Warning: memuat adegan 18+ di tengah-tengah cerita

Epilogue

Happy Family

Jaejoong merasa berdebar-debar saat ia turun dari pesawat. Setelah tiga tahun lamanya kini ia kembali menjejakkan kakinya di Korea. Ia bertanya-tanya seperti apakah negerinya sekarang. Apakah semuanya masih sama seperti dulu? Apakah orang-orang yang dahulu ia kenal masih mengingatnya?

Yunho menepuk bahu Jaejoong. "Apakah yang sedang kau pikirkan?"

Jaejoong tersadar dari lamunannya. "Sudah lama ya kita meninggalkan negeri ini."

"Apakah kau merindukan tempat ini?" Yunho membantu menarik koper Jaejoong karena tampaknya pikiran Jaejoong masih menerawang.

"Hmm, sedikit." Lebih banyak kenangan yang ingin Jaejoong lupakan daripada yang ingin ia ingat di sini. Ia ingin melupakan kenangan-kenangan buruknya sebelum pada akhirnya ia bertemu dengan Yunho.

.

.

.

Jiyool tampak senang sekali saat ia tiba di rumahnya. Ia berlari masuk ke dalam rumah. "Kakak, kami datang!"

Changmin terhenyak saat ia mendengar suara adiknya yang membahana. "Selamat datang!" Ia segera menyambut ayah dan adiknya, juga Jaejoong. "Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Kalian pasti sangat merindukan makanan khas Korea, ada kimchi, kimbab, bulgogi, dan lain-lain."

"Wah, apakah kakak sendiri yang memasaknya?" Jiyool terkesima melihat berbagai makanan sudah tersaji di atas meja makan. Ia sangat merindukan makanan khas Korea.

"Tentu saja bukan, aku tidak bisa memasak," jawab Changmin.

Jiyool memegangi dagunya. "Hmm, sudah kuduga. Kakak hanya bisa makan, tidak bisa memasak. Hahaha!"

Changmin hanya tersenyum menanggapi ucapan Jiyool. Dahulu perkataan Jiyool yang seperti itu pasti akan menjadi bahan perdebatan di antara mereka. Ia benar-benar sudah menjadi seorang pria dewasa sekarang setelah hidup mandiri selama tiga tahun. "Paman Yoochun dan keluarganya sebentar lagi akan tiba. Aku juga mengundang mereka untuk makan bersama kita."

"Kukira makanan sebanyak ini hanya untuk kita berempat, mengingat selera makanmu yang sangat besar. Hahaha!" canda Yunho.

"Apakah kau masih sangat suka makan, Min?" tanya Jaejoong. Ingin sekali ia memasak untuk Changmin. Saat Changmin berkunjung ke Belanda bulan lalu ia tidak sempat memasak untuk Changmin karena kunjungan Changmin terlalu singkat.

"Tentu saja," ujar Changmin dengan bangganya.

.

.

.

Keluarga Jung dan keluarga Park makan bersama di meja makan. Yoochun membawa istri dan kedua putra mereka, Junho dan Yoohwan.

Akhirnya, untuk pertama kalinya Jaejoong bertemu dengan Junsu, istri Yoochun, yang juga merupakan adik dari Yoojin. Ia merasa gugup saat berhadapan dengan Junsu. Apakah Junsu marah kepadanya karena ia telah menggantikan tempat Yoojin? "Apa kabar, Ny. Junsu? Hmm, ini pertama kalinya kita bertemu. Aku adalah Jaejoong."

Junsu tersenyum canggung kepada Jaejoong. Ia sangat syok saat mendengar kabar dari suaminya bahwa Yunho ingin menikahi Jaejoong di Belanda. Bagaimana pun Yunho adalah suami kakaknya.

"Salam kenal, Tn. Kim!" Junsu memberi hormat kepada Jaejoong.

"Mengapa formal sekali?" Yoochun, yang duduk di sebelah Junsu, berkomentar.

"Itu karena kami baru pertama kali bertemu," balas Junsu kepada suaminya.

.

.

.

Jaejoong mempunyai kesempatan untuk berbicara berdua dengan Junsu saat yang lainnya sedang asyik berenang. Mereka berdua duduk di sisi kolam renang yang berada di kediaman keluarga Jung. "Apakah kau marah kepadaku?"

"Hmm, mengapa aku harus marah kepadamu?" Junsu masih merasa canggung berbicara berdua dengan Jaejoong.

"Karena aku menggantikan posisi kakakmu di hati Yunho," lanjut Jaejoong.

Junsu tersenyum tipis kepada Jaejoong. "Kakakku memiliki tempatnya sendiri di dalam hati Yunho. Kalian berdua berbeda. Ya, pada awalnya aku memang sempat tidak menerima keputusannya untuk menikahimu. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ia adalah seorang gay dan tidak pernah mencintai kakakku. Namun, setelah suamiku menjelaskan bahwa kakakku sudah mengetahui hal tersebut sejak awal, bahkan sebelum mereka menikah, kemarahanku pun mereda, apalagi setelah aku membaca surat yang ditulis oleh kakakku sebelum ia meninggal." Ia kemudian menatap Jaejoong. "Kakakku memang menderita, tetapi ia yang menginginkan Yunho untuk meraih kebahagiaan. Aku pun harus menghormati keinginan dan keputusannya."

"Maafkan aku!" Jaejoong merasa tidak enak kepada Junsu.

"Kau sama sekali tidak bersalah. Kau hadir dalam kehidupan Yunho setelah kepergian kakakku. Sangat wajar bagi seorang duda untuk menikah lagi setelah ditinggal oleh istrinya," ujar Junsu. "Yunho Oppa juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya."

"Terima kasih banyak karena kau tidak membenciku!" ujar Jaejoong. Ia merasa lega karena ia mendapatkan restu dari Junsu.

"Jae Oppa, ayo ikut berenang!" teriak Jiyool dari dalam kolam renang.

Junsu terkekeh. "Ternyata Jiyool masih memanggilmu 'oppa'."

Jaejoong tersenyum kaku. "Tidak mungkin ia memanggilku 'ibu', bukankah begitu?"

Junsu tertawa lebih keras. "Lucu sekali jika ia memanggilmu seperti itu."

"Lagipula ibunya hanyalah Yoojin, tak ada lagi yang lain," tambah Jaejoong.

Junsu berhenti tertawa. "Aku merasa senang karena kau tidak berusaha untuk menghapus kenangan mengenai kakakku dari ingatan mereka. Kau sangat baik dan tidak tamak untuk memiliki Yunho dan kedua anaknya sendirian."

"Aku sangat berterima kasih kepada kakakmu yang mengizinkan suaminya untuk mencari cinta. Yunho adalah seorang pria yang setia. Jika Yoojin tidak memberikan izinnya, Yunho tidak akan menemukanku. Kakakmu adalah orang yang sangat berarti bagiku," ujar Jaejoong.

.

.

.

Pada sore hari keluarga Park meninggalkan kediaman keluarga Jung. Kini Yunho memiliki waktu pribadi bersama keluarga yang dicintainya. Ia mengumpulkan ketiga anggota keluarganya yang lain di ruang keluarga. "Akhirnya ruang keluarga ini bisa kita gunakan untuk berkumpulnya keluarga kita."

