Yeeey~! Lebih cepat kan saya update-nya. Cepat satu hari dari perkiraan. Hahaha...
Well, guys. This is~~...
.
Chapter 3
Latihan sore hari ini selesai. Sebagian anggota sudah pulang dan hanya menyisakan Hiruma, Yamato, dan Mamori, yang sedang sibuk membereskan ruang klub. Sedangkan Hiruma sibuk dengan laptop dan data-data di atas meja, dan Yamato sedang melilitkan perban di lengan atasnya.
"Mamori-san," panggil Yamato. "Bisa tolong ikatkan perban ini?"
Mamori tersenyum "Oh iya, tunggu sebentar." Dia lalu berjalan menghampiri Yamato dan duduk di sebelahnya. Mamori menggunting jadi dua ujung perban yang sudah dililitkan, lalu mengikatkannya erat. "Ngomong-ngomong Yamato-kun, kenapa di sekujur tubuhmu banyak luka gores begitu?" tanya Mamori sambil memperhatikan dada, perut, sampai ke punggung Yamato.
"Oh ini. Kemarin aku jatuh dari bukit," jawabnya, lalu melihat wajah cemas Mamori. "Tenang saja Mamori-san, aku hanya terguling-guling ke bawah saat latihan sendiri di hutan kemarin sore," tambahnya lagi sambil tersenyum.
"Kau masih melakukan itu?" tanya Mamori, tidak berkurang cemasnya. "Apa ini sudah diobati?" Mamori lalu menyentuh beberapa luka di dada dan perut Yamato.
"Tidak perlu, ini sama sekali tidak sakit. Hanya goresan ringan. Nah, Mamori-san. Bagaimana kalau kau membantuku memasangkan perban ini di pundakku?"
Mamori lalu tersenyum. Dia lalu berdiri di belakang Yamato dan mengambil perban baru di kotak obat karena memang perban yang dipakai Yamato tadi hanya sisa sedikit dan tak akan cukup untuk dililitkan di kedua pundak Yamato.
"Mamori-san, aku lihat kau dekat dengan si Kanazawa," sahut Yamato, tetap menghadap ke depan, tepatnya memandang ke Hiruma saat Mamori tengah sibuk di belakangnya melilitkan perban dari pundak kiri ke bawah lengan, lalu diteruskan ke pundak kanan dan dikencangkan ke bawah lengannya lagi. Begitu seterusnya.
"Kanazawa-kun? Kau mengenalnya Yamato-kun?"
"Tentu saja. Dia teman sejurusanku."
"Oh ya... Aku lupa. Dia pernah bercerita." Mamori lalu tertawa karena teringat sesuatu. "Dia orang yang suka bicara."
Yamato ikut tertawa. "Bagaimana dia Mamori-san? Apa kau menyukainya?" tanya Yamato, masih tetap memandang Hiruma yang sama sekali tidak terusik dengan percakapan mereka.
"Tentu saja aku menyukainya. Dia baik."
Yamato mendengarkan Mamori, tapi dia merasa lelah melihat Hiruma yang masih terus sibuk dengan laptopnya. Kapten setannya ini sama sekali tidak mendengarkan, atau sebenarnya dia dengar tapi tidak peduli sama sekali.
"Nah, sudah selesai. Biar kuambilkan bajumu." Mamori lalu menuju loker Yamato dan mengambil baju bersih miliknya dan memberikannya ke Yamato.
"Terima kasih."
Yamato lalu memakai bajunya. Masih terus sekali-sekali melihat ke Hiruma yang tetap sibuk dengan dunianya. Bagaimana bisa Mamori menyukai orang seperti Hiruma ini? Pikir Yamato. Sekarang, Yamato malah merasa iba dengan Mamori. Gadis sepertinya, seharusnya tidak perlu mengalami hal menyakitkan seperti ini karena menyukai Hiruma. Sebab Yamato tahu dengan pasti, masih banyak laki-laki yang berbaris untuk mendapat perhatiannya. Sedangkan menurutnya, Si Hiruma ini memang tidak tahu diuntung.
Yamato lalu menyampirkan tas ke pundaknya. "Aku duluan Mamori-san," ujarnya tersenyum ke Mamori, "Sampai besok, Mamori-san, Hiruma."
"Sampai besok Yamato-kun," ujarnya sambil membalas senyumannya.
Yamato lalu keluar dan dalam beberapa langkah dia menumbruk tubuh tinggi kekar. Dia lalu mendongak sedikit ke atas dan menyapanya. "Oh, Musashi-san."
"Yo, Yamato. Apa Hiruma ada?"
"Ya, dia ada di dalam," tunjuknya ke belakang dengan jempol.
Musashi melirik ke pintu yang terbuka di depannya. "Baiklah. Aku ke dalam dulu."
