– Unlocked –
.
KRY Fanfiction © R'Rin4869
Summary : 'I can never captive your heart, it must be a sign to let you go.' Ryeowook tenggelam dalam rasa bersalahnya untuk kecelakaan 18 tahun silam yang menewaskan orangtua teman kecilnya, Kyuhyun, dan membuat Kyuhyun mengalami kelumpuhan total. Ryeowook terus-menerus berusaha untuk mengurus Kyuhyun dan segala keperluannya. Namun apa jadinya jika Kyuhyun mencintai Ryeowook lebih dari sekedar teman kecil? Apa keputusan Kyuhyun selanjutnya? Membiarkan Ryeowook terikat padanya selamanya ataukah membiarkannya bebas?
.
Rated : T goes to M
Genre : Psychological, Hurt, Comfort, Romance, Drama
Diclaimer : the storyline is original from me, but all the characters are belong to theirselves
Warning : this is realistic-themed fanfic like i usually wrote, inspired by some manga, yaoi, typos, OOC
.
It's like i was drowning forever in sadness. Feeling responsible for all have happened. And eventhough you never pointed it as my mistake, i'm more than willing to sacrifice anything include myself for you only. For you only.
.
.
.
Pria itu memandang seorang pria lain yang tak jauh darinya. Tingginya hanya sekitar 170, atau mungkin kurang, jika menilik dari tubuh mungilnya yang seukuran wanita. Parasnya feminin. Kulitnya sewarna porselen. Dan matanya mirip madu, coklat muda, seakan meleleh dan terkesan hangat. Rambutnya dibiarkan turun menutupi dahi dengan gaya konvensional. Ketimbang karyawan, pria itu lebih kelihatan seperti anak sekolah.
Jongwoon berjalan sepelan yang dia bisa. Menilai dari segi manapun yang tertangkap oleh inderanya. Dia dilahirkan untuk ini. Untuk mengenali orang lain sebaik mungkin. Dan dia mencurahkan bertahun-tahun untuk ini. Pria itu nyaris berpapasan dengannya ketika jarak mereka semakin tipis, namun sebuah suara menghentikan langkah kaki di depannya.
"Kim Ryeowook-ssi?"
Pria itu, Kim Ryeowook, spontan berhenti. Ada suara langkah cepat di belakangnya, tapi Jongwoon mengabaikan itu, dia berjalan terus, seolah tidak memperhatikan apapun.
"Ah, aku benar rupanya. Kupikir aku salah. Ada apa ke sini?" seorang pria lain, tinggi, terlampau tampan dan senyumnya begitu cerah ketika dia sampai di depan Ryeowook.
"Minho-ya, berhenti menggunakan bahasa formal begitu. Aku merasa bertemu dengan orang asing."
Jongwoon tepat berada di sebalah Ryeowook ketika pria itu berujar. Cukup jelas untuk mendengar suaranya yang nyaring dan halus. Mereka berpapasan tanpa sedikitpun interaksi. Jongwoon terus berjalan ke arah di mana Ryeowook datang sebelumnya. Masih mencoba mendengarkan.
"Aish, Hyung, aku mencoba jadi karyawan teladan agar Cho Sajang-nim menaikkan pangkatku." Minho mengedip.
Ryeowook tergelak di tempatnya.
Normal, batin Jongwoon.
"Demi Tuhan, Choi Minho, kau dan Kyuhyun sudah seperti saudara kembar, tahu! Jangan bicara seolah-olah kau karyawan biasa di sini. Bilang sajalah kalau kau mau kenaikan gaji, aku bisa melobinya dengan Kyuhyun." Ryeowook nyengir.
"Aku bercanda. Gajiku sudah cukup, kok." sanggah Minho. "Kau mau main ke kantorku?"
"Segelas kopi akan sangat menyenangkan untuk sore ini."
"Baiklah."
Jongwoon mencapai pintu keluar, pintu itu terbuka secara otomatis dengan sensor. Dia berjalan dengan langkah panjang-panjang dan mencapai kedai kopi di sebelah kantor, tempat yang tepat berada antara pintu utama gedung dan jalur keluar masuk mobil. Dia mengambil tempat paling dekat dengan jendela dan memesan secangkir latte.
Pria itu menahan dagunya dengan kepalan tangan. Memandang ke arah lobi gedung, di mana dia baru saja keluar.
