(HARUSNYA) Reuni
Mata Ara
A SasuSaku fanfiction / AU / OOC / Typo
Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Mereka disambut dengan segala macam sambutan. Kakashi melambaikan tangan kanannya dari balik pintu dapur sementara tangan lainnya sedang berusaha menahan Chouji yang berusaha masuk ke daerah terlarang itu. Hinata yang duduk berangkulan bersama Naruto juga melambaikan tangan, diiringi mars protes dari Naruto karena mereka datang terlambat. Sisanya nyengir, lalu lanjut foto-foto.
Ino tidak langsung mengambil tempat di meja, alih-alih ia menarik lengan Sakura agar mengikutinya ke balik lorong yang Sakura tahu menuju toilet perempuan. Di dalam toilet, Ino bersedekap sambil menyandar ke wastafel. Tatapan matanya menembus batok kepala Sakura yang memilih sibuk memperbaiki bedak di hidungnya.
"Kenapa lo ngga bareng Gaara?"
Ditanya tiba-tiba dengan pertanyaan yang menurut Sakura tidak masuk akal membuat Sakura menghela napas panjang. Sejujurnya ia tidak tahu Ino kesambet setan mana sampai punya pemikiran ia dan Gaara bisa akur.
Tahu bahwa ia tidak akan mampu untuk membuat otak Ino tidak jajar genjang lagi, Sakura menjawab dengan jawaban yang sudah ia persiapkan dari rumah sakit. "Kenapa gue harus bareng dia sih? Temen juga bukan. Kalo rival, nah."
"Iiiiiih!" Ino mendelik. "Lo tuh ya." Tangannya terjulur untuk menjitak kepala Sakura. "Nggak peka-peka."
Si gadis merah jambu menjulurkan lidahnya main-main. Sambil membenarkan surai-surai panjangnya yang diacak-acak Ino, ia membalas, "bukan nggak peka, Ino sayang~ Lo pikir deh, masa tiba-tiba gue ngajakin Gaara Rei ke reunian? Padahal baru kemarin gue ngancam mau racunin makan siangnya dia."
"Yaaa… lo cari akal kan bisa. Lo keterima di kedok juga bukan tanpa alasan kan? Otak lo itu otaknya Einstein. Apalagi kalo urusannya sama balas dendam."
Tanpa bisa dicegah Sakura tertawa mendengus. "Balas dendam? Sama siapa?" Walaupun ia tahu ke mana akhir perjalanan cerita di toilet ini, tapi paling tidak ia bisa membuat Ino merasa kesal. Setidak-tidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membalas segala tindak-tanduk Ino yang sudah membuat gosip yang tidak-tidak mengenai dirinya dan si rambut merah.
"Ya sama si ayam lah!" jawab Ino menggebu-gebu. "Orang tukang selingkuh paling bagus dibikin panas. Nih ya, percaya sama gue, si ayam itu masih punya rasa buat lo. Tanya Naruto deh."
Mengesampingkan dadanya yang mendadak berdegup kencang karena mendengar si ayam itu masih punya rasa buat lo, Sakura berdecak pelan. "Secara teknis, Sasuke nggak selingkuh."
"Belain aja terus," salak Ino. "Dia flirting abis-abisan sama tu cewek waktu dia masih jalan bareng elo, Sakuraaaa. Lo punya hati baja ya? Kok gue liat nggak ada sakit hatinya sama sekali?"
