Disclaimer: "I don't own all characters in here. They are belongs to them selves. If I can, I would do it ! xD I don't own the story. The original story made by Guiyeon. I just insipired by her story. I make no money from this—please don't sue me. "
Title: SHINE
Based on manhwa: "That Guy Was Splendid" by Guiyeon
Author : blackorange aka nda
Rating : T
Main Casts: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin
Other Casts: BoA, TOP, Shirota Yuu, Tiffany
Genre : AU, crack, romance, fluff, humor, school life.
Length this chapter : 15 pages MsW
Three: "Bad Boy"
Sudah hampir seminggu Jaejoong di sibukkan dengan menghitung detik yang berlalu setiap detiknya. Namun dalam rentan waktu seminggu itu ia belum pernah bertemu dengan Yunho lagi. Ia pikir, ketika ia tidak menelponnya hari itu, Yunho akan mendatangi rumahnya dan mengacungkan sebuah katana tepat di depan batang hidungnya. Tapi sungguh, ini terasa seperti mimpi ketika selama seminggu itu, Yunho tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Walaupun cukup membuat Jaejoong seperti buronan Azkaban yang dikejar-kejar oleh Dementor –selalu bersembunyi, mengendap-endap, dan berhati-hati dengan sekelilingnya. Membuatnya cepat terkejut ketika seseorang menepuk bahunya dan mengejutkan segerombolan fans-nya yang hanya bisa terdiam melihat Jaejoong berteriak melengking seperti itu. Membuatnya kehilangan kesempatan untuk berkencan dengan Sooyoung dan membuat fans nya kini menganggap dirinya aneh.
"Demi Tuhan Junsu! Mereka semua kini menjauhiku dan menganggapku aneh!"
"Well.. itu semua karena rasa paranoid mu yang berlebihan."
"Ugh~ bagaimana aku tidak merasa paranoid jika aku tidak tahu kapan kematian akan datang menghampiriku?" Jaejoong beringsut sebal sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk dengan ponsel Galaxy Ace yang menempel di telinga kanannya.
Jaejoong merilekskan tubuhnya yang terasa tegang dan lelah itu dengan nyaman. Perasaan setelah berendam air hangat dan meminum susu dingin selalu mampu membuat tubuh lelahnya terasa lebih rileks. Rambut basahnya pun ia biarkan menempel pada bantal.
"Lalu, bagaimana kabarmu dengan Jung Yunho?"
"Molla.. aku tidak tahu dan tidak ingin memikirkannya. Aku rasa dia benar-benar mengalami gegar otak dan sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit. Oh~ aku sangat mengharapkannya!"
"Hey~ kau tidak boleh mengharapkan orang lain celaka."
"Dan apa aku tidak boleh mengharapkan keselamatanku sendiri?"
"Berhentilah bertingkah seperti kera yang tidak berdaya melakukan apapun." Jawab Junsu memutar kedua bola matanya.
"Kita sedang membicarakan Jung Yunho!" Jaejoong mulai histeris. Ia bisa mendengar suara decakan Junsu di sebrang telepon.
"Ck~ lihat.. sekarang siapa yang mendramatisir, berlebihan, dan histeris seperti ini?"
"Oh ya~ terimakasih padamu Kim Junsu yang sudah memberiku informasi tentang Shine dan anggota geng-nya yang merupakan pewaris kkapgae terkuat di Korea Selatan ini. Aku sangat berterimakasih padamu Kim Junsu. Thank you very much, I love you~"
"Haha~ you are welcome! I love you too~"
"I'm trying to be sarcasm in here, you duckbutt!" geram Jaejoong kesal. Ia bisa mendengar suara tawa lumba-lumba 'eu~kyang~kyang~' di seberang telepon sana. Ia memutar kedua bola matanya jengkel sambil bangkit dari posisi tidur dan mulai mengeringkan rambut black-maroon nya dengan handuk yang tersampir di kedua pundaknya.
"Jadi, kapan resepsi pernikahannya?" Junsu mulai menggoda Jaejoong. Ia bisa mendengar erangan kesal dari Jaejoong.
"Not in million years!"
"Huum~ sayang sekali~ padahal menurutku, Jung Yunho itu barang langka yang mungkin tidak akan pernah kau dapat dalam anganmu sekalipun. Dia tampan, dia kaya, dia pewaris tunggal kkapgae terkuat, dan dia sangat men-cin-tai-mu~ hingga melamarmu setelah ciuman pertamanya denganmu~"
"Junsu yah~ apa kau ingin mati?! Diberi uang 1 miliyar won aku tidak sudi dengannya –dan hey! Aku ini laki-laki!"
"You used dating a man."
"Ugh.. uhm.. ehm.. well.. that was just.. because of curiosity and.. well.. you know that.. I'm hurt enough." Bisik Jaejoong pelan yang membuat Junsu terdiam mendengarnya. Sedikit menyesali perkataannya yang mengungkit masa lalu kelam Jaejoong. Ia tahu betul bagaimana masa lalu Jaejoong yang menurutnya sudah sangat melukai hatinya. Luka tak kasat mata yang Junsu tidak tahu apakah luka itu sudah tertutup atau masih menganga.
"Oh.. uhm.." Junsu kehilangan kata-katanya karena tidak tahu harus berkata apa pada Jaejoong. Hingga akhirnya ia teringat sesuatu yang mungkin bisa mengalihkan perhatiannya.
"Hey, apa kau sudah menelpon Changmin?" tanya Junsu mengalihkan percakapan mereka.
