Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi
Story by shirayuki-su
Rate T (maybe)
Warning : Au, OOC, tipo dll
"My Limit"
Chapter 3
Naruto tidak tahu kenapa ia merasakan semangat yang mengebu. Mungkin karena fakta bahwa ia dapat menghajar sekelompok iblis? Atau karena ia belum merasakan pertarungan yang membuatnya bersemangat. Tapi sejujurnya Naruto cukup menantikan pertarungan dirinya dengan peerage milik Sona, untuk urusan taruhan itu hal lain lagi menurutnya. Naruto sampai merasa pusing sendiri, ia menutup mata dan berusaha untuk tidur.
Pagi harinya adalah hari pertarungan antara Naruto dengan peerage Sona, dan pemuda shinobi berambut putih itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Ia dengan cepat berangkat kesekolah dengan kurama yang masih tertidur dalam ranselnya, dalam kelas Naruto terus memperhatikan jarum jam berharap waktu bergerak sedikit lebih cepat.
Tepat jam tiga bel berbunyi dengan nyaring, Naruto dengan cepat membawa barang-barang dan melangkah keluar. Dia tidak memperdulikan tatapan aneh dari siswa disekitarnya, Naruto bahwa membiarkan Issei menggikuti nya.
Naruto terus berjalan cepat dengan Issei yang berusaha bersembunyi, agar tidak ditemukan oleh Naruto. Issei tidak bisa mengatakan bahwa dirinya dan Naruto dekat, mereka memang teman tapi belum pernah pergi bersama. Naruto juga tidak pernah menyebut Issei dan temannya 'Menjijikan ataupun mesum' karena apa yang mereka sukai. Issei saat ini penasaran dengan Naruto, karena ia telah menjadi iblis dan tahu akan hal-hal berbau supernatural. Maka Issei ingin tahu apakah Naruto juga iblis, melihat waktu itu Koneko memanggilnya. Dan juga menanyakan apa yang terjadi saat ia sekarat, Issei sudah diberitahu oleh Buchou nya Rias, tapi ia masih ingin tahu dari sudut pandang Naruto.
Langkah Naruto berhenti didepan ruangan yang ia yakini sebagai ruang Osis, ia dengan cepat mengetuk. Setelah mendengar suara yang menyuruhnya masuk, Naruto masuk dan mendapati banyak orang atau iblis didalam ruangan. Ia dapat melihat Sona dan Tsubaki diantara mereka, mata Naruto beralih pada delapan orang lain yang ada dalam ruangan.
Disebelah kiri Naruto dapat melihat Koneko dan Rias yang ia tidak tahu kenapa berada diruangan ini, mungkin Sona yang mengajak mereka pikir Naruto. naruto beralih pada lima lainnya yang berdiri disamping Sona, yang dapat diketahui bahwa mereka peerage milik Sona. Kelima dari mereka berdiri dengan tangan berada dibelakang punggung, empat perempuan dan satu laki-laki.
'Mereka berdiri seperti seorang prajurit saja' Pikir Naruto sambil ia berjalan kedepan meja besar, dimana Sona duduk disebrangnya. Ia melihat kesekeliling sebentar, mendapati perbedaan jelas antara ruangan Osis dengan ruangan club Rias. Yang paling menonjol adalah cahaya yang masuk dan suasana dalam ruangan.
"Selamat datang Naruto" Kata Sona sambil ia bediri dari duduknya.
"Ah iya Sona-chan" Naruto berkata dengan santainya, tidak menyadari wajah kesal dari seorang pria disana.
"Beraninya kau memanggil Kaichou seperti itu" Saji berkata dengan kesal, ia hampir melayangkan pukulannya kearah Naruto jika saja tubuh Sona tidak mengalanggi. Naruto hanya bisa melihat satu-satu nya peerage milik Sona dengan bingung.
"Saji hentikan!" desis Sona. Saji dengan cepat membungkuk dan kembali ketempatnya. Sona mendesah pelan dan membenarkan kacamatanya pelan "Seperti yang aku katakana sebelumnya, selamat datang diruang Osis. Aku senang kau datang Naruto"
"Tentu saja aku datang Sona-chan. Aku tidak sabar melihat bagaimana kalian melawanku dan juga membuatmu berhutang padaku" Naruto berkata dengan seringai yang biasa ia keluarkan. Sona hanya memberikan pemuda didepannya dengan senyum dan kembali ke meja nya.
"Aku senang kau sangat bersemangat tentang itu. Ini akan menjadi sesuatu yang berbeda jika peerage-ku yang menang. Sebelumnya aku akan memperkenalkan anggota dari peerage milikku, laki-laki yang tadi adalah Genshirou Saji yang berkedudukan sebagai pawn dalam peerage" Sona berkata dan melihat Naruto memperhatikan lebih pada Saji yang berjalan kearahnya. Pemuda itu mengenakan seragam yang sama dengan Naruto dengan tidak adanya blazer, ia memiliki wajah yang biasa dengan rambut pirang dan mata dengan warna abu-abu gelap. Naruto juga dapat melihat kemeja yang Saji kenekan digulung sampai siku, dari itu saja shinobi tersebut dapat yakin bahwa Saji petarung jarak dekat.
"Senang bertemu denganmu Uzumaki Naruto, maaf atas yang terjadi tadi" Naruto jadi bingung mendengar perkataan Saji. Ia hanya bisa tersenyum menanggapi nya.