Mendengar pernyataan Ino, Sakura hanya tersenyum. Di titik ini ia tahu bahwa ia sudah berhasil membohongi publik, Ino terutama, dengan menampilkan kesan bahwa setelah mengakhiri hubungannya dengan Sasuke ia baik-baik saja. Ino tidak tahu bahwa jauh, jauh di dasar hatinya, ada tempat yang masih terluka. Tempat terdalam yang masih mengeluarkan darah tidak peduli sebanyak apapun plester yang berusaha ia tempelkan. Sakura tidak bisa, tidak mau, bilang pada siapapun bahwa ia masih merasa sakit hingga saat ini. Seseorang pernah bilang padanya bahwa cara terbaik untuk melupakan sakit adalah dengan tidak memikirkan rasa sakit itu sendiri. Itu yang berusaha ia lakukan. Berusaha untuk melupakan kendati satu sudut di dalam otaknya menolak untuk lupa. Menolak lupa pada pengkhianatan, rasa sakit, luka, dan kepedihan yang harus ia tanggung seorang diri. Tapi ia tetap mencoba sekuat tenaga. Sakura menyayangi dirinya sendiri. Ia tidak ingin menderita hanya karena satu orang yang menginginkannya menderita.
(Sedikit intermezo, coba tebak siapa yang memberikan petuah ikonik itu?)
"Dia nggak selingkuh, Ino. Dia jadian sama itu cewek—siapa namanya?—waktu kita udah bubaran. Udahan ah. Nggak cape apa lo bahas Sasuke mulu? Kalo nggak kenal lo, gue bakal nyangka lo naksir Sasuke."
"PUIH PUIH! AMIT AMIT!"
Sakura tertawa. Ino selalu tahu bagaimana cara membuat sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas. "Ya udah, kalo gitu stop. Yang udah lewat biarin aja. Nggak ada untungnya juga gue bikin Sasuke cemburu kan? Itu tingkah polanya anak kecil."
"Ra, please, tuh cowok—"
"Lagian" lanjut Sakura, sengaja memotong kalimat Ino. "Lo juga seirng flirting sama cowok-cowok lain waktu lo sama Sai masih pacaran kan? Perkuat pusat, perbanyak cabang. Bukannya itu yang sering lo omongin?"
Yang disindir gondok setengah mati. "Iye! Cuma buat si ayam, cabangnya kebanyakan duri."
Setelah blabering panjang yang berujung pada deretan makian untuk pacar baru Sasuke (Sakura hanya diam, Ino yang kerasukan) keduanya memutuskan kembali ke kerumunan tepat di saat pesanan-pesanan mereka mulai berdatangan. Automat, Ino mengambil tempat di samping Sakura, lalu menarik Sai agar duduk di sampingnya. Sakura menangkap kerutan di dahi Sasuke ketika melihat tingkah pola Ino tapi memutuskan untuk tidak berkomentar. Mau gondok mau kayang serah si maz-nya aja.
"Sendirian aja, Ra?" Shikamaru yang baru datang dan duduk di sampingnya bertanya.
Sakura mengunyah steak ayamnya sebelum melampar pandangan ke arah Shikamaru. Gadis itu mengangguk. "Hm."
"Dokter Rei?"
Kening gadis itu berkerut. "Kenapa gue harus bareng dokter Rei?"
"Lah, bukannya dokter Rei itu… pacar lo?"
Cari penyakit!
Obrolan singkat, yang bahkan dilakukan dengan intonasi suara dua oktaf lebih rendah dari orang berbicara kebanyakan, ternyata mampu menarik perhatian dari seluruh penghuni meja. Tidak kurang dari sebelas pasang mata menatap Sakura dengan berbagai ekspresi tercetak di masing-masing wajah. Yang dipandang hanya mampu tersenyum lemah sekaligus menghela napas panjang secara diam-diam.
"Dia bukan pacar gue," konfirmasinya, lalu berbalik menatap Ino. "Elo sih!"
"Pacar juga nggak apa-apa kali, Ra," Shikamaru melanjutkan. "Besok-besok bawa ya?"
"Barang kali dibawa," celetuk Naruto.
