The Lake House
Pair and Cast:
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Park Jimin x Min Yoongi
Jung Hoseok
Rate: T
Length: Oneshoot
Summary:
This is just a beautiful house, with a beautiful view, and an evil serial killer that lives here. / NamJin. Slight! VKook, MinYoon, BL, AU.
Warning:
BL, AU, Fiction.
.
.
.
.
The Lake House (Part. 2)
Namjoon tidak sengaja terbangun saat dia merasakan beban di atas tubuhnya menghilang. Dia ingat Seokjin tidur nyaris menindihnya dan seharusnya Namjoon merasa berat, tapi dia tidak merasakan apapun. Namjoon membuka matanya dan Seokjin sudah tidak ada di sisinya.
"Jinnie?" panggilnya pelan dengan suara serak. Namjoon bergerak untuk duduk di atas tempat tidurnya dan dengan kesadaran yang masih separuh, Namjoon mencoba menatap sekeliling kamar tapi Seokjin tidak ada di dalam kamar.
"Kemana dia?" gumam Namjoon pelan sambil menggaruk kepalanya, kemudian dia menyibak selimutnya dan berjalan keluar dari kamar. Namjoon menatap ke koridor yang sepi, "Apa dia ke kamar yang lainnya?"
Namjoon berbelok ke arah kanan dan membuka pintu ruangan tersebut, dan saat Namjoon mengintip ke dalam, dia tidak melihat siapapun selain Yoongi yang bergelung dalam pelukan Jimin dan Hoseok yang tidur di sofa.
Namjoon menutup pintu kamar itu dan menggaruk kepalanya lagi, "Aneh, kemana dia?"
Namjoon memutuskan untuk memeriksa ke lantai bawah dan saat dia berada di bawah tangga, Namjoon mendengar suara aneh seperti sesuatu yang terjatuh dari arah ruang kerja Tuan Choi.
"Seokjinnie?" panggil Namjoon pelan seraya melangkah ke ruang kerja Tuan Choi yang pintunya tidak tertutup rapat dan lampunya menyala.
Namjoon membuka pintu ruangan itu dan dia melihat Seokjin sedang meringkuk ketakutan di depan cermin. "ASTAGA, SEOKJIN!"
Kakinya bergerak secara refleks menghampiri Seokjin dan Namjoon bergegas berlutut di hadapan Seokjin. "Hei, kenapa? Sayang?"
Seokjin membuka matanya dengan perlahan dan dia melihat Namjoon di hadapannya, tanpa pikir panjang Seokjin langsung melompat memeluknya.
"Babe, ada apa? Astaga, tubuhmu dingin kau gemetar." Namjoon mengusap-usap punggung Seokjin dengan lembut sementara Seokjin memeluknya dengan sangat erat.
"D-dia mencoba membunuhku." Seokjin menggumam pelan dengan suara bergetar.
"Siapa?"
"H-hantu itu.. dia.. mencoba membunuhku."
Namjoon mengerutkan dahinya tidak mengerti kemudian pandangan matanya tidak sengaja tertuju pada tetesan-tetesan darah di lantai. "Babe?" panggil Namjoon pelan kemudian meregangkan pelukan Seokjin dan saat itulah Namjoon melihat lengan Seokjin berdarah.
"Astaga, kau berdarah." Namjoon meraih lengan Seokjin yang terluka dan memeriksanya.
"Dia melukaiku, baru kali ini ada hantu yang benar-benar melukaiku." Seokjin mendongak menatap Namjoon, "Apakah dendamnya pada tempat ini sebesar itu?"
Namjoon menatap bola mata Seokjin yang terlihat bergetar karena takut. Seokjin terlihat sangat ketakutan. "Kita obati lukamu lalu kembali tidur, okay? Nanti aku akan minta Jimin memeriksa kamera yang diletakkan di ruangan ini."
Seokjin mengangguk pelan dan dia pasrah saja saat Namjoon menggendongnya dan membawanya kembali ke kamar mereka.
.
.
.
.
.
.
.
"Hee? Kau diserang hantu itu, Hyung?" ujar Jungkook kaget saat Seokjin menceritakan kejadian yang dia alami dini hari tadi ke penghuni rumah lainnya.