Jaejoong merasa senang, walaupun sedikit canggung. Kini ia merasa bahwa ia benar-benar sudah diakui menjadi anggota keluarga ini. Dahulu Yoojinlah yang mengisi posisi yang kini ia tempati.

"Min, terakhir kali kau belum banyak bercerita mengenai kehidupanmu di sini selama tiga tahun terakhir." Yunho bersandar pada sofa. Ia melihat sekeliling ruang keluarganya. "Tampaknya kau merawat rumah ini dengan baik."

Changmin tersenyum kaku. "Perlu waktu seminggu untuk membersihkan seisi rumah ini. Hehehe." Biasanya yang membersihkan rumah adalah pembantu rumah tangga, tetapi demi menyambut kedatangan keluarganya, Changmin rela membersihkan rumah mereka sendiri.

"Bagaimana dengan kuliahmu? Mengapa kau tiba-tiba memutuskan untuk menikah, padahal kau baru menyelesaikan tahun ketigamu di perguruan tinggi?" Yunho meminta laporan Changmin.

"Jika ayah saja bisa menikah muda dengan ibu, mengapa aku tidak bisa?" Changmin cemberut. "Lagipula sambil kuliah aku juga membantu Paman Yoochun mengurus bisnis ayah. Aku merasa bahwa aku sudah cukup mapan untuk menghidupi keluargaku sendiri. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk menunda pernikahan."

"Baguslah jika seperti itu." Yunho menyesap tehnya. "Aku pun tidak mempunyai alasan untuk melarangmu menikah. Kapan tepatnya kita akan pergi ke rumah kekasihmu?"

"Hmm, besok malam," jawab Changmin.

"Secepat itukah?" Yunho sedikit terkejut. "Kami baru tiba hari ini di Korea."

"Kalau begitu, besok pagi aku harus mulai membuat kue. Aku ingin membawa kue sebagai hadiah untuk calon mertuamu," ujar Jaejoong.

"Aku akan membantumu membuat kue, Oppa." Jiyool tampak sangat bersemangat.

Changmin menatap adiknya dengan heran. "Kau bisa membuat kue?"

Jiyool mengangguk. "Jae Oppa yang mengajariku. Aku sering membantunya membuat kue untuk dijual di toko."

Changmin menaikkan alisnya. "Aku tidak memercayainya."

"Jika kakak tidak percaya, kita buktikan besok!" Jiyool tampak sangat percaya diri.

Yunho menertawakan kedua anaknya. "Min, kau harus mencoba kue buatan adikmu."

Changmin beralih kepada ayahnya. "Pasti tidak enak. Benar, bukan?"

Yunho tersenyum lebar. "Kau coba saja sendiri besok."

.

.

.

Keluarga Jung menghabiskan waktu sampai pukul sepuluh malam untuk bercengkerama di ruang keluarga. Mereka membicarakan banyak hal. Changmin menceritakan kehidupannya di Korea, termasuk kisah cintanya dengan Momo kepada keluarganya, sedangkan Yunho, Jaejoong, dan Jiyool menceritakan kehidupan mereka di Belanda selama tiga tahun terakhir. Mereka melalui beragam suka dan duka di negeri asing, bagaimana mereka membangun bisnis toko kue mereka dari awal sampai pada akhirnya memilki beberapa toko cabang, juga bagaimana sulitnya menjalani status sebagai pasangan gay di masyarakat. Namun, dalam menjalani semua kesulitan itu mereka tetap saling menyemangati. Kebersamaan dalam keluarga membuat mereka kuat dalam menjalani hidup yang sulit.

"Beruntungnya diriku karena keluarga Momo bisa menerima status ayah dan Jaejoong Hyung. Akan tetapi, bagaimana dengan Jiyool?" Changmin mengkhawatirkan adiknya. "Mungkin tidak akan mudah untuk mencari pria dengan keluarga yang bisa menerima keluarga kita."

Jiyool melingkarkan lengannya pada bahu Changmin. "Kakak tidak perlu khawatir. Pria yang ingin menikahiku harus bisa menerima ayahku apa adanya. Pernikahan bukan hanya melibatkan dua orang insan, melainkan seluruh keluarga dari kedua belah pihak. Jika pria tersebut benar-benar mencintaiku dengan tulus, ia akan berusaha untuk meyakinkan keluarganya untuk menerima keluargaku."

"Bagaimana jika ia tidak berhasil?" Ucapan Jiyool masih belum bisa membuat Changmin merasa tenang.

Jiyool tetap tersenyum. "Itu artinya kami memang belum berjodoh."

Changmin menyentil dahi adiknya. "Mudah sekali kau berkata seperti itu."

"Jika dipaksakan pun, kami tidak akan bahagia. Restu orang tua sangat penting. Aku pun tidak ingin ia menjadi anak durhaka karena bersikeras untuk menikahiku." Jiyool berkata dengan sangat tenang.

"Apakah kau akan bisa merelakan pria yang kau cintai hanya karena keluarganya tidak merestui kalian?" tanya Changmin.

"Jika Jae Oppa saja bisa, mengapa aku tidak bisa?" Jiyool memandang ke arah Jaejoong. "Jika kita tidak merestui mereka, Jae Oppa akan mundur dan berpisah dengan ayah demi kebahagiaan kita."

Changmin ikut memandang Jaejoong. "Bukankah cinta harus diperjuangkan?"

"Diperjuangkan dengan cara yang baik," koreksi Jaejoong. "Tidak ada gunanya diperjuangkan jika hanya akan menimbulkan kesengsaraan pada pihak lain. Cinta adalah hal yang mendatangkan kebahagiaan, bukan kesedihan." Ia menyeruput kopinya. "Mungkin aku tidak akan sepenuhnya mundur jika kalian tidak merestui kami saat itu. Kami bisa menunggu dan terus berusaha meyakinkan kalian untuk memberikan restu kalian kepada kami." Ia tersenyum dengan penuh percaya diri.

"Kakak sudah mendengarnya sendiri dari Jae Oppa, bukan?"Jiyool tersenyum lagi kepada kakaknya. "Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku. Semuanya akan baik-baik saja."

"Sekarang sudah malam. Sebaiknya kita tidur. Bukankah besok pagi kita harus menyiapkan semua keperluan untuk lamaran?" Yunho berdiri dari tempat duduknya.

"Selamat tidur, Ayah!" Setelah mengucapkan selamat tidur kepada Yunho dan Jaejoong, Changmin dan Jiyool pun pergi ke kamar mereka masing-masing.

Setelah Changmin dan Jiyool pergi, Jaejoong mencium pipi Yunho. "Selamat tidur, Yunho!" Ia kemudian beranjak ke kamar tamu, tempat ia menaruh barang-barang bawaannya.

"Kau hendak pergi ke mana, Sayang?" Yunho menarik pergelangan tangan Jaejoong.

Jaejoong berbalik. "Ke kamar."

"Kamar kita ada di atas, Sayang." Yunho menggenggam tangan Jaejoong dan menuntun kekasihnya itu menaiki tangga.

Jaejoong menundukkan kepalanya. Ia merasa ragu untuk pergi ke kamar Yunho.

Yunho membawa Jaejoong masuk ke kamarnya. Kamar itu masih terawat, walaupun sudah lama ia tinggalkan.