Naruto ini sama seperti Ino. Mereka memilih berdiri di kubu sahabat masing-masing. Namun tidak seperti Ino yang cenderung menghakimi Sasuke, Naruto lebih memilih netral. Dia berpihak pada Sasuke, tapi tidak menghakimi keputusan sahabatnya itu dan juga tidak menyalahkan Sakura (seperti kebanyakan teman-teman mereka di awal rumor bubarnya hubungan Sasuke dan Sakura merebak.) Naruto hanya beranggapan bahwa Sakura dan Sasuke tidak seharusnya berpisah. Terlepas bahwa kesalahan ada di kubu yang dipijaknya, begitu pikir Sakura miris.
"Dipaketin pake tiki terus dikirim ke konservasi di Zimbabwe," sindir Naruto. "Bener nggak, Sas?" nyengirnya pada Sasuke yang duduk di samping Naruto, tepat berhadapan dengan Sai.
Melihat dua sahabat itu saling menukar seringaian, Ino mendadak mengeluarkan aura panas. "Diem lo, labu kuning!"
"Eh, lo juga kuning!"
"Elo kuning. Kek tai di kali noh."
Tenten yang sedang sibuk mengunyah makanannya mendadak tidak nafsu mendengar kalimat frontal Ino. Beruntungnya situasi diselamatkan oleh mantan wali kelas mereka, Kakashi, yang datang dengan sebaki penuh mug berisi cokelat panas.
"Ayo anak-anak, udah jangan berantem lagi," bujuknya kayak lagi ngebujuk anak-anak teka.
Ino dan Naruto saling mencibir sebelum melempar kembali pandangan ke arah makanan masing-masing. Chouji yang duduk di ujung meja lantas mengeluarkan suaranya. "Tenten, makanannya masih mau di makan?"
Dan dengan itu keadaan kembali normal.
Detik berganti menit berganti jam. Tidak terasa jarum jam hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Naruto, yang emang dasar belum pubertas nggak bisa tahan sama jam malam sudah siap-siap ngorok di pangkuan Hinata. Pegawai-pegawai Kakashi pun sudah diijinkan pulang, meninggalkan piring-piring kotor yang sekarang menumpuk di dapur. Ini, yang akhirnya membuat Kakashi menggiring anak-anak didiknya untuk ikut ambil sumbasih membayar dosa-dosa mereka di masa muda dulu. Dia membuat mereka jadi pegawai untuk semalam.
Semua orang sudah berdiri dari tempat masing-masing untuk menuju ke bagian dapur di saat Sasuke mendekat ke arah Sakura.
"Ra, bisa ngomong sebentar?" ujarnya pelan.
Sakura tahu itu bukan permintaan, melainkan perintah yang tidak ingin dibantah. Di masa-masa indah mereka, Sakura tidak begitu mempermasalahkan nada perintah yang biasa tercurah dalam nada bicara Sasuke. Dipikirnya itu sudah termasuk dalam paket genetik Uchiha yang turun temurun. Tapi mendengar lagi bagaimana Sasuke berbicara seperti itu padanya, dengan status yang jelas-jelas tidak sama lagi seperti dulu, malah membangkitkan amarah yang sudah dipendamnya selama berbulan-bulan ini.
"Duh. Ntar aja deh ya. Kelar bantuin sensei beberes." Ia langsung menyelinap di antara tubuh gempal Chouji dan Naruto.
Hal itu sama sekali bukan pilihan bijak karena Naruto langsung menggandeng tangannya dan mendorongnya ke arah Sasuke. "Udah sana, pacaran. Banyak orang gini. Lima menit juga kelar beberesnya." Pemuda kumisan itu lalu nyengir setan.
Tidak punya pilihan—selain karena kini lengannya digenggam erat oleh Sasuke, Sakura terpaksa mengikuti langkah pemuda itu ke balik bilik kantor pribadi Kakashi. Ini juga bukan pilihan bijak, karena bilik ini memiliki sambungan langsung ke bagian dapur yang dipisahkan oleh pintu geser tipis—setipis kesetian Sasuke padanya tsaaaah.
