Hai semuanya...ini adalah The End of Beginning versi edit nya...

Kenapa di edit? karena beberapa alasan yaahhhh

1. saya kelewatan menggambarkan beberapa hal yang kecil-kecil

2. temponya terlampau cepat

3. saya mau ngedit aja :D

really thanks to BlackCrows untuk komen-komennya yang sangat membantu :D

Penggambaran karakter L pada ff ini tidak bungkuk, tidak suka berjalan dengan kaki telanjang, tidak bermata panda. L pada cerita ini sangat formal layaknya Light.

Bila malam telah terlewati, dan mentari kembali tersenyum,

aku hanya ingin cintamu, L.

namun, kini aku kehilangan bayanganmu

dan hatimu...

-BlurringCh3-


Light terus menggosok badannya dibawah shower apartement nya..terus digosok hingga memerah dengan satu tangannya. Ia menunduk sejadinya untuk melihat noda di daerah pribadinya. Sakit di lehernya tak lagi ia pedulikan. Ia ingin mengembalikan kehormatannya, harga dirinya. Ia menangis lagi, lagi, terus dari pagi hingga sore hari, dibawah shower, hingga ia merasa bersih, dan tertawa aneh karena dia merasa belum bersih dan membersihkannya lagi lagi dan lagi hingga pagi hari tiba.

Light kacau...matanya, lukanya, semuanya...ia bersiap pergi ke kampus dengan semua keadaan ini. Dia sudah gila. Benar-benar gila. Ia tetap berpakaian rapi dan bersih, ia menyisir rambutnya, memakai parfumnya, mengenakan setelah jas nya. Ia bercermin, namun ia tak bisa lagi melihat bayangannya di cermin. Kini yang ada hanya pelacur…

Begitu tiba di kampus, ia menjadi pusat perhatian semua orang. Ia berjalan dalam diam,matanya yang bercahaya kini redup, tanpa senyuman, menahan semua rasa sakit jiwa dan raganya. Berjalan tak tentu arah. Ia hanya tahu, hari ini kuliah. Ia harus menamatkan kuliah ini untuk membantu keluarganya.

"Rai-chan..." Misa hampir menangis melihat keadaan Light. Namun ia tidak bisa, Light melihatnya dengan tatapan kosong. Light tidak bisa menenangkannya. Ia yang harus melakukan sesuatu untuk Light sekarang.

Misa menarik lengan Light yang ia tahu kemarin tidak di gips, Light mengikutinya. Ia tidak melawan. Misa menahan tangisnya. Ia mendudukan Light dalam mobilnya dengan hati-hati, memasangkan seat belt, dan kemudian menutup pintunya. Misa masuk di kursi pengendara mobil, dan melesatkan mobilnya menuju rumah sakit terbesar di Tokyo.


Light sedang terbaring tidak berdaya di rumah sakit internasional ini. Ia kembali kesini untuk kedua kalinya. Pakaiannya sudah diganti dengan pakaian rumah sakit, semua lukanya sudah diobati, diperban, dipasang gips. Namun luka di hatinya, tak ada yangbisa menyembuhkannya.

Misa menungguinya, menunggu hingga ia tersadar dan tersenyum, meredakan tangisnya, menyuruhnya main ke tempat Mayu, apapun, asal Light berbicara padanya bahwa sekarang ia bermimpi. Tapi Light tidak berkata apa-apa. Hanya menatap kosong ke langit-langit dinding rumah sakit. Hati Misa mencelos melihat Light di hadapannya..ini bukan Light..ini boneka.

Sudah berhari-hari Misa menemani Light di rumah sakit. Ini sudah seminggu. Misa batal pergi ke Osaka dan sudah ditarik oleh orangtuanya untuk pulang. Misa ingin berteriak tidak mau pulang, namun itu akan mengganggu Light. Misa pasrah dan meninggalkan Light dalam pengawasan rumah sakit...tidak lama hanya sehari.