"Ehem" Sona berdehem pelan membuat perhatian kearahnya "Disebelah saji yang juga pawn adalah Nimura Ruruko" Sona menunjuk pada gadis berambut coklat disebelah Saji
"Senang bertemu denganmu Senpai" kata Ruruko dengan ceria, Naruto dapat melihat bahwa gadis kecil itu manis tapi tidak seperti Koneko. Rambut coklat yang dibuat twin tails kebelakang dengan jepit berwarna hijau, mata gadis itu juga menatap Naruto dengan bahagia
"Disebelah kanan, mereka berdua adalah Bishop. Hanakai momo dan Kusaka Reya" dua gadis cantik melangkah kedepan, satu dengan rambut putih panjang dengan warna mata putih. Disisi lain yang satunya memiliki mata warna madu dengan rambut coklat panjang. Mereka berdua mengenakan pakaian yang sama, yaitu seragam siswi Academy Kuoh.
"Yang menduduki posisi Knight Meguri Tomoe dan posisi Rook Yura Tsubasa" Sona berkata. Dengan dibarengi Tomoe yang membungkuk sopan dan Tsubasa yang mengibaskan tangannya. Keduanya memiliki perawakan yang menarik, menurut Naruto. Tomoe dengan warna mata kuning memikat dan rambut yang dipotong sebahu berwarna coklat kemerahan. Dan Tsubasa dengan tubuh tinggi dengan rambut biru sebahu, memiliki warna mata biru yang senada dengan rambut nya
"Dan terakhir Shinra Tsubaki yang telah kau tahu sebagai Queen-ku" Tsubaki memberikan senyum kearah Naruto yang dibalas dengan anggukan oleh pemuda tersebut.
Naruto memandang kesemua peerage milik Sona dengan seksama. Mereka sepertinya cukup menarik, dan dengan apa yang baru ia ketahui mengenai Evil pieces dan bagiannya. 'Ini akan menarik' pikir Naruto. dia tidak tahu sekuat apa kelompok milik Sona ini. Jika apa yang dikatakan ketua Osis benar, maka Naruto akan mendapatkan pertarungan yang menyenangkan. Untuk masalah taruhan ia bahkan tidak terlalu memikirkannya, yang ada dalam kepala Uzumaki itu bagaimana untuk meminimalkan dampak dari serangan yang ia keluarkan.
"Sebelum kita memulai aku ingin mengatakan sesuatu. Terima kasih menjadi bagian dari taruhan ku dengan Sona-chan. Dengan taruhan yang sebelumnya disepakati, bahwa jika Sona menang aku akan menjadi bagian dari peerage-nya dan sebaliknya jika aku menang Sona akan memberikan apapun padaku. Aku tidak tahu apa Sona-chan telah memberitahu kalian atau tidak, tapi itu sudah menjadi kesepakatan kami" kata Naruto yang mendapati wajah terkejut dari anggota peerage Sona, mereka dengan cepat memalingkan wajah kearah King-nya. Apa pemuda ini percaya bisa mengalahkan sekumpulan iblis, dan akan mendapatkan sesuatu dari Sona?.
"Seperti yang dikatakan Naruto. jika dia menang, ia mendapatkan keinginannya dan jika aku menang Naruto akan bergabung denganku" Naruto mengangguk mendengarnya
"Ok itu kesepakatannya. Tapi sebelumnya apa yang mereka berdua lakukan disini" Naruto menunjuk pada Rias dan Koneko diruangan. Yang dibalas oleh Rias dengan tatapannya, dan Koneko yang tidak peduli.
"Ah Rias dan Koneko hanya penasaran akan apa yang terjadi, mereka ingin menonton pertarungan kita. Apa tidak apa-apa Naruto? dan juga kau memiliki pengikut juga" Sona berkata dan menunjuk belakang Naruto
"Aku tidak masalah. Pengikut? Maksudmu Issei yang dibelakang pintu itu" Naruto melirik dan mendesah pelan. Issei, yang mengintip dari celah pintu dan berusaha menyembunyikan diri "Issei kau bisa keluar, dan aku yakin semua diruangan ini tahu keberadaanmu" Issei melangkah dengan pelan, ia merasa sedikit bersalah karena mengikuti Naruto. tapi bagaimana lagi, rasa penasarannya telah mencapai puncak. Dan saat melihat Naruto keluar, ia tanpa sadar mengikutinya.
"Maaf karena mengikuti. Aku hanya penasaran dengan Naruto-san, karena sebelumnya Koneko mengajaknya keluar dan Buchou sedikit memberitahuku bahwa Naruto-san juga tahu dunia supernatural. Jadi aku ingin tahu apa Naruto-san juga iblis?" Naruto hanya mendengus pelan.
"Aku manusia Issei. Tidak akan menjadi iblis apapun yang terjadi"
'Kita lihat saja nanti Naruto' Pikir Sona yang tidak disadari bahwa Rias juga berpikiran sama. Issei yang masih diujung pintu akhirnya masuk dan berdiri disamping Koneko, yang dimana gadis kecil itu selalu mengambil jarak dari si mesum.
"Karena semua sudah berkumpul, maka sesuai dengan rencana diawal. Aku Sona Sitri yang akan memberikan tempat dimana pertarungan dilakukan. Terima kasih atas dukungan dari keluarga-ku, kita akan melakukan pertarungan diarea yang sama dengan Rating Game. Dan untuk yang belum tahu apa itu Rating Game. Rating Game adalah pertarungan antara dua iblis dengan peerage mereka, ini tidak hanya digunakan untuk menunjukan kekuatan dari iblis dan peerage-nya. Tapi juga digunakan untuk membangun kebanggan" Naruto mengusap dagu dan mengangguk bijak.
