Why? [Chapter 3]
Main Cast : Huang Zi Tao and Wu Yi Fan. Tao and Kris.
Genre : Angst, Romance.
Inspired by : Abiru Junjo comic.
A/N :
Halo semua! Widi balik dengan ff gajenya *randomdance*
Widi cuma mau bilang..sebentar lagi kan mau TO nih. Jadi...
Widi gak yakin untuk chapter selanjutnya bisa dilanjutin dengan cepat atau enggak. Soalnya Widi udah kelas 9 dan harus fokus ke TO dan UN.
Jadi maaf banget bagi yang demen ama ff ini...tpi kyknya gak ada yg demen ye lol.
Bisa kan nungguin lanjutan ff ini dengan waktu yg bisa dibilang cukup lama? :D
Baiklah, aku bakal bales review yang terlihat sangat penting.
Bukan berarti yang gak aku balas gak penting ya, semua review kalian penting kok, percaya deh sama Widi yang unyu ini lol :
halliypanda : Pasti aku tambahin, Insya Allah ^^
LeeAn : Boleh banget ()/ Widi boleh minta link fpnya? :D Tapi jangan lupa ya sisipkan link ff yang asli. ^^
Guest : Boleh banget! Minta linknya juga, boleh? :D jangan lupa ya sisipkan link ff yang asli. ^^
Shin Min Hwa : Ini udah di update kok ^^
Taosefti : Jangan nangis lagi dong, nih ku kasih tambahan biar makin nangis(?) #widijaat
peacocktao : ini udah dilanjutin secepat kilat yang menyambar cintamu kepadaku(?)
Numpangbaca : sbenarnya Widi sengaja bikinin alur yang cepet, biar greget yang baca terus gebukin Widi deh...eh.
Sip! Makasih yang udah nge-review chapter yang kedua dan yang kepertama. ^^
Oke, selamat membacaaa~
.
.
.
.
Chapter 3
Senyum Tao melebar, tentu saja karena hari ini nenek-nya sudah siuman dari koma-nya dan sedang menjalankan pemulihan di bagian jantungnya. Akhirnya, kebahagiaan-nya yang sempat menghilang kini kembali lagi.
"Nenek! Apa kabar?" Nenek Tao menoleh ke cucu-nya yang sedang tersenyum manis kepadanya dengan sebuah kotak makan di kedua tangannya.
"Seperti yang cucu-ku lihat, nenek baik-baik saja.." jawab sang nenek dengan suara yang masih terdengar lirih. Nenek Tao memang belum sembuh sepenuhnya, tetapi sang nenek masih tetap menunjukkan air muka-nya yang selalu mengatakan kalau ia baik-baik saja. Tao mengangguk dengan cepat lalu duduk disamping tempat tidur nenek-nya selama di rumah sakit.
"Hari ini aku buat masakan yang enak loh nek!" Nenek Tao tersenyum melihat senyum ceria cucu-nya yang sangat ia rindukan selama ia koma. Tao pun juga merindukan senyum sang nenek yang sangat ia cintai ini.
Tao membuka kotak makan di tangannya, lalu muncullah dua ekor panda—tentu saja bukan panda beneran—yang tersenyum dengan bunderan pink di bagian pipinya.
"Ini namanya Kyaraben, nek!" seru Tao dengan semangat. Membuat nenek Tao tersenyum melihatnya.
"Ini masakan Jepang loh nek! Biasanya, Kyaraben itu selalu berbentuk tokoh kartun, bunga, atau yang lainnya! Tapi, tentu saja ini bisa dimakan! Biasanya…." Nenek Tao terus tersenyum mendengar celotehan demi celotehan cucu-nya, sesekali nenek Tao menjawab pertanyaan sang cucu dengan senyum yang senantiasa menghiasi bibirnya. Ia senang bisa melihat senyum cucu-nya lagi.
"Ayo nek! Kita makan sama-sama!" ajak Tao sambil mengambil sumpit lalu mengambil sosis yang dibentuk seperti gurita kecil. Membuat nenek Tao tertawa melihatnya, tentu saja dengan suara yang masih terdengar lirih.
"Jadi, cucu-ku membuat ini semua? Aduh, gurita ini lucu sekali…" Tao mengangguk dengan semangat.
"Tentu saja aku yang buat, nek!"
