Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING: Simple, Ringan, OOC, AU, Threeshoot, DLDR! EYD payah. And maybe typo(s) because this chapi is NOt EDITed.
ShikaIno's Fanfiction
Romance
Enjoy! Happy Reading~
My Last One Part: 3
Sepanjang perjalanan menuju rumah Shikamaru, akuberusaha untuk meredakan detak jantungku yang tidak karuan. Dalam bayanganku selalu terlihat sesosok pria dan wanita paruh baya dengan tampang yang mengerikan, err pasti tahu siapa yang kumaksud 'kan? Entahlah aku mulai berkhayal dengan imajinasiku yang kelewatan. Aku harus berhenti membayangkan hal-hal yang seperti itu. Hah, salahkan saja memori otakku yang terkontaminasi bacaan-bacaan fiktif atau tontonan-tontonan fiktif. Tapi, jika memang benar kenyataannya seperti itu bagaimana? Bagaimana kalau orang tua Shikamaru benar-benar galak dan tidak bisa menerimaku dengan baik? Bagaimana kalau... Nampaknya aku akan terus berandai-andai dengan kalimat 'bagaimana' jika saja Shikamaru tidak memanggil namaku, dan mengembalikanku dari dunia khayalan tanpa batasku itu.
"Ino," katanya dengan suara baritone-nya yang selalu saja membuatku meleleh. Suara bising kendaraan dan deru angin di jalan raya ini langsung saja menjadi backsong kami malam ini.
"Apa?" jawabku sekenanya dengan suara yang kubuat sedikit lebih keras agar terdengar oleh Shikamaru.
"Kau, kedinginan tidak?" tanya Shikamaru kemudian, tanpa mengalihkan fokusnya. Dia harus berkonsentrasi jika sedang mengemudi kendaraan, bukan?
Aku menghela napas, pertanyaan itu tak perlu ditanyakan juga pasti sudah tahu jawabannya, Shika-kun yang tampan.
"Peluk aku, Ino. Aku juga kedinginan, kau sih enak duduk di belakang. Aku yang memegang kemudi jauh lebih dingin darimu," katanya seraya menarik sebelah tanganku yang kemudian dilingkarkan di pinggangnya.
Belum sempat akumenjawab, Shikamaru sudah menyerangku dengan tindakannya itu. Seketika wajahku memanas. Tanganku terasa kaku. Memang sih, ini bukan kali pertamanya aku memeluk tubuh Shikamaru. Maksudku setiap kali Shikamaru mengajakku keluar―dengan sepeda motornya―Shikamaru selalu menyuruhku memegang (memeluk) pinggangnya, agar aku tidak terjatuh. Tapi, tetap saja sensasinya berbeda. Sekarang statusku sudah menjadi kekasihnya. Lalu, kenapa juga aku harus merasa malu dan segan memeluknya? Aku kekasihnya, 'kan? Aaahhh... Ino!
"Kenapa? Ayo peluk yang benar," sambungnya ketika tak ada respon dariku.
"Iya, iya. Ini sudah kupeluk," bagus Ino, kenapa sekarang kau malah jadi semakin malu. Just be natural!
"Kurang erat, aku masih kedinginan," Shikamaru rupanya mulai menggodaku.
"Kau ini, malu tahu! Kita di tengah jalan, kau tidak malu dilihat orang lain?"
Shikamaru terkekeh kecil, "abaikan saja. Kau tidak lihat, orang di depan sana juga begitu," katanya seraya mengarahkan dagunya ke pengendara motor di depan kami.
"I-Iya sih, tapi..."
"Ayo cepat peluk yang erat, dingin sekali," rengeknya dengan nada suara yang dibuat-buat manja.
Aduh, Shikamaru. Kau ini kenapa suka sekali membuat jantungku berdebar-debar, sih?
"Iya, Sayang... Sudah hangat?" akhirnya aku memberanikan diri untuk memeluk tubuh Shikamaru lebih erat lagi, lalu meletakkan daguku di atas pundak kanannya.
Tunggu... aku bilang apa tadi? Sayang? Oh, Tuhan. Semoga Shikamaru tidak mendengarnya. Tapi ternyata, Tuhan tidak mengabulkan permohonanku itu. Karena detik berikutnya, Shikamaru tersenyum kecil dan berkata, "terimakasih, Sayang. Ini sudah hangat."
Rasanya aku ingin berteriak sekarang juga, agar seluruh dunia tahu bahwa aku benar-benar bahagia!
Bolehkan aku berlebihan? Jatuh cinta bisa semenyenangkan seperti ini rupanya.
.
.
"Shikamaru... Apa tidak apa-apa kaubawa aku ke rumahmu? Um, bagaimana kalau aku menunggumu di luar rumah saja? Sepertinya lebih baik begitu 'kan? Nee... Shikamaru? Jawab aku!" ujarku saat aku dan Shikamaru baru saja sampai di depan rumah milik keluarga Nara.
Aku bergerak-gerak gelisah dan terus memandang sekelilingku. Takut jika orang tuanya tiba-tiba muncul dan... ya mungkin mereka akan mengusirku? Ah, bodohnya aku memiliki pemikiran seperti itu.
Shikamaru tampak tak menghiraukan kegusaran hatiku. Laki-laki yang baru saja resmi menjadi kekasihku itu kemudian menunduk untuk membuka gembok pagar rumahnya yang terkunci. Lalu setelah gembok berhasil terbuka, Shikamaru mengangkat wajahnya dan bertemu pandang denganku. Tuhan... tatapannya itu membuatku kesulitan bernapas.
Tenang, Ino. Kau harus tenang!
Shikamaru menghembuskan napas, sebelah tangannya membuka pagar besi itu lebar-lebar. "Ino," panggil Shikamaru. "Masuklah. Tidak ada yang harus kaukhawatirkan," katanya sambil mendorong badanku pelan untuk masuk.
Aku menoleh ke arahnya hendak melakukan protes. "Eh... Tapi, tunggu dulu..." namun, sebelum sempat aku menyelesaikan perkataanku, terdengar suara berat dari balik punggungku yang membuatku tersentak.
"Kau sudah pulang, Shikamaru? Hei, siapa yang kaubawa?"
Perlahan aku membalikan badanku yang semula menghadap Shikamaru untuk mengetahui siapa pemilik suara itu―sebenarnya aku sudah bisa menebaknya siapa sih.
"Iya, Ayah. Biar kukenalkan, dia Ino," jawab Shikamaru.