"Greeekkk..." pintu bergeser 5 menit kemudian. Light tidak peduli. Dia tidak lagi mendengar suara di sekitarnya. Sosok itu duduk disebelahnya.

"..."

Light diam, namun otaknya masih tetap bekerja. Ia merasakan sesuatu, udara sekelilingnya terasa berubah. Matanya mulai bergerak tak tentu arah, tangannya menggapai-gapai sesuatu, mencari-cari untuk melindungi dirinya dari semua yang ia rasa berubah dan akhir membentuk siluet sedang memegang pisau walaupun tidak ada benda di tangannya. Light berdiri, terduduk, meraba dinding untuk berlari ke sudut ruangan sambil terus mengarahkan pisaunya ke daerah lain.

"Hrgghh! Hrgghh!" Light tidak berbicara, hanya mengeluarkan kata-kata itu. Light tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Dia tidak melihat orang yang ada di sekitarnya. Sekarang dia hidup dalam imajinasinya saja. Namun ia tahu, suara ini adalah suara bahaya.

"…." tangan manusia itu kembali melempar foto yang pernah ia lemparkan di atas atap gedung E, ke atas tempat tidur Light. Light menendang-nendang sprei kasurnya, selagi sosok itu keluar pergi meninggalkannya dalam keheningan lagi, lagi dan lagi.


Hari ini sudah bulan kedua Light dirawat. Seminggu yang lalu seluruh keluarga Light datang, menangis melihat keadaan Light. Light tidak menggubris kehadiran keluarganya, dia bahkan tidak menengok untuk melihat siapa yang datang ke ruangannya. Light hanya mengetahui satu bahaya, dan hanya itu yang akan direspon oleh tubuhnya.

Mayu menangis, memeluk Misa yang saat itu juga menemani Light di rumah sakit. Ayah dan Ibu Light menangis dalam diam tak tahu apa yang harus diperbuat oleh mereka untuk anak lelakinya. Mereka bahkan tak tahu mengapa Light menjadi gila seperti ini. Tatapannya kosong.

"….Light…..anakku…" Ibu mengelus lembut kepala anaknya yang kini terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit, "Nak…"

Light menoleh ke arahnya namun tak menjawab ibunya. Mata Light hanya memantulkan bayangannya saja, bukan lagi cahaya yang menyinari dunianya sebagai ibu.

"Light….Light…" Ibu menahan tangis sambil meremas tangan Light. Mayu menghampiri ibu, memegang tangan ibu yang sedang meremas tangan kakaknya.

"Ibu, jangan menangis. Nii-san hanya tertidur sementara…." Mayu memeluk ibunya yang ia tahu sedang merapatkan giginya, menahan tangis agar suaranya tidak keluar dan mengganggu Light.

Suatu ketika, Light terkaget. Dia terbangun, akhirnya dia melihat ke sekelilingnya dengan pandangan khawatir. Kepalanya sakit, berdengung. Light merasakan seluruh badannya masih sakit. Dia tak ingat sudah berapa lama ia ada di ruangan ini...karena yang terakhir ia ingat hanya tentang masa lalunya bersama L.


-Lights' POV-

"L?" L? Aku mengucapkan nama itu berulang kali. Aku mencoba mengingat ingatan masa lalu ku. L? Aku tidak mengerti. Gambarannya hilang. Tidak lagi ada di kepalaku.

"Siapa L?" bisikku agak keras.

"GREEKKK." Pintu ruangan tempat aku tertidur itu bergeser. Seseorang masuk...tidak, banyak orang...

"kakak?" suara perempuan yang sangat indah itu mengalir di telingaku.

"Mayu?" aku terheran melihatnya. "Mayu apa yang kau...ayah? ibu?"

Mayu menghambur, berlari ke arahku dan memelukku. Dia menangis, menangis sejadinya, "Mayu, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menangis?" aku kebingungan. Aku hanya bisa mengelus lembut rambutnya.

