Title : Watashi no futago no imōto

Author : Misayoshi Ichigo

Genre : Family / Friendship

Rating : K+

Published : 08-05-2015


Chapter 2 : Sekolah baru, sahabat baru


"Hoaaammmm ..." Seorang gadis berambut hitam pendek terbangun dari tidurnya yang lelap di kamar Boboiboy. Um ... pasti kalian masih ingat kalau nama gadis itu adalah Boboigirl. Gadis ini baru saja bangun dari tidur siangnya, sendirian di kamar kakaknya.

Dengan keadaan masih mengantuk, Boboigirl melirik jam dinding yang yang menunjukkan pukul 02.00 siang. Masih siang ..., batinnya sambil turun dari tempat tidur. Boboigirl turun ke lantai bawah, dan melihat Boboiboy yang baru pulang dari sekolahnya. Dia duduk di sofa dengan malas dan ngantuk berat. Boboiboy memperhatikannya.

"Sudah mandi, belum? Kayak belum mandi aja," tanya Boboiboy sambil tersenyum jahil.

"Jelas lah! Aku sudah mandi. Tadi baru bangun tidur. Hoaaammm ...," jawab Boboigirl, lalu menguap lebar. "Kakak tadi gimana belajarnya? Serius, enggak? Jangan-jangan kayak dulu, enggak mau belajar sampai harus bolos berapa hari."

"Heiii ... Jelas-jelas Kakak belajarnya serius, dong! Enggak kayak dulu!" Boboiboy membanggakan dirinya sok serius belajar di sekolah (padahal dia tidak serius dalam pelajaran Matematika).

"Iya, iya, my guardian angel! Aku percaya, kok," canda Boboigirl.

"Siapa yang mau jadi guardian angel-mu? Sini, biar Kakak cubit pipi tembem di wajahmu itu! Jadi gemes, tahu!" ujar Boboiboy. Tangannya bersiap-siap mencubit pipi Boboigirl.

"Oow! Serangan demon! Lariii!" Boboigirl berlari menjauhi Boboiboy yang hendak mencubit pipinya.

"Oi! Jangan harap kamu bisa kabur dari demon sejati ini!" Boboiboy mengejar Boboigirl.

Mereka berdua saling kejar-kejaran dari ruang tengah, dapur, kamar, kebun, sampai kedai Kokotiam yang dipenuhi oleh pelanggan. Beberapa pelanggan heran melihat ada 2 Boboiboy berlarian ke sana ke sini, hanya Ochobot dan Tok Aba yang tertawa-tawa melihat kedua bocah kembar itu. Mereka berdua tidak ada habisnya bermain seperti itu.

Boboiboy tertawa-tawa sambil tetap mengejar Boboigirl, begitu juga dengan Boboigirl, dia tertawa sambil berlari sekuatnya. Setelah mereka lelah dan duduk di kursi yang berada di depan kedai Kokotiam, Ochobot menghampiri mereka sambil tertawa.

"Hahaha, kalian capek? Nih, special ice chocolate Tok Aba," kata Ochobot sambil memberikan special ice chocolate Tok Aba kepada Boboiboy dan Boboigirl.

"Makasih, Ochobot," sahut Boboigirl dengan senyum yang mengembang.

"Tumben Atok bolehin kita minum es," kata Boboiboy bingung. Dia buru-buru menyeruput special ice chocolate Tok Aba.

Tok Aba yang mendengar kata-kata Boboiboy menoleh ke belakang. "Hehe ... Atok bolehin kalian minum es karena hari ini cuaca panas, apalagi kalian habis kejar-kejaran," jelas Tok Aba.

"Pantas saja," Boboigirl menatap ke sekeliling kedai. "Ini kedai coklat, kan?"

"Iya. Kok tahu?" tanya Tok Aba.

"Kelihatan banget dari kata 'Kokotiam'. Eh! Ngomong-ngomong, tadi Atok bilang mau ajarin Boboigirl bikin coklat. Kapan, Tok? Sekarang, ya?!" jawab Boboigirl diiringi suara tawa Boboiboy dan Ochobot.

