"ILUSION"

.

by: Lavenderviolletta

Naruto by : Masashi Kishimoto

.

[Hinata H. x Sasuke U. ]

.

[Sakura H. x Naruto N. ]

.

Romance

.

.

.

WARNING

(OOC, Miss TYPO)

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

"Moshi-moshi."

"Ah, Sakura, kau kah ini?"

"Hinata-chan?"

"Hm, kau sudah tak takut lagi dengan benda itu. Hihihii." Hinata terkikik, dan Sakura hanya tersenyum di dalam teleponnya.

"Tidak, aku melihat kau memakai benda ini untuk berbicara dengan seseorang kemarin."

"Baguslah, ada kemajuan kau bisa menggunakan telepon, nanti akan ku belikan ponsel untukmu."

"Apa itu?"

"Seperti telepon lagi, hanya saja lebih ringan dan bisa di bawa kemana-mana."

"Wahh, seperti yang dimiliki Sasuke-kun?"

"Hm? Kau ingin ponsel yang seperti Sasuke?"

Sakura mengangguk meski Hinata tak melihatnya, tapi ia tau bahwa Sakura menginginkannya.

"Baiklah, nanti akan ku belikan, Sakura, bisa kah kau bawa beberapa pakaianku? Semua pakaian di apartemenku di laundry."

"Tapi aku tidak tau bagaimana caranya kesana."

"Dengar, kau naik taksi di depan manshion, kau bilang pada supirnya untuk menurunkanmu di apartemen Uchiha, nanti kau naik lift ke lantai 9, kau masih ingat letak apartemenku kan?"

"Apartemen Uchiha?"

"Yah, apartemen yang kemarin kau tinggal bersamaku."

"Jadii apartemen itu,-"

"Iya, apartemennya milik keluarga Uchiha, Sakura aku tunggu secepatnya yah, jaaa."

Tuutt.. Tuutt..

Sakura tersenyum, dia menaruh kembali gagang telepon yang semula di pegangnya, ada rasa bangga terhadap Sasuke, Uchiha Sasuke begitu kaya raya pikirnya, Hinata juga, Hyuuga dan Uchiha memang di takdirkan kaya dari zaman dulu, dan wajar jika di masa depan pun mereka bernasib sama.

..

.

..

"Arigatou."

Sakura mengeluarkan sejumlah uang yang di beri tau Hinata sebelumnya untuk membayar supir taxi, ia memasuki apartemen dan menekan tombol panah ke atas untuk membuka liftnya, Sakura wanita yang cerdas, setiap gerak-gerik Hinata di copy dengan sempurna di otaknya. Sehingga tak sulit baginya untuk menyesuaikan diri di dunia modern ini.

Ting.. Tong..

Sakura menekan bell, namun tak ada juga yang membuka pintu untuknya masuk, "kemana Hinata?" Pikirnya, ia mendorong pintunya dan terbuka, "tidak di kunci?" Pikirnya lagi, Sakura masuk dan menyimpan pakaian Hinata di sofa. "Mungkin Hinata sedang keluar, tapi kenapa tidak di kunci?"

..

"Sakura."

Suara maskulin Sasuke membuat Sakura menengok ke belakang, dan betapa blushingnya dia saat melihat Sasuke tengah bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang melingkari pinggangnya, Sakura dengan cepat menutup matanya, tak ingin melihat tubuh kekar Sasuke yang indah.

"Gomene."

"Apa yang kau,-"

"Sakura, kau sudah datang rupanya."

Suara Hinata membuat Sakura membuka matanya yang sebelumnya ia tutup dengan kedua tangannya, wajahnya merah dan Hinata dapat melihat itu,

"Dari mana saja?" Tanya Sasuke datar sambil menghampiri Hinata yang berada di samping Sakura.

"Aku ke supermarket depan sebentar untuk membeli sarapan, Sakura, kita sarapan bersama yah?"

Sakura mengangguk, dan Hinata tersenyum melihat ekspresi Sakura yang selalu merona jika berada di dekat Sasuke.

...

"Bagaimana Sasuke? Masakan Sakura enak bukan?"

"Hn."

"Aahh Sakura, wajahmu merona lagi." Goda Hinata.

"Ah? Benarkah?" Sakura semakin blushing, dia tersenyum seraya menyembunyikan wajahnya.

"Sasuke, sepertinya Sakura menyukaimu."

"Eh?" Sakura mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Ah gomene, aku,-"

"Tidak apa-apa Sakura, Lagi pula Sasuke juga tidak mempunyai kekasih." Hinata terkikik,

"Berhenti mengatakan hal konyol."

Sasuke merasa kesal dengan usaha Hinata yang sepertinya sangat mendukung dirinya untuk lebih dekat dengan Sakura.