Jaejoong melepaskan genggaman tangan Yunho. "Yun, apakah tidak apa-apa jika aku masuk ke kamar ini?"

Yunho mengerutkan dahinya. "Mengapa kau menanyakan hal itu? Ini adalah kamarku dan kau adalah pasanganku yang sah."

"Akan tetapi, ini adalah kamarmu dengan Yoojin," ujar Jaejoong.

"Apakah kau tidak mau menempati kamar bekas orang lain?" tanya Yunho. "Jika kau tidak mau menempati kamar bekas Yoojin, kita bisa menempati kamar lain."

"Bukan begitu," sangkal Jaejoong. "Ini adalah kamar Yoojin. Aku merasa bahwa diriku tidak pantas untuk menempati kamarnya. Pasti banyak sekali kenanganmu bersamanya. Aku tidak ingin merusak kenangan-kenangan itu."

Yunho tersenyum. Ia mendudukkan Jaejoong di atas tempat tidur. Ia pun berjongkok di hadapan Jaejoong. "Bukankah sudah sering kukatakan kepadamu bahwa Yoojin memiliki tempatnya sendiri di dalam hati dan pikiranku? Kau tidak perlu merasa bahwa kau merebutku darinya."

"Junsu pun berkata demikian kepadaku. Namun, aku selalu merasa bersalah kepada Yoojin," balas Jaejoong.

Yunho menghela nafas. "Baiklah, jika berada di dalam kamar ini membuatmu merasa bersalah, lebih baik kita menempati kamar lain saja."

"Yun, maafkan aku!" Sekarang Jaejoong merasa tidak enak kepada Yunho.

"Berhentilah meminta maaf! Aku sangat memahami perasaanmu." Yunho berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Jaejoong. "Ayo, kita pergi ke kamar lain!"

Jaejoong menerima uluran tangan Yunho. "Terima kasih karena kau selalu memahami diriku!"

Yunho meninggalkan kamarnya dengan menggenggam tangan Jaejoong. "Aku hanya ingin kau merasa nyaman di rumah ini. Aku juga mengetahui bahwa kau sangat menghormati Yoojin, justru hal itu membuatku semakin mencintaimu."

Yunho membawa Jaejoong memasuki kamar tempat Jaejoong menaruh barang-barangnya. "Malam ini kita tidur di sini saja. Besok kau bisa memilih kamar mana pun yang kau suka di rumah ini." Ia berbaring di atas tempat tidur.

Jaejoong menyusul Yunho dengan berbaring di sebelah suaminya itu. "Kamar ini juga bagus."

"Kau masih belum melihat-lihat kamar yang lain." Yunho memeluk Jaejoong.

"Kita tidak akan lama di sini. Kamar ini pun sudah cukup." Jaejoong membalas pelukan Yunho.

"Ini adalah malam pertamamu di rumah ini. Bagaimana jika kita bercinta malam ini?" Yunho mulai mengecupi wajah Jaejoong.

"Besok kita harus bangun pagi-pagi," ujar Jaejoong.

"Satu ronde saja, sebagai perayaan selamat datang untukmu di rumah ini." Yunho mencium bibir Jaejoong.

"Hmmpp… baiklah." Jaejoong menggumam. "Satu ronde saja ya."

Yunho mulai melucuti pakaian Jaejoong. Kedua tangannya sangat terampil dalam melakukan hal tersebut.

Tidak mau kalah oleh Yunho, Jaejoong pun melucuti pakaian Yunho. Melucuti pakaian pasangannya memang sudah menjadi keahliannya.

"Semakin lama kau semakin menggoda saja." Yunho kembali mencium bibir Jaejoong.

"Semakin tua kau pun semakin seksi saja, Yunniebear." Jaejoong mencubit perut Yunho yang sedikit buncit. "Perut gendutmu ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagiku." Ia membalas ciuman Yunho.

"Bagaimana aku bisa memenuhi janjiku untuk melakukannya satu ronde saja jika kau tampak menggiurkan seperti ini?" Yunho mulai meraba-raba sekujur tubuh Jaejoong.

"Hmmm…" Jaejoong mendesah oleh sentuhan Yunho. "Kau harus bisa menahan dirimu demi putramu. Kau harus bangun pagi dan memiliki sisa tenaga untuk esok hari."

"Ugh, sepertinya akan sulit." Yunho mengeluh.

Jaejoong meremas bongkahan pantat Yunho. "Aku akan langsung tidur setelah ronde pertama agar kau tidak bisa berbuat macam-macam lagi."

"Kau kejam," rengek Yunho.

"Sebagai orang tua, kita harus mementingkan anak-anak kita. Jika bukan karena restu mereka, kita tidak akan bisa bersatu seperti ini." Jaejoong mengingatkan Yunho.

.

.

.

Yunho harus menepati janjinya untuk bercinta hanya satu ronde. Oleh karena itu, ia berusaha agar ia tidak keluar terlalu cepat. Ia harus bisa mengulur waktu.

"Sayang, apakah kau belum keluar juga?" Jaejong sudah terlihat kelelahan. "Ini adalah yang ketiga kalinya aku keluar. Aaaahh!" Ia mengeluarkan spermanya untuk ketiga kalinya malam itu.

"Belum, masih lama." Yunho masih asyik mengerjai pasangannya itu.

"Jika seperti ini, sama saja seperti kita melakukannya lebih dari satu ronde." Jaejoong bertumpu pada kedua tangan dan lututnya.

"Bertahanlah, Sayang!" Yunho semakin mempercepat gerakannya dengan liar.

"Aaah, Yunho!" teriak Jaejoong.

"Kau masih saja terasa sempit seperti biasanya." Yunho memegangi pinggul Jaejoong.

"Dan kau liar seperti biasanya," balas Jaejoong. Lubang anusnya sudah terasa sangat panas.

"Akan tetapi, kau sangat menyukai diriku yang liar ini, bukan?" Yunho menyeringai.

Jaejoong memutar bola matanya. "Aku tidak mau mengakuinya."

"Akui sajalah, Sayang!" Yunho mencium bibir Jaejoong.

Jaejoong mengisap bibir Yunho dengan tak kalah ganasnya. "Kau selalu bisa membuatku tergila-gila."

Yunho mengubah posisi mereka. Ia membalikkan tubuh Jaejoong menjadi menghadapnya agar ia bisa mencium kekasihnya itu dengan lebih leluasa.

Jaejoong merasakan penis Yunho membesar di dalam lubangnya. Ia menebak bahwa Yunho akan mencapai puncaknya sebentar lagi.

"Aku keluar, Sayang!" Yunho mengeluarkan cairannya dengan deras. Ia ambruk di atas tubuh Jaejoong.

Jaejoong mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Kini ia bisa tidur dengan nyenyak.

"Sayang, bagaimana jika kita menambah satu ronde lagi? Satu ronde lagi saja." Yunho berusaha untuk membujuk Jaejoong. Namun, ia harus merasa kecewa karena Jaejoong sudah memejamkan matanya.

Yunho tersenyum saat ia memandangi wajah Jaejoong yang sedang tidur dengan damai. Kekasihnya itu terlihat sangat cantik dan tampan secara bersamaan. Selama beberapa menit ia hanya mengamati wajah Jaejoong, sebelum akhirnya ia pun mengantuk dan menyusul Jaejoong ke alam mimpi.