"Oh, iya! Atok lupa! Sini, Atok ajarin."

Boboigirl memasuki kedai dan mulai belajar membuat cokelat, sedangkan Boboiboy dan Ochobot melayani pelanggan-pelanggan di kedai Kokotiam. Boboiboy sempat mendengar bisikan beberapa pelanggan, namun tidak ia hiraukan.


Malam hari di kamar Boboiboy ...

"Kakak! Seragam sekolahku mana?!" tanya Boboigirl ketika dia masih harus mencari seragam sekolahnya yang baru.

Boboiboy yang masih mengerjakan PR-nya melirik Boboigirl. Dia mendesah pelan dan membetulkan topinya.

"Ada di tas plastik itu. Coba kamu lihat," jawab Boboiboy santai.

"Oh, oke, oke!" Boboigirl mengambil tas plastik yang berada di samping tempat tidur, lalu membukanya.

Ada sebuah kemeja berlengan panjang dan rok abu-abu selutut, serta sebuah pin berlambang Sekolah Rendah Pulau Rintis. Seragam yang sederhana, namun keren (baginya). Boboigirl memeluk seragam barunya dan melompat ke tempat tidur.

Dipikirkannya tentang sekolah barunya, teman-teman barunya, kelas barunya, guru-guru barunya, dan tentunya pengalaman barunya. Saking asyiknya mengkhayal, Boboigirl tidak sadar kalau ada gumpalan kertas mendarat di kepalanya selama 4 kali. Kertas-kertas itu jatuh di lantai dan hampir membuat Boboigirl tersadar. Gadis bertopi oranye itu menoleh ke Boboiboy yang bersungut-sungut.

"Bisa, enggak, berhenti mengkhayal? Besok khayalanmu bakal terwujud, kan," ketus Boboiboy.

Boboigirl cemberut. "Kakak saja keasyikan ngerjain PR. PR apa, sih? Biar aku ajarin."

Boboiboy memberi isyarat "PR Matematika" ke Boboigirl. Dia memeletkan lidahnya ke Boboigirl, kemudian kembali mengerjakan PR. Boboigirl sendiri malah asyik milih-milih gaya yang pas buat sekolah besok. Kata Boboiboy, di Sekolah Rendah Pulau Rintis, gayanya boleh bebas, asalkan memakai seragam sekolah. Jadi dia masih sibuk milih gaya.

"Kakak, kalau gini bagus, enggak?" tanya Boboigirl meminta pendapat Boboiboy tentang gaya berpakaiannya. Boboiboy menoleh ke arahnya, dan wajahnya langsung berubah muram. *perasaan kayak di manga aja*

"Kalau gayamu seperti itu aneh banget. Casual aja kayak biasanya kan bisa. Pake hoodie buntu oranye sama topi oranye aja sudah cocok, kok," saran Boboiboy.

"Hmm ... oke juga saranmu. Besok aku pake, ya?" ujar Boboigirl, meletakkan seragamnya di samping lemari.

Setelah meletakkan seragamnya, Boboigirl menghampiri Boboiboy sambil tersenyum jahil. Boboiboy baru sadar kalau Boboigirl berdiri di sampingnya, dan dia menoleh ke samping, sambil memandang aneh ke adik perempuannya. "Apa?" tanyanya.

Boboigirl menunjuk ke arah salah satu soal Matematika yang sedang dikerjakan oleh Boboiboy. "Ini salah. Seharusnya pakai perkalian dulu, baru penjumlahan. Kalau bukan soal cerita, jawab sesuai peraturan KuKaBaTaKu, yaitu kurung, kali, bagi, tambah, dan kurang. Kalau soal cerita, harus sesuai urutan ceritanya. Bukan sesuai peraturan KuKaBaTaKu. Ngerti?"

"Hahh ... ngerti, deh."