"Sangat di sayangkan menyia-nyiakan wanita secantik Sakura." Hinata melirik Sakura, dan ia kembali tersenyum saat Sakura kembali di buatnya blushing, Hinata sangat suka sekali menggoda Sakura.

"Kau mau kemana? Makananmu belum habis?" Hinata menatap Sasuke heran ketika Sasuke tiba-tiba berdiri,

"Sakura, sebaiknya kau pulang."

"Eh?" Sakura tersentak, ia menatap Sasuke tak percaya.

"Sasuke, apa yang-"

"Kau hanya mengganggu disini." Lagi, Sasuke membuat Sakura terasa seakan hatinya di cabik-cabik, air mata Sakura sudah sampai di pelupuk matanya, dan tak tertahan sehingga jatuh, membasahi parasnya yang cantik.

"Sasuke ! Kau keterlaluan, !" Bentak Hinata dengan tatapan penuh murka.

"Gomene, menganggu waktu kalian." Sakura melangkahkan kakinya,

"gomene Sakura, Sasuke sebenarnya,-"

"Tidak apa Hinata-chan, lagi pula, Neji-kun memintaku untuk cepat-cepat pulang karena aku harus membelikan sesuatu di supermarket."

"Sakura." Lirih Hinata, Sakura melepaskan tangan Hinata perlahan, ia tersenyum pada Hinata dan juga Sasuke sebelum dirinya benar-benar menghilang di balik pintu.

"Gomene, Sasuke-kun"

...

Hinata menepis tangan Sasuke kasar saat Sasuke memeluknya dari belakang, dia benar-benar kesal dengan sikap Sasuke yang menurutnya sangat keterlaluan, bagaimana bisa Sasuke bersikap sekasar itu pada wanita sebaik Sakura pikirnya.

"Pulanglah, aku tidak ingin melihat wajahmu."

Sasuke mendecih, "kau marah hm?"

Hinata menatap onyx kelam Sasuke, "Kau keterlaluan Sasuke."

Sasuke mendengus, ia melipat kedua tangannya di dada.

"Terkadang aku bingung dengan hubungan kita, kadang kita teman biasa, kadang lebih dari teman, dan kadang, aku bukan siapa-siapa untukmu." Sasuke meneguk minuman kalengnya, perkataan Sasuke membuat Hinata sedikit terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja di katakannya.

"Kau bahkan tau aku sangat menggilaimu dari dulu, tapi kau malah menginginkan aku dengan Sakura, tch."

Kembali Hinata di buat diam oleh Sasuke. Ia melemparkan pandangannya pada jendela apartemen, menghindari onyx Sasuke yang menuntut jawaban.

"Bahkan kita sudah sering melakukan,-"

"Cukup, jangan katakan lagi."

Sasuke mendecih, ia mendekati Hinata dan menatapnya intens.

"Sampai kapan? Hubungan kita seperti ini Hinata."

"Aku tidak tau."

"Kau mencintaiku, aku tau kau mencintaiku, itu terlihat ketika kau menyerahkan,-"

"Itu hanya nafsu semata Sasuke, kau dan aku melakukannya diluar kesadaran."

"Begitukah?"

"Yah, dan lebih tepatnya, kau selalu memanfaatkan keadaan ketika aku mabuk."

Sasuke menyeringai, "kadang aku berfikir, haruskah aku menghamilimu agar kau berbalik mengejarku."

Hinata terkekeh, "Entah kenapa aku selalu ngantuk jika kau mulai membicarakan masalah ini." Hinata menguap, ia melangkahkan kakinya menuju sofa dan membaringkan tubuhnya disana. Sasuke menyeringai, ia mendekati Hinata dan mencium tengkuk lehernya.

"Aishiteru."

Bisik Sasuke di telinga Hinata sambil mengecup pipi Hinata lembut. Suara pintu yang tertutup menandakan bahwa Sasuke telah keluar dari apartemennya, Hinata bangun dari tidurnya, ia mendekati cermin dan membuka bajunya, ia mendecih kesal saat di area dadanya yang indah itu penuh dengan bercak-bercak merah akibat kissmark yang dilakukan Sasuke padanya semalam.

...

Ada yang berbeda dengan Hinata kali ini, dia mengenakan drees berwarna ungu panjang selutut dengan blezer hijau yang menutupi bagian lengannya yang terbuka, ia sangat-sangat kesal pada pria berambut merah yang kini tengah mengatur hidupnya, Sabaku no Gaara, melarang keras Hinata memakai pakaian minim selama berada di luar, dan kini semua yang di katakan Gaara adalah sama dengan yang di katakan Hiashi, dan Hinata harus menurutinya.

"Kau pulang kuliah jam dua siang, dan aku akan menjemputmu lagi untuk lunch bersama."