Seokjin mengangguk pelan, "Ya, dia melukai lenganku."
"Ini pertama kalinya, kan?" ujar Yoongi sambil memperhatikan lengan Seokjin yang diperban.
"Dimana Namjoon Hyung dan Jimin?" tanya Taehyung yang baru tiba di meja makan.
"Mereka sedang memeriksa kamera yang ada di ruang kerja Tuan Choi." Hoseok berujar pelan seraya mengulurkan tangannya dan mengambil sebuah roti panggang.
"Aku benar-benar menyesal, Seokjin-ssi. Apa kau baik-baik saja?" tanya Tuan Choi khawatir.
"Saya baik-baik saja, Tuan Choi. Anda tidak perlu cemas." Seokjin berujar memenangkan.
"Dimana anak-anak?" tanya Yoongi.
"Mereka masih di atas, istriku sedang membantu Hana dan Haneul untuk bersiap-siap ke sekolah. Hari ini hanya ada Seulla di rumah karena aku dan istriku harus bekerja setelah mengantar anak-anak ke sekolah." Tuan Choi menjelaskan pada yang lainnya yang berada di meja makan.
"Pengasuh anak-anak tidak datang?" tanya Seokjin.
Tuan Choi menggeleng, "Dia agak sibuk hari ini."
"Apa Seulla sering ditinggal sendirian di rumah?" tanya Hoseok.
"Ya, kami pernah beberapa kali meninggalkan Seulla, waktu itu saat Seulla terluka karena terjatuh dari lantai dua juga karena kami meninggalkannya sendirian."
"Ah ya, anda pernah membahas itu di surat yang anda berikan pada kami." Seokjin mengangguk kecil, "Lalu, bagaimana keadaan Seulla saat itu?"
"Dia kritis selama satu minggu kemudian saat dia akhirnya bisa berbicara pada kami, dia bilang dia dikejar-kejar seorang pria yang membawa pisau dan karena panik, Seulla tidak sadar kalau dia melompat dari jendela lantai dua."
"Apa itu ulah pencuri?" tebak Yoongi.
Tuan Choi menggeleng ragu, "Sistem keamanan di rumah ini dinyalakan dan tidak ada tanda-tanda penyusup. Dan yang anehnya, berdasarkan tampilan dari kamera pengawas, tidak ada seorang pun di rumah ini selain Seulla, dia tiba-tiba saja menjerit-jerit dan berlari mengelilingi rumah sebelum kemudian melompat dari lantai dua."
"Apa Seulla mengetahui hal ini?" ujar Seokjin.
"Tidak, aku dan istriku sepakat untuk merahasiakan ini dari Seulla. Kami tidak mau putri kami semakin shock."
"Bagaimana pendapatmu, Hyung?" bisik Jungkook pada Seokjin yang sejak tadi terdiam.
"Kurasa kita harus membicarakan ini dengan Namjoon." Seokjin berujar pelan, "Kelihatannya kita membutuhkan sesuatu yang berbeda kali ini."
Namjoon dan Jimin melangkah masuk ke ruang makan bersama dengan sisa anggota keluarga Choi. Namjoon menempati kursi di sebelah Seokjin sementara Jimin duduk di sebelah Yoongi.
Seokjin menarik lengan baju Namjoon pelan, "Kita harus bicara setelah sarapan."
Namjoon mengangguk paham.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya keluarga Choi setuju untuk keluar sebentar dan menginap di tempat lain sampai pekerjaan Namjoon dan yang lainnya selesai. Sebenarnya Seokjin tidak ingin melakukan ini, tapi dia sadar bahwa apapun yang menghantui rumah ini jauh lebih kuat daripada biasanya. Dan Seokjin tidak mau mengambil resiko melukai keluarga Choi yang lainnya.
"Jadi, apa rencana kita?" tanya Hoseok seraya bersandar ke sofa ruang tengah.
Saat ini masih tengah hari tapi karena cuaca mendung, suasana menjadi lebih gelap dan sudah terlihat seperti sore hari. Mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah rumah itu.
Seokjin memainkan kalung di lehernya, "Aku akan memancingnya untuk keluar kemudian melakukan sesuatu. Melihat dendamnya pada tempat ini, mungkin dia tidak akan mau pergi dari sini."