"Ah..jadi tidak tega memakannya.." Tao tertawa mendengar penuturan neneknya. Sang nenek ikut tertawa pula. Tao pun menyuapi si gurita kecil ke mulut sang nenek. Sang nenek menggigitnya dengan lahap lalu sambil bergumam kecil "Maafkan nenek, gurita.." membuat Tao tertawa mendengarnya.
Tao pun ikut memakan Kyaraben buatannya.
"Tao?"
"Iya nek?"
"Bukannya Kyaraben itu biasanya dibuat oleh seorang ibu yang ingin memberikan bekal kepada anaknya?" Tao menoleh ke nenek-nya yang tadi sibuk menunduk sambil memakan bagian demi bagian panda— —lalu terdiam sesaat.
Kyaraben…
Ibu..
Bekal makan siang untuk anaknya..
Benar juga ya.
Tao terdiam, tak tahu mau menjawab apa.
"Aku hanya ingin saja.." jawab Tao akhirnya dengan senyum merekah di bibirnya, namun pikirannya lari dari Kyaraben dan neneknya. Melainkan..
Otaknya memutar balikkan pikiran kepada sosok perempuan yang cantik dan mirip sepertinya, ibunya.
"..tapi nek, tidak semua ibu membuatkan Kyaraben untuk anak-anaknya!" Seperti aku, batin Tao.
"Kyaraben itu dibuat dengan cinta untuk orang yang dicintai. Seperti aku membuatkan Kyaraben untuk nenek, karena aku cinta dan saaayang sama nenek!" Senang, terharu. Itulah yang nenek Tao rasakan sekarang.
Tanpa terasa, air mata jatuh dari mata yang dihiasi keriput demi keriput karena usia-nya.
"Kalau begitu, doakan nenekmu cepat sembuh, oke? Supaya nenek bisa membuatkan Krayaben untuk cucu nenek yang nenek sayangi ini.." air mata-nya kembali jatuh saat Tao tersenyum dengan bibir begetar, lalu memeluknya dengan erat.
Seakan tak ingin berpisah dengan sosok layaknya malaikat di dekapannya.
.
Tao mengambil ranselnya dengan wajah cemberut lalu mendekati neneknya yang sedang tersenyum senang setelah mengingatkan Tao kalau malam sudah tiba.
"Aku mau tidur disini saja!" seru Tao sambil mengerucut sebal. Ia sangat rindu dengan neneknya, ia ingin waktunya terbuang hanya untuk bersama nenek.
"Tidak boleh, Tao. Jaga rumah saja ya? Apalagi tadi kamu bolos sekolah lagi…" Tao menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau dirumah! Aku mau bersama nenek saja!" pekik Tao membuat sang nenek tersenyum. Dasar bawel, batin si nenek.
"Kamu jaga rumah saja ya…" ucap si nenek dengan senyum yang masih senantiasa di bibirnya, Tao kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak ma—"
"Ayo kita pulang.."
"Sudah aku bilang aku tidak mau pu—Songsaengnim?" Tao menatap tak percaya orang yang ada di belakangnya, Kris.
Tao terdiam melihat sosok yang ia hindari belakangan ini ada di hadapannya sekarang. untuk apa dia kesini?
"Ngapain Songsaengnim kesini?" tanya Tao dengan judesnya.
"Tao!" pekik sang nenek sambil mencubit pinggang Tao dengan keras.
"AW!"
"Yang sopan sama gurumu!"
Kris tersenyum—lebih tepatnya menahan tawanya—melihat Tao meringis kesakitan karena dicubit oleh neneknya. Tangannya yang sejak tadi memegang sebuah keranjang dengan buah-buahan disana ia sodorkan kepada Tao yang mendengus sebal sambil mengelus pinggangnya.
"Ini untuk nenek.." ucap Kris sambil membungkukkan badannya hormat. Sang nenek tersenyum menampakkan gigi putihnya sambil mengangguk pelan.
"Terima kasih banyak, maaf merepotkanmu.."
"Tidak masalah kok nek, aku dengan senang hati memberinya kepada nenek.."
Senyum sang nenek semakin merekah mendengar tutur kata namja tinggi didepannya. Kris sangat baik, walau katanya—Tao—ia sangat cuek dan tidak perduli-an, lalu ia juga sangat tampan dengan rambut blonde dan bentuk wajahnya yang tegas. Pantas saja cucu-nya menyukai sosok namja tampan ini. Tapi, kenapa tatapan Tao seperti itu kapadanya hari ini?