"Astaga! Aku lupa! Aku yakin si Baby Minnie akan merajuk padaku karena aku tidak menelponnya minggu kemarin. Terimakasih Junsu yah sudah mengingatkanku~" ucap Jaejoong menepuk keningnya ketika ia lupa belum menelpon Changmin minggu ini.
Jaejoong akan menelpon Changmin di malam Kamis setiap minggunya. Ia sudah melewatkan minggu kemarin karena pikirannya selalu di bayang-bayangi Jung Yunho dan ia tidak akan melewati minggu ini sebelum baby-nya itu mengancam akan segera pulang jika ia lupa menelponnya.
"Sudah ya~ kita bertemu di sekolah besok. Sekarang aku mau menghubungi Minnie~"
Jaejoong mengakhiri sambungan teleponnya dengan Junsu kemudian menekan nomor baru yang sudah sangat ia hapal di luar kepala. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menempelkan ponsel ke telinga kanannya lagi. Berharap Changmin tidak marah padanya –tapi well, hal itu sangatlah tidak mungkin. Changmin marah padanya? Not even in dream. Namun setelahnya, ia mengerang pelan dan mendengus keras ketika operator provider mengingatkan bahwa ia tidak bisa melakukan panggilan karena tagihan bulan ini belum di bayar.
"Oh God! Kenapa aku harus lupa kalau aku belum membayar tagihannya?!" gerutu Jaejoong gemas sambil meleparkan ponsel ke atas tempat tidur karena frustasi.
"Aku yakin nuna tidak mau meminjamkan ponselnya padaku." Gumam Jaejoong sambil berdiri dari tempat tidurnya dan memikirkan cara bagaimana ia bisa menghubungi Changmin. Ia melirik jam dinding yang tergantung di atas meja belajarnya dan jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Uhm.. well, tidak ada salahnya mencoba."
~.~.~.~.~.~
"Aku akan meminjamkan ponsel padamu asalkan kau berjanji akan membelikan tas Channel yang sudah lama kuincar."
"Kau pikir aku punya uang sebanyak itu?"
"Mau belikan atau tidak?"
"Aish~! Aku hanya meminjam beberapa menit saja, nuna yaaaaah~"
"Internasional? Aku tahu kau akan menelpon Changmin. Ini bukan yang pertama kalinya."
"Ugh.."
"Jadi pinjam atau tidak?" Jaejoong melirik tajam kakak perempuannya yang sedang tersenyum menyeringai. Entah bagaimana ceritanya ia bisa memiliki saudara yang begitu komersil dan kapitalis sepertinya.
"Aish~! Dasar pelit." Dumel Jaejoong beringsut sebal sambil berjalan keluar dari kamar nuna-nya yang terlihat serba pink dan ungu itu. Perempuan yang lebih tua 3 tahun darinya itu hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
"Huh! Dia pikir harga tas Channel seharga 1 porsi ddeokbokki?!" Jaejoong masih beringsut kesal sambil berjalan menuju kamarnya untuk memakai hoodie dan juga celana jins compang-camping kesayangannya. Tidak ada pilihan lain selain pergi ke box telepon umum di ujung gang dua blok dari rumahnya.
Jaejoong berjalan keluar rumah dan bergidig dingin ketika hembusan angin malam langsung menyapanya. Menghepaskan rambut black-maroon nya dengan perlahan. Sekarang sudah memasuki bulan akhir Januari dan musim dingin sudah hampir usai. Namun sisa-sisa suasana musim dingin masih terasa. Membuat Jaejoong memasukkan kedua tangan ke dalam saku hoodie biru tua yang dipakainya.
Jaejoong membuka pintu box telepon bercat merah yang berada di ujung gang dua blok dari rumahnya. Angin malam berhenti menyentuhnya ketika ia sudah berada di dalam box telepon. Perjalanan 10 menit cukup membuat ujung hidungnya terlihat memerah karena kedinginan. Ia mengangkat gagang telepon hitam itu sambil memasukan kartu telepon dan mulai menekan angka-angka yang berderet di hadapannya.
Setelah menunggu beberapa nada tunggu, akhirnya orang di sebrang sana mengangkatnya. Jaejoong baru saja menyebutkan namanya namun ia langsung menjauhkan gagang telepon dari telinga ketika lengkingan Changmin membuat telinganya berdengung bising.
"Aish~! Kau harus belajar mengontrol lengkinganmu Minnie ah~ pitch control~"
"Jae hyung! Kenapa kau baru menelponku lagi?! Apa kau lupa padaku sampai kau tidak menelponku minggu kemarin?" terdengar suara rengekan dari sebrang telepon. " –bogoshipo hyung ah~!" lanjut suara itu. Membuat tarikan di kedua ujung bibir Jaejoong tak tertahan lagi dan melengkungkan sebuah senyuman.
"Arasseo~ arasseo~" jawab Jaejoong yang membuat Changmin merengek pelan ketika ia tidak mendapatkan balasan bahwa Jaejoong juga merindukannya. Changmin sangat merindukan hyung nya. Membuatnya yang sedang bersekolah di Amerika jurusan hukum di Harvard sejak 3 tahun lalu selalu ingin segera pulang ke tanah kelahirannya.
"Hyung! Aku mendapatkan nilai A+ untuk mata kuliah intellectual property law!"
"Yes~~ that's my baby Minnie~! I know you are the best~~~" Jaejoong turut senang ketika Changmin mengumumkan hasil belajarnya di negeri Paman Sam itu yang tidak pernah gagal untuk membuat dirinya bangga.
Meskipun Changmin lebih muda 1 tahun darinya, tapi Changmin sudah berada 3 tingkat di atasnya –setingkat dengan nuna nya –Boa. Ia terlahir dengan otak yang sangat jenius. Tapi tetap saja, sikapnya yang memang lebih muda dari Jaejoong itu membuatnya bersikap manja pada Jaejoong.
