"THE GREAT BOOJAE" -Chap 2-

Author : Keekeuk

Genre : Yaoi, Romance, family, Kolosal, Sosial, Budaya, Politik

Cast : Jaejoong, Yunho dll.

Rate : PG-17

Summary : ff YUNJAE! Jaejoong, seorang sekretaris kerajaan yang menjalin hubungan dengan Putra Mahkota. Apakah yang dilakukan Raja ketika melihat Putra Mahkota kerajaan tidur bersama sekretarisnya? ff abal yang menceritakan perjuangan hidup Kim Jaejoong di dalam kerajaan.

Disclaimer : Ff ini terinspirasi dari kegemaran author terhadap drama kolosal. Boy x boy. Don't like, don't read!


-THE GREAT BOOJAE-

Author POV

Beberapa dayang berdiri mematung di depan pavilion Jungseang. Menunggu dengan setia putra mahkota keluar dari kediamannya. Sore ini, ada jamuan minum teh keluarga kerajaan di pavilion tengah. Putra mahkota Jung Yunho bersiap di dalam paviliunnya di temani sekretaris pribadinya yang beberapa hari lalu resmi menjabat sebagai temannya.

Jung Yunho menilik dirinya di depan cermin. Di belakangnya, Jaejoong berdiri, sibuk merapikan hanbok biru yang dikenakan putra mahkota. Kim Jaejoong, sekretaris pribadi putra mahkota ini memang merambat beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan putra mahkota Jung Yunho. Mulai dari membangunkan tidur, memilih dan membantu berpakaian, menemani makan sampai mengiringinya berjalan-jalan malam sebelum tidur. Semua itu merupakan perintah mutlak dari sang calon raja. Sebenarnya Jung Yunho tidak punya maksud tertentu ketika mencetuskan perintah-perintah itu. Hanya saja, dia merasa tidak nyaman jika hal-hal pribadinya dirasuki oleh banyak orang. Maka dari itu, Jaejoong lah yang dipilih sebagai tempatnya berbagi.

Jaejoong beranjak ke bagian depan Yunho. Jemari lentiknya mengusap lembut lipatan hanbok yang kusut di bagian dada Yunho. Jung Yunho, entah kenapa dia sangat menikmati sentuhan-sentuhan dari 'teman'nya itu. Antara sadar dan tidak, Yunho mendaratkan tangan kekarnya di punggung tangan yang bersemayam di dadanya. Membuat sang empunya tangan terkejut dan sontak mengangkat wajahnya.

Deg.

Kim Jaejoong, begitu mata bulatnya bertemu dengan manic musang itu, jantungnya bergerak tak menentu. Apa ini? Apa yang membuatnya terkena serangan gugup tiba-tiba? Apa karena calon Rajanya memegang tangannya? Apa karena tatapan mereka yang semakin lama semakin dalam? Atau…. Karena tangannya yang bersemayam di dada Yunho juga merasakan degupan keras dari sang empunya?

"yang muliaa…"

Lirih Jaejoong mencoba menyadarkan situasi yang menyelimuti ruangan itu. Mata musang Yunho tidak bergerak. Seolah terhipnotis akan ciptaan indah di hadapannya. Ekspresi bingung yang terpancar dari mata Jaejoong belum cukup membuat 'yang mulia'nya tersadar. Manic kecilnya hanya focus pada satu hal yang membuatnya tak sadarkan diri.

Jung Yunho menelan salivanya begitu cherry merah yang sejak tadi menjadi objek pandangnya bergerak memanggilnya. Entah dorongan dari mana, plum itu sungguh menggugahnya untuk merasakannya.

Perlahan putra Raja berhanbok biru itu mendekati objek pandangnya. Membuat sekretaris cantiknya bergidik karena terkejut.

Dekat.

Semakin dekat.

Dan...

Sreeet!

Saat plum berbentuk hati itu hendak mendarat di permukaan cherry yang begitu menggoda, Jaejoong menundukkan kepalanya. Menatap kosong mahkota yang tergeletak di atas meja di samping putra mahkota.

