Stay beside ch.3
.
.
.
Kyungsoo sejak tadi berdiri di pagar pembatas beranda sambil menghela napas pelan, ia menatap langit malam yang sedikit berawan dengan pandangan lesu. Taemin dan Minho baru saja pulang dari apartementnya, mereka menghabiskan hari mengelilingi Seoul dan Jongin sekarang sedang gladiresik di sekolah. Ingatannya kembali pada perbincangan antara Taemin dan dirinya beberapa jam yang lalu.
.
Flashback
"Kyungie, sedang apa? bisa kita bicara sebentar?" Ujar Taemin saat melihat Kyungsoo yang sedang sibuk memilih bahan makanan di lemari pendingin.
"ah, baiklah umma, ani. Hanya menyiapkan makan malam," Kyungsoo tersenyum gugup seraya mengangguk menyetujui permintan Taemin.
"rajin sekali kamu, sayang~ benar-benar calon menantu yang baik." Gumam Taemin dan terkekeh pelan saat melihat wajah Kyungsoo yang memerah. "tapi tidak usah repot-repot, umma dan appa sebentar lagi akan pulang. Kami harus bersiap karena besok akan kembali ke London."
"kenapa cepat sekali umma—ah maaf." Kyungsoo langsung membungkuk meminta maaf saat merasa ucapannya agak lancang.
Taemin langsung memeluk kekasih anaknya itu dengan ekspresi gemas. Mimpi apa ia bisa langsung mendapatkan calon menantu yang manis serta sangat rajin dan sopan ini? "tidak apa-apa sayang, maafkan umma juga tidak bisa berlama-lama disini," ia dapat merasakan Kyungsoo dalam anggukannya mengangguk pelan. "baiklah, kita bicara di balkon saja, bagaimana?"
"apa yang terjadi umma? Apa Kyungsoo membuat kesalahan?" Tanya Kyungsoo gugup sambil meremas ujung mini dressnya. Kedua wanita cantik berbeda usia itu kini telah duduk di balkon ditemani dua cangkir teh hijau hangat—Minho sedang berada di tempat Kibum jadi mereka dengan leluasa dapat berbicara. Udara yang agak dingin dikarenakan cuaca mendung malam itu tidak terlalu diperdulikan oleh mereka.
"sama sekali tidak, Kyungie. Umma hanya ingin bercerita padamu, bolehkah?"
"tentu saja umma. Kyungsoo akan mendengarkan, dan Kyungsoo berusaha bantu jika ada masalah." Taemin tersenyum kecil mendengar ucapan Kyungsoo.
"baiklah." Taemin menyeruput sedikit teh nya, melihat Kyungsoo yang menatapnya penuh atensi, ia pun mulai berbicara.
"umma ingin bertanya, menurut Kyungie bagaimana sikap Jongie terhadap appa dan umma tadi?"
Mendengar nama namjachingunya di sebut sontak tubuh Kyungsoo menegang, ia tidak menyangka bahwa Taemin akan menanyakan hal tersebut padanya. Kyungsoo fikir Taemin akan bertanya asal usulnya, mungkin saja Kyungsoo tidak sesuai dengan harapannya atas kekasih yang pantas untuk Jongin.
"uhm..itu—" yeoja itu tampak salah tingkah dan bingung untuk memilih kata-kata yang akan diucapkannya, ia takut jika salah berucap hal itu akan menyakiti hati umma Jongin.
"tak apa sayang, jujur saja." Ujar Taemin sambil mengelus rambut hitam yeoja itu lembut. "umma tidak akan marah." ia akhirnya menambahkan setelah melihat Kyungsoo yang masih sulit untuk berkata-kata.
"kurasa Jongin tidak begitu menyukai kehadiran umma dan appa. Tapi—umma mungkin itu hanya perasaanku saja."
"tidak, Kyungie benar." Taemin menghela napas sejenak. "Jongin memang bersikap seperti ini sejak dulu."
"…."