"Kenapa tadi kamu tidak masuk?" tanya Kris sambil menatap Tao yang menatapnya tajam.
"Memangnya apa urusanmu?"
"Tao!"
"Iya, iyaa~. Baiklah nek, aku pulang ya! Jangan lupa minum obatnya nek!" Tao mendekati si nenek yang menatapnya tajam karena lagi-lagi Tao tak berlaku sopan kepada gurunya sendiri. Apa peduli aku padanya, batin Tao.
Tao mengecup pelan dahi neneknya dengan lama lalu mencium kedua pipi neneknya. Dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya, ia melepaskan bibirnya dari pipi sang nenek lalu pergi keluar rumah sakit tanpa memperdulikan Kris yang masih berada di ruang dimana nenek Tao beristirahat disana.
Kris menghela nafasnya frustasi. Sebenarnya salahku itu apa, batin Kris.
"emmm..sebaiknya, aku menyusul Tao.." nenek Tao mengangguk sambil menggoyangkan telapak tangan kanannya menyuruh Kris pulang. Kris membungkukkan badannya lalu keluar dari rumah sakit menyusul Tao.
Setelah Kris sudah berada di luar ruang nenek Tao dirawat, ia mendengus sebal sambil menatap punggung Tao yang jauh disana.
"Bocah itu…nyusahin." Repet(?) Kris sambil menggeram gemas(?) dengan kedua telapak tangan yang semakin ia kepalkan.
"Dasar manja.." repetnya lagi sambil memalingkan wajahnya dari punggung Tao yang semakin jauh. Lalu ia kembali menatap punggung bocah didepannya dengan senyuman yang muncul di bibirnya.
"Lucu…"
Why? [2012]
Di pagi yang cerah dengan embun-embun pagi yang masih membasahi bumi, dengan baju tidur yang lengkap Tao menguap sambil memandangi pagi yang indah di depan pintu apartmentnya. Sudah lama ia tidak menikmati embun pagi setelah kejadian yang membuatnya dijauhi, disakiti, di injak-injak harga dirinya.
Tao menghembus nafasnya lalu mengembungkan pipinya lucu. Hari ini hari minggu bukan?
"Yah, tidak bisa bertemu Luhan ge.." Tao menampilkan wajah malasnya sambil menundukkan kepalanya.
"Padahal banyak sekali yang ingin aku ceritakan kepadanya.." gumam Tao sambil menutup matanya, merasakan hembusan angin di pagi hari yang membuatnya semakin tenang dan merasa damai. Pagi ini, ia menyukai pagi ini.
Ia menundukkan kepalanya dengan dahi yang mengeryit berusaha menghilangkan salah satu ingatannya namun tak berhasil. Kejadian tadi malam itu, membuatnya susah tidur karena dikepala-nya tersimpan kata-kata benci disana. Membuat matanya yang sudah hitam semakin hitam karena susah tidur.
Asal kalian tahu, Tao itu sebenarnya gampang tidur. Kalau memang tidur telat pun, ia akan tidur dengan pulas dan fresh di pagi harinya. Tapi kali ini beda, gara-gara guru menyebalkan itu ia harus meratapi kantung matanya yang semakin hitam dari asalnya(?). Dan karena guru itupun, ia sekarang menyimpan sebuah dendam kesumat yang entah kapan habisnya.
"Apa yang harus ku lakukan?!" teriak Tao sambil mengepalkan kedua tangannya lalu meninju-ninju angin yang membuat tubuhnya dingin. Dengan mata yang tertutup ia berandai Kris berada di depannya dan wajahnya bonyok karena hasil lukisan bogem mentahnya.
Puk!
Sebuah sepatu berwarna hitam dan terlihat besar melayang dan mengenai kepala dengan rambut hitam alami Tao. Membuat Tao meringis kesakitan dan menoleh dengan bogem mentah yang siap melukis wajah siapapun yang melempar sepatunya. Saat ia menoleh ke belakang dengan wajah menyeramkannya, seorang namja berambut pirang menatapnya dengan mata yang merem-melek dan bibir yang mengumpat dengan suara yang tidak terdengar jelas oleh telinga Tao.