Merutuki apa yang baru dilakukannya, tapi jujur, Jaejoong tidak tahu harus melakukan apa tadi. Dia tidak berani menduga bahwa putra mahkota baru saja mencoba menciumnya. Tapi Jaejoong sangat yakin bahwa Yunho benar-benar akan menciumnya tadi.

Jaejoong semakin menenggelamkan kepalanya begitu suhu tubuhnya kini berkumpul di kepala. Jantungnya berolahraga lebih giat bahkan lebih giat dari olahraga yang pernah dilakukannya.

Hal serupa terjadi pada lawan yang saat ini menatap langit-langit kamarnya. Tatapannya beredar ke banyak titik, meskipun tidak ada satupun yang dilihatnya lebih dari lima detik. Gugup. Jung Yunho gugup meratapi kebodohannya yang hampir lepas kendali. Wajahnya memerah tak kalah merah dari Jaejoong. Bodoh. Kenapa ia melakukan hal itu? Apa yang baru saja di lakukannya? Kalimat itu terus menggeliat di pikirannya.


-THE GREAT BOOJAE-

Minggu sore yang indah di musim gugur. Keluarga kerajaan berkumpul di pavilion Changguk dalam jamuan minum teh. Kurang lebih seribu orang prajurit berjaga ketat mengelilingi bangunan tua ini. Para dayang rumah berdiri berjajar di dekat pavilion. Kepala dayang dari masing-masing pavilion berdiri di dekat pintu, sejajar dengan sekretaris pribadi Raja dan Putra Mahkota. Sunyi, hanya nyanyian burung yang terdengar di kawasan pavilion tersebut. Dan beberapa kali, kekehan terdengar dari dalam pavilion Changguk.

Suasana kekeluargaan yang hangat memenuhi pavilion Changguk. Di meja tengah, meja utama di ruangan itu, duduklah lima orang keluarga yang saat ini saling melempar canda. Di ujung meja, duduk seorang wanita baya dengan hanbok hijau toska. Dari ukiran benang yang terdapat di lengan hanboknya, semua orang akan tahu bahwa wanita ini adalah Ibu Suri kerajaan. Di sisi sebelah kanan, duduk seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan dibalik hanbok hitamnya. Mahkota yang dikenakannya menandai bahwa dia adalah Raja negeri ini. Di depan Raja, tepat di sisi kiri Ibu Suri, putra mahkota Jung Yunho duduk. Di sampingnya ada seorang gadis muda nan cantik dengan balutan hanbok merah muda. Dia adalah tuan putri Jihye. Anak Raja dari selir Hyewon. Di depan tuan puti Jihye, tepat di sebelah Raja, duduklah ibu Negara dengan balutan hanbok orange.

Terlepas dari meja utama, masih ada meja kecil yang terletak di pinggir ruangan, di sana duduk seorang wanita berhanbok kuning. Duduk dengan kesendirian dan hanya menonton kehangatan keluarga di depannya. Dia adalah Selir Hyewon. Yah, seorang selir memang tidak duduk bergabung dengan keluarga inti kerajaan.

Yunho POV

"puta Mahkota,"

Ibu Suri memanggilku dengan suaranya yang mulai bergetar. Meskipun kecantikkannya mampu menutupi usianya, tapi tetap saja nenekku sudah sangat berumur. Kesehatannya tidak sama lagi dengan masa mudanya. Aku meletakkan cangkir tehku dan menoleh pada nenekku tersayang. Aku menghela napas sebelum melemparkan senyumku. Sepertinya kami akan masuk ke inti pembicaraan.

"ne, Halmoni. Ada apa?"

"Putra mahkota, berapa usiamu sekarang?"

"aku ? aku baru mau dua puluh tahun, Halmoni. Waeyo?"

Tepat seperti dugaanku. Beberapa waktu belakangan ini aku mendengar berbagai issue tentang hal ini. Tidak, aku bahkan menunggu pembicaraan ini sejak tiga tahun yang lalu. Karena memang seharusnya pembicaraan ini dilakukan ketika usiaku menginjak 17 tahun.

Aku makin mengembangkan senyumku, sedikit bergelayut manja di lengan nenekku. Meski aku menunggu pembicaraan ini, tapi jujur, aku tidak mengharapkan pembicaraan ini.