"umma memiliki Jongin saat umma masih sangat belia, sayang. Saat itu umma berada di tingkat dua Junior High School." Taemin tersenyum kecil saat melihat ekspresi Kyungsoo yang cukup kaget. Namun akhirnya ia melanjutkan.
"umma dan appa telah dekat sejak dimana kami sudah bisa merangkak dan berbicara. Kedekatan kami memang sudah direncakan jauh-jauh hari bahkan sebelum kami dilahirkan."
"maksud umma, dijodohkan?" Kyungsoo menginterupsi tanpa sadar untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"benar sekali, Keluarga Kim dan Lee telah merencakan perjodohan untuk menambah keakraban kedua belah pihak dan yah," Taemin mengangkat bahu dan meringis, "—bisnis."
"Kami tumbuh bersama. Appa dua tahun lebih tua dari umma namun ia terus berada disisi umma. Ia selalu menjaga umma dan menjadi satu-satunya anak lelaki yang dekat dengan umma sejak umma lahir. Umma tidak diperbolehkan dekat dengan namja lain selain Minho appa. Namun tidak masalah, karena umma memang menyukai Minho appa bahkan sejak umma bisa mengingat wajahnya."
"romantic sekali.." decak Kyungsoo kagum dengan mata berbinar.
Taemin tersenyum kecil tanda berterima kasih—uh betapa anggunnya gesture wanita ini sudah tidak dapat terelakkan—"tapi itu tidak selamanya indah, Kyungie sayang." Raut wajah wanita itupun berubah muram, Kyungsoo sontak menatapnya dengan pandangan serius.
"umma dan appa saat itu masih sangat muda, dan tentu saja gejolak remaja yang selalu ingin mencoba hal baru ditambah hubungan yang sangat dekat antar lawan jenis mempermudah segalanya,"
"…."
"dan boom! Tanpa kami sadari kami sudah melakukan dosa yang sangat besar. Keluarga kedua belah pihak marah besar saat mengetahui hal tersebut. Kami memang diputuskan untuk bersama, namun bukan untuk menyadari fakta bahwa umma mengandung bahkan sebelum kami terikat hubungan pernikahan yang sah. tidak ada yang menyarankan umma untuk menggugurkan anak itu—tentu saja tidak karena fakta bahwa anak tersebut adalah calon pemimpin gabungan dari perusahaan besar—namun kehamilan yang sangat cepat ini dapat menghancurkan martabat keluarga," Taemin mengusap wajahnya pelan.
"singkat cerita Jongin berhasil umma lahirkan dengan selamat namun tidak ada satupun media yang mengetahuinya. Jongin dibesarkan oleh ibu Minho appa di Jepang dan ia tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang sebenarnya. Umma dan appa yang sudah mulai memasuki sekolah menengah ataspun disibukkan dengan macam-macam hal tentang perusahaan. Kami tidak punya dan tidak akan pernah punya waktu untuk bermain dengan teman sebaya apa lagi untuk mengunjunginya karena kami sejak awal sudah dipersiapkan untuk perusahaan—ah, apakah cerita ini membosankan, sayang?"
"tidak umma. Lanjutkan saja,"
"akhirnya setelah beberapa tahun kami memberanikan diri untuk mengunjunginya. Jongin tumbuh menjadi namja yang tampan dan pintar serta rendah hati dibawah bimbingan kakek dan neneknya. Namun ia sejak awal menolak kehadiran kami berdua yang datang untuk melihatnya, ia bilang ia tidak butuh orang tua seperti kami." Taemin terkesiap saat merasakan Kyungsoo menghapus air matanya dengan sapu tangan, ia tidak menyadari bahwa ia menangis saat bercerita.
"umma, jika ini menyakitkan untuk umma sebaiknya tidak usah dilanjutkan." Gumam Kyungsoo sambil mengelus bahu Taemin lembut, untuk menenangkan.
"tidak apa, pada akhirnya Kyungie berhak untuk tahu."
"baiklah." Ujar Kyungsoo pertanda setuju.
