Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : M For Safe
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja. hehehe
.
.
"Mau apa kau?"
Rukia terkejut ketika pria berambut menyala ini tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan tajam dan sinis. Apa… bagaimana dia bisa tahu Rukia mendekatinya begini?
"A.. a… ak-aku…" sekarang Rukia benar-benar gugup dan tak tahu harus mengatakan apa. Kenapa orang ini jadi seram sekali?
"Kau… masih menyimpan obatmu waktu itu?"
Hah?
"I-iya?" ulang Rukia kikuk.
"Dasar bodoh! Obatmu waktu kau―aduuuhh…" erang pemuda tampan itu. Sepertinya luka di kepalanya benar-benar sakit sekali ya?
"Ahh, obat… ya ada kok, maaf… akan segera kuambilkan," ujar Rukia sambil beranjak dari sofa itu dan bergegas mengambil bungkusan obat sisa waktu dirinya terluka oleh orang-orang tak bertanggungjawab itu.
Tapi… kenapa beberapa saat lalu… dada Rukia jadi berdebar tanpa sebab?
.
.
*KIN*
.
.
"Jadi… kau sudah lulus sekolah, karena kau senggang, makanya kau nekat menerobos Tokyo sendirian tanpa mengenal siapapun dan akhirnya terdampar di sini?" kata Ichigo kembali setelah dia mereview semua cerita yang dikatakan oleh Kuchiki kecil ini. Sambil membalut kepala Ichigo, Rukia menganggukkan kepalanya mengiyakan kata-kata pria berambut orange ini.
"Astaga… apa yang kau pikirkan sih? Kenapa tidak sekolah saja? Toh, kakakmu kan rajin mengirim uang bulanan? Kenapa tidak melanjutkan sekolahmu? Hmm, biar kutebak, karena kau bodoh kan?" cerca Ichigo.
"Aku tidak bodoh! Aku hanya… khawatir pada kakakku. Itu saja. Aku ingin melihatnya, apakah dia sehat saja… apa dia… aku akui kedatanganku ke sini adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan… tapi…" Rukia menghentikan kegiatannya sebentar.
Sejak duduk di sebelah Ichigo, Rukia terus ditodong berbagai pertanyaan. Entah kenapa Ichigo menanyakan hal itu padanya. Rukia secara jujur menceritakan semua yang dia rasakan selama ini. Karena Rukia lihat, Ichigo bukanlah pria jahat. Sudah pasti dia akan membantu Rukia kan?
Lagipula, tidak ada hal yang perlu dirahasiakan. Siapa tahu… hanya siapa tahu, mungkin saja Ichigo… mau membantunya sekali lagi. Walau Rukia tak berharap banyak.
Tadinya Rukia mau menangis, tapi dia tidak ingin jadi gadis cengeng di depan pria ini. Bisa memalukan untuk dirinya sendiri yang masih terlihat cengeng seperti ini. Rukia juga tidak mau kakaknya melihat dirinya yang seperti ini.
"Aku mengerti alasanmu datang ke sini karena kakakmu. Tapi, bukankah akan jadi omong kosong kalau kau sama sekali tidak punya persiapan? Kau bilang kau bukan orang bodoh, tapi kenapa kau melakukan hal bodoh?" tanya Ichigo lagi.
Sekali lagi Ichigo berkata demikian dan Rukia tak bisa memungkirinya.
"Tapi ya… aku juga sama sepertimu."
Rukia mengangkat kepalanya dan melihat Ichigo yang sudah memandangi langit-langit flat jeleknya ini. Lukanya sudah selesai dibalut Rukia. sekarang tinggal lecet-lecet ringan di sekitar tangan dan pelipisnya saja.
"Kau… juga mencari keluargamu?" tebak Rukia.
"Tidak. Mungkin… mereka yang mencariku."
Rukia terhenyak.
"Kau… melarikan diri dari rumah?" kali ini Rukia memandanginya takut-takut. Astaga… orang ini mengerikan sekali…
"Ya, tapi bukan karena alasan konyol seperti aku bertengkar dengan orangtuaku, atau aku mau dipaksa menikah dengan orang yang tidak kucintai. Aku berpikir… ini jalan yang terbaik."
Rukia terdiam lagi. Dia tidak mengerti. Bagaimana mungkin jalan terbaik adalah kabur dari rumah? Bukankah tidak enak kabur dari rumah? Jauh dari orangtua… tapi Rukia sudah tidak punya orangtua. Apa… Ichigo juga begitu?
"Sudah, tidur sana. Ini sudah malam kan?" ujar Ichigo sambil menunjuk pintu kamarnya dengan dagunya.
"Eh? Tapi kau sedang terluka… aku tidur di sofa saja," tolak Rukia.
"Ini bukan luka besar yang mengharuskanku berbaring seharian. Masuklah ke dalam," pinta Ichigo lagi.
"Tidak apa-apa kok, sungguh, lagipula aku bisa tidur di sofa, kemarin aku sudah meminjam―"
"Masuk. Ke. Kamar. Sekarang. M-U-N-G-I-L!" kata Ichigo dengan setiap penekanan yang ada. Apalagi mimik wajah pria itu sungguh menyeramkan dengan kerut di dahinya yang begitu banyak. Kontan saja Rukia langsung takut dan merinding.