"yya, yya, apa ini? Kau sudah tidak pantas bersikap seperti ini Jung Yunho. Kau sudah mau dua puluh tahun, dan itu artinya kau bukan anak kecil lagi"

Halmoni melepas tautan tanganku di lengannya. Ah, aku pasrah. Sepertinya pembicaraan ini sudah tidak bias di tunda-tunda lagi. Aku mengambil kue pelangi yang ada di atas meja. Mencoba tidak peduli dengan pembicaraan.

"putra mahkota, jangan seperti itu. kau sudah dua puluh tahun, kau pasti mengerti kewajibanmu kepada rakyat di usiamu ini"

Kali ini ibuku mulai membuka suara. Ah, ibu terlalu jujur karena bicara langsung pada intinya. Aku meneguk teh mawarku sedikit.

"ne, algaesumnida"

Aku manatap tumpukkan makanan. Memilih kue mana yang akan kupilih. Aku tidak peduli dengan akhir dari pembicaraan ini. Sekilas, aku bias melihat senyuman mengembang di wajah ibu dan nenek.

"anakku, aku dan ibumu menikah saat usiaku delapan belas tahun dan ibumu empat belas tahun. Kau tahu, saat itu mungkin aku belum mau menikah sepertimu saat ini. Tapi ternyata rakyat mendesak dan bahkan sempat berdemo di depan pintu kerajaan agar aku segera menikah. Saat itu aku sadar, hidupku ini bukanlah milikku seorang. Sebagai putra mahkota, hidupku juga milik rakyatku. Akhirnyanya akupun menyetujui pernikahan itu dan aku tidak menyesal"

Raja, ayahku yang duduk di depanku menceritakan kisah lalunya. Yah, inilah pembicaraan yang ku maksud. Pernikahan putra mahkota. Belakangan ini aku sering mendengar issue pernikahanku beredar di penjuru istana. Beberapa rakyat yang kutemui ketika aku mengadakan kunjungan sosial juga sempat menanyakan hal ini padaku. Kalau usia delapan belas tahun ayah saat itu dibilang sangat terlambat oleh rakyat, lalu bagaimana dengan kondisiku?

"ne, algaesumnida aboji"

Aku menundukan kepala, mengunyah pelan kue bintang. Aneh, seharusnya kue ini terasa manis. Sepertinya pembicaraan ini membuat indra perasaku keluh.

"para menteri kerajaan sudah memilih beberapa gadis yang pantas untuk mendampingimu. Kau bias memilihnya. Bagaimanapun juga, gadis yang kau pilih akan mendampingimu seumur hidupnya. Mengabdi tidak hanya padamu, tapi juga pada negeri dan rakyat. Pilihlah dengan bijak, pilih yang terbaik untuk menjadi ibu dari putra mahkota kelak dan ibu dari Negara nantinya"

"ne, algaesumnida aboji. Aku akan meminta sekretaris Kim untuk mencari informasi"

Aku menyunggingkan senyum tipisku. Haaaa, aku akan segera menikah. Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjalku. Sesuatu yang membuatku berat menerima pernikahan ini. Sesuatu yang terasa berat dan sangat penuh dalam diriku.

Cherry.

Cherry plum.

Sekelebat bayangan sekretaris Kim muncul dalam benakku. Jaejoong, plum merahnya masih membayangiku. Ditambah morning smile-nya yang tiba-tiba muncul dalam penglihatanku. Membuatku tersenyum gila. Ah, aku benar-benar gila.


-THE GREAT BOOJAE-

Jaejoong POV.

SYUUHH..

Aku mengeratkan hanbokku. Malam ini dingin sekali. Tidak biasanya putra mahkota masih betah tinggal di taman. Padahal ini sudah hampir tengah malam, sudah lebih dari dua jam kami berkeliling taman. Entah berapa kali sudah kami mengelilingi taman. Apa ada yang sedang mengganggu pikiran yang mulia?

Aku berdiri di samping kursi taman yang diduduki putra mahkota Yunho, tepat di belakang pohon besar. Kakiku mulai bergetar. Seharian ini aku terus berdiri dan hanya menapakkan bokongku beberapa menit.

"jae…."