"Hei! Ini salah lagi! Seharusnya ini ... bla bla bla ... terus ... bla bla bla ..."

Sebenarnya Boboiboy muak mendengar ocehan Boboigirl tentang Matematika, apalagi jika dia salah menjawab soal. Satu-satunya cara agar Boboigirl diam adalah menurutinya, kalau tidak dia akan terus mengamuk dan memaksanya mengerjakan dengan benar. Susah sekali kalau punya adik seperti ini. Cerewet dan terlalu memaksa. *dijitak Boboigirl pake panci*

Tapi kalau tidak ada dia, mungkin Boboiboy akan mendapat nilai yang jelek. Bayangkan saja dia dimarahi Papa Zola sampai harus dihukum berdiri di depan kelas sambil membawa kursi, tongkat pel, dan ember berisi air. Sudah mulai nyerah, deh!

1 jam kemudian, akhirnya PR Matematika selesai dikerjakan dengan sukses. Capek rasanya harus mengerjakan PR sambil diceramahi oleh Boboigirl. Boboiboy merebahkan tubuhnya di kasur dan menghembuskan nafas lega, diikuti oleh adiknya. Mereka berdua sama-sama menghembuskan nafas lega.

"Kakak lemah sama pelajaran Matematika, ya?" tanya Boboigirl setengah bercanda. "Mengerjakan saja sampai harus aku marahi. Atau barangkali aku saja yang sedikit memaksa Kakak? Kalau iya, maaf, deh."

Boboiboy menatap Boboigirl yang terlihat sedih karena merasa dirinya terlalu memaksa kakaknya. Dia tersenyum dan mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Kakak memang lemah di pelajaran Matematika. Kamu enggak boleh sedih gitu, dong. Makasih sudah mau ngajarin Kakak Matematika. Kalau tidak ada kamu, mungkin nanti di sekolah Kakak sudah dihukum karena salah mengerjakan satu atau dua soal lebih. Kau tahu? Guru Matematika Kakak itu orangnya agak nyentrik, tapi lucu dan tegas. Jadi kamu enggak usah sedih, ya?" hibur Boboiboy.

Boboigirl memasang senyum manis memandang Boboiboy, lalu dia memeluk erat Boboiboy sampai mereka jatuh berguling-guling dari tempat tidur. Keduanya tertawa-tawa senang karena akhirnya mereka sudah tenang dan baikan lagi.

Jam menunjukkan pukul 9 malam, Boboiboy dan Boboigirl pun tertidur di kamar. Setelah lelah mengerjakan PR Matematika dan tertawa bersama, mereka pun bisa masuk ke dalam alam mimpi, melepaskan rasa penat mereka. Boboigirl tak sabar menunggu hari esok, di mana dia akan bersekolah di sekolahnya yang baru.


Keesokan harinya, Boboiboy dan Boboigirl duduk di kursi di depan kedai Kokotiam sambil mengecek buku-buku pelajaran mereka. Kedua saudara kembar itu akan berangkat sekolah bersama, dan kini mereka masih harus menemani Tok Aba dan Ochobot di kedai Kokotiam. Mereka akan memulai hari baru di Sekolah Rendah Pulau Rintis.

Boboiboy menghembuskan nafas pelan setelah dia mengecek buku-buku pelajarannya, lalu bertopang dagu di atas meja. Dia kelihatan bosan dan ingin cepat-cepat berangkat sekolah sebelum jam menunjukkan pukul 7 pagi. Kalau terlambat bakalan dihukum sama Yaya, si ketua kelas sekaligus sahabatnya.

"Atok, Boboiboy mau berangkat dulu sama Boboigirl," ucap Boboiboy kepada Tok Aba.

Tok Aba menoleh ke belakang dan tersenyum. "Tumben ingin berangkat lebih awal. Ya, sudah. Sekarang kalian boleh berangkat. Jaga diri di sekolah, ya? Terutama Boboigirl yang baru masuk sekolah."