"Oh begitu, Ok aku tidak mengerti sama sekali dan jangan menjelaskan lagi" Sona mendesah pelan, melihat kelakukan Naruto. kenapa pemuda ini sangat bodoh? "Selama kita bisa bertarung aku ok saja dengan semuannya"
"Aku yakin sekarang giliranku!" Suara keras dan manis mengema dalam ruangan. Naruto dengan sigap membawa tubuhnya turun dengan satu tangan didepan dan satunya disamping. Para iblis diruangan dibuat kaget, karena digengaman Naruto saat ini telah ada sebuah pisau aneh berwarna hitam kelam. Mereka benar-benar tidak tahu kapan dan bagaimana pemuda itu mengeluarkan senjatanya.
Naruto melihat sedikit terkejut pada lingkaran sihir yang mulai tercipta dilantai berwarna biru. Lingkaran tersebut memiliki motif yang sama dengan apa yang pernah Naruto lihat pada insiden Issei, yang membedakan adalah gambar dalam lingkaran dan warnanya. Cahaya dalam lingkaran itu makin lama makin terang membuat Naruto harus memicingkan mata. Selang beberapa detik, ia dapat melihat sosok lain didalam ruangan. Dihadapan peerage Sona saat ini berdiri seorang gadis dengan tampilan manis. Dengan rambut panjang hitam yang diikat twin tails. Mata violet gadis itu terlihat bersinar, dia juga mengenakan pakaian yang aneh, menurut Naruto.
"Magical girl Serafall telah tiba!" Gadis itu berkata dengan ceriannya sambil berputar dan mengampil pose manis. Naruto melihat dengan wajah datar, ia memasukan kunai ditanganya kedalam lengan baju dan melihat kearah Sona dengan wajah bertanya.
"Siapa gadis ini?" Naruto bertanya sambil menunjuk pada Serafall yang masih berpose. Sona yang melihatnya hanya bisa menghela nafas lelah.
"Dia kakak perempuanku, Serafall Leviathan yang memiliki nama sebelumnya Serafall Sitri"
"Tunggu, aku baru ingat sesuatu. Jika dia saudaramu kenapa kau memiliki nama yang berbeda, Shito-"
"Nama yang aku gunakan di Kuoh Academy adalah nama palsu"
"Itu menjawab pertanyaan. Jadi dia kakakmu, yang artinya dia lebih tua darimu?" Naruto bertanya melihat pada Serafall. Serafall mendengus bangga sambil bersedekap memperlihatkan dada nya yang berkembang. Meski dengan perawakannya yang kecil.
"Kau tidak terlihat meyakinkan. Aku tidak tahu kenapa Sona-chan mau melakukan ini denganmu" Serafall berkata dan beralih kearah Sona, tanpa awalan ia sudah melompat dan memeluk Sona "Sona-chan! Bagaimana kabar adikku yang manis. Apa kau sehat? Aku kangen padamu?" Sona ingin berteriak pada sifat kekanak-kanakan kakaknya tapi ia harus menahannya dihadapan anggota peerage-nya. Serafall dengan tenangnya mengosokkan wajah milikkan ke Sona.
Naruto hanya bisa menatap kejadian langka dihadapanya dengan seringai rubahnya. 'Ini akan menjadi salah satu bahan yang dapat digunakan untuk menjaili Sona-chan. Hehehehe'
Sona yang sudah tidak tahan, mengenggam bahu kakak-nya dan mendorongnya menjauh. Ia dapat melihat wajah kecewa dari Serafall, tapi ia tidak peduli. Ada yang lebih penting untuk dilakukan saat ini.
"Aku baik-baik saja Nee-san, tapi tolong jangan melakukan hal seperti ini lagi. aku ingin nee-san mentranfer kami kearena Rating Game" Serafall mendesah lemah.
"Sona-chan. Padahal kau dulu sangat sayang Onee-chan mu, kenapa kau sekarang jadi seperti ini. Aku jadi sedih" kata Serafall dengan nada sedih yang dibuat-buat
"NEE-SAN!"
"Ah kau selalu saja membosankan Sona-chan. Baiklah ayo kita mulai saja, apa kalian siap" melihat anggukan dari semua diruangan Serafall membawa tangannya keatas, dan perlahan cahaya biru berkumpul ditelapak tangan tersebut. Energy yang dipancarkan oleh Serafall perlahan membentuk sebuah bola. Naruto tanpa harus menajamkan indranya dapat merasakan energy yang dipancakan gadis tersebut, perasaan yang dikeluarkan dari energy itu gelap. Dan naruto berpikir mungkin ini berhubungan dengan mereka adalah iblis. Energy Serafall juga mengeluarkan hawa dingin, seperti es.
"Rating Area!"
My Limit
Naruto melihat kesekeliling dan mendapati, ia dan semuanya telah berada di padang salju sejauh mata memandang. Ia berlutut dan menyentuh salju dibawah kakinya, untuk memastikan. Benda putih itu terasa lembut dan Naruto membiarkannya jatuh melewati sela-sela jari. Dia melihat kesekeliling sekali lagi dan menyeringai, melihat tempat ini bisa digunakan untuk melepaskan kekuatannya. Banyak ide-ide aneh berlalu lalang dikepala Naruto.
"Tempat ini tidak ada kehidupan didalamnya dan kita bebas mengeluarkan serangan, tanpa harus peduli dengan dampak yang ada" Sona berkata yang makin membuat seringai Naruto melebar "Aku percaya disini kita mengeluarkan semuanya. Dan Naruto kau bisa menunjukan bagaimana dirimu mengalahkan malaikat jatuh" Naruto hanya mengangguk pelan, dengan seringai yang masih ada diwajahnya.