"Kau bocah! Gara-gara kau, tidurku terganggu!" teriak namja berambut pirang yang tak lain tak bukan Kris. Tao melonggarkan kedua tangannya yang rencana-nya akan melukis wajah siapa saja dengan warna biru meng-ungu dan merah berdarah. Tao menatap guru didepannya dengan tatapan tak peduli namun ada rasa takut yang menjalar di pikirannya.
Bagaimana ini? Pasti aku akan dihukum di sekolah!
Kalau aku di hukum, orang-orang itu akan menertawaiku pasti!
Aku harus bagaimana?
Apa aku kabur saja seperti kemarin-kemarin?
Tapi aku tak ingin dikatain pengecut oleh guru menyebalkan ini!
Pemikiran demi pemikiran muncul dengan abstrak di otaknya. Membuatnya bingung dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, tak peduli dengan Kris yang masih berada di depannya dengan rasa kantuk yang menjadi-jadi karena bocah di depannya diam saja sejak tadi.
Kris menggeram lalu mengambil sepatu-nya.
"Sekali lagi kau bising, ku lempar kau dari lantai ini!" ancam Kris sambil masuk ke apartmentnya lalu melanjutkan ritualnya setiap hari—libur, tidur.
Setelah guru tua itu sudah masuk ke apartmentnya, Tao mengumpat kesal dengan bibir yang ia gerakkan terus, lalu mengulangi perkataan demi perkataan Kris.
"Ku lempar kau dari lantai ini~" ulang Tao dengan suara yang ia buat seperti suara anak kecil lalu mengulangi lagi dengan suara seperti kakek-kakek sesuai dengan wajah Kris yang tua.
"Kau bocah~ gara-gara kauu, tidurku terganguuu~" ledek Tao lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya lalu mendengus sebal.
"Ku bilang Songsaengnim ya!" seru seseorang membuat Tao terkaget dan menoleh ke asal suara dan matanya menangkap namja manis yang sedang tersenyum padanya sambil melambai-lambaikan tangan kanannya dengan riang.
"Luhan ge!"
.
"Kau tau tidak, gara-gara kau aku kesepian! Bosan! Tidak tau mau bagaimana! Kau ini! Lain kali kalau kau tidak bisa masuk kabarin aku! Kau membuatku khawatir! Kau.." Tao menompang dagunya sambil menatap meja dibawahnya dengan malas, dengan gamblang(?) Tao menguap saat Luhan tengah sibuk merepet sana-sini.
"Tao, kau tidak memperhatikan gege-mu!" pekik Luhan akhirnya sambil menyentil jidat Tao dengan poni-nya yang berantakan. Membuat Tao meringis kesakitan sambil mengelus jidatnya yang malang. "Sakit, gee!"
"Siapa suruh kau tidak memperhatikanku?! Kau membuatku khawatir, tau! Seharusnya kau minta maaf padaku!"
"Baiklah, aku minta maaf Luhan ge.." Tao menundukkan kepala-nya berkali-kali sambil menatap gege-nya, memastikan Luhan percaya bahwa permintaan maafnya bukan main-main.
Luhan menghela nafasnya pasrah, ia memang tak pernah sanggup memarahi Tao lebih lanjut.
"Jadi ceritakan kepadaku mengapa kau tidak masuk kemarin."
Tao pun menceritakan semua-nya kepada temannya sekaligus gege-nya, Luhan. Menceritakan tentang neneknya dengan mata yang memerah menahan air mata. Lalu menceritakan keadaannya setelah ia memutuskan untuk membuang Kris jauh-jauh dari kehidupannya. Mengingat nama itu membuatnya lagi-lagi mengeluarkan air mata untuk namja tua itu.
Luhan mengelus-elus punggung Tao selama teman barunya itu menangis, ia tidak percaya dibalik sisi ceria-nya selama ini menyimpan sebuah kenangan yang pahit. Tentang neneknya, tentang keluarganya, Luhan tidak pernah berpikir sebelumnya kalau Tao mengalami pahitnya di tinggal orang tua hanya karena satu hal yang tidak beralasan. Tao menangis karena ibu-nya memilih kebahagiaan lain, sedangkan Luhan meninggalkan ayahnya demi kebahagiaan lain. Membuat Luhan merasa bersalah kepada ayahnya yang sekarang sudah tiada.