Dengan kikuk aku membungkukkan kepalaku sebagai rasa hormat, "Saya Ino, paman."
"Ah, kau pacarnya Shikamaru?" tanya pria paruh baya itu kemudian.
Ah, pertanyaan itu membuatku seakan tertimpa beribu-ribu bunga. Rasanya senang sekali calon ayah mertuaku―baiklah aku mulai berkhayal yang jauh lagi―menyebutku sebagai pacarnya Shikamaru. Dengan perasaan senang yang membuncah aku tersenyum kikuk dan mengangguk singkat. "I-iya, Paman."
"Aa, Shika suruh Ino masuk, dan kau bantu ayah mencari rantai cadangan. Kau ini ada-ada saja, merepotkan."
Tanpa banyak basa-basi tak penting, aku pun masuk ke ruangan tamu, sementara Shikamaru dan ayahnya berkutat dengan perkakas-perkakas motor yang sama sekali tak aku mengerti di garasi. Di ruangan ini aku duduk sendiri sambil menunggu Shikamaru menyelesaikan kegiatannya. Kuamati berbagai figura foto yang tertempel di dinding. Tampak beberapa foto keluarga yang beranggotakan empat orang, lalu foto-foto Shikamaru ketika masih kecil, foto kedua orangtuanya, dan foto wanita cantik yang kuketahui sebagai kakaknya. Hah, aku benar-benar gugup sekarang jika membayangkan semua anggota keluarga Shikamaru ada di rumah. Dan yang paling kutakutkan adalah jika aku bertemu dengan kakaknya itu, entahlah aku merasa bahwa aku tak bisa diterima dengan baik olehnya. Pikiran negatifku benar-benar buruk, berprasangka buruk pada wanita secantik ini? Cukup, Ino... Tapi, tidak bisa kupungkiri aku memang resah. Untungnya, kakak Shikamaru sudah menikah dan sekarang tinggal terpisah. Meskipun aku berharap suatu hari nanti cepat atau lambat aku ingin berkenalan dengan kakaknya itu.
"Eh, ada tamu? Siapa ini? Shikamaru, kenapa kau tidak memberinya minum? Dasar kau itu," tiba-tiba saja suara nyaring yang cukup melengking memasuki indera pendengaranku dan membuyarkan segala khayalku.
Aku menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Dan mendapati sesesok wanita paruh baya. Aku baru sadar sejak tadi aku mencari-cari sesosok wanita ini. Iya, tentu saja seorang wanita yang telah melahirkan pangeranku itu. Seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tak bisa dibilang muda lagi itu sekarang duduk di sampingku. Pepatah buah tak jatuh jauh dari pohonnya memang benar adanya, pantas saja Shikamaru dan kakak perempuannya begitu tampak sempurna.
"Selamat malam, tante," sapaku padanya.
"Malam, siapa namamu? Shikamaru itu benar-benar ya, bisa-bisanya rantai motor putus. Ya, wajar juga sih, motornya sudah lama tidak dipakai semenjak ditinggalkan Shikamaru ke Hokkaido," ujar Ibu Shikamaru.
Ah, iya. Bicara tentang Hokkaido, kalau tidak salah selama lima bulan kemarin Shikamaru berada di sana untuk praktek kerja.
"Namaku, Yamanaka Ino, tante, salam kenal," balasku seraya tersenyum, "tiba-tiba saja rantainya putus, kurasa memang karena terlalu lama tidak dipakai. Rantainya sudah kering," sambungku.
Ibu Shikamaru mengangguk dan mendesah pelan, "jadi merepotkanmu, Ino-chan. Malam-malam seperti ini keluar rumah, ngomong-ngomong di mana rumahmu?"
"Tidak apa-apa tante, ah rumahku di Konoha Street. Tidak jauh ko dari sini," kataku.
"Ah, pantas saja. Shikamaru selalu menanyakan di mana tempat itu, ternyata... Sudah lama kenal dengan Shikamaru? Kenal di mana? Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka anak itu akan membawa seorang gadis ke rumah seperti ini," cerocos ibu Shikamaru. Wajahnya begitu ceria, entahlah hal apa yang menyabakannya seperti itu. Kuharap aku bisa diterima olehnya kelak. Hm... Perjalananku masih panjang.
"Hehe, benarkah? Ah, yah cukup lama. Kami kenal di..." lagi-lagi Shikamaru menginterupsiku, sebelum sempat aku menyelesaikan kalimatku, laki-laki berambut nanas itu masuk ke dalam ruang tamu dengan secangkir minuman di tanganya.
"Hehe, maaf aku lupa. Ini minumnya," ujarnya seraya menyodorkan minumannya kepadaku.
Diam-diam aku bersyukur Shikamaru datang. Aku sedikit kesulitan jika harus menceritakan bagaimana awal mula aku dan Shikamaru kenal. Dari internet? I'm not sure memberikan jawaban seperti itu kepada ibu Shikamaru.
"Trim's," balasku singkat.
"Kau ini bagaimana? Ada tamu tapi diabaikan seperti itu," tegur ibunya.
"Biarkan saja bu, tidak perlu diberi minum pun dia baik-baik saja. Iya, kan? Ino?" Shikamaru menyeringai.
Menjengkelkan, dasar bermuka seribu. Tapi, dari semua sifatnya, aku paling suka dengan sifat tengilnya itu, "jahat sekali, kau," balasku dengan wajah memberenggut.
"Hahaha... Becanda, kau ini selalu saja serius."
"Dasar Shika, anak ini memang tengil," hah, bahkan ibunya pun sehati denganku, "kau dan ayah sudah dapat rantainya? Jika sudah, segera antar Ino-chan pulang. Ini sudah malam, orang tuanya bisa khawatir.
"Iya, sudah bu. Hm, baiklah. Pergi sekarang?" tanya Shikamaru kepadaku.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
"Tunggu! Biar ayah ikut ke sana, kau pasti tidak akan bisa mengerjakannya sendiri. Lagipula sudah larut malam, pengerjaannya akan cukup membuang waktu. Ibu, cepat pakai jaket. Ibu juga ikut," seru ayah Shikamaru yang tiba-tiba saja masuk ke ruang tamu.
Apa? Semuanya ikut ke rumahku? Oh, Tuhan...
Ini jauh dari ekspektasiku. Jauh dari bayanganku. Bahkan jauh dari khayalan tingkat tinggiku itu!
