Dulu, saat hari ulang tahunku yang ke-5, kaa-san pernah bercerita tentang seorang gadis dengan syal merah yang selalu berkeliaran dimalam yang dingin kota Tokyo. Gadis itu adalah seorang wanita disukai Aniki dan masyarakat Tokyo. Aku tidak tahu siapa dia karna aku tidak pernah melihatnya.
Tapi pada suatu waktu, aku tahu siapa wanita bersyal itu.
...
Dia tidak pernah tahu apa apa tentangku. Aku tidak akan mau membuka diriku secara pribadi didepannya. Tapi untuk yang satu ini, aku merasa wanita ini seolah memberiku pelajaran untuk tidak menjadi seorang yang Egois.
Tapi.. apa aku memerlukan pelajaran itu?
...
...
.
Diclamer : percuma minta Naruto sampe botak. Tu orang *nunjuk Masashi Kishimoto yang lagi ngelalab daun singkong, gak bakalan ngasih Naruto kesaya!
Pairing : SasuSaku.
Genre : Romance/Humor(garing)/Tragedy/Family
Rated : T … hehehe, gak pasti. Saya gak ngerti rated rated'an.
Warning : OC juga boleh, Abal, Miss Typo, gaje, Alay(?), no yaoi dan lain lain yang menyangkut ketidak bisaan Author.
Sebelumnya maaf buat Hanazono Yuri karna saya kemarin bilangnya mau update besok -,- . hedeh~ kemarin saya kena muntaber tiba tiba, jadinya gak bisa bergerak dari tempat tidur gara gara lemes.
Silahkan!
…
Sakura No Kitai
...
Ayam POV *duagh
Siang ini begitu terasa cepat. Hari hariku hanya diwarnai pekerjaan rumah yang sangat banyak. Ditambah jika aku membiarkan seorang saja Maid tidak bekerja, Sasori-sama yang entah bagaimana bisa tahu terus mengawasiku dan jika sedikit saja aku membuat kesalahan pasti Beliau akan mendehem didepanku. Kh, itu menjengkelkan. Sangat. Apalagi ketika ia bilang akan mengurus semua keperluanku seperti sekolah.
Sudah dengar? Oke, Baiklah. Begini, aku sekolah di Nigiyaka senoir high school. Tepatnya kini aku menginjak kelas 3 SMA. Berjurusan bisnis dan aku termaksud rutin dalam mengikuti exskul basket. Selalu menjadi bintang kelas juga anak penerima beasiswa. Aku bersekolah disekolah favorit diTokyo. Dengan amat susah payah aku belajar mati matian demi masuk kesana. Dan.. yang jadi pertanyaannya adalah..
KENAPA AKU HARUS PINDAH SEKOLAH!? Jangan mentang mentang aku ini seorang Butler, aku juga harus tetap disamping majikan saat punya urusan pribadi sendiri! Oh ayolah! 7 bulan lagi aku lulus SMA, butuh waktu lama untuk belajar demi masuk Universitas yang kumau. Bagaimana ini? Aku ingin sekali menolaknya dengan halus. Meskipun Sasori-sama sangat mewajibkanku bersamanya, setidaknya fikirkan sedikit tentang masa depanku. Mungkin jika aku sukses, aku tidak akan selamanya menjadi seorang Butler kan? Tapi Beliau mengatakan aku harus satu sekolah dengan Oujo. Kukira ia akan memenuhi kebutuhanku disekolah lamaku. Bukan sekolah baruku T^T ah~ kami-samaaaa...
Yah baiklah. Walaupun berita ini sudah 12 jam yang lalu diampaikan padaku. Pada akhirnya, dipagi yang indah ini, dengan berpakaian seragam berbed Nakano senior high school, aku hanya bisa memegang kunci mobil Oujo disamping garasi dengan wajah yang hampir ingin menangis. Para maid juga tukang kebun yang sempat lewat disebelahku memandangku bingung.
Jangan lihat~ jangan lihat~ kumohon jangan lihat~ saat ini aku sedang berpose OOC.
...
Sekarang adalah waktunya kami berangkat sekolah. Selesai sarapan pagi, Oujo melangkahkan kakinya kearah garasi mobil untuk pergi kesekolah. Yah, aku sedang tidak ada disebelahnya setelah galau beberapa menit yang lalu. Sekarang aku sedang mengeluarkan mobil untuk mengantarnya, hmm... mungkin lebih tepatnya berangkat bersama. Padahal mobil yang aku kedarai adalah mobilnya, tapi kenapa dia tidak mau membawanya sendiri? Ah sudahlah, akukan Butlernya. Apapun akan aku lakukan untuknya(terutama gajiku). Dapat kulihat Oujo yang sedang asik kearah mobil dengan mengfokuskan pandangannya ke Hp Touchnya tanpa memperhatikan jalan. Entah kenapa ia suka sekali dengan Handphone juga headseat kesayanganya itu. padahal ia bisa saja jatuh jika tidak memperhatikan jalan.
Duakk
"Akhh"
Sudah kubilangkan bukan?
Dengan gusai, aku mulai keluar dengan panik(sebenarnya menahan tawa) ketika melihat Oujo terjatuh karna tersandung selang untuk menyiram kebun. Sayup sayup aku dapat melihat para pelayan menghampiri kami, tapi segera kucegah dengan mengacungkan tanganku. Entah ini perbuatan siapa yang menaruh selang sembarangan, yang pasti aku sebagai kepala pelayan harus memberikannya pencerahan(omelan) untuk orang yang menyakiti Oujo-ku.
"Anda tidak apa apa, Oujo-sama?"
"I-iya" ceroboh sekali. Gara gara ini lututnya jadi luka lecet. Sudahlah, yang penting ia tidak memiliki luka berat. Bisa gawat jika Sasori-sama kalau tau. Kalau dipikir pikir kenapa aku takut sekali padanya ya? Padahal jika dibandingkan dengan keluargaku, seharusnya akulah yang ditakuti. Bukan sebaliknya.
"Lain kali Anda harus berhati hati" ujarku seraya tersenyum. Huh iklas tak iklas aku menunjukan senyumku yang mahal. Tapi itu juga merupakan amanat nista dari dobe yang perlu kulakukan. Sebenarnya aku juga tidak begitu suka dengan orang yang jarang tersenyum, yah walaupun aku sendiri juga seperti itu.
BLUSH
Apa aku sedang mimpi sekarang? aku melihat Oujo bermuka merah bak kepiting terbus.
"Hai kau, cepat bereskan ini! Dan temui aku di sini ketika aku pulang sekolah nanti" tunjukku kepada seorang pelayan yang sedang berdiri canggung.