Dan soal guru galak itu…Luhan masih tidak bisa percaya. Tao itu manis, baik, pintar, pandai wushu, dan tampan. Tapi kenapa sosok guru itu tidak menyukai namja sempurna seperti Tao?
Kalau Luhan jadi seme, mungkin Luhan akan memacari Tao tanpa perduli Tao menyukainya atau tidak…ehmaaf. Dan tidak akan bersifat dingin seperti guru galak itu.
"Sudah-sudah. Nenekmu pasti baik-baik saja kalau kamu tidak ber-negativ thinking. Doakan terus nenekmu, dan kalau memang suatu saat ia dipanggil Tuhan, cintailah ia selama masih ada kesempatan.." Tao segugukan sambil menatap gege-nya yang tersenyum manis padanya.
"Dan Kris Songsaengnim…ia hanya belum menyadari perasaannya saja, atau…ia buta?" Tao tertawa kecil sambil mengusap air matanya. Luhan tersenyum lalu memeluknya dengan erat.
"Tersenyumlah lagi. Masih ada gege yang akan selalu bersama kamu, kok.."
Tao menganggukkan kepala-nya sambil mengeratkan pelukannya. Ia sangat bersyukur bisa bertemu orang sebaik Luhan.
.
2 minggu lagi.
Kris menatap undangan berwarna putih tulang dengan pita berwarna pink di tangannya. Matanya terus menatap undangan itu dengan tatapan tajam nan menusuk.
Di undangan tersebut tercetak jelas nama asli temannya lalu dibawahnya terdapat nama seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Kris tertawa renyah. Meledek dirinya sendiri. Jadi ini hasil dari mempertahankan cinta sendiri? Batin Kris sambil tertawa melihat undangan ditangannya. Miris.
Sudah susah payah ia merebut cinta-nya kembali, tapi ini hasilnya?
Kris tertawa diselingi dengan air mata yang entah kapan jatuhnya. Tangannya mengepal keras dengan undangan yang remuk di tangannya, menampakkan urat-uratnya membuat siapa saja yang melihatnya sudah tau kalau Kris sedang tidak mood hari ini.
"Aku bodoh.."
"aahahahaha..aku bodoh."
Gumaman demi gumaman terlontar dari bibir kissable Kris. Dia memang bodoh. Selalu membiarkan ego-nya menang. Dan sekarang, ia telan semua penyesalannya.
Tok! Tok! Tok!
Kris menengadah kepala-nya ke pintu. Siapa sih yang bertamu di pagi hari seperti ini?!
"Ya, sebentar!" sahut Kris sambil mengusap mendekati wastafel dan mencuci wajahnya yang berantakan karena air mata-nya lalu ia menatap wajahnya di cermin. Sebuah hembusan nafas terdengar dari mulut Kris. setelah itu ia mendekati pintu dan membuka pintunya.
Kris mendengus sebal kepada orang yang menjadi tamu-nya pagi ini.
"Annyeong, Songsaengnim!" sapa namja manis di depannya dengan senyum dan matanya yang menyipit, tersirat sebuah keceriaan disana. Namun, Kris membalasnya dengan tatapan tak bersahabat.
"Apa?" namja manis itu mendengus sebal melihat sifat guru-nya. Mau sampai kapan guru tua itu bersikap seperti ini? pikir Luhan—si namja manis.
"Aku menganggu Songsaengnim tidak?" tanya Luhan dengan hati-hati, Kris mengangguk dengan mantap lalu menjawab.
"Sangat menganggu.." Luhan kembali mendengus sebal melihat guru tua di depannya.
"Kalau begitu, bisa bantu Luhan tidak?" tanya-nya sambil tersenyum manis kepada guru matematika-nya yang masih ia sopani(?).
"Menyangkut pelajaran?" tanya Kris balik dengan tatapan malasnya. Inilah kebiasaan Kris kepada murid-muridnya. Jika muridnya ingin meminta tolong padanya, ia akan menolong murid itu dengan senang hati. Tapi, permintaan tolong itu harus bersangkut paut dengan pelajaran.
Luhan mendengus sebal untuk ke sekian kalinya.
"Tentu saja!" jawab Luhan dengan semangat. Kris mengangguk.