Putra mahkota memanggilku. Aku harap dia akan mengajakku kembali ke pavilion-nya dan setelah itu membiarkanku istirahat. Bagaimanapun juga ini hampir tengah malam, dan besok aku harus bangun pagi sekali untuk mencari data calon permaisuri yang putra mahkota pinta.

"ne, yang mulia…"

Aku menunduk, menatap tanganku yang terkatup di depan paha. Aaaahhh, mataku mulai berat. Kakiku lemas.

SREET.

Mataku yang hampir terpejam terbuka seketika ketika sesuatu menyentuh tanganku. Aku mengangkat wajahku. Dan…

Aku bertemu pandang dengan putra mahkota. Segera aku menundukkan kepalaku. Ya Tuhan, kenapa gugup ini datang lagi.

"duduklah Jae..."

Putra mahkota memintaku dengan suara yang lemah. Menarik tanganku pelan seraya memberiku perintah. Tapi tingkahnya kali sungguh tidak mencerminkan sikap seorang calon raja. Yang mulia... terlihat seperti bocah lima tahun yang berharap dibelikan permen kapas di pasar malam.

"ta-tapi… tapi, yang mulia..."

SREEK.

GREEB.

BRUKK.

Aku terkejut. Sungguh. Yang mulia menarik tanganku dan sukses membuatku duduk berhimpitan dengannya. Mataku terbelalak. Aku mengejapkan mataku beberapa kali. Sudah ku katakan kakiku sedang lemah, dan putra mahkota menarikku sekuat tenaganya. Ya Tuhan, tidak hanya jarak tubuh kami yang behimpitan. Aku masih dalam kondisi terkejut ketika menyadari wajahku terlalu dekat dengan wajah putra mahkota. Bahkan aku bias melihat pori-porinya dengan sangat jelas.

Aku menutup mulutku yang sempat terbuka beberapa saat karena terkejut. Perlahan aku menundukkan kepala dan mulai menjauhkan tubuhku dari putra mahkota. Ingin rasanya aku segera berlari dari tempat itu. menyembunyikan wajahku yang mulai memanas di bawah batu karang di samudra terdalam di dunia. Tapi sungguh, seperti yang aku katakan, kakiku sangat lemas.

"joesonghamnida yang mulia.."

Suaraku bergetar. Aku yakin itu. aku duduk di pinggir kursi dan menundukkan kepalaku. Menatap tanganku.

TUNGGU.

TANGANKU?

Aku menatap horror telapak tangan kananku yang bersarang di telapak tangan kiri yang mulia. Apa yang harus ku lakukan saat ini? Menarik tanganku? Apa yang mulia tidak akan tersinggung? Atau membiarkan tanganku tetap pada tempatnya? Ah jinja, jika itu terjadi kau benar-benar tidak tahu diri Kim Jaejoong.

"yang mulia…"

Ucapku lirih. Aku sedikit menggerakkan jari telunjuk dan tengah tangan kananku. Sedikit memberi petunjuk pada putra mahkota akan kondisi kami saat ini. Mungkin dengan begitu putra mahkota akan melepaskan genggaman tangannya. Tapi…. OH TIDAK. Perkiraanku salah. Yang mulia malah meletakkan tangan kanannya di atas punggung tanganku. TIDAK. Tanganku diapit oleh kedua tangan yang mulia.

"jae… sudah ku katakan, panggil aku Yunho jika kita sedang berdua. Bukankah kita sudah berteman? Arra?"

Aku yang awalnya masih menatap lemas tangan kananku, kini beralih menatap manic musang di depanku. Kejutan macam apa lagi ini? Tubuhku yang tadinya lemas sukses menegang sempurna.

"Jae.. panggil aku"

"y-yan.. Yun-ho"

Ada perasaan lega saat aku menyebut namanya. Terlebih ketika aku melihat senyumannya menanggapi panggilanku. Mungkin mulai saat ini aku harus membiasakan diri menyebut namanya dan menghilangkan kecanggunganku jika berdekatan dengan yang mulia. Aku harus bersikap wajar sebagaimana sikap seorang teman.