"Ha'I You-san" kata bawahanku. Kemudian aku mengeluarkan sapu tangan milikku dari saku dan segera menempelkannya ke lutut Oujo yang berdarah, tidak banyak sih tapi cukup membantu.
"Tu-tunggu tunggu ! kau bilang sekolah? Kau mau bersekolah bersamaku? Dan dari mana kau mendapatkan seragam ini?" kata Oujo disela sela pembicaraan. Ia menunjuk nunjuk seragam putih serta celana Merah kotak kotak milikku. Hahaha aku hanya bisa tertawa melihatnya.
"Hei, jangan tertawa" serunya kesal..
"Gomennasai. Tapi ini perinta-"
"Ini perintahku" seseorang telah menyelak perkataanku dengan seenaknya jidat saat itu juga. Huh, aku kesal sekali jika perkataanku diselak seenaknya, tapi kali ini aku tidak boleh melampiaskannya karna yang menyelak perkataanku adalah Sasori-sama. Buru buru aku bangun dan sekali membangunkan Oujo yang jatuh terduduk. Aku berdiri seraya menepuk nepuk celanaku dan rok Ojou(bukan bagian bokong) yang sedikit kotor, dan jangan lupa aku menundukan kepala untuk sekedar mengucapkan kata Selamat pagi padanya. Ia berjalan mengarah kepada kami, huh apa dia tidak bekerja dikantornya?
"Aniki! kenapa Butler ini harus ikut aku kesekolah?" ia menunjukku kembali. Tidak sopan.
"Aku hanya ingin kau selamat ketika disekolah"
"Hei aku selalu selamat kesekolah"
"Kau tidak mengerti"
"Aku mengerti, karna aku yang mengalaminya"
"Up to You"
"What?"
"A-ano Oujo-sama, Bocchan, bisa kita berangkat sekarang? Sekolah akan mulai 20 menit lagi" kataku menyela pekelahian antara kakak dan adik. Sasori-sama hanya mengangguk dan mengucapakan..
"Baiklah, Sakura baik baik disekolah ya" kata Sasori-sama seraya mengacak ngacak rambut Oujo. Hahaha aku hanya bisa menahan tawaku melihat aksi mereka berdua. Padahal mereka baru saja berkelahi tapi cepat sekali baikkannya. Aku jadi iri, entah kapan ayahku pernah mengelus kepalaku. Mungkin tidak pernah.
"Ahh jangan mengacak rambutku. Oke, Ittekimasu" ucap oujo sambil mencium pipi kakaknya itu. Sayang aku tidak mendapatkannya, kalau dirumah dulu paling hanya almarhum ibuku yang melakukan. Kalau Nee-chanku yang melakukannya, pasti hidungku yang terkena cium tinjunya.
"Ayo, kita berangkat"
"Ha'I" aku masuk kedalam mobil setelah mempersilahkan Oujo naik terlebih dahulu. Kulihat Oujo masih melakukan kebiasaanya seperti biasa yang ia lakukan didalam mobil. Bermain dengan ponselnya bahkan sekali kali ia menggunakan headseatnya untuk mendengarkan lagu. Aku menginjak gas dengan pelan, karna didepan kami masih terdapat pagar besar dan harus menunggu sampai terbuka lebar. Mungkin kali ini aku harus besabar demi pekerjaanku. Anggap saja ini adalah pengorbanan demi mendapatkan perhatian ayahku. Yah, setidaknya Sasori-sama tidak banyak menyusahkanku dan menyangkut pautkan hal hal yang sangat pribadi denganku. Itu lebih baik. Benar. Aku melihat kearah kaca yang berada tepat didepan atas kepalaku. Kulihat Sasori-sama memandangku dengan tatapan tak dapat diartikan lewat kaca ini. Tajam. Sepertinya selain harus mengenal lebih dalam tentang Oujo, aku juga arus mengenal dia juga. Kurasa perhatian dari orang itu juga harus udapatkan. Hah, Merepotkan. Anggap saja setelah ini semuanya akan menjadi mudah.
…
Sakura No Kitai
...
Setiba disana. Aku memarkirkan mobil lalu berjalan berdua untuk memasuki area sekolah. Kulihat ada dua gedung besar didepan mataku. Besar sekali. Bahkan lebih besar dari sekolahku. Terang saja. Aku bersekolah disekolah terfavorit diTokyo, tapi sekolah ini jauh lebih bagus dari sekolahku. Malah menurutku sekolah inilah yang pantas disebut sekolah terfavorit di Tokyo.
"Sakura-sama, apa kegiatan anda setelah pulang sekolah nanti?" tanyaku untuk jaga jaga jika nanti aku tidak bisa meluangkan waktu.
"Hmm... mungkin aku ingin berbelanja dengan Pig!"
Ha?
"Pig? Anda ingin pergi dengan ba-"
"SAKURA-CHANNNNN!" Ouh ini sudah kedua kalinya perkataanku disela. Siapa lagi sekarang? Akan kubunuh orang itu jika melakukakannya sekali lagi. Aku ini paling benci pada orang yang suka menyelak perkataan. Keh! Menyebalkan.
Tapi.. wah wah menarik sekali. Ternyata ada manusia yang berani memeluk Oujo-ku disini. Tidak punya etika kah?
"Sai, menyingkir!" Jadi namanya Sai. Oke, akan kuingat.
"Ara? Siapa orang ini sayang?" masih pagi sudah melihat pemandangan menyedihkan. "Dia Butlerku" cih! Ingin sekali aku menyeret Oujo dari laki laki yang sepertinya memiliki kepribadian tidak beres ini. Tentu saja, jika dilihat lihat lelaki itu memakai seragamnya secara asal asalan. Kancing Seragamnya yag tidak dipasang sehingga menunjukan kaos T-shirtnya yang berwarna biru juga celana kotak kotak merahnya yang berpakai sabuk yang tidak diikatkan, ya maksudku dibiarkan longgar.
"Hooo. Di lebih tampan dariku. Kau tidak aka berpaling darikukan, sayang?" Aku suka caranya memujiku. Tapi dia begitu menyebalkan jika bersikap didepan Oujo.
"…" Oujo tidak menjawab, entah kenapa dihari pertamaku ia malah sedikit sering murung. Kurasa ia membuat Oujo sedih, kalau dilihat matanya sedikit basah. Kenapa dia?
"Hm?"
"Tidak. Aku tidak akan berpaling." apa aku melihat wajah penolakan disana? Ada yang tidak beres dengannya.
...