"Eh? Ayah dan ibu juga ikut? Kalau begitu tunggu sebentar, ibu ganti pakaian dulu," ujar Ibu Shikamaru dan melesat pergi dari ruang tamu. Sementara ayah Shikamaru kembali ke garasi untuk mengeluarkan mobil miliknya.
"Shikamaru..."
"Maaf ya? Tidak apa-apa jika seperti ini? Padahal aku sudah bilang pada ayahku, aku bisa sendiri. Tapi, ini memang sudah malam sih. Kurasa akan lebih efektif jika dikerjakan dengan ayahku. Lagipula, ayahku takut jika motorku tidak bisa jalan. Hubungi orang tuamu," ucap Shikamaru.
"Ugh, baiklah."
Aku tidak menyangka akan ada hal seperti ini. Hari ini sungguh banyak dengan kejutan. Mulai dari kedatangan Shikamaru yang tiba-tiba ke rumahku, putus rantai, prosesi penembakan di depan rumah, mengunjungi rumah Shikamaru, dan sekarang orang tua Shikamaru ikut serta ke rumahku, yang otomatis akan bertemu dengan kedua orang tuaku. Seperti lamaran saja ya? Kyaaa... Ino, kau mulai lagi!
.
.
"Sudah dikunci semua?" seru Ibu Shikamaru yang ada di dalam mobil sedan biru bersama ayah Shikamaru.
Shikamaru mengangguk dan mulai menyalakan mesin motor. Sementara aku duduk manis di belakangnya.
"Ino-chan, kau ikut bersama kami saja. Agar tidak kedinginan," ajak ibu Shikamaru menyuruhku untuk ikut naik mobil.
Aku tersenyum kecut, bukannya tidak mau. Hanya saja rasanya pasti kikuk di dalam sana. Sebenarnya aku takut dengan ayah Shikamaru. Wajahnya terlihat tegas dan... pokoknya aku takut.
"Terima kasih, tante. Aku di sini saja, lagipula Shikamaru bilang, dia tidak ingin sendirian," kataku.
"Apa?" Shikamaru memberenggut. Aku memberikannya cengiran.
"Dasar Shikamaru... Yasudah, pelan-pelan ya. Hati-hati di jalan. Kami akan mengikuti kalian di belakang," balas Ibu Shikamaru.
Setelah itu, kami pun beriringan menuju rumahku. Sepanjang jalan, hatiku benar-benar tak tenang. Semoga saja keluargaku dan keluarga Shikamaru bisa menjalin hubungan yang baik.
Tak lama kemudian, aku dan keluarga Nara sampai di rumahku. Aku segera turun dari motor dan berlari ke dalam rumahku. Meninggalkan Shikamaru dan keluarganya yang tengah mencari spot kosong untuk parkir mobil. Maklum saja, komplek rumahku ini jalanannya agak sempit untuk parkir.
"Ibu... Ayah... Shikamaru dan orang tuanya di sini, cepat keluar," seruku kepada kedua orang tuaku yang sedang menyaksikan acara televisi.
"Sudah datang? Aduh, kau ini bagaimana. Kenapa tiba-tiba semuanya ke sini? Ibu harus bagaimana?" celoteh ibuku yang terlihat panik.
"Sudahlah ibu, tidak usah panik. Seadanya saja," balas ayahku.
"Iya, sudahlah tidak apa-apa. Mereka juga mungkin hanya sebentar. Setelah motor Shikamaru selesai, mereka juga akan segera pulang. Ngobrol-ngobrol saja, ayo cepat."
.
.
Waktu berjalan begitu cepat malam ini. Tahu-tahu sekarang keluargaku dan keluarga Shikamaru sudah duduk berkumpul di ruang tamu rumahku. Saling berhadap-hadapan. Beberapa menit yang lalu, ayah Shikamaru, dan Shikamaru selesai melihat keadaan motornya. Namun, ternyata ayah Shikamaru salah membawa jenis rantai. Rantainya tidak cocok dengan rantai motor Shikamaru. Alhasil keduanya menyerah. Membiarkan motor milik Shikamaru itu menginap di rumahku. Dan Shikamaru bisa pulang dengan kedua orang tuanya naik mobil nanti.
Kini, kedua orang tuaku dan orang tua Shikamaru tampak berbincang-bincang. Mulai dari obrolan berasal dari daerah mana tanah kelahiran mereka, pekerjaan mereka apa, dan obrolan-obrolan kecil seputar masalah kehidupan. Yah, entahlah aku tak begitu banyak memberi perhatian dengan topik yang dipilih oleh para orang tua. Aku lebih tertarik melihat ekspresi wajah Shikamaru yang lain dari biasanya. Shikamaru tampak lebih manis. Haha... Upst, aku ingin tertawa. Sungguh. Shikamaru tiba-tiba saja berubah menjadi anak yang pendiam, sesekali dia hanya tersenyum kecil atau memberi jawaban seadanya jika ditanya. Jauh dari kesan tengil atau penuh percaya diri yang selalu dia perlihatkan jika sedang bersamaku.
"Maaf malam-malam merepotkan seperti ini, tapi ternyata tetap saja motornya tidak bisa diperbaiki sekarang juga," ujar ayah Shikamaru.
"Tidak apa-apa, sudahlah, biarkan saja sehari motornya di sini. Besok baru diperbaiki lagi," sahut ayahku.
"Sebenarnya, Shikamaru ini orang yang tidak pernah mau kotor-kotoran, makanya ayahnya harus ikut. Maaf ya, Yamanaka-san, jadi harus bertamu malam-malam," kali ini giliran ibu Shikamaru yang buka mulut.
Ibuku tersenyum dan mengibaskan tangan kanannya, "ah, sudah tidak apa-apa. Dengan begini malah bisa mengenal orang tua Shikamaru. Ternyata Shikamaru tidak suka kotor-kotoran? Yah, siapa saja bisa melihatnya sih, lihat saja kulitnya yang mulus," balas ibuku.
Shikamaru yang tengah menegak minumannya hampir saja tersedak, "a-apa? Tidak, bukan seperti itu. Ibu suka berlebihan," katanya.
Sontak saja ruangan pun menjadi riuh oleh tawa renyah. Aku pun tak bisa menahan senyuman lebarku. Aku suka suasana hangat seperti ini. Aku bersyukur mereka semua bisa berbaur satu sama lain. Dan aku senang melihat pergantian ekspresi Shikamaru yang belum pernah aku lihat itu. Lucu sekali.
