Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto. High School DxD © Ichiei Ishibumi.
Genre(s): Adventure, fantasy, slight sci-fi.
Warning(s): Ooc, ar, au, typo, gaje, newbie, and many more.
Pair: Belum waktunya.
.
.
.
/
Pagi ini sungguh menyejukan. Embun yang masih menguar di atmosfer bumi; suara kicau burung-burung; dan cahaya mentari yang baru memulai tugasnya untuk menerangi semesta. Aktivitas orang-orang yang belum padat menjadi suatu pemandangan yang terbilang langka di zaman modern ini. Banyak yang memanfaatkan waktu singkat ini untuk dijadikan ajang mengolah raga, jalan-jalan santai, atau untuk sebagian orang hanya meringkuk di balik tebalnya selimut yang memang lebih memikat hati.
Seperti seorang pemuda bersurai merah yang satu ini. Tubuhnya terlentang di atas ranjang berukuran cukup besar itu, wajahnya menunjukan kedamaian yang sangat terjaga. Meskipun begitu, ternyata bila dilihat lebih jelas ada luka lebam di beberpaa bagian tubuhnya.
Tak lama kemudian, kedamaian itu akhirnya terusik tatkala sinar mentari menembus masuk kedalam ruangan itu melalui celah-celah jendela. Perlahan mata pemuda itu – Naruto, mulai terbuka, dengan bantuan tangannya Naruto bangkit, sedikit meringis saat merasakan lebam-lebam di tubuhnya masih terasa sakit. Ia kemudian beranjak dan berdiri didepan sebuah cermin.
"Akh, pukulan orang itu kuat juga rupanya, lihat, lebamnya masih terasa sampai sekarang," gumam Naruto entah pada dirinya sendiri sembari melihat pantulan dirinya, ia kembali meringis saat tangannya menyentuh lebam-lebam itu. Ia kembali mengingat peristiwa malam tadi, mulai dari lawan tandingnya yang ternyata cukup kuat –bahkan lebih kuat dari Maduke, dimana ia untuk pertama kalinya masuk mengikuti ajang tak jelas seperti itu.
"Yah, setidaknya luka-luka ini sebanding dengan imbalan dari tempat busuk itu." Naruto menyeringai lebar, sambil melihat sekeliling ruangan ini. Ya, sebuah apartemen, meskipun tidak mewah tapi ini sudah cukup. Lagipula, dirinya tidak biasa dengan sesuatu yang berkilauan.
"Sebaiknya aku mandi sekarang,"
.
.
.
Chapter 02: Kadet
.
/
Berjalan-jalan di siang hari adalah hal yang merepotkan, selain tentunya kepanasan, kau juga harus merelakan tubuhmu penuh dengan bau busuk menyengat. Hih, itu adalah salah satu yang Naruto benci di dunia ini.
Tapi, mau bagaimana lagi, ia harus melakukannya demi mendapatkan secuil modal untuk hidup dunia yang baginya baru ini. Ngomong-ngomong soal hidup, ia masih tak bisa menerimanya. Dari bagaimana ia 'mati' kemudian hidup lagi 1000 tahun kemudian, ia yang menetas dari sebuah patung batu. Itu semua adalah pengalaman yang tak terlupakan sekaligus menyakitkan, karena dalam keadaan 'mati' itu ia tidak melihat kakeknya, tidak dalam keadaan baik. Terakhir ia dan kakeknya sedang bertengkar akibat mengikuti tes terlarang itu, 'ah, sudahlah, toh, ini memang sudah menjadi resikonya.'
Naruto menggeleng pelan, mencoba menyingkirkan pemikiran itu sejenak. Ia kini fokus pada apa yang baru saja ia dapat dari hasil membaca. Iya, betul. Membaca. Seorang Uzumaki Naruto baru saja selesai membaca beberapa buku di perpustakaan desa Konoha tentang informasi di dunia modern ini. Kebanyakannya tentang sejarah dan….. ?
Sihir. Menjadi hal yang paling ia kagetkan. Pasalnya, dahulu di zaman Naruto, atau 1000 tahun lalu manusia belum, sekali lagi, belum bisa dan tidak bisa menggunakan sihir apapun. Sihir memang ada pada zamannya, tapi hanya bangsa lain selain Manusia yang bisa memakainya. Bila boleh jujur, sebenarnya percobaan yang Naruto lakukan tujuannya adalah agar Manusia juga bisa menggunakan sihir, dengan membuatnya sendiri, tidak dari lahir seperti yang bangsa lain punya. Untuk itulah Matrix di ciptakan.
Tapi, lihatlah sekarang? Menurut buku yang Naruto baca, sekelompok Manusia berhasil membuat langkah besar pada peradaban. Dalam waktu singkat, sihir telah menjadi hal yang lumrah untuk dilihat oleh manusia.
Sihir sudah seperti kebutuhan sehari-sehari.
"Apakah itu berarti, sebelum kakek meninggal, ia telah berhasil mewujudkan impiannya itu?" Naruto berucap pelan, kepalanya mendongak keatas memandangi langit biru yang dihiasi puncak-puncak gedung. '… Kalau itu benar, berarti kalian hebat,' lanjut Naruto dalam hatinya sambil tersenyum tipis.
Netranya kembali menatap kedepan, dalam sekejap bibir pemuda menyeingai tipis saat melihat sebuah bangunan megah, sangat megah berdiri dengan kokohnya.
"Jadi, apakah ini gedung Esper?" Tanya Naruto entah pada siapa, ia kembali berpikir mencoba mengingat-ngingat karakteristik sebuah gedung yang ditujunya.
"Yang kau pikirkan adalah benar, orang asing." Sebuah suara muncul dari belakang Naruto, otomatis ia membalikkan tubuhnya untuk melihat sang empu dari suara tadi.
Naruto menaikkan salah satu alisnya saat melihat seorang pemuda sepantaran dia dengan rambut putih, dan kulit bak porselen sedang tersenyum tipis kearahnya.
"Ah, maaf karena tiba-tiba begini. Perkenalkan, namaku Toneri." Pemuda putih itu yang ternyata bernama Toneri menjulurkan sebuah salaman hangat, Naruto yang memang bukan orang jahat membalas salaman tangan tadi dengan senang hati. "Naruto, namaku Naruto." Naruto juga tersenyum kecil saat mengucapkannya,
"Ehem…." Toneri berdehem cukup keras. "…. Biar kuulangi. Ini adalah gedung Esper. Gedung para kesatria pelindung desa berkumpul untuk mengabdi pada desa ini tentunya." Ternyata toneri mengulangi ucapannya yang pertama tadi, sekarang jadi lebih, err… formal?
Naruto hanya ber 'oh' ria saja menanggapi perkataan Toneri. Dalam hati, sebenarnya ia cukup lega karena ternyata orang ini bukanlah orang aneh.
Disisi Toneri sendiri, ia merasa senang karena tidak menerima penolakan. Di awal, ia melihat Naruto seperti orang yang kebingungan, oleh karena itu rasa peduli akan sesamanya muncul. Tanpa pikir panjang ia menghampiri Naruto, dan inilah yang terjadi.
"Jadi, apa Naruto-san juga ingin mendaftar sebagai esper?" Toneri bertanya pelan namun masih bisa didengar Naruto. Naruto menaikkan alisnya, merasa tertarik pada pertanyaan Toneri tadi.