"B-baik, selamat malam…" ujar Rukia kikuk dan langsung masuk ke dalam kamar pemilik rumah ini.
Ichigo bisa bernafas lega. Gadis mungil itu sama sekali tidak ada pertahanan. Mau jadi apa coba dia itu? Kadar keluguan juga ada batasnya! Makanya seharusnya dia bisa menjaga diri kan? Karena dia begitu itu dia sampai dijahili oleh preman kampung tidak jelas itu!
Ichigo merebahkan tubuhnya di sofa sempit itu seraya memandangi langit-langit flatnya yang hampir… yah mungkin masih bisa dipertahankanlah tempat tinggal ini. Rukia yang tidak bertemu kakaknya selama bertahun-tahun saja rela datang ke kota besar yang begitu banyak tindak kriminalitas ini. Bahkan tidak sedikit kasus pelecehan bahkan sampai penculikan dan pemerkosaan terjadi di Tokyo ini. Seharusnya kalau Rukia gadis yang pintar dia sudah tahu mengenai masalah ini bukan?
Apakah… sebegitu pentingnya keluarga untuknya?
Sampai rela datang mengorbankan diri demi mencari seseorang yang belum pasti bisa ditemukan atau tidak?
Apakah… keluarganya juga begitu?
.
.
*KIN*
.
.
"Mau sampai kapan kau menyembunyikan gadis itu di dalam kamar jelekmu hah?" sindir Ashido ketika Ichigo sedang asyik menonton TV plasma yang sengaja di pasang di ujung ruang kedai milik Urahara ini. Pria berambut orange ini memasang malas pada pria merah ini. Dirinya memang tidak pernah cocok dengannya. Jadi malas rasanya kalau mau meladeni orang yang tidak mau Ichigo lihat sama sekali.
"Aku sudah bilang sampai tasnya ditemukan bukan?" gerutu Ichigo acuh tak acuh.
"Kau sengaja tidak mencarinya supaya gadis itu tinggal lebih lama di kamar baumu kan?" sindir Ashido lagi. Karena ini nadanya lebih menyindir dari biasanya.
"Hei, aku ini sedang tidak dalam kondisi baik untuk diajak bermain lelucon! Seperti aku mau menampungnya saja!" gerah Ichigo.
Kini obyek yang dimaksud itu tengah membersihkan gelas-gelas minuman di balik meja bar bersama Tessai, sang koki kedai ini. Awalnya Ichigo kasihan kalau membiarkan gadis ini dibiarkan sendirian saja di flatnya yang sesak itu. Lagipula, penghuni kedai ini juga sudah mengenal siapa itu Rukia. Jadi bukan hal aneh kalau Ichigo membawanya kemari. Daripada dia sendirian. Ichigo bisa was-was kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi menimpa gadis mungil itu.
"Sudah, sudah. Kalian ini kenapa ribut seperti anak kecil berebutan mainan saja?" sela Yoruichi yang baru masuk ke dalam kedai ini.
"Tanyakan si rambut merah sialan ini!" geram Ichigo.
"Aku? Enak saja! Aku kan bertanya, kenapa kau malah marah-marah begitu?"
"Oh, Kurosaki-san, kau mirip seperti mumi dengan perban itu," sela Urahara sambil mengipas dirinya dengan kipas kertas lipat itu.
"Kau orang kedua yang menyindirku hari ini, Urahara-san!" balas Ichigo jengkel.
Orang pertama siapa lagi kalau bukan si rambut merah sialan ini!
Ketika mereka sedang asyik saling balas sindir, berita di TV itu menyiarkan tentang kejadian pembunuhan seorang pejabat negara yang sangat misterius. Kematiannya membuat heboh seantero negeri karena dia adalah pejabat yang selalu melakukan korupsi diam-diam. Banyak uang rakyat yang habis di tangannya. Pihak kepolisian saja sulit menangkapnya karena bukti yang tidak cukup. Ada beberapa di antara yang menyampaikan komentar mengenai hal ini. Ada yang senang ada juga yang mengkritik perbuatan keji si pelaku.
Ichigo hanya menyaksikan berita itu dengan tampang datar tanpa ekspresi. Entah sudah berapa banyak berita tentang aksinya yang diekspose keluar. Tapi untungnya selama ini belum ada satupun yang terungkap. Itu karena kelihaian Ichigo jadi bom waktu untuknya. Kalau dia lihai, semua masalah akan dianggap selesai. Tapi kalau tidak, nyawa mungkin tidak cukup untuk menutupinya.
"Ulahmu?" bisik Yoruichi yang sudah mendekati Ichigo. Suaranya dibuat pelan supaya orang yang tidak terlibat tidak mendengar hal ini.