Musashi berjalan ke pintu ruang klub yang berada beberapa langkah di depannya. Mencari Hiruma di waktu senggangnya memang mudah. Kalau tidak di lapangan, ya di ruang klubnya. Jadi Musashi langsung saja menemuinya di sini, saat waktu latihan Hiruma selesai, karena pasti hanya ada dia sendiri kalau sudah sesore ini.
"Nah, Hiruma. Aku sudah menjaga wanitamu seharian kemarin. Sekarang dia ada di tempatku."
.
.
"Nah, Hiruma. Aku sudah menjaga wanitamu seharian kemarin. Bawalah dia dari tempatku."
Mamori menoleh ke belakang, ke asal suara di ambang pintu. Dia melihat Musashi di sana. Dia mendengar apa yang dikatakannya, sangat jelas dan, walaupun Mamori sendiri tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Tanpa sadar, penghapus papan tulis jatuh dari tangannya, karena memang tadi dia sedang membersihkan papan tulis.
"Oh, Mamori-san. Apa kabar?"
Mamori tersadar lagi dengan suara Musashi lalu mengambil penghapus papan tulisnya. "Hai, Musashi-san," sapanya tersenyum kepada Musashi lalu melanjutkan lagi pekerjaannya membereskan ruang ganti.
"Hiruma," sahut Musashi sambil menggeser kursi ke belakang dan duduk di sana. "Kau saja," tambahnya sambil meletakkan kunci ke atas meja. "Aku mau ke Shizuoka sore ini. Kau ambillah dan simpan kuncinya dulu."
"Kenapa tidak kau bawa sekalian, bodoh."
Musashi mendesah. "Kau kira aku mau membawa-bawa itu? Sudah kau ambil saja."
Hiruma lalu mengambil kunci dan memasukkan ke dalam saku celananya. "Apa sudah kembali utuh?"
Musashi mengangkat bahu. "Aku rasa sudah. Aku tidak tahu."
Mamori keluar dari ruang ganti sambil membawa satu ranjang penuh berisi pakaian kotor. "Kau mau minum kopi Musashi-san?" tanyanya sambil meletakkan keranjang baju di pojok ruangan.
"Tidak usah repot-repot. Aku hanya sebentar," jawab Musashi lalu beralih kepada Hiruma lagi. "Jadi Hiruma, jangan sampai lupa. Aku resah kalau ditinggal di tempatku terus," ujarnya sambil bangkit dari kursi. "Aku pamit dulu Mamori-san. Sampai nanti."
.
.
Hiruma melihat Mamori yang mengunci pintu ruang ganti sambil membawa kantong plastik besar. Dia lalu menutup laptopnya dan memasukkan barang-barang ke dalam tas, sedangkan Mamori memasukkan baju-baju kotor ke dalam kantong plastik. Setelah selesai, Hiruma dengan tas disampirkan di sebelah pundak, bersandar pada pintu yang terbuka sambil memperhatikan Mamori.
Mamori menoleh menyadari Hiruma yang memperhatikannya. "Kau pulanglah duluan. Biar aku yang mengunci ruangan. Dan tenang saja, besok aku akan datang lebih pagi."
"Kau mau membawa itu ke laundry, heh?"
"Iya," jawabnya sembari mengikat kencang kantong plastik karena memang isinya sangat penuh dan berat.
Hiruma lalu mendekat dan mengangkat kantong besar itu ke samping pinggangnya. "Cepat masuk-masukan barangmu."
Mamori berdiri sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. "Aku saja. Tempat laundry-nya dekat. Bukannya kamu ada perlu? Aku bisa sendiri," sahut Mamori, dan melihat Hiruma menatap tajam ke arahnya. "Oh, baiklah..."
Mamori lalu membereskan barangnya. Setelah selesai, dia mengunci pintu dan mengikuti Hiruma yang sudah lebih dulu jalan ke tempat parkir. Mamori menghela napasnya. Seharusnya tidak begini. Mamori padahal sudah sepenuh hati ingin melupakan perasaannya kepada Hiruma, tapi kenapa sekarang sedikit pun rasa itu tidak berkurang. Ini tidak adil, kenapa harus dia yang hanya merasakan rasa sesak seperti ini. Melihat Hiruma yang berjalan beberapa langkah di depannya. Membayangkan ada wanita lain di sampingnya. Sebenarnya dia tidak mau lama-lama di samping Hiruma, dia sudah tidak bisa menahannya. Dia takut, kalau-kalau air matanya tiba-tiba tumpah hanya dengan memikirkan Hiruma yang sudah jadi milik wanita lain.
Tentu saja Mamori mendengarkan perkataan Musashi tadi.
Nah, Hiruma. Aku sudah menjaga wanitamu seharian kemarin. Bawalah dia dari tempatku.
Jadi Hiruma, jangan sampai lupa. Aku resah kalau ditinggal di tempatku terus.
