Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Danmachi © Fujino Ōmori
.
.
.
Pairing: Naruto x Hestia
Genre: romance/adventure/mystery/humor
Rating: T
Setting: canon (anime Naruto)
Scene battle/Editor: Mahmud Khem
Start: Sabtu, 25 Juni 2016
.
.
.
BODY HIDDEN IN THE SNOW VILLAGE
By Hikasya
.
.
.
Chapter 3. Pergi ke desa Yuki lagi
.
.
.
Mendengar bisikan Naruto yang terkesan menakutkan itu, mata Sakura terfokus pada kaki Hestia. Kaki Hestia tertutup dengan kimono putih yang dipakainya. Tapi, di bagian bawah kimono putih itu, melayang-layang tepat di udara. Sakura juga merasakan hawa dingin yang kini menusuk kulitnya. Seketika tubuhnya merinding karena kedinginan.
Seketika wajah Sakura memucat pasi dan syok di tempat. Dia membeku karena ketakutan.
"Ternyata benar. Dia adalah wanita salju. Hantu wanita salju. Yukionna!" jerit Sakura sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat."Naruto ... Kau benar. Jika ada hantu yang mengikutimu sekarang. Tapi ..."
Tiba-tiba, terjadilah sesuatu yang tidak disangka-sangka.
Apakah itu?
BUAAAAK!
Pada akhirnya, pipi Naruto sukses dipukul kuat dengan kepalan tangan Sakura. Sehingga membuat Naruto terlempar dan menabrak tembok pagar batu sebuah rumah warga.
BRUAAAAK!
Akibatnya Naruto terkapar di tanah dalam keadaan tidak elit. Di pipinya tercetak lebam biru yang terasa sangat sakit. Naasnya, reruntuhan kecil tembok pagar batu itu menimpa dirinya yang tergeletak dalam posisi tengkurap.
Terlihat Sakura memasang wajahnya yang garang dan hancur seperti monster. Kepalan tangannya meremas saking kesalnya. Menunjukkan urat perempatan tenaga luar biasanya.
"TAPI, JANGAN DEKAT-DEKAT KAYAK GITU SAMA AKU! KAU MEMANFAATKAN KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN! APA KAU MENGERTI, NARUTO?!" bentak Sakura yang sangat keras menggelegar.
"Aduuuh, sa-sakitnya ...," kata Naruto yang meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang membiru."I-Iya, aku ngerti. Kalau gitu, aku minta maaf."
"Huh, dasar Naruto no baka! Aku mau pulang dulu!"
Segera saja gadis berambut merah muda itu beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Naruto yang terbengong-bengong melihatnya.
SREK!
Dia bangkit berdiri dari acara terkaparnya dengan cepat. Bermaksud ingin mengejar Sakura.
"SAKURA! TUNGGU DULU!"
"JANGAN IKUTI AKU! SANA PULANG! URUS SENDIRI MASALAHMU ITU! AKU NGGAK MAU TAHU!"
"SAKURA!"
"BERISIK! AKU MAU PULANG!"
Dengan cepat, Sakura berjalan. Naruto pun tidak jadi mengejar Sakura. Hanya mampu berdiri terpaku sambil memandangi kepergian Sakura.
Terdiam tanpa kata-kata, wajahnya menjadi suram. Kedua mata birunya yang meredup. Menundukkan kepalanya dengan lesu.
"Sakura ...," gumam Naruto pelan. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang untuk menyelesaikan masalahnya ini.
DAP!
Tiba-tiba, pipinya yang membiru disentuh oleh sesuatu yang dingin dan lembut. Membuat dia menoleh ke arah sampingnya.
Rupanya Hestia. Gadis itu memegang pipinya yang terluka. Dalam sekejap mata, luka itu sembuh dengan sendirinya berkat kekuatan dari Hestia.
"Kau ...," ucap Naruto dengan raut muka yang mengeras."BERHENTILAH MENDEKATIKU! AKU NGGAK SUKA PADAMU, TAHU!"
DEG!
Secara refleks, Hestia menjauhkan jaraknya dari Naruto. Dia sangat syok karena Naruto membentaknya lagi dengan sangat keras.
"Gomen. Aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma membantu menyembuhkan luka di pipimu itu."