"Kim Ryeowook, ya. Kehidupannya membosankan. Tanpa tantangan. Trauma dan overprotektif."
Jongwoon sudah berkecimpung bertahun-tahun dalam dunia psikologi. Dia sudah banyak mendengar orang-orang yang terganggu dalam kehidupannya karena sebuah trauma masa lalu. Kebanyakan orang mengidap fobia sesudahnya. Namun kasus Ryeowook berbeda. Trauma itu membuatnya menyalahkan diri sendiri sebagai satu-satunya korban yang selamat tanpa cidera dari kecelakaan itu.
"Kuat di luar, rapuh di dalam." gumam Jongwoon, tepat saat latte-nya datang.
Jongwoon tak butuh kertas dan pena untuk mencatatnya. Dia mengingat dengan baik. Atau, dia memang sangat tertarik dengan kasus ini.
Kyuhyun memintanya untuk suatu hal yang... unik. Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Metode psikologi seringkali memakai objek penelitian, namun terlibat sebagai objek penelitian itu sendiri akan sangat menarik untuk dicoba. Jongwoon lebih tertarik dengan ceritanya, pengalamannya, dan pengaplikasian metode yang selama ini dipelajarinya secara nyata. Bukan cuma dengan mengamati, mendengar, atau berspekulasi. Tapi merasakannya langsung.
Dia akan senang sekali untuk bisa berpartisipasi. Dan Kyuhyun bahkan memfasilitasinya.
Dilihatnya Ryeowook keluar dari gedung saat tegukan terakhir dari gelasnya tandas, membawa setumpukan berkas dan mencoba menggunakan ponselnya dengan kesulitan. Jongwoon meninggalkan selembar uang di meja dan keluar. Kali ini mereka tak akan berpapasan lagi, jamin Jongwoon.
Satu tabrakan kecil membuat seluruh berkas yang dibawa Ryeowook jatuh berserakan.
"Oh, mianhamnida." Jongwoon mendengar dirinya sendiri berujar, nadanya panik. Tangannya dengan cepat meraih untuk membantu membereskan berkas-berkas itu.
Ryeowook sama sekali tidak kelihatan marah. Dia mengumpulkan berkasnya sambil berkata, "Tidak apa, sungguh. Harusnya aku minggir sedikit, bukan berdiri di tengah jalan seperti ini."
Semua berkas itu akhirnya terkumpul kembali. Jongwoon menyerahkannya ke tangan Ryeowook. "Aku tetap saja bersalah, berjalan tanpa melihat-lihat dulu seperti tadi."
Ryeowook tersenyum. "Aniyo. Tidak masalah, jam makan siang akan berakhir, jadi Anda pasti buru-buru. Dan terima kasih sudah membantu."
"Ya. Maaf, aku harus ke atas."
Ryeowook mengangguk.
Jongwoon memasuki gedung, berhenti beberapa meter, memandangi Ryeowook masuk ke mobilnya dan menghilang. Dia mencatat satu hal lagi di kepalanya.
"Kecenderungan menyalahkan diri sendiri, positif."
Ѿ
Yeri sedang membereskan mejanya ketika Ryeowook datang. Lima belas menit setelah jam pulang karyawan.
"Oh, Ryeowook-ssi."
"Aku cuma mengambil berkas, akhir pekan nanti aku butuh bacaan." Ryeowook mengibaskan tangannya. "Kau bisa langsung pulang, Yeri-ssi."
Dia memasuki ruangannya tanpa banyak bicara lagi. Berkutat dengan entah apa di dalam sana. Yeri menggigit bibirnya. Sampai Ryeowook kembali keluar, dia sama sekali belum beranjak.
"Yeri-ah?" Ryeowook menatapnya heran.
"Eh, ne?"
"Kenapa kau belum pulang?"
"Aku..." Yeri ragu-ragu sejenak. "Aku ingin..." mengajakmu makan malam, apa boleh?
Ryeowook menunggu.
Yeri menggeleng. "Ani, tidak ada apa-apa. Aku berpikir apakah tadi ada hal yang penting untuk disampaikan pada Anda. Tapi setelah kuingat-ingat, tidak ada."
"Oh," Ryeowook mengangguk paham. "Catat ini kalau begitu."
"Ye?" mata gadis itu membulat.
"Aku akan lebih senang kalau kau memanggilku 'sunbae' di luar jam kantor." Pria itu mengedip padanya, "Dan, selamat berakhir pekan." Kemudian pergi begitu saja.