"Hmm, sebenarnya aku hanya ingin melihat secara langsung apa benar manusia bisa menggunakan sihir, sih." Naruto menjawab jujur, ia juga tahu bahwa desa ini sedang mengadakan ujian penerimaan Shinobi dari sebuah pamphlet yang ia lihat di jalanan. "…. Dan kau tadi bilang 'juga'," lanjut pemuda itu.
Toneri sedikit membulatkan matanya, tapi tak lama ia kembali seperti semula. "Yah, aku memang akan mengkuti ujiannya. Kebetulan usiaku juga sudah cukup, jadi tak ada alasan bagiku untuk tidak mengikutinya."
Naruto mengangguk paham. Matanya sedikit melirik kedalam gedung tersebut. Toneri yang menyadari itu menepuk pundak Naruto. "Bagaimana kalau kita masuk dulu saja? Siapa tahu kau berubah pikiran," ujar Toneri sembari tersenyum. Naruto yang diperlakukan seperti itu sedikit kikuk, oh ayolah, mereka saat ini sedang di berada di jalanan umum.
Menarik napas sekejap lalu menghembuskannya kembali. "Baiklah, ayo." Ujar Naruto sambil tersenyum kecil. Yah, setidaknya mempunyai satu orang teman di dunia yang tak kau kenal bukan sebuah kejahatan.
…
Semilir angin berhembus dengan tenang, menerbangkan helai-helai rambut. Banyak orang yang berkumpul disini, di sebuah lapangan yang cukup luas. Kerumunan itu terlihat bising, baik itu mengobrol satu sama lain ataupun berbicara pada diri sendiri, entah apa yang dibicarakan bahkan sampai tidak menyadari kehadiran seseorang dihadapan mereka, padahal orang itu sudah berada di atas sebuah mimbar.
Orang itu –yang kelihatannya adalah seorang petugas– merasa dirinya diabaikan oleh orang-orang yang ia anggap cecunguk ini, tentu merasa sedikit kesal. Sudah beberapa kali ia berdehem namun itu tidak berhasil, menggeram dalam hati, mata orang itu terlihat memicing. Jangan salahkan dirinya untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
"KALIAN SEMUA DIAMM!"
Bak mendengar sebuah lesatan pesawat jet yang tepat berada diatas kepala. Kerumunan itu langsung terdiam, ditambah mereka kini memegangi telinga mereka masing-masing. Mereka tidak ada yang berani bicara atau menimpal atas teriakkan tadi.
Namun, ada satu orang yang mungkin nekat untuk meladeninya. "Siapa tadi yang berteriak, hah?" Pemuda itu –Naruto– merongrong cukup keras. Memandangi satu per satu orang-orang disana. Terlihat bulir-bulir keringat disertai bola mata yang membulat seolah menyiratkan sesuatu pada pemuda lintas generasi itu.
Dan setelahnya, teriakkan supersonic itu terdengar lagi.
.
.
oOo
"Ehem…. Baik kita mulai saja." Ujar sang pelaku teriakkan super tadi. "Namaku adalah Ibiki. Morino Ibiki. Pengawas dari ujian esper ini. Aku ucapkan selamat datang kepada kalian semua." Ibiki, namanya, kali ini bicara dengan normal kepada kerumunan, yang dimana adalah peserta ujian Esper tahun ini.
Bila dilihat lagi, peserta tahun ini meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Disisi Naruto yang telah mendapat bonus teriakkan tadi juga sedang memperhatikan sekitarnya, kali ini dengan serius.
"Disini, olehku, kalian akan diberi pengetahuan dasar tentang arts…" anak-anak terlihat menegang begitu mendengar kata itu, kecuali Naruto yang tidak mengerti sama sekali. "…. Jangan salah paham, aku hanya memberitahu kalian apa itu arts. Kalau ingin mendapatkan Arts sendiri, berusahalah!" lanjut Ibiki.
"Seperti yang kalian tahu, sekarang, kita para manusia telah berhasil mendapatkan kemampuan special untuk melindungi diri dari berbagai ancaman berbasis kemampuan supranatural. Itu semua adalah berkat usaha dari para nenek moyang kita. 1000 tahun lalu, sekelompok ilmuan dibantu rekan-rekannya berhasil mengubah nasib manusia yang selalu dibawah ras lain.
Berdasarkan konsep dari sihir milik ras lain, mereka menciptakan sendiri formula rahasia untuk mendapat kekuatan supranatural secara terus menerus, tidak sekali pakai dan bisa diwariskan melaui genetika. Jika mereka, makhluk supranatural menyebutnya sihir. Kita manusia menyebutnya chakra, jadi jangan sampai tertukar dalam menyebutnya. Chakra pada awal penciptaan adalah energi yang lahir dari titik terendah manusia, dengan kata lain, untuk bisa memunculkan chakra pada tubuh manusia maka kita harus bisa bertahan dari penderitaan yang menyakitkan.
Tapi, saat ini cara itu tidak lagi digunakan karena sangat membahayakan nyawa. Sekarang Chakra bisa muncul dengan proses alami melalui genetika atau keturunan. Cara penggunaan dari chakra sendiri bisa bermacam-macam tergantung dari masing-masing individu. Output inilah yang dinamai arts.
Tipe-tipe arts sendiri setidaknya yang kini diketahui ada 6 macam. Yakni, Healing Arts, Slayer Arts, Spatial Arts, Sealing Arts, Ancient Arts, dan Creation Arts. Masing-masing memiliki sub dan tingkatannya sendiri. Tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti akan lahir jenis arts yang baru. " Ibiki menarik nafas panjang begitu menyelesaikan penjelasan yang ia sangat tidak perlu, karena ia yakin pengetahuan dasar seperti tadi pasti sudah diketahui oleh mereka.
Ibiki kemudian memandangi bocah-bocah didepannya itu. Oh, Ibiki, andai kau tahu ada satu orang purba berada diantara bocah-bocah itu.
Seperti yang diduga, para bocah mendengarkan dengan asal-asalan, dan seperti yang diduga kembali hanya Naruto yang mendengarkan dengan serius. Netranya tak lepas dari mulut Ibiki. Toneri yang sedikit melirik kearahnya hanya melihat dalam diam.
"Kita langsung saja ke intinya. Seperti yang aku bilang tadi. Jika, kalian ingin mendapat Arts kalian sendiri, maka berusahalah! Dan sekaranglah saatnya untuk berusaha." Suara tegas Ibiki terdengar begitu jelas. Orang sangar itu merogoh sesuatu dari saku jubah hitamnya, terlihat satu set kartu remi dalam genggaman. Ia kemudian turun dari mimbar, lalu dengan santai Ibiki melempar dek kartu tersebut dan entah dengan cara apa satu per satu kartu itu malah terbang ke masing-masing peserta.
Naruto yang melihatnya jawdrop, ia tidak habis pikir bagaimana sebuah kartu bisa terbang apalagi dengan arah yang sudah ditentukan. Oh, hell, itu sudah layaknya seekor burung yang memiliki kesadaran.
"Kartu itu bisa terbang karena sudah disentuh oleh chakra, dia menggunakan angin." Toneri tiba-tiba berbisik kearah pemuda berambut tomat itu, ia dengan santai menjelaskan apa yang ia tahu seolah tidak terganggu oleh ketidaktahuan Naruto yang sangat over. Pun dengan respon Naruto, mulutnya membentuk huruf 'o' sempurna, dalam hati ia merasakan suatu pengalaman hebat yang pernah ia lihat.
Naruto menatap kartu remi di telapak tangannya, sekejap kemudian ia tersenyum kecil saat mengetahui impian kakeknya sudah terwujud, dengan baik.