"Baik, Tok. Boboiboy berangkat dulu."

"Boboigirl juga, Atok!" seru Boboigirl semangat.

"Iya. Belajar yang pintar, ya?" kata Tok Aba. "Boboiboy, kamu jaga Boboigirl, lho. Dia kan baru pertama kali berada di Sekolah Rendah Pulau Rintis."

"Betul, terus kalian juga harus perhatikan pelajaran dengan saksama. Jangan asal tahu pelajaran," tambah Ochobot.

Wajah Boboigirl bertambah cerah seiring mendengar nasehat Tok Aba dan Ochobot. Dia dan Boboiboy pun berpamitan untuk berangkat sekolah. Tok Aba mengingatkan mereka berdua agar mereka tidak berbuat yang aneh-aneh di sekolah. Duo Boboi kembar itu pun berangkat sekolah bersama.

Di tengah perjalanan ...

Boboiboy dan Boboigirl berjalan sambil mengobrol tentang sekolah mereka, sehingga mereka tidak tahu kalau di depan mereka ada Gopal yang sedang asyik berjalan ke sekolah juga. Boboiboy yang menyadarinya langsung memanggil Gopal.

"Selamat pagi, Gopal!" seru Boboiboy, membuat Gopal tersadar dengan keadaan Boboiboy di belakangnya.

"Selamat pagi, Boboi ... boy," suara Gopal melemah ketika melihat Boboigirl di samping Boboiboy. Wajahnya kelihatan ketakutan.

"Ada apa, Gopal? Kenapa kamu takut?" tanya Boboiboy.

Jari telunjuk Gopal menunjuk Boboiboy dan Boboigirl secara bergantian. Dari ujung jari sampai kaki, terlihat bergetar-getar. Gigi putihnya bergemeretak menghasilkan suara gertakan yang jelas.

"Ada ... ada ... ada dua Boboiboy!"

Gopal pun kabur meninggalkan Boboiboy dan Boboigirl sendirian. Pria bertubuh gembul itu ketakutan melihat ada dua Boboiboy. Seingatnya hanya ada satu Boboiboy di dunia ini, dan yang satunya baginya adalah alien yang datang dari Planet Ata Ta Tiga menyamar menjadi kembarannya Boboiboy. *woi, enggak ngawur tuh?*

Sedangkan Boboiboy dan Boboigirl hanya dapat berpandangan heran melihat Gopal kabur duluan. Mereka mengangkat kedua bahu mereka dan berjalan kembali menuju sekolah.


"Betul! Tadi aku lihat Boboiboy ada dua! Mungkin salah satu dari kedua Boboiboy itu adalah alien!"

"Tidak mungkin Boboiboy berteman dengan alien. Kamu ini aneh, Gopal."

"Aku serius! Kenapa, sih, kalian tidak ada yang mau percaya?"

"Haiya, itu khayalanmu saja, ma! Mana ada alien yang bisa menyamar menjadi kembaran Boboiboy? Itu tidak ada!"

"Betul kata Ying. Tidak ada alien seperti itu. Kau mungkin hanya mengkhayal saja."

Perdebatan antara Gopal, Yaya, Ying, dan Fang terjadi ketika Gopal mulai membahas soal kembaran Boboiboy yang dia sangka adalah alien nyasar (?). Gopal ketakutan jika kembaran Boboiboy itu benar-benar alien. *digebuk Boboiboy* Tapi Yaya, Ying, dan Fang tidak merasa kalau kembaran Boboiboy itu alien, bahkan tidak ada bukti jika itu benar-benar alien asli.

Awal cerita, Gopal lebih dulu menceritakan hal tersebut kepada Yaya, sampai-sampai gadis berhijab pink itu sempat tidak percaya dan mengancam Gopal dimasukkan ke dalam buku pelanggaran pribadinya. Sayangnya, lambat laun cerita tersebut menyebar ke teman-teman sekelas. Banyak yang ketakutan jika itu benar-benar alien, setelah Adu Du kembali menjadi jahat. Siswa-siswi kelas 6 Jujur (ceritanya sekarang sudah kelas 6) selalu menggosip tentang kembaran Boboiboy.