Ichigo hanya diam dengan masih mempertahankan mimik datarnya. Dia sudah berusaha untuk yang terbaik. Bahkan hal ini juga sudah dilakukannya demi apa yang dijaganya selama ini. Yah… itulah. Kalau ada kesempatan lain yang lebih baik, mungkin Ichigo akan―
"Hei, tunggu dulu, kakimu panjang sekali!"
Ichigo tertegun mendengar suara itu. suara seorang gadis. Apa ada orang yang mengikutinya? Atau Ichigo hanya salah dengar? Mungkin memanggil orang lain, bukan dirinya. Kenapa Ichigo jadi begitu gampang gr?
"Hei, kepala orange! Tunggu aku!"
Kepala orange? Ok kali ini Ichigo yang berubah geram. Orang bodoh mana yang berani memanggilnya begitu hah? Benar-benar mau cari mati rupanya!
"Hei―kau?" kata Ichigo tak percaya.
"Kenapa kau meninggalkanku sendirian di sana? Kau mau meninggalkan tanggungjawabmu ya?" katanya setengah menyindir dengan mimik yang aneh. Kata-katanya terdengar seperti sindiran memang. Tapi rasanya bukan itu. Dia kelihatan agak… sedih ya?
"Aku tidak begitu! Siapa suruh kau mengikuti? Aku mau pergi dulu. Kembali saja ke sana," perintah Ichigo.
"Tidak ada yang kukenal di sana. Sendirian tanpa melakukan apapun aku juga tidak enak. Makanya, lebih baik aku kembali ke rumahmu saja."
"Dengar ya, lebih aman kau di sana. Mengerti. Cepat sana!"
"Kenapa kau menyuruhku ke sana sih? Memangnya kau mau kemana?"
"Heh! Dengar ya, kita ini tidak ada hubungan apapun. Jadi kau tidak perlu merecokiku dengan bertanya aku mau kemana, kau mengerti kan? Aku bukan pengasuhmu!"
Rukia terdiam mendengar kata-kata itu. Benar memang. Ichigo bukan siapa-siapanya. Kenapa Rukia jadi begitu sewot mengurusi urusan orang lain? Ichigo hanya bertanggungjawab sampai tasnya ditemukan saja. Setelah itu Rukia kembali pada misi utamanya untuk menemukan kakaknya. Memang sejak awal Rukia bukan siapa-siapa. Ichigo juga pasti risih menghadapi Rukia yang notabene-nya adalah parasit. Dia hanya menumpang. Tidak punya hak lebih untuk mengikuti kehidupan orang lain.
"Kau benar. Maafkan aku. Aku akan pergi," kata Rukia seraya menunduk hormat dan langsung pergi dari hadapan Ichigo.
Sebenarnya ini adalah resiko yang harus ditanggung oleh Rukia. Berusaha bertahan di kota orang lain yang begini kejam. Memang tidak ada 100 persen orang yang mau menolong Rukia sampai akhir. Semua juga punya privasi. Kenapa Rukia jadi… begini…
Awalnya Ichigo merasa kata-katanya sedikit kasar pada gadis itu. Dia hanya masih terpengaruh pada pikirannya tadi soal 'pekerjaannya'. Dan malah melampiaskannya pada Rukia. Jelas gadis remaja itu jadi bingung karena Ichigo terkesan seperti… menjauh darinya.
Argh! Kenapa jadi begini sih!
Masa bodoh sama gadis itu! Paling-paling dia nantinya akan menunggu Ichigo di flatnya atau di kedai makan Urahara tadi.
Tapi kenapa Ichigo jadi tidak yakin ya?
Grr!
.
.
*KIN*
.
.
"Kau siap dengan targetmu kali ini?"
Ichigo sudah diminta tiba di lokasi biasa tempat anggotanya berkumpul. Kali ini adalah sebuah mansion mewah yang terlihat kuno. Meski di luar tampak menyeramkan mirip rumah hantu, tapi di dalamnya mewah sekali. Banyak barang antik yang harganya bisa mencapai ratusan juta yen. Inilah rumah Kariya. Rumah megah didirikan di atas darah korban-korbannya. Tidak sedikit memang nyawa yang sudah melayang di tangan pembunuh berdarah dingin ini. Meskipun begitu, rasanya memang… pantas.
Apalagi korbannya memang bukan orang yang terbilang baik.
"Aku siap kapan saja," jawab Ichigo dengan nada formalnya.
"Kali ini kau akan berpasangan dengan Grimmjow. Karena target kali ini bukan orang yang mudah. Dia memiliki banyak back up orang-orang yang cukup menyulitkan. Karena itu, kau akan dibantu Grimmjow. Apa kau setuju, Kurosaki?"
Kariya masih duduk di sofa one seat-nya dengan angkuh. Sofa mewah dengan ukiran naga yang terlihat begitu hidup di sisi lengan sofa berwarna emas itu seakan menambah begitu angkuhnya bos pemimpin kelompok ini. Di belakang sofa itu, berdiri sesosok pria dengan tatapan sinis dan cengiran yang sangat tajam. Seolah dia tengah menatap remeh pada Ichigo. Rambut biru pendeknya terlihat berantakan. Tapi mata safir-nya memandang tajam pada Ichigo.