"Oujo-sama, tolong bantu saya!"
Ya, itulah perkataan pertamaku saat baru sampai dikelas baru yang sama dengan Oujo. Sebenarnya aku dan Oujo baru saja tiba disekolah dan disambut oleh wali kelas kami saat di kelas. Begitupun aku yang selaku kepala pelayan dan murid baru disekolah ini, baru masuk sudah disuruh memperkenalkan diri. Sedikit kebohongan kecil yang aku buat saat perkenalan, yang pasti aku tidak menyebutkan Margaku. Dan anehnya mereka tidak menyadarinya, termaksud Oujo. Aku bisa menebaknya pasti ini perbuatan nee-chan. Semalam aku memang mengadu padanya untuk merahasiakan margaku. Dan yang paling mengesankan adalah saat aku baru saja selesai memasukan buku kedalam tas dan langsung diserbu oleh sekumpulan para gadis, entah itu dari kelas ini atau dari kelas lain. Intinya aku jengah terhadap mereka. Padahal ini saatnya istirahat, sudah waktunya aku membawa Oujo kekantin untuk makan siang.
"Hei hei, menyingkir dari Butlerku" Fyuhh, untung saja Oujo membantu. Ia berdiri dari bangku yang bersebelahan denganku. Aku tidak dapat melihatnya karna banyak para anak perempuan mengerubuniku seperti lalat. Hey, berarti aku sampahnya dong? Ah lupakan.
"Hah, Butlermu? Bilang saja kau ingin menikmati lelaki tampan ini sendirian. Yakan?" kata teman sekelas Oujo. Namanya Karin. Dia yang mengatakan namanya tadi. Kalau aku sih, lebih baik tidak tahu.
"A-ano, Nona saya ini memang Butlernya Akasuna-sama" kataku menyela perkataan mereka.
"Ck, kau diam saja tampan" kh, Wanita bedada besar ini membuatku ingin... engr... aku tidak bisa meneruskannya. Yang pasti perutku seperti terasa menggerucuk ingin mengeluarkan sesuatu.
"Apa kau bilang, tampan? Dia itu butlerku. Tidak boleh ada yang memujinya selain aku, Oujo-nya"
"Apa hakmu?"
"Dia milikku. Kau tidak boleh memilikinya dan itu dihitung sebagai hakku"
"Dasar wanita leech !"
"Apa!? dasar cockroach Buduk !"
"Kamakiri!"
"Baka inu!"
"Kutu alis!"
"Ketombe rambut!"
"Babi air!"
"Wha- ayam botak!"
"A-ano Oujo-sama, Karin-sama. Jangan bertengkar"kataku menyela lagi
"DIAM!"
Owhhh... KAMI-SAMAAA !
...
Normal POV
Mungkin kejadian hari tidak akan pernah terlupakan oleh Sasuke. Biarpun hari ini sudah berakhir, ia tetap tidak bisa tenang sedikitpun saat mengendarai mobil majikannya. Terlebih pada wanita yang kini harus rela membiarkan wajah manisnya terdapat banyak luka cakaran. Hah, kenapa semuanya jadi seperti ini? Ia kira pertengkaran majikannya itu hanya berupa adu mulut. Ternyata lebih dari perkiraannya. Dan, apa apa itu! Lihat! Ia juga kena imbasnya. Selain dipanggil oleh wali kelas, ia juga mendapatkan luka memar dibagian pipi kanannya akibat sikut Sakura ketika ia hendak membopong wanita itu pergi dari kelas. Satu lagi yang ia tahu tentang wanita itu, 'sikap keras dan mudah terpancing emosi. Kekuatanya yang seperti monster juga berparas seperti iblis jika sedang berkelahi' kemana tampang manis yang selalu ia lihat ketika majikannya bersama dengan Sasori? Beruntung dia tidak mendapat surat panggilan. Yah, sangat beruntung. Tapi sebuah kertas yang kini berada ditasnya adalah satu satunya yang membuatnya tidak bisa membagi keberuntungan pada Oujo-nya.
Surat panggilan kedua. Ternyata Sakura sering berkelahi dengan Karin. Biarpun hanya dengar dari teman sekelasnya –Kiba- ternyata ia juga harus ekstra mengawasi Oujo untuk tidak bertindak lebih jauh. Tapi bagaimanapun, hari ini adalah salahnya. Jika ia tidak datang, mungkin Oujo-nya tidak akan berkelahi hanya karna memperebutkan dirinya.
Karin memperebutkannya untuk dijadikan teman kencan, sedangkan Sakura memperebutkannya karna dia memang milik Sakura. Hah~
"Merepotkan" sejak kapan ia ketularan si ketua kelas malas itu –Shikamaru-?
"Berhenti mendesah berkali kali, ayam! Kau sama sekali tidak memperbaikin suasana!"
Ayam? Sekarang wanita ini sudah berani mengatainya ayam. Memangnya siapa yang membuatnya menderita? Biarpun ini salahnya, apa yang harus ia katakan pada Sasori setelah ini!?
"Gomenasai"
hening. Sakura tidak berbicara lagi setelah itu. Sepertinya ia juga sedikit pusing memikirkan surat panggilan keduanya yang harus diserahkan pada Sasori. Mereka memang terlihat cukup akrab, tapi yang namanya kesalahan pasti juga akan dibicarakan dilain kata yang jauh dari akrab. Sasori sepertinya sangat menjunjung tinggi ketertiban –setidaknya itulah yang dilihat Sasuke dari cara berpakaiannya- dan mungkin itulah yang ditakuti oleh Sakura. Apa sebaiknya yang harus ia lakukan? Surat panggilan itu memang bukan untuknya, tapi kesalahan kali ini mengarah padanya. Apa sebaiknya ia saja yang mendapatkan surat itu? Kh, jangan gila! Memangnya dia mau menyerahkannya pada siapa? Sasori? Itupun jika ia ingin dipecat lebih awal sebelum kembali kerumah. Ayahnya? Dia tidak akan pernah mau menemuinya. Itachi? Melihatnya saja ia sudah muak dan lebih memilih untuk menjauh. Konan? Bisa gempar nantinya jika yang lain tahu kalau ia adalah adik ipar penyanyi itu. Lalu siapa? Tidak ada orang yang ia minati. Tapi...
... ada satu orang lagi...
'Kaa-san' gumamnya. Disaat saat seperti ini, seharusnya wanita itu ada disampingnya. Memberinya saran juga pujian akan hasil kerja kerasnya. Tapi waktu memang sudah berlalu.. wanita itu sudah pergi mendahuluinya. Satu satunya orang yang menjadi kepercayaannya untuk mencari saran hanya Konan dan Naruto.