.

.

.

Jaejoong tiba-tiba terbangun pada pagi hari. "Jam berapa sekarang?" Ia segera melirik jam di samping tempat tidur. Ia bisa bernafas lega karena waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Semalam ia dan Yunho bermain sangat liar dan menghabiskan energi mereka. Ia merasa khawatir bahwa ia akan bangun kesiangan. Pagi ini ia harus mulai membuat kue untuk calon besan.

"Hmmmmm… aku masih mengantuk." Yunho menggumam.

Jaejoong turun dari tempat tidur. Pantatnya masih terasa sakit, tetapi ia sudah terbiasa dengan rasa sakit itu. "Kau kembalilah tidur! Aku harus pergi membeli bahan-bahan untuk membuat kue." Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

.

.

.

Jaejoong pergi ke pasar swalayan dengan Jiyool. Jiyool sudah seperti asistennya dalam hal membuat kue.

"Aku akan membuat kakak terkejut oleh kue buatanku." Jiyool memasukkan beberapa kantung tepung ke dalam troli belanjaan.

"Selain cantik, kau juga pandai membuat kue," komentar Jaejoong. "Kau benar-benar membuat kami bangga."

"Itu karena Jae Oppa yang mengajariku berdandan dan membuat kue." Jiyool tersipu malu oleh pujian Jaejoong.

Jaejoong terus menggoda anak tirinya itu. Sejak tadi ia menyadari bahwa para lelaki memandangi Jiyool. "Seharusnya kita tidak pergi bersama. Para lelaki yang tertarik kepadamu akan berpikir bahwa aku adalah pacarmu. Mereka akan langsung menyerah karena harus bersaing dengan pria tampan sepertiku. Hahaha!"

"Hah?" Jiyool masih saja polos. "Usia kita terpaut sangat jauh. Orang lain akan berpikir bahwa oppa adalah kakakku atau pamanku."

.

.

.

Saat Jaejoong keluar dari dalam pasar swalayan, ia melihat seorang wanita yang mengemis di depan pintu pasar swalayan tersebut. Ia sangat terkejut karena ia mengenali wanita itu. "Jiyoolie, kau pulang duluan saja dengan taksi. Aku masih memiliki sedikit urusan."

"Oppa akan pergi ke mana?" tanya Jiyool.

"Oppa harus menemui seorang kerabat. Kau pulang duluan saja ya! Kau bisa kan mulai membuat kue sendirian? Aku berjanji tidak akan lama," ujar Jaejoong.

Sebenarnya Jiyool merasa penasaran dengan yang akan dilakukan oleh Jaejoong. Namun, ia merasa bahwa ia harus menghormati privasi Jaejoong. Mereka sudah tiga tahun meninggalkan Korea Selatan. Jaejoong pasti ingin menemui teman-temannya di sini. "Baiklah, aku akan pulang naik taksi."

Jaejoong memberhentikan sebuah taksi yang melintas. Ia kemudian mengangkut barang belanjaan mereka ke dalam taksi. "Maafkan aku, Jiyoolie! Kau harus pulang dengan menggunakan taksi."

"Tidak apa-apa." Jiyool sangat pengertian. "Sampai jumpa di rumah!"

Setelah taksi yang ditumpangi oleh Jiyool melaju, Jaejoong kembali menghampiri pengemis yang tadi ia lihat. Ia merasa sangat sedih melihat wanita tersebut. Air matanya hampir menetes. "Bu, apakah yang sedang ibu lakukan di sini?"

Wanita pengemis itu mendongakkan kepalanya. Sama seperti Jaejoong, wanita itu pun tampak terkejut saat melihat Jaejoong. "J… Jae?"

"Ibu." Jaejoong membantu wanita itu berdiri dan membawanya ke dalam mobilnya. Ia tidak bisa menahan lagi air matanya. "Mengapa ibu ada di depan pasar swalayan itu dengan penampilan lusuh seperti ini? Apakah yang sedang ibu lakukan di sana?" Sebenarnya ia mengetahui yang ibunya lakukan di sana.

Ny. Kim menunduk malu. "Ibu harus mengemis agar ibu bisa makan."

Jaejoong mulai emosi. "Mengapa ibu harus mengemis? Ke manakah suami ibu dan anak-anak ibu yang lain? Apakah pria itu menendang ibu juga, setelah ia menendangku ke luar? Apakah ibu berselingkuh lagi dan membuatnya marah?"

Ny. Kim menggeleng. Ia juga menangis. "Tidak, ia tidak mengusirku. Ia sudah meninggal dua tahun yang lalu."

Jaejoong terkejut oleh penuturan ibunya. Sejak memutuskan hubungan dengan keluarganya, ia tidak peduli lagi dengan yang terjadi kepada mereka.

"Perusahaannya mengalami kebangkrutan dan kemudian ia pun bunuh diri." Ny. Kim mulai bercerita. "Ia pergi dengan meninggalkan banyak sekali utang. Aku dan kakak-kakakmu harus menanggung semua utang itu."

Jaejoong merasa sangat marah kepada ayah tirinya itu. Pria tersebut sangat tidak bertanggung jawab kepada keluarganya. "Bukankah ibu mempunyai menantu yang sangat kaya? Ibu tidak perlu sampai menjadi pengemis."

"Ia tidak mau ikut menanggung utang tersebut dan menceraikan kakakmu. Kakak perempuanmu itu kini terpaksa menjual diri demi kelangsungan hidupnya." Ny. Kim melanjutkan ceritanya.

Hati Jaejoong merasa terluka saat membayangkan kakak perempuannya menjadi seorang pelacur seperti dirinya. Walaupun hubungannya dengan sang kakak tidaklah baik, ia tetap merasa prihatin.

"Kakak laki-lakimu sekarang sedang berada di dalam penjara. Ia terbukti menggelapkan uang perusahaan yang menyebabkan perusahaan tersebut bangkrut." Ny. Kim terisak.

Jaejoong membawa ibunya ke taman. Ia membelikan roti isi untuk ibunya. Ibunya itu terlihat sangat kurus sekarang. "Makanlah, Bu! Ibu pasti merasa sangat lapar."

"Terima kasih, Nak!" Ny. Kim menerima roti isi yang diberikan oleh Jaejoong. "Setelah semua yang kulakukan kepadamu, kau masih mau mengakuiku sebagai ibumu dan membelikanku makanan." Ia menitikkan air matanya lagi dan melahap roti isi tersebut.

"Bagaimana pun ibu adalah orang yang telah melahirkanku. Darahmu mengalir di dalam tubuhku." Jaejoong mengenang masa lalunya.

"Kami mengusirmu karena pekerjaanmu sebagai gigolo. Akan tetapi, lihatlah kami sekarang! Keadaan kami jauh lebih mengenaskan daripada dirimu. Setidaknya hidupmu terlihat jauh lebih baik," ujar Ny. Kim. Ia menyesali perbuatan buruknya kepada anak bungsunya itu.

"Aku sudah menikah dan berhenti menjadi gigolo." Jaejoong memberi tahu ibunya.