Tak banyak bicara Hinata melepaskan sabuk pengaman yang di pakainya dan bergegas keluar mobil, tak ingin berlama-lama dengan pria berambut merah yang menurutnya membawa sial.

"Satu lagi," ucap Gaara menghentikan Hinata.

"Aku tak suka kau dekat-dekat dengan Sasuke, jadi ku minta mulai saat ini kau jauhi dia."

Hinata berdecih ketika Gaara melajukan mobilnya meninggalkan universitas Tokyo, tak lama setelah Gaara pergi, Ferrari merah Sasuke muncul di hadapannya. Sasuke terkekeh dibalik kaca mobilnya turun, menampakan wajahnya yang tampan.

"You're so nice, Hime."

"Berhenti menertawakanku Sasuke."

Hinata meninggalkan Sasuke kesal, dan Sasuke hanya memandang punggung Hinata dari kejauhan sambil tersenyum tipis, Hinata, Sampai saat ini belum menerima cintanya, padahal mereka telah sering melakukan hubungan sexsual, namun, entah kenapa, bukannya Hinata yang merasa takut karena kesuciannya telah di renggut Sasuke, tapi justru malah Sasuke yang terjerat oleh kenikmatan tubuh Hinata,

..

.

"Pria berambut merah itu menyuruhku untuk jauh-jauh darimu." Hinata berkata ketika Sasuke memasuki kelasnya dan duduk di hadapannya,

"Lalu?" Balas Sasuke datar.

"Dan aku harus menurutinya."

Sasuke mendecih mendengar perkataan Hinata, ia memegang dagu Hinata, mendekatkan wajahnya. "Kau bukan Hinata yang ku kenal lagi." Sasuke menyeringai di sela perkataannya.

"Memangnya seperti apa Hinata yang kau kenal itu? Uchiha?"

"Dia liar, nakal dan juga menggemaskan." Seringai evil muncul di wajah tampan Sasuke.

"Yah, kau benar, manusia berambut merah itu merubah kepribadianku, seolah aku ini bonekanya." Hinata mandengus kesal

"Jika aku bisa melepaskanmu dari Gaara, apa yang akan kau berikan untukku?" Sasuke membuat penawaran.

"Apapun, untuk sekarang, aku hanya ingin dia lenyap Sasuke."

"Itu mudah, asal kau mau menikah denganku."

Hinata tekekeh, "untuk apa menikah? Kau sudah sering menikmati tubuhku kan?"

"Tapi aku ingin hubungan kita sakral, tak sebebas ini, dan aku juga ingin hanya aku yang bisa menyentuhmu."

"Lupakan, yang harus kita pikirkan sekarang, bagaimana cara kita mengembalikan Naruto dan Sakura?"

"Tch, mencoba memalingkan pembicaraan eh?"

"Sudahlah Sasuke, ini bukan saatnya memikirkan diri sendiri, kita harus mencari cara bagaimana mereka kembali."

"Topik pembicaraanmu membosankan."

"Hei? Kau mencuri kata-kataku." Hinata mengembungkan pipinya kesal, membuat Sasuke tersenyum tipis.

"Pergilah, sebelum fans girls mu datang menggandrungi kelas ku."

...

.

.

.

Sakura membawa sekeranjang belanjaan dari daftar yang di berikan Neji untuknya, ia memasukan semua belanjaan ke dalam lemari es, dia mulai bisa beradaptasi di lingkungannya yang baru.

"Sakura, kau sudah kembali?"

Sakura membalikan tubuhnya, dan matanya membulat kaget saat melihat lengan Gaara penuh dengan luka belati dan tetesan darah mengucur disana.

"Gaara-kun."

Segera Sakura mendekati Gaara, "kau kenapa?" Tanyanya.

"Hanya sedikit luka." Balasnya datar.

"Ini luka dalam, biar ku bantu menyembuhkannya."

Sakura melakukan kemampuan medisnya untuk mengobati luka di tangan Gaara, sinar hijau yang keluar dari kedua tangannya membuat Gaara memiringkan kepalanya heran,

"Sudah selesai." Sakura tersenyum, daan Gaara berbelalak kaget saat luka di tangannya hilang begitu saja dan tak berbekas sedikitpun, sempurna.

"Kau, bagaimana bisa kau melakukan ini?"

"Eh?" Sakura lupa kalau dirinya telah berada di dunia modern, ia bingung harus mengatakan apa.

"Gomene, saya harus segera pergi."

Langkah Sakura di hentikan Gaara saat ia akan meninggalkannya, "kau mempunyai ilmu spiritual?" Tanya Gaara dengan menatap emerlard Sakura serius.

"A-aku,"

"Siapa kau sebenarnya?"

Tatapan dan suara Gaara yang menurut Sakura terdengar menyeramkan membuat Sakura berfikir bahwa kepribadian Gaara juga tak sama dengan penampilannya yang lugu, Sakura menepis tangan Gaara kasar, wanita cantik itu berfikir bahwa Gaara bukanlah orang yang baik.