Benar juga..
"Oujo-sama?" Sakura memaparkan pandangannya dari jendela. Sepertinya wanita itu larut dengan pandangannya untuk sedikit melupakan surat panggilan itu.
"Apa Anda takut pada Sasori-sama?" tanya Sasuke. Sakura hanya menundukan kepalanya. Tak ada jawaban. Itu artinya ia menjawab 'ya'.
"Begitu"
"..."
"... saya juga begitu. Tapi yang namanya ketakutan itu ada batasnya" Sakura mengadah matanya lewat sisi matanya.
"Aku tidak mengerti"
"Anda sangat menyayangi Sasori-sama. Jika seandainya saya berada diposisi Anda, saya akan berterus terang pada Beliau. Ketakutan itu hanya akan memakan hati Anda. Apapun akan Anda lakukan demi menutupinya"
Sakura tidak berkomentar lagi. Mungkin apa yang dikatakan oleh Sasuke ada benarnya. Sebelumnya, sebelum Sasuke mengatakan hal itu, ia memang berniat berbohong. Tapi sepertinya Sasuke sudah menduganya.
"Aniki sangat berharga untukku. Aku tidak mau ia terluka karna ulahku" jalan tiba tiba berhenti. Sekarang memang sudah cukup petang. Wajar jika jalan raya hari ini macet oleh pengendara yang juga akan pulang kerumah masing masing.
"Kalau begitu jangan sakiti Beliau" Sakura mengadah pada sisi jalan dimana terdapat toko mainan. Disana tedapat boneka kucing hitam dengan aksen pita merah dilehernya. Manis sekali. Sakura tidak bisa berhenti tersenyum. Ia ingin sekali memilikinya.
"Kau tahu..." Ucap Sakura terputus.
"Satu satunya harapanku hidup didunia hanya untuk mencapai kebahagiaan dan kekal dari rasa sakit" Sasukepun berharap demikian.
Mobil berjalan pelan 2 meter dari tempat sebelumnya. Perjalan kerumah maish sedikit jauh. Hari ini Sasuke cukup lelah dan SANGAT membutuhkan istirahat. Yah, jika seandainya ia harus ikut bersama Sakura untuk menyerahkan surat itu. Tapi sementara itu, Sakura sepertinya tampak asik dimobil dan seolah ingin berlama lama disana. Mereka memang belum sampai tapi Sakura memang benar benar terlihat tidak mau pulang.
"Saya.. dulu juga punya seseorang yang sangat Saya ingin lindungi" Sakura berhenti menatap keluar untuk kedua kalinya.
"Siapa?" tanya Sakura. Entah mengapa Sakura sudah mulai terbiasa dengan sikapnya sihadapan Sasuke. Biarpun bengis, Sasuke juga tidak mempersalahkannya.
"..."
"Hey, siapa?" Sasuke menengok pada Sakura diselasela kemacetan yang masih melanda mereka. Ia menyeringai geli.
"Siapa apanya?" sebuah kedutan muncul dikepala yang tertutupi helayan merah muda itu. Sasuke sedang meledeknya.
"Orang yang berharga yang ingin kau lindungi dulu?" Sasuke bersender pada jok mobilnya. Kemacetan yang ia alami benar benar membosankan. Ia sangat kesal jika harus terjebak dikerumuan mobil yang sangat banyak disekitarnya. Bikin panas saja.
"Perlukah Anda tahu?" tanya Sasuke membuat Sakura membatu. Benar juga, itukan bukan urusannya. Itu adalah urusan Sasuke. Namun ia tetap ingin tahu.
"Ta-tapi setidaknya beritahu aku!"
"Seberapa pentingnya Anda ingin mengetahui tentang saya?"
"A-aku hanya ingin tahu saja! Kau ini kenapa sih ayam!"
"Baik baik. Dasar cerewet" dan lagi lagi kedutan itu muncul lagi. Baru beberapa hari menjadi seorang Butler saja, sikepala ayam ini sudah berlagak tidak sopan padanya.
"Dia seorang wanita" Sakura memandang Sasuke dengan tatapan ingin tahu dan membuat Sasuke sedikit risih.
"Wanita?" Sasuke mengangguk. Kemudian ia tersenyum simpul.
"Ibuku... dia sudah pergi mendahuluiku" Sakura terhenyak. Yang dipandangnya saat ini adalah lelaki yang tersenyum tanpa beban. Kenapa lelaki ini? Bukakah yang ia katakan adalah sesuatu yang menyedihkan? Dan dari kalimat yang ia lontarkan tidak terdengar parau sedikitpun. Apalagi ia tidak mendengar kata 'Saya' yan sering diucapkan Sasuke didepannya.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Sakura heran. Tidak biasanya ada orang yang tersenyum saat sedih. Ia bahkan tidak pernah melakukannya biarpun kedua orang tuanya telah menghilang. Yang ia lakukan hanya menutupinya dengan tersenyum, bukan mengatakan kalau dia yatim piatu lalu tersenyum.
"Apa itu salah? Bagaimana dengan Oujo? Anda tidak punya orang tua, tapi Anda selalu tersenyum dan berkelahi tanpa memikirkan betapa sedihnya orang tua Anda diatas sana. Kenapa begitu?"
'dia sudah tahu' batin Sakura kaget. Sebelumnya ia tidak memberi tahu apapun yang berbau pribadi tentangnya. Sedikitpun. Tapi jika mungkin perkiraannya benar, mungkin para Maid yang memberi tahu. Ia juga tidak bermasalah dengan itu. Sasuke berhak tahu. Lagipula Sasuke adalah Butlernya. Dan seorang Butler akan selalu disamping majikannya.
"Aku tidak sendirian"
"...?"
"Dunia ini luas. Aku tidak pernah sendirian didunia ini. Ada Aniki, Tenten, Neji, Ino, Kiba, Shikamaru, Chouji, Shino, Sai, bahkan hingga Karin. Aku tidak pernah merasa sendirian. Biarpun sekalinya aku tidak punya orang tua, bukan berarti aku harus hidup terpuruk untuk selamanya" Sasuke menatap jalan dengan tatapan datar. Sambil mendengar, dalam hati ia berfikir. Ia memang tidak sendiri. Seberapapun ia membenci orang orang disekitarnya, ia memang tidak pernah sendiri. Tapi.. biarpun itu fakta, masalah yang ia alami itu 'sedikit' berbeda dengan apa yang dipikirkan majikannya itu. Mengingat itu, Saske tersenyum kecil lagi. Dia masih punya orang yang ia sayang. Termaksud Konan. Ia harap ia tidak akan kehilangan semua itu.