Well, afterall Changmin is still a baby for Jaejoong.
Mereka berbicara cukup lama hingga tanpa sadar ada seseorang yang mengetuk-ngetuk pintu box telepon yang menutup. Jaejoong menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat seorang pria paruh baya terlihat berdiri di depan box telepon umum.
"Minnie~ aku akan menelpon lagi." ucap Jaejoong pada Changmin yang masih bercerita panjang lebar pada Jaejoong.
"EH?! Wae?!"
"Apa kau tidak sadar kita sudah bercerita lebih dari 30 menit? Aku sedang di telepon umum dan sepertinya ada seseorang yang mau memakainya." Jaejoong menjelaskan berharap Changmin mengerti.
"Aiiiee~ bagaimana kalau nanti aku menelponmu, hyung?"
"Kau ingat perjanjian kita?" desis Jaejoong pada Changmin yang membuatnya menggerutu pelan.
"Ara~ ara~ aku tidak boleh menelponmu dan harus fokus belajar. Ara~~" jawab Changmin memutar kedua bola matanya. Meskipun Jaejoong tidak bisa melihatnya, namun ia terlalu mengenal Changmin melebihi siapapun.
"Don't sulking and rolling your damn eyes, okay? I promise I'll call you next week. Now bye~" ucap Jaejoong sambil memutuskan sambungan teleponnya setelah mendapat jawaban pelan 'ne~' dari Changmin. Ia meletakan kembali gagang telepon ketempatnya lalu mengambil kartu miliknya dan keluar dari box telepon.
"Maaf tuan aku terlalu lama menggunakannya, kau bisa menggunakannya sekarang." Ucap Jaejoong sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya pada pria paruh baya yang kini berdiri di hadapannya Jaejoong.
"Tuan? Kenapa kau memanggilku seperti itu~? Apa aku terlihat tua~?" tanya pria paruh baya itu terkekeh pelan. Membuat Jaejoong menegakkan kembali kepalanya dan mengerutkan kening bingung ketika melihat pria paruh baya itu sedang menatapnya. Jaejoong mengerjapkan matanya berkali-kali ketika melihat tatapan mata itu.
"Ah –aniya. Aku tidak bermaksud tidak sopan. Kau bisa menggunakan teleponnya sekarang. Selamat malam." Ucap Jaejoong sambil berbalik dan buru-buru ingin meninggalkan tempat itu ketika melihat gelagat aneh dari pria paruh baya yang masih menatapnya.
"Kau mau kemana eh? Buru-buru sekali~ aku sedang kesepian~ kau bisa menemaniku~ cantik~"
Jaejoong bergidig ngeri ketika pria paruh baya itu menahan lengannya. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan itu namun tenaga pria yang sedang memegangnya sangatlah kuat. Mereka bilang, tenaga orang yang sedang mabuk bisa berkali-kali lipat lebih kuat. Jaejoong menelan ludahnya perlahan ketika ia menyadari bahwa pria paruh baya itu sedang mabuk dan salah mengenalinya sebagai seorang perempuan.
"Ugh.. maaf tuan, tapi aku memang sedang buru-buru –dan aku bukan perempuan." Jaejoong lagi-lagi berusaha melepaskan tangan yang masih memegang lengannya dengan paksa dan tersenyum meringis pada pria paruh baya yang kini terlihat sangat mesum di mata Jaejoong.
"Eeeehh~~? Kau pasti berbohong padaku~ tidak mungkin kau bukan seorang perempuan dengan wajah secantik itu~~? Ayo lah~ temani 'oppa'~" pria paruh baya itu masih terkekeh sambil memperhatikan Jaejoong dari atas sampai bawah kemudian kembali menatap wajah Jaejoong lalu menjilat bibirnya.
Tubuh Jaejoong semakin merinding jijik ketika pria paruh baya itu menyebut dirinya 'oppa' di hadapan Jaejoong dan menjilat bibir dengan lidahnya seolah menggoda Jaejoong. Membuat ia ingin memukul wajah mesum itu. Tapi ia tahu, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
"Maaf tuan. Tapi aku benar-benar seorang laki-laki. Jadi.. kau bisa mencari perempuan di tempat lain untuk menemanimu. Ok?" Ucap Jaejoong lagi berusaha untuk tidak melakukan kekerasan dan melepaskan diri.
"Ooo~ kau sangat cantik untuk ukuran seorang laki-laki! Bahkan lebih cantik dari perempuan manapun yang pernah kutemui, eh~~? Mungkin ini akan menjadi malam pertemamu dan pertamaku dengan laki-laki, eh~~~?" ucap pria paruh baya itu tanpa melepaskan lengan Jaejoong dan kini menyeret Jaejoong berjalan mendekati mobil yang diparkir di samping box telepon. Membuat Jaejoong membelalakan matanya horror.
"Ya, YA!" Jaejoong berteriak. Ia lagi-lagi berusaha melepaskan genggaman tangan itu. Tapi kekuatan orang mabuk benar-benar tidak bisa ia prediksi akan sekuat ini.
Jaejoong kini berteriak agar pria paruh baya itu melepaskannya. Suasana malam yang sudah sepi membuat Jaejoong tidak bisa berteriak meminta tolong. Ia bahkan sempat menendang kaki orang itu, namun pria paruh baya yang kini menyeretnya masuk ke dalam mobil tidak terjatuh sama sekali. Membuat Jaejoong kini ketakutan karena ia sudah berada di dalam mobil di jok kursi belakang.