"Kau pikir aku tak tau siapa kau sebenarnya eh?"

Balasan Sakura membuat Gaara tercekat, Sakura menyeringai, ia kembali melangkahkan kakinya, namun dengan cepat Gaara kembali menarik tangannya.

"Apa maksudmu?"

"Kau, sangat tidak sopan, sangat di sayangkan orang sepertimu akan menikah dengan Hinata-chan."

Gaara menautkan alisnya heran

"Kau bahkan tak berterimakasih sama sekali."

Gaara mendecih, "arigatou." Ujarnya.

"Hahh .. Lupakan." Sakura beralalu meninggalkan Gaara, meskipun ia takut apa yang di lakukannya mengingat Gaara adalah calon suami Hinata, takut tindakannya tidak sopan karena ia hanya menumpang, tapi ia yakin apa yang di katakannya benar, Gaara bukanlah orang yang sepertinya baik, dia memiliki karakter ganda, dan prilakunya yang kasar terhadapnya tadi membuat Sakura menarik suatu kesimpulan.

...

Gaara menduduki kursi meja makan, tangannya terkatup di dagu, keberanian Sakura membuatnya harus berhati-hati pada wanita yang mempunyai ilmu spiritual itu, bahkan Sakura mengatakan bahwa ia mengetahui siapa Gaara sebenarnya, tapi bagaimana bisa? Gaara mendecih, ia benar-benar harus melenyapkan Sakura karena itu akan menghambat misinya.

...

Dddddrrttt.. Ddrrrttt..

Gaara merogoh saku celananya mendapati ponselnya bergetar, ia menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan.

"Ada perkembangan?" Tanya seseorang di sebrang sana.

"Saat ini belum, aku baru satu hari menginjakan diri di kantornya, dan belum mendapatkan dokumen-dokumen berharga, dan itu akan cukup lama."

"Sampai kapan?"

"Entahlah, mungkin sampai aku menikahi putrinya sehingga Hiashi mempercayai penuh perusahaannya padaku."

"Aku menunggu kabar secepatnya."

Pip..

...

Wanita bersurai indigo ini tampak malas ketika makan siang bersama pria berambut merah yang terlihat sangat ngga fashionable dan udik menurutnya, Gaara bahkan makan dengan lamban, Hinata menelik setiap tingkah laku Gaara, dan dia menyipitkan matanya saat melihat lingkar hitam pada mata Gaara, merasa di perhatikan Gaara menghentikan aktifitas makannya, dia membenarkan letak kacamata sambil menatap Hinata yang memandangnya, "Ada yang salah denganku?"

Hinata terkekeh, ia meneguk jus orange dan menaruhnya kembali. "Sepertinya kau senang begadang, itu terlihat dari kantung matamu yang hitam."

"Karena mengerjakan pekerjaan kantor, untuk itu aku sering tidur larut."

"Aku pikir karena kau diam-diam keluar malam hari dan mendatangi sebuah klub untuk dugem." Hinata terkekeh, perkataan Hinata membuat Gaara tersenyum tipis, dia tau Hinata asal bicara, tapi, ke asalan bicaranya adalah benar, karena memang dia sering diam-diam keluar untuk melakukan aksinya di malam hari.

"Kau salah jika menilaiku seperti itu, aku bahkan tak pernah tau tempat seperti itu."

Hinata mendecih, "tentu saja, bagaimana mungkin orang sepertimu kenal dunia malam, memalukan." Ujarnya kembali.

Gaara hanya diam mendengar Hinata mengejeknya, dia harus bisa menahan emosi sampai misinya selesai, Hinata tidak tau, bahwa pria yang di hinanya saat ini merupakan pria menyeramkan dan sangat berbahaya, "kau akan menarik kembali kata-katamu jika kau tau siapa aku." Ujarnya dalam hati,

"Ohh tapi, kau memiliki tato di dahi mu, sangat tidak pantas jika orang culun sepertimu memiliki tato sekeren itu, lebih pantas jika Naruto atau Sasuke yang memilikinya." Ujar Hinata kembali.

"Naruto?" Gara tercekat, dia sangat mengenali nama orang yang baru saja di sebutkan Hinata.

"Yah, memangnya kenapa?" Tanya Hinata malas.

"Naruto masih hidup?"

Hinata tercekat, apa maksudnya, apa mungkin Gaara mengenali Naruto di era modern, gawat, ini sangat tidak boleh di ketahui Gaara, bahkan dia mengatakan kalau Naruto masih hidup? Ada apa sebenarnya.

"Apa maksudmu Gaara?"

"Naruto, bawa aku menemuinya Hinata."

"Eh?"

"Ku mohon."

