~ Say, I Love You ~

..An Alternate Universe Fanfiction..

..TwoShots Story..

Cast : HOMIN (Yunho x Changmin)

Cameo : Kyungsoo, Yifan

Warn : YAOI, OOC, Typo's, Don't Like? Don't Read!

..Story 2-B..

o

oo

ooo

oo

o

"Yunho hyung.." lirih Changmin sambil menunduk malu saat Yunho mendekatinya secara perlahan dan berusaha melingkarkan lengannya di pinggang ramping Changmin. Degupan jantung keduanya seolah menjadi irama penenang di dalam ruangan bernuansa violet tersebut.

"Mulai malam ini, aku akan tidur di sini.. Berbagi kamar denganmu.." bisik Yunho seraya menaikkan dagu Changmin dengan ujung telunjuk dan ibu jarinya "..dan berbagi ranjang denganmu" lanjut Yunho lagi ketika mata musangnya memerangkap mata bulat Changmin yang berbinar indah.

Keduanya kini kembali hanyut pada buaian tatapan lembut masing-masing dengan rona merah muda tipis menghiasi wajah keduanya saat ini. Hingga akhirnya Yunho mulai menggerakkan wajahnya secara perlahan mendekati wajah manis Changmin yang semakin bersemu.

Tinggal satu senti lagi..

Keduanya akan mengunci bibir mereka dalam buaian lembut yang selama ini mereka idamkan..

.

.

.

Ting Tong Ting Tong Ting Tong!

Namun suara bel apartemen yang berbunyi berhasil mengacaukan suasana romantis tersebut.

.

.

.

Changmin langsung saja melepas diri dari rengkuhan Yunho karena harus segera membukakan pintu apartemennya untuk tamu yang terkesan tak sabar tersebut.

Klik!

"Hai manis.."

Suara rendah yang tak asing langsung mendera pendengaran Changmin begitu pintu apartemennya terbuka. Menampilkan sesosok tampan berambut pirang yang kini tersenyum konyol pada Changmin.

"Ck! Siapa yang datang?" tanya Yunho sedikit kesal menghampiri Changmin yang termenung bingung di depan pintu.

"Y- Yifan?" lirih Changmin masih menatap bingung Yifan, pria yang tak tahu waktu bertamu di malam hari.

"Mau apa kau kemari malam-malam begini?" tanya Yunho yang kini memposisikan dirinya di samping Changmin, dan dengan sengaja melingkarkan lengannya di pinggang ramping Changmin.

"Hei! Beginikah cara kalian menyambut tamu? Ck! Yang benar saja!"

Tanpa dipersilahkan masuk, kini Yifan dengan seenak jidatnya meloyor masuk ke dalam apartemen Yunho dan Changmin yang memasang wajah super bingung.

Bagaimana tidak bingung? Jika Yifan tiba-tiba saja datang ke apartemen mereka pukul 10 malam dengan sebuah koper besar.

Catat! KOPER BESAR!

"Kamarku sedang direnovasi, jadi untuk sementara waktu aku tinggal di sini.." ucap Yifan santai sambil mendudukkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi.

"YAK!" teriak Yunho dan Changmin bersamaan.

o

oo

ooo

"APA?! Tidak, tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tidak mau menampung 'orang itu' di apartemen kita!"

"Tapi hyung~ Kau kan dengar sendiri tadi.. Kamarnya sedang direnovasi.."

"Heiiii.. kau lupa dia itu pewaris keluarga bangsawan Wu! Di rumahnya tidak hanya ada satu kamar!"

"Tapi hyung~ ia tidak terbiasa tidur di kamar tamunya! Kan ia sudah menjelaskan hal ini pada kita!"

"Tapi kenapa harus di apartemen kita?! Ia bahkan bisa menyewa hotel termahal di negeri ini!"

"Itu karena Daddy yang memintanya untuk tinggal di sini sementara waktu.. Lagipula, apa salahnya sih sedikit membantunya? Ia kan juga sahabatku, hyung~"

"Tapi bisa saja ia bohong! Dengan berdalih, Daddy yang menyuruhnya!"

"Kalau kalian tidak percaya, telfon saja Paman Shim!" teriak Yifan dari arah ruang keluarga yang pastinya dapat mendengar perdebatan alot Yunho dan Changmin di kamar Changmin, yang kini telah resmi menjadi kamar mereka berdua.

