Disclaimer: Hideaki Sorachi. this story is a non-profit work.
As Time Goes By
a drabble collection
violet autumn
#3 - Warmth
Pukul dua dinihari dan Katsura tak bisa tidur malam itu.
Ia sudah memejamkan matanya, mencoba berguling-guling kesana-kemari diatas futon di kamarnya, bahkan mencoba menghitung domba dalam kepalanya. Namun semua usahanya gagal, anak laki-laki itu tetap tak bisa tidur.
Ah, mungkin dia bisa meminta bantuan orang lain disaat seperti ini.
Brakk!
"Takasugi!" suara teriakannya terdengar setelah bunyi pintu kamar yang terbuka.
Anak laki-laki bertubuh mungil itu membuka mata. Tangan kanan mengusap-usap matanya yang baru saja terbuka, lalu menatap kesal pada anak laki-laki berambut hitam sebahu yang baru saja meneriakinya pada pukul dua dinihari seperti ini.
"Zura, kau tahu sekarang jam berapa kan?" ucap Takasugi jengkel. Katsura masuk tanpa berkata apa-apa, ditangan kanan dan kiri ia membawa bantal dan guling dari kamarnya.
"Bukan Zura, tapi Katsura. Aku tidak bisa tidur, Takasugi."
"Aku tidak peduli."
"Oh, ayolaaah. Bangun sebentar. Kau tahu? langit malam ini sedang sangat bagus, kita bisa melihat bintang-"
"Diluar sedang hujan, kau tahu?'
Katsura mengangguk tanpa membalas apa-apa lagi. Ia mencoba mengguncang-guncang tubuh Takasugi tapi temannya yang keras kepala dan susah dibujuk itu tak juga bangun. Masalahnya, kamar Takasugi tidak lebih baik daripada kamarnya yang rapi. Disini juga lebih gelap dan dingin, salah satu jendela tidak bisa ditutup dengan baik dan kemudian menelusupkan angin dingin malam itu ke dalam ruangan.
"Takasugi, bacakan aku sebuah cerita. Siapa tahu aku bisa tertidur setelah itu," ucap Katsura enteng, kemudian menoleh ke Takasugi dengan senyum andalannya sementara temannya itu langsung mengeluarkan kepala dari dalam selimut dan melayangkan deathglare kearahnya.
"Ayolah, Takasugi. Kita ini teman kan? Karena itu kau harus membantuku! Setidaknya biarkan aku tidur disini dan temani aku. Siapa tahu aku bisa tertidur nanti."
Takasugi tak menjawab. Ia masih merasa kesal pada sahabatnya itu namun ia tak mengerti kenapa ia akhirnya malah ingin membantu Katsura. Ia kemudian duduk diatas futonnya dan menyingkap selimut yang daritadi ia kenakan.
Katsura meletakkan bantal dan guling yang ia bawa disamping Takasugi, lalu kemudian berbaring dengan santai diatas lantai kamar itu. Rasanya agak dingin, apalagi cuaca diluar hujan dan udara dingin masuk lewat celah jendela yang terbuka itu. Namun Katsura tak apa-apa, seorang samurai tidak boleh lemah hanya karena cuaca dingin!
Jadi ia berbaring disamping sahabatnya itu lalu kemudian mencoba memejamkan mata dan tidur. Kamar ini mungkin tidak lebih rapi dan selama ini ia berpikir kalau kamarnya adalah yang paling nyaman, namun sepertinya tidak juga. Entah kenapa, berada disini tidak buruk juga dan ia pikir, ia bisa tidur setelah ini.
Srek!
Takasugi berdiri dari tempatnya, tangannya yang mungil memasangkan selimut untuk sahabatnya yang berbaring di lantai kamar, tepat disebelahnya. Lalu bocah itu kembali ke berbaring diatas futonnya, disamping Katsura, tanpa ada selimut yang menghangatkan tubuh. Takasugi memang kadang menyebalkan, tapi setidaknya ia tak keberatan berbagi kehangatan dengan sahabatnya itu saat ini.
"Kau merepotkan, Zura."
Katsura tak tahan untuk tidak tertawa kecil dan tersenyum saat ia memejamkan matanya, sambil berharap Takasugi tak sadar atau anak itu akan marah dan bisa saja mengambil kembali selimutnya.
a/n:
drabble collection ini dimaksudkan untuk ikut challenge 10 drabbles dari United Fandom. tapi deadlinenya sudah lewat dan fic nya belum selesai~ ehehe.
drabble ketiga ini wordcount-nya sampai 400+, gabisa dibilang drabble ya kayaknya tapi gapapa deh ._. /heh/
thanks for reading :)