"Anda benar"
…
Sakura No Kitai
...
Setelah sampai didepan rumah. Sasuke berniat akan beristirahat setelah ini. Berhubungan dengan waktunya yang tinggal 25 menit menjelang malam. Ia sangat butuh istirahat. Bicara tentang Sakura dengan surat itu, sepertinya Sasuke tidak perlu khawatir dan harus mengantar segala wanita itu menemui Sasori. Sepertinya Sakura terlihat lebih segar dan tidak terlihat bermasalah setelah keluar dari mobil. Jika ia benar, seperti bicara ketika bermasalah sangat membantu. Seperti halnya Sakura. Ia juga tidak menyadari kalau pembicaraannya diMobil tadi bisa membantu wanita itu. Tapi.. syukurlah. Dengan begitu tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.
Pip Pip Pip (C : kalo gak keberatan, saya mau ganti nadanya jadi 'pup pup pup' boleh gak?)
Ia meronggoh ponselnya yang sebelumnya hampir mati akibat terbanting itu. Sedetik kemudian, alisnya menyirit. Hari ini Konan menghubunginya. Setahunya, jika dihari Kamis, Konan sangat sibuk.
"Ini aku"
"Sasuke. Kau punya waktu?" Sasuke sedikit merasa aneh dengan nada bicara konan. Tidak ada embel embel –Chan?-
"Ng.. sepertinya ada. Ada apa?"
"Temui aku diCafe Wakana. Kita harus bicara"
"Ten-"
Tuutt
Terputus.
...
Seperti yang dijanjikan, ia datang keCafe yang disebutkan. Cafe ini memang sering ia datangi bersama temannya ataupun bersama Konan. Jika merasa bosan pastinya. Selain itu, Cafe yang ia datangi ini lebih sering ia buat untuk mengusir kesuntukan, atau tempat curhat bersama Konan. Disini juga banyak terdapat game center atau tempat karauke. Dan itulah yang membuatnya betah disini. Fasilitasnya sangat bagus dan sangat cocok untuk bersantai tempay ini tidak pernah sepi. Apalagi ruangannya cukup besar dan dipilah menurut failitasnya.
Setelah berjalan cukup lama kearah Cafe, ia memasuki bersama sasambutan para Pelayan. Dilihatnya seorang wanita berambut indigo memakai topi dan kacamata. Berkulit putih dan memakai jaket hitam sedang duduk santai ditemani segelas Mocca. Melihat itu ia mendesah. Hah, selalu saja berpenampilan seperti itu. Dari pada kelihatan seperti artis yang sedang menyamar, Konan lebih terlihat seperti teroris.
"Sasuke-chan!" panggilnya dengan nada perempuan. Ya, nada perempuan. Ditambah embel embel –chan, benar benar ciri khasnya. Tapi ia sedikit bersyukur karna Konan tidak terlihat sedang bermasalah. Suaranya sudah membaik tidak seperti saat ditelfon tadi.
"Maaf menunggu"
"Aku baru datang kok. Ya~ itupun setelah aku kabur dari Itachi" ucapnya enteng. Benar benar enteng. Asal tahu saja, kabur dari Itachi itu sangat sulit. Apalagi menghindar dari managernya –Deidara- yang sangat cinta pada seni itu. Ah ia ingat kapan terakhir ia bertemu dengan Deidara. Lelaki itu memang tidak bisa membuatnya lupa. Terlebih kalimat 'rambutmu tidak berseni' yang dilontarkan oleh Deidara. Jika mengingatnya, rasanya ia ingin mencukur habis rambut lelaki itu hingga tersisa 1 helai saja.
"Jadi?" lanjutnya(Sasuke) ketika ia terlamun –dan kembali sadar- saat ia hampir kehilangan akal untuk tidak memikirkan Itachi dan Deidara. Ia menyerupu Kopi hangat yang baru saja diantar pelayan beberapa detik yang lalu ketika ia melamun.
Konan yang sebenarnya terus memperhatikan Sasuke melamun tanpa banyak mengedip tersenyum hambar. Matanya sedikit menyapu kesedihan.
"Aku dan Itachi berencana akan bercerai"
…
Sakura No Kitai
...
Sasuke membelalakan matanya tak percaya. Kata yang berupa 5 huruf itu sangat membuatnya amat terkejut hingga otaknya berhenti bekerja dalam waktu sekejap. Tubuhnya mematung secara otomatis mendengar kata itu.
Cerai? Kenapa? Kenapa harus cerai?
"Kau... pasti bercanda.."
"Aku serius" satu lagi hal yang ia muak dari Tuhan yang tak henti henti mempermainkannya. Ini memang bukan masalahnya dan bukan urusannya, tapi ia yakin setelah ini ia akan kehilangan satu orang yang berharga lagi. Ya, setelah ini. Dan mungkin untuk mencari orang yang mengerti dirinya itu sangat sulit.
"Kenapa.. haruskah kalian bercerai?" Entah mengapa tiba tiba matanya memanas seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Tapi ia laki laki. Biarpun itu sangat menyakitkan, ia tetap tidak boleh menunjukanya didepan orang lain. Bukannya ia takut malu, melainkan ia tidak mau orang lain melihatnya begitu terlihat menyedihkan. Seperti saat ini.
Sebenarnya permainan bodoh apa yang direncanakan Tuhan untukku. Sungguh tidak lucu! Ini bukan saatnya ia akan menangis meraung raung secara diam diam seperti saat ia kehilangan ibunya. Ini bukan saatnya.
"Aku yang memutuskan untuk bercerai" dan lagi, apakah wanita ini mengerti perasaannya. Jika mereka berpisah, itu artinya Konan akan meninggalkan marga Uchiha. Ia tidak suka dengan kabar menyedihkan ini. Biarpun ia tidak mengharapkan kakak kandungnya bahagia, dan bukannya ia tidak mengharapkan melainkan tidak peduli, Konan tetap harus disampingnya sebagai pemberi semangat. Tapi jika sudah seperti ini... ia tidak bisa membelokkan keputusan orang lain.
"Maafkan aku, Sasuke."
"Apa kau punya alasan. Konan-nee?" Konan tersenyum kecut.
"Ini hanya masalah kecil. Aku merasa hubunganku dengan Itachi cukup sulit. Bukannya aku tidak suka, tapi aku cukup jengah melihatnya selalu bertengkar dengan tou-sama"
Ayahnya bertengkar dengan kakaknya? Apa ini kabar bagus?
"Mereka.."