Lalu topik pembicaraan pun kembali mengacak. Entah awalnya apa, namun yang berhasil kurekam adalah ucapan ayah Shikamaru dan ayahku yang membuatku merasakan sensasi yang aneh. Aku tidak tahu pasti perasaan apa itu, mungkin sebuah kekhawatiran atau mungkin sebuah perasaan lega. Entahlah.
"Jika sudah kenal masing-masing keluarga seperti ini enak. Sekarang serahkan saja semuanya kepada anak-anak, yah tapi perjalanan mereka masih sangat panjang. Biarkan saja dulu mereka lulus kuliah, lalu mendapatkan pekerjaan yang cocok, dan setelah itu terserah mereka apa yang akan mereka berdua lakukan. Kakak Shikamaru pun menikah dari hasil kerja kerasnya bersama suaminya, proses mereka juga cukup panjang, lima tahun berpacaran, lalu menikah," ujar ayah Shikamaru.
"Iya, tentu saja. Biarkan saja dulu mereka meraih kesuksesan, ya minimal memiliki penghasilan untuk biaya hidup mereka nanti," sambung ayahku.
Shikamaru dan aku saling melemparkan pandangan dan tersenyum. Ya, tentu saja. Lagipula, aku juga tidak memiliki niat cepat-cepat menikah di usia muda ini. Aku belum punya pekerjaan, Shikamaru belum merampungkan gelar sarjananya. Selain itu, aku dan Shikamaru belum lama saling mengenal, dan kami juga baru sehari pacaran, obrolan tentang pernikahan ini sangat berat kurasa. Meskipun benar, aku ingin menikah dengan Shikamaru suatu hari nanti. Tapi bukan berarti aku ingin menikah dengannya dalam waktu dekat. Ah, sudahlah. Jika berbicara tentang pernikahan selalu membuatku sensitive.
Cukup lama kami terlarut dalam perbincangan yang selalu berganti-ganti topik ini. Yang sebenarnya hanya didominasi oleh para orang tua. Aku dan Shikamaru hanya menjadi pendengar setia.
"Sepertinya sudah terlalu larut, sudah waktunya untuk kalian beristirahat. Kami pamitan saja," kata ayah Shikamaru sesaat setelah obrolan tentang hobi memancing yang dimilikinya selesai.
Ibu Shikamaru mengangguk menyetujui usul dari suaminya, "iya kurasa juga seperti itu."
"Ah, begitu? Maaf tak ada suguhan yang begitu berarti yang bisa kami berikan," ujar ibuku.
"Tidak apa, ini sudah cukup. Lagipula kami ke sini bukan untuk meminta makan atau apa, bukan?" kekeh ibu Shikamaru ramah.
Keluarga Nara pun berdiri dari kursi yang semula diduduki. Bersiap-siap untuk pulang. Sayang sekali malam ini begitu singkat dan cepat berlalu, di saat aku mulai semakin menikmati suasana yang menenangkan ini. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Mereka harus segera pulang. Aku dan kedua orang tuaku pun ikut berdiri dan mengantar keluarga Nara sampai depan rumahku. Menunggu mereka sampai benar-benar pergi dan meninggalkan kawasan rumahku.
Sekarang waktunya tidur nyenyak. Tapi sebelum itu aku menunggu pesan singkat dari Shikamaru dulu, pesan yang isinya kabar bahwa dirinya sudah sampai rumah. Karena aku meminta padanya (sebelum dia dan keluarganya pulang) untuk memberiku kabar jika dia sudah sampai di rumah dengan selamat. Sekitar dua puluh menit, akhirnya pesan yang kutunggu-tunggu datang juga.
From: Shikamaru Nara
To: Ino Yamanaka
Ino :D aku sudah sampai rumah. Ino, kautahu? Hari ini aku sangat bahagia.
Benar-benar tak diduga. Akhirnya keluargaku dan keluargamu bertemu. Hah, Tuhan begitu banyak teka-teki.
Btw, terima kasih untuk hari ini.
I love you, Ino Yamanaka. :*
Selamat tidur.
Aku senyam-senyum sendiri membaca pesan yang dikirim oleh Shikamaru. Aku juga bahagia, tahu. Sangaaat bahagia lebih tepatnya. Tapi, seharusnya bukan Shikamaru yang berterima kasih 'kan? Lalu aku pun mengetik pesan balasan untuk pangeran tercintaku itu.
From: Ino Yamanaka
To: Shikamaru Nara
Syukurlah jika kau sudah sampai rumah. Aku juga saaaaaaaangat bahagia.
Ya, skenarip Tuhan selalu diluar dugaan manusia.
Terima kasih juga untuk hari ini.
I love you more, Shikamaru Nara. Selamat tidur dan mimpi indah ^_^
See you~
Dan dengan itu berakhirlah malam indahku ini. Kuharap esok akan banyak lagi hari-hari yang indah untukku, dan Shikamaru tentu saja.
.
.
Satu minggu luruh begitu saja.
Pagi-Pagi sekali aku terbangun. Entah kenapa hari ini aku ingin bangun cepat. Ibuku sudah sibuk memasak di dapur, katanya syukuran kecil-kecilan menyambut hari lahirku, bahkan ibu menyuruhku mengundang beberapa teman untuk datang ke rumah dan makan-makan ala kadarnya. Ah, ternyata tak terasa kalender rumahku sudah menunjukkan tanggal 23 September. Itu artinya usiaku bertambah, 21 tahun tepatnya. Ini hari besarku, dan hari ini aku harus berbahagi dua kali lipat dari biasanya, bukan? Meskipun tanpa kehadiran Shikamaru di sampingku. Beberapa hari yang lalu, Shikamaru menghubungiku bahwa dia harus pergi ke Hokkaido untuk mengambil nilai selama praktek kerja di sana, dan tak akan kembali sampai tanggal 25 September. Hah, menyedihkan memang. Tapi bersabarlah, sebenarnya tidak perlu dirayakan juga tidak apa-apa. Lagipula aku bukan anak kecil lagi yang menginginkan kado atau kejutan di hari ulang tahunku. Kurasa ucapan dan doa darinya serta orang-orang terdekatku saja sudah cukup dari hadiah berharga apapun. Meskipun rasanya akan sangat berbeda jika merayakan hari spesialmu bersama dengan seorang kekasih. Maklum, aku belum pernah merayakan ulang tahun bersama seorang kekasih.