Yeri terduduk kembali di kursinya, menghela napas. Berusaha melupakan apa yang tadinya dia pikirkan dan memutuskan pulang.
Mungkin lain kali, hiburnya pada diri sendiri.
Ѿ
"Selamat datang, Ryeowook-ssi."
"Ah, selamat malam,"
Ryeowook baru kembali saat makan malam dihidangkan. Seorang pelayan membawakan tas dan mantelnya sementara dia langsung menuju ruang makan. Kyuhyun menunggu di sana.
"Tidak makan?"
"Aku tahu persis jadwal pulangmu. Duduklah." sahut Kyuhyun.
Ryeowook tertawa kecil. "Kenapa aku jadi merasa kalau akulah yang dongsaeng di sini?"
Kyuhyun menyeringai. "Aku punya beberapa alasan."
"Tunggu, aku tak ingin dengar satupun. Jadi jangan bicara." Ryeowook mengambil tempat duduk tepat di samping Kyuhyun. Satu dari tujuh kursi yang tersisa mengelilingi meja makan mewah tersebut.
"Hyung?" Kyuhyun memperhatikan Ryeowook yang mengambil makanan untuknya.
"Hm?"
Kyuhyun memilah kata-kata yang ingin diucapkannya dengan seksama.
"Kudengar tadi kau ke kantorku."
Ryeowook menoleh, menatap mata Kyuhyun langsung. Terdengar sebal, dia menjawab, "Astaga, anak itu sekretarismu atau ajudanmu, sih? Melapor terus."
"Ck, Hyung, bagaimanapun dia digaji olehku. Kau tidak macam-macam, kan, di kantor?"
"Aku membuang berkas berharga, aku menumpahkan kopi di mejamu, dan aku memecahkan vas bunga di sudut ruangan. Ah, dan lalu aku nyaris membakar seluruh kantor. Apa kau senang mendengarnya, Cho Sajang-nim?"
"Aku menganggap itu sebagai lelucon." Kyuhyun mengedik. "Apa kau bertemu orang lain selain Minho di sana?"
"Seperti biasa, sekretarismu, dan beberapa manajer."
"Ini sebabnya aku pernah sungguhan memintamu bekerja di sana." desah Kyuhyun.
Ryeowook meletakkan piring yang penuh berisi makanan di depan Kyuhyun, tersenyum simpul. "Tidak, Cho. Selama aku di sini kau menanggung akomodasiku. Jika aku bekerja di bawah perusahaanmu, aku akan makin merasa menggantungkan hidupku di sini dan membuatmu terbebani."
"Dan kau memaksaku menggantungkan hidupku padamu sementara kau bertindak seperti martir yang siap menyerahkan hidupmu untukku. Kaulah yang terbebani dan harusnya aku yang mengatakan hal itu." sergah Kyuhyun.
Menyerahkan hidupnya... Ryeowook benar-benar tak suka kata-kata itu tetapi––
"Mungkin kau benar. Tapi itu memang sudah seharusnya." ucap Ryeowook dengan nada ringan yang ganjil. "Kau harus tambah supnya, itu akan membuat tubuhmu hangat."
"Hyung,"
"Kyu," Ryeowook menghela napasnya. "Kita sudah bicarakan ini berkali-kali, oke?"
"Dan kau bersikeras menjadi satu-satunya yang keras kepala!"
Ryeowook terkejut dengan intonasi Kyuhyun yang meninggi. "Kyu, kau tahu aku tidak bisa melepasmu sendiri." katanya tenang, "Aku hanya... hanya khawatir kalau––"
"I'm a fuckin' grown up man."
"Aku tahu! Tapi..." suara Ryeowook mulai bergetar, ketegarannya goyah.
Kyuhyun memijit dahinya sendiri. "Oke. Oke, maaf. Aku keterlaluan." Dibiarkannya matanya menatap iris karamel Ryeowook. Memberikan keyakinan di sana. "Aku berjanji tidak akan membicarakan soal ini lagi. Jadi, sekarang bisa kau ambilkan supnya?"
Ryeowook cuma menghembuskan napas lega, dan mengangguk. Mengambilkan mangkuk sup untuk Kyuhyun, dan sisa makan malam itu mereka lewati dalam diam.