"Huft~ Aku akan menelfon Daddy kalau begitu!" putus Changmin pada akhirnya sambil mengambil ponselnya di atas ranjang.

"Yeoboseyo.."

"Daddy~!" pekik Changmin ceria seperti biasa. Kemudian dengan sengaja ia me-loudspeaker ponselnya agar Yunho bisa mendengar percakapannya bersama sang ayah.

"Bagaimana kabarmu, sayang?"

"Daddy! Tentu saja aku baik! Kita kan baru bertemu satu jam yang lalu!" ucap Changmin sambil mempoutkan bibirnya hingga membuat Yunho gemas dan menahan hasratnya untuk tidak mencium bibir Changmin saat itu juga.

"Kkkk~ " terdengar kekehan kecil dari sang ayah di seberang sambungan telepon "..Daddy kira, Yunho sudah berbuat yang tidak-tidak padamu, sayang.."

"Daddy! Jangan menggodaku!" protes Changmin yang merona cantik wajahnya. Membuat Yunho kini tak tahan untuk memeluk tubuh Changmin dari belakang.

Walau awalnya cukup tersentak kaget, tapi akhirnya Changmin merilekskan tubuhnya dengan bersandar pada tubuh Yunho di belakangnya. Ia juga membiarkan Yunho yang kini meletakkan dagunya di atas bahu Changmin sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Changmin yang menjadi candunya sekarang.

"Jadi, ada apa menelepon Daddy malam-malam begini, hm?"

"Itu.. tentang Yifan.."

"Ada apa dengan Yifan? Apa kau mulai jatuh cinta padanya?"

Pertanyaan sang Daddy sontak mengejutkan Yunho dan Changmin sekaligus.

"T-Tidak Daddy! B-Bukan itu! Aku hanya ingin menanyakan.. Apa benar Daddy yang menyuruh Yifan untuk tinggal sementara di apartemenku?"

"..."

Hening beberapa detik, karena sang Daddy tidak langsung menjawab pertanyaan Changmin.

"Dad? Kau masih disana?"

"Ya, sayang.. Memang Daddy yang menyuruh Yifan untuk tinggal bersama kalian sementara waktu.. Kalian tidak keberatan, kan?"

Changmin sempat menoleh pada Yunho yang kini berwajah pasrah dan mengangkat sedikit bahunya, isyarat 'Apa boleh buat?'

o

oo

ooo

"Apa ini? Aku tidak suka omelet ayam! Buatkan aku omelet daging sapi saja!"

"Ish! Dasar menyebalkan! Seenaknya saja kau menyuruh-nyuruhku! Kalau kau mau, makan! Kalau tidak mau, ya sudah! Biar saja perutmu kosong kelaparan!"

"Dasar cerewet! Aku tidak mau ayam! Aku mau daging sapi!"

"Kau buat saja sendiri! Yang mau makan itu kan kau! Bukan aku! Kenapa harus aku yang membuatkannya untukmu!"

Yunho yang baru saja keluar kamar setelah rapi dengan setelan kerjanya, kini disuguhkan keributan di meja makan antara Yifan dan Changmin yang saling adu mulut.

"Ekhem.."

Dan begitu mendengar suara Yunho berdeham, sontak Yifan dan Changmin menghentikan aksi ribut mereka.

"Maaf.." gumam Yifan pelan dan hendak beranjak dari meja makan.

"Tunggu!"

Yunho mengernyitkan dahinya bingung melihat Changmin yang kini menahan lengan Yifan yang ingin bangkit berdiri dari duduknya.

"Biar aku buatkan omelet daging sapinya.." sambung Changmin yang kini berdiri dan kembali berkutat dengan perabotan masaknya.

"Sebenarnya apa yang kalian ributkan?" tanya Yunho ketika ia mendudukkan dirinya berhadapan dengan Yifan yang sedang asyik menyesap Latte-nya.

"Tidak ada" jawab Yifan santai.

Dan hal itu sukses membuat Yunho geram padanya. Jelas-jelas ia melihat dan mendengar Yifan dan istrinya yang ribut di meja makan. Tapi Yifan menjawab dengan santai bahwa tidak ada yang ia ributkan?

"Ini sarapanmu.."

Changmin kembali ke meja makan dengan menyajikan omelet daging sapi spesial untuk Yifan.

"Terima kasih, manis.." Yifan tersenyum manis yang dibalas oleh Changmin sebelum mendudukkan dirinya di samping Yunho.

