tidak? Eommaaaaa ahjusi sudah bangun" Jongdae melihat kearah Daemin. Anak ini adalah anaknya Minseok, pantas saja mata mereka begitu mirip.

Tap

Tap

Jongdae mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang kini menghampiri mereka, wanita yang selama bertahun-tahun ini ia cari.

"Apakah benar Daemin adalah putramu? " Jongdae akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya.

"Ya" jawab Minseok cepat.

"Ahh jadi kau sudah menikah, selamat ya" Jongdae berdiri menatap mata Minseok dalam, jelas sekali tatapan itu adalah tatapan kehancuran. Minseok tau jika Jongdae salah paham, namun wanita itu tetap diam. Biarlah Jongdae menganggap bahwa dirinya sudah menikah agar Jongdae dapat terus berkarir, biarlah sekali lagi ia mengorbankan perasaannya.

"Ahjusi mau kemana? " Minseok memandang Daemin, anaknya bertanya pada Jongdae dengan penuh harap.

"Ahjusi harus pulang sayang"

"Ahjusi disini saja "

"Jika ahjusi masih disini, nanti jika ayahmu pulang ia bisa salah paham. Sampai bertemu lagi" ujar Jongdae kemudian langsung bergegas pergi.

"Tapikan Daemin tidak punya ayah" jawab Daemin pilu namun sayang Jongdae sudah pergi dan tak mendengarkan jawaban pilu dari anak kecil yang menaruh harap besar padanya.

.

.

"Kita kembali ke Seoul malam ini" Baekhyun menatap Jongdae lama, ia baru pulang setelah tadi mengantar Daemin dan sekarang ia langsung meminta ke Seoul.

"Kenapa tiba-tiba? Bukankah -"

"Hanya turuti permintaanku saja Baek, apakah begitu sulit? " Baekhyun langsung bungkam ketika mendengar ucapan Jongdae.

"Apa terjadi sesuatu? " kini Yixing buka suara.

"Aniya, aku hanya ingin pulang" jawab Jongdae singkat dan kemudian ia berlalu ke kamarnya.

Jongdae sangat senang disini, udara pedesaan yang masih asri, penduduk yang begitu ramah dan lagi ada Daemin. Anak kecil yang mampu mencuri segala perhatian Jongdae. Namun kenyataan jika disana ada Minseok membuatnya hancur. Jika saja Minseok masih sendiri mungkin ia akan senang tapi kini Minseoknya ternyata sudah berkeluarga. Jongdae seakan di tampar oleh kenyataan, benar juga Minseok pasti bahagia sekarang lagipula apa yang bisa di harapkan dari laki-laki yang berpenyakitan seperti dirinya.

Uhuk

Uhuk

"aaarrgghh"

"JONGDAE! "

Yixing berteriak panik ketika menemukan putranya pingsan, dan tanpa berpikir dua kali mereka langsung membawa Jongdae ke rumah sakit.

Ruangan serba putih dan bau obat yang menyengat. Jongdae sudah terbiasa dengan suasana ini. Kepalanya menoleh kesamping disana ada ibunya yang tertidur di sofa dan ayahnya yang tidur dengan posisi terduduk. Ia menoleh lagi untuk mencari keberadaan Baekhyun namun nihil, mungkin Baekhyun sudah kembali ke apartemennya.

Jam terus berdetak hingga tak terasa kini sang matahari sudah berada di puncak. Jongdae melangkah keluar ruang rawat, ia memang sakit tapi Jongdae ini manusia sekeras batu walaupun harus membawa infus ia tak masalah dan akan berjalan-jalan dari pada hanya diam di kamar. Membosankan.

"Dokter bisa kita bicara? " Seorang Dokter dengan name tag 'Oh Sehun' kini memusatkan perhatiannya pada seorang namja yang memasuki ruangannya.

"Masuklah Jongdae" jawabnya " Ada apa? "

"Apakah penyakitku sudah bertambah parah? " Sehun memandang Jongdae lama, nada bicara Jongdae sangat tenang bagai sedang membicarakan hal sepele padahal ini tentang hidup dan matinya.

"Kita bisa mencari donor dan melakukan operasi"

"Tidak perlu" Sehun mengernyit mendengar jawaban Jongdae. "Aku sudah siap jika aku harus mati sekarang, semua yang kuinginkan sudah tercapai" ujar Jongdae pilu. Sehun melepas kaca mata yang sedari tadi ia pakai. Kakinya mulai melangkah mendekati Jongdae bahkan kini ia berlutut di hadapan sang superstar.

"Kau tidak kasihan pada orang tuamu? Penggemarmu? "tanya Sehun ia berbicara dengan informal sekarang, Jongdae adalah pasiennya sejak dua tahun lalu gagal ginjal yang Jongdae derita semakin hari semakin buruk. Bahkan cuci darah dirasa sudah tak ada gunanya, hampir semua kerabat Jongdae sudah menawarkan diri untuk menjadi pendonor tapi ada daya hingga sekarang belum ada yang cocok. Yixing maupun Junmyeon rela menukarkan nyawa mereka demi melihat kesembuhan Jongdae namun naas ginjal milik mereka pun tak cocok. Semua tersembunyi dengan rapat, Jongdae tak ingin ada fansnya yang tahu maka dari itu ketika tubuhnya dirasa sudah semakin melemah Jongdae memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan dengan alasan ingin hiatus dan berlibur bersama keluarga.