"Ch –cha –chakkaman!" lengking Jaejoong panik ketika punggungnya menyentuh jok kursi belakang dan pria paruh baya yang berada di atas tubuhnya.
"Sssshhh~" pria paruh baya itu semakin tersenyum mesum. Membuat Jaejoong membelalakan matanya lebar-lebar.
"SEKKYA!" teriak Jaejoong semakin panik ketika paha kirinya disentuh oleh pria paruh baya yang sepertinya sangat mabuk berat.
Jaejoong hendak menendang area private pria paruh baya itu dengan lutut kanannya ketika tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca dan sebuah batu besar menembus kaca mobil lalu mengenai tepat kepala pria paruh baya itu. Membuat kepalanya mengeluarkan darah yang mengalir ke kening dan pelipisnya. Pria paruh baya itu mengambil batu besar yang tergeletak di dalam mobilnya.
"Sialan! Siapa yang melempar batu?!" geram pria paruh baya itu sambil menyentuh kepalanya yang berdarah dan keluar dari mobil. Begitu ia keluar dari mobil, wajahnya langsung di sapa oleh sebuah pukulan keras yang mengenai tepat pelipis kirinya dan membuatnya jatuh tersungkur ke atas trotoar.
Jaejoong yang masih berada di dalam mobil hanya bisa menggenggam erat hoodie biru tuanya dengan nafas terengah–engah dan menatap keluar mobil tanpa berkedip ketika melihat segerombolan orang mulai memukul dan menendang pria paruh baya itu.
Seolah tersadar dengan situasinya, Jaejoong buru-buru keluar dari pintu satunya lagi sebelum keadaannya semakin kacau jika ia bertemu dengan segerombolan preman yang mungkin akan lebih menyeramkan dari pria paruh baya itu.
Jaejoong mengendap-endap secara perlahan agar tidak terlihat oleh gerombolan preman itu. Ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk memeriksa keadaan pria paruh baya yang sesungguhnya tak berdosa dan hanya terjebak dalam peliknya pengaruh alkohol. Namun ia menyesali perbuatannya untuk memeriksa keadaan di balik tubuhnya. Ia membeku ditempatnya berpijak ketika ia mengenali salah seorang dari gerombolan itu. Otaknya seolah ikut membeku yang membuat sensor motorik tak bekerja pada tubuhnya ketika melihat Yunho dan yang lain ada di hadapannya dan sedang memukuli pria paruh baya itu tanpa ampun. Ia seharusnya berlari dan meninggalkan tempat itu sebelum terlambat, namun ia hanya bisa diam terpaku ketika dirinya tertangkap dan terperangkap oleh mata coklat hazelnut itu.
"Heh? Ternyata kau yang berteriak-teriak seperti gadis perawan yang meminta tolong." Ucap Yunho berdecak mencemooh sambil berjalan mendekati Jaejoong yang masih berdiri mematung di dekat box telepon dan meninggalkan kekacauan yang ia buat. Membiarkan yang lain mengerjakan sisanya.
Jaejoong menelan ludahnya perlahan ketika melihat sosok Yunho yang berjalan mendekatinya. Ia berjalan mundur dengan perlahan ketika Yunho semakin mendekatinya. Punggungnya sudah menyentuh permukaan box telepon. Ia sudah hendak berlari ketika suara hentakan yang cukup keras menghentikannya. Ia tidak mengerjapkan matanya barang sedetikpun ketika melihat tangan kanan Yunho menghentak keras box telepon tepat di depan kedua matanya. Pelariannya tertahan karena tangan itu kini menahannya.
"Where do you think you are going?" desis Yunho pelan di dekat telinga Jaejoong yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika ketika mendengar desisan itu.
Jaejoong berusaha untuk tidak menolehkan kepalanya menatap Yunho, namun seperti ada tarikan magnet dari tatapan dingin itu yang membuat Jaejoong menolehkan kepala menatap wajah tampan Yunho yang terasa sangat dekat dengan wajahnya. Jika dilihat dari dekat, Yunho benar-benar terlihat sangat tampan dengan perpaduan kontur wajah yang sempurna. Namun ia tahu, di balik keindahan itu akan selalu tersembunyi sesuatu yang menakutkan. Jaejoong menelan ludahnya perlahan.
"Uhm.. pulang?" jawab Jaejoong pelan tidak yakin juga dengan jawabannya sambil tersenyum meringis pada Yunho. Yunho hanya mendegus dan tertawa pelan mendengar jawaban Jaejoong.
"What are you? A virgin girl who needs mommy's cuddle? Now look, who is the one fighting like a pussie and look like a loser who don't have a dick, eh?"
"Hey –! Siapa yang kau maksud itu?!"
"Kau pikir aku sedang berbicara dengan siapa?" tanya Yunho dengan suara baritone nya yang terdengar begitu berat. Membuat wajah Jaejoong mengerut kesal dengan apa yang dikatakan Yunho padanya.
"Terserah kau saja." Jawab Jaejoong malas meladeni Yunho. Ia terlalu lelah sekarang. Ia mendorong tangan Yunho yang menghalanginya itu. Namun Yunho kembali menghalangi Jaejoong. Membuat Jaejoong melirik Yunho dari sudut matanya.
"Apa seperti itu caramu berterimakasih pada penolongmu, huh?"
"Aku tidak ingat aku meminta tolong padamu." Jawab Jaejoong sengit yang membuat Yunho mengatupkan rahang dan menggertakkan giginya.
Jaejoong kini menatap mata sipit Yunho dengan tatapan tak kalah dingin darinya. Seolah menunjukkan pada Yunho bahwa ia tidak takut padanya –meskipun ada rasa panik dan gelisah yang menyelimutinya jika ia mengingat siapa orang yang berdiri di hadapannya itu. Tapi, ia tidak akan membiarkan harga dirinya di injak-injak seperti itu tanpa melakukan perlawanan.