"Benarkah?" Ny. Kim terlihat senang. "Aku melihatmu dengan seorang gadis muda tadi. Apakah ia adalah istrimu? Ia tampak terlalu muda untukmu."

"Bukan, gadis itu bukanlah istriku." Jaejoong menjelaskan. "Ia adalah anakku."

Ny. Kim kembali terkejut. "Tidak mungkin kau mempunyai anak sebesar itu."

Jaejoong tersenyum. "Ia memang bukan anak kandungku. Ia adalah anak tiriku. Ia adalah putri dari suamiku."

"Suami?" Tidak henti-hentinya Ny. Kim terkejut oleh perkataan Jaejoong.

"Ya, suami." Jaejoong masih tersenyum lebar. "Aku memang anak durhaka yang terus saja membuat ibu malu. Aku menikahi seorang pria di Belanda dan menetap di sana. Kami sedang pulang ke Korea karena ada urusan."

Ny. Kim masih terlihat syok. Ia tidak bisa berkata-kata.

"Walaupun kami menyimpang, kami hidup bahagia dan saling memiliki." Jaejoong membayangkan wajah Yunho. "Setidaknya ia bisa membuatku merasa dicintai. Keluarganya pun bisa menerima dan menyayangiku. Aku justru menerima kasih sayang dari orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai hubungan darah denganku."

Ny. Kim kembali terisak. "Maafkan ibu, Nak! Ibu sudah berbuat jahat kepadamu. Aku bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang ibu."

"Sudahlah, lupakan semua itu!" Jaejoong memeluk bahu ibunya. "Sekarang aku sudah hidup bahagia, tidak ada gunanya meratapi masa lalu."

Ny. Kim menghapus air matanya dan lanjut memakan roti isinya. "Aku merasa lega karena kau hidup bahagia sekarang. Setidaknya rasa bersalahku kepadamu sedikit berkurang. Setidaknya ada satu anakku yang hidup bahagia."

Jaejoong meremas bahu ibunya. "Ibu tidak usah merasa bersalah lagi kepadaku. Semuanya sudah terjadi dan kita tidak bisa kembali lagi ke masa lalu untuk memperbaikinya. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menjalani hidup kita dengan baik dan berbahagia."

Ny. Kim menatap anaknya. "Bagaimana aku bisa hidup bahagia? Kedua anakku yang lain hidup dalam keadaan yang menyedihkan dan aku tidak bisa berbuat apa pun."

Jaejoong menggenggam tangan ibunya. "Aku tidak bisa tinggal lama-lama di Korea. Aku tidak bisa merawat ibu." Ia mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam dompetnya. "Ia adalah temanku, Park Yoochun. Setiap bulan aku akan mengirimkan uang untuk ibu melalui temanku itu. Kuharap ibu dan noona bisa menggunakannya dengan bijaksana. Jika kalian masih memiliki utang, lunasilah utang-utang kalian terlebih dahulu! Bukankah ibu sangat pandai membuat tteokbokki? Ibu bisa berjualan tteokbokki dan noona bisa berhenti dari pekerjaan hina itu dan membantu ibu berjualan. Tteokbokki buatan ibu sangat enak. Sampai sekarang aku masih mengingat rasa tteokbokki buatan ibu."

Ny. Kim tertegun. Ia tidak menyangka bahwa anak yang selama ini ia sia-siakan justru menjadi penolongnya. "Tidak, aku tidak bisa menerima kebaikanmu itu. Setelah semua yang kulakukan kepadamu, masih pantaskah aku untuk menerimanya?"

"Walaupun perlakuan ibu sangat buruk kepadaku, aku tetap berterima kasih kepada ibu karena ibu sudah melahirkanku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk ibu, lagipula aku juga tidak akan memberikannya secara cuma-cuma. Sebelum ibu mengambil uang untuk bulan berikutnya, ibu harus memberikan laporan keuangan bulan sebelumnya," ujar Jaejoong. "Hal ini untuk mencegah penggunaan yang tidak bijak pada dana yang kuberikan. Jika nanti usaha ibu sudah maju pesat dan ibu merasa sudah tidak memerlukan bantuanku lagi, ibu bisa memutuskan untuk berhenti menerima uang dariku. Namun, untuk kali ini biarkanlah aku membantu ibu!"

"Terima kasih, Nak!" Ny. Kim meremas tangan Jaejoong. "Ibu merasa sangat malu."

"Sekarang terimalah ini!" Jaejoong memberikan beberapa lembar uang kertas. "Ini tidak banyak, tetapi setidaknya ibu dan noona bisa makan selama seminggu dengan uang ini."

"Terima kasih, Jae! Terima kasih banyak!" Ny. Kim memeluk putra bungsunya itu.

Jaejoong membalas pelukan ibunya itu. Ia membelai punggung sang ibu. Sudah lama sekali ia tidak merasakan pelukan seorang ibu. Sejujurnya ia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Ia merasa senang.

"Selama ini ibu tidak pernah memberitahukan siapa ayah kandungmu. Mungkin sekarang ibu bisa memberitahumu." Ny. Kim melepaskan pelukannya kepada Jaejoong.

Jaejoong tersenyum. "Terima kasih karena ibu sudah berniat untuk memberitahuku. Akan tetapi, sekarang aku sudah tidak ingin mengetahuinya lagi."

Ny. Kim memandang Jaejoong dengan heran. "Mengapa? Tidakkah kau merasa penasaran? Bukankah dahulu kau sering sekali menanyakannya?"

Jaejoong menggeleng. "Untuk apa aku mengetahuinya? Sama sekali tidak ada gunanya. Dengan mengetahui hal tersebut justru mungkin akan memberikan dampak yang buruk kepadaku. Mungkin aku akan marah dan membencinya. Hidupku yang sekarang sudah bahagia. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan itu dengan mengotori hatiku dengan perasaan benci."

Ny. Kim menangkup wajah Jaejoong. "Kau benar-benar berbeda sekarang. Kau sudah banyak berubah. Kau berubah menjadi orang yang jauh lebih baik."

"Dialah yang mengubahku menjadi seperti ini. Ia dan keluarganya mengajariku tentang cinta. Mereka mengajarkanku akan kebaikan. Aku bersyukur karena aku bisa memiliki orang-orang seperti mereka. Cinta yang mereka berikan kepadaku sanggup untuk melenyapkan semua kebencian di hatiku. Mereka adalah hartaku yang paling berharga." Jaejoong bercerita kepada ibunya.

"Andaikan aku mempunyai kesempatan, aku ingin bertemu dengan pria itu dan berterima kasih kepadanya karena telah membuatmu seperti ini," balas Ny. Kim.

"Suatu saat nanti jika kami berkunjung lagi ke Korea, mungkin aku bisa membawanya ke hadapan ibu. Ibu belum memberikan restu ibu kepada kami, bukan?" ujar Jaejoong.

"Kau tidak perlu memohon restu dariku. Tanpa kau minta pun aku pasti akan memberikannya," balas Ny. Kim cepat. "Mengetahui dirimu bahagia bersama dirinya membuatku sangat lega."

"Ia pasti merasa senang karena ibu sudah merestuinya sebagai menantu ibu." Jaejoong tersenyum.

.

.

.