Saat pergantian hari tadi, aku melipat jemari. Berbisik-bisik pada Tuhan lewat sebuah doa. Aku merayunya untuk segera menghadirkan pertemuan dengan pemuda kesayanganku. Sayangnya Tuhan lebih senang membuat aku bersabar dalam setiap pengharapanku. Bukannya Tuhan tidak mendengar atau tidak mau mengabulkan doaku. Mengiyakan bukan berarti langsung melaksanakan, kan? Kurasa Tuhan ingin aku menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan Shikamaru. Dan aku yakin Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kuperkirakan. Toh, hari ulang tahunku tahun ini tidak buruk-buruk juga tanpa Shikamaru. Karena semalam tepat pukul 00.00, Shikamaru mengirimi aku sebuah voice note berdurasi sepuluh menit. Tapi, bodohnya aku tertidur begitu pulas, sehingga panggilan telepon darinya tak bisa kuangkat. Andai saja aku masih terjaga dan mengangkat telepon itu, aku akan mengatakan padanya bahwa aku ingin dia ada di sini sekarang...
"Happy birthday, Sayang. Maaf aku tidak bisa mengucapkannya secara langsung. Kau sudah tidur? Beberapa kali panggilan teleponku tak terjawab. Fiuh, tapi sudahlah. Kau tidur yang nyenyak saja. Tepat di usiamu yang ke 21 tahun ini, semoga apa yang kaucita-citakan dan kauinginkan bisa tercapai. Semoga Tuhan selalu memberikan jalan yang terbaik untukmu dan untuk kita. Lalu... Semoga kau bisa menjadi lebih dewasa dan lebih sayang aku, haha... tentu saja sayang kedua orang tuamu juga. Hm, nanti pagi aku hubungi lagi. Sekarang kau istirahat ya, semoga mimpi indah. This is your day, and I will make your dream come true. Just for you, only for you. I love you, Ino Yamanaka."
Kuputar berulang-ulang pun voice note darinya itu masih saja membuat jantungku berdebar-debar. Suaranya benar-benar seperti alunan melodi yang berasal dari surga. Mampu membuatku tenang dan melayang. Ok, aku berlebihan lagi.
Tak ingin terlarut-larut dalam lamunan yang bisa saja membuatku berkhayal yang tidak-tidak. Aku bergegas mengambil handuk dan segera menyegarkan badanku dengan mandi pagi―kegiatan yang jarang kulakukan jika tidak pergi kemana-mana―ini kulakukan agar aku tidak jauh berpikiran negatif, seperti Shikamaru selingkuh di Hokkaido misalnya, atau yang lebih parah lagi, dia ternyata tidak ada di Hokkaido melainkan ada di Tokyo, tapi bersandiwara ada di Hokkaido. Argh! Kenapa aku tidak percaya sih? Padahal baru beberapa menit yang lalu dia mengirimkan sebuah foto yang menunjukkan bahwa dia sedang berada di Hokkaido. Masih saja aku tidak memercayainya.
"Yosh, ayo mandi pagi!" seruku entah kepada siapa.
Selesai ritual mandi pagi yang sangaaaaat jarang kulakukan itu, dan berdandan ala kadarnya. Kini aku duduk di kursi ruang tamuku seraya memainkan ponselku. Barangkali ada pesan masuk dari Shikamaru atau teman-temanku perihal kehadiran mereka ke acara makan malam di rumahku atau tidak. Kulirik arloji yang melilit manis di tangan kiriku. Pukul 08.00.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Ini hari Sabtu dan aku sama sekali tak memiliki kegiatan. Bosan sebenarnya tanpa rutinitas sibuk seperti jaman kuliah dulu. Tapi, mau bagaimana lagi. Maka, kuputuskan untuk membantu ibu di dapur.
"Teman-temanmu datang jam berapa?" tanya ibu seraya menggoreng beberapa potong ayam.
"Tidak tahu, bu. Belum ada kabar lagi dari mereka. Paling juga aku hanya mengundang Sakura, Chouji, Kiba dan Naruto," jawabku. Yap, mereka berempat merupakan sahabatku.
Drt drt drt drt
Kurasakan ponsel di saku celanaku bergetar, akumerogoh untuk mengambil ponselku. Nama Shikamaru tertera di layar ponselku. Lampu LCD ponselku berkelap-kelip, tanda adanya panggilan masuk. Akhirnya dia menghubungiku juga setelah lama kutunggu. Kuhentikan sejenak kegiatan mengoseng-oseng sambal goreng dan menekan tombol jawab.
"Hallo? Shikamaru?"
"Ino, keluar sebentar," jawab suara Shikamaru di saluran telepon.
Aku mengerutkan keningku tak mengerti, "keluar? Maksudmu? Keluar ke mana?"
"Keluar rumahmu tentu saja, memangnya ke mana lagi? Ayo cepat," perintahnya lagi.
"Apa sih? Memangnya ada apa? Aku harus ke luar segala," aku masih enggan mengikuti intruksi yang Shikamaru berikan.
"Ayo cepaaat! Kututup ya, jaa," nada suara Shikamaru terdengar lebih memaksa kali ini, maka aku pun segera beranjak dari dapur dan menuju pintu depan rumahku.
"Iya, bawel! Aku sedang menuju ke sana."
Tut tut tut
Sialan! Dia menutup saluran teleponnya begitu saja. Huh.
Shikamaru menyebalkan.
Sungguh, aneh sekali gelagat Shikamaru. Memangnya ada apa di luar? Apakah dia memberiku kejutan? Oh, aku tidak yakin. Kan tahu sendiri, dia masih ada di Hokkaido dan tak akan pulang sampai tanggal 25 September. Jadi, mana mungkin tiba-tiba saja sosoknya muncul di depan rumahku. Meskipun tak dapat kupungkiri bahwa hatiku mulai berdebar-debar. Menerka-nerka apa yang tengah menungguku di luar sana. Kiriman paket dari Shikamaru kah? Atau dia hanya iseng saja menyuruhku ke luar dan setelah aku menurutinya maka dia akan bilang, "kena kau. Kau tertipu, Ino," ah entahlah. Lihat saja nanti.
Aku semakin mendekati pintu depan rumahku. Kuraih gagang pintu dengan sebelah tanganku dan membuka pintu.