Ѿ
Ryeowook membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, tapi kantuk yang ditunggunya tak kunjung datang. Pertengkarannya dengan Kyuhyun tadi membuatnya terus terjaga malam ini. Dia tak tahu apa yang salah atau apa yang mengganggu pikiran Kyuhyun. Tetapi sebelumnya pria yang sudah dianggapnya adik sendiri itu tidak pernah berbicara seperti itu padanya.
Kyuhyun selalu menerima apa yang dia berikan tanpa protes. Bahkan kadang tanpa bertanya.
Perubahan itu mulai datang setahun terakhir ini. Seperti ada yang membuat Kyuhyun begitu gelisah. Tiap kali Ryeowook berbicara soal mengurus perusahaan Kyuhyun atau kesehatannya, pria itu jadi mudah sekali hilang kendali. Ryeowook berpikir-pikir apa yang salah dengannya hingga Kyuhyun nampak ingin menjauh. Kyuhyun memang tak pernah mengatakannya langsung, tapi Ryeowook bisa menangkap hal itu. Seolah-olah Kyuhyun ingin mendirikan jarak di antara mereka, atau memintanya untuk tidak lagi mengurusinya.
Sadar jika dia mulai berpikir terlalu jauh, Ryeowook memutuskan untuk menemui Kyuhyun.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dan Ryewook berada tepat di depan pintu kamar Kyuhyun. Mengetuknya pelan.
"Kyu?" panggilnya lirih.
Tak ada jawaban yang datang. Ryeowook kembali mengetuk, kemudian menunggui jawaban yang tak kunjung muncul. Nekat, akhirnya dia membuka pintu itu sendiri.
Cahaya di ruangan itu temaram, hanya berasal dari lampu dinding di sebelah tempat tidur. Kyuhyun tak bergerak di balik selimutnya. Ryeowook mendekat, dan memandangnya tanpa suara. Lalu mendesah pelan. Napas pria itu membuat suara desir halus.
Ryeowook menelusuri jarinya pada rambut Kyuhyun yang lembut. Membelainya.
"Aku... ingin minta maaf." ucap Ryeowook dengan penuh penyesalan. "Kau mungkin berpikir aku berlebihan, Kyu. Tapi kau tak pernah tahu rasanya ketika aku harus melihatmu di kursi roda seumur hidup sedangkan aku masih punya dua kaki yang normal. Atau saat ibuku berkunjung sementara kau tak lagi punya orangtua. Aku tak sanggup jika harus menyaksikanmu menderita lebih banyak. Aku––, ini tak adil, Kyu. Jadi apapun yang kau katakan, aku sudah tidak peduli lagi. Aku cuma ingin bisa berguna untukmu." dia meluapkan perasaannya.
Ryeowook memandangi wajah polos Kyuhyun yang sedang pulas. Menikmati ketenangan yang mengalir begitu saja ketika kata-kata itu telah diucapkan. Dia memandanginya sejenak lebih lama sebelum akhirnya beranjak.
"Selamat malam, Kyuhyun-ah."
Ryeowook meninggalkan kamar itu sama seperti kedatangannya. Cepat dan tanpa suara.
Dua menit kemudian, ketika keadaan sudah benar-benar hening, dan langkah kaki Ryeowook di luar kamar tak lagi bisa terdengar, Kyuhyun membuka matanya. Kemudian memejamkannya lagi dengan frustasi.
"Kau tak tahu dengan bersikap begitu itu malah membuatku menderita... dan aku mungkin tak akan sanggup lagi jika kau begitu terus, Hyung."
Ѿ
"Hyung," Kyuhyun menghentikan Ryeowook di depan rumah ketika pria itu siap untuk pergi bekerja keesokan harinya. Mereka sudah bersikap normal lagi hari ini. Tak ada satupun yang mengungkit-ungkit soal cekcok mereka kemarin.
Ryeowook memandangnya dengan tanda tanya. "Kau ingin menitip sesuatu?"
"Aniyo," sahut Kyuhyun. "Aku hanya lupa memberitahumu, aku mengangkat seorang wakil direktur baru di perusahaanku."
"Wakil direktur?" alis Ryeowook segera bertaut.
"Ya."
"Kemana Seo Taejin-ssi?"
"Dia pensiun." jawaban itu keluar dengan lancar. "Kau tentu ingat dia sudah bekerja di perusahaan semenjak orangtuaku masih ada, bukan?"