Ino yang langsung sadar Sakura sudah dibawa lari oleh pimpinan penyamun, melotot, menyadari bahwa dia baru saja dibegoin Naruto yang tadi mendorongnya supaya berjalan lebih dulu. Dia sudah berniat menyambangi kantor Kakashi ketika ada sepasang lengan yang memerangkapnya dari belakang lalu menyeretnya ke dapur.
Anak-anak lainnya juga tidak kalah antusias—walaupun dengan cara yang lebih positif dibanding Ino. Di balik pintu geser, mereka berdiri berkerumun. Masing-masing telinga terpasang siaga untuk mendengar lanjutan kisah Sasuke dan Sakura yang berakhir dramatis berbulan-bulan lalu.
Yeah. Siapa juga yang tidak penasaran sama kisah cinta kawan sendiri yang sudah setua umur persahabatan mereka. Kisah cinta Sasuke dan Sakura itu tidak main-main. Sasuke adalah cinta pertama Sakura, pacar pertama Sakura, juga ciuman pertama Sakura. Untungnya bukan Yang Pertama Ahem Ahem, kalau tidak kan rugi bandar. Udah nyerahin hal paling precious eh malah putus. Sebut Sakura kuno, tapi baginya, keperawanan harus diberikan untuk seseorang yang rela menghabiskan sisa waktu dengannya.
—bukan dengan orang yang gampang belok ke tikungan sebelah karena yang di sebelah lebih menantang.
"Lepasin gue lepaaaaas!" Ino berusaha melepaskan diri dari pelukan posesif Sai. "Sakura nggak boleh balikan sama tu imbisil. She deserves better, tau! Sakura kebagusan buat orang model kek ayam kampung gitu."
"Elah. Celupin aja ni anak ke kali belakang," rusuh Naruto. Dia tidak sadar dengan siapa dia sedang berurusan. Sedetik setelah mengatakan itu, Naruto terlempar ke bagian paling belakang rombongan.
Kakashi yang berdiri mengamati kerusuhan di dapur kafenya hanya menggelengkan kepala sebagai tanda prihatin. Dia tahu betul mengenai kisah dua murid kesayangannya itu. Sama seperti Ino, Kakashi belum bisa sepenuhnya mengerti arti dibalik kesalahan bodoh Sasuke, tapi dia bisa melihat penyesalan di balik binar oniks milik anak didiknya itu. Dan kalau pendapat pribadinya diperhitungkan, Kakashi lebih suka kalau Sakura memaafkan Sasuke. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Lagipula, tidak ada pasangan yang lebih hotter, smarter, perfekter, dan ter-ter lainnya yang bisa mengalahkan Uchiha dan Haruno. Mengutip bahasa Tobi yang seorang mahasiswa legenda di jurusan Biologi, genetik Uchiha dan Haruno itu tercipta untuk satu sama lain. They belong to each other.
"Tenang Ino," kata Kakashi. "Sakura sudah cukup dewasa untuk membuat keputusannya sendiri. Niatmu baik, tapi biarkan Sakura yang memutuskan."
"Tapi—" bantah Ino.
"Tck." Shikamaru berdecak memotong ucapan mantan terindahnya. "Bukan cuma elo yang peduli sama Sakura."
Kalimat singkat yang membuat Ino terdiam di tempatnya.
Di ruangan lainnya, dua sosok yang sedang diperbincangkan lagi sibuk mengikuti kontes tatap-tatapan. Tidak ada yang mau mengalah. Sakura dengan tatapan mautnya berusaha membunuh kepongahan Sasuke. Di sisi lain, Sasuke yang tumbuh dengan genetik Uchiha tidak mau kalah kendati ada perasaan bersalah yang merayap di seluruh rongga tubuhnya.
Dia yang menyebabkan hilangnya tatapan memuja dari kedua biner Sakura. Dia yang membuat Sakura—menurut Naruto—tidak mempercayai apa itu cinta.
Bosan dengan kontes tatap-tatapan, Sakura memutuskan untuk loncat ke inti permasalahan. "Lo maunya apa sih?"