"Kakakmu mempermasalahkan hak milik saham tou-sama. Aku tidak mengerti dengan masalah mereka. Tapi yang jelas, Itachi terlihat begitu menderita setelah ia memang harus menerima saham tou-sama yang seharusnya diberikan padamu"
Padaku? Apa tou-san memang tidak mau memberikan sahamnya padaku? Itu artinya.. ia memang tidak pernah menganggapku bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Ia selalu mengarahkan semuanya pada Itachi.
"Bagaimana dengan pekerjaan lamanya?" Sasuke melihat wajah Konan berubah dalam sekejap.
"Itu masalahnya. Ia meninggalkan pekerjaannya dan beralih sebagai pemegang saham untuk menggantikan ayahmu. Itu adalah alasan mengapa aku minta cerai. Selain pekerjaannya menjadi seorang Inspektur dikepolisian, kontakku dengan Itachi cukup sulit karna kami jarang bertemu. Tapi setelah 2 hari ia menerima pekerjaan baru, kontakku dengannya semakin sulit karna Itachi harus kerja lembur. Oleh karena itu..." Konan memegang perutnya yang datar itu degan tatapan sedih. Sasuke yang memperhatikannya mengerutkan alisnya. Konan tampak sangat sedih.
"Tunggu... jangan bilang kau..."
"Hampir 3 tahun aku menikah dengan Itachi... tapi ia tidak pernah menyentuhku"
A-apa? Sasuke kaget untuk kedua kalinya. 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi keinginan seorang wanita saat setelah menikah adalah mendapatkan kebahagiaan. Termaksud mempunyai keturunan.
"Sebenarnya tidak masalah ia menyentuhku atau tidak, dan mengingikan Uchiha kecil atau tidak, tapi aku cukup menderita jika terus diacuhkan terus menerus. Terlebih karna pekerjaannya" Tapi bagaimana dengannya? Jika Konan pergi, siapa yang akan menemaninya bicara diCafe saat ada waktu? Dan siapa yang akan menjadi penyarannya dikala ia sedang merasa sulit?
"Setelah ini kita akan jarang bertemu. Besok aku akan mengambil surat resmi ceraiku dan akan kembali menjadi seorang penyanyi yang sendirian. Tapi jangan lupa untuk sering sering membuatkanku lagu ya" dan untuk terakhir kalinya, ia melihat Konan tersenyum semanis mungkin untuk menutupi kesedihannya.
Ia benci seseorang yang berbohong.
...
Malam ini Sasuke pulang lebih larut dibandingkan perkiraannya. Ia berjalan sendirian ditengah malam dengan pikiran yang campur aduk. Setapak demi setapak, sepatu ketsnya mulai menghabiskan jarak dari cafe tempat dimana ia dan Konan terakhir bertemu. Sebenarnya pembicaraan mereka berdua sudah selesai 30 menit yang lalu dan Konan sudah meninggalkan cafe lebih dulu. Sasuke yang belum beranjak untuk menjernihkan kepalanya cukup terguncang saat itu juga.
Uchiha yang lain sudah pergi. Tarik kata katanya.. ia tidak punya orang yang ia sayang sebagai keluarga sekarang.
Ia bersandar pada tempok dijalan yang jauh dari jalan raya. Tempat itu sepi dan cukup gelap karna jauh dari lampu jalan yang letaknya 2 meter dari tempatnya. Tapi ia tidak merasa takut dan gusar untuk cepat pergi dari sana. Persetanan! Ia tidak percaya pada hantu! Biarpun hantu, yang ia lakukan pasti mengabaikannya. Bukan lari terkencing kencing seperti yang dilakukan Naruto saat Kakashi –wali kelasnya- menakutinya ketika ditoilet.
Lama ia bersender, sesuatu yang meruak kependengarannya membuatnya mengadah pada sisikiri kepalanya. Satu satunya yang ia lihat adalah 2 bayangan hitam mendekatinya. Ia tidak peduli siapa itu dan mau apa dia. Yang jelas jika orang itu beniat kotor dengannya, Sasuke tidak akan segan segan membunuh mereka. Itupun jika saat ini moodnya untuk berkelahi ada dan dengan pikiran yang berkecamuk. Saat ini ia benar benar tidak ingin diganggu. Pembicaraan tadi cukup membuatnya kehilangan akal sehat utnuk berfikir jerih.
"Wah wah" Sasuke masih tetap mengabaikannya. Suara berat itu, biarpun cempreng dan cukup seperti wanita, ia tetap mengabaikannya. Malah 2 sosok berbeda tinggi itu semakin mendekat dengannya. Tapi tetap saja sipemilik raven itu tidak kembali mengadah pada keduanya yang kini sudah berada disampingnya.
"Lelaki ini terlihat menyedihkan"
"Sedang apa kau disini?"
"Lihatlah dia. Rambutnya itu jadi jatuh kebawah"
"Kau hanya merusak suasana, Kyuu-nii!" Sasuke tetap mengabaikan duo Namikaze yang menatapnya sendu –nihil Kyuubi-. Naruto yang saat itu memang berada disana mendekati teman kecilnya itu.
"Tadi aku menerima telfon dari Konan-nee. Ia bilang kau butuh bantuanku" Sasuke dibantu oleh Naruto berdiri lebih tegak. Setelah itu ia menepis kulit tan milik Naruto dan berjalan sendirian meninggalkan Kyuubi dan Naruto yang membatu disana. Naruto cukup sakit hati dengan temannya itu yang tiba tiba bersikap keras padanya. Sasuke yang ia kenal hanya suka bertengkar kecil layaknya sahabat. Ia tidak akan berani berkelahi lebih dari adu mulut dengannya.
"Tunggu teme! Kau tidak bisa pulang sendiri dengan keadaan seperti itu" Naruto mendekati pemuda itu sekali lagi. Tapi dengan telak, Sasuke menepisnya dengan agak aksar dari sebelumnya. Seterpuk itukah dia? Jika seperti ini, ia tidak bisa berbuat banyak selain bicara baik baik dan menyelesaikan semuanya dengan bicara. Tapi apa daya.. Naruto tidak pandai menyelesaikan masalah dengan banyak bicara. Kecuali jika saat hatinya ingin melampiaskan kekesalannya saat Uchiha bungsu ini dipecat saat bekerja.