"Baiklah, para kadet, sekarang kalian telah mendapat masing-masing satu kartu. Aku akan memberikan petunjuk menggunakannya. Kalian cukup lakukan apa yang aku katakan! Aku hanya akan mengatakannya satu kali!" Mendadak gestur tubuh bocah-bocah itu menegang, mereka dalam posisi 'siap-gerak' seolah sedang dalam pelatihan wajib militer.
"Pertama. Taruh kartu itu ditelapak tangan kalian, lalu tutup oleh tangan yang satunya. Kedua, pejamkan mata kalian, kalian harus membuat diri kalian sendiri berada dalam tingkat kefokusan tertinggi. Ketiga, salurkanlah chakra yang kalian miliki ketelapak tangan, alirkan dengan tenang tanpa mengganggu sirkulasinya. Terakhir…." Ibiki menjeda penjelasannya, sedikit menarik nafas.
"…Lakukan yang terbaik."
…
.
oOo
.
Langit cerah terlihat masih mengawasi, teriknya pun kian membakar seperti api. Desa Konoha –yang lebih pantas disebut kota –yang termasuk kedalam salah satu wilayah kerajaan Api ini merupakan desa yang bisa dibilang high class. Mulai dari perekonomian, pariwisata, teknologi, hingga militernya tak kalah dari Ibukota. Selain itu, desa yang termasuk kedalam desa superior ini memiliki banyak sekali kandidat-kandidat berpotensi tinggi menjadi orang hebat.
Disini merupakan salah satu tempat melatih kadet-kadet payah agar bisa menjadi esper-esper yang menakjubkan. Esper yang terkuat dan menjadi pemimpin desa –Hokage– ini sendiri memiliki tingkatan yang jauh dari kata biasa seorang pemimpin, terutama sifatnya.
Seperti yang saat ini sedang berlangsung. Kadet-kadet calon esper ini kini tengah melihat pemandangan yang jarang sekali mereka lihat setiap hari. Ekspresi terkagum-kagum hingga biasa saja terpancar dari wajah mereka. Penyebabnya adalah mereka kedatangan seseorang yang berpengaruh besar bagi desa. Ya, dia adalah Hokage-nya Konoha. Tak lupa, para instruktur ikut menyaksikan moment ini.
"Yo, Kalian pasti sudah tahu siapa aku. Tapi, karena tuntutan pekerjaan, akan aku lakukan. Namaku Kakashi, Hatake Kakashi. Aku adalah Hokage dari Desa Konoha….." Sapaan hangat terlontar dari pria yang memakai jubah itu, kita tidak bisa melihat seluruh wajahnya, itu karena dia memakai masker. Tapi, yang pasti dia kini sedang tersnyum, itu terlihat dari matanya yang nampak melengkung keatas.
"…."
"…"
"Err. …. Apa kedatanganku kemari tidak diingkan, ya?" Kakashi berbisik kepada salah satu instrukur. "Mungkin,…" Instruktur berambut seperti buah nanas itu terlihat bosan, dia menjawab seperti orang payah. Dan Kakashi hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan anak buahnya. Oh, Kakashi andai kau tahu. Bagaimana perasaan para peserta saat ini. Ini seperti kalian sedang berada ditengah-tengah ujian nasional, lalu dengan santainya Presiden negara kalian datang secara mendadak.
"Ehem, … Ah, ok. Sebelum masuk kebagian akhir. Aku ingin tahu bagaimana hasil dari yang sebelumnya." Kakashi bangkit keterpurukannya dan bersikap seperti biasa kembali. "Ah, iya juga, mungkin kalian kaget karena kedatanganku ini, tapi anggap saja aku ini adalah burung hantu yang sedang bertamasya, oke?" Para peserta terlihat mengangguk kecil, tapi mata mereka tidak lepas dari tubuh Kakashi.
'Aigoo, ada apa dengan anak-anak ini, aku merasa seperti sedang ditelanjangi' pikir Kakashi sambil merinding disko. Kakashi kemudian menatap Ibiki, matanya sedikit menyipit, seolah mengisyaratkan sesuatu.
Brak~
Suara hentakan kaki pada mimbar –tempat tes yang tadi– terdengar begitu keras dan nyaring, hal itu membuat seluruh orang yang berada disana untuk sepersekian detik tubuhnya terangkat keatas, menghancurkan lamunan, khayalan, harapan yang sudah terbayangkan, yah, kecuali si pelaku tentunya. Seketika tatapan orang terarah kepada Ibiki. "Ehem, Aku akan memberitahu hasil tes tadi." Dengan santainya si pelaku penggebrak meja melenggang ke samping Kakashi.
"Terima kasih, Ibiki" Kakashi berbisik, dan ibiki hanya memasang ekspresi kalem kepada 'boss'-nya itu, sedetik kemudian ia menatap para kadet kesayangannya yang langsung sigap dan diam dengan mata terbuka lebar. "Tunjukan kartu remi yang tadi kalian pakai!"
Set~
Seperti melihat lomba baris-berbaris semua peserta dengan cepat menunjukan kartunya masing-masing, yang memang sudah ada ditangan sejak tadi. 'Sebenarnya kita ini mau diapakan?' pikir salah satu peserta yang berambut merah. Naruto sedari tadi tidak mengerti alur pembicaraan yang terjadi, dia hanya mengikuti arus.
Ibiki menarik nafas panjang nan dalam. Sepertinya penjelasan panjang akan keluar sebentar lagi. "Kalian lihat kartu kalian masing-masing, kartu itu adalah salah satu dari sekian media yang berfungsi sebagai penentu jenis arts seseorang. Jika kartu kalian berubah bentuk, itu artinya kalian memiliki afinitas Creation Arts. Jika terbelah artinya kalian punya Slayer Arts. Bila angka atau simbol pada kartu berubah misal dari simbol hati ke simbol keriting berarti kalian punya Spatial Arts. Kemudian, bila kartu terlipat itu artinya Sealing Arts. Jika kartu kalian basah berarti kalian mendapatkan Healing Arts. Terakhir, jika kartu kalian menghitam dibeberapa bagian itu artinya Ancient Arts, paham?"
Semua calon esper itu mengangguk mantap, melihat dengan lekat kartu milik masing-masing; tersenyum riang; kemudian bersorak-sorai dalam hati karena telah mengetahui apa yang mereka dapatkan. Termasuk Naruto, ia memandangi kartu ditelapak tangannya dengan ekspresi sukar dibaca, setelah itu dengan cepat ia meremasnya dan tersenyum kecil –lebih mirip seringaian. Toneri yang sedari tadi berdiri disamping pemuda itu terus menatap dengan pandangan aneh tanpa berkedip.
"Yayyy, aku mendapat Slayer Arts,"
"Heh, itu biasa. Lihatlah aku, aku mendapat Creation Arts,"
"Healing Arts? Yah, sepertinya memang cocok denganku."
Berbagai ungkapan kebahagian terlontar dari mulut-mulut itu, dan juga wajah berseri-seri seolah menjadi elemen penanda kebahagiaan mereka. Mereka sangat terharu, semua yang ada disana berhasil, bahkan sampai ada yang menangis. Hey, memangnya kenapa, sih? sampai menangis segala?