"Hyung~ kita apakan orang ini?" suara bass yang husky tiba-tiba terdengar ketika Yunho dan Jaejoong saling tatap dengan tatapan yang begitu sengit.
Manik mata coklat hazelnut Yunho terpaksa bergerak menatap TOP yang sedang menunggu jawaban darinya. Ia berdesis pelan. Kesal ketika TOP menginterupsinya.
"Terserah kalian saja. Singkirkan juga beserta mobilnya. Aku muak melihat sampah seperti itu."
Jaejoong menolehkan kepalanya ke samping untuk melihat orang bernama TOP itu. Wajahnya terlihat seram namun tetap terlihat begitu tampan. Alis dan juga bentuk mata yang agak naik membuatnya terlihat seperti seorang gangster. But well yah~ dia memang seorang gangster. Ia juga melihat Yoochun berada di sana. Entah hanya perasaannya saja atau bukan, tapi semua gangster itu memiliki wajah di atas rata-rata. Harus Jaejoong akui kalau mereka memiliki wajah yang tampan. Ia pikir, semua gangster memiliki badan besar dan wajah jelek dengan bekas luka di setiap wajahnya. Tapi, sepertinya Shine adalah gangster berwajah boyband. Membuatnya Jaejoong ingin tertawa ketika memikirnya. Tapi, ia hanya bisa mengeluarkan suara tawa yang meringis pelan melihat seringaian TOP dan juga yang lainnya ketika mendengar perintah Yunho.
Junsu benar, Jung Yunho bisa membunuh siapapun tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
"Hey –apa yang kau tertawakan dan siapa yang kau lihat?! Cari mati?! Jangan menatap orang lain ketika aku berada di hadapanmu." Suara baritone itu memecah pikiran Jaejoong yang sedang menatap prihatin pria paruh baya yang sudah terlihat babak belur tak sadarkan diri.
Jaejoong menolehkan kembali kepalanya menatap wajah Yunho yang tepat berada di hadapannya. Ia menghembuskan nafasnya keras-keras sambil melipat kedua tangan di depan dada dan menyandarkan punggungnya pada box telepon. Berusaha merileksikan otot-ototnya yang menegang. Ia tahu Yunho sangat berbahaya, tapi ia juga merasa sangat yakin kalau Yunho tidak akan melukainya.
Not yet.
"Memangnya salah kalau aku melihat sekelilingku? Apa hakmu melarangku untuk melihat?" desis Jaejoong berusaha untuk tenang dan tidak takut pada laki-laki bar-bar yang kini ada dihadapannya. Ia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya pada Yunho. Meskipun rasanya ia ingin berlari seperti saat ia melarikan diri dari salon bibi Ahn ketika tatapan dingin Yunho seolah membekukan seluruh aliran darahnya.
"Ck~ sudah menangis seperti anak ingusan berteriak-teriak minta tolong sekarang masih bisa sombong seperti ini." Yunho berdecak dan menyeringai tanpa mengalihkan tatapan matanya pada mata hitam dan besar Jaejoong yang seperti lubang tak berdasar. Ia suka menatap mata hitam Jaejoong. Membuatnya seperti terjebak dalam lubang hitam itu dan membuatnya seolah tertantang untuk menjelajahinya, karena ia sangat menyukai sebuah tantangan.
"YA! Aku tidak menangis!" lengking Jaejoong semakin kesal. Apapun kata-kata yang keluar dari mulut Yunho, selalu saja membuat urat-uratnya menegang.
"Sudahlah hyung~ berhenti menggodanya." Seseorang lagi-lagi menginterupsi keduanya yang terlihat semakin sengit.
"Ini bukan urusanmu, Yuu." Suara baritone Yunho terdengar begitu dingin ketika ia berbicara dengan Yuu –laki-laki berdarah campuran Jepang-Spanyol itu. Yuu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah dan takut pada Yunho. Namun setelahnya ia terkekeh pelan sambil berjalan mendekati Yunho dan Jaejoong.
Mata berwarna abu tua itu melirik laki-laki berambut black-maroon yang ada di hadapan Yunho. Salah satu sudut bibirnya terangkat dan terlihat seperti sebuah seringaian ketika ia melihat mata hitam dan besar Jaejoong yang sedang menatapnya. Seperti anak kucing yang kehilangan induknya.
"What a sweet kitten you have there, hyung ah~" Yuu kini merangkul bahu Yunho dari belakang. Membuat Yunho memutar kedua bola matanya jengkel. " –estás bien?" tanya Yuu pada Jaejoong tanpa melepaskan tatapan matanya.
Jaejoong mengerjapkan matanya berkali-kali ketika melihat laki-laki bertubuh tinggi dan berwajah blasteran itu bertanya padanya dengan bahasa asing yang tidak ia mengerti.
"Ah –ne." jawab Jaejoong spontan tanpa mengalihkan tatapan matanya pada mata berwarna abu tua itu. Mata abu tua yang terlihat begitu.. mempesona. Ia penasaran pada laki-laki yang tiba-tiba saja bertanya dengan bahasa yang ia tidak mengerti, namun ia bisa menjawabnya seolah-olah laki-laki itu memang menanyakan keadaannya.
Yunho mengatupkan rahangnya kuat-kuat ketika melihat tatapan mata Jaejoong begitu terpaku pada Yuu yang berada di balik tubuhnya.
"Now get lost before I break your damn neck." Desis Yunho pada Yuu yang sedang merangkulnya. Yuu lagi-lagi hanya terkekeh pelan.