Fang menepuk punggung Gopal lumayan keras. "Kalau benar itu alien, kita cari dulu buktinya. Lagipula, katanya di kelas kita akan ada siswa baru. Benar, kan?" usul Fang.

Gopal mengangguk setuju.

"Ei! Itu Boboiboy! Coba kita tanya dia!" pekik Ying menunjuk ke arah Boboiboy yang berjalan masuk ke kelas.

"Oke! Bukti pertama!" Gopal terlebih dulu menghampiri Boboiboy, diikuti Yaya, Ying, dan Fang dari belakang.

Di depan pintu kelas, Boboiboy masuk dan menyapa teman-temannya dengan ramah, seperti biasa. Penampilannya tidak jauh beda dari biasanya, hanya sifatnya saja yang sangat ceria. Sudah jelas, hari ini Boboigirl akan sekelas dengannya.

Tepat di depannya, Gopal langsung menggenggam bahu Boboiboy dan menggoncang tubuh Boboiboy. Yang digoncang hanya mengeluh kesakitan.

"Boboiboy! Apa benar kau punya kembaran?" tanya Gopal.

"Ish! Sakit lah!" Boboiboy menepis tangan Gopal. "Benar, aku punya kembaran. Kenapa tadi kamu lari sambil teriak ketakutan sewaktu berangkat sekolah?"

"Itu–"

"Boboiboy!" Yaya, Ying, dan Fang menghampiri Boboiboy.

"Eih? Ada apa dengan kalian?" tanya Boboiboy bingung.

"Apa benar saudaramu itu alien?" Yaya balik bertanya.

Boboiboy memasang raut wajah bingung. "Alien? Kalian mengkhayal, ya? Lalu, dari mana kalian tahu kalau aku punya saudara kembar?"

Yaya, Ying, dan Fang saling berpandangan, lalu menjawab pertanyaan Boboiboy sambil menunjuk Gopal, "Dari Gopal."

Mendengar jawaban dari teman-temannya, Boboiboy tertawa terbahak-bahak sampai hampir menangis. "Dari Gopal", itu adalah jawaban yang sangat lucu baginya. Entah mengapa tapi baginya sangat lucu, karena dia masih mengingat insiden kejadian Gopal bertemu dengannya dan Boboigirl, sehingga Gopal berlari ketakutan menuju sekolah.

Suara tawa Boboiboy memenuhi seisi kelas, namun teman-teman kelas 6 Jujur, kecuali Yaya, Ying, Gopal, dan Fang, tidak mendengar suara tawa Boboiboy. Keempat kawan Boboiboy itu terdiam, menyaksikan ketua geng mereka yang masih saja asyik tertawa, yang tak mereka ketahui alasannya.

Selang 5 menit kemudian, Boboiboy pun berhenti tertawa. Keadaan kembali normal. Semua terdiam dan masi berada di posisi mereka masing-masing. Yaya mengalihkan pandangan ke samping, dan melihat Cikgu Timmy berjalan menuju kelas mereka. Dia berseru "Cikgu datang! Cikgu datang!" dengan kerasnya. Semua siswa pun duduk di bangku mereka masing-masing.

Cikgu Timmy masuk ke kelas, diikuti oleh seorang gadis yang sangat mirip dengan Boboiboy (itu Boboigirl). Yaya berdiri dan memimpin teman-temannya menyapa Cikgu Timmy.

"Selamat pagi, Cikgu!" seru Yaya.

"Selamat pagi, Cikgu!" teman-teman yang lain mengikutinya.

"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan siswi baru dari Kuala Lumpur. Namanya Boboigirl. Boboigirl, ayo perkenalkan dirimu," balas Cikgu Timmy.