"Kalau begitu, aku mandi dulu. Kau tunggulah disini..kalau mau."
Luhan mengangguk dengan mantap lalu masuk ke kamar apartment guru-nya yang…berantakan. Luhan menganga lebar melihat situasi pasca gempa di kediaman guru-nya ini. Kris yang tak peduli dengan tatapan Luhan akan keadaan kamar apartmentnya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Setelah menyegarkan badan dengan mandi hampir setengah jam, ia keluar dari kamar mandi dan menghampiri Luhan yang menunduk, menutup matanya sambil menggoyang-goyangkan tangan kanan-nya menyuruh guru-nya memakai baju.
"Seharusnya aku yang mengusirmu, ini tempatku!"
"Tapi Songsaengnim, kau belum pakai baju! Pakai bajumu!"
"Kita ini sama-sama namja. Kenapa kau seperti itu?!"
"Pakai baju-mu, Songsaengnim!" pekik Luhan yang menghasilkan sebuah jitakan di kepala Luhan hasil dari tangan besar Kris.
"Tidak usah teriak-teriak, bisa kan?" Kris beranjak meninggalkan Luhan menuju kamarnya dengan terkikik.
Ah, sudah lama tidak tertawa seperti ini, batin Kris.
Setelah memakai baju dan mengeringkan rambutnya, Kris keluar dari kamarnya lalu menghampiri Luhan yang sedang memainkan rubik yang entah dari mana asalnya dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Jangan sentuh barang-barangku!" peritah Kris setelah melihat rubik yang Luhan pegang dengan baik-baik. Luhan mendengus sebal lalu meletakkan rubik yang ia dapat dari kolong meja di dekatnya yang belum selesai, lalu berdiri sambil menenteng tasnya.
"Ayo kita pergi!" seru Luhan sambil melangkahkan kakinya. Namun, dengan cepat Kris menghentikan langkah namja riang itu.
"Katanya menyangkut pelajaran! Kenapa keluar?"
"Ya…kita menyelesaikan 'pelajaran' itu di luar!" jawab Luhan dengan semangatnya. Kris menatap anak murid didepannya dengan curiga. Pasti ada sesuatu nih, batin Kris.
"Jadi nanti kita bisa menikmati indahnya alam sambil belajar, bukankah itu bagus?" ucap Luhan sambil membuka pintu lalu menghampiri Tao yang sedang termenung di depan pintu kamar apartmentnya.
"Ayo Tao, kita pergi!" ajak Luhan sambil memegang bahu Tao, Tao menatap Kris yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin. Tao membungkukkan badannya seraya berkata.
"Annyeong, Songsaengnim.."
Why? [2012]
Tao tidak percaya. Namja disamping temannya—Luhan—adalah guru-nya yang tua dan menyebalkan. Kenapa? Lihatlah penampilannya!
Guru tua itu memakai baju dengan gambar macan—atau cheetah?—dengan lengan pendek lalu memakai jaket baseball berwarna hitam-merah, lalu ia juga memakai celana jeans yang lumayan ketat. Ah, tak lupa dengan poni-nya yang panjang dan tak ia ikat. Membuatnya semakin keren dan tidak terlihat kalau sebenarnya dia itu tua.
Tao menelan ludahnya dengan kasar sambil menundukkan kepalanya, melihatnya dari belakang saja ia sudah terlihat keren dan…seksi. Membuat pipi Tao panas dan muncul semburat merah yang lucu.
Ingat Tao, kau membencinya sekarang! batin Tao sambil memukul kepalanya sendiri dengan kasar.
Luhan yang melihat temannya bersikap dengan sangat aneh mendekati Tao yang berada di belakangnya. "Kau kenapa?" tanya Luhan sambil melihat wajah Tao yang terlihat merah di pipinya. Tao menatap temannya kaget lalu menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. Kris menghentikan langkahnya dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Kamu sakit?" tanya Luhan lagi sambil memegang pipi Tao.
"Ya ampun, pipimu terasa hangat dan merah!" pekik Luhan kaget sambil memegang pipi Tao dengan erat, membuat bibir Tao monyong karena efek gerak dari tangan Luhan.
"Eeee..g-gege, aku ti-tidak apa-apa.." jawab Tao sambil meringis kesakitan saat Luhan mencubit kedua pipi-nya. "Sh..sakiit."