"Teme! Kau ini!" terus seperti itu sampai Sasuke jengah. Ia behenti berjalan secara tiba tiba dan membuat Naruto kaget –nihil Kyuubi yang hanya mengikuti adiknya dan tidak mau membantu selain menemani adiknya yang takut keluar rumah sendirian-
"Aku tidak mabuk, dobe. Biarkan aku sendiri"
"Tapi-" Kyuubi kali ikut turun tangan. Ia menarik kerah jaket adiknya dengan kasar dan cukup kuat. Sasuke yang meneruskan langkah kembali mengacuhkan Naruto yang hampir terangkat dari tanah akibat ulah kakak perempuannya –yang mirip lelaki itu-
"Apa yang kau lakukan Kyuu-nii! Kita harus mengejar te-"
"Sebaiknya jangan"
"Kenapa!? Dia tidak seperti itu saat kacau dalam perjalanan pulang"
"Dia itu sudah besar bodoh!Tidak sepertimu yang masih takut pergi kekamar mandi saat tengah malam!" Naruto hanya mengerucutkan bibirnya tidak suka.
"Dia hanya butuh waktu.. hingga semuanya bisa ia terima"
\\( ^oo^)/
Malam telah sampai pada puncaknya. Rasa kantuk dan dingin yang dirasakan lelaki ini tidak membuatnya pergi dari tempat yang luas dan gelap ini. Sebuah tempat yang cukup, ah tidak tapi sangat sepi ini membuat kesan menakutkan jika dirasakan saat malam tiba. Apalagi saat malam malam seperti ini.
Sasuke.. lelaki itu berdiri didepan sebuah batu berbentuk persegi sambil memandangnya sendu. Ia memang tidak menangis tadi, tapi entah mengapa setelah berdiri disini.. rasanya mata onyxnya kembali memanas namun ia tetap tidak mau mengeluarkannya. Rasa dingin yang cukup menusuk kulitnya membuat pria ini kembali memikirkan kejadian diCafe tadi. Tadi itu.. ia benar benar terguncang. Sekarang Uchiha mana yang akan memihaknya?
"Kaa-san" Lelaki itu bersimpuh didepan batu itu. Tidak peduli dengan celananya yang nantinya akan kotor terkena tanah merah.
"Kumohon... tolong aku" ia tidak percaya dengan Tuhan. Karna Tuhan hanya mempermainkan hidupnya tanpa memberikan celah untuknya supaya dapat kabur dari takdir dan mengubahnya.
Namun tanpa disadarinya. Seseorang sedang melihatnya dari jarak jauh. Orang itu berdiri tegap dan syal merah yang berkibar terbawa angin dilehernya. Sasuke tidak bisa merasakannya karna orang itu cukup jauh dari tempatnya.
\\( ^oo^)/
Jika suatu ketika temanmu sedang terpuruk, apa yang kau lakukan? Memberi nasihat? Saran? Menyelasaikannya dengan kata kata yang kau berikan? Memberi bentakan keras? Membelanya dengan sepenuh hati? Atau membantu temanmu menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan?
Jika kau jadi orang ini, apa yang akan kau lakukan?
Dibawah awan malam, orang ini memperhatikan setiap gerak gerik lelaki yang jauh darinya itu semenjak 1 jam yang lalu. Dengan mata yang tak jelas warnanya karna kelamnya malam, ia tidak pernah memutuskan kontak matanya pada lelaki yang sedang jalan sempoyongan bak orang mabuk. Mengikuti lelaki itu diam diam tanpa disadari sang empu dan memastikan kalau lelaki itu pulang dengan selamat. Diatas ketinggian kepala Sasuke –silelaki itu- orang itu terus mengawasinya seperti malaikat.
Kukembalikan pertanyaanku tadi. Jika suatu ketika temanmu sedang terpuruk, apa yang kau lakukan? Orang ini, yang berada diatas atap rumah, bukanlah siapa siapa lelaki yang ia perhatikan. Bukan teman, kerabat maupun keluarga. tapi ia adalah orang yang akan muncul ketika hati manusia sedang berada diambang keterpurukan yang dalam. Kau tidak perlu meneteskan airmatamu untuk memanggilnya, cukup dengan tutup matamu, kau akan melihat seorang gadis bersyal merah yang akan datang utuk mengawasimu agar selalu aman dari hal negatif ketika kau sudah tidak bisa berfikir jernih lagi.
Seperti halnya Sasuke. Orang ini selalu melihat gerak gerik Sasuke yang sudah tidak dibilang wajar. Bisa dilihat dari cara jalannya dan cara memandang jalanya. Ia tidak tahu apa masalah lelaki itu, tapi tugasnya hanya memastikan kalau kalau lelaki itu tidak bunuh diri setelah ia berdiam diri didepan makam seseorang yang ia tidak tahu namanya. Hingga terakhir nanti ia akan melihat lagi Sasuke dengan wajah yang mengembang dengan senyumnya.
Oh, lupakan. Sasuke walaupun termaksud lelaki yang baik –nihil kepada orang tuanya- ia tidak pernah tersenyum dengan sembarang. Ia hanya akan tersenyum jika disaat ia sedang mau dan tidak akan menunjukannya pada orang lain yang tidak ia suka. Tidak akan pernah. Tapi apakah orang ini tahu? Sudahlah, tugasnya hanya mengawasi saja bukan. Asalkan tugasnya terpenuhi, ia tidak akan pernah ada hubungan apa apa lagi dengan Sasuke.
Tapi tanpa diduga olehnya, sesuatu diluar perkiraannya terjadi dibawah sana. Jika sewajarnya orang yang sedang terpuruk akan mencari masalah, yang Sasuke alami kini malah sebaliknya. Disaat ia sedang mencoba berjalan lurus, Sasuke secara tak sengaja menabrak lelaki bertubuh besar darinya yang sedang berjalan sepertinya, tapi bedanya lelaki besar itu sedang dalam keadaan mabuk. Sasuke yang menabraknya cukup acuh dan kembali berjalan seolah tak terjadi apa apa. Tapi lelaki yang berjumlah 3 orang dengan tubuh yang sama merasa tak terima dengan temannya yang sudah ditabrak lelaki berambut ayam itu. Mau tidak mau Sasuke terpaksa terangkat keatas saat salah satu dari mereka menarik kerah belakangnnya dengan cukup keras.
"Hey bocah. Apa kau tidak tahu kata maaf hah!?" Sasuke tidak menjawab. Ia bahkan tidak meronta ronta atau meminta diturunkan.
"Kau tuli ya!?" tidak ada jawaban lagi. Ia hanya menunduk tidak melihat wajah lawannya.
"Ayo katakan maaf!" kata lelaki bertubuh besar lainnya. Sasuke tetap tidak menanggapi. Entah ini pengaruh alkohol atau bukan, lelaki itu terlihat sangat ngotot untuk membuat Sasuke mengatakan kata maaf pada temannya.