"Ekhem! Bisa kau ubah penggilanmu pada istriku?"

Pertanyaan Yunho untuk Yifan membuat Changmin menatapnya terkejut tetapi Yifan hanya mengangkat bahunya santai.

"Maaf, aku sudah terbiasa memanggilnya 'Changdollahku yang manis'.. Dan aku rasa, aku tak bisa mengubahnya"

Jawaban Yifan memberikan Yunho kepastian..

Bahwa ia telah mencetuskan api peperangan di antara mereka berdua.

o

oo

ooo

Pukul lima lebih lima belas menit Yunho kini sudah menapakkan kakinya di depan apartemennya. Ia tentu tak akan menyia-nyiakan satu minggu yang diberikan untuknya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang selama ini ia perbuat pada Changmin. Satu minggu yang kini hanya tersisa lima hari lagi.

Maka Yunho pun dengan antusias memiliki rencana untuk makan malam bersama Changmin malam ini.

Lalu bagaimana dengan Yifan?

Arrrgh!

Yunho benar-benar dibuat frustasi pada sosok tampan berambut pirang itu! Karena Yifan selalu mempunyai ide untuk mengganggu momen kebersamaannya bersama Changmin.

Dengan tergesa, Yunho menekan enam digit angka sebagai password apartemennya.

Klik!

Dan begitu pintu apartemennya terbuka, Yunho benar-benar dibuat takjub bukan main.

Bukan takjub pada sesuatu yang positif. Melainkan ke arah negatif.

Jika biasanya saat pintu apartemennya terbuka, Changmin akan langsung menyerbunya dengan senyuman manis dan pelukan serta kecupan di pipi. Kini istrinya itu justru sedang tertawa terbahak-bahak di depan tv sambil memainkan games bersama pria lain yang tak lain dan tak bukan adalah Yifan. Pemuda yang mengaku sebagai sahabat Changmin namun secara terang-terangan ingin mengambil Changmin darinya.

"Ahahaha dasar idiot! Masa gerakan seperti itu saja kau tidak bisa!"

"Ck! Dasar cerewet! Aku kan tidak pernah memainkan yang seri ini!"

Yunho yang sudah akan menghampiri Changmin, kini kembali memundurkan langkah kakinya begitu mendengar suara tawa Changmin yang begitu khas dan renyah.

Sejak mereka bertemu kembali setelah 10 tahun mereka berpisah, Yunho sadar bahwa ia tak pernah sekalipun membuat Changmin tertawa.

Tapi kini?

Untuk kesekian kalinya ia melihat Changmin yang begitu berwarna saat bersama Yifan.

Mulai dari Changmin yang berteriak kesal, Changmin yang marah-marah, Changmin yang tersenyum manis, hingga Changmin yang tertawa lepas.

Sedangkan saat bersamanya? Changmin hanya bisa menangis dan tersenyum manis dengan terpaksa.

Apa keberadaanku hanya akan membebaninya?

Apa aku salah jika ingin tetap mempertahankan pernikahan ini?

Yunho membalikkan tubuhnya secara perlahan, tak ingin menambah luka di hatinya dengan menyaksikan kebersamaan Changmin dan Yifan.

"Yunho hyung.."

Namun suara lembut Changmin menyapa telinga Yunho saat ia hendak berjalan menuju kamarnya.

"Kau sudah pulang?"

Changmin menghentikan kegiatan bermain gamesnya dan menghampiri Yunho dengan segera.

"Kenapa tidak bilang kalau Yunho hyung sudah pulang?"

Setelah mengecup singkat pipi Yunho dan memeluknya sekilas, jari jemari lentik Changmin mulai membuka simpul dasi di kerah Yunho.

"Aku tidak mau mengganggu acaramu dengan Yifan"

Ucapan datar Yunho membuat gerakan tangan Changmin berhenti dan menatap mata musangnya dengan tatapan bingung.

"Sudahlah.. Tidak usah dibahas"

Yunho mengusak rambut Changmin dengan lembut dan berjalan melewati Changmin begitu saja. Membuat Changmin semakin tidak mengerti, apa yang terjadi dengan Yunho-nya.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Changmin memilih untuk menyusul Yunho ke dalam kamar mereka.

Baik Yunho maupun Changmin, tak menyadari bahwa Yifan menyaksikan semuanya. Memperhatikan interaksi keduanya dengan bungkam. Dan setelah Changmin benar-benar memasuki kamarnya menyusul Yunho, barulah Yifan tersenyum ambigu.