Dia tidak akan melupakannya begitu saja. Kata-kata itu terus terngiang. Wanitamu, wanitamu, wanitamu. Wanitanya. Wanita milik Hiruma. Hiruma milik wanita itu. Seberapa keras Mamori berusaha memutar-mutar dan memikirkan kata-kata itu, dia sama sekali tidak menemukan cela kalau ternyata dia salah mendengarkan.
"Kenapa berhenti, heh?"
Mamori tersadar karena suara Hiruma dan tidak menyadari kalau dia berhenti melangkah. Mamori menunduk dan mengusap air matanya yang ternyata sudah menetes perlahan tadi. Entah apa lagi yang tidak dia sadari, karena Mamori tidak tahu kapan Hiruma datang mendekat, dan sekarang dia mendapati Hiruma sudah berdiri di depannya.
"Maaf, mataku kelilipan debu."
"Ck. Dasar bodoh. Lain kali hati-hati. Ayo cepat."
Hiruma berbalik lagi dan berjalan menuju ke tempat parkir di depannya. Dia lalu mendudukkan kantong cucian itu di jok belakang motornya sambil menunggu Mamori yang menundukkan kepala berjalan ke arahnya.
"Katakan apa masalahmu?"
Lagi-lagi Mamori tersadar dari lamunannya karena suara Hiruma. "Ah ya, bukan apa-apa. Ini memang masalahku, jadi tidak usah kau pedulikan."
Hiruma lalu menarik tangan Mamori cepat sehingga dia sudah tiba begitu saja berdiri di depannya. "Oke. Aku ganti. Apa kau punya masalah denganku, heh?"
Sebenarnya Mamori tidak mau berkata apa-apa. Ya, dia terlalu lelah, perasaan dan pikirannya terlalu lelah kalau sudah berhubungan dengan Hiruma. "Seharusnya kau tinggal bilang, kalau kau tidak suka padaku. Aku bisa menerimanya, aku juga bisa menerima kalau kau ternyata sudah punya kekasih."
Nah, lagi-lagi Hiruma dibuat terdiam oleh kata-kata Mamori. "Kekasih?"
Mamori berusaha menjawab sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hiruma, namun Hiruma tidak mengendurkan genggamannya itu. "Lepaskan dulu," pinta Mamori. Hiruma bukannya melepaskan tangan Mamori, dia malah menariknya ke belakang agar Mamori tidak berusaha melepaskannya. "Aku mendengarnya Hiruma. Aku tidak tuli. Musashi-san sendiri yang bilang kalau kau seharusnya menjemput wanitamu sekarang."
"Oh ya benar. Wanitaku. Tapi bukan kekasihku."
Mamori mendongak, karena memang sekarang jarak tubuh mereka hanya beberapa senti dekatnya. "Tolong, jangan bersikap seperti ini. Sudah cukup Hiruma."
"Jadi benar kau punya rasa kepada teman si rambut liar itu, heh?"
"Apa?" tanya Mamori, karena tiba-tiba Hiruma sudah mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Kanazawa-kun? Bagaimana kau tahu?"
"Aku ada disana bodoh. Aku mendengarnya dan aku tidak tuli."
Mamori tetap berusaha melepaskan tangannya. Karena bagaimanapun, siapapun yang melihat mereka akan mengira kalau Mamori sedang memeluk Hiruma. "Kalau begitu lepaskan. Ada seseorang yang menunggumu Hiruma, aku tidak ingin dia salah paham."
"Menurutmu seperti apa wanita sialanku itu?"
Mamori berpikir sesaat. "Cantik, mungkin?"
"Tentu saja cantik," sahut Hiruma menyeringai senang. "Dia juga punya lekuk yang indah dan halus."
"Cukup Hiruma," ujar Mamori benar-benar sudah tidak tahan. "Aku tidak mau mendengarnya. Jangan mempermainkan aku lagi."
"Kau mau melihatnya? Ah, untuk apa. Kau juga pernah melihatnya," katanya lagi sambil terkekek.
"Cukup," sela Mamori, menginjak kaki Hiruma dengan kakinya.
Hiruma terdiam sejenak memandang kakinya lalu membalas tatapan tajam Mamori. "Aku rasa kau memang harus melihatnya. Ikut aku."
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Hayooo tebak-tebakan siapa wanita-nya Hiruma? Siapa atau apa nih? Hehehe... Sayangnya si Mamo cuma dengar beberapa 'part' obrolan Hiruma sama Musashi sih, jadinya salah paham. Disini Mamori galauan bener yaak. Gregetaaan... Sebeeel ! Ya sudahlah, kan biar jadi hurt/confort gitu XD.
Btw, Kayaknya genre hurt/confort kurang pas ya? Apa masih kurang sedihnya? Lagian ini mah bukannya bikin pembaca sedih, tapi malah bikin sebel, ya kaaan XD
So guys, please Read and Review ^o^ ~!
Salam: De