Pasalnya, tidak semua orang bisa melakukan dan sukses dengan apa yang mereka tadi lakukan. Itu karena, dibutuhkan energi, pengorbanan waktu dan latihan yang cukup agar bisa mengontol chakra dengan baik untuk kemudian dirubah kedalam perubahaan jenis chakra. Analoginya sederhana, kita anggap beras adalah chakra dan nasi adalah perubahaan jenis chakra. Kalian pasti saat ingin memasak beras menjadi nasi memerlukan alat dan waktu –entah sebarapa cepat itu, dan yang pasti cara menggunakannya. Nah, tapi, jika kalian tidak bisa memanfaatkan komposisi tersebut. Maka beras pun tidak akan bisa menjadi nasi. Kalau hanya salah satunya? Bisa, tapi nasi-nya akan terlalu lembek atau mungkin gigih?
Kalian mungkin bisa menggunakan chakra yang memang manusia zaman sekarang semua memilikinya, tapi itu hanya untuk hal-hal kecil saja. Yah, kembali lagi, seperti beras, berharga tapi tidak bisa digunakan dengan maksimal.
Para instruktur dan Kakashi yang melihat semua itu tersenyum dalam hati, mereka turut senang saat semua kontestan berhasil, mereka juga senang karena tahun ini banyak kadet-kadet yang terlihat menjanjikan. Namun, ini semua belumlah berakhir, malah mungkin tes yang seseungguhnya baru akan dimulai. Ekspresi suka cita telah berganti kembali, menjadi kaku dan serius.
Clap~
Kakashi menepuk kedua tangannya keras, dalam sekali ayunan. Hal itu pun disadari oleh semua kontestan. Kakashi seolah memberi kode bahwa terlalu dini merayakan keberhasilan.
Seluruh peserta akhirnya kembali seperti semula. Berbaris dengan rapih dan siap mendengar instruksi selanjutnya. Ibiki, sebagai penanggung jawab, kembali mengambil alih.
Disisi Naruto, ia masih senang sekaligus terkejut dengan apa yang ia dapatkan. Terkejut karena ia memang telah berubah, dari manusia biasa menjadi seorang pengguna chakra. Moment terakhir yang ia alami sebelum tertidur panjang teringat kembali. Orang-orang terdekatnya, pamannya, kakeknya, dan percobaan berbahaya itu tak ketinggalan menjadi pelengkap dalam suasana ini.
Ia kemudian memegang dadanya yang tertanam semacam piringan hitam kecil, benda itu sekarang menjadi benda berharganya karena merupakan satu-satunya pengingat kepada kehidupan yang ia miliki dulu, benda itu bernama matrix. Beberapa saat kemudian, ia merasa sedang diawasi. Entah kenapa ia merasa seperti itu. Spontan, orang purba itu pun menengok ke samping, dan benar saja. Toneri sedang memandangi dirinya, lagi.
"Ada apa?" tanya Naruto. Toneri pun sadar bahwa ia sudah dipergokki, sebagai balasan ia hanya tersenyum kecil, "Ah, tidak, aku hanya berpikir bahwa kau itu sangat emosional. Dari tadi kau seperti sedang menerawang."
Dalam hati ia –Narut, berpikir bahwa pria disampingnya ini sedikit misterius, ia memang tidak terlihat mencolok namun justru karena itulah dia sedikit aneh, hanya diam, dan berbicara seperlunya saja, seolah sedang mengawasi. Tapi, Naruto tidak ambil pusing, ia lalu kembali memperhatikan orang sangar yang sedang menjelaskan sesuatu.
"Kita telah sampai dipuncak kegiatan ini, kalian hanya perlu satu langkah lagi untuk menyelesaikan rangkaian tes yang kami berikan. Setelah itu, hasilnya biar kami yang menetukan." Ibiki berjalan turun kebawah mimbar, perlahan-lahan mengitari seluruh peserta sambil terus berbicara.
"Di bagian akhir ini, bagian yang sesungguhnya, kalian akan diberikan tes apakah kalian layak jadi esper atau tidak, tes ini akan menggunakan sistem kerjasama artinya kalian akan bergerak dalam sebuah tim…." Instruktur itu menjeda penjelasannya sambil melihat-lihat respon peserta.
Sesuai dugaan, para peserta seketika berbisik-bisik mencari kawan. "….. Untuk sekarang, kalian buatlah tim terlebih dahulu, maksimal harus 10 tim dengan anggota tidak lebih dari 3. Aku beri waktu kalian 10 menit. Cepat!" Dan kata itu pun menjadi tanda bagi peserta untuk mencari kawan, ada yang lancar ada yang tidak. Bagi yang sudah saling mengenal mungkin akan mudah, tapi untuk seseorang yang baru? Keberaniannya dalam bersosialisasi akan diuji. Oleh karena itu, ada beberapa anak yang terlihat panik.
Seperti bocah purba satu ini.
'Arghh, apa yang harus kulakukan? Dengan siapa aku harus membuat team?' pikiran bocah rambut merah itu sangat kalut, tidak tenang. Matanya bergulir dengan cepat mengikuti pergerakan manusia yang lain. Ini memang bukan pertama kalinya ia harus bekerja dalam tim, tapi itu dulu, sekarang? Dia tidak tahu apa-apa tentang zaman ini. 'Argh, tidak seharusnya aku mendaftar hari ini. Sialan!' Naruto berpikir dengan keras –padahal akan sangat mudah jika dia menggunakan metode sok kenal sok dekat.
Tiba-tiba, matanya membulat seperti menyadari sesuatu, dengan cepat ia menengok kesamping, mencari seseorang yang saat ini paling ia kenal. 'dimana Toneri?' Rupanya ia mencari Toneri, namun alih-alih menemukan seseorang, dia hanya melihat tempat kosong. Berjalan-jalan kecil untuk menemukan si target, tapi, saat batang hidungnya sudah terlihat, ternyata Toneri sudah terlebih dahulu membuat tim dengan orang lain.
"Ah, sialan, dia yang mengajakku, dia juga yang meninggalkanku," Naruto terus menggerutu tidak jelas, hingga tidak menydari bahwa waktu semakin menipis.
"1 menit lagi!"
Adrenaline-nya meningkat, mendengar hal itu, dia merasa seperti sedang naik wahana yang membahayakan. Dalam hati, ia juga ikut menghitung mundur, 'Ayolah, apakah tidak ada yang masih sendiri?' Mau tidak mau ia pun memberanikan diri untuk mencari kawan, namun, apa daya dengan waktu yang sangat tipis, akan sangat sulit sepertinya.
Seperti sedang terkena sial, saat sedang melihat-lihat. Naruto harus bertabrakan dengan seseorang. Tubuh keduanya pun terjatuh ke tanah.
Duggg~
.
.
"Waktu habis!"
.
.
Ditempat lain, ada sekelompok orang sedang berjalan di kegelapan lorong, mereka hanya menggunakan sebuah bola cahaya sebagai penerang. Orang-orang itu terlihat menggunakan jubah bertudung dan berjalan beriringan, totalnya ada 3 orang.
Tiba-tiba mereka berhenti disebuah pintu. Salah satu dari mereka kemudian menempelkan jarinya ke alat pendekteksi sidik jari. Kemudian, pintu tersebut dengan otomatis bergeser. Orang yang paling depan –yang memegang bola cahaya– mengangkat salah satu tangannya, memberi kode supaya menunggu, kemudian dia masuk kedalam sedangkan dua orang lagi menunggu di luar.
Didalam sana, orang yang masuk tadi, melepaskan tudung yang menutupi kepalanya. Terlihat orang itu memiliki surai bewarna silver. Orang itu berjalan perlahan kearah sebuah kasur yang terlihat bersih, diatas kasur tersebut ada sebuah buku yang dalam posisi terbuka.
