Gempa melenguh pelan, mengucek ngucek matanya yang masih terasa berat. Ia berdiam diri sejenak, mencoba memfokuskan penglihatannya. Dan ia menyadari ada seseorang di sampingnya, yang juga sedang tertidur. Pemuda yang rambutnya sedikit acak acakkan dengan sehelai rambut berwarna putih serta piyama berwarna biru muda. Wajahnya terlihat damai, membuat Gempa tak bosan menatapnya. Bukan berarti dia pedofil atau apa.
"Ibu.."gumam Ice dengan pelan yang membuat Gempa teringat akan ibunya.
Wanita yang paling cantik yang pernah ia temui seumur hidupnya. Matanya yang indah, bibirnya yang menggoda, rambutnya yang halus, gaun hitam yang selalu ia kenakan cocok dengan kulitnya yang putih. Perempuan yang paling sempurna dimata Gempa.
Tapi harus diakui, Gempa sendiri belum pernah melihat ibunya secara langsung. Ia hanya melihatnya dari foto yang kakeknya berikan. Ibunya yang sedang memegang mawar merah dengan senyuman lembut diwajahnya. Kakeknya mengatakan bahwa ibu dan ayahnya meninggal sewaktu ia masih bayi. Dan ia pun mulai hidup sendiri saat menginjak kelas 9. Uang yang kakeknya tinggalkan sudah lebih dari cukup, tapi Gempa tentu tak mau bergantung pada uang itu terus. Maka ia mencari pekerjaan sampingan, tak sulit baginya karena Gempa memiliki banyak kemampuan yang cukup.
Gempa pun segera bangun dan mengguncang guncangkan tubuh pemuda itu. Dingin."Hei, Ice, bangunlah." Pemuda itu membuka matanya perlahan, menatap Gempa dengan matanya yang masih setengah terbuka. Ia menguap seriring bangun dari posisinya.
"Pagi.." tegurnya pelan. Gempa membalasnya dengan senyuman."Pagi. Ayo bangun, Ice." Pemuda beriris biru muda itu terdiam sebentar.
"Kak Gempa sudah bisa membedakan kami...? Cepat ya.."
Pemuda itu terdiam sebentar. Padahal mereka baru bertemu sesaat, namun ia sudah bisa dengan mudah membedakan dan mengingat nama mereka. Mungkin bisa dimaklumi jika mereka memiliki wajah yang berbeda, namun ini kebalikannya. Mereka bertujuh memiliki wajah yang persis, hanya ekspresi yang berbeda. Ah, pasti itu.
Ice pun bangun dan berjalan keluar kamar."Uhm.. Terima kasih sudah membiarkan aku tidur denganmu, kak." Wajahnya terlihat merona tipis dengan mata yang menatap ke arah lain. Gempa tertawa dalam hati, ternyata Ice anak yang cukup pemalu ya.
Saat ia membuka pintu, terlihat pemuda lain yang memakai kacamata berwarna oranye serta topi berwarna putih."Oh, Ice? Kau tidur di kamar Gempa?"tanya Solar yang membuat wajah Ice menjadi merah padam. Ia langsung berlari menuju kamarnya sendiri tanpa mengatakan apapun.
Solar hanya menatap punggungnya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali."Oh, begitu ternyata." Gumamnya diiringi tawa pelan.
Ia pun masuk dan menutup pintu, menghampiri Gempa yang masih menatap bingung."Ice itu anak yang pemalu. Terkadang kalau ia sedang mimpi buruk atau diluar ada badai, ia akan lari ke salah satu kamar kami. Blaze yang paling sering. Tapi yah, mungkin karena mereka baru berkelahi tadi malam, jadinya lari ke kamar Gempa, deh." Jelasnya sambil menyengir pelan.
Gempa meng-oh-kan sebelum ikut tertawa.
"Baiklah, karena kau sudah bangun, siap siap dan turun ke bawah ya. Kita akan mengadakan sedikit 'acara keluarga'."ucap Solar disertai senyuman lembutnya. Gempa hanya menganggukkan kepalanya.
Solar terdiam sebentar lalu menaikkan sebelah alisnya."Apa kau sadar?" Gempa menatap bingung ke senyuman miring pemuda itu. Tangannya yang ditutupi sarung tangan berwarna putih segera menunjuk ke arah jendela. Ia mengikuti arah jari itu dan matanya segera terbelalak.
Tidak ada cahaya matahari, hanya bulan.
"B-bukankah sekarang sudah pagi? Jam menunjukkan pukul setengah tujuh sekarang.."
Solar pun tertawa ringan."Sekarang memang sudah pagi."
"L-lalu?"
Ia segera menghampiri Gempa dan memegang kedua bahunya."Ayolah, tak mungkin kau sebodoh itu. Kau tahu jawabannya, bukan?"
Gempa meneguk ludahnya dengan kasar.
"T-tidak ada matahari di tempat ini?"
Solar melepaskan pegangannya dan segera tertawa."Benar sekali! Kau tahu jawabannya!" ucapnya dengan tawa yang terdengar cukup elegan di telinga Gempa.
"B-bukankah kau perwakilan dari cahaya?"
Seketika mata Solar berubah menjadi kosong. Ia tak bergerak sama sekali beberapa menit. Gempa berpikir apakah ia sudah menanyakan hal yang seharusnya ia tak tanyakan?
Seketika Solar pun mengukir senyumannya."Nanti akan kita bicarakan. Baiklah, kami akan menunggu dibawah. Sampai jumpa nanti~"
Gempa mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap pintu yang perlahan tertutup itu. Padahal ruangan ini terasa dingin, tapi entah kenapa ia berkeringat sekarang.
Harus ia akui, saudara saudaranya memang sedikit, aneh?