"Oh, maaf. Aku bahkan tidak sadar dia sudah setua itu. Lalu, siapa yang menggantikannya?" tanya Ryeowook. "Haruskah aku memberikan beberapa keterangan soal perusahaan yang aku tahu?" tawarnya.
Kyuhyun mengangguk. "Benar. Aku mau minta tolong padamu untuk melakukan hal itu. Dia seseorang yang tadinya bekerja di New York. Aku yakin dia masih agak asing dengan cara kerja di negara ini."
Ryeowook tersenyum. "Kupikir tak ada yang berbeda soal cara kerja. Tapi, yah, mungkin memang ada. Baiklah. Akan kulakukan itu. Kapan?"
"Sore ini. Sepulang jam kerja, aku menyuruhnya untuk menunggumu."
"Oke." Ryeowook paham. "Aku akan pulang terlambat kalau begitu."
Supir dan mobilnya sudah menunggu tepat di depan pintu ketika Kyuhyun memanggilnya untuk kedua kali.
"Dan, Hyung?"
Ryeowook menoleh. "Hmm?"
"Aku mengandalkanmu."
Ryeowook membalas ucapannya dengan senyum lebar.
Ѿ
Pria itu nyaris berlari di lobi, menghampiri lift, dan menekan tombolnya tangkas. Dia melirik pada jam tangannya. Jam kerja sudah berakhir sejak dua jam yang lalu. Terima kasih pada rapat sialan yang menyita waktunya lebih daripada yang seharusnya. Rapat yang barusan harus dihadirinya di kantor terlalu bertele-tele hingga memakan waktu. Ditambah lagi Ilhoon memarahi deputi direktur bank di tengah rapat yang membuat rapat itu makin lama saja.
Bergegas, Ryeowook nyaris melompat ke dalam lift ketika pintunya terbuka. Menekan lantai tertinggi tempat para eksekutif kantor bertugas. Napasnya terengah, dan dia mencoba untuk menetralkannya di dalam lift.
Begitu mencapai lantai yang dituju, Ryeowook hanya bisa berharap jika vice president yang baru direkrut Kyuhyun belum pulang sehingga perjalanannya ke sana tidak menjadi sia-sia. Maka itu ketika berada tepat di depan ruangannya, Ryeowook langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dan dia dibuat terpaku di depan pintu. Kehilangan kata-kata dalam sekejap.
Di depan Ryeowook berdiri seorang pria. Pria itu menatapnya balik dengan iris sewarna obsidian yang tak terbaca dan wajah poker sempurna. Rambut pria itu hitam legam dan berantakan, begitu juga pakaiannya. Dasinya tergeletak begitu saja di sofa––Ryeowook menyadarinya saat dia melirik––dan dua kancing teratas kemejanya tidak terpasang. Kombinasi itu entah kenapa membuat pria itu nampak sangat... sensual?
"Kim Ryeowook, correct?"
Ryeowook membuang pikiran anehnya jauh-jauh, gelagapan menjawab. "Ya."
Pria itu mengangguk. Mendekatinya sambil mengulurkan tangan. "Aku Kim Jongwoon."
"Salam kenal, Jongwoon-ssi." Ryeowook menyambut uluran tangannya. Lalu dia menyadari sesuatu begitu wajah pria itu bisa dilihatnnya dari dekat. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kalau tidak salah––"
"Di depan gedung ini. Jawabanku adalah, ya."
Ryeowook terpana dengan keterus terangan pria itu.
"Aku minta maaf, Ryeowook-ssi." ujar Jongwoon.
"Nde? Untuk apa?"
"Untuk yang kemarin. Dan untuk yang sekarang. Ini sudah di luar jam kerja dan aku tidak berpikir aku bisa mempertahankan penampilan formalku terlalu lama."
Ryeowook menggeleng. "Tidak masalah untukku, Jongwoon-ssi. Harusnya aku yang minta maaf, aku terlambat datang."
Tanpa diduga, Jongwoon tersenyum sekilas. "Masuk dan duduklah. Kulihat kau berkeringat di balik kemeja itu. Asumsiku kau pasti berlari untuk mencapai tempat ini."
Ryeowook tak merespon pada komentar Jongwoon. Dia hanya mengambil tempat di sofa dan meletakkan jas kerjanya di sampingnya. Bernapas lega.
"Kopi, Ryeowook-ssi?"