Jaejoong pulang ke rumah Yunho dengan perasaan lega. Setelah bertahun-tahun lamanya, ia bisa kembali bertemu dengan ibu kandungnya. Di tengah kebahagiannya bersama Yunho dan keluarga kecil mereka, masih ada hal yang mengganjal di dalam hatinya. Namun, semua itu sudah sirna sekarang. Ia bisa hidup dengan tenang tanpa beban yang menghantuinya lagi.

"Kau terlihat sangat gembira. Ada apakah gerangan?" goda Yunho.

"Nanti akan kuceritakan. Sekarang aku harus membuat kue. Jiyoolie pasti kerepotan membuat kue sendirian." Jaejoong melangkah dengan gembira.

Sesampainya di pintu dapur, Jaejoong terdiam. Ini adalah dapur milik Yoojin. Yoojin adalah ratu pemilik dapur ini. Bolehkah ia memasukinya?

"Mengapa oppa hanya berdiri saja di sana?" Jiyool menarik lengan Jaejoong. "Ayo bantu aku! Kakak terus menggangguku, sehingga aku tidak bisa berkonsentrasi."

Changmin bersandar pada dinding dapur. "Sejak tadi aku hanya berdiri di sini. Aku sama sekali tidak melakukan hal yang bisa mengganggumu saat membuat kue."

"Kehadiran kakak di sini membuatku grogi," balas Jiyool. "Sepertinya kakak memang sengaja untuk membuatku gagal membuat kue."

"Min, sebaiknya kau menunggu di luar." Jaejoong mengomeli Changmin. "Bukankah kau juga harus menyiapkan hal lain?"

Jiyool menjulurkan lidahnya kepada Changmin. Ternyata hubungan mereka masih seperti dulu, walaupun kini mereka sudah lebih dewasa.

"Baiklah, baiklah." Changmin pun mengalah. "Aku akan menunggu hasilnya nanti."

"Anak baik." Jaejoong mengacak-acak rambut Changmin. "Ini baru anakku." Hari ini pertama kalinya Jaejoong menyebut Changmin dan Jiyool sebagai anaknya. Selama ini ia tidak pernah memanggil mereka seperti itu bukan berarti ia tidak menganggap mereka berdua sebagai anak, hanya saja ia tidak ingin terkesan merebut anak-anak Yoojin juga.

Changmin tersenyum. "Anak, aku suka hyung memanggilku seperti itu."

Jaejoong tertegun. Ia tidak menyangka bahwa Changmin menyukai hal tersebut.

"Jadi, apakah aku harus memanggilmu dengan sebutan 'ibu' atau 'ayah'?" Changmin menyeringai lebar.

Jaejoong menggeleng. "Tidak, Min. Panggilan tersebut hanya pantas untuk kalian berikan kepada orang tua kandung kalian. Kalian menganggapku sebagai bagian dari keluarga kalian saja sudah cukup bagiku. Aku tidak bisa mengharapkan lebih."

Jiyool menghampiri Jaejoong dan Changmin. Ia memeluk mereka berdua. "Aku menyayangi kalian berdua."

Jaejoong memeluk kedua anaknya dengan erat. "Kalian adalah anak-anakku yang sangat berharga."

Saat Jaejoong dan Changmin terlarut dalam pelukan mereka, tiba-tiba Jiyool mengoleskan tepung yang memenuhi tangannya pada wajah Changmin. "Tampannya kakakku. Hahaha!"

Changmin memelototi adiknya. Ia berniat untuk membalas perbuatan sang adik.

Jaejoong bisa membaca situasi saat ini. Ia segera mendorong Changmin keluar dari dapur. "Sudahlah Min, sebaiknya kau tunggu di luar!" Ia pun segera menutup pintu dapur.

.

.

.

Kue yang dibuat oleh Jaejoong dan Jiyool sudah dimasukkan ke dalam oven. Kini mereka hanya tinggal menunggu kuenya matang dan kemudian menghiasnya. Jaejoong melihat Jiyool tampak kelelahan. "Sebaiknya kau cuci tanganmu dan beristirahatlah! Kau sudah bekerja sangat keras. Biar aku saja yang menghias kue-kuenya nanti."

Jiyool menggangguk lemas. Ia menuruti perintah Jaejoong dengan mencuci tangannya dan melepaskan apronnya.

"Sepertinya kau perlu tidur sebentar agar nanti malam kau bisa terlihat segar." Jaejoong memahami masalah yang dihadapi oleh Jiyool. Perbedaan waktu antara Korea dan Belanda mengacaukan jadwal tidur mereka.

.

.

.

Jaejoong menghias kue-kuenya sambil bersenandung. Sebentar lagi Changmin akan menikah dan mungkin tidak lama kemudian akan mempunyai anak. Anak Changmin berarti cucunya. Ia tersenyum-senyum sendiri jika membayangkan dirinya menimang cucu. Pada usianya yang masih di awal tiga puluhan ia sudah menimang cucu.

"Mengapa kau senyum-senyum seperti itu?" Tiba-tiba Yunho masuk ke dapur dan melingkarkan lengannya pada pinggang Jaejoong. Ia memeluk Jaejoong dari belakang. "Kau pasti sedang memikirkan diriku."

"Kau terlalu percaya diri, Tn. Jung. Aku sama sekali tidak sedang memikirkanmu." Jaejoong masih tersenyum.

Yunho melepaskan pelukannya pada pinggang Jaejoong. "Lalu siapa yang sedang kau pikirkan?"

Jaejoong berhenti sejenak dari kegiatannya menghias kue dan berbalik menghadap Yunho. "Cucu kita."

Yunho mengerutkan dahinya. "Cucu kita?"

"Ya, cucu kita, anak dari Changminnie." Jaejoong memperjelas perkataannya.

Seketika tawa Yunho pecah. "Changminnie baru saja akan melakukan lamaran, tetapi kau sudah memikirkan cucu."

Jaejoong merengut kesal. "Apakah salah jika aku memikirkan cucu? Apakah kau tidak menginginkan cucu?"

Yunho berhenti tertawa. "Tentu saja aku menginginkan cucu dari pernikahan Changmin, hanya saja saat ini aku belum berpikir sampai ke sana. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku sudah setua itu."

"Kau masih berusia 43 tahun, belum terlalu tua." Jaejoong mencubit pipi Yunho. "Kau akan menjadi seorang kakek pada usia muda karena kau dan anakmu sama-sama menikah muda."

"Kau bahkan akan menjadi kakek pada usia yang jauh lebih muda dariku," balas Yunho. "Saat ini saja kau masih berusia 31 tahun."

Sekarang giliran Jaejoong yang tertawa. "Benar juga. Orang-orang tidak akan menyangka bahwa aku adalah seorang kakek."

"Walaupun menjadi seorang kakek, tetap saja kau terlihat sangat seksi." Tiba-tiba Yunho menarik Jaejoong ke dalam pelukannya. Ia mendekatkan wajahnya untuk mencium Jaejoong.

Jaejoong memalingkan wajahnya. "Jangan di sini, Yunho! Bagaimana jika ada yang melihat?"