"Bukankah kau mengatakan jika kau memiliki seorang gadis yang kau cintai? Kau sudah menyerah mencarinya? " tatapan Jongdae berubah semakin sendu kala mendengar ucapan Sehun.

"Dia sudah bahagia, ia kini sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra yang sangat lucu" Sehun terdiam mendengar cerita Jongdae, hidup namja ini benar-benar malang.

"Aku akan kembali ke ruanganku" Jongdae berdiri namun baru satu langkah ia sudah limbung.

Bruk

Prang

"Jongdae! " Sehun memegang lengan Jongdae agar tak terjatuh, kemudian perlahan ia mendudukan Jongdae kembali di kursi.

"Maaf bingkai foto milikmu jadi jatuh"

"Gwenchana" jawab Sehun, kemudian laki-laki tersebut menunduk untuk mengambil foto yang terjatuh. Di dalam foto tersebut menampilkan Sehun yang tersenyum cerah ke kamera dengan di sebelah kiri merangkul istrinya Luhan dan di kanannya seorang wanita muda, Jongdae mengerjap untuk memastikan penglihatannya. Bukankah itu Minseok?

"Hyung ituu " tanya Jongdae sambil menunjuk ke arah foto yang Sehun pegang.

"Ahh ini Luhan istriku kau sudah mengenalnya kan, dan ini adalah Minseok. Adiknya Luhan" jawab Sehun lirih.

"Mwo? Adik Luhan? " tanya Jongdae lagi, dulu Minseok memang pernah brrcerita jika ia memiliki kakak perempuan yang bersekolah di Cina. Namun Jongdae tak pernah tau siapa kakak Minseok. Karena selama dulu menjalin kasih Jongdae belum pernah bertemu dengan keluarga Minseok.

"Aku tidak tau jika Luhan noona memiliki adik" ujar Jongdae.

"Tentu saja, karena Minseok sudah di usir oleh Luhan"

"Mwo? " Jongdae tak dapat menahan keterkejutannya kali ini. Sehun menatap Jongdae lama, ia percaya pada Jongdae laki-laki ini pasti bisa menjaga rahasia, lagipula Sehun pun sudah lelah menahan segala beban seorang diri. Ia butuh seseorang untuk bercerita.

"Ne, Luhan mengusir Minseok karena Minseok hamil di luar nikah"

Flashback

PLAK

"JELASKAN WU MINSEOK! "

Rasa sakit yang ia dapat akibat tamparan di pipi kini tak sebanding dengan rasa takut yang Minseok rasakan. Di hadapannnya Wu Yifan sang ayah menemukan surat keterangan dari rumah sakit yang menyatakan bahwa dirinya tengah mengandung. Mata Yifan menyala marah merasa hancur dan kecewa karena putri yang ia besarkan dan ia banggakan tidak dapat menjaga kesuciannya.

"Minseok appa bicara padamun?!" Minseok masih bungkam. Terlalu takut untuk mengeluarkan suaranya.

Sret

"Laki-laki ini? " tanya Yifan tajam. Baru saja ia mengambil paksa ponsel Minseok dan Yifan menemukan foto Minseok sedang di rangkul mesra oleh seorang pria. Yifan marah, marah pada Minseok, marah pada namja ini dan marah pada dirinya sendiri. Ia gagal menjadi ayah, ia gagal menjaga amanat mendiang istrinya untuk menjaga Luhan juga Minseok. Ia marah karena pekerjaannya memaksa Yifan untuk terus bekerja sehingga kekasih anaknya saja ia tak tau.

Merasa tak mendapat jawaban apapun dari Minseok, Yifan melangkah pergi ia akan mencari tau sendiri siapa namja ini. Tentu saja dengan uang yang ia miliki Yifan tak akan sulit untuk mencari keberadaan Namja yang sudah merusak putrinya.

"Baiklah jika kau masih diam. Appa akan mencari tau sendiri"

Astaga! Jika Yifan sampai menemukan Jongdae maka sudah dipastikan Jongdae akan langsung di paksa untuk bertanggung jawab dan itu sama saja membuat Jongdae kehilangan impiannya, yatuhan minggu depan Jongdae debut.

"Appa! " entah kekuatan dari mana yang Minseok dapatkan kini kaki kurusnya mulai melangkah mengejar Yifan, namun sayang suara teriakan Minseok hanya dianggap angin lalu, Yifan tetap melangkah dengan emosi.

"Appa aku mohon "

Ujar Minseok dirinya kini sudah berlutut di kaki Yifan.

"Lepaskan kaki appa" desis Yifan.