Menyeringai lebar, orang berambut silver tadi menyentuh telinganya dan berbicara sesuatu sambil pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh dua orang lainnya.
"Dia sudah kesini,"
.
.
.
Matrix: The Sins
.
.
.
Kembali ke tempat ujian esper. Saat ini telah terbentuk beberapa tim untuk menjalankan ujian terakhir menjadi seorang esper. Saat ini, mereka kembali sedang mendengarkan penjelasan dari Ibiki. Oh, tunggu, bagaimana dengan Naruto?
Alangkah beruntungnya, orang yang Naruto tabrak ternyata, juga belum memiliki tim. Tanpa mempertimbangkan apapun, mereka berdua sepakat untuk bersatu, dikarenakan adanya kesamaan nasib, dan orang itu bernama…..
"Sasuke, boleh kupanggil seperti itu?"
"Hn,"
"Ah, 'hn' itu artinya iya atau tidak?"
"Terserah." Pemuda bernama Sasuke itu menjawab dengan semaunya saja, entah disengaja atau memang sudah seperti itu tabiatnya. Naruto ingin sekali menjewer telinga anak muda ini. Perkataannya sangat-sangat ambigu. Menggantung. Naruto sepertinya tahu kenapa dia sampai belum memiliki tim di detik-detik terakhir tadi.
Naruto kemudian mengalihkan atensinya pada Ibiki, daripada berbicara dengan makhluk disampingnya itu. "Dengan adanya tim yang sudah kalian bentuk, otomatis kalian harus saling bekerjasama, bila gagal satu maka seluruh anggota tim akan gagal. Cara kerja tes ini adalah, kalian harus bertanding dengan salah satu dari 10 instruktur didepan kalian, penentuannya lawannya akan dikocok."
Semua kontestan tentu sangat terkejut mendengarnya. Mereka tidak habis pikir apa yang para petugas pikirkan. Mencoba mempertandingkan pemula dengan professional? Sungguh sangat gila.
"Tapi, ibiki-sensei. Instruktur yang ada cuman ada 9, itu sudah termasuk dengan anda. Jadi, 1 lagi kemana?" Tiba-tiba ada seorang pemuda bertanya demikian kepada Ibiki, pemuda bertubuh tambun itu menyadari saat ada kejanggalan yang terjadi.
Ibiki yang mendegar pertanyaan yang menurutnya sangat merugikan terhadap seseorang memandang tajam si pelaku. "Apa kau tidak bisa melihat? Memangnya kau angggap apa seorang Hokage? Dia juga termasuk kedalam instruktur disini, bodoh,"
Semua kontestan kembali terkejut saat mengetahui bahwa Hokage sendiri yang akan menjadi lawan tanding, sungguh sangat tidak beruntung tim yang mendapat bagian dengannya. Sedangkan dengan Kakashi sendiri, dia hanya memasang wajah sweatdrop saat melihat reaksi dari kadet-kadet dihadapannya.
"Oke, langsung saja kita mulai."
.
.
/
Langit terlihat mulai berawan; panas terik matahari mulai turun, namun itu semua masih terlihat sangat indah bila dilatari dengan pegunungan dibawahnya. Bila dilihat dari atas, di sekitar desa Konoha ada beberapa buah panel surya berukuran besar, mungkin satunya seukuran sebuah rumah.
Sepertinya, panel surya menjadi alat untuk mengumpulkan tenaga listrik berbasis sinar matahari, itu mungkin disebabkan karena tidak adanya lahan yang memungkinkan dibuat danau buatan, lagipula danau buatan sudah banyak ditinggalkan karena sering terjadi insiden-insiden yang merugikan.
Tidak jauh dari lokasi itu, disebuah lapangan berumput terlihat 3 orang yang sedang berdiri, 2 orang di samping yang kiri dan 1 orang di samping kanan. Semuanya terlihat sangat serius, terik matahari mereka abaikan, tujuan mereka satu. Fokus untuk merobohkan lawan didepannya.
"Hei, kalian sangat lama, apa aku yang harus menyerang?" Ralat sepertinya hanya satu pihak yang menganggap ini pertarungan hidup mati.
"…."
"..."
"Hahh,… tugas kalian mudah. Kalian hanya perlu membuat tubuhku roboh dan menyentuh tanah dalam waktu 15 menit. Jika kalian berdua bekerja dengan baik aku akan meluluskan kalian, tapi, jika salah satu buruk maka dua-duanya yang tidak lulus." Oh, rupanya ini adalah bagian terkahir dari ujian esper, dan ternyata tim yang berada disini adalah Naruto dan Sasuke.
"Kau sudah mengerti?" Sasuke berujar kepada Naruto sambil memegang sebilang pedang yang tersemat dipinggang; Sasuke terlihat sangat percaya diri dengan kemampuannya. Begitupun dengan bocah purba, wajahnya tidak menunjukan keraguan sedikitpun. Jika dilihat, sepertinya kedua orang itu telah melakukan diskusi tentang apa yang harus mereka lakukan.
"Tentu saja, Uchiha," Keduanya terlihat yakin, meskipun baru bertemu dan baru berdiskusi bersama, chemistry diantara mereka sepertinya mudah terjalin. Yah, bagaimanapun, mereka ternyata mendapat bagian bertanding melawan Hokage, pastinya akan sangat sulit dan beresiko serta memaksa mereka untuk mengerahkan seluruh kemampuan.
"Hey, aku mulai ya, " Kakashi menekkan jam tangan yang ada ditangannya, dengan sekejap keluar sebuah kelereng. Kelereng tersebut berubah menjadi sebuah drone kecil lalu terbang rendah diatas mereka. Oh, zaman ini sungguh sangat berbeda.
Teng~
Drone itu mengeluarkan suara. Suara yang menjadi pertandingan dimulai. Naruto dan Sasuke pun melaju kearah Kakashi. Mereka melakukan gerakan zig-zag.
Namun, Kakashi tidak bereaksi apa-apa, kuda-kuda atau apapun tidak ada yang bergerak. Dia diam ditempat.
Sasuke mempercepat lajunya, serangan pertama pun Sasuke lancarkan. Tendangan, pukulan, sapuan dia kerahkan semua yang ia punya. Namun itu belumlah cukup untuk membuat seorang Hokage yang hanya menggunakan satu tangan dan sesekali menghindar. Berkat insting dan pengalamannya, Kakashi bisa menebak arah serangan yang datang, meskipun itu dari arah belakang.
Wushh~
Sebuah tendangan atas berhasil Kakashi hindari, pelakunya adalah Naruto yang datang dari arah berbeda dengan Sasuke. Ketiganya pun terlibat pertarungan taijutsu. Dari penilaian Kakashi sejauh ini, Naruto dan Sasuke bekerjasama cukup baik. Sirkulasi dan kekuatan serangan terjaga dengan baik, dan menurut Kakashi Naruto memiliki keahlian lebih dalam.
Merasa tidak akan ada habisnya, Kakashi akhirnya melancarkan serangan balasan saat ada celah yang terlihat. Dia dengan cepat memberikan sapuan bawah dengan kakinya, sehingga membuat tubuh Naruto dan Sasuke roboh. Moment sebelum tubuh mereka menyentuh tanah, Kakashi memberikan pukulan beruntun kepada mereka berdua.