"Eh?" Naruto memegang pipinya. Sekarang pipinya tidak terasa sakit lagi.
Seketika itu, dia berwajah iba lagi saat melihat perubahan ekspresi yang ditunjuk oleh wajah Hestia. Wajah Hestia begitu suram.
"Terima kasih."
"Eh?"
Mulut Hestia ternganga. Dia bengong sebentar.
"Maksudmu?"
"Maksudnya terima kasih karena kau sudah menyembuhkan lukaku ini. Ternyata kau baik juga ya."
Mendengar itu, Hestia terpana di tempat. Dia melihat senyuman simpul tampak terukir di wajah Naruto.
Dengan perasaan senang, dia menganggukkan kepalanya. Rona merah tipis hingga di dua pipinya.
"Kau ingin menemukan tubuhmu yang hilang di desa Yuki itu, kan?" tanya Naruto kemudian. Dia berwajah sangat serius sekarang.
"Iya."
"Kalau gitu, aku akan membantumu untuk mencarinya. Bagaimana?"
"Eh?"
Hestia bengong lagi. Sedetik kemudian, dia mengangguk cepat.
"Ya, aku mau. Terima kasih kalau kamu mau membantuku, Naruto."
"Hm, sama-sama. Itu memang sudah kewajibanku untuk menolong sesama."
"Hehehe ... Kamu baik juga ya?"
"Tentu saja. Aku ini memang orang yang baik," Naruto tersenyum lebar dan segera berjalan menuju ke arah jalan rumahnya."Ayo, kita pulang dulu! Aku mau sarapan dan ganti pakaian. Sesudah itu, aku akan mengajakmu pergi menemui Kakashi-sensei."
Naruto malah pergi meninggalkan Hestia begitu saja. Tanpa menarik tangannya atau apa saja yang menunjukkan rasa pedulinya. Tentu saja hal ini membuat Hestia sedikit kesal.
"Huuuh, dasar Naruto itu nggak romantis sama sekali. Dia nggak menarik tanganku untuk pulang bersamanya. Lihat saja! Aku akan meluluhkan hatimu yang sekeras batu itu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!"
Yukionna itu menggerutu sendiri sambil mengubah dirinya menjadi partikel-partikel cahaya putih dan mulai mengejar Naruto yang sudah berjalan jauh di ujung jalan sana.
.
.
.
"Haaaah, kau itu jiwa yang terpisah dari tubuhmu? Apa itu benar, Hestia?" tanya Kakashi selaku Hokage keenam yang memimpin desa Konoha saat ini. Dia ternganga saat mendengar cerita lengkap dari Hestia dan Naruto.
Hestia yang berdiri tepat di hadapannya, mengangguk cepat. Di sampingnya, ada Naruto yang berdiri menemaninya.
Kini Naruto tampak mengenakan pakaian lengkapnya sebagai ninja. Dengan pelindung kepala yang melingkari kepalanya. Dia sudah bersiap-siap akan pergi ke desa Yuki bersama Hestia jika sang Hokage mengizinkannya.
"Ya, itu benar. Hestia adalah jiwa yang terbentuk dari elemen es yang digunakannya. Akukan sudah menjelaskannya padamu, Kakashi-sensei?" kata Naruto yang mewakili Hestia untuk membicarakan hal ini."Jadi, tolong izinkan kami pergi ke desa Yuki itu sekarang juga. Aku mohon, Sensei."
Pria itu hanya bisa menghelakan napasnya sambil duduk di kursi kebesarannya sebagai Hokage. Dia pun melipatkan tangannya di atas meja yang dipenuhi dengan dokumen-dokumen penting yang menjulang tinggi.
"Ya, baiklah. Aku mengizinkanmu pergi bersama Hestia sekarang. Tapi, kau harus ditemani dengan dua orang laginya. Dua ANBU kepercayaanku sudah memanggil mereka agar cepat datang ke sini untuk menemuiku."
"Eh?" Naruto bengong sebentar."Siapa dua orang itu?"
"Nanti kau tahu sendiri."
TOK! TOK! TOK!
Bersamaan itu, tiba-tiba pintu ruang Hokage diketuk oleh seseorang. Mereka menyadarinya dan menoleh ke arah pintu secara serentak.
"Ya, masuk saja!" seru Kakashi dengan nada tegas.