"Dasar pasangan bodoh!"

o

oo

ooo

"Kalian mau kemana?" tanya Yifan mengernyit heran melihat penampilan Yunho dan Changmin yang rapi bersiap akan pergi.

"Kami mau makan malam di luar.. Kau mau titip sesuatu?" tawar Changmin ceria yang kini menggandeng lengan Yunho begitu mesra.

"Aku ikut!"

"MWO?!" teriak Yunho dan Changmin bersamaan.

"Kenapa? Kalian tega membiarkanku kelaparan di sini sendirian?"

"Tapi.. kami mau.."

"Berkencan?" potong Yifan pada kalimat Changmin yang menggantung. Dan Changmin mengangguk imut sambil merona malu.

"Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian.. Kita double date! Ayo!" Yifan tiba-tiba saja keluar apartemen mendahului Changmin dan Yunho yang saling berpandangan bingung.

'Kenapa jadi begini?' Yunho menghela nafas frustasi.

.

.

.

Yunho menyetir mobil dengan mood-nya yang jatuh memburuk. Sementara istrinya duduk di sampingnya sambil bersenandung riang dan sesekali bercanda gurau dengan pria yang duduk di jok belakang. Siapa lagi kalau bukan, Yifan.

"Hei.. Bagaimana kalau kita makan di sana! Kudengar, restoran itu baru buka seminggu yang lalu" tunjuk Yifan pada sebuah restoran pada sebelah kiri jalan yang berada 20 meter di depan.

"Ne, Yunho hyung! Kita makan disana ya?"

Demi mengabulkan permintaan sang istri tercinta, akhirnya Yunho menepikan mobilnya dan menyetujui restoran yang dipilih Changmin.

Namun keduanya tak menyadari..

Bahwa kini Yifan tengah menyeringai misterius.

.

.

.

Yunho, Changmin, dan Yifan memilih sebuah ruang VIP untuk acara makan malam spesial mereka. Walau tampak sekali hiasan dan dekorasi nuansa modern, nyatanya suasana yang ada di restoran tersebut entah mengapa rasanya tak asing bagi Yunho. Seolah, ia memiliki kesan tersendiri terhadap nuansa yang sama dengan restoran yang pernah ia kunjungi sebelumnya.

"Mana kekasihmu? Kau bilang kita akan double date!" tuntut Changmin pada Yifan yang dengan santainya langsung memilih makanan pada buku menu yang saat ini ia pegang.

"Tunggu saja sebentar lagi" jawab Yifan tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu di hadapannya.

Sebenarnya, jika diperhatikan lebih seksama, Yifan tidak sepenuhnya memberi perhatian pada buku menu yang ada di tangannya. Karena kenyataannya, ia melirikkan matanya ke seluruh penjuru restoran berharap bisa menemukan seseorang yang kini tengah ia cari.

"Permisi"

Tiba-tiba saja Yifan bangkit dari duduknya dan hal itu tentu saja mengundang perhatian dari Yunho dan Changmin yang saling memandang bingung.

"Silahkan duduk.."

Belum berapa lama, Yifan kini sudah kembali ke mejanya dengan mempersilahkan seseorang untuk duduk di sebelah kursinya.

"!"

DEG!

.

.

.

Hening melanda keempat pasang mata yang kini duduk melingkari sebuah meja kelas VIP tersebut.

Yunho dan Changmin sungguh terkejut dengan seseorang yang baru saja Yifan bawa untuk duduk bersama mereka.

"Aku rasa.. aku tidak perlu mengenalkannya lagi pada kalian.." Yifan berucap sambil tersenyum misterius.

"Bukankah begitu?—" Yifan memandang lembut sosok yang duduk di sampingnya saat ini.

"—Kyungsoo?"

Kyungsoo memandang Yifan bingung, namun pada akhirnya ia mengangguk setuju dan menundukkan wajahnya karena tak berani menatap wajah Yunho dan Changmin di hadapannya.

Keheningan yang memuakkan kini menyelimuti keempat pemuda yang ada di meja tersebut. Terlebih, Kyungsoo sebenarnya bingung bukan main. Karena ia tak mengenal Yifan sama sekali. Pemuda berambut pirang itu tiba-tiba saja menariknya dan membawanya ke mejanya. Dan yang lebih mengejutkannya, Kyungsoo kini dihadapkan pada sepasang suami istri yang pernah hinggap di hidupnya.