"Nak...ka...kau sudah sa...dar?" Ibu ku bertanya terbata-bata dan matanya juga sudah mulai berair, tidak kalah dengan Mayu.

"Ibu? Sadar apa? Ini di rumah sakit bu? Apakah aku sakit?"

"Light...iya, kau sakit, nak." Ayahku menjawab tanyaku sambil memijit batang batang hidung di dekat alisnya, dan kulihat ayah menangis?

"Kapan, ayah?" tanyaku lagi tanpa melepas tangaku dari kepala Mayu yang masih menangis di dadaku.

"..."

"Ah! Ayah! Besok aku ada ujian! Bulan ini adalah bulan untuk ujian akhir semester! Aku harus buru-buru. Maaf ayah, aku harus pulang dan belajar! Ini sudah tahun akhirku!" aku segera mengambil kemejaku yang kulihat ada di ruangan itu dan segera berlari ke arah pintu, membukanya, namun tanganku ditarik oleh ayah. Ibu dan Mayu ternganga kaget saling bertatapan.

"Ayah? Kenapa?" aku menatap ayah.

"Nak, menurutmu sekarang hari apa?" tanya ayah serius dari balik kacamata yang telah dipakainya lagi.

"...26...Februari...ayah?" Ayah dan Ibu Light hanya bisa memejamkan mata dan setitik air mata kembali keluar setelah hadirnya kebahagiaan. Mereka tahu, anaknya hanya sadar, tapi belum sembuh total. Mayu hanya terdiam, melihat kalender di handphonenya.

"...Nak, kau dibawa oleh Misa, ke rumah sakit ini pada tanggal 28 Februari...itu dua bulan yang lalu, Nak"

Ibu dan Mayu menatapku tak percaya. Aku tidak mengerti ini. 26? 28? Kemana aku di tanggal 27? Apa yang terjadi padaku di tanggal 27? Aku tidak pernah ingat telah melewati tanggal 27 Februari di tahun ini seumur hidupku...

-End of Light's POV-


Tanggal 31 April, setelah melalui tes kejiwaan yang melelahkan selama satu bulan dan mengikuti beberapa terapi, Light sudah boleh keluar dari rumah sakit. Tidak dengan syarat, tidak dengan apapun. Meskipun terasa pusing, Light tidak pernah ingat mengapa ia masuk rumah sakit.

Ayah, Ibu dan Mayu mengantar Light ke tempat tinggalnya dan berpamitan untuk langsung pulang ke Osaka, dan di hari ini juga Light langsung menuju kampus. Ia merasa harus segera menyelesaikan urusannya tentang ujian akhirnya, berhubung saat ini mahasiswa sedang liburan akhir semester. Ini adalah saatnya untuk melakukan ujian susulan.

Light mengurus urusannya. Ia harus mondari-mandir dari gedung fakultas ke gedung kuliah untuk mengurus hal ini dari pukul 08.00 dan berhasil mendapatkan izin untuk melakukan ujian susulan 4 dari 5 dosennya. Light langsung berlari ke perpustakaan untuk belajar, mengejar beberapa ketinggalan belajarnya, dan saat ini menunjukkan pukul 10.00 pagi. Light mengambil beberapa buku dari beberapa rak, menumpuknya di meja, kemudian duduk dan mulai membacanya sambil mencatat beberapa poin penting.

Light sudah menghabiskan waktu sekitar 2 jam di perpustakaan untuk belajar. Light tidak mempedulikan sekelilingnya lagi, karena ia berjanji untuk melakukan ujian susulan ke empatnya sekaligus pada esok hari, sedangkan ia hanyalah mahasiswa rata-rata yang biasa saja. Ia mulai merasakan kantuk yang menyerang. Beberapa kali otaknya kosong dan matanya tiba-tiba saja tertutup, membuat pensilnya terjatuh. Kadang ia mengambil kesempatan beberapa menit untuk tidur diatas tumpukan buku yang sedang ia pinjam. Inilah kelakuan Light selama setengah jam terakhir.