KRIEEET!
Pintu terbuka. Muncul dua orang dari balik pintu yang terbuka. Naruto sangat mengenalinya.
JREEENG!
Tampak seorang gadis berambut merah muda dan seorang laki-laki berkacamata hitam. Berdiri secara berdampingan.
"SAKURA! SHINO!" seru Naruto yang begitu senang ketika tahu kalau Sakura dan Shino yang akan menemaninya pergi ke desa Yuki itu.
"Lho ... Naruto?" Sakura menjadi bengong saat bertemu lagi dengan Naruto di ruang kerja Hokage ini."Ngapain kau di sini?"
"Tentu saja aku mau minta izin sama Kakashi-sensei untuk menemani Hestia ke desa Yuki. Aku ingin membantunya mencari tubuhnya yang hilang di sana."
Sakura menjadi bingung dengan arah pembicaraan Naruto.
"Mencari tubuh Hestia yang hilang? Apa maksudmu sih?"
"Ceritanya panjang. Lebih baik kamu mendengarkannya langsung dari Hestia."
Perhatian Sakura tertuju pada Hestia. Begitu juga dengan Shino.
"Hm ... Hestia. Jadi, nama gadis berpakaian serba putih itu Hestia ya?" sahut Shino yang memegang kacamatanya sebentar.
"Iya. Dia itu hantu. Hantu wanita salju," jawab Sakura.
"Maksudmu Yukionna?"
"Gitulah."
"Hm, aku mengerti."
Maka keduanya berjalan mendekati Naruto dan Hestia. Mereka memilih berdiri di samping Naruto.
Kemudian sang Hokage keenam mulai mengatakan apa yang ingin dia sampaikan pada semua orang di depan matanya ini.
"Baiklah, karena Sakura dan Shino sudah datang ke sini atas permintaanku. Maka aku akan memberikan sebuah misi mendadak untuk kalian bertiga. Naruto, Sakura, dan Shino."
Ketiga ninja itu mengangguk bersamaan. Mendengarkan penjelasan Kakashi yang akan dilanjutkan lagi, dengan seksama.
"Jadi begini ... Klien kita ini bernama lengkap Shinju Hestia. Dia adalah keturunan klan Shinju yang terakhir yang bisa mengendalikan elemen es. Klan yang diperkirakan sudah punah sejak 100 tahun yang lalu. Adanya cuma di desa Yuki," Kakashi mencoba bercerita dulu untuk menjelaskannya pada Sakura dan Shino yang belum tahu apa-apa soal misi ini berdasarkan cerita yang telah dibeberkan sedetail mungkin dari Hestia, beberapa menit yang lalu."Hestia sudah menceritakan semuanya padaku jika terjadi suatu peristiwa yang membuat klan Shinju itu terbunuh. Terus Hestia ini juga hampir terbunuh saat itu. Tapi, dia tidak mengingat apa-apa sampai jiwanya terpisah dari tubuhnya. Dia memperkirakan tubuhnya diculik oleh seseorang dan disembunyikan di suatu tempat yang ada di desa Yuki. Dia ingin menemukan tubuhnya kembali agar dia bisa hidup lagi. Intinya, dia belum mati. Wujudnya yang sekarang bukanlah arwah penasaran ataupun yukionna. Dia menunjukkan wujud serba putih ini lewat teknik memanipulasi elemen es agar bisa menjelma secara nyata sebagai manusia asli. Dengan cara ini, dia mencoba mencari pertolongan agar ada orang yang bisa membantu menemukan tubuh aslinya yang hilang. Begitulah ceritanya. Apa kalian berdua mengerti, Sakura, Shino?"
Tatapan mata sayu Kakashi tertancap pada Sakura dan Shino. Mereka berdua mengangguk mengerti.
"Ya, kami mengerti, Kakashi-sensei."
Kakashi tersenyum senang di balik topeng hitam yang menutupi mulut dan hidungnya itu.
"Bagus. Kalau kalian sudah mengerti, jadi tujuan misi mendadak ini adalah menemukan tubuh Hestia yang tersembunyi di desa Yuki. Cari tahu informasinya sedetail mungkin atau kalian bisa bertanya pada Ratu Koyuki. Saling bekerja sama dan lindungi klien kita itu karena aku merasa pasti ada lawan yang akan mengintainya. Terus jangan lupa persiapkan bekal yang cukup dan peralatan ninja kalian sebaik-baiknya. Aku minta kalian boleh pergi ke desa Yuki itu sekarang juga. Laksanakan perintahku! Mengerti?"