Brak~
Tubuh kedua pemuda itu meluncur dan menabrak pohon dibelakang dengan cukup keras. Mereka berdua terlihat sedikit meringis memegangi bagian yang sakit.
"Kuh, seperti yang diharapkan dari seorang pemimpin desa. Dia lawan yang tangguh." Naruto berujar sambil mencoba berdiri kembali, diikuti oleh Sasuke. "Naruto, kita mulai." Sasuke berujar demikian seolah yang tadi hanyalah main-main belaka. Kali ini, yang maju hanyalah Naruto dan Sasuke mengawasi dari belakang.
Kakashi yang melihatnya hanya mengangkat alis. 'apa yang tadi hanya untuk menganalisa kemampuanku?'
"Bersiaplah, Pak, kali ini aku akan serius!" tukas Naruto sembari memasang kuda-kuda. Jarak diantara mereka tidak terlalu jauh. Sasuke berdiri tepat dibelakangnya.
"Hey, jangan lupa, ini adalah kerjasama tim. Jangan main sendiri-sendiri." Naruto tersenyum kecil mendengar Kakashi berkata seperti itu. "Tentu saja, kami tak lupa itu."
Usai berkata demikian, dengan segenap tenaga Naruto melompat kedepan, tepat kearah Kakashi. 'Menghantar tubuh seperti itu kearah musuh? Apa yang sebenarnya dia lakukan'
"Re: Taekwondo: Gaksu."
Dalam posisi melayang diudara dan kaki yang menggantung, Naruto menggunakan lutut kanannya untuk melancarkan serangan dengan cara menekuk lutut kedepan secara cepat dan tiba-tiba. Beruntung untuk Kakashi, karena berkat refleksnya dia berhasil menahan serangan itu dengan tangannya. Untuk sesaat dia terkejut melihat gerakan seperti itu. Ini pengalaman pertamanya.
"Re: Taekwondo: Dureumchigi."
Wushh~
Serangan Naruto hanya mengenai angin, ternyata Kakashi sudah terlebih dahulu menundukan sedikit tubuhnya kebawah. Serangan tadi sebenarnya adalah serangan lanjutan, setelah menggunakan lutut yang ditekuk, Naruto dengan cepat mengganti kendali ke kaki yang satunya lagi, untuk menyerang bagian yang terbuka karena tangan si target masih diposisi sebelumnya.
Kakashi harus kembali kaget, dia benar-benar baru pertama kali melihat rangakaian serangan seperti itu. Sekejap kemudian dia merasakan sesuatu dibawahnya sedang bergerak.
Brakkk~
Sebuah pukulan cepat nan keras tiba-tiba keluar dari dalam tanah, mengarah ke rahang Kakashi. Ternyata itu adalah Sasuke, yang diam-diam merencanakannya, atau mungkin memang sudah diatur sedemikian rupa.
Takkk~
Akan tetapi, meskipun sedang dalam keadaan seperti itu, Kakashi masih bisa saja mengakalinya, dia dengan cerdik menggunakan kakinya sebagai samsak tinju Sasuke, yang otomatis membuat membuat tubuhnya terdorong ke udara dan mendarat dengan mulus beberapa meter dibelakang.
Dua orang pemuda yang melihatnya hanya bisa mendecih karena serangan kejutan mereka telah berhasil dipatahkan. "Sial, tidak kusangka dia bisa lolos dengan cara seperti itu." Naruto menganggap lawannya ini sungguh sangat hebat. Kakashi baru melawan mereka dengan kekuatan fisik dan itu pun belum semuanya, apalagi jika ditambah dengan chakra? Pasti akan sangat melelahkan.
"Tenang, aku juga belum menggunakan chakra yang kumiliki, hasilnya pasti akan sedikit berbeda saat menggunakannya," imbuh Sasuke sambil melirik kearah Naruto. "Yang lebih penting. Apa kau benar-benar tidak bisa menggunkannya?" lanjutnya.
Naruto yang ditanyai begitu rupanya menjadi sedikit kikuk, sambil menggaruk kepalanya dia menjawab. "Ahha, aku benar-benar tidak bisa. Aku tidak pernah dan belum pernah berlatih menggunakan chakra."
"Tapi, kenapa kau berhasil dalam tes perubahan jenis chakra tadi? Untuk bisa melaluinya kau pasti harus berlatih meksipun hanya sekali." Timbal Sasuke sambil memicingkan matanya. Dia sedikit tidak terpacaya dengan apa yang Naruto katakan.
"Ya, aku juga tidak tahu itu, aku hanya mengikuti instruksi dari ibiki-sensei. Mungkin itu karena… aku hebat?" Keringat sedikit bercucuran dari wajah Naruto saat mengucapkan kata yang terkahir tadi. Sasuke tidak membalasnya, dia hanya kembali memandang kedepan dimana Kakashi berada. '…satu lagi yang membuatku heran adalah gerakkan taijutsunya sungguh aneh dan baru pertama kali kulihat. Tuan Hokage pun sepertinya berpikiran sama dilihat dari reaksinya tadi.'
"Hei, jangan berdebat ditengah pertarungan. Kalian membuang-buang waktu. Aku anggap itu adalah nilai minus!" dari seberang Kakashi sedikit berteriak untuk menarik dua orang pemuda itu kedunia nyata.
"Sebaiknya kita fokus saja dulu sekarang. Lakukan sesuai rencana. Waktu kita sudah menipis." Sasuke berkata sambil melihat kearah drone yang melayang, setelah itu dia mencabut pedang dari sarung dipinggangnya dan langsung bersiap.
"Yosshh, Oke! Ayo,"
Mengambil ancang-ancang, Sasuke melempar pedangnya lurus kedepan, lajunya sangat cepat bahkan sampai menimbulkan percikan listrik. Tapi, tentu Kakashi dengan mudah dapat menangkisnya. Pedang itu pun tertancap disembarang arah.
Namun, bukannya kesal, dia malah tersenyum kecil, sangat kecil hingga tidak ada yang menyadarinya. Dua orang pemuda itu kembali menerjang kearah Kakashi, dengan semangat yang memuncak.
"Ligthning Slayer: Lightning Wave."
Dumb~
Sebuah gelombang kejut bermuatan petir keluar dari telapak tangan pemuda berambut emo yaitu Sasuke. Sebuah serangan jarak menengah dikeluarkan. Kakashi merespon dengan mengangkat alisnya, dia berpikir akhrinya mereka menggunakan kekuatan mereka juga.
"Lightning Slayer: Lightning Punishment."
Ctarr~
Dalam sekejap gelombang petir miliki sasuke pecah begitu saja, seperti menghantam sesuatu begitu Kakashi menyatukan dua tangannya. Namun, bukannya Sasuke yang terkejut, malah Kakashi yang harus segera bersiap. Rupanya, gelombang petir tadi dijadikan sebagai kendaraan atau tameng oleh Naruto untuk mendekati Kakashi secara diam-daim dan memberikan serangan mendadak.
Tapi, sepertinya Kakashi sudah memprediksi hal ini. Ia dengan sigap menangkis seluruh gerakan Naruto, sambil sesekali memberikan serangan balasan, adu taijusu pun kembali terjadi.
Duagg~
Naruto terbang, terlempar cukup keras karena serangan balasan Kakashi. Tapi, seakan tidak mau memberi Hokage itu istirahat, kali ini giliran Sasuke. Ia datang dengan pedang kebanggaannya yang sudah ditangan kembali. Kemampuan kenjutsunya diatas-rata, itu terlihat dari gerakannya yang fleksibel dan cepat dalam setiap serangan yang ia lancarkan. Tapi, kembali, hal itu belumlah bisa melumpuhkan sang Hokage dari Konoha.
