Disclaimer: Kuroshitsuji, Toboso Yana + Square Enix.
Writer's note: Chapter 3 is coming… Sekarang ditulis dari sudut pandang Ciel sama Sebastian, terus plotnya mulai keliatan di sini, jadi aku udah mulai muter otak di chapter ini. Semoga ceritanya makin seru. Bikin readers mikir juga sih niatnya =P Dan maaf kalau ada deskripsi yang terasa diulang-ulang =)) Review-nya lagi dong please =3
.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.
Ciel Phantomhive's POV
Kulitku mati rasa ketika aku sadar.
Pertama aku mencoba menggerakkan tanganku, tapi tak bisa. Ada benda yang menahan tanganku, terasa dingin. Benda itu melingkari pergelangan tanganku. Aku menyadari aku menduduki sesuatu. Sesuatu yang keras dan dingin. Pikiranku masih kabur, saking cepatnya semua hal ini terjadi. Rasanya otakku perlu waktu lebih lama untuk memproses semua ini.
Aku melayang antara keadaan sadar dan tidak sadar ketika pikiranku perlahan mulai berfungsi, mencerna peristiwa beberapa waktu yang lalu. Apakah itu sudah lama atau tidak? Aku tak tahu. Kilasan-kilasan memori menyerbu pikiranku. Suara kaca pecah. Sumpalan di mulutku.
Akhirnya, secara tiba-tiba, aku terbangun seluruhnya. Ketika aku mencoba membuka mataku, rasanya kelopak mataku terasa begitu berat, tak mau terbuka. Kemudian aku merasakan sesuatu yang halus di sekitar mataku. Kain? Selanjutnya otakku memberikan perintah pada tubuhku untuk membuka mulutku, menuntut penjelasan akan semua ini. Tapi, lagi-lagi aku tak bisa mengendalikan tubuhku. Mulutku juga tak mau terbuka. Seperti tertahan oleh sesuatu yang lengket. Aku terjebak, tak bisa melakukan apapun.
Sebagai usaha terakhir, seluruh tubuhku bergerak memberontak. Aku berguncang-guncang di atas tempatku duduk, yang terasa seperti sebuah kursi logam. Aku tiba-tiba sadar bahwa tanganku dirantai.
Aku mendengar suara orang berdecak, yang sepertinya berasal dari suatu tempat di depanku. Suara decakan tadi diikuti suara langkah kaki yang bergerak ke arahku. "Bocah Phantomhive kecil."
Suara itu sepertinya berasal dari orang yang tadi berdecak. Dan suara ini terdengar familiar, tapi aku tak bisa mengingat siapa tepatnya.
Sebastian! Kata itulah yang aku jeritkan dalam pikiranku ketika tiba-tiba saja rasa sakit itu menyerbuku. Rupanya orang tadi telah melangkah ke belakangku tanpa aku sadari, dan memukul bagaian belakangku dengan suatu benda yang keras. Telingaku sampai berdenging karena rasa sakitnya. Tapi aku belum menjerit kesakitan. Belum. Aku hanya mengeluarkan sesuatu yang menyerupai erangan tertahan, yang sulit dipastikan karena mulutku masih tak bisa terbuka.
Orang itu menarik kain yang menutupi mataku dengan kasar hingga kepalaku ikut tersentak karenanya. Orang itu mengacak-acak rambutku, lagi-lagi, dengan kasar. Lalu orang tadi melangkah ke depanku sehingga aku bisa menangkap sosoknya.
Aku mengerjapkan mata menahan sakit. Saat pandanganku akhirnya menjadi jelas, aku dapat melihat sosok seorang bersetelan tuksedo putih. Rambutnya juga mendekati putih dengan sedikit nuansa abu-abu keunguan. Salah satu alasan mengapa aku tak bisa mengidentifikasi siapa dirinya adalah bahwa ia memakai topeng yang menutupi seluruh wajahnya. Tapi alasan yang utama adalah kerja otakku menjadi lambat karena pukulan yang dilancarkan orang itu padaku tadi. Tapi pakaiannya juga terasa familiar. Ia memegang sebuah pedang tipis yang masih disarungkan. Mungkin itu yang ia pakai untuk memukulku tadi.