Hinata terdiam, bagaimana ini, apa yang harus ia lakukan pikirnya.

"Kau ini bicara apa sih? Naruto siapa? Aku bahkan tak mengenal orang yang kau maksud."

"Jangan membohongiku Hinata, aku mendengar jelas kau menyebutkan namanya."

"Maksudku itu Naruko, bukan Naruto, kau itu tuli hah !" Hinata berdiri dari kursinya. Membuat Gaara ikut berdiri juga.

"Jangan mengikutiku dan aku pulang sendiri, kau benar-benar memuakkan."

Hinata menyambar tasnya dan meninggalkan Gaara sendiri di restoran. Gaara kembali duduk, ia sangat yakin Hinata berbohong padanya, Naruto, pikirnya kembali, benarkah dia masih hidup?"

...

"Ada perkembangan apa Gaara?" Suara orang yang menerima telepon disana.

"Apa Naruto telah di temukan?"

Gaara menautkan alisnya saat suara si penelepon terkekeh seperti mengejek. "Kau bicara apa?kau ingin aku mencabik-cabik jantungmu eh? Berhenti membicarakan anakku, kau tau dia telah menghilang 5 tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat."

"Yah, dan dia masih hidup Namikaze-sama."

"Eh?"

"Apa kau bisa membayar dua kali lipat bayaranmu jika aku berhasil membuat Hiashi bangkrut dan mengembalikan putramu yang hilang."

"Jangan main-main denganku Gaara."

Gaara terkekeh, "baiklah jika kau tidak tertarik."

"Tunggu, aku bahkan akan membayar 5x lipat bayaran yang kau minta, asal kau membawa kembali Naruto, Kushina pasti akan sangat senang." Gaara dapat mendengar suara Minato lirih, seolah menyimpan kesedihan yang mendalam,

"Senang bekerja sama denganmu."

...

..

"Sasuke..." Hinata menaiki tangga sambil berteriak-teriak di kediaman mewah Uchiha, lavendernya mengerling mencari sosok Sasuke ataupun Naruto. "Dimana sih?" Ujarnya lagi, kembali ia mencoba menghubungi Sasuke namun nomornya tidak aktif, "kau mencari Sasuke?" Suara berat Itachi membuat Hinata membalikan wajahnya, ia dapat melihat Itachi berjalan mendekatinya denga melipat kedua tangannya di dada, "dimana dia Itachi-nii?" Itachi terkekeh, "kenapa kau selalu mencari si baka otouto, sekali-kali carilah aku." Ujarnya sambil melihat penampilan Hinata dari ujung kaki hingga ujung rambut, dia kembali terkekeh, "tumben sekali pakaianmu tidak minim seperti biasanya, sangat di sayangkan aku tak bisa melihat pahamu yang mulus, Sasuke yang menyuruhmu eh?" Itachi menyeringai, Hinata mengerling , "kau menyebalkan Itachi-nii." Ujarnya sambil terus menghubungi Sasuke, "tch, masih tidak aktif, Sasuke baka." Hinata mendecih kesal. "Dia keluar bersama Naruto sebentar, tadi Naruto merengek mengajaknya untuk makan ramen." Hinata menatap Itachi kesal. "Kenapa tak kau bilang dari tadi," dia memasuki kamar Sasuke dan membanting pintunya kesal,

"Hinata, perlu aku temani kau di dalam sana eh?" Itachi kembali menggoda Hinata.

"Pergi Itachi-nii, kau menyebalkan." Teriak Hinata di dalam kamar, Itachi tertawa mentah, "aku ada di ruang tengah, jika kau butuh pelukan hangat, datanglah padaku." Godanya lagi, ia menyeringai di balik pintu,

..

.

..

"Hah .. Kenyang sekali , kau baik sekali Sasuke, beruntung aku bertemu denganmu disini, jika tidak aku pasti kelaparan."

"Hn, kau beruntung dan aku sial."

Naruto mengerucutkan bibirnya kesal, "Teme.. Kita lanjut maen video game bagaimana?"

"Tidak mau."

"Kau menyebalkan."

Naruto memasuki kamarnya seraya menggerutu kesal, Sasuke mendengus malas, sampai kapan pria blonde ini terus berada di rumahnya pikirnya. Perlahan ia membuka knop pintu kamarnya dan onyxnya menyipit saat Hinata tengah terbaring di tempat tidurnya, ia tersenyum tipis seraya menutup pintunya rapat.

Cupp..

Kecupan singkat Sasuke di bibir tipisnya membuat wanita bersurai indigo ini menampakan lavendernya, ia bangun menjadi posisi duduk, irishnya menatap onyx Sasuke malas.

"Darimana saja?"

"Kedai ramen, Naruto selalu mengajakku kesana setiap hari, tch.. Sampai kapan manusia ninja itu berada disini." Sasuke mendecih, ia melepaskan jaketnya dan melemparnya sembarang.