Duakkk~
Tubuh Sasuke pun terlempar dan mendarat didekat Naruto.
"Aku cukup terkesan dengan kerjasama kalian, serangan cepat dan serangan kejutan, ditambah kalian sangat menghemat energi kalian. Yah, itu memang penting, tapi, yang kalian hadapi adalah Hokage, meskipun ini cuman tes, kalian janganlah berpikir ini akan mudah, bertarunglah secara all-out!" Kakashi menaikkan oktaf bicaranya, kelakuan dua kadet didepannya sedikit membuatnya jengkel, yah meskkipun dia juga sendiri tidak akan bertarung secara penuh, tapi apakah dua orang itu cukup percaya dengan hanya bertarung secara fisik.
Naruto dan Sasuke yang mendengar hal itu sedikit tersenyum. Tiba-tiba Sasuke memasukkan pedangnya kedalam sarung dan memasang posisi seperti seorang Samurai. "Kami tidak pernah pernah menganggap ini akan mudah, justru kami menganggapnya sangat serius. Karena itulah, kami membuat rencana." Naruto pun ikut memasang kuda-kudanya, kali berbeda dari yang biasa.
"Kami membutuhkan sedikit waktu agar diriku bisa menggunakan ini,…" Perkataan Sasuke terpotong saat dirinya menarik nafas panjang. "Terimalah, Lightning Slayer: Detonate."
Syutt`
Bzzztt~
Tiba-tiba tubuh Kakashi bergetar hebat seperti orang kerasukan sesaat setelah Sasuke menyabetkan pedangnya kedepan yang mana hanya menebas udara, tapi, bagaiman bisa? Jarak mereka berdua terlalu untuk dijangkau oleh pedang. Untuk beberapa saat tubuh Kakashi seperti tersengat oleh listrik bertekanan tinggi.
"Jangan-jangan teknik ini ….." ucap Kakashi saat getaran tubuhnya mulai berkurang, dan alangkah hebatnya, dia masihlah dalam posisi berdiri. Meskipun sudah sedikit goyah.
"Yah, ini adalah teknik terkuatku untuk sekarang. Detonate, sebuah teknik yang bisa meledakkan petir ataupun listrik yang berada dalam tubuh atau benda asalkan memiliki tekanan yang cukup dan berada dalam jangkauanku. " jelas Sasuke pada Kakashi, yang sebenarnya kaget begitu melihat Kakashi masih berdiri setelah menerima teknik tadi.
"Tapi, bagaimana …."
"Apa kau ingat saat aku melempar pedangku tadi? Sebenarnya aku sudah memasukan sedikit listrik kedalamnya dan saat kau menangkisnya dengan besi yang ada di sarung tanganmu, listirk masuk kedalam tubuhmu itu, dari situ aku sudah yakin bisa berhasil di tes ini, kemudian karena tekanannya kurang, aku sedikit demi sedikit dan terus menerus memasukkan listirk kedalam tubuhmu lewat adu fisik tadi dengan cara yang sama."
Kakashi tersenyum dibalik maskernya, ia terkekeh, dalam hati kagum pada kecerdikkan kadet satu didepannya ini. Tidak salah, darah Uchiha yang memang terkenal jenius mengalir didalamnya.
"Sebenarnya saat melihat teknik itu, aku sungguh berpikir bahwa itu sangat hebat, tapi karena kau masih berdiri maka lebih baik aku selesaikan dulu apa yang harus kulakukan." Bocah purba angkat bicara, merasa bahwa ini belum dan memang harus diselesaikan, ia berinisiatif untuk menyelesaikannya.
Buaghhhh~
Dugg~
Tubuh Kakashi secara mengejutkan terhempas dengan cepat dan berakhir dengan menabrak pohon akibat menerima sebuah pukulan penghabisan yang dilakukan oleh Naruto.
Tapi, yang terjadi selanjutnya sangat mengejutkan,….
Pofft~
.
/
.
Pada sebuah batu besar, duduk tiga orang laki-laki saling menghadap satu sama lain. Sebuah ekspresi jengkel keluar dari pemuda berambut merah itu, tapi ia mencoba menahannya agar tidak terlalu kentara.
"Apa semuanya hanya mengirimkan tiruan, Hokage-sama?" Sasuke bertanya dengan sebisa mengkin untuk sopan pada orang dewasa didepannya ini. Naruto mengangguk setuju dengan pertanyaan itu.
"Ahha, mungkin kau bisa bilang begitu. Tapi, tidak ada yang mewajibkannya, kok. Aku hanya iseng saja saat mengatakannya." Kakashi membalas dengan cukup malu, dia sebenarnya hanya ingin meringankan tugas guru-guru itu.
'Meskipun itu iseng, tapi tetap karena yang mengakatannya adalah Hokage, jadi mereka tidak kuasa menolak.' Naruto dalam hati berkata demikian karena mendengar alasan dari Kakashi.
"Baiklah, jadi, bagaimana dengan hasilnya?" tanya pemuda berambut emo itu karena ingin mendengar hasil yang sudah dinanti-nanti, diikuti oleh anggukan kepala dari bocah purba.
Tiba-tiba gestur Kakashi berubah, dia sekarang seperti seorang kakek-kakek yang mengelus-ngelus dagunya. "Hmm, bagaimana, ya? dari ingatan tiruan-ku aku mendapati adanya plus-minus dari kalian. Tapi, …"
Dua orang didepannya menunggu dengan harap pada apa yang akan dikatakan Kakashi selanjutnya, terutama Sasuke meskipun berwajah stoic, namun dialah yang paling ingin dan berhasrat untuk lulus.
Deg~ Deg~
"..."
"..."
"…. Kalian kuanggap lulus."
"Yatta, ….. Wuooohhh!" Naruto mengekspresikan keberhasilannya saat mengetahui dirinya lulus. Senyum lebar terpatri diwajah tan-nya itu. Ia menganggap bahwa ini adalah langkah awal untuk menemukan tujuan baru dihidupnya sekarang. Begitupun dengan Sasuke, meskipun tidak seheboh Naruto, namun dalam hati dia sudah sangat senang, yah, kalian tahulah bagaimana tabiat Uchiha bila menyangkut dengan ekpresi.
"Baik, sekarang kembalilah ke tempat yang tadi, disana ada pemberitahuan mengenai hal selanjutnya."
"Oke, terimakasih. Hokage-sama."
…
/
…
Komplek Gedung Esper.
Luas.
Megah.
Indah.
Modern.
Futuristik.
Kata-kata tersebut sepertinya hanya bisa mendeskripsikan sedikit dari komplek ini. Komplek dimana para esper, baik yang sudah berpengalaman maupun pemula, tinggal dan belajar menempa diri agar lebih berguna.
Dari salah satu gedung yang paling besar, keluarlah orang-orang yang cukup banyak dan mereka semua terlihat berpencar dengan mengikuti instruksi dari sebuah kertas yang ada ditangan. Tokoh utama kita, bocah purba berjalan pelan sambil sesekali mengecek kertasnya. Dia menengok kesana kemari, tujuannya adalah untuk menemukan asrama putra.