"Mm.. Bagaimana kabarmu, Kyungsoo?" tanya Changmin yang pada akhirnya bisa mengendalikan keterkejutannya.

"Baik, Sunbae.. Bagaimana denganmu?"

"Aku.. juga baik.."

Hening kembali melanda setelah Changmin dan Kyungsoo menanyakan kabar masing-masing kemudian meninggalkan kecanggungan yang sangat terasa.

Namun Kyungsoo yang awalnya hanya bisa menundukkan wajahnya, kini bahkan mulai menatap Yunho dengan penuh kerinduan yang kentara sekali. Membuat Changmin mau tak mau cemburu saat melirik Yunho yang ternyata membalas tatapan Kyungsoo padanya.

"Kudengar, kau baru saja membuka restoran ini seminggu yang lalu.." ucap Yifan membuka pembicaraan, karena ia tak tahan melihat tatapan sedih Changmin. Maka dengan sengaja Yifan bertanya pada Kyungsoo agar ia bisa memutus kontak matanya dengan Yunho.

"Ne.. ini restoran kedua yang aku miliki.. By the way, kalian ingin pesan apa? " jawab Kyungsoo dengan lembut.

"Bagaimana kalau kau yang memesankan untuk kami?" tawar Yifan yang diangguki oleh Kyungsoo.

"Bagaimana dengan Yuk Gae Jang, Baechuseon, Malgeun-guk, dan.. Ah! Yunho hyung suka sekali Sundubu jjigae!"

Kyungsoo tampak antusias memilihkan makanan dan tanpa sadar bahwa ia begitu hafal akan makanan yang biasa Yunho pesan di restorannya terdahulu.

'Bahkan Kyungsoo begitu hafal akan makanan yang Yunho hyung suka..' batin Changmin meringis.

"Wah.. Kau hafal sekali makanan kesukaan Yunho.." sindir Yifan yang membuat Kyungsoo dan Yunho merasa canggung dan tak enak hati pada Changmin yang memilih menundukkan wajahnya.

"Aku mau pesan Strawberry smoothies dicampur milkshake cokelat, satu.."

Changmin sontak menegakkan kepalanya menghadap Yifan begitu mendengar pesanan yang baru saja Yifan sebutkan. Karena itu adalah minuman favorit Changmin ketika moodnya sedang buruk.

"Spesial untukku.." sambung Yifan sambil melirik ke arah Changmin yang kembali menundukkan wajahnya bersedih. Karena Changmin pikir, minuman itu untuknya.. Tapi ternyata, Yifan memesan itu untuk dirinya sendiri.

Sementara Yifan? Sebenarnya ia merasa tak tega untuk sedikit mempermainkan perasaan Changmin saat ini. Tapi minuman yang baru saja ia pesan, sebenarnya memang ia tujukan untuk Changmin.

"Maaf, aku permisi dulu.. Karena masih banyak yang harus aku kerjakan.."

Setelah perbincangan canggung dan urusan pemesanan makanan selesai, Kyungsoo memilih untuk undur diri. Karena ia cukup sadar diri, bahwa kehadirannya di meja tersebut hanya mendatangkan kecanggungan dan ketidaknyamanan.

Dan setelah Kyungsoo pergi, barulah Yunho menyadari satu hal..

Bahwa Yifan memang sengaja mengajak mereka ke tempat makan itu. Bahkan ia juga berbohong untuk mengajak teman kencannya makan malam.

Namun baru saja Yunho ingin memaki Yifan, makanan yang mereka pesan sudah datang.

"Untukmu.." Yifan menggeser minuman yang ia pesan untuk Changmin. Dan Yunho tentu melihat hal tersebut.

Ketika Yifan memberikan minumannya sambil tersenyum lembut dan Changmin yang menerimanya dengan tersenyum manis. Maka Yunho pun memilih bungkam pada interaksi keduanya demi mendapati wajah manis Changmin yang menyeruput minumannya dengan senyum berseri.

Yunho benar-benar merasa kalah telak.

Bukan hanya ia tidak mengetahui apa yang disukai Changmin, tapi ia juga tak bisa membuat Changmin tertawa dan tersenyum seperti yang Yifan lakukan pada Changmin.

Tes!