CKLEK
Pintu pun terbuka dan taraaaa... Pandanganku terhalang oleh sebuket bunga mawar berukuran besar. Tepat di depan wajahku. Kukerutkan keningku dan mendongakkan kepalaku. Kututup mulutku dengan sebelah tanganku. Tebak apa yang kulihat di depan sana selain sebuket bunga mawar besar, sebuah kado berukuran besar juga yang entah apa isinya? Shikamaru. Ya, Shikamaru ada di depanku sekarang. Tuhan, dia ada di depanku sambil tersenyum manis. Manis sekali.
"Happy birthday, Ino," katanya, "ini untukmu," sambungnya seraya memberikan sebuket bunga mawar yang semula ada di tangan kanannya. Sementara kado berukuran besar itu dia bawa masuk ke dalam rumahku dan menaruhnya di atas meja yang ada di ruang tamu.
"Siapa yang datang, Ino?" seru ibuku dari arah dapur. Aku tak menjawab karena masih terkejut dengan kehadiran Shikamaru yang tiba-tiba. Ingin rasanya segera berlari ke dalam pelukannya, tapi tentu saja aku tak bisa melakukan itu. Ugh, kau jahat, Shikamaru. Bahkan aku hampir menangis sekarang.
"Loh, Shikamaru? Ino bilang kau sedang berada di Hokkaido, lalu kenapa sekarang ada di sini? Ino, sedang apa kau berdiri di depan sana? Ayo buatkan Shikamaru minuman!" sambung ibuku.
Aku mengangguk dan meletakan buket mawar merah itu di sebuah pot bunga. Dan melesat membuat minuman untuk Shikamaru. Kudengar samar-samar, obrolan ibu dan Shikamaru.
"Iya tante, aku sengaja pulang ke Tokyo untuk bertemu dengan Ino. Nanti setelah ini, mungkin aku akan kembali ke Hokkaido. Aku izin pada pembimbingku di sana," sahut Shikamaru ketika aku kembali ke ruang tamu dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Wah, kau ini sampai segitunya. Ya sudah, ibu tinggal dulu ya? Ibu sedang memasak," ujar ibuku seraya kembali ke arah dapur.
Kini hanya ada aku dan Shikamaru di ruang tamu ini. Aku masih tak membuka suara. Entahlah, sepertinya kekagetanku masih belum bisa mereda.
"Ah, ya ada satu lagi untukmu," Shikamaru merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana, "ini, kau suka tidak?" tanyanya kemudian.
Shikamaru menyodorkan cokelat dan ice cream, aku menerimanya dan menggelengkan kepalaku. "Shikamaru, banyak sekali yang kaubawa! Bagaimana caranya kaumembawa semua ini dengan mengendarai motor?" aku bertanya-tanya padanya.
Shikamaru menghela napas dan bersandar di punggung kursi, "hah, it's so troublesome. Tapi, semua bisa teratasi," katanya.
"Kau tidak harus seperti ini, Shikamaru. Terima kasih banyak, maaf merepotkanmu," aku menatapnya dengan tatapan lesu.
Shikamaru mengacak rambutku pelan dan terkekeh, "apa sih? Kenapa mukamu sedih? Bukankah kau harusnya bahagia? Masa diberi kejutan kau malah sedih?" katanya.
"Aku bukannya sedih, hanya saja ini terlalu berlebihan."
Shikamaru menggelengkan kepalanya dan melipat tangan di depan dada, "sama sekali tidak berlebihan. Ah, bukalah kado itu. Kau suka atau tidak?"
Aku mengembungkan pipiku dan mulai membuka bungkus kado berwarna merah itu. Agak kesulitan karena kado itu terlalu besar, kutaksir isinya sebuah boneka. Dan ternyata tebakanku benar. Isinya sebuah boneka teddy bear yang mengenakan pakaian garis-garis berwarna cokelat. Lucu sekali, aku suka.
Aku tersenyum senang kepada Shikamaru, "lucu. Aku suka, terima kasih, Sayang," kataku.
"Syukurlah jika kau suka."
Selama beberapa saat keheningan mendominasi ruangan tamu ini. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan Shikamaru pun tampaknya sama sepertiku. Entahlah apa yang sedang dipikirkanya, yang jelas kalau aku, aku sedang larut dalam kebahagiaan yang sulit aku ekspresikan.
"Ino," suara Shikamaru memecah keheningan yang menyelimuti ruangan ini.
"Hm? Apa, Shikamarau?" jawabku seraya tersenyum padanya.
Shikamaru menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya, "kemarilah. Duduk di sini," katanya.
Aku mengangguk, masih menyunggingkan senyumku. Dan tanpa banyak tanya, aku pun segera pindah posisi dan duduk di samping Shikamaru.
"Kau rindu padaku tidak?" tanyanya.
"Tentu saja, aku rindu padamu. Kalau kau sendiri? Rindu aku tidak?" balasku.
Shikamaru menggeleng cepat. Apa? Dia tidak rindu padaku? Jahat.
"Tidak. Aku tidak rindu padamu, lebih tepatnya aku sangat rindu padamu," katanya. Manik obsidiannya menatapku dalam. Membuat napasku tercekat.
"Gombal,"
"Tidak, aku tidak gombal. Aku serius," ujarnya.
"Ya, ya ya..."
"Hah, kau tidak percaya padaku?" Shikamaru pura-pura berwajah lesu.
Aku terkikik dan membelai pipinya dengan lembut. Oh, entah sejak kapan aku berani membelai wajahnya seperti ini. "Percaya, kok. Shikamaru, kau pasti lelah 'kan? Kau berangkat pukul berapa dari Hokkaido?"
Shikamaru memejamkan matanya sejenak, "pukul lima subuh aku berangkat dari sana. Dan, ya, aku sangat lelah sekali, Ino. Aku ngantuk," katanya.
Aku prihatin dan merasa kasihan padanya. Tapi, salahnya sendiri. Aku 'kan tidak meminta dia harus datang ke rumahku. Meskipun sebenarnya aku ingin seperti itu, ahh...
"Maafkan aku, ya?"
Shikamaru berdecak, "aku hanya becanda. Untukmu apa sih yang tidak? Aku tidak merasa lelah sama sekali jika menyangkut dirimu. Kau, jangan minta maaf terus. Aku 'kan sudah bilang tidak apa-apa," jeda sejenak, "Um, Ino, tutup matamu," katanya.