Tak lama kemudian, kursi di depan Light tergeser ke belakang. Seseorang duduk di depannya. Light tidak peduli, dia hanya ingin belajar dan mengusir rasa kantuknya. Orang di depan Light melihatnya dengan begitu intens...tidak pernah melepaskan pandangannya selama satu jam kemudian Light belajar, menambah waktunya menjadi 3 jam di dalam perpustakaan.

"...Yagami..." orang itu mulai bicara.

Light terdiam, ia mendongak ke arah depannya untuk melihat orang yang memanggil marganya. Light hanya punya sedikit teman. Sebagian besar temannya memanggilnya dengan nama Light, Rai, Raito, atau apapun itu, ya nama depannya. Namun seumur hidupnya, ia hanya ingat satu orang yang memanggilnya dengan marga keluarganya, namun tanpa embel-embel -kun di belakangnya.

"...Matsuda-senpai?" Light ternganga melihat Matsuda ada di depannya. Light melihat sosok yang pas dengan penggambarannya tentang Matsuda. Rambutnya yang lurus agak donker, kulitnya yang putih, suaranya yang lembut. Matsuda tersenyum lembut melihat tingkah Light.

"Hai, Yagami. Sangat sibuk?" Matsuda meletakkan pipi kanannya untuk dapat ditahan oleh jemari tangan kanannya. Senyumnya begitu bercahaya di mata Light.

"...ti...tidak senpai...ini hanya...besok ada ujian..susulan.." Light mencibir dirinya sendiri, membereskan buku-bukunya yang berantakan...sekalian juga dengan rambutnya.

"waw...kau sangat rajin, Yagami..kau adalah satu-satunya mahasiswa yang ujian ketika yang lain libur. Butuh bantuan?" matsuda menawarkan bantuan sukarelanya.

"Ti..tidak senpai..." Light tertunduk malu. Wajar saja, Matsuda adalah siswa nomor 1 ketika ia sekolah dulu ketika SMA. Light merasa sangat bodoh. Ia tidak pernah mendapatkan juara kelas, ia hanya biasa saja. Namun ia sangat heran teman-temannya adalah orang-orang yang super terkenal, menyebabkan ia terbawa untuk terkenal. Numpang nama kalau kata orang.

"Baiklah, Yagami, belajarlah dengan rajin. Aku kembali dulu ya..."

"...Se...senpai..."

Matsuda berbalik melihat Yagami, "Hm?"

"...tidak, senpai...kapan kau kembali?"

"Hari ini, yagami. Jam 8 tadi."

"..." Yagami terdiam, "se...senpai...bisakah kau ajarkan ini padaku?" Yagami menyodorkan sebuah buku ke depan mukanya tanpa melihat Matsuda. Matsuda terkekeh kecil melihat tingkah Light yang seperti itu. Matsuda menarik kembali kursinya dan duduk di depan Light, "Baiklah, Yagami."

Matsuda mengajari Light hingga petang menjelang. Light dari yang biasanya tidak mengerti, sekarang sangat mengerti dan sangat yakin untuk ujian besok.

"Te...terimakasih, Matsuda-senpai..." Light berkata malu-malu.

"sama-sama, Yagami."

"emmmm...apakah senpai bekerja di universitas ini?"

"Hem?"

"Emmmm...karena aku yakin senpai pasti sudah selesai kuliah. Selama ini senpai melanjutkan kuliah di finlandia kan?" Light bertanya malu-malu (author: cini aku cubit cium peyuk /duesshhh)

Matsuda tersenyum simpul, "Ya, Yagami, aku sudah selesai kuliah. Namun aku tidak bekerja disini."

"...lalu mengapa senpai ada disini?"

"...hanya ingin menyampaikan salam setelah sekian lama tidak bertemu padamu, Yagami.."

"...he...he he..." Light salah tingkah sambil menggaruk pipinya yang ia rasa mulai panas.