"Mengerti, Sensei!" balas ketiga ninja muda itu kecuali Hestia.
Lantas mereka mulai bergegas untuk meninggalkan ruang Hokage itu. Sebelum pergi, Naruto melihat ke arah sang guru.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Sensei!"
Kakashi mengangguk dengan senyuman yang simpul.
"Ya, hati-hati di jalan, Naruto."
"Hm, pasti. Terima kasih."
Sekali lagi, sang Hokage menundukkan kepalanya dan menyaksikan kepergian Naruto yang menyusul teman-temannya untuk keluar dari ruangan itu.
BLAM!
Pintu tertutup. Tinggallah Kakashi sendirian di ruangan itu.
Kemudian, dia mengambil buku misteriusnya yang sempat tergeletak di atas meja sedari tadi.
"Saatnya membaca hasil karya Jiraiya-san lagi ...," tuturnya dengan senyuman yang merekah di wajahnya yang kemerahan.
Dasar, Hokage yang memanfaatkan kesempatan di sela-sela pekerjaan yang menumpuk! Namanya juga Hatake Kakashi.
.
.
.
Di rumah Naruto sekarang ini.
Tampak Naruto sudah mempersiapkan semua yang akan dibawanya dalam satu tas bertali dua. Dia langsung menggendong tas itu di belakang tubuhnya.
"Persiapan sudah selesai. Tinggal berangkat saja sekarang," kata Naruto yang tersenyum kecil dengan penuh semangat yang membara.
Dia pun keluar dari kamarnya dan mendapati Hestia yang sudah berdiri di dekat pintu kamarnya. Membuat dia terlonjak kaget.
"WUAAAAAH!? HESTIA, KAU KAGETIN AKU LAGI! KAU ITU SUKA SEKALI MUNCUL TIBA-TIBA DI DEPANKU! DASAR, YUKIONNA!" sembur Naruto yang sedikit kesal. Wajahnya memerah padam sebentar.
Tapi, gadis berambut putih itu hanya tertawa cekikikan melihat tingkah Naruto yang menurutnya sangat lucu.
"Hehehe ..."
Wajah Naruto menjadi sewot.
"Kenapa kau malah ketawa, hah? Memangnya ini lucu apa?"
"Iya. Ini lucu. Tingkahmu itu sangat lucu. Membuatku ingin selalu tertawa melihatmu."
"Hah?"
Sang Uzumaki ternganga sedikit. Dia bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Hestia itu.
Segera saja dia langsung menyelonong pergi meninggalkan Hestia yang masih saja asyik tertawa sendiri. Sehingga menyadari dirinya yang ditinggalkan lagi oleh Naruto.
Giliran wajahnya yang sangat sewot. Sedikit kesal karena Naruto meninggalkannya lagi.
"Huh, lagi-lagi dia meninggalkan aku. Dasar, laki-laki yang menyebalkan! Rasanya sangat susah membuatmu lebih memperhatikan aku."
SRIIIIING!
Dia mengubah dirinya menjadi partikel-partikel cahaya putih yang berkilauan dan mengejar Naruto yang sudah berjalan menuju keluar rumah.
Sungguh, sangat kesal karena Naruto belum mau memperhatikannya. Apapun caranya, dia akan membuat Naruto jatuh cinta padanya. Entah itu sekarang, besok ataupun lusa.
"NARUTO! TUNGGU AKU! JANGAN TINGGALKAN AKU LAGI DONG!"
Hestia berteriak kencang berharap Naruto mau menunggunya. Namun, parahnya Naruto tidak mau menggubrisnya sama sekali. Sampai mereka pun tiba di pintu gerbang desa, untuk menemui Sakura dan Shino yang sudah menunggu mereka.
.
.
.
Hari ini, mereka pun pergi lagi untuk menjalankan misi ke desa Yuki demi mencari tubuh Hestia yang hilang. Mereka pergi ke desa Yuki dengan menggunakan kapal besar karena desa Yuki berada di sebuah pulau yang cukup jauh dari desa Konoha. Untuk mencapainya, dibutuhkan sekitar satu atau dua hari jika dalam perjalanan di laut, tidak menemukan kendala apapun.