Tanpa sadar,

Setitik air mata berhasil menyeruak dari mata musang milik Yunho. Namun ia segera menghapusnya dalam hitungan detik hingga Changmin tak menyadarinya.

"Maaf.."

Yifan dan Changmin yang sudah siap untuk menyantap makan malam mereka mendadak menghentikan gerakan tangan mereka dan menoleh pada Yunho.

"Aku lupa.. Ada janji meeting dengan klien malam ini.." Yunho menatap Changmin dengan sendu sementara Changmin menatap Yunho dengan kecewa.

"Kau lanjutkan saja makan malamnya bersama Yifan.. Aku harus pergi sekarang.."

Setelah mengusap rambut Changmin dengan lembut, Yunho bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Changmin berdua dengan Yifan.

Kencan yang selama ini Changmin impi-impikan.. Kini gagal tak terlaksana..

"Menangislah.." bisik Yifan dengan sorot mata terluka melihat Changmin yang memandang kosong kepergian Yunho.

Dan di detik berikutnya, Changmin tak kuasa menahan air matanya yang mengalir keluar.

.

.

.

Yunho hanya beralasan pada Changmin untuk bisa keluar dari restoran itu. Bukan karena ia seorang pengecut yang pergi begitu saja menghindari masalah. Tapi karena ia tidak ingin menyakiti hati Changmin lebih dalam lagi jika dirinya terlalu lama di sana.

Yunho tak buta untuk melihat kesedihan di mata Changmin saat mengetahui ada Kyungsoo di sana. Dan Yunho juga dapat melihat dengan jelas bahwa Yifan bisa mengembalikan keceriaan Changmin kembali dengan usahanya yang tak pernah Yunho bayangkan.

Oleh sebab itu, Yunho ingin memberikan waktu bagi Changmin untuk menumpahkan perasaannya pada Yifan, sahabatnya.

Dan di sinilah Yunho sekarang.. Berdiam diri di depan restoran Kyungsoo yang baru, sambil menatap kosong lampu jalan.

Ada perasaan sesak yang menghimpitnya saat ini..

Ketika ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Changmin, semuanya justru hancur berantakan. Dan Yunho mulai ragu untuk kembali pada Changmin.

Bukan. Bukan karena ia sudah tidak mencintai Changmin lagi. Tapi justru karena ia sangat mencintai Changmin hingga tak ingin lagi menyakiti Changmin sedikitpun.

Ia takut, jika kebersamaannya dengan Changmin hanya akan membuat Changmin bersedih dan terluka.

Ia takut..

Jika Yifan memang yang terbaik untuk Changmin-nya.

"Yunho hyung?"

Yunho mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Dimana kini Kyungsoo berdiri di depan pintu restorannya.

"Sedang apa di sini?" tanya Kyungsoo menghampiri Yunho yang bergeming di tempatnya. Dan Yunho hanya menggelengkan kepalanya ringan sambil kembali menghadapkan wajahnya ke arah lampu jalan.

Merasa bisu adalah suatu hal yang bijak, maka Kyungsoo pun hanya bisa kembali bungkam.

"Bagaimana menurutmu tentang Yifan?" tanya Yunho tiba-tiba yang membuat Kyungsoo mengernyit bingung.

"Maksudmu, pemuda berambut pirang itu?"

"Hm" jawab Yunho melalui gumaman.

"Dia.. Tampan.."

Yunho menghela nafas frustasi mendengar jawaban polos Kyungsoo.

"Bukan itu maksudku.. Tapi.. Apakah menurutmu.. Yifan.. cocok jika bersanding dengan.. Changmin?"

Kyungsoo menatap Yunho tak percaya dan ia dibuat sangat terkejut ketika ia justru melihat Yunho yang menangis sambil memejamkan matanya.

"Hyung.." lirih Kyungsoo iba.

"Jawab saja pertanyaanku" ucap Yunho dengan suara bergetar tanpa menghentikan air matanya yang mengaliri rahang tegasnya.

Grep!

Kyungsoo yang tak tega melihat Yunho menangis akhirnya memeluk tubuh Yunho dengan begitu erat.

Dan di saat itulah..

Yifan dan Changmin memutuskan untuk keluar dari restoran tersebut.

Membuat Yifan dan Changmin menyaksikan Kyungsoo yang kini tengah memeluk erat Yunho.

Tes!

"Yunho hyung.." lirih Changmin sambil membekap mulutnya guna menghalau isak tangisnya yang pecah begitu saja.