"Baik, Cikgu," sahut Boboigirl. Dia melangkahkan kakinya maju satu langkah, lalu memperkenalkan dirinya. "Hai, semua. Namaku Boboigirl. Aku berasal dari Kuala Lumpur, pindah ke sini karena ingin tinggal dengan Kakakku, Boboiboy. Senang bertemu dengan kalian!" sapa Boboigirl kepada teman-teman barunya di kelas 6 Jujur.

Melihat paras Boboigirl yang cantik dan perilakunya yang ramah tamah, semua teman-teman sekelasnya terpukau dengan dirinya, kecuali Boboiboy yang sudah kebiasaan melihat sifat-sifat di balik sifat ramah tamah Boboigirl. Apalagi Boboigirl itu adiknya sendiri.

Di antara semua anak kelas 6 Jujur, Fang yang lebih mengagumi Boboigirl. Entah perasaan suka atau hanya kagum yang dia rasakan, pokoknya dia merasa Boboigirl itu orangnya perfect. *pffft ... huahaha!* Tapi di antara itu semua, dia juga merasakan keringat dingin, wajahnya memanas dan memerah, dan jantungnya dag-dig-dug enggak tentu. Wah! Ada yang lagi jatuh cinta, nih! *digebuk Fang pake kentongan*

"Anak-anak, Boboigirl ini sebenarnya adalah kembaran dari Boboiboy. Dia pindah karena ingin sekali tinggal dengan Kakaknya. Jadi selama dia bersekolah di sini, kalian harus berbaik hatilah dengannya, ya?" jelas Cikgu Timmy. "Nah, Boboigirl, bangkumu ada di belakang Iwan, di sampingnya Fang yang duduk di pojok sebelah kanan."

"Baik, Cikgu," sahut Boboigirl, kemudian berjalan ke bangku kosong di belakang Iwan.

Boboigirl duduk di bangkunya, meletakkan tasnya, dan mengambil buku pelajaran sesuai jadwal yang telah diberitahu Boboiboy. Dia sempat melihat kakaknya yang duduk di depan Fang dan dibelakang Yaya, alias berada di antara Fang dan Yaya. Ketika mata bulatnya melirik Fang, astaga! Betapa tampannya dia! Wajah Boboigirl pun memerah ketika dia melihat Fang yang ternyata juga meliriknya.

Ganteng banget! Pasti dia ini cowok yang paling banyak fans-nya di sekolah ini. Tapi kok rasanya jadi deg-degan gini? batin Boboigirl.

Aduh! Jantungku kok berasa dag-dig-dug enggak tentu, ya? Apa akunya saja yang lagi sakit? Jujur, deh! Boboigirl terlalu menarik di mataku, pikir Fang yang ternyata juga berpikiran sama dengan Boboigirl.

Mereka berdua (Fang dan Boboigirl) menahan rasa malu sambil berusaha tidak melirik satu sama lain. Perasaan suka yang sama memenuhi pikiran dan hati mereka, hanya saja mereka tidak sanggup mengungkapkannya. Apalagi mereka berdua baru saling bertemu.

"Anak-anak, buka buku paket IPA halaman 24. Hari ini kita akan mempelajari tentang perkembang biakan hewan dan tumbuhan," perintah Cikgu Timmy, membuyarkan lamunan Fang dan Boboigirl.

Lamunan Boboigirl pun buyar, dan dia menuruti perintah Cikgu Timmy, membuka buku paket IPA halaman 24.


Sewaktu istirahat, Boboiboy menghampiri bangku Boboigirl dan memandangi adiknya yang sedang memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas. Gadis bertopi oranye itu baru sadar kakaknya memandanginya, dan dia juga ikutan saling pandang. Boboiboy menjauhkan wajahnya dari wajah Boboigirl.

"Eh! Ikut Kakak, yuk, kumpul bareng teman-teman Kakak di kantin! Daripada kamu sendirian di kelas," ajak Boboiboy.