"Kamu yang maunya apa?"
Perempatan berkedut di kening Sakura. Buzedh. Salah makan ni orang. Kan tadi dia yang bilang mau ngomong sesuatu. Tadi sih dibilangin sama Naruto jangan makan steak ayam, eh ngeyel. Ayam makan ayam kan berabe. Jadi panjang gini urusannya.
"Duh. Kalo nggak mau ngomong apa-apa, ngapain ngajak gue ke sini. Jangan ngerusak suasana dong. Ini kan reuni kelas, kasian kan yang lain udah capek-capek ke sini tapi malah harus ngadepin mood swing lo itu. Berantem emang sama pacar?" Nada sarkartis tidak lepas dari pertanyaannya.
Kening Sasuke berkerut mendengar pertanyaan itu. "Bukannya kamu yang ngerusak suasana? Apa itu dokter Rei?"
BUZEDH (2). Salah makan obat kali ya ini orang.
"Elo yang ngerusak suasana!" cela Sakura. "Mood lo ancur banget bikin gerah. Kalo lagi berantem sama orang luar jangan dilampiasin ke orang dalam dong. Lo pikir lo doang yang bisa sakit hati?" Nah loh. Ini kenapa malah jadi ajang sesi curhat colongannya ibu dokter Haruno.
Mendadak Sasuke terdiam mendengar celaan Sakura. Bibir bagian bawahnya yang kissable itu digigit-gigiti sampai merah. Ada jeda beberapa detik sebelum Sasuke kembali membuka bibirnya. "Kamu… emang beneran… pacaran…"
"Nggak!" tandas Sakura. "Nggak lo juga deh. Kenapa sih gampang banget kemakan omongannya Ino? Tau dia itu ratu gosip."
Sudut-sudut bibir Sasuke terangkat membentuk seringainya yang khas. "If you say so…"
"Maksud lo?"
"Nggak."
"Ya udah." Sakura sudah berbalik dan menuju pintu yang terhubung langsung ke dapur ketika Sasuke berdeham.
"Ino bilang sesuatu."
That bitch Ino.
"Oh ya?"
"Dia bilang… lo pernah ngerasa bosan?"
Sakura langsung balik badan mendengar pertanyaan itu. "Maksud lo?"
Sasuke terlihat tidak nyaman dengan pandangan menyelidik dari Sakura. Dia mengacak-acak rambut bokong ayamnya—satu gestur yang tidak pernah berubah sejak awal perkenalan mereka.
"Waktu kita pacaran," jawabnya pelan. "Ino bilang, kamu pernah ngerasa bosan. Benar?"
"Oh. Itu." Sakura mengangkat bahunya tidak acuh, menolak keinginan untuk menjawab lebih detil karena dipikirnya hal itu tidak penting.
Sampai Sasuke mengatakan sesuatu yang membuatnya ingin membanting pemuda itu dari atas gunung Hokage. "Aku juga pernah bosan. Alasan yang buat aku… ya gitu."
Sakura tersedak. Ia menahan keinginannya untuk tertawa sarkastis. "Sorry. Gue nggak tau kenapa gue harus minta maaf tapi… sorry. Karena bikin lo bosan." Ia kembali balik badan tapi sekali lagi terhenti oleh perkataan Sasuke.
"Aku harus gimana buat nunjukin aku nyesal?"
Dengan punggung menghadap Sasuke, Sakura menutup kedua matanya erat-erat. Kedua telapak tangannya membentuk kepalan, menahan diri untuk tidak memberi satu dua bogem mentah untuk pemuda ini.
"Sas," katanya pelan. "Selama sembilan tahun ini apa lo pikir gue oke-oke aja sama sifat lo yang pasif? Yang suka main perintah orang seenaknya? Lo pikir gue nggak pernah kepikiran lo beneran niat pacaran sama gue karena selama sembilan tahun ini hanya gue yang jadi inisiator, gue yang selalu ngalah, gue yang harus selalu deal sama mood-swing lo itu? Gue berkali-kali ngerasa bosan sama lo tapi nggak pernah kepikiran buat selingkuh sama orang lain."