Sejak awal mereka memang bukan rekan yang baik. Sering terlibat perkelahian kalau ada salah satu dari mereka yang usil. Kebanyakan memang Grimmjow-lah yang tangannya selalu gatal. Tapi membantah perintah Kariya juga sama dengan mati. Tak ada pilihan lain kecuali mengiyakannya.
"Bukan masalah," jawab Ichigo singkat.
"Aku menantikannya Strawberry!" sindir Grimmjow.
"Bagus. Ulquiorra akan memberitahu kalian kapan misi ini akan dilaksanakan. Sekali lagi… jangan sampai gagal, Kurosaki."
Berada di tengah kumpulan orang ini selalu membuat Ichigo beraura gelap dan merasa seperti orang lain. Ini memang bukan dirinya. Bukan pembunuh berdarah dingin yang selama bertahun-tahun ini dijalani Ichigo. Bukan seperti ini.
Setelah mendapatkan misi yang harus Ichigo lakukan dua malam lagi, Ichigo memilih untuk pulang segera. Dia sedang tidak ingin bersenang-senang dengan bar langganannya malam ini. Meski dia sudah membuat janji dengan beberapa penari striptease di sana. Janji untuk menemani minum. Bukan hal lain. Lagipula, akan terlihat aneh kalau Ichigo tidak pernah terlihat di sana. Seringkali target yang dia butuhkan ada di beberapa klub atau bar. Jadi, terkadang tanpa sadar, Ichigo membuat beberapa penari striptease itu sebagai mata-mata untuknya. Bukan hal susah kan? Cukup membayar mereka dengan menemaninya minum, atau sekadar melakukan kegiatan ringan yang cukup panas.
Ahh ya. Gadis itu.
Apa dia sudah makan?
Ichigo tadi sempat berpesan pada Urahara melalui pesan singkat, kalau gadis itu harus diberikan makan di sana dan Ichigo yang akan menanggungnya. Tapi tak kunjung ada balasan dari pemilik kedai itu. Ichigo juga bilang dia akan menjemputnya setelah urusannya selesai. Apa gadis itu benar-benar menunggu di sana?
Ichigo bergegas menuju kedai milik Urahara. Hampir tutup.
"Urahara-san!" pekik Ichigo begitu masuk ke dalam kedai itu.
"Hei, jangan berteriak begitu! Kedai sudah tutup, pergi sana. Urahara sedang tidak ada di sini!" balas teriakan dari dalam. Itu pasti suara Ashido sialan!
"Dimana dia?" tanya Ichigo cuek pada pelayan yang tengah mengelap meja kedai ini.
"Dia? Apa maksudmu dia?"
"Gadis yang kubawa tadi pagi! Dimana dia? Bukankah dia ada di sini?" tanya Ichigo kesal.
"Heh, bukankah dia mengikutimu tadi. Dia tidak kemari lagi kemari tahu!"
Benarkan!
"Kau serius?" tanya Ichigo tak yakin.
"Apa wajahku kurang serius hah? Pergi sana, aku mau tutup tahu!"
Kenapa gadis itu suka bikin masalah sih!
.
.
*KIN*
.
.
Rukia sudah lelah berjalan sejak tadi siang. Dia tak tahu harus kemana. Dia bahkan sudah lupa jalan kembali untuk ke kedai makan itu. Rukia juga tak tahu harus menghubungi siapa. Rukia sesekali mampir ke pos polisi yang dia lihat hanya sekadar untuk menanyakan perihal tasnya. Tapi tak satupun yang tahu.
Perutnya sudah lapar. Kakinya juga sudah lelah. Sejak tadi dia berputar-putar tanpa tujuan.
Memang dirinya bodoh. Untuk apa sebenarnya mengharapkan orang yang mungkin berbaik hati mau menolongnya? Padahal… tidak semua orang mau berbaik hati pada orang seperti Rukia. Apa yang bisa Rukia berikan atas imbalan jika tasnya sudah ditemukan? Tidak ada. Mungkin saja sebenarnya orang itu juga risih dengan keberadaan Rukia. Tapi tidak enak untuk mengusirnya keluar. Seharusnya Rukia cukup tahu diri saja.
Kakinya juga sudah lecet karena seharian ini mengenakan sepatu flat-nya. Hingga akhirnya Rukia memilih duduk di dekat gang kecil di antara bangunan di trotoar ini. Rukia memeluk lututnya sendiri. Udara malam sudah mendingin.
Satu kesalahan sepanjang hidupnya yang terus disesalinya. Kenapa dia datang kemari? Kenapa tasnya bisa hilang?
Dia hanya merindukan kakaknya. Tapi kenapa jadi begini rumit? Jika saja kakaknya memberikan kabar mengenai kepastian hidupnya, pasti Rukia tidak akan senekat ini. Pasti Rukia… tidak akan sampai di sini.
"Kakak…" gumam Rukia.
Matanya mulai panas. Kenapa jadi secengeng ini? Menyebalkan!
"Hei, kau sendirian? Mau kutemani?"