"Kau melupakan Tiffanny." Ucap Yuu sambil melepaskan Yunho dan menolehkan kepalanya menatap perempuan yang kini berdiri di samping mereka.
Manik mata Yunho bergerak menatap perempuan cantik dengan rambut panjang hitam sepinggang sedang menatap ke arahnya. Ia lupa kalau perempuan itu sedang bersamannya.
"Yunho oppa.. ayo kita pergi.. aku takut." Bisik Tiffanny pelan sambil berjalan mendekati Yunho dan menggenggam tangan kirinya. Membuat Jaejoong cukup terkejut ketika melihat ada seorang perempuan cantik di tengah-tengah kekacauan ini.
Yunho menepis tangan Tiffanny dengan kasar. "Kau duluan saja dengan yang lain." Jawab Yunho dengan nada suara sedingin angin malam. Bahkan lebih dingin dari itu.
"Kenapa? Aku ingin bersama oppa." Suara perempuan itu terdengar pecah seperti ingin menangis. Membuat Jaejoong merasa canggung berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Ia sedang tidak menonton serial drama secara live 'kan?
"Aku masih ada urusan dengannya." Jawab Yunho sambil menunjuk Jaejoong dengan dagunya.
Jaejoong melirik Yunho dan perempuan itu bergantian." –Yuu, take her with you." Lanjut Yunho pada Yuu yang masih berdiri dibelakangnya. Yuu hanya mengulum lidah sebelum akhirnya ia mendekati Tiffanny dan merangkul bahunya.
"My pleasure~" Jawab Yuu tersenyum menyeringai. " –Kajja." Yuu menarik Tiffanny untuk pergi dari sana. Namun Tiffanny menggelengkan kepala dan membuat air mata yang terbendung di sudut matanya kini mengalir di kedua pipi putih itu. Yuu hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus jejak air mata di pipi putih Tiffanny dengan ibu jari kanannya. Membuat Tiffanny kini menundukkan kepalanya.
Jaejoong melirik Tiffanny yang berdiri di hadapan Yuu dengan kepala tertunduk. Ia merasa prihatin dengan perempuan manis itu ketika Yunho bersikap begitu dingin padanya.
Tiffanny menolehkan kepalanya menatap Jaejoong. Kedua mata mereka bertemu. Jaejoong sedikit menyunggingkan senyumnya, namun senyum Jaejoong seketika menghilang ketika ia berani bersumpah melihat tatapan mata Tiffanny yang seolah sedang menyayat-nyayatnya dengan sebuah silet sebelum akhirnya ia berjalan bersama Yuu meninggalkan dirinya dan Yunho.
Bulu kuduk Jaejoong berdiri ketika ia mengingat tatapan mata itu. For real?
"Hyung, kami tunggu di 'Mirotic'" ucap TOP yang sudah selesai menyingkirkan pria paruh baya itu beserta mobilnya.
Tidak.. ia tidak membunuhnya. Hanya menyeret pria paruh baya itu ke dalam gang sempit yang kotor dan menghancurkan mobilnya dengan batt baseball besi yang dibawanya. Percayalah, ia sangat menyukai batt baseball besinya menghancurkan sesuatu.
Hanya itu.. well, at least.
Kini TOP, Yuu, Tiffanny, Yoochun dan beberapa orang lainnya berjalan meninggalkan keduanya. Membuat Jaejoong menelan ludahnya karena hanya Yunho yang masih tersisa di sana.
"Be careful, Joongie~" suara serak itu akhirnya terdengar. Membuat Jaejoong menolehkan kepalanya dengan cepat hingga terasa sakit pada Yoochun yang kini melambaikan tangannya sambil berjalan mundur dengan seringaian menyebalkan yang tidak pernah lepas dari bibir itu. Seringaian yang seolah mencemooh dan mengejeknya. Membuat Jaejoong menggeram gemas.
"I'm in front of you damn eyes! What are you looking at, heh?!"
"APA?! Memangnya salah kalau aku melihat apapun yang ingin kulihat?!" emosi Jaejoong memuncak setelah ia melihat Yoochun yang seolah mengejeknya lagi dan Yunho yang bar-bar masih berdiri di hadapannya. Ia semakin frustasi.
"Ck~ dan kau masih bisa berteriak-teriak seperti itu setelah apa yang kulakukan untuk menolongmu?"
"Sekarang apa lagi maumu Jung Yunho? Sudah kubilang, aku tidak ingat aku meminta tolong padamu dan kalau kau ingin menghajarku, kita lakukan secara gentle man right here right now! Don't bossy around and showing off your arrogant face."
"Kenapa kau tidak menelponku? Masih berani mencoba untuk melarikan diri?" suara Yunho terdengar pelan namun begitu berbahaya. Bagai bisa beracun yang membunuh secara perlahan dan begitu mematikan. Membuat Jaejoong membelalakan matanya terkejut. Rasa jengkelnya pada Yunho tiba-tiba saja menguap mengudara terhempas hembusan angin malam entah kemana ketika Yunho tidak menanggapi ucapannya. Ia seolah terjatuh dari ujung tebing ketika ia sudah terpojok. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Yunho.
"A –aku sibuk." Jawab Jaejoong tanpa menatap mata coklat hazelnut itu.
"Sibuk sampai kau berkeliaran malam-malam seperti ini? Sudah tahu pengecut, masih berani keluar malam."
"Hey! Berhentilah mengataiku! Apa kau begitu dendam karena perkataanku di Ragnarok? Please be mature enough, I already have said sorry."
"Di mana rumahmu?" Yunho menegakkan tubuhnya dan melepaskan Jaejoong dari kurungan tangannya.