Tap

Changmin memundurkan langkah kakinya dengan tetap membekap mulutnya dan menangis terisak.

"Changdollah!" teriak Yifan ketika Changmin tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya dan berlari pergi.

Dan teriakan Yifan tersebut, berhasil membuat Yunho dan Kyungsoo tersentak kaget hingga melepaskan pelukan mereka.

"Changdollah.." lirih Yunho hendak mengejar Changmin namun dihalau oleh Kyungsoo yang memegangi lengannya.

"Biar Yifan yang mengejarnya.. Lebih baik Yunho hyung pulang saja dan tunggu Changmin sunbae.. Bicarakan masalah kalian dengan kepala dingin.. Aku yakin.. Bahkan sangat yakin. Kalau Changmin sunbae sangat mencintaimu.." ucap Kyungsoo sebelum akhirnya pergi masuk ke dalam restorannya.

o

oo

ooo

"Aku akan menandatanganinya.." ucap Changmin lirih sambil menatap pantulan lampu-lampu jembatan di Sungai Han.

Dan Yifan yang mendengarnya segera menjajarkan dirinya di samping Changmin.

"Kau yakin bisa bahagia setelah menandatangani surat perceraian itu?"

"Bukankah kau berjanji untuk melamarku? Dan membantuku menjemput kebahagiaanku?"

Yifan memandang teduh raut wajah sendu Changmin yang tak lepas dari hamparan sungai di hadapannya.

"Bukankah kita akan bahagia jika bersama orang yang kita cintai?" Changmin akhirnya memandang Yifan dengan mata bulatnya yang basah. "Dan orang yang kau cintai adalah Yunho.. Bukan aku.." ucap Yifan tenang.

"Tapi.. Bagaimana jika ternyata Yunho hyung yang tidak mencintaiku?" Changmin kembali meluruskan pandangannya pada sungai Han.

"Jika Yunho tidak mencintaimu, ia pasti sudah menandatangani surat perceraian itu sejak awal"

o

oo

ooo

Malam itu Yunho tak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Ia hanya bisa duduk gelisah di ruang tamu hingga tanpa sadar pagi menjelang. Rupanya, Changmin tak pulang dan bahkan ponselnya tak bisa dihubungi sama sekali.

Klik!

Hingga akhirnya pintu apartemennya terbuka, membuat Yunho tersentak kaget begitu pula dengan Changmin dan Yifan yang melihat Yunho masih mengenakan pakaiannya yang semalam dengan keadaan berantakan.

Dengan raut khawatir, Yunho menghampiri Changmin dan menatapnya tepat di mata. Membuat Changmin menundukkan wajahnya cepat-cepat menghindari tatapan mata Yunho yang selalu bisa melumpuhkannya.

"Biarkan Changdollah istirahat dulu.." Yifan berucap sebelum menggandeng tangan Changmin dan membawanya menuju kamar Yunho dan Changmin. Membuat Yunho kembali merasa terpuruk ditinggalkan begitu saja oleh Changmin.

Tes!

Lagi, setetes air mata berhasil keluar dari mata musangnya yang akhir-akhir ini terlihat sendu.

o

oo

ooo

Yunho hanya bisa memandangi punggung Changmin yang tertidur membelakanginya.

Jarak mereka sangatlah dekat..

Hanya segapai tangan, bahkan Yunho bisa merengkuh tubuh istrinya yang kini tidur di ranjang yang sama dengannya.

Namun kenapa rasanya seperti ada ribuan kilometer jarak yang membuat Yunho tak bisa merengkuh Changmin dalam dekapannya.

Tes!

"Maafkan aku.." Yunho berbisik lirih di balik punggung Changmin.

"Aku.. hiks.."

Yunho mengangkat tangannya yang satu senti lagi menyentuh rambut halus Changmin.

"Aku sangat mencintaimu.."

Namun Yunho kembali menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya memunggungi Changmin.

Tanpa ia ketahui, bahwa Changmin tak benar-benar tertidur saat itu. Dan ia hanya bisa menangis dalam diam ketika mendengar pernyataan cinta Yunho untuknya.

o

oo

ooo

"Bagaimana, Jia Heng?"

"Mereka benar-benar pasangan yang bodoh, Paman!"

Terdengar kekehan kecil dari seberang sambungan telepon yang Yifan pegang.

"Bodoh bagaimana maksudmu?"