Karena dilanda kebingungan, aku tak langsung menuruti perintah Shikamaru. Alih-alih mengikuti instruksi yang diberikan Shikamaru aku malah menatapnya dengan tatapan bosan. "Apa lagi sih? Untuk apa menutup mata? Kau mau jahil padaku, hm?"
Shikamaru mendesah, "baka, bukan. Pokoknya kau tutup saja matamu. Ayo!"
"Tidak mau, ah. Kau pasti jahil padaku,"
"Cepat Ino, tutup matamu!"
Aku menggelengkan kepalaku dan tetap bersikukuh tak akan mengikuti perintahnya.
"Kubilang tutup matamu ya kau harus menutup matamu. Ingat, tak ada protes. Ayo cepat!" lanjut Shikamaru penuh penekanan. Setiap kalimatnya ia penggal memberi kesan yang seolah mengintimidasi dan menghipnotisku untuk segera menuruti apa yang ia ingingkan.
Aku menelan salivaku, Shikamaru terlihat menakutkan jika memaksa seperti itu. Huh.
"Iya, baiklah-baiklah... Kututup mataku," sahutku seraya memejamkan mataku dan menutupnya dengan telapak tangan.
"Bagus. Jangan membuka mata sebelum kusuruh, oke?"
"Iya, iya,"
"Jangan mengintip!" seru Shikamaru saat aku merenggangkan jemariku untuk mencoba melihat apa yang aku dilakukannya.
"Ahh, apa sih, Shika? Jangan aneh-aneh ya!"
Shikamaru tertawa kecil, "tenang saja ini bukan hal yang perlu kautakutkan," ujarnya.
Huh, aku benar-benar tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Biasanya khayalanku yang tinggi itu bisa mengarang-ngarang cerita yang hampir mendekati kejadian yang akan terjadi. Tapi, kali ini nol besar. Aku tak punya bayangan-bayangan sedikit pun mengenai apa yang akan dilakukan atau apa yang akan diberikan Shikamaru.
"Kau lama sekali, sudah boleh dibuka belum?" tanyaku yang mulai tak sabar.
"Iya, sudah. Sekarang, kau sudah boleh membuka matamu. Ayo buka," balas Shikamaru.
Kubuka mataku perlahan. Dan betapa terkejutnya aku saat kudapatkan sebuah kalung dengan ukiran nama Shikamaru menggantung di depan mataku. Shikamaru memegang kalung indah itu dan tersenyum manis kepadaku.
"Sekarang berbalik badan. Biar kupasangkan kalung ini untukmu," katanya.
Kupatuhi segera perintahnya untuk berbalik badan. Aku masih tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Yang jelas rasanya jantungku berhenti berdetak dan otakku tak mampu untuk berpikir. Kurasakan sensasi dingin di kulit leherku saat kalung itu melingkar di sana.
"Ini, untukku?" ucapku tak percaya sambil memegang kalung yang menggantung di leherku ini.
"Tentu, untuk siapa lagi," balas Shikamaru.
Aku menoleh ke arahnya, "tapi, ini... Shikamaru, apa tidak apa-apa?"
Shikamaru tersenyum, membelai rambut pirang panjangku dengan lembut. Kemudian memegang ukiran namanya dan berkata, "ini sebagai bukti cintaku padamu. Jaga kalung ini baik-baik. Kau harus selalu memakainya. Anggap saja ini mahar pacaran kita, nanti jika kita sudah menikah, aku akan memberikanmu sesuatu yang lebih dari ini. Satu lagi, jangan kaujual kalung ini. Mengerti?" katanya.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Lalu terkekeh geli. Siapa juga yang berniat menjual kalung pemberian dari Shikamaru ini. Kalung ini sangat istimewa, dari seseorang yang istimewa juga, jadi aku tak akan mungkin menjualnya. Dasar, Shikamaru, kenapa berpikiran seperti itu?
Aku tak menyangka Shikamaru punya sisi romantis seperti ini. Aku sangat senang diperlakukan layaknya seorang putri dari kerajaan. Tak pernah sebelumnya aku diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Meskipun kurasa tindakan Shikamaru terlalu berlebihan untukku, menghamburkan uangnya hanya untuk semua ini benar-benar membuatku tidak enak. Padahal cukup dengan kehadirannya saja di sampingku sudah membuatku senang.
"Terima kasih, Shikamaru. Ini ulang tahun terbaikku," ah, mataku mulai berkaca-kaca. Tapi kutahan agar bendungan di pelupuk mataku tak jebol di depan Shikamaru. Aku tidak boleh terlihat cengeng.
"Sungguh? Syukurlah jika kau senang. Aku sudah bilang 'kan? Jika hari ini aku akan membuat harimu indah, apakah aku berhasil?" katanya.
Aku mengangguk, "ya. Kau berhasil, Tuan. Kejutanmu hampir membuatku kehabisan napas. Kau memang hebat membuatku tercengang."
Cukup lama aku dan Shikamaru terlarut dalam bincang-bincang dan canda-candaan. Sesekali kami saling melemparkan ejekan-ejekan, atau bahkan godaan satu sama lain. Sampai keceriaan itu berubah menjadi lebih hening saat tiba-tiba saja Shikamaru mendekati telingaku sambil berbisik, "Ino, aku mencintaimu."
Sontak saja aku terlonjak dari tempat dudukku. Jantungku hilang kendali, iramanya berdetak sangat kencang. Aku khawatir jika aku bisa-bisa terkena serangan jantung. Kulihat wajahnya yang tampan kini begitu dekat jaraknya dengan wajahku. Seketika, rasa panas menjalari dai pipiku hingga ubun-ubun kepalaku. Aku yakin saat ini pipiku pasti sangat merah layaknya kepiting rebus. Ini bukan kali pertama Shikamaru mengucapkan kata cinta kepadaku, tapi entah kenapa sensasinya begitu berbeda. Mungkin karena jarak kami yang terlalu dekat? Aku tak tahu pasti. Yang jelas, ini pertama kalinya aku berjarak sedekat ini dengan Shikamaru―bahkan Shikamaru adalah lelaki pertama yang sedekat ini denganku.
Alih-alih membalas ucapannya, aku hanya tersenyum manis dan menundukkan kepalaku. Lalu saat kutolehkan kembali wajahku menatapnya, raut wajah Shikamaru berubah masam. Dia menghela napas, "tidak ada balasan?"
Aku tertawa dan menatapnya dengan lembut, sebelah tanganku membelai pipi kanannya. "Aku juga mencintaimu, aku sayang padamu," kataku.