"Jadi kita tidak akan mengusirnya?" tanya Jimin.
"Aku bisa mengusirnya jika cara itu berhasil. Tapi kurasa sebaiknya kita mencari tahu sesuatu soal rumah ini terlebih dahulu." Seokjin menatap ke arah yang lainnya, "Kita berpencar menjadi dua tim. Tuan Choi mengatakan padaku bahwa ruang bawah tanah dan loteng rumah ini berisi barang-barang yang memang sudah ada di rumah ini. Kita akan mencari di sana."
"Okay, kalau begitu aku mencari di loteng." Taehyung berujar seraya meregangkan punggungnya.
"Aku ikut Taetae Hyung!" pekik Jungkook.
"Jimin dan Hoseok sebaiknya di ruang pengawas saja. Amati baik-baik kamera yang sudah disebar di seluruh rumah ini." ujar Namjoon.
"Aku akan ke ruang bawah tanah." Seokjin berujar tenang kemudian dia menatap Namjoon, "Kau sudah melihat rekaman kamera pengawas? Apa yang terekam?"
Namjoon menatap Seokjin, "Kau diserah oleh sosok yang terlihat seperti pria. Kamera tidak menangkapnya dengan jelas."
"Ya, aku memang merasa diserang oleh seorang pria tanpa wajah."
Hoseok bergidik saat mendengar ucapan Seokjin, "Hii, aku tidak mau melihatnya."
"Aku juga tidak." sahut Jimin.
"Kalau begitu aku ikut ke ruang bawah tanah juga bersama Seokjin Hyung." ujar Yoongi.
"Aku juga akan ikut ke ruang bawah tanah dengan Seokjinnie." Namjoon berdiri dari posisinya. "Okay, ayo kita mulai bekerja."
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin menyorotkan senternya ke sekeliling ruang bawah tanah yang penuh dengan berbagai macam barang seperti kardus, lemari-lemari tua dan juga barang-barang lainnya.
"Oke, kita harus mulai dari mana?" ujar Yoongi sambil menatap ke sekitar.
"Catatan, buku harian, atau apapun yang terlihat seperti itu." Seokjin melangkah menghampiri salah satu kardus dan mulai membukanya.
Namjoon berjalan menghampiri kardus lainnya sementara Yoongi menghela napas pelan sebelum akhirnya dia menghampiri kotak kayu yang terkunci.
"Tidak masalah kan kalau aku menghancurkan kuncinya?"
"Yah, kurasa bukan masalah." Namjoon berujar tenang seraya memeriksa kertas-kertas yang ditemukannya dalam kardus.
Terdengar suara benturan berulang kali saat Yoongi berusaha menghancurkan kunci yang kelihatannya sudah lama di kotak tersebut. Dan akhirnya setelah menghantam kunci tersebut dengan balok beberapa kali, Yoongi berhasil merusak kunci tersebut dan membuka kotaknya.
"Hmm? Isinya hanya dua buah buku." Yoongi menarik keluar dua buah buku dengan sampul kulit usang yang terasa kasar dan agak aneh, sangat berbeda dengan sampul kulit pada umumnya.
"Apa isi bukunya?" tanya Namjoon tanpa menoleh dari kertas-kertas di tangannya.
"Uuh, tulisannya kecil sekali. Sebentar." Yoongi membalik-balik beberapa halaman kemudian dia tertegun, "Astaga!" pekiknya.
"Kenapa?" tanya Seokjin langsung sambil menoleh ke arah Yoongi.
Yoongi menatap Seokjin, "Ini.. buku harian. Dan di sini tertulis mengenai alasan kenapa dia membunuh orang lain." Yoongi menunduk menatap buku di tangannya, "Di sini tertulis kalau dia sangat suka melakukan operasi terhadap tubuh manusia, kurasa dia mengidap kelainan. Dan dia juga menuliskan kalau mengoperasi pasiennya di rumah sakit tidak lagi memuaskan sehingga akhirnya dia mulai mengoperasi wajahnya sendiri."
"Mengoperasi wajahnya?" tanya Namjoon sambil menatap Yoongi.