-Light's POV-

Matsuda-senpai...aku teringat sesuatu. Rahasia yang bahkan selalu kusimpan sendirian. Aku menyukai Matsuda-senpai, sewaktu aku masih SMA kelas 1. Matsuda-senpai 2 tahun lebih tua dari ku, saat aku masuk, dia ada di kelas 3 SMA. Namun aku hanya suka mengobrol dengannya.

Matsuda-senpai adalah lelaki most-wanted di sekolahku. Seharusnya dia hanya tinggal menjentikkan jari, lalu semua siswa akan rela menyerahkan diri padanya, yah siswa, laki-laki maupun perempuan. Ketampanan Matsuda-senpai sangatlah luar biasa disertai pula dengan kepintarannya.

Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya, aku sedang di atap sekolah, sedang makan siang bersama...makan siang...bersama...eeemmm...bersama teman-temanku...teman-teman...atau bersama seorang teman? Atau aku sendirian? Mungkin aku sudah terlalu tua untuk mengingatnya..hehehe..

Matsuda-senpai datang dari pintu masuk yang juga merupakan satu-satunya pintu keluar dari atap sekolah. Aku melihatnya, keluar dari pintu menuju keatap sendirian, namun kemudian disusul kedua temannya. Matsuda senpai sangat tampan, aku akui itu. Namun saat itu aku sama sekali tidak tertarik.

Sampai saat itu...saat...emm...saat...baiklah aku tidak tau kapan aku mulai menyukainya atau mungkin aku hanya kagum, entahlah. Namun aku tidak pernah melakukan kontak fisik dengannya. Apapun. Kami bahkan belum pernah bersalaman...seingatku belum pernah. Tidak sampai aku bertemu lagi dan baru mengenalnya ketika aku terbangun di sebuah rumah sakit.

He? Kenapa waktu itu ada di rumah sakit? Entahlah...kurasa aku jatuh dari tangga. Hehe..

Matsuda-senpai sangat baik terhadapku. Sejak saat itu, aku sangat sering mengobrol dengannya. Aku menceritakan semua tentangnya ke...

'UURRGHH!' Kepalaku! Sakit sekali!

-end of Light's POV-

Light memegangi kepalanya. Matsuda langsung bangun dari tempat duduknya dan memegangi kepala Light. "Yagami! Yagami!" Matsuda memegang kepala Light dan sedikit mengguncangnya dengan lembut.

"Light…..Light!"

Light tersadar. Ia tetap memegangi kepala sambil membuka matanya dan melihat Matsuda-senpai. Muka Light memerah, "Li...Light?". muka Matsuda-senpai juga langsung merah dan panas mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Light.

"ma...maaf, Yagami.."

Light tersenyum, "Tidak apa, senpai. Aku merasa sangat senang kau memanggil nama depanku"

Senyuman Light seketika menampar hati terdalam pria tampan berambut hitam dongker itu. Matsuda hanya bisa tersenyum juga menanggapinya. Jadi salah tingkah.

"...Yagami, bagaimana dengan kabar temanmu?"

Light melihat Matsuda, lurus-lurus. Tidak yakin apa yang dikatakan oleh Matsuda, "... teman?"

Matsuda juga jadi ikut bingung menghadapi kebingungan Light, "iya temanmu..."

Light benar-benar tidak mengerti, dia menyebutkan satu nama, "Misa-san?"

"Misa?" Matsuda tertegun, "tidak, dia laki-laki...yang mempunyai mata merah?"

Light terdiam, mencari-cari ingatannya. Ia menyentuh bibirnya ketika mengucapkan satu kata yang membuat air mukanya sangat kebingungan, "...merah..."


TBC

Mind to RnR yah qaqa...mudah-mudahan ini cerita tiap minggu saya update. palingan tiga atau empat chapter...yah RnR dulu deh kalo gituh hehehe

makasih qaqa dan babang xD