"Oke, Kak! Tungguin bentar!" seru Boboigirl semangat, dan melanjutkan memasukkan buku-buku pelajarannya.

Setelah selesai memasukkan buku pelajaran, Boboiboy menarik tangan Boboigirl dan berlari kencang menuju kantin. Boboigirl mengeluh sakit karena tangannya digenggam erat oleh Boboiboy, namun Boboiboy tidak mendengarnya. Mereka pun sampai di kantin. Kedua saudara kembar itu membeli makanan yang ingin mereka makan, donut lobak merah (dalam bahasa Indonesia disebut 'Donat Wortel').

"Makcik, donut lobak merah dua," pesan Boboiboy.

"Baik. Nih," Makcik kantin memberikan 2 donut lobak merah ke Boboiboy.

Boboiboy mengeluarkan uangnya dan memberikannya kepada Makcik kantin. Dia dan Boboigirl pun berjalan menghampiri Yaya, Ying, Gopal, dan Fang yang duduk di kursi kantin paling pojok. Mereka semua pun saling sapa.

"Hai, semua!" sapa Boboigirl.

"Hai, Boboigirl!" balas Yaya, Ying, Gopal, dan Fang.

"Boboigirl, kamu duduk di sini, ya? Di sampingnya Fang, Kakak juga duduk di sampingmu, kok," ujar Boboiboy.

"Oke, Kak," Boboigirl duduk di samping Fang. "Ngomong-ngomong, nama kawan-kawan Kakak ini siapa saja?"

"Oh, yang ini Yaya, ini Ying, terus yang paling gembul di sini itu Gopal, dan yang disampingmu sudah jelas Fang. Ngerti?"

"Ngerti! Ngerti!"

Yaya dan Ying tertawa kecil melihat semangat Boboigirl yang membara layaknya api. Gopal merasa senang dengan kehadiran Boboigirl sambil memakan nasi lemak. Fang melirik Boboigirl dengan malu.

"Kau lucu juga, Boboigirl. Senangnya punya kawan baru. Perempuan, lagi!" puji Yaya.

"Ya, loh! Di geng ini hanya kami berdua yang perempuan," tambah Ying.

"Enaknya kalian punya sahabat perempuan baru. Terus aku kapan?" tanya Gopal.

...

Krik ... krik ... krik ... krik ...

...

"Ei! Bukannya kita sudah ada?" tanya Boboiboy.

"Betul, tuh. Kita bertiga kan laki-laki. Ngapain susah-susah nyari kawan baru? Dasar badan besar otak kecil," timpal Fang.

"Hehehe ... sori Boboiboy, Fang," Gopal malah nyengir kayak kuda. *huahahaha!*

"Hei, Boboigirl. Kenapa dari tadi kamu diam saja?" tanya Yaya.

"Ah ... aku bingung mau pake topik apa buat ngobrol," jawab Boboigirl malu-malu. "Dan lagi, aku baru masuk geng ini, jadi ada hal yang tidak aku mengerti maksud dari geng ini."

"Oh ... begitu ...," Fang membentuk mulutnya bulat seperti huruf "o". "Cerita saja tentang kehidupanmu sehari-hari."

"B-baiklah."

"Ehem! Ehem!" Boboiboy, Yaya, Ying, dan Gopal berdehem sembari melirik Fang dan tersenyum lebar. "Yang lagi PDKT, nih yeee ..."

"Oi! Siapa yang PDKT?!" teriak Fang marah sambil memukul meja, membuat Boboigirl ketakutan.

"Terus, tadi kamu ngomong sama Boboigirl," lanjut Boboiboy.

"Aku bilang aku tidak sedang PDKT!"

Teriak Fang begitu keras sehingga Boboigirl ketakutan. Dia berdiri dari kursinya dan berlari menjauhi kelima kawan barunya itu. Fang berusaha mencegatnya, tetapi dia takut kalau nanti diejek lagi sama keempat kawannya. Maka Boboiboy pun yang akhirnya menggantikan Fang mencegat Boboigirl.