"jae… sebentar lagi aku akan menikah"

Aku menunduk dan menghela napas dalam-dalam. Mencoba mengubah sikap seorang hamba menjadi sikap sewajarnya teman. Perlahan ku angkat wajahku dan kutatap lembut Yunho. Bukankah seorang teman akan menatap temannya jika sedang bicara?

"ne, rakyat akan sangat bahagia mendengar berita ini"

Hening. Yunho memandang langit yang sangat pekat. Ku alihkan pandanganku menatap langit. Malam ini… tidak seperti malam sebelumnya. Hanya ada beberapa bintang yang setia menemani langit. Entah pergi kemana bintang-bintang lainnya.

"jae…. Seperti apa pernikahan itu?"

Aku kembali menoleh. Memusatkan pandanganku pada teman yang masih sibuk memandangi langit. Matanya tampak kosong. Beberapa kali kilatan kaca muncul di manic nya. Bibir tebalnya ditarik mengukir senyum teraneh yang pernah ku lihat dari wajahnya. Dia…. Dia seperti sedang memohon kepada langit. Aku tidak tahu apa yang dia panjatkan, hanya saja keragu-raguan terpapar jelas dari matanya.

Putra mahkota, dia ….. tidak sedewasa seperti yang orang lain ketahui.

TBC.


Hui hui,

Chap 2 sampai sini dulu.

Kependekan yah?

Hahaha

Mian ne...


Review corner:

NaegaLeeMinHyuk

Yapp, emang jarang ada yang buat ff kolosal. Makanya aku tertarik buat bikin. Gomawo chinguya~

Julie yunjae

Aku juga gak sabar nunggu jae manggil yang mulianya jd 'yunnie'. Hahaha. Gomawo ne chingu~

Cho Man

Gomawo chingu. Ini dia lanjutannya^^

Mimit

Ini dilanjut chingu. Hush, jangan napsuan gitu ah! nanti yunjae jadi ketularan napsuan dah~ haha gomawo ne.

The

Yapp, aku emang fokusin ke kisah cinta mereka. Walaupun gak ekstrim, tapi aku mau buat se semuuut mungkin^^. Hmm…. Naikin rating yah? Itu mah tergantung kebutuhan reader. Kalo readernya pada pervert, yah... mau gak mau. Hahaha~

*pura2 gak mau padahal udah nyiapin scene 17 keatas. Ho ho ho

Gomawo chingu~

Shippo Baby Yunjae

Yapp, seperti ff yunjae lainnya, aku jg buat yunjae saling mencintai disini. Tapi penuh rintangan. Hehe

Gomawo ne~

Princess yunjae

Aku emang hobi nonton drama kolosal korea. Aku buat cerita dan pendeskripsiannya seperti drama korea. Hm... kissu yah? Tunggu chap depan yah. Kissu baru muncul chap selanjutnya. Ceritanya gak ketebak yah? Aku emang suka main tebak2an. Hehe. Gomawo chingu~

Tifafawookie

Gomawo chingu~ selama ada yang baca pasti aku lanjutin. ^^

puthri mala99

makasih chingu~ yapp, ini aku lanjutin^^

diitactorlove

hahaha kenapa jadi kamu yang senyum2? ^^

di drama kolosal korea, biasanya adegan percintaannya simple tapi keliatan romantis. Makanya jaemma malu2 gimana gitu.. *dilempar kuping gajah sama jae2

gomawo ne~

Kim Cherry

Yapp, nanti di ceritain gimana susahnya perjuangan cinta terlarang mereka. Aku buat yunho se gentle mungkin, biar cocok sama perannya jadi calon raja. Haha

Gomawo chingu~

kucing liar

sebenernya banyak ff yang temanya kerajaan chingu dan bagus2, tapi krn susah mencocokkan cerita dan setting tempatnya. Walhasil banyak ff kerajaan tapi settingnya di zaman modern. Hm….. kira2 siapa yah yg jadi permaisurinya? Hahaha gomawo ne chingu~

chidorasen

ini lanjutannya chingu. Gomawo ne~

js-ie

ho ho ho~ ternyata yunjae bisa bikin orang yg suka jadi suka. Haha gomawo ne chinguya~


Gomawo readers!

Mind to review again? ^^