"Sasuke, ada hal serius yang harus aku katakan padamu."

Pip.

Hembusan AC menyegarkan ruangan yang semula panas itu kini menjadi sejuk, Sasuke melepaskan t-shirt nya dan kembali melemparnya asal, ia membaringkan tubuhnya yang bertelanjang dada itu di samping Hinata.

"Masalah serius?" Ulang Sasuke sambil memainkan android miliknya.

"Hm, kau tau? Gaara sepertinya mengenal Naruto, maksudku, dia mengenal Naruto versi masa kini Sasuke, berarti rengkarnasi Naruto ada di Jepang."

"Hm? Lalu?" Tanyanya kembali, masih dengan asik memainkan androidnya. Merasa dicuekkan, Hinata merampas android milik Sasuke dan menaruhnya di meja.

"Bisakah kau menanggapi serius pembicaraan ini HAH !"

Sasuke terkekeh, ia mencondongkan wajahnya hingga wajahnya kini berjarak beberapa centi di wajah Hinata, "Kau selalu menggemaskan, aku jadi menginginkannya lagi sekarang." Sasuke mengecup bibir Hinata, mengajaknya berciuman, Hinata mendorong tubuh Sasuke hingga tersungkur, Sasuke terkekeh, ia menyusut saliva yang tersisa di bibir tipisnya. "Okeyy, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Gaara bahkan mendesakku untuk mempertemukannya dengan Naruto."

"Kau tak menanyakan ada hubungan apa antara keduannya?"

Hinata menggelengkan kepalanya, "tapi ada sesuatu yang janggal dari perkataannya, dia sangat terkejut ketika aku mengatakan nama Naruto dan dia berbicara seperti ini, "Apa? Naruto masih hidup?" Aku tak mengerti Sasuke, sebenarnya ada apa antara mereka.

"Lalu? Kau mengatakan bahwa Naruto disini?"

"Tidak, aku mengatakan bahwa dia salah dengar, ahh sungguh alasanku tak masuk di akal."

"Pria merah itu sepertinya bukan pria biasa."

"Eh?" Apa maksudmu?"

"Entahlah, kita harus mencari tau asal usul keluarganya, darimana dia berasal dan juga, siapa Sabaku no Gaara sebenarnya."

Hinata mendecih malas, "untuk apa Sasuke? Kau tau dia hanya seorang pria culun dan dia sempat mengatakan pada Tousaan bahwa dia punya perusahaan, tapi entah itu perusahaan apa, aku tidak peduli, sepertinya dia orang berada, hanya saja dia itu jadul."

"Hinata, jangan katakan apa-apa padanya untuk saat ini, kita harus menyembunyikan identitas Naruto jika memang benar rengkarnasi yang sebenarnya ada di jepang."

"Bagaimana dengan Sakura?"

"Aku rasa posisinya aman untuk saat ini, dan Naruto yang dalam bahaya, akan menjadi rumit jika dua orang yang sama bertemu."

"Tch, manusia kampungan itu benar-benar pembawa masalah."

Dddrrtt.. Ddrrrrttt..

Gaara Calling...

Hinata mengangkat ponselnya malas,

"Kau dimana? Pulang sekarang aku menunggumu."

Tut.. Tut.. Tut..

Hinata melempar ponselnya asal,

"Gaara yang meneleponmu?"

Hinata mengangguk, ia berdiri dan menyisir rambutnya di depan cermin,

"Dia menyuruhku pulang sekarang."

Sasuke terkekeh, dia memeluk Hinata dari belakang, melingkarkan tangannya pada perut Hinata yang ramping.

"Aku masih ingin kau disini bersamaku, Hime." Sasuke mengecup pundak Hinata dan mengesapnya dalam, menikmati aroma lavender khas dari parfum yang di pakai Hinata.

Hinata berbalik, ia melingkarkan tangannya di leher Sasuke, onyx dan lavender itu saling menatap, Sasuke menyeringai, ia mengambil dagu Hinata untuk menyatukan bibir Hinata dengan bibirnya, satu telunjuk Hinata menepi di bibir Sasuke, menghentikan Sasuke untuk menyentuh bibirnya.

"Aku menunggumu di rumah nanti malam, kita harus membicarakan masalah ini serius Sasuke, Sakura dan Naruto adalah tanggung jawab kita sekarang."

Hinata melepaskan pelukannya, ia menyambar tas nya yang tergeletak di kasur dan pergi meninggalkan Sasuke.

..

.

Waktu menunjuk angka enam ketika Gaara tengah gusar menunggu kepulangan Hinata di ruang tengah, hujan yang cukup deras membuatnya kembali menyeruput secangkir teh yang menemaninya selama 30 menit yang lalu, mata hijaunya menyipit ketika sebuah taxi memasuki area manshion, ia dapt melihat Hinata yang kini menginjakan kaki putihnya di teras dan membuka pintunya cepat.