Yoongi mengangguk, "Di sini tertulis dia mengoperasi wajahnya dengan memotong hidung dan pipinya." Yoongi mengernyit jijik, "Dan ada keterangan kalau dia juga memburu warga sekitar untuk kemudian dia bawa ke rumahnya dan dibunuh di sini."
Seokjin menyorotkan senternya ke arah buku yang dipegang Yoongi, "Hei, tidakkah menurut kalian kulit buku itu agak aneh? Apa itu buku buatan tangan?"
"Eerr.. aku tidak menemukan catatan mengenai buku.. HIIIII!" Yoongi melempar buku yang dipegangnya menjauh darinya kemudian mengusap-usap tangannya dengan ekspresi jijik luar biasa.
"Ada apa?" tanya Seokjin bingung dan bergerak untuk mengambil buku yang dilempar Yoongi begitu saja ke lantai.
"Jangan sentuh itu! Sampul buku itu terbuat dari kulit manusia!" jerit Yoongi.
Namjoon terperangah, "Apa?"
Yoongi menunjuk buku itu dengan ekspresi ngeri, "Tadi aku membaca sebaris kalimat yang mengatakan kalau dia membuat dua buah sampul buku dari dua orang yang dia kuliti. Dua-duanya adalah seorang gadis di kota yang paling cantik."
Namjoon menatap Seokjin, "Babe?"
Seokjin menatap buku itu lama sebelum kemudian dia meraih buku itu dan membukanya. "Kurasa aku mengerti kenapa dia tidak juga pergi dari rumah ini. Dia pasti merasa terikat dengan seluruh barang-barang yang ada di sini."
Tap Tap Tap
Mereka bertiga menoleh ke arah tangga saat mendengar suara langkah kaki menuruni tangga dan mereka melihat Taehyung memasuki ruang bawah tanah.
"Hei, kalian harus ikut aku ke loteng. Aku menemukan hal yang luar biasa."
Mereka bertiga berpandangan kemudian serentak berjalan keluar dari ruang bawah tanah tapi sebelumnya Namjoon sempat menarik satu buku lainnya yang terbuat dari kulit juga.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka bertujuh duduk mengelilingi sebuah meja bulat di ruang tengah. Seokjin meletakkan sebuah lilin berukuran cukup besar di tengah ruangan dan menatap ke arah yang lainnya.
"Aku akan mencoba memancingnya keluar dan mengusirnya dari rumah ini." ujar Seokjin, kemudian dia meletakkan dua buku bersampul kulit manusia itu di atas meja.
"Apa yang akan kau lakukan dengan buku itu, Hyung?" tanya Jungkook sambil menatap kedua buku itu dengan jijik.
"Aku akan membakarnya nanti. Tapi sebelumnya, ada yang harus aku urus dengan pembuat buku ini." ujar Seokjin kemudian dia berdiri dan menyalakan lilin di tengah meja.
Jimin menatap sekeliling dengan pandangan takut, saat ini mereka berada di ruang tengah yang lampunya dimatikan dengan cara mematikan sensor yang ada. Jadi penerangan di ruangan itu hanya sebuah lilin besar yang diletakkan Seokjin di tengah meja.
Seokjin menatap nyala api lilin dengan tenang, "Kalian ingat kan aku pernah bilang kalau arwah akan datang menghampiri lilin? Mereka akan menghampiri cahaya ini sebentar lagi, apapun yang terjadi, jangan bergerak dari kursi kalian."
Hoseok bergidik dan meremas lengan Jimin yang duduk di sebelahnya, "Hei, apa kita harus melakukan ini?"
Yoongi menatap sekeliling ruangan, "Yah, untungnya aku tidak bisa melihat mereka."
Namjoon meraih tangan Seokjin dan menggenggamnya, "Hati-hati, sayang."
Seokjin mengangguk kemudian dia menarik napas dalam dan terus fokus pada nyala api lilin itu. Kemudian dia melihat api lilin itu bergoyang sedikit dan saat Seokjin mengangkat kepalanya, dia melihat ada lebih dari selusin arwah yang berdiri mengelilingi mereka.
"Oh, God…" lirih Seokjin.
Jimin melirik ke kiri dan kanan dengan gugup, "Ke-kenapa?"