Jantung Rukia terasa berhenti berdetak. Di depannya sudah muncul satu orang. Seorang pria aneh dengan dandanan mirip preman… lagi. Rukia langsung membelalakan matanya dan segera berdiri dari tempat duduknya. Dia berusaha ingin menghindar.
"Hei, jangan begitu. Aku bukan orang jahat," bujuknya lagi.
Tapi tetap saja! Rukia sudah cukup trauma dengan kata-kata itu.
"P-pergi! K-kalau… ka-kalau kau t-tidak per-gi, a-aku… a-aku akan―"
"Akan apa? Jangan begitu… gadis sepertimu pasti kesepian kan? Butuh hiburan? Aku bisa menghiburmu…"
"Aku akan berteriak! PERGI!" pekik Rukia kencang. Berharap ada yang mendengarkan teriakannya. Tapi sekali lagi, seperti mengulang… atau déjà vu… tidak ada yang melintas di tempatnya sekarang. Rukia berusaha kabur. Dia ingin kabur. Kaki mungilnya mencoba berlari lebih cepat. Tapi sayang, karena terlalu lelah sejak tadi, kakinya sudah tidak ada tenaga lagi. Rukia sudah jatuh berkali-kali ingin menghindar dari orang gila itu!
"TOLOOONG! TOLONG AKU!" jerit Rukia lagi. Ini belum begitu malam, tapi kenapa tidak ada yang mendengarkan jeritannya?
Tangan pria itu berhasil menangkap lengan baju Rukia. Tapi tentu saja Rukia melawan sebisanya hingga lengan bajunya robek. Memperlihatkan lengan mulusnya yang terekpose begitu saja. Terakhir, kaki Rukia benar-benar mati rasa hingga kepalanya membentur aspal jalanan.
"Tch! Dasar bocah. Kau mau main-main denganku? Ayo kita main-main…"
BRUUUK!
"Hei! Siapa kau brengsek?!"
"Mau main-main? Boleh saja, bagaimana kalau aku ikut?"
Rukia sudah pasrah siapa yang datang itu. Dia tidak menghiraukan dirinya lagi. Rasanya… tubuhnya sudah melemas bukan main.
Seakan mengulang kejadian saat pertama kali dia diperlakukan begini, Rukia melihat dari jauh dengan matanya yang sedikit mengabur. Preman aneh yang mengejarnya tadi dipukuli begitu hebat sampai kepalanya dibenturkan ke dinding beberapa kali. Terakhir, dengan satu tinju yang Rukia yakin sangat kuat, berhasil membuat pria yang mengganggunya tadi terpental jauh.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Rukia berusaha bangkit dan duduk bersandar di dinding bangunan di dekatnya. Begitu ada yang mendekatinya, Rukia reflek memejamkan matanya dan merinding ketakutan.
"Tenanglah. Ini aku."
Mendengar suara itu, pelan-pelan Rukia mendongakkan kepalanya. Benar. Pria itu sudah berlutut di dekatnya.
"Aku tidak tahu kau itu sebodoh apa. Tapi kenapa kau pergi sendirian lagi hah?! Bukankah sudah kubilang diam saja di kedai itu atau kembali ke flat-ku! Kenapa kau berkeliaran seperti ini?! Kau pikir dirimu cukup hebat untuk bertahan di tempat mengerikan seperti ini hah?!"
Rukia menunduk dalam menyembunyikan butiran bening yang turun dari mata cantiknya. Dia hanya tidak menyangka kalau dia… bisa berakhir begini… lagi.
"Kau itu lemah! Jadi apa kau tidak bisa mendengarkan kata-kataku? Kau mau berakhir seperti ini? Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?!"
Rukia tetap diam tidak menjawab kata-kata Ichigo. Karena apa yang dikatakan Ichigo sebenarnya adalah benar. Dia memang gadis bodoh. Kalau dia tidak bodoh mana mungkin dia begini dan diperlakukan… sama untuk kedua kalinya.
Rukia terbelalak kaget saat kakinya melayang begitu tinggi. Tubuhnya juga terasa begitu ringan di atas udara.
"T-turunkan a-aku!" Rukia berusaha mengeluarkan suara penolakannya. Tapi karena masih menggigil karena tangisannya, jadi… terdengar aneh.
"Sudah diam! Kakimu sudah lemas begini bagaimana bisa berdiri? Berjalan saja pasti tidak bisa. Jadi diam saja, karena tubuhmu jadi berat kalau kau memberontak."
Rukia tak mengerti perasaan apa ini. Selalu begini. Dia ditolong lagi. Sekarang Rukia tak bisa memperkirakan sebenarnya Ichigo ini orang yang seperti apa. Tadi siang jelas dia terlihat sebal pada Rukia. Tapi sekarang dia malah terlihat begitu baik pada Rukia. Terlihat begitu peduli meski Rukia sudah menyusahkannya berulang kali.
"Kenapa kau kabur?" tanya Ichigo tanpa mengalihkan pandangannya. Ichigo hanya fokus menatap jalanan di depannya sambil menggendong Rukia di lengannya. Rukia sendiri hanya menggenggam kerah jaket Ichigo.