..

Hinata menatap Gaara malas saat pria berambut merah yang tengah mengenakan T-shirt berwarna hitam dan celana jins berwarna biru tua itu tengah menatapnya Stoic. Rambut dengan gaya belah tengah dan selalu klimis dengan kaca mata tebal nan bulat itu tak kurung lepas di area matanya, tanpa banyak bicara Hinata segera melangkahkan kakinya menuju kamar, dan Gaara membuntutinya di belakang. Sampai pada di depan pintu kamar,

Brak !

bantingan pintu tepat beberapa cm di wajah Gaara, Hinata selalu kasar padanya, Sabar, untuk mendapatkan sesuatu kau membutuhkan kesabaran dulu bukan? Hal itu lah yang dirasakan Gaara sekarang, ingin sekali rasanya ia mencekik leher hinata yang putih bak porselen itu, menamparnya ketika mencacinya, ataupun menembuskan peluru pada jantungnya, sungguh Hinata, akan sangat menyesali ke kurang ajarannya terhadap Gaara saat ini, jika ia tahu Gaara merupakan pembunuh berdarah dingin, tak peduli pria atau wanita, muda atau tua, kaya atau miskin, jika itu adalah perintah "Bunuh" dengan sigap dan tanpa adanya rasa kasihan dan mengasihi peluru itu siap menembus setiap jantung korban dan menghentikan detakannya dengan sekali tembak.

"Kita makan malam bersama," ujar Gaara di balik pintu.

"Kau saja." Teriak Hinata dari dalam

"Boleh aku masuk?"

"Hm."

Perlahan Gaara membuka pintu dan kembali menutupnya saat Hinata tengah mengganti pakaiannya di dalam. Acting memang, Gaara sudah sangat sering melihat hal seperti itu, bahkan melakukan seks bebas dengan para bule di Newyork, sekali lagi, ini adalah misi, dan perannya disini adalah sebagai cowok kuper, pemalu dan juga culun, namun naluri lelaki tetap saja, ia berdecih tat kala jantungnya berdetak cepat atas pemandangan indah yang di lihatnya barusan.

..

Hinata kini tampil santai dengan gaun tidurnya bermotif bunga, berwarna ungu muda dengan panjang 5cm diatas lutut, rambutnya ia ikat menjuntai ke atas, menampilkan leher putihnya yang jenjang, ia tersenyum sinis ketika Gaara menunggunya di depan pintu kamar.

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau bilang ingin masuk?"

"Kenapa kau menyuruhku masuk ketika kau tengah mengganti pakaian." Ucap Gaara malu-malu dengan menundukan wajahnya.

"Bocah sepertimu masuk ke kamarku tanpa aku memakai pakaianpun aku tak kan malu padamu, Baka !."

Sekali lagi, Gaara menghela nafas atas perkataan pedas Hinata yang menusuk telinganya. Ia mendengus pelan, seraya mengangkat wajahnya, matanya tercekat, ia terpesona akan Hinata yang tengah menatapnya dengan mengipasi dirinya dengan kipas bulu berwarna sama dengan gaun tidurnya, "cuacanya hujan, tapi kenapa panas sekali?" Hinata memasuki kamarnya lagi, ia mengambil remote-AC dan menyalakannya, tak ada bantingan lagi, dan pintu terbuka lebar, Gaara mendudukan dirinya di sofa merah yang berada di kamar Hinata dengan Hinata yang tengah sibuk membuka laptop dengan membaringkan tubuhnya di kasur besar nan empuk itu, kakinya yang putih dan lekuk tubuhnya yang indah membuat Gaara menelan ludahnya, "tch." Gaara mendecih, jangan sampai dirinya hanyut dalam pesona Hinata karena itu akan menghambat pekerjaannya.

..

.

"Sasuke akan datang malam ini, dan dia akan menginap disini." Ujar Hinata santai seraya mendekati jendela, melihat mobil Sasuke yang tengah terparkir indah di halaman rumahnya,

"Bukankah aku menyuruhmu untuk tidak berdekat-dekat dengannya?"

Hinata membalikan tubuhnya, mendekati Gaara yang tengah duduk di sofa, ia membungkuk, gaun tidurnya yang tak berkerah, dan mengekspos dadanya yang indah ketika ia membungkuk di hadapan Gaara, membuat Gaara kembali meneguk ludah, "sial, wanita ini benar-benar." Pikirnya. Hinata mengambil dagu Gaara, irish bertemu zamrud, "Kau tak berhak mengaturku." Hinata tertawa sinis. Seketika wajah Gaara yang blushing kembali menjadi Stoic,

...