Seokjin memperhatikan tiap wajah dari arwah yang mengelilingi mereka dan sebagian besar adalah wanita dengan wajah dan tubuh penuh garis bekas jahitan. Terlihat jelas kalau mereka meninggal karena dioperasi terlalu banyak, apalagi organ tubuh mereka juga diambil dan diawetkan karena itulah yang ditemukan Taehyung di loteng tadi.
Seokjin memperhatikan tiap wajah wanita itu yang menatapnya dengan sedih. Walaupun wajah mereka mereka terlihat menyeramkan karena penuh bekas jahitan, tapi Seokjin seolah bisa merasakan kalau mereka memang terjebak di dalam rumah ini.
Tak lama kemudian para arwah yang mengelilingi mereka terlihat menjerit karena takut dan bergeser, kemudian Seokjin melihat sosok seorang pria tanpa wajah yang dilihatnya di ruang kerja Tuan Choi.
Seokjin menarik napas dalam kemudian meraih sebuah stoples kaca bening di sebelahnya dan bersiap untuk menutup lilin yang menyala di hadapannya. Namun sebelum stoples itu menutup lilin, sosok hantu pria tanpa wajah itu mengayunkan pisaunya dan menggores lengan Seokjin.
"Argh!" pekik Seokjin saat lengannya kembali terluka dan meneteskan darah.
"Hyung!" teriak Jungkook saat dia melihat lengan Seokjin yang tiba-tiba saja berdarah.
Stoples kaca yang dipegang Seokjin terlepas dan nyaris jatuh dari meja namun dengan cepat ditangkap oleh Taehyung. Kemudian terdengar erangan kesakitan dari Taehyung karena saat dia menyentuh stoplesnya dan bermaksud untuk meletakkannya di meja, tiba-tiba saja tangannya terluka.
"Tutup lilinnya! Tutup lilinnya dengan stoples itu!" jerit Seokjin.
Namjoon menjulurkan tangannya dan dengan cepat menutup lilin itu walaupun punggung tangannya juga ikut terluka seperti digores pisau dan kelihatannya luka goresan Namjoon lebih dalam jika dilihat dari darah yang mengalir keluar.
Seokjin menatap sosok pria tanpa wajah itu, "Pergi! Kau tidak diterima di sini! Ini bukan rumahmu lagi, pergi!"
Lilin di dalam stoples mengeluarkan bunyi derak keras kemudian terdengar suara jeritan wanita yang terdengar memilukan dari seluruh rumah yang didengar oleh mereka semua.
Hoseok nyaris saja melompat ketakutan saat suara jeritan itu terdengar namun Jungkook berhasil menahannya untuk tetap di tempat. Jimin menggenggam tangan Yoongi dengan erat sambil berusaha mengacuhkan suara jeritan yang terdengar semakin keras.
Namjoon menatap Seokjin dengan panik dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Pergi!" teriak Seokjin lagi.
Lilin itu berderak kembali kemudian akhirnya padam dengan suara letusan kecil dan percikan api berwarna hijau.
"GYAAAA! APA YANG TERJADI?!" jerit Hoseok saat lilin betul-betul padam dan hanya meninggalkan kegelapan di sekitar mereka.
"Tolong katakan salah satu diantara kalian memegang ponsel atau senter." Yoongi berujar pelan seraya menggenggam tangan Jimin yang agak berkeringat karena tegang.
"Ah, aku membawa ponselku." Jungkook melepaskan pegangannya di lengan Hoseok dan Hoseok langsung menjerit kaget.
"Hyung, tenang sedikit." Taehyung berujar pelan seraya meraba ke sebelahnya dan merasakan lengan Jungkook yang sibuk mencari-cari ponselnya.
Jungkook mengeluarkan ponselnya dari kantung celana dan menyalakannya, mereka bertujuh menghembuskan napas lega saat akhirnya mereka bisa melihat.
"Haah, akhirnya ada cahaya." Jimin berujar penuh nada lega kemudian dia tertegun saat melihat salah satu lengan Taehyung yang diletakkan di meja. "Hei, Tae, bukankah tadi kau terluka? Lukanya hilang."
Taehyung memeriksa lengannya sendiri, "Kau benar!" Taehyung menatap lengan Seokjin dan Namjoon, "Hei, luka kalian juga menghilang!"