"Kupikir… kau benci padaku… karena aku… menyusahkanmu terus. Jadi… aku…"
"Aku sudah bilang kan akan bertanggungjawab padamu sampai tasmu ditemukan. Memang tadi aku agak sebal padamu. Tapi sekarang tidak lagi. Dengar, aku ini bukan superman yang bisa setiap saat ada menolongmu. Bagaimana kalau aku tidak bisa datang tepat waktu saat kondisimu begitu tadi?"
Rukia tetap diam menundukkan kepalanya.
"Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Kau sudah tahu bukan hidup di Tokyo bukanlah pilihan yang mudah. Jadi, bukannya aku tidak mau bertanggungjawab. Tapi, cobalah untuk melindungi dirimu sendiri."
Kata-kata Ichigo memang benar. Rukia harus bisa melindungi dirinya sendiri. Tentu saja. Seharusnya memang begitu. Dia seharusnya bertanggungjawab pada hidupnya sendiri. Bukan bergantung pada orang lain seperti ini.
"Maafkan aku," lirihnya sambil menundukkan kepalanya.
Setelag itu, baik Rukia maupun Ichigo tak mengatakan sepatah katapun lagi. Mereka saling diam dalam perjalanan pulang. Ichigo tak membawa motor besar yang biasa dikendarainya. Jadi, setelah dari tempat tadi, Ichigo terus menggendong tubuh mungil Rukia di lengannya tanpa mengeluh sedikit pun. Sebenarnya Rukia tidak enak jika harus digendong begini. Tapi, Rukia juga tidak berani buka mulut lagi jika Ichigo tidak mengatakan apapun lagi. Entahlah. Rasanya tenang saja jika ada yang mengomelinya begini. Awalnya Rukia sebal juga diomeli seperti itu. Apalagi diomeli orang lain. Tapi entah kenapa juga, mendengar suara seperti itu rasanya Rukia jadi bertambah rindu pada kakaknya. Kakaknya yang biasa mengkhawatirkannya dan mengomelinya seperti itu.
Rukia bingung sekarang. Perjalanan mereka sudah satu jam lebih, tapi Ichigo tak kunjung menurunkannya atau bicara lagi padanya. Rukia juga sembunyi-sembunyi jika ingin melihat keadaan Ichigo seperti apa. Rasanya menakutkan juga orang ini kalau sudah begini.
"Hai, Kill! Mau bermain sebentar?"
Rukia terkejut mendengar suara mengerikan itu. Kini di depan mereka malah sudah berdiri tiga atau empat orang bertubuh besar yang membawa peralatan mengerikan. Seperti balok kayu, pemukul bisbol dan… pisau?
"Kalian?"
Tanpa sadar, Rukia justru mengeratkan pelukannya di leher Ichigo. Mau apa orang-orang ini? Mereka semakin mendekat dan dekat. Sungguh… mengerikan…
"Sulit juga menemukanmu. Kau tahu, kami sudah menunggumu dua jam! Senang bisa bertemu denganmu dan… kekasihmu," kata salah satu pria bertubuh besar itu. Matanya yang kecil itu terlihat menakutkan apalagi dengan seringai khas penjahat yang kini mengarah pada Rukia. Aura ketegangan kini menguar jelas di tempat ini.
"Dia bukan kekasihku. Kalian salah orang. Mau apa kalian?" baru kali ini Rukia mendengar suara dingin khas pembunuh dari Ichigo. Rasanya aura Ichigo sama dinginnya dengan orang-orang bertubuh besar yang seperti penagih hutang ini.
"Hahaha! Kalau bukan kekasih, lalu kenapa kau menggendongnya begitu mesra hm?" sindirnya lagi.
"Aku yakin tujuan kalian bukan bertanya mengenai gadis ini! Siapa yang menyuruh kalian?"
"Aww, menakutkan sekali Tuan Kill! Kurasa cukup basa basinya. Oh ya, singkirkan kekasihmu itu kalau kau tidak mau tangan atau kaki atau lehernya patah!"
Kawanan itu segera menyeringai lebih besar lagi dan mulai menggerakkan leher dan tangan mereka hingga bunyi gemeretak tulang yang khas itu terdengar. Rasanya kaki Rukia semakin lemas melihat pemandangan mengerikan ini. Rukia tak tahu siapa Ichigo sebenarnya. Rukia juga tak tahu kalau Ichigo sering terlibat dengan orang-orang seperti ini. Sungguh semua ini di luar dugaan.
"Kau bisa berdiri?" bisik Ichigo tanpa mengalihkan pandangannya, mengawasi kawanan preman yang mulai bergerak itu.
"Y-ya…" jawab Rukia gugup.
"Setelah hitungan ketiga, aku akan menurunkanmu. Setelah itu, pergi sejauh yang kau bisa. Apa kau paham?"
Rukia mengangguk cepat. Kini dia tidak boleh gegabah. Melihat situasi yang tidak memungkinkan ini dia harus memaksakan kaki mungilnya melangkah sejauh yang dia bisa. Dia harus pergi menjauh kalau dia ingin selamat sekarang.