"Aku baik-baik saja dengan apapun" Naruto melepaskan blazer nya dan melipatnya rapi. Ia juga membuka kemejanya dan hanya meningalkan sebuah kaos berwarna orange dengan simbol pusaran air dibagian tengah. Semua baju Naruto ia masukan kedalam ransel, dan menitipkannya pada issei yang menerimanya dengan senang hati. Naruto dan Peerage Sona bergerak dan mengambil jarak berlawanan, disisi lain Rias dan Koneko memperlihatkan wajah tenang dan Issei yang terlihat terkejut dan terus melihat kesekeliling.
Serafall berjalan ke tengah antara peerage Sona dan Naruto. setiap langkahnya serasa membuat salju baru "Karena ini pertarungan langsung, dan akan menggunakna aturan yang sama dengan Rating Game. Dimana jika petarung tidak bisa melanjutkan pertarungan akan dipindahkan ketempat lain. Semua luka akan bisa disembuhkan, meski itu kau diambang kematian. Dan jika pemimpin dalam setiap team dikalahkan, maka team tersebut akan kalah secara otomatis" Serafall melihat Naruto dan memberikan senyuman singkat "Yang artinya jika kau kalah, kau selesai"
Naruto hanya mengangkat bahu menanggapi ucapan Serafall "Aku akan baik-baik saja. Kekawatiranmu tidak diperlukan, kau harusnya kawatir pada adikmu" Serafall mendengus mendengarnya. Apa manusia ini tidak tahu siapa yang ia ajak bicara? Dirinya adalah salah satu iblis terkuat di Underworld, ia bisa saja menghancurkan manusia dihadapanya tanpa sisa. Tapi karena permintaan Sona, ia melakukan hal ini. Karena apapun yang diminta oleh adiknya, Serafall akan sekuat tenaga untuk memenuhinya.
'Apapun untuk Sona-chan' Naruto menanjamkan indranya dan memposisikan diri dalam mode siaga.
"Seperti yang sudah aku katakan. Mulai" setelah Serafall berkata demikian, ia melompat jauh yang membuat debu salju berwarna putih. Debu tersebut menutupi pandangan antara kedua lawan. Naruto mengibaskan lengannya untuk menghilangkan debu.
Saat debu dihadapannya menghilang, ia menyadari satu orang melesat kearahnya. Seorang gadis berambut coklat bernama Ruruko. Ia membawa lengannya kedepan dan siap memukul Naruto. disisi lain Yura sang Rook juga bergerak kesamping dan siap melancarkan serangan.
Naruto dengan sigap menghidari pukulan Ruruko yang menghincar perutnya. Ia juga menangkap pukulan lain dari Yura dengan tangan kiri, dan melemparkan gadis itu kearah Ruruko. Melihat reaksi kedua gadis itu yang dengan mudah menghindar dan memposisikan diri setelah dilempar, Naruto tersenyum. Ia dengan cepat melompat kebelakang dan mengambil jarak antara dirinya dan mereka.
Tangan kanan Naruto ia bawa ke depan dan tangan kiri dibelakang punggunya. Dia berdiri tegak, dengan kaki yang siap bergerak. Telapak tangannya terbuka dan memberikan isyarat, serang aku. Kuda-kuda saat ini dia gunakan adalah milik dari alis tebal dan guru alis tebal.
"Ayo Maju" Naruto berkata
Ruruko dan Yura saling pandang dan mengangguk. Mereka dengan kecepatannya melesat kearah Naruto dan siap dalam pertarungan jarak dekat. Pukulan dan tendangan dua gadis itu selalu mengenai udara kosong, yang membuat mereka frustasi. Serangan gabungan keduannya belum memberikan dampak yang mereka inginkan dari Naruto.
Sona yang melihat dari jauh memberikan perintah pada Saji dan Tomoe untuk bergerak. Dan memposisikan Momo dan Reya untuk bersiap. Mata Sona terus memperhatikan pertarungan jarak dekat antara Naruto dan dua peerage-nya. Ia jujur merasa tertarik melihat keahlian pemuda berambut putih itu dengan mudah menghindari serangan dari Ruruko dan Yura. Tanpa sadar Sona tersenyum, melihat potensi yang dimiliki Naruto.
Naruto melihat pergerakan lain dibelakang Ruruko dan Yura. Ia dapat melihat Saji yang mendekat dari samping dan melihat lebih lengan kanan pemuda itu telah ditutupi oleh gauntlet naga berwarna hitam. Naruto memiringkan kepalanya dan menghindari lagi tendangan kuat dari Yura. Gadis biru itu memiliki kekuatan yang luar biasa, dari pada kelihatannya. Tapi gerakannya lambat dan mudah dibaca, sedangkan Ruruko terlihat masih kaku dalam memberikan serangan, gadis itu juga lebih sering mengunakan pukulan dari pada tendangan. Yang membuat Naruto dapat dengan mudah membaca pola serangannya.
Sacred Gear Saji telah siap digunakan dan ia dengan cepat memanggil Ruruko dan Yura. Kedua gadis itu mengerti akan sinyal yang diberikan dan menekan lebih pada Naruto. shinobi yang melihat hal tersebut, meningkatkan sedikit kewarpadaannya. Saat dua serangan mendekatinya dengan kecepatan yang berbeda, Naruto sedikit terkejut. Ia dengan cepat menahan pukulan Ruruko dan melompat kesamping akan sapuan dari tendanga Yura.