Ia melangkah maju ke arahku, dan tubuhku menegang sedikit, mengira ia akan memukulku lagi. Tapi hal terburuk yang ia lakukan hanya menarik plester—ya, aku sadar sekarang bahwa itu adalah plester—yang menahan mulutku agar tak bisa terbuka. Seperti ketiga hal yang telah ia lakukan padaku sebelum ini, ia menariknya keras-keras hingga aku mengerang lagi begitu plester itu lepas dari mulutku, meninggalkan perasaan terbakar pada bibirku.
Tunggu—itu hanya aku, atau benar-benar orang itu tertawa pelan melihat aku kesakitan?
"Bocah Phantomhive kecil," kata pria itu, mengulangi sebutannya untukku. Dalam hati aku merutuk pelan mendengar ucapannya. "Apa maksud semua ini?" kataku padanya dengan nada marah yang kentara, segera setelah aku mendapatkan suaraku kembali. Mulutku masih terasa kebas.
"Ah, semua hal mempunyai tujuan sendiri-sendiri, itu pasti, Bocah," katanya, yang membuat hatiku rasanya seperti dimasukkan ke dalam perapian dan terbakar api biru yang menari-nari di dalamnya.
"Jangan berbicara berbelit-belit. Gunakan bahasa yang benar, langsung pada intinya," bentakku pada orang yang dugaanku penculikku itu. Bahkan sampai sekarang, kerja otakku masih lamban, dan belum mampu mengingat siapa orang di hadapanku ini. Mungkin pengaruh obat bius yang dia berikan padaku saat menculikku.
Ia tertawa kecil. "Mulutmu besar juga, ternyata, Bocah. Anak kecil sepertimu ternyata memiliki keberanian untuk berkata seperti itu padaku." Sampai kapanpun aku tak akan terbiasa dengan panggilan itu. 'Bocah'. Ulangi, sampai kapanpun.
"Hentikan semua permainan menggelikan ini. Jelaskan padaku." Aku menatap ke sekeliling ruangan tempatku disekap, yang baru kusadari, sangat luas, namun hanya disinari cahaya remang-remang. "Semuanya. Dari awal." Aku menatapnya penuh rasa benci yang tak mau repot-repot aku tutupi.
Ia mendesah. "Baiklah, baiklah, Bocah Keras Kepala, akan aku jawab pertanyaanku. Tapi sebelum itu…" Ia mengulurkan tangannya, meraih topeng yang dikenakannya, lalu melepaskannya. Mataku membelalak, dan aku terdiam dalam keadaan trans sejenak.
Akhirnya aku bisa menguasai diri. "Kau… butler Her Majesty the Queen," kataku, dengan jantung berdegup keras seperti genderang perang kaum Viking.
"Ash Landers."
.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.
Sebastian Michaelis' POV
Claude membawaku ke sebuah tempat—yang herannya tak pernah kuketahui sampai saat ini. Kami terus berlari dengan sangat cepat, entah sampai berapa lama. Yang aku sadari adalah, kami baru tiba di tempat itu saat hari sudah petang. Sepertinya ini sudah mencapai daerah perkotaan, yang, jika ingatanku bisa diandalkan, merupakan kota London. Sudah sejauh itu kami berlari?
Tapi kami terus berlari ke pinggir kota London, di mana masih banyak hutan-hutan yang belum terjamah—paling tidak oleh manusia. Kami memasuki salah satu hutan, dan berhenti saat kami sampai di tepian sebuah danau.
Danau itu berkilau merah bagai cekungan berisi darah ditimpa sinar matahari terakhir. Tanpa persetujuan yang verbal, kami bersandar ke sebatang pohon, lalu menunggu dan mengamati saat sisa-sisa matahari terakhir menghilang di balik rerimbunan pepohonan dan seluruh tempat itu ditelan kegelapan.
Bulan naik perlahan saat aku menoleh dan memandang lurus-lurus ke arah Claude. Pandangannya tampak menerawang, menatap menembus bagian lain hutan itu. "Akankah kau menjelaskan padaku apa yang akan kau katakan, atau kita menunggu sampai kita membusuk di sini?" kataku dengan sarkasme yang kentara.