"Mungkin dia minta dihajar" ucap lelaki yang ditabrak tadi. Dengan segera saja, lelaki besar yang sempat ngoto tadi melayangkan tinjunya. Dengan tangan sebesar itu, pasti rasanya akan sangat sakit jika mengenai permukaan kulit Sasuke.
Bugh
Satu pukulan mengenai pipinya ketika lelaki yang mengangkatnya menjatuhkannya ketanah bak sampah. Sasuke tidak merepon untuk kesekian kalinya. Ketiga lelaki itu kembali kesal padanya dan seakan ingin memberi pelajaran yang lebih banyak lagi pada Sasuke.
Bugh, duagh, pak
Tendang, pukul, injak dilakukan oleh ketiga orang itu. Sasuke yang masih terdiam tidak mengeluarkan rintihan sedikitpun saat ia berbaring ditanah.
"Masih tidak mau bicara"
Bugh, duagh, pak, bu-
"Cukup"
…
Sakura No Kitai
...
Pagi menjelang lebih awal. Itulah yang dirasakan Sakura saat tak ada seorangpun yang masuk kekamarnya saat ia bangun dari mimpi. Disini sepi. Tak ada satupun disini kecuali ia dan barang barangnya. Rasanya tampak asing baginya walaupun sudah bertahun tahun ia menempati kamar ini. Terlebih saat ia sadar bahwa ia masih memakai piyama tidurnya. Benar benar asing. Tidak ada cahaya yang masuk kekamarnya seperti biasa. Tidak ada yang menarik selimutnya secara paksa seperti biasanya. Juga tidak ada yang berteriak teriak dengan kesal untuk membangunkannya. Kemana Sasuke? Kenapa ia tidak dibangunkan? Mungkin itu yang membuatnya merasa aneh. Tapi memang benar semenjak lelaki itu bekerja disini, semua kebiasaannya nampak berubah.
Dengan tidak memikirkan lebih jauh, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Rasanya tak salah jika untuk pertama kalianya Sasuke telat bangun dan tidak membangunkannya. Anggap saja ia cukup memaklumi lelaki itu karna pekerjaan Sasuke yang cukup banyak. Yang terpenting saat ini ia tidak terlambat masuk kesekolah. Begitupun Sasuke.
Setelah beberapa menit kemudian, wanita bersurai merah jambu itu memakai seragamnya. Merapikan wajahnya dan memasukan buku buku kedalam tas mini bagnya. Satu lagi yang membuatnya merasa aneh. Sasuke belum tiba dikamarnya. Kenapa jadi ia yang harus menyiapkan ini semua?
\\( ^oo^)/
Sakura keluar dari kamarnya dengan langkah yang cukup dibilang berisik. Wanita itu berlari kecil menuju ruang belajar kakaknya untuk menanyakan Sasuke yang tak kunjung dilihatnya semenjak pagi tadi. Tepatnya semenjak 25 menit yang lalu. Ini lebih aneh lagi dari apa yang ia pikirkan.
Brak
Sakura membuka pintu ruang belajar dengan keras. Sasori yang semula nampak tenang ketika memperhatikan laptopnya terkejut kaget. Ia menatap tajam adiknya itu dengan amat kesal.
"Sudah kubilang kendalikan tenagamu ketika membuka pintuku. Kau mau merusak pintu ke-19ku lagi hah!?" ucap Sasori dongkol, tapi Sakura mengacuhkannya dan melangkah kemeja belajar itu dengan penuh kecemasan.
"Mana Sasuke?" tanya Sakura cukup keras. Ia merasa khawatir dengan Butlernya. Entah mengapa semenjak ia banyak bercerita, rasanya ia tidak mau Sasuke jauh jauh darinya. Sasuke cukup berarti untuknya sebagai teman bicara.
"Siapa?" Kedutan muncul dikepalanya.
"Sasuke!"
"Siapa itu Sasuke?" lagi lagi kedutan paling besar tidak bisa disembunyikan oleh Sakura. Oh ayolah, ia sedang tidak main main. Sudah tidak ada waktu lagi untuk membuang waktunya sementara 5 menit lagi ia harus berangkat sekolah.
"BUTLERKU!" Sasori ber'oh' ria dan kembali mengacuhkannya dengan meminum kopi sambil memperhatikan laptopnya. Sakura yang diacuhkan kembali menambah persimpangan dikepalanya.
"Aniki!"
"Dia sedang dalam keadaan tidak baik. Kau tahu itu"
TBC
NYAHAAAAAAA… I'm come back! Pada kangen gak sama saya? *gk.
Hehehe, setelah mencoba menghilangakan kegundahan karna NEM yang gak bisa diterima, saya tetep semangat bikin fic ini buat para reader tercinta *author muntah. Biarpun setiap kali saya kekamar mandi, selalu aja ada ide yang masuk keotak saya. Saya sih gak masalah. Tapi saya Cuma kesel aja kalo saya kekamar mandi niatnya bukan nyari ide. Tapi... yeah, do you know what i mean -_- ini jujur loh! Jujur! Saya suntuk kalo terus begini! Mana tempatnya kagak elit bangat! Gah! Saya sebel! Saya maunya dapet ide ditempat yang ELIT! Kaya dilimosi atau digedung hokage!Iyakan! Iyakan! Kalian juga mikir gitukan!? Iyakan!? Jangan bohong! Ayo TATAP MATA SAYA *tatap pembaca garang *gaya arya wiguna.
Oh satu lagi. "Ehh.. Youta-sama memang hebat. Anda membuatnya selama kurang lebih 1 jam. Bahkan kurang." masih ingat sama kalimat ini? Nah itu masalahnya ! sebenarnya, cerita ini adalah cerita yang saya buat waktu kelas 8. Saya kesel waktu itu gak bisa menunjukan cerita ini ke orang lain buat dibaca. Makanya saya ikut andil jadi Author diFFN. Nah, sebelumnya cerita ini judulnya 'He Is My Butler And My Boyfriend' dan tokohnya adalah Youta Nano(dulu asal namanya You Tanaza_dia Butler) trus sama Mita Hazuki sebagai majikan tentunya. Ini cerita udah sampe chapter 9. malah udah terlalu dalam. Sebagai perbaikan, anggap kata Youta itu sebagai Sasuke. Trus anggap juga yang POV itu gak ada.
Sekali lagi, saya minta maaf atas semua kesalahan. Mohon memaklumi saya sebagai Author baru ( _ _)
Oke, lupakan curhatan Author setres ini ^^
Review?