"Absorption Line!" Naruto memalingkan wajah kearah Saji yang dalam pose melemparkan lengannya ke Naruto. dan ia melihat cahaya biru melesat dari lengan Saji kearahnya "Kena kau" Saji berkata dengan percaya diri. Sona yang melihat serangan Sacred Gear Saji berhasil tersenyum, dan berpikir ini akan berakhir. Karena Sacred Gear milik Saji memiliki kemampuan untuk menyerap energy dari lawan, entah itu sihir, chakra atau kekuatan lain. Yang tidak bisa diserap oleh Sacred Gear tersebut adalah kekuatan fisik atau lebih mudahnya stamina.
"Tali apa ini, jika ingin menangkapku harusnya kau menggunakan kawat ninja, itu lebih efektif" Sona melihat bingung saat Naruto dengan santai menyentuh garis penghubung dilengannya. Sona dengan cepat melihat kearah Saji, yang juga memandang dengan bingung.
"Kaichou tidak ada yang bisa diambil dari nya. Aku pikir kau mengatakan bahwa Naruto-san memiliki kekuataAAAAAHHGGHH" Ketua Osis Kuoh Academy itu dibuat terkejut saat melihat Saji ditarik begitu saja dan dilemparkan keatas sampai ia sendiri tidak bisa melihat Saji. Yang melakukannya hanya memandang keatas dengan wajah bosen dengan tangan diatas kepala.
"Apa yang dilakukan nya" Naruto berkata singkat. Sona hanya bisa membuka mulut dan tidak ada kata yang keluar. Saat kemarin Naruto berkata ia kuat, Sona hanya mengasumsikan bahwa pemuda itu lebih kuat dari manusia kebanyakan. Dan melihat pertarungan singkat Naruto dan Ruruko dan Yura, ia menyimpulkan bahwa itu benar. Tapi apa yang dilakukan pada Saji menghancurkan hipotesis Sona begitu saja, kekuatan yang digunakan pada Saji begitu Gila dan tidak mau terekam dalam pikiran Sona.
'Apa Naruto baru saja melempar saji seperti boneka' Pikir Sona dalam terkejut. Naruto merilekskan tubuhnya dan menggambil posisi yang sama diawal. Tangan kanannya didepan dan kiri dibelakang punggung.
"Apa kita teruskan?" Naruto berkata dengan seringai dan tangannya mengisyaratkan untuk datang menyerang. Ruruko dan Yura yang berdiri paling dekat dengan Naruto sudah siap melesat lagi, jika saja Sona tidak menghentikan mereka. Sona dengan wajah penuh perhitungan melihat kearah Naruto, pertarungan yang ia pikir akan dengan mudah dimenangkan ternyata berakhir seperi ini. Pemuda berambut putih dihadapannya memiliki sesuatu yang lebih, itu menurut Sona. Naruto tersenyum melihat wajah penuh perhitungan yang ditampilkan Sona, ia tahu wajah itu. Wajah yang sama yang digunakan sahabat kepala nanasnya saat memikirkan sebuah rencana. "Perencanakah? Kau salah satu dari tipe itu Sona-chan. Yang mengalahkan dengan pelan dan pasti, tapi aku tidak terlalu suka menunggu. Dan aku berharap kau lebih hebat dalam membuat rencana dari pada Shikamaru"
Naruto melesat dan menghilang dari pandangan mereka semua dan muncul lagi diantara para peerage Sona. Mata violet Sona dengan cepat melebar terkejut, ia cepat memerintahkan mereka untuk menghidar dan menyebar. Naruto mengangkat kakinya keatas dan dengan kuat menghantamkannya kebawah.
"Tsunade-baachan Crush!"
Para peerage Sona beruntung menghindar dalam waktu yang tepat, sebelum menjadi bagian dari kawah besar yang dibuat oleh Naruto. debu salju menghembas kesegala arah akibat dampak dari serangan shinobi tersebut. Sona yang melihat pandangannya terhalang menampilkan wajah serius yang jelas, ia dengan cepat mencari keberadaan dari peerage miliknya.
"Momo! Reya! Hempaskan debu salju nya! Sisa nya tetap bersiaga akan serangan" Sona memerintahkan dengan cepat. Mereka mengangguk dan melakukan tugasnya. Momo dengan cepat mengeluarkan sayap kelelawarnya dan membawanya terbang keatas. Ia dengan cepat membuat lingkaran sihir dan menembakkan bola api kearah kawah dimana Naruto berada. Di atas tanah bersalju reya juga telah megeluarkan sebuah tornado yang mengarah pada tempat yang sama. Dua serangan dari mereka berdua menyatu menjadikan tornado api yang dengan cepat mencairkan sisa-sisa debu diudara dan terus melesat kearah Naruto.
Naruto yang melihat serangan datang menautkan alisnya, serangan api dan angina yang membentuk tornado yang mengamuk "Serangan kombinasi? Aku jadi ingat kombinasi dengan Yamato-taichou saat melawan Kakuzu. Tapi serangan ini boleh juga" dari sudut mata Naruto dapat melihat seorang gadis bergerak cepat dengan katana ditangannya. Ia yakin nama gadis itu Tomoe. dan disisi lain lebih dari lima meter Naruto bisa melihat Ruruko dan Yura yang dalam posisi siaga. Naruto tanpa sadar tersenyum, dan kembali menghadap pada serangan kombinasi didepannya.