"Hah?" Jaejoong dibuat bingung karena tiba-tiba saja Yunho menanyakan keberadaan rumahnya ketika ia sudah begitu serius dengan masalah mereka. Yunho selalu saja tidak menghiraukan apa yang diucapkannya dan selalu mengganti topik pembicaraan dalam hitungan detik.
"Apa kau tidak tahu kalau aku tidak suka mengulangi perkataanku?!" Yunho membentak tidak sabar. Membuat Jaejoong terperanjat kaget.
"Kau tidak perlu membentak seperti itu! Ish~ Jinjja!" Emosi Jaejoong kembali tersulut. Ia menghembuskan nafasnya keras-keras ketika melihat tatapan mematikan itu lagi. " –rumahku dua blok dari gang ini." Lanjut Jaejoong tidak ingin membuat beruang yang ada di hadapannya semakin mengamuk.
"Kajja."
"Kemana?"
"Tentu saja rumahmu, idiot! Oh, apa isi kepalamu hanya berisi labu saja?! Aish~! Tidak heran kalau kau begitu bodoh."
"Bisa tidak sih kau berhenti mengataiku?! Lagipula mau apa kau ke rumahku? Di rumahku tidak ada apa-apa untuk bisa kau jadikan barang sitaan. Kecuali kau mau mengambil kakak perempuanku, aku tidak keberatan."
"Cerewet. Berhenti bicara dan turuti saja kata-kataku." Ucap Yunho sambil berjalan ke arah rumah Jaejoong dan lagi-lagi menghiraukan ucapannya. Mambuat Jaejoong hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya gemas sambil mengumpat pelan ketika Yunho sudah berjalan duluan di hadapannya.
~.~.~.~.~.~
Selama 10 menit perjalanan menuju rumah Jaejoong, keduanya terjebak dalam kesunyian dan kebisuan. Tidak ada satupun dari keduanya yang berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan. Tapi Jaejoong lebih memilih keadaan seperti ini daripada mendengarkan Yunho berbicara yang tidak akan pernah absen untuk mengatainya. Ini jauh terasa lebih tenang dan tentram. Ia tidak perlu sia-sia mengeluarkan tenaganya untuk menanggapi ucapan Yunho yang tajam dan kejam.
"Kau –ingin masuk dulu dan meminum teh?" tanya Jaejoong basa-basi walaupun sebenarnya ia ingin menendang Yunho untuk menajuh dari rumahnya. Tapi ia lebih memilih memasang poker face-nya karena ia tidak ingin berdebat dengan Yunho lagi.
Nasihat orang tuanya selalu menempel dalam benaknya. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Jadi, tidak ada salahnya ia mencoba untuk memberikan kebaikan dan mendapatkan balasan kebaikan juga 'kan?
"Oh ini rumahmu? Kecil sekali. Hanya sepertiga dari kamar anjingku." Ucapan Yunho membuat kepala Jaejoong berdenyut sakit. Jaejoong hanya bisa memejamkan matanya lalu menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Sabar.
"Jadi kau mau masuk dulu atau tidak?" desis Jaejoong berusaha tersenyum sabar pada Yunho.
Manik mata coklat hazelnut Yunho bergerak menatap wajah Jaejoong yang terlihat sedang tersenyum memaksa padanya. Membuat Yunho terkekeh pelan ketika melihatnya.
"Kau tahu? Kalau kau seperti itu, wajahmu jauh terlihat lebih jelek lagi."
"AISH! Terserah kau saja!" Jaejoong berteriak frustasi sambil berbalik dan berjalan masuk menuju rumahnya. Tidak mempedulikan Yunho lagi. Kesabarannya semakin menipis.
"Apa seperti itu sikapmu pada orang yang sudah berbaik hati mengantarmu, eh?"
Jaejoong berhenti melangkah. Ia menghitung sampai 5 sambil menghirup dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Sebelum akhirnya berbalik dan tersenyum begitu lebar pada Yunho kemudian membungkuk 90 derajat di hadapannya. Berharap hal itu bisa membuat radio rusak bernama Jung Yunho berhenti membuat emosinya meledak-ledak.
"Jeongmal kamsahamnida Jung Yunho ssi." Ucap Jaejoong dalam bungkuknya dengan bahasa formal.
Jika sedang berhadapan dengan Jung Yunho, sepertinya harga diri seorang Kim Jaejoong menghilang entah kemana. Prinsipnya untuk tetap menjaga harga diri sepertinya hanya sebuah ilusi semata. Ia sudah melempar harga dirinya itu jauh-jauh ketika batinnya terasa begitu tersiksa secara emosional karena seseorang bernama Jung Yunho. Ia bisa gila.
Jaejoong bisa mendengar suara tawa Yunho. Ia menegakkan kembali tubuhnya ketika mendegar suara tawa itu. Suara tawa yang begitu berbeda dan belum pernah ia dengar. Terdengar begitu lepas dan renyah di kedua telinganya.
"You know? You are just too cute in every ways." Ucap Yunho yang membuat wajah putih Jaejoong memerah dengan cepat. Rasanya terasa begitu panas hingga ke telinganya. Beruntung langit malam yang gelap menyamarkan rona merah itu. Ia tidak menyangka jika Yunho akan mengatakan hal seperti itu padanya.
"Masuklah. Angin malam ini terasa cukup membunuh." Ucap Yunho lagi yang membuat Jaejoong semakin tidak bisa berkata-kata. Si mulut sadis Jung Yunho kini mengatakan kalimat yang terdengar begitu perhatian padanya? Tentu~ kebaikan akan di balas dengan kebaikan. Rasanya seperti mimpi.