"Apanya yang tidak apa-apa!" seru Luhan sambil memukul kepala Tao gemas, Tao meringis kesakitan. Kris menatap pemandangan di depannya tidak suka lalu melepas tangan Luhan yang masih memegang pipi Tao.
Kris menatap Tao yang menatapnya dengan mata terbelalak. Kris mengkerutkan dahinya.
"Kau demam?" tanya Kris sambil meletakkan telapak tangannya di jidat Tao. Membuat Tao terkaget dan pipi-nya semakin merah ketika tangan guru itu menyentuh jidatnya.
"Tidak demam..kau flu?" tanya Kris lagi yang tak dijawab oleh Tao. Membuat Kris menarik tangan Tao menuju sebuah mini market yang tak jauh dari tempat Luhan berdiri.
Luhan terdiam tak mengikuti mereka berdua ke mini market. Senyuman muncul di bibir manis Luhan.
Berhasil! seru Luhan dalam hati.
.
"Bukan begitu, Luhan.."
"Lah, jadi gimana Songsaengnim?! Masa' salah lagi?"
"Kamu itu…gak sabaran ya!"
Setelah 'jalan-jalan sebentar' menurut Luhan, Luhan, Kris dan Tao sekarang sudah berada di sebuah taman hijau yang ramai oleh warga Korea. Disini ada yang sedang bermain bersama keluarga, anak-anak kecil sedang kejar-kejaran, sepasang kakek-nenek sedang mengenang masa lalu, dan sepasang kekasih sedang bermadu kasih(?).
Tao sejak tadi hanya menunduk dan tidak terlalu memperhatikan sosok Kris yang sejak tadi mengajari beberapa materi yang akan masuk di ujian kelulusan beberapa bulan lagi. otaknya sejak tadi mengingat peristiwa yang baru saja menimpa dirinya.
Tangannya yang menyentuh jidatku, tangannya yang merangkul tanganku, wajah dinginnya yang tersirat sebuah kekhawatiran walaupun sedikit..
Tao menuliskan sedikit perasaannya di buku matematika dihalaman tengah denganmata yang sayu. Ia tak tahu haraus bagaimana, sebenarnya ia membenci guru itu atau tidak.
"Kalau kau tidak mengerti, jangan sungkan untuk bertanya kepadaku, Tao." Penuturan kata itu sukses membuat Tao menutup buku-nya dengan gerakan cepat lalu menatap gurunya yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin itu lagi. Tao menganggukkan kepalanya dengan pelan lalu mengerjakan tugas dari guru itu lagi.
Luhan menatap temannya dengan bingung, lalu mendekati Tao dan tersenyum kepadanya.
"Kau tidak mengerti bagian mana? Biar aku ajari.." Tao menoleh lalu tersenyum kepada temannya, ia menunjukkan beberapa soal yang ia tidak mengerti sambil mengerucut sebal. Membuat Luhan tertawa dan mencubit pipi Tao dengan gemas lalu menjelaskan cara penyelesaian tiap soal kepada temannya.
Kris menatap pemandangan di depannya tak tertarik, sambil memainkan pulpen di jarinya, ia mengambil handphone di celana jeansnya lalu memainkannya dengan malas.
Bocah itu…kenapa hari ini terlihat sangat manis? Batin Kris sambil mengetuk kepalanya dengan keras setelah ia berfikir seperti itu tentang bocah menyebalkan bernama Tao.
Gimana Kris gak kelepasan gitu? Coba lihat baik-baik Tao.
Namja itu memakai baju hitam dengan warna putih di bagian kerah dan membentuk segitiga dari kerahnya sampai bawah. Lalu poni-nya menutupi jidatnya yang baru saja Kris sentuh beberapa menit yang lalu. Dan ia juga memakai celana jeans yang ketat membuat bentuk paha namja itu sangat terlihat jelas membuat Kris tak sadar menelan air liurnya dengan kasar.
Tao memang sangat manis, bahkan sekarang ia lebih manis dari sebelumnya.
Apa-apaan perasaan ini?! pekik Kris dalam hati.
Aku tidak akan pernah menyukai bocah itu! Lanjut Kris dalam hati.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued.
Ayoooooooo Reviewnyaaaaa ditungguuuuuuuu *cipok satu"*