"Hiks andwe "

"Jangan menjadi wanita bodoh Minseok! "

Bruk

"AAARRGGHH"

Yifan mencoba untuk melepaskan kakinya dari pelukan Minseok namun karena ia terlalu keras akhirnya Minseok terjatuh menyebabkan benturan pada perutnya dan nasib Yifan bahkan lebih buruk, ia terlalu kuat menendang hingga melupakan fakta bahwa kini dirinya berada di ujung tangga dan membuat dirinya sendiri terjatuh dari lantai 2.

.

.

Luhan segera terbang ke Korea setelah bibi Lin pembantu rumah tangganya di Korea memberi kabar bahwa adik serta ayahnya di larikan ke rumah sakit. Dengan di temani Sehun sang kekasih Luhan nampak sangat berantakan.

Hidup Luhan yang semula damai bagai kini hancur tak bersisa, belum genap satu jam ia berada di negeri kelahiran ibunya. Ia sudah harus mendapatkan berita duka, Yifan tak dapat di selamatkan. Ia mengalami luka yang cukup serius di bagian kepala akibat terjatuh dari tangga dan sang adik Minseok sampai saat ini masih tak sadarkan diri. Belum cukup kepedihan yang ia terima kini Luhan di beri tahu bahwa Minseok tengah mengandung

Minseok? Adiknya? Cahaya hidupnya.

Seketika amarah menguasai Luhan, dari cerita bibi Lin yang mengatakan jika ia sempat mendengar keributan antara Minseok dan Yifan dapat di pastikan bahwa Yifan sudah mengetahui kondisi Minseok.

Jadi penyebab utama meninggalnya Yifan adalah Minseok.

"Kau pembunuh" satu kata penuh kepedihan. Itu yang Minseok dapat ketika ia membuka mata. Beruntunglah karena janinnya kuat karena ia masih selamat namun hati Minseok bagai di tusuk ribuan jarum ketika mengetahui bahwa Yifan telah tiada. Dan kata 'pembunuh'yang di ucapkan Luhan bagai garam di atas lukanya saat ini.

"Siapa laki-laki brengsek itu? " tanya Luhan sinis.

"Jawab aku! Apa kau sekarang menjadi jalang yang tidur dengan sembarang orang! " bentak Luhan lagi. Minseok menatap penuh luka pada Luhan, makam ayahnya masih basah dan kini kakaknya sendiri menyebutnya sebagai jalang. Bisa bayangkan hancurnya seorang Wu Minseok.

"Luhan tenanglah " Sehun segera merangkul Luham yang bersiap akan memukul Minseok. Hal itu di manfaatkan oleh Minseok untuk pergi ke kamarnya.

Ayahnya telah tiada, kakaknya sudah membencinya. Kini Minseok hanya memiliki baby di dalam perutnya. Ia tak mungkin menemui Jongdae dalam keadaan sekarang. Jongdae harus berhasil debut, dan Minseok tak ingin merusak impian dari namja yang sangat ia cintai ayah dari anak yang tengah ia kandung.

Flashback off

"Aku tidak tau apa yang di pikirkan Minseok, setelah itu Luhan semakin tak bisa terkontrol kemarahannya dan berakhir dengan Minseok yang terusir. Aku mencoba menggeledah ke kamarnya mungkin aku akan menemukan satu saja barang yang berhubungan dengan namja itu atau apapun petunjuk tentang kemana Minseok akan pergi. Tapi nihil, Minseok seperti sangat melindungi namja itu entah dengan alasan apa. Aku sempat berpikir apa mungkin Minseok wanita nakal yang bisa tidur dengan sembarang pria? Sehingga aku tak menemukan satupun petunjuk. Tapi kemudian aku menemukan bekas kertas yang terbakar di tempat sampah. Aku yakin itu adalah foto Namja tersebut, Minseok sengaja menghilangkan jejaknya, untuk melindungi orang itu"

Jongdae tak mampu berbicara setelah mendengar cerita Sehun. Ia tentu ingat tentang malam dimana Minseok menyerahkan miliknya pada Jongdae dan Jongdae juga tau bahwa dirinyalah yang pertama. Jongdae lah si laki-laki brengsek itu.

Jongdae ingat hari dimana ia debut, Jongdae menyiapkan satu kursi untuk Minseok namun ia tak datang. Bagaimana mungkin Minseok bisa datang jika ternyata di hari yang sama ia mendapat cobaan seberat itu? Dan Jongdae tidak tau?

Selama ini Jongdae berpikir Minseok telah meninggalkannya, Jongdae berpikir Minseok sudah tak lagi mencintainya tapi ternyata pengorbanan Minseok tak sebanding dengan usaha yang Jongdae lakukan untuk mencarinya selama lima tahun ini.

Seketika otak Jongdae berputar, jika Minseok masih mempertahankan kandungannya dulu itu berarti Daemin adalah putranya.

Oh yaampun betapa berdosanya kau Kim Jongdae

.

.

Tbc

Udah kelamaan? Lupa sama ceritanya? Ini ga menarik?

Oh maafkan aku.. Sumpah deh ide hilang begitu aja untuk klanjutannya doakan saya dpat hidayah lagi hehehehe

See you ~