"umma dan appa sejujurnya tidak ingin seperti ini. Keberadaan Jongin sampai saat ini tidak diketahui oleh media, sebenarnya appa dan umma tidak masalah untuk mengenalkannya toh kami berdualah kini pemilik perusahaan dan hal tersebut tidak akan merubah apapun. Namun sifat rendah hati Jongin tetap mendominasi, ia tentu saja menolak hak tersebut. ia tidak ingin orang lain berteman dengannya hanya karena harta milik keluarganya. Sejak dulu ia tidak pernah menerima jika diberikan barang-barang yang mahal dan menolak untuk tinggal bersama kami. Saat pindah sekolah ke Seoul pun ia bahkan berencana untuk tinggal diasrama sekolah namun umma memaksa ia untuk tinggal diapartment milik teman umma agar kami tetap bisa mengontrolnya. Haah sepertinya memang salah umma dan appa yang tidak bisa bertindak sebagaimana orang tua yang baik."
"tidak umma, Jongin hanya tidak mengerti cara umma dan appa mengekspresikan rasa sayang kalian." Kyungsoo tersenyum lembut.
"suatu kali pernah appa membelikan mobil sport untuknya dan ia langsung menolaknya mentah-mentah. Ia bilang, 'untuk apa appa memberikan ini untukku? Appa fikir mobil ini bisa merubah posisi kasih sayang yang kuinginkan dari orang tuaku?' umma dan appa sungguh terpukul mendengarnya mengatakan hal itu. Dia hanya ingin kasih sayang kami namun kami tidak bisa mewujudkannya dengan baik. Akhirnya kakeknya yang mendengar hal itu membujuk Jongin agar menerima pemberian appanya, Jongin setuju namun ia meminta untuk diganti dengan mobil yang lebih sederhana."
Taemin melihat Kyungsoo menatapnya dengan ekspresi tak terbaca namun ia akhirnya melanjutkan, "hingga kini, Kyungie. Umma tidak tahu bagaimana caranya untuk merebut hati satu-satunya buah hati yang umma miliki. Jongie sudah umma berikan kebebasan atas apapun ia inginkan, ia tidak umma masukkan kesekolah bisnis alih alih kesekolah seni karena umma tahu ia menyukai hal itu. Umma dan appa rela bekerja keras mengurusi perusahaan agar Jongin tidak perlu merasakan apa yang kami rasakan dulu. Kami berencana untuk bekerja sampai kami mampu hingga usia tua jadi Jongin tidak perlu repot untuk menyesuaikan diri dengan dunia bisnis sejak dini. Ia bisa menggapai mimpinya terlebih dahulu namun saat kami sudah tak sanggup lagi, kami akan memberikan wewenang padanya—itupun jika ia mau."
"..umma," Kyungsoo mengalihkan pandangannya kepada wanita cantik dihadapannya, wanita yang tampak luar biasa sempurna dari luar namun ternyata sangat rapuh didalam. "Kyungsoo berjanji akan membantu mendekatkan umma dan appa ke Jongin. Dan yah, itu adalah tanggung jawab jongin jadi Kyungsoo akan berusaha membujuknya agar memikirkan tentang perusahaan, cepat atau lambat."
"benarkah?"
"ya, asal umma berjanji untuk tidak terlalu memaksakan diri saat bekerja, serta sekali kali kalian harus menghubungi Jongin. Kyungsoo rasa Jongin sesungguhnya sangat merindukan kalian namun ia tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya. Umma dan appa harus lebih terbuka kepadanya, bagaimana?"
"umma akan berusaha sayang," Taemin memeluk Kyungsoo kembali dengan ekspresi wajah penuh kelegaan, "umma bersyukur Jongin dipertemukan denganmu. Rasanya tak sabar untuk menjadikanmu menantuku, sayang."
Kyungsoo melepaskan pelukan itu dan menunduk menyembunyikan ekpresi gugupnya, "maafkan Kyungsoo tapi kami masih muda untuk hal tersebut, umma." Ujarnya jujur tanpa bermaksud untuk menyakiti hati wanita dihadapannya.