"Serangan dengan dampak seperti ini, tidak semudah itu untuk melukaiku" Naruto mengangkat tangannya dengan telapak terbuka. Ia membawa kebelakang dan menembakannya kedepan dengan kecepatan yang begitu kuat. Dari serangan tersebut, terciptalah ruang udara yang dengan cepat beradu dengan tornado api. Memperlihatkan bahwa serangan Naruto lebih kuat, menghilangkan serangan itu dengan singkat. Momo yang berada dijalur ruang udara menjerit kesakitan saat merasakan tekanan udara yang begitu kuat menekannya, dan membuat gadis itu jatuh ketanah bersalju.
Sona yang berada disamping sambil memperhatikan harus dikejutkan kembali oleh pemuda bernama Uzumaki Naruto tersebut. Tomoe yang melihat kesempatan menyerang dengan katana, tebasan demi tebasan ia keluarkan dan hanya mendapati bahwa serangannya tidak mengenai pemuda berambut putih tersebut. Ruruko dan Yura mengambil inisiatif untuk bergabung dengan sang knight dan bersama-sama bertarung jarak dekat dengan Naruto.
Suara tebasan pukulan dan tendangan bergema dipadang salju tersebut. Naruto dengan wajah santai yang terus menghindari serangan ketiga gadis, dan mereka dengan wajah yang mulai kehilangan ketenangan menghadapi Naruto. Naruto yang tahu serangan mereka perlahan menumpul, mengambil sikap untuk menyerang. Karena selama ini ia hanya melakukan counter pada serangan mereka.
"Konoha Senpuu!"
Kaki Naruto bergerak dengan cepat dan membuat ketiga gadis itu terbang mundur dan terus menghantam tanah bersalju. Ia hanya menggunakan tenaga seperlu nya, untuk membuat gadis-gadis itu mundur. Sona yang dari jauh melihat dengan kawatir, akan keadaan mereka.
"Tsubaki, serang dia dengan kekuatan penuh. Aku tidak perduli lagi, karena Naruto cukup kuat untuk melakukan semua ini" Tsubaki mengangguk akan perintah Sona dan dengan cepat mengeluarkan naginata. Dia melesat dengan sayap dipunggungnya sebagai pendorong, ia melihat Naruto yang berdiri santai sehabis serangan yang pemuda itu keluarkan. Kalau Tsubaki boleh jujur, ia sedikit merasa takut akan manusia bernama Uzumaki Naruto ini. Dia dengan mudah melawan para iblis dan menghentikan serangan kombinasi milik Momo dan Reya. Dari yang dilihat Naruto tidak memiliki Sacred Gear dan jika pemuda itu memilikinya maka Tsubaki yakin sampai saat ini dia belum pernah menggunakannya.
Naruto merasakan pergerakan dari samping dan mendapati gadis bernama Tsubasa Yura berdiri disana. Ia sedikit terkejut bahwa gadis itu bisa menahan serangan dari Konoha senpuu, meski dalam kekuatan terendahnya. Mungkin ini yang pernah dikatakan oleh Sona, tentang kemapuan dari bidak Rook yang memiliki ketahanan tubuh. Naruto dengan santai menghindari pukulan kekuatan penuh dari Yura, ia dapat merasakan udara menyebar dari pukulan gadis itu. Sebuah tendangan dengan kekuatan yang sama, memaksa Naruto untuk melompat mundur. Ia harus menutupi wajahnya, saat menyadari bahwa serangan tersebut juga membawa debu salju yang bertebaran kearahnya.
"Kuat, tapi sangat mudah untuk dibaca. Lain kali kau harus menggunakan penggalihan perhatian agar seranganmu bisa mengenai lawan" Yura mengeram marah dan membawa dirinya menyerang kearah Naruto. tangan Naruto menangkap pukulan Yura dan membuat gadis itu menatapnya dengan terkejut. Ia dengan cepat melepaskan cengkaramanya, saat melihat Ruruko sudah berada disampingnya dengan tendangan kearah perut. "Serangan diam-diam. Kerja bagus Ruruko" kata Naruto pada gadis kecil berambut coklat tersebut.
Ruruko yang melihat serangannya gagal memaksa untuk menggunakan kaki satunya untuk menyerang dada Naruto. melihat ada celah Yura juga membawa pukulan dari arah belakang tepat pada wajah pemuda tersebut. Kedua nya berpikir bahwa Naruto pasti akan terkena salah satu dari serangan tersebut.
Naruto yang melihat hal tersebut tersenyum, ia mengankat tangan dan menagkap kaki Ruruko. Kaki Naruto ia kuatkan, dan bagai jangkar ia memutar tubuhnya kearah Yura dengan tangan yang masih mencengram kaki Ruruko. Naruto melemparkan Ruruko tepat pada tubuh Yura, yang membuat keduanya harus berguling-guling disalju.
Merasakan ada pergekan dari samping Naruto membawa sebuah Kunai ditangannya. Dan percikan bunga api tercipta dari dua senjata, Tomoe menyembunyikan rasa terkejutnya mendapati serangan katananya tertahan oleh sebuah pisau aneh berwarna hitam. Naruto mengangkat tangan kirinya kekepala Tomoe.
"Kau cepat tapi perlu berlatih lagi jika ingin menyerang diam-diam. Nafsu membunuhmu terasa kuat diudara dan lawan akan dengan cepat menyadari keberadaanmu. Jika kau bisa lebih tenang dalam menyerang itu akan menjadi lebih baik. Tapi kalau kau ingin menyerang diam-diam padaku, itu akan sangat lama" Naruto kemudian menyentil dahi gadis itu dan membuatnya melayang dengan jeritan rasa sakit.