Karena wilayah yang amat luas, butuh beberapa menit bagi Naruto untuk menemukan bangunan itu. Kini, didepannya telah terpampang bangunan besar dengan tulisan 'Boy's Dorm' terpajang pintu gerbangnya. Atapnya seperti kubah, dindingnya pun berlapis logam, lebih tepatnya baja, salah satu logam terkeras didunia. Gedung tersebut terdiri dari 6 lantai, 2 lantai pertama untuk yang sudah pro, 2 lantai selanjutnya untuk kelas menengah, dan 2 lantai terakhi yakni paling atas untuk para pemula. Ditambah dengan basement yang seperti gudang senjata atau tempat penelitian
"Hah, kenapa harus paling atas, aku malas naik tangga," keluh Naruto saat melihat penjelasan yang ada dikertas untuk yang kesekian kalinya. "Lagipula, aku kan sudah punya rumah, baru lagi. Hah, kalau tahu akan begini, lebih baik aku tidak ikut sayembara yang kemarin." Dia akhirnya mengambil langkah kecil, berjalan memasuki gedung itu.
…
/
Ting.
Sebuah suara terdengar disekitar lorong kosong itu. Tak lama kemudian, sebuah pintu lift terbuka, memperlihatkan dua orang yang ada didalamnya.
"Kita sudah sampai." Ujar seorang pemuda berambut pirang nan tampan sambil berjalan keluar.
"Hah, sudah sampai, ya." Jawab seorang bocah purba yang terlihat seperti orang bodoh. 'Hebat, hanya perlu diam dan memencet tombol bisa langsung naik keatas.' Pikir orang itu sambil celingak-celinguk didepan pintu.
Yah, wajar saja, di zamannya mana ada alat yang bernama lift. Yang menarik, tadi saat dia bertanya kepada seseorang mengenai tangga, ternyata tangga sudah tidak lagi digunakan, setidaknya disini,, dan sudah diganti dengan yang namanya lift, Naruto terbengon begitu melihat lift untuk pertama. Untung orang itu mau mengantar karena tujuannya sama. Momen yang konyol jika harus diceritakan sepenuhnya.
"Ah, hey, terimakasih." Naruto sedikit berteriak kepada penolongnya itu, yang dibalas dengan lambaian tangan.
"Baiklah, sekarang waktunya mencari kamarku."
….
Ckelek~
"Permisi." Naruto membuka sebuah pintu kamar, yang ternyata adalah kamarnya. 300 nomornya. Dia mengucap salam karena takut sudah ada orangnya. Ya, masing-masing kamar akan ditempati oleh maksimal 3 orang.
"Sepertinya belum ada yang kesini." Berjalan perlahan memasuki ruangan tersebut, dirinya merasa sedikit seangn karena sampai pertama kali, namun...
Settt~
Tiba-tiba meluncur sebuah kartu, dan langsung mengenai pelipis Naruto. Untungnya hanya lecet. "Woahhhh, apa ini?" begitu bangun dari kagetnya, dia bertindak seperti orang gila sekaligus waspada.
"Siapa kau?" bulu kuduk langsung berdiri, Naruto merasakan sensasi panas dari belakang. "Aku? Aku yang mendapat kamar ini."
"Oh, begitu rupanya." Seorang pemuda keluar dari sudut ruangan yang terhalang oleh bayangan. Dan langsung menempuk pundak Naruto. "Kalau begitu selamat bergabung." Naruto menoeh dengan terpatah-patah, berharap manusia yang menyapanya.
"Ah, senangnya kau mansuia, apa kau teman sekamarku?" Wajah Naruto kembali normal, ternyata pikirannyalah yang tidak sehat. "Tapi, tunggu dulu, bukankah kau yang di lift tadi?" Naruto menunjuk wajah pemuda pirang itu, yang dia anggap sebagai penolongnya.
"Wah, aku juga terkejut, ternyata si orang udik yang sekamar denganku." Pelipis Naruto mengeras saat mendengar ejekan itu. "Oh, iya, namaku adalah Kiba. Yuuto Kiba." Pemuda tampan itu terlihat menyodorlan tangannya, yang ternyata bernama Kiba.
"Ah, baiklah, Namaku Naruto. Salam kenal Kiba-san." Balas Naruto yang menyambut jabat tangan dari Kiba. Keduanya bertatapan sejenak, melihat kedalam bola mata masing-masing, entah apa yang sebenarnya mereka lakukan.
"Bisakah kalian diam? Aku mencoba untuk mendapat tidur yang nyenyak disini." Tiba-tiba selimut pada kasur itu terbuka, memperlihatkan seorang pemuda berambut nanas, dengan mata mengantuknya memandang tajam dua orang yang sedang berkenalan.
"Oh, kau yang terkahir? Oke, aku akan memberi toleransi. Namaku Nara Shikamaru. Salam kenal." Pemuda nanas pun bangkit dari rebahannya, dan langsung menyingkirkan tangan Naruto serta Kiba yang masih tersambung.
"Ah, maaf. Perkenalkan namaku Naruto. Salam kenal Shikamaru-san." Naruto sedikir sweatdrop saat Shikamaru yang melepaskan salamannya tadi. "aku mau lanjut tidur, jangan berisik." Shikamaru berjalan kemabli ke Kasur sambil menguap, dan dengan cekatan membungkus dirinya dengan selimut.
"Abaikan dia Naruto, dia orang yang payah." Ujar Kiba sambil ikut duduk diranjang Shikamaru. "Baiklah, kalau begitu aku akan membereskan barang-barangku dulu." Naruto terlihat menurunkan tas besar yang dia bawa, untung saja sebelum kesini, dia diperbolehkan pulang terlebih dahulu untuk membawa barang-barang yang diperlukan, yah meskipun tidak banyak karena dia orang baru.
"…."
Kiba memperhatikan tingkah Naruto, dalam benaknya dia berpikir bahwa Naruto adalah orang kelas bawah, dia bahkan tidak menyebutkan marganya, atau yang lebih dai tidak punya marga. Tapi, meskipun begitu Kiba tidak akan mengatakan hal menyakitkan seperti itu padanya. Karena dia tahu bahwa kualitas seseorang bukan diukur dari apa statusnya, atau siapa keluarganya.
Berbicara mengenai kualitas, pikiran Kiba terbesit sesuatu yang ingin dtanyakan. "Oh iya, Naruto, ngomong-ngomong perubahan jenis chakra-mu apa?"
Sett~
Naruto tiba-tiba menghentikan aktivitasnya, ia cukup lama terdiam. Kiba yang melihat itu pun menaikkan alisnya. "Ada apa? Kau tidak mau memberitahu?" tanya Kiba.
"…."
"…."
"…. Perubahan jenis chakra-ku adalah Ancient Arts."
.
.
/
Bersambung…..
A/N:
Selamat bertemu lagi, para pembaca. Senang rasanya bisa kembali. Wah, udah berapa bulan ya? Dah lama gak nyapa, hehehe...
Yah, rupanya saya gak bisa nulis untuk beberapa saat. Ada banyak sekali halangan yang muncul. Tenang, gak akan disebutin, entar pada ngamuk coba. Intinya, kena writer block deh.
Dan sekarang mungkin udah ada kesempatan buat nulis lagi –meskipun gak banyak, bakalan dimanfaatin. Makasih buat yang sudah baca, terharu saat lihat tiap hari pasti ada aja yang baca, entah itu berapa pun.
Kalau chapter sekarang ngebosenin, yah maaf deh :( daku harus latihan lagi berarti.
Udah, segitu dulu aja. Kalau mau ada yang ditanyain, ngeluh atau apapun, jangan ragu buat tinggallin jejak di kolom review.
Dadah~
Kamis, 05 April 2018