Tampak Naruto, Sakura, dan Shino yang berdiri di dekat pagar pembatas kapal. Mereka memandangi pelabuhan desa Konoha yang kini mereka tinggalkan. Terlihat ada Kakashi, Tsunade dan Shizune yang sedang melepaskan kepergian mereka. Ketiga orang itu berdiri di tepi dermaga untuk menyaksikan kepergian kelompok Naruto yang akan berlayar menuju ke desa Yuki lagi.
"Selamat tinggal, Naruto dan semuanya. Semoga kalian baik-baik saja di sana," kata Kakashi yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Lalu pandangan Tsunade mengarah pada Kakashi, yang berdiri di sampingnya ini.
"Kenapa kau mengizinkan mereka pergi lagi ke desa Yuki itu, Kakashi-san? Apa kau tahu mereka baru saja tiba di desa ini kemarin?"
Sang Hokage keenam menjawabnya tanpa melihat ke arah Tsunade.
"Hm ... Itu atas permintaan Naruto sendiri. Aku tidak bisa menolaknya karena dia berkeinginan kuat untuk menolong gadis yang bernama Shinju Hestia itu. Lagipula kelihatannya gadis itu menaruh hati pada Naruto. Tidak ada salahnya, kan? Kalau aku mengizinkannya pergi menemani gadis itu. Mungkin dengan begitu, Naruto bisa membuka hatinya untuk menerima cinta yang baru. Selama ini dia sangat bersikap dingin terhadap gadis-gadis yang mendekatinya setelah perang shinobi keempat itu. Apalagi dia juga merasakan sakit hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Ya, anda tahu itukan, Tsunade-sama?"
Mantan Hokage kelima itu, terpaku sebentar di tempat. Kemudian menarik pandangannya ke arah laut. Terasa angin laut menerpa dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
"Ya, aku tahu itu. Tapi, pilihanmu mengikutsertakan Sakura untuk menemani Naruto dalam misi ini adalah pilihan yang salah. Kau tahukan kalau Naruto itu dulunya menyukai Sakura, tapi dia merelakan Sakura hanya untuk Sasuke yang kini entah ada di mana sekarang. Kau akan membuat hati Naruto semakin terluka saja jika ada Sakura yang selalu bersamanya."
Kakashi tersentak dengan perkataan Tsunade itu. Kedua matanya membulat sempurna. Dia benar-benar tidak memikirkan hal itu sedikitpun.
"Anda benar, Tsunade-sama," Kakashi melihat ke arah Tsunade."Tapi, cuma Sakura dan Shino yang ada di desa sekarang. Selebihnya sedang menjalani misi di desa lain. Jadi, aku memanggil Sakura dan Shino untuk menemani Naruto dalam misi ini. Haaaah, aku tidak memikirkannya sampai ke situ."
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
BALASAN REVIEW:
sanjaya: good juga.
Yustinus224: terima kasih. Ini udah lanjut kok.
kizami namikaze: hai juga. Saya baik. Kamu gimana?
Oh ... iya, hestia sama kayak di danmachi kok. Hanya saja di sini dia menjadi hantu wanita karena jiwanya terpisah dari tubuh aslinya. Jadinya, rambut dan penampilannya serba putih. Gitu.
Oke, saya akan selalu berkarya.
Neko Twins Kagamine: terima kasih ya.
nawawim451: maaf kalo upnya lama lagi. Udah lanjut kok.
Kitsune857: belum tahu siapa yang ngurung hestia. Rahasia dulu ya.
ramadi riswanto: maaf, telat update lagi. :v
dianrusdianto39: maaf jika telat update lagi. Udah lanjut nih.
DAMARWULAN: udah lanjut nih.
.
.
.
A/N:
CHAPTER 3 UPDATE!
Terima kasih atas review kalian semuanya. Mohon maaf jika saya terlalu lama mengupdate cerita ini.
Cukup sampai di sini saja, nanti saya sambung lagi di chapter 4.
Silakan review lagi jika mau mereview ya!
Finish: Sabtu, 25 Juni 2016