"Mereka akan memakluminya." Yunho tetap mencium Jaejoong di dapur. Jika sudah mulai berciuman, mereka akan berciuman lama sekali, kemudian mereka akan mulai saling menyentuh. "Bagaimana jika kita mencoba untuk melakukannya di sini?" Di Belanda mereka sering melakukannya di dapur, bahkan pernah saat Jaejoong membuat kue. Alhasil kue-kue yang Jaejoong buat harus dibuang karena ia harus benar-benar menjaga kebersihan makanan yang akan dimakan. Ia juga harus membersihkan dapur sebelum digunakan lagi untuk memasak.

"Apakah kau sering melakukannya di sini bersama Yoojin?" Jaejoong merasa sedikit cemburu.

"Tidak, tentu saja tidak." Yunho menelusupkan kedua tangannya ke balik apron yang dikenakan oleh Jaejoong. "Aku tidak pernah terlalu bernafsu saat bersamanya. Kami hanya melakukannya di dalam kamar, di atas tempat tidur."

Kadang-kadang Jaejoong merasa kasihan kepada Yoojin. Istri pertama Yunho itu tidaklah seberuntung dirinya yang bisa merasakan sisi liar dari Yunho.

Sebenarnya Yunho adalah pria yang sangat tenang. Namun, Jaejoong berhasil mengeluarkan sisi liarnya. Ia hanya menampakkan sisi liarnya hanya saat berduaan dengan Jaejoong.

"Apakah kau merasa cemburu, Sayang?" Yunho menjilati telinga Jaejoong.

Jaejoong mendorong tubuh Yunho menjauh sebelum pria itu berbuat lebih jauh kepada dirinya. "Yunho, hentikan! Aku masih belum selesai menghias kue-kue ini. Bisakah kau menunggu sampai aku menyelesaikannya?"

"Aku akan menunggu." Yunho menjauh dari Jaejoong. Ia mengedipkan matanya dengan nakal.

.

.

.

Jaejoong tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada kue-kuenya karena Yunho terus memandangnya dengan tatapan lapar. Ia merasa kesal. Ia pun bermaksud untuk membalas Yunho. Ia membalas tatapan Yunho dan mengerling nakal. Ia mengambil sedikit krim untuk menghias kue dengan jari telunjuknya. Ia kemudian menjilat jari telunjuknya yang terbalut krim secara perlahan. Ia menjulurkan lidahnya keluar dan membersihkan telunjuknya dari krim.

Jaejoong sengaja mengoleskan krim di jarinya dengan lidahnya pada bibirnya dan kemudian menjilatinya. Tatapannya masih menatap Yunho dengan lekat.

Yunho membelalakkan matanya. Ia sudah tidak tahan oleh godaan Jaejoong. "Sayangku, cepat selesaikan kue-kue itu!"

Jaejoong terkekeh. Sepertinya ia telah berhasil mengerjai suaminya itu

.

.

.

Jaejoong sudah selesai membungkus kue yang akan diberikan kepada keluarga Momo dengan rapi. Kue-kue tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kotak transparan dan dihiasi pita berwarna merah, sungguh terlihat cantik.

Jaejoong tersenyum-senyum sendiri jika ia mengingat kejadian bersama Yunho di dapur. Ia terpaksa harus menunda kegiatan menghias kue karena Yunho tiba-tiba menyerangnya. Setelah mereka puas bermain-main di dapur, ia pun membersihkan dapur dan kembali menghias kue.

"Min, berhentilah memakan kue-kuenya! Kita akan berangkat sekarang." Yunho memberi tahu putranya. "Remah-remahnya mengotori pakaianmu."

Sejak kue-kue tersebut disajikan, Changmin tak henti-hentinya memakan kue. "Aku merasa sangat gugup. Aku memakan kue-kue ini untuk mengurangi rasa gugupku."

Jiyool mendekati Changmin dengan penuh rasa percaya diri. "Sekarang kakak percaya bahwa aku bisa membuat kue yang sangat lezat, bukan?"

"Ya, aku percaya sekarang," balas Changmin dengan malasnya.

.

.

.

Changmin duduk di sebelah Yunho yang mengemudi. Ia memberikan petunjuk arah ke rumah Momo kepada ayahnya. Di atas pangkuannya terdapat setoples kue. Masih saja ia tidak bisa berhenti mengunyah.

"Saat kita keluar dari mobil kau harus menyimpan toplesmu. Kau harus terlihat keren dan tidak boleh terlihat memalukan dengan membawa toples berisi kue, apalagi jika masih saja mengunyah." Yunho menasihati putranya.

"Mereka sudah mengenal sifatku yang suka makan," ujar Changmin santai.

Yunho menghela nafas. Putranya ini sulit untuk dinasihati. "Malam ini adalah malam yang bersejarah untukmu. Walaupun mereka sudah hapal dengan kelakuanmu, setidaknya kau harus terlihat sangat keren dan jangan membuat malu ayahmu ini."

"Jangan-jangan selama ini kakak sering meminta makan kepada calon mertua," celetuk Jiyool dari jok belakang. Ia duduk di sebelah Jaejoong.

"Memang benar." Changmin sama sekali tidak menyangkal.

"Mereka pasti terkejut saat pertama kali melihat kakak makan," lanjut Jiyool. "Aku merasa heran mengapa mereka mau menerima kakak sebagai menantu mereka."

"Itu karena aku sangat tampan. Mereka akan merasa rugi jika menolakku. Di mana lagi mereka bisa menemukan menantu setampan diriku?" Changmin mulai menyombongkan diri. "Hahaha!"

"Tentu saja anakku ini sangat tampan karena ayahnya juga sangat tampan. Hahaha!" Yunho juga tidak mau kalah.

"Kalian berdua, ayah dan anak, sama saja," komentar Jaejoong.

"Akui saja bahwa aku memang sangat tampan! Hahaha!" Yunho mengedipkan matanya kepada Jaejoong. "Kau sangat tergila-gila pada ketampananku, bukan?"

"Hentikan pembicaraan ini! Kalian bisa membuatku malu." Jiyool menepuk dahinya. Keluarganya benar-benar lucu.

.

.

.

Yunho dan Jaejoong merasa sangat gugup saat berhadapan dengan Tn. dan Ny. Shim, orang tua Momo. Mereka sangat mengkhawatirkan pandangan kedua orang tua Momo pada status hubungan mereka. Mereka sempat berpikiran bahwa Tn. dan Ny. Shim akan memandang mereka dengan pandangan sinis dan jijik. Namun, semua perkiraan tersebut tidak terjadi. Tn. dan Ny. Shim menyambut mereka dengan sangat ramah di kediaman keluarga Shim.

"Tn. dan Ny. Shim, saya adalah Jung Yunho, ayah Changmin. Maksud kedatangan kami sekeluarga adalah untuk melamar putri kalian, Momo." Yunho mengutarakan maksud kedatangannya.

Seperti yang Changmin beritahukan sebelumnya, keluarga Momo sama sekali tidak bermasalah dengan hubungan Yunho dan Jaejoong. Bagi mereka yang penting Changmin bukan seorang homoseksual seperti ayahnya. Mereka sudah lama mengenal Changmin dan percaya bahwa Changmin bisa membahagiakan putri mereka.

"Kami sudah lama mengenal Changmin. Ia sering mampir kemari untuk mengantar Momo pulang," ujar Tn. Shim. "Ia adalah pemuda yang sangat baik."