Kawanan itu bersiap akan mendekati mereka. Tiba-tiba ketika mereka sudah mendekat, salah satu dari mereka berlari kencang sambil mengayunkan pemukul bisbol itu.
"TIGA!"
Ichigo menurunkan Rukia dengan cukup cepat, nyaris melempar gadis mungil itu dan mulai menunduk untuk menendang kaki pemukul bisbol itu. Rukia segera berlari cepat, meski akhirnya dia harus terjatuh dulu karena kakinya belum siap. Luka lecet didapat oleh lutut kanannya. Sekarang Rukia harus bergerak cepat. Tak peduli lagi bagaimana sulitnya melangkah di saat kondisi seperti ini.
Rukia sempat menoleh ke belakang dan melihat Ichigo mulai dikeroyok oleh kawanan itu.
Dan dasar bodoh, Rukia malah berhenti di sana. Mana boleh dia pergi seperti ini sementara Ichigo bertarung mati-matian dengan kawanan tak dikenal itu. Ichigo sudah menolong Rukia dua kali. Apa yang harus dilakukan oleh Rukia?
Ichigo berusaha melawannya. Mereka bukan apa-apa. Hanya tubuh besar idiot yang memakai alat saja. Ichigo yakin dia bisa membereskan orang-orang ini hanya dalam waktu lima belas menit atau lebih. Tergantung dari seberapa keras kepala mereka sekarang. Satu sudah sekarat karena pemukul bisbolnya sendiri. Kepalanya sudah pecah dan menghamburkan darah pekat yang begitu deras. Tinggal tiga orang lagi. Ichigo bersiap melawannya. Tapi sayang, dua yang mengalihkan perhatian Ichigo dan satu lagi berhasil memukul kepalanya dari belakang. Rasanya kepalanya mulai pusing. Ichigo merasa kepalanya sekarang ikut bocor.
Mereka mulai tertawa-tawa menyaksikan Ichigo yang mundur perlahan karena kehilangan keseimbangannya. Saat Ichigo mulai beraksi lagi, mereka memukul titik lemah Ichigo. Punggung belakangnya. Serangan bersamaan begini memang sulit untuk satu orang.
BRAAKK!
Ichigo terkejut saat satu orang dari mereka terkapar jatuh. Ternyata satu orang itu kepalanya juga berdarah karena… batu bata?
"Ichigo! Cepat!"
"Dasar gadis sialan! Berani sekali dia!"
Tentu saja Ichigo terkejut saat melihat Rukia sendiri yang melempar batu bata itu. dan Ichigo takjub ternyata batu bata itu tepat mengenai sasaran.
Satu orang yang menangani Ichigo dan satu lagi berusaha mengejar Rukia. Kini Ichigo harus cepat! Dasar gadis bermasalah!
Setelah mematahkan satu leher, Ichigo juga mematahkan tangan dan kaki satu orang yang terkapar karena ulah Rukia tadi.
Sekarang satu lagi.
Malangnya, ternyata Rukia sudah di tangan orang itu. Ichigo terbelalak kaget saat melihat Rukia sudah dicekik dan diangkat lumayan tinggi hingga kakinya tak lagi menyentuh tanah. Segera saja Ichigo melompat cepat sebelum gadis itu mati karena kehabisan nafas, atau lebih parah dia mati karena lehernya patah.
Kini terlibat perkelahian serius setelah Ichigo datang dan balik menyekik orang itu. Rukia langsung terjatuh ke tanah. Tapi sayang, setelah melawan tiga orang sebelumnya, Ichigo sudah kehabisan tenaga. Ditambah lagi dengan luka di kepalanya. Makanya tangannya tak sekuat sebelumnya untuk mencengkeram leher besar pria tidak dikenal ini.
Lepas.
Cengkeramannya lepas.
Ichigo sadar ketika tawa pria besar ini membahana dan dengan cepat dia meninju rahang Ichigo. Malang tak dapat dihindar, dirinya tersungkur ke tanah dengan luka robek di sudut bibirnya.
"Hahaha! Kau tahu, kepalamu berharga seratus juga yen kalau aku bisa mendapatkannya!"
Gawat, Ichigo sudah mulai merasa pusing setelah sekarang. Sepertinya efek dari kepalanya sudah dia rasakan sekarang. Pria itu mulai mencengkeram kerah jaket Ichigo dan meninju wajah tampannya berulang kali.
"Hentikan! Hentikan!"
Rukia berlari sekuatnya dan memukul-mukul kepala pria besar itu dengan sepatunya untuk menghentikannya memukuli Ichigo yang sudah kehabisan tenaga itu. Jelas saja Ichigo kehabisan tenaga kalau sebelumnya dia juga sudah menghajar habis seseorang sebelum empat orang ini.
"Brengsek kecil! Kau mau mati hah?!"
PLAAAK!
Satu tamparan kuat hingga membuat telinganya berdenging begitu hebat mampir ke wajah Rukia. Sekali lagi darah mengucur dari sudut bibir Rukia dan meninggalkan luka lebam di wajah putihnya.
Melihat adegan itu tentu saja membuat Ichigo mendidih bukan main.