"haha tidak sayang, umma hanya bercanda. Itu semua terserah kepada kalian." Taemin terkekeh pelan,
Drrt
Atensi kedua wanita tersebut teralihkan oleh suara ponsel yang bergetar, Taemin mengambil ponsel dari saku coatnya dan tersenyum tipis.
"umma harus kembali sekarang sayang, ada masalah kecil." Taemin bangkit diikuti Kyungsoo kemudian mencium kedua pipi gadis muda itu. "appa sudah menunggu dibawah dan ia meminta maaf tidak bisa langsung pamit padamu." Mereka berdua berjalan menuju pintu apartment.
"tidak masalah umma—ah. Umma," gumam Kyungsoo cepat saat Taemin beranjak akan pergi, sebenarnya ini tidak cukup sopan baginya namun ia harus melakukan ini.
"ne?"
"jam berapa kira-kira umma dan appa akan pergi? Bisakah untuk melihat Jongin sebentar esok hari?"
"mungkin malam hari sayang, kenapa?"
"besok Jongin akan mengikuti kompetisi yang sangat penting, ia telah berusaha keras akhir-akhir ini. Bisakah umma dan appa melihatnya sebentar saja? Kumohon."
"baiklah Kyungie, akan umma usahakan. Sekarang umma harus pergi, kamu istirahatlah sayang. Kamu tampak tidak sehat."
"ne umma, hati-hati dijalan." Sahut Kyungsoo sambil membungkuk sekilas dan menunggu Taemin menghilang dari pandangannya. Kyungsoo memijit pelipisnya pelan kemudian beranjak menuju dapur untuk memasak makan malam karena ia tahu Jongin pasti tidak akan makan diluar setelah latihan.
Flashback end
.
.
"Soo?" suara seorang namja mengembalikan Kyungsoo dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Jongin telah berdiri disampingnya dengan ekspresi—lelah? Namun ia tetap tersenyum lembut.
Grep.
Kyungsoo tidak berkata apa-apa namun ia langsung memeluk namja dihadapannya. Jongin yang tidak biasanya mendapati kekasihnya bersikap agresif pun agak kaget namun ia segera balas memeluk dan mengusap surai yeoja itu lembut.
"ada apa hm? Ada yang mengganggu pikiranmu?" gumam Jongin lembut. Ia merasakan Kyungsoo menggeleng pelan dan mengeratkan pelukannya.
"…"
"Soo—"
"bukan apa-apa. ini hanya pelukan untuk mengisi energy." Potong Kyungsoo sambil terkekeh, " Aku melihat Jongie tampak kelelahan, aku berharap Jongie tetap sehat dan tampil dengan baik esok hari."
"terimakasih sayang, kamu tahu saja bahwa kamu itu sumber energiku." Jongin tertawa kecil sambil mencium puncak kepala kekasihnya, lega bahwa tidak terjadi apa-apa dan ia merasakan kepenatan ditubuhnya hilang seketika.
"syukurlah, aku sangat senang bisa meringankan bebanmu." Kyungsoo berujar dengan nada yang ceria, namun Jongin tidak mengetahui bahwa ekspresi sedih tergambar di wajahnya.
Jonginnie, bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya? Bisakah kamu bagikan rasa sakit yang kamu alami kepadaku? Kamu selalu tampak baik-baik saja namun ternyata tidak. Itu sangat menyakitiku, Jongin. Batin Kyungsoo. Diam-diam ia menghapus setitik air matanya yang mengalir dan melepaskan pelukan mereka.
"mengapa tubuhmu dingin sekali soo? Sudah berapa lama kamu disini?" gumam Jongin sambil mengusap lengan Kyungsoo yang terbuka.
"Baru saja. Jongie sudah makan?"
Jongin mengelus pipi yeoja itu dan menggeleng pelan. "ayo kita makan, aku sudah menyiapkan sup ayam kesukaanmu." Ujar Kyungsoo sambil mengenggam tangan Jongin dan membawanya menuju ruang makan.