Boboiboy mencari Boboigirl ke segala penjuru sekolah, mulai dari kelas, ruang guru, sampai halaman depan sekolah, dan menemukannya di sebuah pohon dekat gudang sekolah. Boboigirl menangis tersedu-sedu, dengan alasan yang tak diketahui Boboiboy. Anak laki-laki bertopi oranye itu pun menghampiri Boboigirl.

"Hei, kenapa menangis?" tanya Boboiboy sambil memeluk Boboigirl.

"Su-suara Fang ... tadi waktu teriak sangat seram. Aku takut! Takut sama Fang!" jawab Boboigirl. Butiran-butiran air mata menetes membasahi seragam Boboiboy.

"Sudah, enggak usah takut. Fang emang kayak gitu. Dia suka marah-marah sampai teriak-teriak pun juga," kata Boboiboy menenangkan Boboigirl. "Dan lagipula, gadis tomboy kayak kamu masa' takut sama cowok keras kayak Fang? Harus berani, dong, meski kamu ini cewek. Ya? Berani membiasakan dirimu dengan kelakuan temanmu yang terkadang bagimu itu menyeramkan."

Boboigirl tersenyum mendengar penjelasan sekaligus pendapat dari Boboiboy. Mungkin bisa membantunya untuk lebih dekat dengan kawan-kawan Boboiboy, termasuk Fang. Mereka akhirnya selesai berbincang-bincang dan kembali ke kelas sebelum bel berbunyi.

Di kelas, Boboiboy dan Boboigirl duduk di bangku mereka masing-masing dan menyiapkan buku pelajaran mereka. Fang yang duduk di belakang Boboiboy berusaha menanyakan keadaan Boboigirl tadi.

"Psst ... Boboiboy, tadi adikmu enggak apa-apa, kan?"

Boboiboy tersenyum ke arah Fang. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit shock sama pertengkaran tadi, kok," jawabnya. "Kamu kok perhatian banget sama dia?"

"Ehm ... enggak apa-apa, kan, kalau aku ini sahabatnya, selalu perhatian sama dia. Euh ... tadi Yaya sudah ngasih jadwal piket buat dia belum?"

"Aish, sudah. Dia mulai piketnya besok. Kenapa? Pingin piket bareng dia, ya?"

"Enggak, kok. Cuma nanya aja."

Fang memalingkan wajahnya menghadap ke jendela. Semburat pipinya berubah warna menjadi merah, malu mengakui kalau dirinya sebenarnya menyukai Boboigirl. Hanya seuntas kata-kata yang takkan orang lain tahu.

Aku suka kamu.


Answer to critical review (hanya untuk review yang penting saja)

. . .

DesyNAP :

Ichigo : "Sabar, ya. Boboiboy pake 3 Elemental-nya mungkin di chapter lain, sewaktu Adu Du nyerang lagi."

Boboiboy : "Kalau bisa sekarang aja! Boboiboy Kuasa Tiga!" *berpecah menjadi tiga*

Ichigo : *menepuk jidat* "Alamak! Rupanya ada yang tidak sabaran!"

. . .

Hana-chan icy snow :

Boboigirl : "Hanako-Nee bisa PM sama Ichigo-Nee saja. Tanya apa aja boleh."

Ichigo : "Hei, dia lagi bingung mau review apa! Terus yang jawab mestinya kan aku." *jitak kepala Boboigirl*

Boboiboy : "Maafin kelakuan adikku yang agak sewot ini, ya?"

Boboigirl : "KAKAK!"

. . .

Honey Sho :

Ichigo : "Makasih sudah bilang cerita ini bagus!"

Fang : "Tapi aku enggak bilang cerita ini bagus, kok. Masa' aku yang dijadikan jodohnya Boboigirl? Enggak sudi!"

Boboigirl : "Woi, ini cuma syuting film aja, Fang."


Thank you for reading! Don't forget to review! See you later!

- 正義いちご -