Naruto berpaling kearah Sona dan mendapati ia sendirian. 'Dimana Tsubaki?' Naruto melihat kesekeliling. Dia dengan reflek menghidari tusukan dari atas, melihat kesumber serangan Naruto mendapati gadis berambut hitam panjang itu terbang diatasnya dengan naginata ditangan.
Tsubaki menusukan lagi ujung Naginatanya kebahu Naruto yang dihindari dengan mudah. Serangan dari atas kebawah dari Tsubaki terlihat sangat efektif untuk menyerang Naruto, yang tidak bisa terbang. Naruto hanya bisa mengerutu kesal, saat serangan lain dari Tsubaki datang.
"Woi bukankah ini tidak adil, dia menyerang dari udara dan aku dari sini" Naruto berteriak sambil melompat kesamping menghindari serangan Tsubaki.
"Bukankah aku yang bilang, akan menerima apapun Naruto-san. Harusnya kau mengajukan protes sebelum pertarungan dimulai, bukan saat ini" Tsubaki berkata dengan setiap tujukan yang dilancarkan kepada Naruto.
Tsubaki membawa naginatanya kebelakang dan melemparnya dengan kaut, Naruto yang melihatnya memiringkan kepala. Membiarkan senjata dengan ujung tajam itu melewatinya, saat Naruto berpikir serangan telah berakhir. Ia harus mendapati Tsubaki yang melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi dengan naginata lain ditangan. Tsubaki dengan sigap menusukan senjatanya tepat pada dada Naruto dimana jantung berada.
"Oi! Oi! Dimana kau menyerang, itu berbahaya sekali jika sampai terkena" Naruto berteriak sambil berguling kesamping, ia dengan cepat berdiri dan menunjuk pada Tsubaki dengan wajah kesal.
"Aku dapat tahu bahwa kau akan menghidari serangan itu Naruto-san. Dan aku benar, kau menghindarinya. Melihat dari kekuatan dan reflek yang kau miliki, kau bukan manusia biasa. Dan apa kau benar-benar manusia Naruto-san?" Kata Tsubaki sambil memandang kearah Naruto
"Kau tidak perlu meragukanku Tsubaki-chan. Aku Uzumaki Naruto adalah manusia" Naruto berkata dengan bangga "Dan sepertinya kita harus mengakhir ini Tsubaki-chan" Naruto menghindari serangan lain dari Tsubaki, dan dengan kecepatannya ia mengengam tangan gadis tersebut. Naruto menarik Tsubaki jatuh dan dengan tangan lainnya memukul perut gadis itu dengan telapak tangan. Tsubaki harus dipaksa meluncur keatas oleh kekuatan tekanan yang diberikan oleh Naruto.
Naruto berbalik dan melihat kearah Sona yang saat ini telah dikelilingi oleh peerage nya, minus Saji dan Tsubaki. Para peerage Sona saat ini terlihat lelah dan babak belur.
Disisi lain dimana Rias dan Koneko yang melihat pertarungan yang terjadi dengan terkejut. Yang ada dipikiran mereka saat ini adalah, apa benar Naruto seorang manusia? Dia dengan mudah bertarung dengan sekumpulan iblis, yang memiliki kemampuan yang beragam. Kedua anggota club Occult hanya bisa diam dan menyaksikan apa lagi yang manusia ini lakukan. Dilain sisi Issei memandang Naruto dengan tatapan berbinar.
"Astaga! Apa Naruto-san selalu sekuat ini? Dia mengalahkan mereka dengan satu serangan, apa aku bisa sekuat Naruto-san?. Buchou apa aku bisa sekuat dia?" Issei bertanya kearah Rias dengan mata penuh harap.
"Aku yakin kau bisa menjadi kuat Issei" Kata Rias yang membuat Issei melompat senang. Meskipun Rias berkata begitu, tapi ia memiliki sedikit keraguan disana. Jika Naruto memang sekuat ini, apa dia mau menjadi bagian dari peerage miliknya? Rias sendiri kuat dengan kekuatan Power of Destruction yang berasal dari keluarganya, tapi Sona juga sama kuatnya dengan kecerdasan dan sihir air Sitri. Jadi saat Rias menyaksikan Naruto dengan mudahnya menyapu bersih peerage Sona, ia jadi tidak yakin jika Naruto mau menjadi peerage-nya. Dan lagi pertarungan ini belum berakhir, Sona sendiri belum mengeluarkan sihir elemen air kebanggan Sitri.
Didalam ransel Naruto dan tidak ada yang menyadari sama sekali, Kurama dengan seringai melihat pertarungan yang dilakukan oleh Naruto dengan damai. Ia tidak pernah meragukan kekuatan dari bocah tersebut sedikitpun, karena Kurama tahu Naruto lebih dari ini, jauh lebih dari ini.
"Selesaikan cepat bocah, agar aku bisa pulang"
Sona mengangkat tanganya keatas dengan aura sihir yang terus berkumpul disekitarnya. Detik berikutnya air serasa berkumpul disekitar Sona, terus berkumpul dan membentuk seekor ular besar yang terbuat oleh air. Momo dan Reya dengan cepat melafalkan sihir berbasis listrik untuk menambah daya hancur dari serangan King mereka.
Naruto yang melihat ular terbuat air dihadapanya, tanpa sadar mengingat misi rank C pertamanya. Dimana saat itu Zabuza mengeluarkan naga air yang untuk pertama kali dilihat oleh Naruto muda. Meskipun Naruto harus jujur, jika serangan Sona dan Zabuza beradu, Sona pasti yang akan menang. Karena ukuran ular air tersebut dua kali dari naga air milik Zabuza.