"Sakura—"
"Gue sakit, Sas," ujar Sakura pelan. Ia menunduk dibalik poni panjangnya untuk menyembunyikan likuid yang perlahan memudarkan fokus matanya. "Lo nggak tau waktu itu—"
Ucapannya terpotong oleh kedua lengan kekar yang melingkari tubuh kecilnya. Sasuke memeluknya dengan erat. Kepalanya menunduk, bersembunyi dibalik lekukan antara leher dan pundaknya. Pemuda itu menghela napas penjang seperti tengah menghirup aroma Sakura, lalu berkata dengan teramat pelan, "sorry. Sorry. Sorry. Sorry." Begitu terus sampai isak tangis Sakura mereda dengan sendirinya.
"Aku tau kata maaf aja nggak bakal cukup," lanjut Sasuke. "Tapi aku benar-benar pengen kita kayak dulu lagi. Please?"
Sakura sudah ingin mengatakan bahwa jika segalanya bisa dituntaskan dengan kata maaf, apalah artinya hati yang diciptakan untuk merasakan sakit. Tapi ini Sasuke. Sasuke pernah menjadi bagian dari kisah cintanya. Tidak berakhir bahagia seperti kebanyakan deskripsi-deskripsi di novel picisan favoritnya memang. Tapi ini Sasuke. Sebelum menjadi cinta pertamanya, Sasuke adalah sahabat pertamanya.
Mungkin mereka memang harus memulai segalanya dari awal. Melangkah pelan, menyusuri jalanan untuk mencari serpihan-serpihan rasa yang sempat diterbangkan angin. Mungkin mereka akan menemukan segala rasa yang sempat hilang dan membangun sesuatu yang lebih solid, atau mungkin mereka akan tetap stay sebagai dua orang sahabat yang saling mendukung. Seperti Sakura dan Ino. Sasuke dan Naruto.
Mungkin…
Sakura melepaskan pelukan Sasuke, berbalik lalu menyodorkan tangan kanannya untuk berjabatan tangan. "Sahabat? Kayak dulu. Waktu jaman awal-awal sekolah. Elo, gue… Naruto." Kepingan ingatan itu mengalir begitu saja di kepala Sakura. "Kita mulai segalanya dari situ."
.
.
.
Di ruangan sebelah, ada keheningan panjang yang tercipta.
"Gaes," Hinata berujar lamat-lamat dari belakang kerumunan. "Ini kan harusnya reuni, kenapa malah ngintipin orang pacaran?"
Fin.
Akhirnyaaaa tamat juga! *tebar konfeti* Endingnya jadi kek gimana (sasusaku balikan terus nikah, atau gaara yang tiba2 datang to confess his undying love for sakura, atau ino yang mendadak lahiran #heh) silahkan diputuskan sendiri dan tulis aja di kolom review XD Kalau menurut saya, nggak ada ending yang lebih pas ketimbang ending yang ini. Karena Sakura tipe independen dan keras kepala jadi saya pikir nggak bakal cuss kalo mereka langsung baikan setelah Sasuke minta maaf. Lagian kesalahannya Sasuke itu nggak main-main. Btw, kagok saya bikin scenenya SasuSaku yang mewek-mewek gitu. Kalo feelnya nggak kerasa, maafkan yak hehehe.
Akhir kata, mau bilang makasih buat readers yang sudah bersedia meluangkan waktu membaca cerita kecil ini. Yang udah repot-repot ngereview, fave, dan follow juga terima kasih banyak. You rock, guys! Sampai jumpa di fanfiksi SasuSaku lainnya~!
Pesan moral: kalo lagi reuni jangan ngintipin orang pacaran.