"Hm? Apa? Aku tidak dengar. Suaramu kecil sekali," goda Shikamaru.
"Tck, aku juga mencintaimu," kataku dengan nada suara yang sedikit keras.
Shikamaru menyeringai mendengar perkataanku. Matanya berbinar dan tatapannya begitu lembut. Kemudian Shikamaru membelai kepalaku dan mengacak-ngacak poniku dengan gemas disertai dengan tawa kecil. Membuatku jengkel, namun tak mampu menghentikannya. Karena diam-diam, aku menyukai perlakuannya kepadaku ini. Detik berikutnya aku sudah dibawanya ke dalam pelukan hangat. Shikamaru memeluk.
Oh, Tuhan. Demi apa?
Shikamaru memelukku. Ini sejarah berharga dalam hidupku. Seorang lelaki selain ayahku memelukku. Terlebih orang itu adalah orang yang sangat aku cintai. Tuhan, kebahagiaanku rasanya begitu lengkap saat lagi-lagi Shikamaru berbisik di telingaku dengan kata-kata manis dari bibirnya.
"Aku sangat mencintaimu," katanya.
Aku memejamkan mataku dan membalas pelukan Shikamaru. Merengkuhnya dengan erat, seakan-akan aku takut kehilangan dirinya. Nyaman. Rasanya sangat nyaman berpelukan seperti ini bersama Shikamaru. Detak jantung Shikamaru yang mengalun tak beraturan terdengar begitu indah di telingaku. Entahlah, aneh memang. Tapi aku sangat suka dengan irama detak jantungnya. Aku yakin detak jantungku dua kali lebih cepat dibandingkan dengan detak jantung Shikamaru saat ini.
Tuhan, izinkan aku berterima kasih atas peran-Mu dalam menghadirkan sosok Shikamaru di kehidupanku. Aku juga berterima kasih atas usilnya semesta dalam mempertemukan kami. Aku tidak pernah menyangka bahwa tulisan amatirku bisa menghadirkan perkenalan yang begitu indah. Aku dan Shikamaru hadir dalam ketidaksengajaan, awalnya nama Shikamaru tak cukup menarik kornea mataku. Namun, sejak pertemuan pertamaku dengannya, fokusku seperti diset otomatis untuk tak bisa teralihkan ke arah selain Shikamaru. Sejak itu, nama Shikamaru selalu hadir dalam benakku, membuat rasa penasaran dalam diriku bangkit. Hingga akhirnya, tangan Tuhan merakit benang merah dan menyatukan kami dalam sebuah pertemuan. Mengikat kami untuk semakin mengenal lebih lagi. Banyak kesamaan, banyak pertidaksamaan. Tapi bukan dari itu tolak ukur perasaan kami bermula. Aku tidak tahu bagaimana benang merah yang disebut takdir itu membawa kami, cerita sedihkah? Cerita bahagiakah? Keduanyakah? Yang jelas, aku tak ingin jalinan rasa ini putus. Banyak mimpiku yang hampir pupus kembali bangkit karena kehadiran Shikamaru. Banyak pelajaran yang kudapatkan darinya, sangat banyak. Kuharap, Shikamaru akan selamanya di sisiku. Selamanya menggantungkan cita dan asa bersamaku. Bersama-sama meraih mimpi-mimpi sederhananya denganku. Dan aku akan terus bersabar sampai Tuhan menggenapi semua itu.
"Shikamaru," sahutku tanpa melepaskan pelukan kami.
"Hm?" Shikamaru merespon seadanya, jemarinya memainkan ujung rambutku.
"Sekali lagi terima kasih untuk hari ini. Jangan bosan-bosan untuk berada di dekat perempuan kesayanganmu ini, ya? Tapi, maaf. Saat ini aku belum bisa membalas semua pemberianmu. Hanya sepuluh jemari, hati, dan liarnya bibirku yang berkomat-kamit mengirimkan bungkusan doa. Maaf jika hanya bisa memberi sesederhana itu."
Shikamaru melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang pipiku. Dia tersenyum dan mengangguk, "aku tak mengharapkan balasan apapun darimu. Hanya satu yang kuminta, be my first and be my last. Because, you are my last one," katanya.
Aku mengangguk pendek. "Kau tahu Shikamaru? Hari ini rasanya aku dibanjiri oleh kebahagiaan darimu," aku menelan salivaku dan melanjutkan ucapanku, "I want to be your love, forever," sambungku.
Lalu, atmosfir berubah menghangat. Seakan bunga-bunga di taman bermekaran dan menjatuhi tubuh kami berdua yang tengah terserang virus cinta. Merona-rona. Dan senyuman bahagia tak henti-hentinya terukir di bibir. Aku mendesah lega memiliki lelaki hebat seperti Shikamaru. Kami pun saling melemparkan senyuman, saling menatap dan menyalurkan rasa kasih sayang kami.
Yah, begitulah. Kupikir, hari ini sudah sangat lengkap dengan segala kejutan-kejutan dari Shikamaru. Tapi ternyata, kebahagiaanku itu belum lengkap seutuhnya. Karena saat malam menjelang, keempat sahabatku, Sakura, Chouji, Kiba dan Naruto yang datang ke rumahku bersama keluargaku kembali merayakan ulang tahunku dengan pesta kecil-kecilan. Sahabat-sahabat terbaikku itu membawa bingkisan-bingkisan kecil sebagai hadiah ulang tahunku, memang tidak seberapa, namun maknanya jauh lebih berarti dibandingkan apapun. Malam itu ditutup dengan acara makan malam bersama, bersenda gurau bersama, dan bernostalgia.
Tentu saja, aku tak melupakan hal yang satu ini. Kecupan lembut Shikamaru sebelum dirinya kembali pulang ke rumahnya. Semakin sempurnalah hari lahirku ini.
.
.
FIN
Endingnya terkesan gantung ya? hiks... semoga suka ya, kamu...
Maaf kalo waktu pembuatannya sangat sangat sangat lama XD sampai dapet ultimatum mengerikan juga. Fiuh, akhirnya beres, meskipun kurang maksimal. Tapi, semoga bisa diterima ya :*
Buat ShikaIno's Shipper juga, semoga suka dengan karya saya yang jauh dari kata sempurna ini.
Sampai jumpa lagi, tunggu karya saya selanjutnya. HAHAHA...
Akhir kata, Mind to RnR?
Salam hangat,
Yara Aresha.