Sasuke menyipitkan matanya saat kini dilihatnya Hinata bersama Sakura tengah mendekatinya, kedua wanita itu mengenakan gaun tidurr yang sama hanya saja berbeda warna, Sakura mengenakan gaun tidurr berwarna hijau, "Kita ke rumahmu Sasuke." Hinata mengajak Sasuke kembali, Sasuke memiringkan kepalanya, "Cepat." Ia mendengus ketika Hinata kembali menyuruhnya bak supir, dan apa yang bisa Sasuke lakukan selain menuruti setiap keinginan sang putri?

...

Ferrari merah itu berlalu meninggalkan Manshion Hyuuga, Gaara dapat melihat di balik jendela kamar Hinata, ia menghubungi seseorang,

"Jalankan aksimu sekarang."

...

Manshion Hyuuga terlihat sepi mengingat Neji dan Hiashi berada di Newyork dan Gaara mengurusi perusahaan Hyuuga di jepang, Hinata dan Sakura pergi dengan Sasuke membuat Gaara sendirian bersama para maid di rumah yang mewah itu, Namun, ia tetap harus waspada, bukan berarti ia bisa pergi dengan mudah, banyak mata-mata disana, dan Gaara selalu loncat melalui atap untuk beraksi di malam hari, kembali menjalankan profesinya sebagai ketua mafia.

...

"Dia, berada disini, Naruto masih hidup."

Gaara menyeringai di balik teleponnya ketika anak buahnya memberinya kabar baik.

"Kerja bagus."

Pip.

...

Sebuah mobil lamborghini berwarna hitam muncul di depan Gaara, ia dengan cepat memasuki mobil itu, seorang dari belakang memberinya pistol dan sebuah foto, ia menyeringai, laju mobil mewah itu semakin cepat, sebelum matahari terbit, ia harus segera melenyapkan nyawa seseorang di setiap malamnya.

"Gaara-sama, misi kita akan sangat berat karena wanita itu merupakan anak dari inspektur kepolisian jepang."

Wajah Gaara yang tampan dengan rambut yang tidak belah tengah dan tanpa minyak plus kacamata tebal itu tersinari cahaya lampu dari mobil depan yang berlalu lalang di depannya, Gaara selalu tampak gagah di malam hari, mungkin, Hinata akan berpaling jika dia melihat Gaara yang mempesona saat ini, "Tch, ketua FBI di Newyork saja berhasil aku bantai, apalagi hanya menghabisi seorang gadis dari seorang anak polisi." Ia terkekeh. "Sangat di sayangkan, gadis secantik ini harus mati di usia muda dan juga di tangan seorang mafia tampan sepertimu, Gaara-kun." Matsuri, yang merupakan antek-antek dari keanggotan gelap yang Gaara dirikan memeluk Gaara dari belakang mobil manja, "tidak ada rasa kasihan disini," Gaara membuang rokok yang baru dua kali di hisapnya ke luar jendela, "Gaara-kun, kenapa kau sangat dingin?apa kau tak pernah merasakan jatuh cinta?" Ujar Matsuri lagi, Gaara terkekeh, "Cinta?" Ia menarik nafas, dan melepaskan pelukan Matsuri kasar, "tato yang ada di dahiku, cinta seperti itu yang ku cari, dan cinta yang membuatku menjadi seorang mafia."

"Hei Matsuri, kau jangan memancing Gaara jika kau tak ingin berakhir nama ketika keluar keanggotaan kami." Juugo yang tengah menyetir menimpali, ia teman Gaara sejak kecil, dia bahkan tau, apa di balik misteri Gaara menjadi kelam seperti ini,

"Tapi cinta bisa memberimu kebahagiaan."

Gaara terkekeh,

"Mengenai wanita yang akan kau nikahi itu bagaimana? Apa dia cantik? Aku sangat cemburu." Ujar matsuri.

Sekilas bayangan Hinata melintas di pikirannya, "cantik." Hanya satu kata yang di ucapkan Gaara, membuat Matsuri mengerucutkan bibirnya kesal, "selain cantik?" Cecar Matsuri ingin tau, "Seksi." Gaara terkekeh, "Uuuh.." Matsuri memalingkan muka, Hidan, dan Nagato ikut terkekeh, "jangan-jangan kau akan jatuh cinta padanya, Gaara-sama." Nagato berkomentar. "Itu tidak mungkin," Gaara melirik Nagato yang berada di kursi belakang.

"Aku bahkan berencana untuk menghabisinya ketika misiku selesai."

..

..

.

.

..

TBC

Arigatouu Minaaa Review kalian semangatkuu .. Ahh yaahhh maaf tidak bisa menyebutkan satu-satu. Sekali lagi terimakasih banyak, review lagi yaaaa Minna .. Semakin banyak review semakin saya cepat update hihihiiii :P