'mungkin lebih baik untuk tidak menanyakannya malam ini, Jongie terlihat sangat lelah.' batin Kyungsoo sambil melihat Jongin yang sedang makan dalam diam.
.
.
Kini mereka berdua sedang duduk bersandar pada sandaran tempat tidur milik Kyungsoo. Kenapa mereka bisa berada di ranjang yang sama adalah dikarenakan sifat keras kepala Jongin yang memaksa untuk tetap mengawasi Kyungsoo saat malam dengan cara tidur di sofa, Kyungsoo pun menolak dan memaksa Jongin untuk tidur bersamanya dengan wajah memerah menahan malu. Bukan apa-apa, ia melakukan itu agar Jongin bisa beristirahat dengan baik. Toh, mereka berdua masih tau batasan.
"Soo?" panggil Jongin kearah kekasihnya yang tampak asik membaca sebuah buku sastra—belum mengantuk, akunya. Padahal sejujurnya ia tidak bisa tertidur dan terus terngiang dengan perkataan Taemin beberapa waktu lalu.
"uhm? Apa Jongie sudah mengantuk? Biar kumatikan lampunya." Kyungsoo beranjak dari duduknya, meletakkan buku di meja nakas dan beranjak untuk mematikan lampu dan menggantinya dengan yang lebih remang namun tangan Jongin menahannya.
"tidak. Aku tidak mengantuk. Kembalilah duduk." Ujar Jongin sambil menepuk spasi kosong disebelahnya agar Kyungsoo duduk kembali dan gadis itu menuruti.
"ada apa hm?" Kyungsoo menatap Jongin penuh atensi.
"mengenai kejadian tadi, aku—"
"jika Jongie tidak siap untuk bercerita sekarang, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu." Sambung Kyungsoo cepat namun lelaki itu membalas dengan gelengan tidak setuju.
"aku ingin bercerita sekarang," Jongin mengubah posisinya untuk berbaring di pangkuan kekasihnya, ia memejamkan mata sejenak merasakan kenyamanan saat Kyungsoo mengelus rambutnya sayang.
"katakanlah. Aku akan mendengarkan,"
"selama ini, ku fikir umma dan appa tidak menyayangiku." Suara itu terdengar sedikit bergetar saat menumpahkan isi hatinya.
"kenapa Jongie berfikir begitu?" Kyungsoo terkesiap dan bertanya dengan nada terkejut.
"mereka selalu meninggalkanku dan lebih memilih untuk bekerja dan bekerja. Mereka tidak pernah ada disaat aku menginginkan mereka ada. Saat aku memenangkan kompetisi, mereka tidak hadir untuk mendukungku. Mereka pernah tidak hadir untuk memelukku saat namaku diumumkan menjadi juara umum. Disaat seluruh orang tua siswa berfoto bersama anak mereka dihari kelulusan, aku hanya bersama kakek dan nenek. Mereka tidak pernah hadir, bahkan—" suara Jongin tercekat, Kyungsoo berusaha mati-matian menahan air matanya saat melihat kekasih yang paling ia sayangi mengungkit luka yang disimpannya sendiri.
"bahkan saat aku terbaring sakit, dimana aku hanya berharap umma dan appa datang. Memelukku dan membisikkan bahwa aku akan kembali baik-baik saja. Namun mereka tak pernah datang. Aku sudah mengatakan aku tidak membutuhkan harta mereka, yang aku butuhkan hanya kasih sayang mereka tetapi mereka tak pernah mengerti. Aku—"
"…."
"aku merasa tidak diinginkan. Lebih baik aku tidak usah dilahirkan oleh—"
"sstt." Kyungsoo menaruh telunjuknya dibibir kekasihnya agar ia berhenti berbicara. Jongin tampak sangat kacau dan Kyungsoo sebisa mungkin menghentikan ia mengatakan hal yang lebih menyakitkan dari ini. "itu tidak benar, jangan berkata seperti itu. Kamu adalah satu-satunya buah hati mereka, Jongie. Aku bisa melihat bahwa mereka sangat menyayangimu. Mungkin mereka tidak bisa menunjukkan rasa sayang mereka dengan benar. Tidak ada orang tua yang sempurna, sayang. Percayalah, dibalik semuanya pasti ada alasan mereka melakukan hal tersebut."