"Menyerahlah Naruto! Serangan ini akan membuatmu merasakan rasa sakit dan aku pastikan tidak akan meleset" Sona berkata dengan tangan yang masih terangkat "Kau telah menunjukan sesuatu yang memakjubkan dan aku tidak akan meremehkanmu lagi" Naruto mengangguk setuju dengan ucapan Sona.
"Aku juga merasakan hal sama Sona. Kalian hebat kalau aku boleh bicara, meski aku tidak banyak mengeluarkan kekuatanku. Aku mungkin akan bisa melakukannya, setelah aku memanangkan pertarungan ini" Naruto berkata dengan seringai diwajanya. Sona yang melihatnya hanya mendengus dan mengarahkan tangannya turun kearah Naruto.
"Seperti yang kau mau Naruto!" Ular air itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menerjang cepat kearah Naruto. shinobi itu melihat serangan Sona dengan wajah datar, ia mengeratkan pukulannya dan membawa kebelakang. Ketika Ular air itu tepat dihadapan Naruto, ia menghantamkan pukulannya kedepan. Gelombang besar dari hasil pukulan Naruto menghantam Ular air Sona, untuk semua yang menyaksikan hanya bisa terkejut. Ular air itu tercerai berai menjadi butiran air dihadapan pukulan Naruto.
"Selanjutnya. Terima ini. Down Fall!" Naruto membuka telapak tangannya dan menghatamkan kebawah. Mereka yang melihat hanya bisa bingung, sebelum merasakan sebuah tekanan yang begitu kuat menghatam mereka. Memaksa mereka untuk jatuh diatas tanah salju. Sona memaksa tubunya untuk berdiri dan hanya bisa merasakan rasa sakit yang terus menghantamnya jatuh. Mata violetnya melihat kearah Naruto yang berjalan kearahnya. Dia berhenti dan melihat keatas, yang juga diikuti oleh Sona.
"aaaarrrRRRGGHHHHHH" Sona dapat melihat Saji yang diawal dilempar keatas telah jatuh. Melihat dimana pemuda itu akan jatuh, membuat mata violet Sona melebar. Dia dapat melihat Naruto, yang juga memperhitungkan jatuhnya Saji, Shinobi itu melompat dan dengan perhitungan waktu yang tepat. Naruto menendang perut Saji, membuat tubuh Saji bagaikan peluru melesat kearah Sona dan peerage lainnya. Debu putih tercipta saat tubuh Saji menghantam tanah.
"Jadi aku menang kan?" Naruto berkata dengan ceria kearah Serafall.
Serafall hanya bisa memandang tidak percaya kepada manusia dihadapannya. Ia dengan cepat berlari kearah Sona dan peerage miliknya. Dia menghela nafas pelan melihat bahwa luka Sona dan teman-temannya tidak begitu parah dan dapat disembuhkan dalam satu atau dua hari. Tapi yang menjadi pertanyaan Serafall disini, adalah pemuda berambut putih ini. Dia dengan mudah mengalahkan Sona dan peerage-nya tanpa mengeluarkan keringat. Sekuat apa manusia in?
"Apa-apaan serangan terakhir tadi?" Serafall mengeram sambil menunjuk pada peerage Sona yang mengeram sakit. Naruto hany memasang wajah polos dan mengangkat bahu.
"Sebuah tendangan Kurasa"
My Limit
Diwaktu yang sama saat Naruto bertarung dengan Sona dan peerage miliknya. Disudut kota dimana pantai dengan pasir bersih berada. Sesosok hewan dengan warna coklat pasir tertidur dengn lelapnya didalam tumpukan pasir yang ia buat.
Hewan berbentuk rakun dengan corak biru ditubuhnya. Ukuran makhluk itu sama dengan Kurama, karena ia juga adalah bijuu dengan nama Shukaku. Telingga Shukaku berkedut pelan, ia mendengar suara bising. Mengiraukan dan berusaha untuk tetap tidur, tapi apa daya suara it uterus bergema diseluruh pantai.
Mata dengan model bintang berwarna emas itu terbuka dengan tiba-tiba. Dengan kehendaknya, pasir disekitar tubuhnya bergerak dan menganggkat tubuh Shukaku kepermukaan. Dia benar-benar ingin tahu siapa yang berani menganggu jam tidur nya. Shukaku tahu bahwa, yang membuat berisik bukan salah satu saudaranya. Dan saudara yang paling dekat dengan posisinya saat ini adalah Isobu dan Saiken, dia sudah bertemu Isobu kemarin dan Saiken pasti akan memanggilnya melalui link.
Jadi saat Shukaku melihat seorang pemuda berambut silver dengan sayap aneh dipunggungnya, dia mengeram marah. Shukaku dapat merasakan kekuatan aneh dari pemuda tersebut, dan seperti yang dikatakan saiken beberapa hari lalu bahwa Naruto akan mengumpulkan semua dan membicarakan masalah ini bersama. Tapi tahu lebih awal tidak ada salahnya bukan.
"Hei kau bisa berhenti. Kau menganggu tidurku"
Vali mengentikan latihannya dan memandang pada makhluk kecil berbentuk rakun dipasir. Dia mendapati makhluk yang tidak lebih besar dari anjing itu bicara padanya. Mata Vali bertemu dengan mata berpola bintang Shukaku, dan entah kenapa keduanya merasakan ketidak cocokan yang jelas.
TBC
Nikmati saja cerita yang ada, entah itu baik atau buruk. Kalau mau komentar pada kolom review saja Ok.