"Well.. terimakasih." Jawab Jaejoong tidak tahu harus berkata apa lagi. Ini terlalu canggung baginya.
"Begitu kau masuk ke dalam rumah, telepon aku."
"Kenapa?"
"Pokoknya telepon!"
"Kenapa harus telepon kalau sekarang kau berdiri tepat di depan hidungku?" tanya Jaejoong penasaran kenapa Yunho selalu menyuruhnya untuk menelpon. Memangnya ada topik yang bisa di ceritakan ketika ia menelponnya?
"Apa kau tuli?! Kalau aku menyuruhmu untuk menelpon, kau harus menelpon!" Yunho kembali menaikkan nada bicaranya.
Jaejoong menarik kembali pikirannya tentang Yunho yang terlihat manis ketika ia menyuruhnya masuk ke dalam rumah karena angin malam yang terasa begitu dingin. Ia menyesal telah berpikir seperti itu. Beruang tetap saja seekor beruang meskipun mereka terlihat lucu dan menggemaskan.
"Terserah kau saja! Aish~! Tapi yang jelas aku tidak bisa menelponmu sekarang."
"Apa-apaan itu? Cari mati, eh?!"
"Aku tidak punya telepon rumah."
"Hah?! Ya Tuhan, maaf aku tidak tahu kau begitu miskin." Ucap Yunho dengan wajah datar ketika mengucapkan itu. Tentu ia mengatakan maaf, namun jelas sekali seringaian penuh dengan ejekan itu terlukis di bibirnya. Emosi Jaejoong kembali bergejolak di ubun-ubunnya.
"YA! Aku bisa menuntutmu atas penghinaanmu itu!"
"Masih ada ponsel! Jadi berhenti membuat alasan-alasan tidak berguna seperti itu."
"Aku belum membayar tagihan ponselku! Dan berhenti menghiraukan ucapanku seperti angin lalu!"
"Kau benar-benar cari mati?!"
"Apa tidak ada kata-kata lain selain 'mati' yang bisa kau ucapkan, hah?!" nafas Jaejoong terdengar naik turun tidak teratur. Ia terengah-engah karena sudah berteriak-teriak seperti kingkong. Ia bahkan lupa kalau sekarang sudah hampir tengah malam. Berbicara dengan Jung Yunho benar-benar seperti berlari 10 km yang mengeluarkan banyak tenaga dan energi.
"Cepat masuk ke dalam rumah. Angin dingin berhembus semakin kencang. Jangan keluar malam-malam lagi kalau kau begitu pengecut."
Jaejoong memutar kedua bola matanya sambil berbalik dan membuka pintu gerbang rumah ketika lagi-lagi Yunho merubah topik pembicaraan seperti ia membalikkan telapak tangan.
Begitu mudahnya.
"Kalau kau tidak menelponku –"
" –iya, iya! Aku telepon!" ucap Jaejoong memotong ucapan Yunho. Yunho tersenyum pada Jaejoong yang masih memunggunginya ketika ia masuk ke dalam halaman rumah kemudian berbalik kembali menatap Yunho.
"Aku harus pergi." ucap Yunho berpamitan. Namun ia masih belum juga beranjak dari tempatnya berpijak. Membuat Jaejoong mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa kau masih disana?"
"Aku harus memastikan kau selamat masuk ke dalam rumahmu." Jawaban Yunho yang spontan membuat tarikan di kedua ujung bibir Jaejoong hampir saja melengkungkan senyuman. Namun ia menahannya dan lebih memilih menggigit bibir bawahnya.
"Well.. baiklah." Ucap Jaejoong sambil berbalik menuju rumahnya.
Yunho itu tipe orang yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa ditebak dengan apa yang sedang dipikirkannya dengan mudah. Ia selalu penuh kejutan. Terkadang sikapnya menjengkelkan, menyebalkan, kasar, dan tidak sopan, namun ada sisi manis, lucu, dan menggemaskan dari pewaris tunggal kkapgae itu. Membuat Jaejoong berpikir, mungkin Yunho bukanlah orang jahat. Ia hanya tidak bisa menyampaikan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkannya dengan cara yang benar. Ia hanya menggunakan instingnya dengan cara memaksa seperti apa yang ia inginkan dan harapkan.
Dasar bar-bar. Pikir Jaejoong menggeleng pelan sambil masuk ke dalam rumahnya. Setelah ia menutup pintu, ia mengintip dari balik gorden di samping pintu rumah dan melihat punggung Yunho yang menjauhi rumahnya.
Tanpa sadar, tarikan di kedua ujung bibirnya melengkungkan sebuah senyuman ketika menyadari bahwa Jung Yunho sudah mengantarkannya pulang ke rumah.
"Well.. not that bad."
============= TBC =============
UPDATE! WOHOOOOOOOO! xDDD seneng deh klo bsa apdet cepet gini 8D LOL
awalnya hari ini aku sibuk ngerjain progress report... tp karena berhubung akunya lg sakit mata, jadinya dari pada ga ngapa2in akhirnya memutuskan buat apdet aja.. soalnya udah apdet ini aku nya jg mau tidur :3 akunya ga bsa ngerjain tugas gara2 sakit mata *curcol* LOL
jadiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii... makin penasaran ga ama ceritanya? hehehe xD
udah bsa dapet karakter dari masing2 castnya ga? gimme ur opinion
I read all of ur comments and that really made my day! thank you so much! I'm glad that u like my story X3 I love you all my beloved reader :)
thanks for ur support! thats really mean a lot to me! ;)
dan semoga untuk chapter 4 selanjutnya bsa cepet yah apdetnya 8D
reviews are very lovely~~~~! and thank you! *deep bow*