Saat Claude menengok ke arahku, kacamatanya merefleksikan cahaya bulan. Aku tak bisa melihat ekspresi apa yang tergambar di matanya. Saat ia bicara pun, nadanya terdengar sama sekali datar. Tapi aku masih bisa mendeteksi secuil nada yang terdengar suram dalam suaranya.
"Aku tahu siapa yang menculik majikanmu." Terus terang, aku agak kaget mendengar keterus terangannya. Setelah terdiam begitu lama sebelum berbicara, kukira ia akan menjelaskannya dengan berbelit-belit. Ternyata ia langsung mengungkapnya secara blak-blakan, langsung ke intinya.
"Organisasi itu menyebut diri mereka sendiri Black Survivors. Menurut legenda mereka, mereka telah berhasil bertahan dari serangan kaum kita. Para iblis." Ia melemparkan senyum sarkastis padaku sebelum melanjutkan. "Kurasa hal ini terasa sangat ironis. Sebenarnya, mereka dikendalikan oleh musuh-musuh bebuyutan kita—kaum malaikat. Alih-alih mengatakan yang sebenarnya, mereka memilih untuk melimpahkan kesalahan pada kita para iblis.
"Ternyata populasi malaikat di London ini cukup banyak, kau tahu. Yang tidak mengherankan mengingat bahwa populasi kaum kita sendiri sangat banyak di Inggris sini." Senyuman sarkastis Claude itu berubah menjadi seringaian. Aku meniru ekspresinya dengan seringai yang identik.
Claude lalu menjelaskan semuanya padaku. Tentang Black Survivors—yang kerap kali hanya disebut sebagai Survivors oleh Claude. Anggota mereka tersebar di seluruh Inggris, dan memiliki anggota yang sangat, sangat banyak.
Mereka memiliki banyak markas rahasia yang disembunyikan dengan sangat pintar oleh mereka, sehingga tak pernah ditemukan oleh para polisi kaum manusia. Bisa berupa rumah megah kaum bangsawan, gudang yang terlantar, bangunan yang telah hancur karena kebakaran, toko, kedai, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan semua itu terletak di tempat-tempat yang ramai. Memang, tempat persembunyian terbaik adalah di depan hidung semua orang.
Para malaikat benar-benar bekerja dengan sangat baik demi memperbudak makhluk-makhluk naïf itu, hm?
Pemimpin mortal mereka, yang mengejutkan, adalah pemimpin Inggris saat ini. Queen Victoria. Padahal selama ini kukira ia hanya dimanfaatkan oleh sesosok malaikat, bukan sekoloni. Sementara pemimpin immortal mereka, yang pasti salah satu malaikat, tidak diketahui sampai sekarang. Hanya segelintir orang di Survivors yang mengetahuinya, dan itupun hanya diberitahukan pada mereka apabila mereka bisa melewati serangkaian tes kejujuran dan kerahasiaan, yang bukan hanya menyiksa mental, tapi juga menyiksa mental.
"Aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Sekarang terserah padamu akan berbuat apa terhadap Survivors—atau pemimpinnya." Ia membetulkan letak kacamatanya sambil berbicara. Dan bahkan saat itu, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan.
"Kita menyelidiki para anggota Survivors terlebih dahulu, tentu saja." Aku menatap tajam ke arahnya. "Dan kau, harus ikut denganku. Mau tak mau."
To be continued…
.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.:+:.
Balasan untuk review~
Fell Inferios: Sama-sama. Ciel kasian? Yah. Kalau itu sih, di setiap cerita harus ada yang menderita =P *ngeles* Claude itu… Nanti aja, liat dia bakalan gimana. Kan ceritanya jalan terus. Sebastian itu kan butler, jadi harus tanggung jawab sama Master-nya dong =D
claraferllia: Iya hehe :D Thanks udah review lagi ya =]
Sora'Chii-Ciel'Funtom: Itu emang Milord kok. Orang barat kan suka bilang Milord juga alih-alih My Lord. Contohnya kayak My Lady jadi Milady =)) Eh, kurang panjang ya? =,= Kalau di chapter ini udah panjang belum? XDD