"Maafkan jika putraku sering merepotkan keluarga kalian!" Yunho berpikir bahwa nafsu makan Changmin yang sangat besar pasti membuat keluarga Shim sangat kerepotan.

Proses lamaran berjalan dengan lancar. Mereka juga menentukan tanggal pernikahan Changmin dan Momo. Karena Yunho, Jaejoong, dan Jiyool tidak bisa berlama-lama tinggal di Korea, pernikahan mereka pun diputuskan akan diselenggarakan sebulan lagi.

.

.

.

Yunho dan Jaejoong mulai bisa mengakrabkan diri dengan orang tua Momo saat mereka mempersiapkan pernikahan anak-anak mereka. Keluarga dari kedua belah pihak sangat aktif mempersiapkan pesta pernikahan tersebut. Karena status pernikahan sesama jenis Yunho dan Jaejoong yang tidak bisa diterima oleh masyarakat Korea, mereka pun memutuskan bahwa mereka hanya akan mengundang kerabat dan orang-orang terdekat.

Selain Yunho dan Jaejoong yang menjadi semakin akrab dengan Tn. dan Ny. Shim, Jiyool pun menjadi akrab dengan si kembar, Momo dan Mimi. Ia dan Mimi mengajari si tomboy Momo untuk berdandan dan bersikap lebih feminin.

"Changminnie sama sekali tidak keberatan aku berpenampilan dan bersikap tomboy. Ia tetap menyukaiku." Ia menolak untuk mencoba gaun yang telah dipilihkan oleh Mimi dan Jiyool. Mereka bertiga sedang berbelanja di mall.

"Kakakku itu sangat tampan." Jiyool memberi tahu Momo. "Apakah kau tidak merasa khawatir? Banyak sekali gadis yang mengincarnya. Bisa saja ia terpikat oleh salah satu dari mereka."

"Ia sangat mencintaiku. Ia tidak mungkin berselingkuh." Momo terlihat sangat percaya diri.

Jiyool memutar bola matanya. Ia hampir kehabisan akal untuk membujuk Momo. "Ia jauh lebih mencintai makanan. Apakah kau mau ia menghabiskan malam pengantin kalian untuk makan karena di matanya kau tampak tidak lebih menarik daripada makanan?"

Senyum Momo memudar. Ia sangat memahami hobi Changmin yang satu itu. Beberapa kali Changmin pernah tidak menghiraukannya karena kekasihnya itu lebih memilih makanan. "Baiklah, aku akan mengikuti saran kalian."

.

.

.

Hari pernikahan Changmin dan Momo akhirnya tiba. Yunho tidak bisa menahan rasa harunya. Putra sulungnya itu mengikuti jejaknya, yaitu menikah pada usia muda. Ia bersyukur bahwa Changmin tidak seperti dirinya yang menyukai sesama jenis. Ia tidak bisa membayangkan putranya hidup seperti dirinya yang harus tinggal di negeri asing demi cintanya. Ia berharap pernikahan ini diberkahi dan dipenuhi oleh cinta dan kebahagian.

Yunho bertemu dengan teman-teman lamanya yang sudah tiga tahun tidak ia jumpai. Mereka yang datang adalah teman-temannya yang bisa menerima dan tidak mempermasalahkan penyimpangan dirinya. Memang tidak sedikit teman-temannya yang tiba-tiba berpaling saat mereka mengetahui fakta mengenai dirinya itu.

Di antara teman-temannya yang masih bertahan dan bisa menerima dirinya adalah Tn. Han. Temannya yang satu itu memiliki rasa setia kawan yang tinggi. Ia tidak meninggalkan Yunho saat mengetahui bahwa Yunho memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Ia juga sama sekali tidak merasa sakit hati, walaupun Yunho pernah menolak putrinya.

Tn. Han datang bersama putri semata wayangnya, Chaeyoung. Chaeyoung tampak menggandeng seorang pria yang sedang menggendong anak kecil. Dua tahun lalu Chaeyoung menikahi seorang pengusaha yang merupakan mitra bisnisnya dan kini mereka sudah dikaruniai seorang anak yang berusia satu tahun.

Yunho merasa lega karena Chaeyoung tidak berlarut-larut dalam kesedihan setelah ditolak olehnya. Ia juga merasa lega karena Chaeyoung tidak membencinya hanya karena hal itu. Hubungan bisnis mereka masih berjalan dengan baik.

Yoojin, sahabatku tersayang, apakah kau di atas sana bisa melihat kami? Hari ini adalah hari pernikahan putra kita. Tidak terasa Changminnie kecil kita sudah besar sekarang. Ia akan menjadi seorang kepala keluarga yang memimpin keluarganya. Berkat didikanmu selama ini aku merasa yakin bahwa ia akan menjadi seorang pria dewasa yang bertanggung jawab kepada keluarganya.

"Apakah kau sedang melamun?" Jaejoong menoleh ke sebelahnya.

"Aku merasa terharu atas pernikahan ini," jawab Yunho.

"Apakah kau merasa bahagia?" tanya Jaejoong.

Yunho mengangguk. "Tentu saja. Hari ini aku merasa sangat bahagia. Putra sulungku menikahi wanita yang dicintainya. Aku merasa bahagia karena ia tidak seperti diriku yang menikah tanpa cinta kepada pasanganku."

"Hey, kau melupakan pernikahan keduamu," komentar Jaejoong. Ia sama sekali tidak merasa tersinggung oleh perkataan Yunho.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong. "Mana mungkin aku melupakan hari pernikahan kita." Ia mencium tangan Jaejoong dalam genggamannya. "Aku mencintaimu, Jaejoongie."

"Aku juga mencintaimu, Yunniebear," bisik Jaejoong.

"Hiduplah bersamaku sampai maut memisahkan kita!" pinta Yunho.

"Aku akan terus menemanimu. Kita akan menghabiskan hari tua kita bersama, menimang cucu-cucu kita," balas Jaejoong.

"Hey, ini adalah upacara pernikahan kakak, bukan upacara pernikahan kalian," celetuk Jiyool. Tampaknya ia sudah terbiasa menyaksikan kemesraan orang tuanya itu.


A/N:

Terima kasih kepada kalian semua yang sudah membaca. Mohon maaf atas segala kekurangannya. Mohon maaf juga jika akhir ceritanya tidak sesuai dengan yang kalian harapkan.

Akhirnya cerita FA ini selesai juga setelah melalui pengerjaan yang sulit karena harus mengerjakannya secara diam-diam sambil mencuri-curi kesempatan.

Saat ini saya tidak bisa menulis cerita dengan leluasa, bisa menyelesaikan FA saja sudah untung. Setelah ini saya tidak tahu apakah saya akan mempunyai kesempatan untuk melanjutkan cerita-cerita lain yang belum selesai atau menulis cerita baru. Jadi, saya mohon agar tidak mengharapkan kelanjutan cerita-cerita saya yang lain. Jikalau pun saya bisa menulis fanfiksi lagi, saya hanya akan mempublikasikannya jika cerita tersebut sudah tamat agar para pembaca tidak menunggu atau mengharapkan kelanjutannya. Selain itu, saya juga berharap kalian tidak mencari-cari saya. Saya tidak mempunyai akun SNS yang aktif.

Akhir kata, selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.