"Ah! Gempa! Ayo duduk! Kita makan dulu!"
Gempa tersenyum miris melihat Blaze yang memanggil dirinya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Sang pemuda dengan iris merah segera mendelik."Hoi, siapkan makanan dimulutmu baru berbicara."tegurnya dengan nada tajam dan dingin.
Pemuda beriris emas itu menyengir dan segera duduk di kursi kosong, di ujung sebelah Taufan. Sepertinya kursi ini sudah di atur sesuai urutan mereka masing masing. Di deretannya ada Halilintar dan Taufan. Sedangkan di seberangnya ada Blaze, Ice, Thorn serta Solar yang pas di depannya.
Solar melemparkan senyuman, seakan akan tak ada apa apa dengan mereka tadi pagi. Begitu juga Ice, hanya diam menikmati makanannya dengan mata yang masih mengantuk.
Sedangkan yang lain sibuk melakukan kegiatannya masing masing. Taufan yang menjahili Thorn dengan menerbangkan makanannya, serta Blaze yang terlihat sangat ingin membakar satu meja ini.
Seketika Thorn mulai geram dan mengeluarkan akar akarnya di belakang Taufan dan melilit tubuh pemuda itu dengan kuat hingga duri durinya mulai menusuk ke kulit Taufan.
"CUKUP!"
Semuanya langsung membatu di tempat. Ice yang sudah sempat tertidur, terbangun dan makanan yang ada di sendoknya jatuh ke piringnya.
Halilintar yang terlihat sangat marah menatap tajam ke semuanya."Bisakah kalian tenang hanya untuk satu hari?! Bahkan ketika makan pun kalian tak bisa melakukannya dengan baik! Terutama kau Taufan!"
Yang disebut namanya mengernyitkan dahinya."Aku?! Kenapa aku?!"balasnya yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Halilintar pun ikut berdiri."Ya, kau! Tak ada yang suka dijahili oleh dirimu! Jadi lebih baik kau berhenti!" bentaknya dengan suara yang sangat tinggi.
Gempa langsung ikut berdiri melihat tangan Taufan yang mengepal keras hingga angin angin berwarna biru mulai terkumpul di sekeliling tangannya. Bahkan diluar sana, angin mulai berhembus kencang serta air air dalam gelas mulai bergetar.
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar sekarang! Tidak ada gunanya kalian berkelahi, lebih baik duduk dan nikmati makanan kalian!" perintah Gempa dengan nada yang cukup tinggi.
Semuanya menoleh ke dirinya, termasuk Ice yang tadinya sudah terlelap sebentar. Gempa tiba tiba merasa canggung ditatap seperti itu, seharusnya ia tidak berdiri.
Halilintar mendengus nafas dan kembali duduk. Begitu juga dengan Taufan. Mereka terlihat sama sama tak puas, namun memilih untuk diam.
"Woahh! Aku tak menyangka kak Gempa orang yang tegas seperti itu!"
Blaze tertawa keras hingga api api yang berada di lilin mulai membesar. Keenam saudara itu tahu, jika dibiarkan terus, mungkin Blaze akan kehilangan kendali. Maka dari itu, Ice segera menyumbat mulut kakaknya dengan bongkahan es.
Pemuda beriris oranye itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian mengunyah es itu dengan wajah yang lega."Otakku membeku." Gumamnya namun ia terlihat lebih tenang. Bahkan api api yang ada di meja perlahan kembali normal. Blaze membuka mulutnya dan terlihat butiran butiran salju serta es keluar dari mulutnya sebagai uap atau hawa.
Semuanya bernafas lega. Mereka terlalu malas untuk mengurusi Blaze jika ia mulai mengamuk.
"Mau lagi." Pintanya dengan mata yang berbinar pada Ice. Adiknya segera memberikan bongkahan es yang lebih besar hanya dengan menggapai udara lalu memberikannya pada Blaze.
Solar pun segera memecah keheningan di antara mereka.
"Gempa, bukankah ada yang ingin kau tanyakan? Sekarang kesempatanmu."
Pemuda itu tersentak karena namanya tiba tiba disebut. "Uhm.. Kalau begitu.." tangannya menunjuk ke arah Solar.
"Apa kau mempunyai luka? Luka yang parah sehingga tak ada matahari di dunia ini?"
Semuanya langsung terdiam."Oho.. Dari sekian banyak pertanyaan, kau menanyakan itu duluan, heh?" gumam Taufan dengan seringaian tipisnya serta alisnya yang terangkat satu.
Solar terdiam sebelum tersenyum."Baiklah, karena kau saudaraku juga, akan kuberitahu."
Ia pun membuka kacamatanya. Memperlihatkan iris kuningnya yang kosong.
"Aku... buta."
Mata Gempa segera terbelalak, tiba tiba keringatnya keluar dari pelipisnya, menuruni pipi dengan perlahan."B-buta? Tapi kau berbicara pada kami seolah olah kau bisa melihat kami." Solar kembali tertawa melihat tingkah Gempa yang merasa bersalah.
"Aku memang bisa melihat kalian. Tapi, itu berkat kacamata ini. Sekarang aku hanya bisa melihat warna hitam saja, kau tahu?"
Gempa mengangguk pelan. Ia baru menyadari mengapa Thorn langsung marah saat Taufan menjahili pemuda beriris kuning itu dengan mengambil kacamatanya. Karena itulah satu satunya alat yang membantu dia agar tetap bisa melihat dengan baik.
"Lalu.. Kenapa kau bisa sampai buta?"
Pemuda itu menyengir pelan.
"Kalau begitu, mari kami ceritakan semuanya dari awal."
Terima kasih sudah membaca.
Maaf, mungkin banyak typo karena saya malas untuk mengecheck ulang. /slap
Mohon review dan kritikannya.