"…."
Kyungsoo melanjutkan sambil tetap mengelus rambut kekasihnya, "Jongie tahu? Ada banyak anak didunia ini yang tidak menghetahui dimana keberadaan orangtua mereka. Jongie harusnya lebih bersyukur. Jongie masih punya orang tua dan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan. Bayangkan anak-anak yang orang tuanya tiada, Jongie. Mereka sudah tidak memiliki kesempatan bahkan hanya untuk menatap orang tua mereka." Kyungsoo menangis dalam diam, ia teringat ayahnya yang telah berada disurga.
Jongin terkesiap, tanpa sadar ia telah menyakiti hati lembut kekasihnya. Ia bangkit dari duduknya dan memeluk kekasihnya erat. "Kyungie uljima, apa aku menyakitimu? Maafkan aku sayang."
"tidak." Kyungsoo menggeleng dan melepaskan pelukan mereka, Jongin menghapus air matanya lembut dengan tatapan menyesal. Hatinya terasa begitu sakit saat melihat Kyungsoo menangis. "aku hanya terlalu sensitive, Jongie. Seharusnya kamu yang bercerita namun malah aku yang menangis. Hehe," Kyungsoo terkekeh pelan saat Jongin mencium pipinya yang terasa lembab.
"aku akan memperbaiki hubungan dengan appa dan umma, aku berjanji sayang." Ujar Jongin sambil menuntun Kyungsoo untuk berbaring disebelahnya. Kyungsoo tersenyum senang mendengar Jongin yang mau berbesar hati memaafkan orang tuanya.
"terimakasih, aku merasa sangat lega sekarang." gumam namja itu lagi sambil memeluk yeoja disampingnya. Posisi mereka yang berbaring sambil berpelukan membuat pipi gadis itu memanas.
"aku senang bisa membantumu, Jongie." Suara Kyungsoo teredam oleh pelukan namja itu yang mengerat.
Hening sebentar, Kyungsoo fikir Jongin telah tertidur namun saat ia ingin melihat paras kekasihnya itu, ternyata Jongin sedang memandangnya dalam diam. Kyungsoo merasa tersihir oleh tatapan itu dan tanpa sadar ia memejamkan mata saat bibirnya disapu dengan lembut oleh bibir Jongin yang terasa hangat.
"…."
"Soo?"
"hm?"
"aku ingin mendengarmu bernyanyi."
"baiklah." Kyungsoo berdehem sebentar lalu mulai bernyanyi.
somewhere over the rainbow, way up high
there's a land that I heard of once in a lullaby
Somewhere over the rainbow, skies are blue
And dreams that you dare to dream really do come true
Someday, I'll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops
That's where you'll find me
Somewhere over the rainbow, bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can't I?
If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why, can't I?
Kyungsoo menghentikan nyanyiannya saat mendengar helaan nafas teratur namja disampingnya. Baru beberapa menit ia bernyanyi namun namja itu telah tertidur dengan nyenyak. Kyungsoo tersenyum kecil melihat wajah Jongin yang begitu tenang saat tertidur. Ia mematikan lampu, mencium pipi Jongin lembut dan menyelimuti tubuh mereka berdua.
"selamat malam, Jongin."
.
.
Kyungsoo dan Luhan berdiri di dekat backstage. Mereka berdua menunggu Jongin dan Sehun serta anggota club dance yang sedang bersiap-siap. Kompetisi ini diadakan antar sekolah disebuah Hall, jadi dapat dipastikan betapa ramainya siswa yang hanya ingin menonton ataupun mendukung club dari sekolah mereka.
Kyungsoo sesekali melirik ponselnya dengan pandangan cemas. Luhan yang melihatnya pun bertanya,
"ada apa Kyungie?"