"Ah, tidak, terima kasih. Kupikir aku tidak bisa menerima kafein lagi."
"Segelas air kalau begitu?"
"Baiklah."
Jongwoon sibuk membuat kopi untuk dirinya sendiri dan mengambilkan segelas air untuk Ryeowook hingga mereka akhirnya bisa duduk bersama. Ryeowook meneguk airnya banyak-banyak. Baru sadar jika dia kehausan setelah aksi buru-burunya tadi.
"Aku mendengar dari Kyuhyun jika kau akan datang dan memberikan informasi mengenai perusahaan ini. Dan walaupun kau bukan karyawan di sini tetapi kau punya sama banyaknya informasi dengan CEO perusahaan ini sendiri." Kata-kata itu meluncur dengan wajar.
"Aku sahabat lama keluarga Kyuhyun." Ryeowook menanggapi. "Dan, yah, karena Kyuhyun meng-handle perusahaan ini sendiri, dia berbagi tugas denganku. Semacam itu."
"Tapi kau tidak mengisi posisi di perusahaan ini, kenapa?"
Ryeowook hanya mengangkat bahu. Baginya, sudah biasa jika orang-orang bertanya demikian. Dan jawaban terbaiknya adalah, "Karena aku punya karir sendiri."
"Begitu," ujar Jongwoon. Nampak tak mau pikir panjang dengan hal itu. "Kupikir kau ingin melihat ini lebih dulu." Dia menyerahkan sebuah map yang berada di atas meja. "Resume-ku."
Ryeowook membukanya. Dan dalam sekejap saja, dia menganga ketika membacanya.
He graduated from that fuckin' Cornell?! One of the Ivy League? Batinnya kaget.
"Aku ingat Kyuhyun menyebut jika kau lama berada di Amerika." kata Ryeowook, mencoba mengatakannya dengan nada datar.
"Yah, setelah lulus, ada banyak tawaran bekerja di sana. And i cannot say no, so i just stayed there for almost 6 years after i graduated."
Ryeowook bisa mengerti kenapa itu terjadi. Kalau kau lulus dari satu dari delapan universitas paling prestisius di Amerika bahkan di dunia, tentu saja orang-orang dari dunia kerja akan mencarimu. Dia kini paham kenapa Kyuhyun ingin menjadikannya sebagai wakil direktur secara langsung.
Resume-nya menarik. Tak diragukan lagi, Jongwoon capable dalam pekerjaannya. Dan yang lebih menarik, pria itu punya pembawaan yang... entah kenapa di satu sisi menyenangkan, namun dalam sisi lain nampak sangat misterius. Namun Ryeowook tak ambil pusing soal itu dan hanya menikmati obrolan sore mereka.
Ѿ
"Kau butuh tumpangan untuk pulang, Ryewook-ssi?" tawar Jongwoon. Dua jam terlibat percakapan panjang, mereka tak lagi punya kecanggungan antar satu sama lain.
"Oh, tidak. Supirku menunggu."
Jongwoon tak menjawabnya. Dia memperhatikan setiap gerakan Ryeowook. Ketika jari-jari lentiknya menyapu sofa untuk mengambil jasnya, ketika dia berdiri, memandangnya, dan tersenyum.
"Aku sudah harus kembali. Kau masih punya pekerjaan lain?"
"Semacam itu,"
"Baiklah, sampai jumpa lagi, Jongwoon-ssi. Dan kalau kau butuh sesuatu, kau bisa langsung menghubungiku."
Jongwoon membalas senyumnya. "Tentu. Akan kuingat."
Ryeowook keluar dari ruangannya, dan pria itu mendengus. Dia menyandarkan punggung pada sofa, mengaitkan jari-jarinya.
"Menarik. Bahkan aku bisa merasakan betapa protektifnya dia terhadap Kyuhyun hanya dari caranya mengucapkan namanya." bisiknya entah pada siapa. "Dan entah berapa lama hal itu akan bertahan. He absolutely needs to be cured, eh?"
Ѿ
To be continue...
.
.
.
Okay...
I know it passed nearly a month to finally i post a new chapter.
Masih ribet jadi maba nih jadi gini deh, schedule belum ada teraturnya sama sekali. Hiks...
Tapi requestnya udah terkabul kaaaan
Well, i would like to know apa yang kalian pikirin bakal dilakuin sama jw ke rw nantinya ;) so, please gives me any review!
See you later~
Ѿ