Seokjin menghembuskan napas lega kemudian menoleh ke arah Namjoon, "Mau membantuku membakar buku ini dan juga membereskan seluruh stoples berisi organ tubuh yang diawetkan itu?"
Namjoon mengangguk, "Tentu. Tapi sebelumnya kita pulihkan dulu sensor lampunya."
Seokjin mengangguk kecil, "Oh, jangan lupa keluarkan cermin yang ada di ruang kerja Tuan Choi. Bingkai cermin itu.. terbuat dari tulang-tulang korban yang dibunuh di sini."
Taehyung bergidik pelan, "Menjijikkan sekali."
.
.
.
.
.
.
.
Keesokkan harinya, mereka meminta keluarga Choi untuk kembali ke rumah mereka dan Namjoon menjelaskan situasi yang terjadi dan menjelaskan soal barang-barang yang mereka temukan di rumah itu.
Tuan dan Nyonya Choi mempercayakan seluruhnya kepada Namjoon dan yang lainnya dan menghubungi polisi untuk mengurus stoples-stoples berisi organ tubuh yang diawetkan. Tuan Choi juga setuju cermin yang ada di ruang kerjanya dihancurkan karena ternyata, sejak mereka memasuki rumah itu, cermin itu memang sudah berada di situ.
Polisi memutuskan untuk membawa seluruh organ dalam yang ditemukan untuk diidentifikasi pemiliknya dan menyerahkan organ tersebut pada keluarga si pemilik organ untuk dikuburkan secara layak.
Seokjin membawa kedua buku yang terbuat dari kulit manusia itu ke halaman depan sementara di sebelahnya Taehyung dan Jimin menggotong cermin besar tersebut.
"Apakah alasan Hana memanggil hantu itu 'Paman Cermin' karena dia pernah melihatnya di sini?" tanya Taehyung sambil meletakkan cermin itu ke tanah kemudian mulai merusaknya bersama Jimin.
Seokjin mengangguk pelan, "Ya, Hana sering melihat bayangan mengerikan di cermin itu dan dia mendekati Hana karena memang biasanya anak kecil lebih sensitif terhadap hal-hal seperti itu."
Jimin menumpuk cermin yang sudah dia hancurkan menjadi satu kemudian menyiramkan bensin ke atasnya. "Ngomong-ngomong Hyung, aku tidak pernah melihatmu mengusir hantu seperti semalam."
Seokjin tertawa kecil, "Itu cara lama. Karena hantu kali ini tidak merasuki manusia, aku dan Namjoon tentu tidak bisa melakukan metode pengusiran hantu yang biasa, kan? Lilin yang kunyalakan itu akan menarik para hantu untuk muncul, kemudian ketika kau menutupnya dengan stoples, para hantu akan terjebak di dalamnya dan akhirnya akan pergi saat lilin mati."
Taehyung mengambil pemantik dari dalam sakunya dan menyalakan api untuk membakar cermin itu. "Berarti saat ini hantu itu sudah pergi?"
Seokjin mengangguk, "Kita hanya perlu membiarkan polisi memeriksa keseluruhan rumah ini untuk menemukan sisa-sisa korban yang pernah dibunuh di sini. Kalau semuanya sudah dimakamkan dengan layak, rumah ini pasti bersih." Seokjin melempar kedua buku yang dipegangnya ke dalam nyala api.
"Lalu tujuanmu membakar ini semua?" tanya Jimin sambil memperhatikan api yang perlahan-lahan menghanguskan semuanya.
"Aku ingin melepas mereka dari keterikatannya pada benda-benda ini."
"Kalian sudah selesai?"
Suara berat yang berasal dari belakang mereka membuat mereka bertiga menoleh dan mereka melihat Namjoon sedang berjalan menghampiri mereka bersama Yoongi.
"Kau sudah menjelaskannya pada Tuan dan Nyonya Choi?" tanya Seokjin.
Namjoon mengangguk, "Ya, aku sudah bilang pada mereka untuk tidak mengusik lilin yang ada di meja di ruang tengah dan Tuan Choi memutuskan untuk mengunci ruangan itu seterusnya. Dia bilang lebih baik dia kehilangan satu ruangan dalam rumahnya daripada rumahnya terus berhantu."