Kyungsoo menoleh dengan cepat, "Bukan apa-apa Hannie." Ia tersenyum kecil. Kyungsoo sebenarnya menunggu kabar dari Taemin yang berjanji untuk datang, namun hingga kini belum ada tanda bahwa kedua orang tua Jongin akan datang menyaksikan anak mereka. Luhan hanya mengangkat bahunya pelan.
Tak lama club dance SOPA pun datang dan kedua gadis cantik itu langsung menghampiri mereka. Kyungsoo berlari kearah Jongin yang baru saja selesai memberi instruksi dan Jongin langsung memeluknya cepat.
"Jong—"
"Pelukan untuk menghilangkan gugup." Sahut namja itu cepat. Kyungsoo tersenyum kecil,
"apa kamu gugup?"
Jongin melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut, "sekarang tidak. Aku harus tampil dengan baik karna kamu akan menonton."
Kyungsoo mendongak menatap kekasihnya sambil terkekeh pelan, "jika kamu memenangkan kompetisi ini, kamu boleh meminta hadiah apapun dariku."
Jongin sontak menatapnya antusias, "apapun?"
"apapun. Asal bukan yang macam-macam." Koreksi Kyungsoo cepat.
Jongin tersenyum lebar, "Okay, kupastikan aku akan menang."
"kuharap begitu." Sambung Kyungsoo dengan wajah yang memerah padam karena Jongin mencuri satu ciuman di dahinya, juga dikarenakan semua anggota club dance yang menatap mereka sambil tersenyum menggoda.
"aku mencintaimu." Bisik Jongin di telinga kanannya.
"aku juga. Berusahalah dengan baik."
Mereka akan tampil lima menit lagi jadi Kyungsoo dan Luhan mulai beranjak menuju bangku penonton namun Luhan tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kyungie, tunggu sebentar."
"ada apa Hannie?" Tanya Kyungsoo namun Luhan tidak menjawab namun malah berlari kembali kearah anggota club yang sedang berkumpul. Kyungsoo fikir Luhan meninggalkan sebuah barang jadi ia hanya menunggunya dari jauh.
"OH SEHUN!" Luhan berteriak sambil berlari menuju Sehun yang menatapnya bingung.
"ada apa Han—"
Cup
Ucapan Sehun terhenti dikarenakan Luhan yang tiba-tiba mengecup pipi kanannya.
"ciuman keberuntungan. Good luck!" sahut Luhan cepat sambil berlari kembali dengan wajah memerah menahan malu. Meninggalkan Sehun dengan ekspresi blank-nya serta siulan dari anggota yang menggodanya.
"wow Hannie, kamu benar-benar beran—"
"ayo cepat lari, Kyungie! Argh aku malu sekali." Luhan menarik tangan Kyungsoo untuk berlari cepat menuju bangku penonton.
.
.
Dua gadis itu kini duduk dibangku paling depan untuk menyaksikan kompetisi. Tersisa dua bangku kosong disebelah mereka yang Kyungsoo siapkan untuk Taemin dan Minho namun hingga kini mereka tak kunjung datang. Club dance SOPA telah menaiki panggung dan bersiap untuk intro. Jongin tampak dalam posisi terdepan dan Kyungsoo dapat melihat dengan jelas ekspresi namja itu yang tersenyum padanya.
Music diputar dan mereka mulai bergerak dengan lincah. Kyungsoo tanpa sadar menatap Jongin tanpa berkedip, sepertinya ia terpesona dengan tarian namja itu yang begitu memukau.
"Kyungie?"
Ia sontak menoleh menemukan bahwa Taemin lah yang menepuk bahunya diikuti Minho yang duduk disamping istrinya. "maaf umma dan appa terlambat."
"tidak apa-apa, umma. Mereka baru saja mulai."
"wow, itu baru anakku!" sahut Minho pelan melihat Jongin yang meliukkan tubuhnya dengan lincah diatas panggung.
"tsk, yang benar saja oppa. Bakatnya itu menurun dariku." Taemin tersenyum dan Kyungsoo kembali mengalihkan pandangannya kearah panggung.