Ketika pria besar itu sibuk untuk menakuti Rukia, Ichigo mendapatkan sebuah benda tajam. Yah, besi karat yang ujungnya sangat tajam. Tanpa basa basi lagi, Ichigo menghujamkan besi karat itu ke punggung pria itu. Sepertinya malam ini dia harus bermandikan darah. Ichigo terlihat puas melihat pria ini berakhir mengenaskan. Namun, melihatnya masih nekat untuk menghajar Ichigo, tanpa sungkan lagi, Ichigo melayangkan beberapa tinju padanya, menginjak perut besarnya itu dan terakhir mematahkan tangannya.
Sekarang… pria itu sudah berakhir.
Melihat sekitarnya sudah aman, Ichigo menghampiri Rukia yang masih terkapar di tanah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ichigo di sisa-sisa kesadarannya. Kepalanya semakin pusing.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu? Kepalamu…"
Ichigo mengambil ponsel di saku jeansnya. Menekan beberapa tombol. Sesekali Ichigo meringis.
"Yoruichi-san? Tolong ke tempatku sekarang, ada sedikit masalah tadi. Dan tolong―"
BRUUK!
Rukia segera menangkap tubuh Ichigo dan memapah pria tampan yang tengah bermandikan darah ini.
"Ichigo? Ichigooo?!"
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna… akhirnya sekian lama fic ini terdampar bisa saya lanjutkan lagi ehehe. Maaf kalo masih jalan di tempat ya, soalnya saya butuh proses interaksi lebih jauh antara IchiRuki eheheh… ah ya, dalam waktu dekat mungkin sisa fic saya akan menyusul. Semoga gak ada halangan ya…
Baiklah, saya balas review dulu…
Purple and Blue : makasih udah review senpai… ahaha iya sekian lama banget ya ini fic. Ya saya usahain bakal sering update kayak dulu lagi eheheh ini udah lanjut…
Owwie Owl : makasih udah review Oda… ehehe iya ini udah update…
Inai chan : makasih udah review senpai… wah, lemon ya? Hmmm maaf ya kalo masih lama, soalnya fic ini bukan mengarah ke situ sih eheheh makasih udah nungguin saya, saya bakal usahain update secepat yang saya bisa ehehhe
NakaIchi : makasih udah review senpai… ini udah lanjut…
Snow : makasih udah review senpai… eheheh ya nanti bakal dibahas lebih lanjut kok mengenai nasib IchiRuki hihihih kalo keluarga, jelas Ruki gak punya lagi. Kalo Ichi… nanti saya kasih tahu yaa ehehehe
Izumi Kagawa : makasih udah review Izumi… hmm soal itu masih diungkep dulu yaa hihihi iyaa ini udah update makasih semangatnya yaa eheheh
Kim Na Na Princess Aegyo : makasih udah review senpai… nanti juga masa lalu Ichi bakal dibahas kok eheheh kakaknyaa… eheheh nanti dikasih tahu. Maaf ya gak bisa kilat tapi ini udah update eheheh
Kaneko Aki : makasih udah review Aki… ehehe iya Aki ehehe iyaa ini udah update maaf ya jadi lama hihihihi
Hendrik widyawati : makasih udah review senpai… ehehe iyaa ini udah update maaf ya jadi lama…
Can-can : makasih udah review senpai… eheheh makasih udah penasaran ehehe iyaa ini udah lanjut kok…
Nyia : makasih udah review senpai… makasih banyak… makasih juga semangatnya yaa eheheh ini udah lanjut…
Nenk rukiakate : makasih udah review nenk… gak bloody amat kok, saya juga takut sama yang begituan tapi nekat bikin hihihii iyaa nenk udah jarang nongol banget yaa? Kemana atuh?
Kazuko Nozomi : makasih udah review senpai… jangan panggil saya senpai, panggil Kin aja eheheh gak papa ehehhe iyaa makasih ya, ini udah update…
Voidy : makasih udah review senpai… hihiih ya emang saya fokusnya jalan lambat soalnya saya butuh interaksi lebih banyak sama IchiRuki hihih maaf ya kalo jadi bosan nee… hmm tebakan nee boleh juga tuh hihihiih
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru… iyaa gak papa ehehhe yap pokoknya nanti pelan-pelan saja ekspose satu-satu hihih ini udah update
Beby-chan : makasih udah review beby… holaa juga *hugbalik* wisssshhh eheheh yah masih proses pokoknya ehehhe hmm ya mungkin emang rumit banget sih eheheh iyaa ini udah update makasih semangatnya… saya selalu berusaha memusnahkannya hihii
Uzumaki kuchiki : makasih udah review senpai… hmm mau yang lain aja sih, soalnya kalo killer udah biasa eheheh nanti bakal dikasih tahu kok eheheh
Makasih yang udah berpartisipasi sama fic saya yaa makasih banyak… saya sangat terharu. Kalo bukan senpai, mungkin saya gak bakal sejauh ini hihihii
Jadi masih ada yang mau lanjut kah? Bolee Review?
Jaa Nee!