Jimin mengangguk-angguk, "Itu ide yang bagus, kan?"
Yoongi mengangguk acuh, "Yeah, kurasa pekerjaan kita sudah selesai. Kapan kita kembali ke Seoul?"
"Sebentar lagi. Tae, Jimin, sebaiknya kalian bantu Hoseok dan Jungkook yang sedang membereskan kamera-kamera dan peralatan kita." Namjoon berujar seraya menatap Jimin dan Taehyung.
Yoongi menatap Namjoon dan Seokjin, "Aku akan mengemasi barang-barang kita yang masih ada di kamar-kamar."
Namjoon dan Seokjin mengangguk kemudian setelah Yoongi pergi, mereka berdua berdiri bersebelahan seraya memperhatikan api yang semakin memusnahkan cermin dan buku itu.
"Kita sudah mendapat pekerjaan baru lagi." Namjoon berujar pelan kemudian menggerakkan lengannya untuk merangkul bahu Seokjin.
"Lagi? Secepat ini? Kenapa ada banyak sekali hantu di dunia ini?" keluh Seokjin.
Namjoon tertawa, "Klien kita kali ini adalah seorang detektif. Dia bilang dia merasa kameranya agak aneh dan ingin kita membantu menyelidiki kamera tersebut."
Seokjin mengerutkan dahinya bingung, "Aneh bagaimana?"
"That camera, captures death."
"Hah?" ujar Seokjin semakin bingung.
Namjoon tertawa, "Sudahlah, keterangan lebih lengkapnya akan aku ceritakan di mobil saat kita pulang ke Seoul. Atau kalau mau, kau bisa membaca email yang dikirimkan klien kita. Aku saja baru membacanya tadi pagi."
Seokjin mengangguk-angguk pelan, "Baiklah."
"Tapi, bagaimana menurutmu? Apakah sebaiknya kita ambil pekerjaan ini atau tidak?"
Seokjin menimbang-nimbang sebentar kemudian dia mengangguk, "Hmm, baiklah. Hanya menyelidiki kamera, kan? Kurasa tidak sulit."
Namjoon tertawa, "Babe, kuharap kau tidak lupa kalau yang akan kita tangani ini bukan sekedar 'kamera' biasa."
Seokjin mengangkat bahunya acuh, "Well, kita lihat saja nanti."
The End
.
.
.
.
.
P.S:
Penyakit kecanduan operasi itu memang ada, tapi aku lupa nama ilmiahnya. Si penderita ini akan kecanduan mengoperasi makhluk hidup, ada yang mengoperasi ke hewan, tapi ada juga yang ke manusia. Intinya sih ini semacam penyakit kejiwaan.
Lalu soal yang cara pengusiran hantu dengan lilin, itu memang benar ada. Kalau tidak salah itu semacam trik voodoo lama. Jadi menurut kepercayaan mereka, arwah akan menghampiri cahaya (lilin), jadi ketika lilin itu ditutup dengan stoples, (katanya) arwah itu akan terkurung di situ. Tapi katanya sih hanya mengurung arwahnya dalam stoples itu, jadi tidak mengusirnya secara penuh. Makanya lilin yang digunakan tidak boleh dinyalakan lagi, harus dibiarkan di dalam stoples.
Btw, soal 'buku dari kulit manusia' itu memang pernah ada. Aku lupa pada saat zaman kapan, tapi memang pernah ada. Dan ini aku tahu karena aku rutin menonton 'My Haunted House' di channel Lifetime. Hahaha
Waktu itu buku ini pernah disebutkan di salah satu episodenya. Haha
Beberapa kejadian di cerita ini juga terinspirasi dari acara tersebut. Jadi jika ada yang kebetulan menonton acara tersebut dan membaca ini, pasti tahu mana kejadian yang aku maksud. Hahaha
.
.
.
P.S.S:
Sebenarnya aku tidak berniat membuat ini menjadi 'series' semacam ini. Tapi kalau peminatnya banyak dan kalian tidak keberatan dengan update yang tidak menentu, aku bisa mengusahakan untuk membuat ini menjadi series. Hehe
Jadi, tolong berikan tanggapan kalian ya ^^
.
.
.
.
.
Review?
.
.
.
.
Thanks