Tiba saat dimana Jongin harus melakukan gerakan salto, Kyungsoo pernah menonton Jongin berlatih sebelumnya dan ia sedikit mencemaskan gerakan ini. Jongin pernah bilang gerakan inilah yang membuatnya terkilir karena saat itu ia tidak mendaratkan kakinya dengan benar. Ia menghela napas lega saat Jongin bisa melakukannya dengan baik, namun..
Kyungsoo dapat melihat dengan jelas ekspresi Jongin yang meringis kecil walau ia menundukkan kepalanya. Namja itu sedikit menyeret kakinya saat bergerak namun karena posisi Sehun yang menutupinya itu tidak terlihat terlalu kentara. Kyungsoo bergerak gelisah dalam duduknya dan hanya dapat berharap hal ini selesai dengan cepat dan Jongin tidak merasakan sakit yang lebih. Tetapi harapan tetaplah harapan.
Gerakan penutup dimana Jongin kembali berada di depan dan ia diharuskan untuk melakukan putaran (Jongin di ending wolf) membuat Kyungsoo benar-benar cemas. Jongin berputar depan baik namun ekspresinya menunjukkan kesakitan yang amat sangat. Namja itu sontak terjatuh pas saat lampu stage dimatikan pertanda perform berakhir.
"JONGIN!"
.
.
.
tbc
aduh maaf sekali saya updatenya telat. Semoga saja ini sudah cukup panjang ya~! Ini endingnya di chap depan kok dan kemungkinan chap depan yang paling panjang. Haduh kemarin KSmommentnya sedikit ya? Apa ini sudah lumayan, readernim? Kkk
ah, apakah konfliknya sedikit membingungkan? Jika bingung Tanya saya saja yah haha ^^V
oh ya Readermin, saya punya project untuk fic Kaisoo yang baru, tetapi setelah sequel ini selesai. Saya masih bingung harus dibuat YAOI atau genderswitch? Bagusnya dan yang kalian sukai apa? Dimohon pendapatnya ya, thankyou^^
Thanks to:
younlaycious88 : gaul banget yah memang haha sempat kefikiran untuk buat Onkey tapi sudah terlanjur Soojung jadi..ah, sudahlah. Mungkin lain kali Taekey bisa rempong-rempongan(?) terimakasih /bow
yixingcom : bukannya sembuh malah mabok ya…duh saya ga bisa buat yang rated M. kamu mau bantuin? Haha
sehunpou : sudah selesaikah UKKnya pou-shhi? Haha sudah dilanjut ya
zoldyk : already updated! sorry if it's too late ^^
KaiSoo Fujoshi SNH : 2M momentnya kebanyakan yah? Aduh maaf saya kelepasan /bow. Disini udah dibanyakin Kaisoonya semoga cukup ya ^^, ntar kalo banyak banyak bikin mabok lmao. Hmm konfliknya disini sudah dijelaskan yah dan kibum dan soojung gak ikutan sih haha. Disini mereka cuma buat rame-ramean doang wkwk
Brigitta Bukan Brigittiw : jawabannya semua ada disini hohoho
Teleporters Earthlings : oh benarkah? Saya kira fic ini cukup mengecewakan hehe syukurlah ada yang nungguin :p gak tega disini buat mereka berantem ntah kenapa duh hayuk tos lagi /tos mulu ah lmao. Huaa maaf sekali ini agak lama ^^v chap depan ending kok hehe
Shim Yeonhae : sudah dilanjut ^^
mrblackJ : jongin ganteng ganteng durhaka? Lol kyungsoo sangat baik nan perhatian huhu terimakasih! Hehe ^^ sudah dilanjut ya
yukasa kisaragi : habis kasian sekali jongin harus selalu jadi pihak yang dinistakan haha. Gak bakal pisah kok mereka, saya janji /loh. Terimakasih!^^
ruixi : aduh saya cuma bercanda kok^^ kamu bebas manggil saya apa aja hehe terimakasih ya!
Ada typokah diatas? Semoga tidak.
Sampai jumpa di chapter depan!^^
-ltmsjh