"Ck! Jelas-jelas mereka itu saling mencintai! Tapi justru malah saling menyakiti satu sama lain" gerutu Yifan pada telepon genggamnya.

"Jadi.. bagaimana selanjutnya?"

"Paman tenang saja, akan kupastikan mereka membakar surat perceraian itu! Aku tidak akan mengingkari janjiku untuk membuat Changdollah bahagia.."

"Aku banyak berhutang budi padamu, Nak.. Bagaimana caraku membalas kebaikanmu?"

o

oo

ooo

"Aku punya tiket masuk taman bermain untuk kalian berdua!" Yifan meletakkan secarik kertas di atas meja makan di hadapan Yunho dan Changmin.

"MWO? Tiket Couple?" seru Changmin tak percaya pada tulisan yang ada di tiket tersebut.

"Kenapa? Kalian kan suami istri! Tidak masalah bukan?"

Sementara Changmin bimbang, Yunho malah memandangi Changmin dengan penuh harap. Karena ini merupakan kesempatannya yang terakhir untuk kencan berdua dengan sang istri. Karena hari ini adalah hari keenam dari yang dijanjikan oleh orangtua mereka.

"Sudah sana pergi! Anggap saja ini hadiah kencan dariku karena aku sudah diperbolehkan menginap di sini!" usir Yifan dengan santai mengibaskan tangannya ke arah Yunho dan Changmin.

"Yak! Kau mengusir kami?! Kau lupa ini apartemen kami?!" sungut Changmin melihat ketidaksopanan Yifan.

"Baiklah, kami pergi.." ucap Yunho sambil mengulurkan tangannya pada Changmin.

Sebenarnya, Changmin masih ingin memarahi Yifan. Tapi apa boleh buat, ia juga tak ingin membuat Yunho terlalu lama menunggu sambutan tangannya.

Sementara Yifan yang melihat tautan jemari Yunho dan Changmin, kini menaikturunkan alis tebalnya untuk menggoda Changmin sambil tersenyum ambigu.

"Awas kau!" ancam Changmin sebelum akhirnya pergi bersama Yunho meninggalkan apartemen itu.

o

oo

ooo

"Jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu dariku!" bisik Yunho di telinga Changmin ketika melihat pemandangan di taman bermain tersebut. Jujur saja, sebenarnya mereka syok bukan main, karena pengunjung taman bermain hari itu sangat banyak sekali. Dan ditambah, mereka tampak berpasang-pasangan.

Awalnya, Changmin tampak ragu jika harus mengikuti rangkaian permainan dan acara yang harus dilakukan berpasang-pasangan. Tapi entah mengapa, Yunho tampak serius sekali melakukannya. Hingga mau tak mau Changmin dibuat tersenyum bahagia saat Yunho bersusah payah melewati rintangan di kolam arus demi mendapatkan sebuah boneka besar untuknya.

"Emm.. Yunho hyung.." panggil Changmin malu-malu sambil memeluk boneka teddy bear besar hadiah Yunho memenangkan permainan.

"Ya?" sahut Yunho memandang teduh Changmin dengan peluh membasahi wajahnya.

"Yunho hyung tidak harus melakukan semua permainan itu.. Lihat! Sampai berkeringat seperti ini.." Changmin akhirnya mengeluarkan sapu tangannya dan mengusapkannya pada wajah Yunho dengan lembut.

"Aku akan melakukan apa saja untukmu.. Untuk membuktikan seberapa besar cintaku padamu.."

Blush!

Pergerakan tangan Changmin di wajah Yunho mendadak berhenti seirama dengan rona merah muda yang menjalar di wajahnya.

"Maaf.." ucap Yunho sambil meraih tangan Changmin di wajahnya dan mengecupnya dengan lembut.

"Maafkan aku yang selama ini menyakitimu.." Yunho berucap tulus sambil membawa tangan Changmin menuju dada sebelah kirinya. Tempat dimana jantungnya kini berdetak cepat ketika bersama Changmin.

Dan Changmin berusaha menyelami tatapan lembut Yunho padanya demi mendapati ketulusan dan kejujuran di sana.

"Maafkan aku yang selalu membuatmu menangis dan terluka.."

"Aku sudah memaafkanmu.. Aku selalu memaafkanmu.." jawab Changmin sambil tersenyum manis. Benar-benar manis sampai rasanya Yunho telah menemukan sesosok malaikat yang begitu cantik di hadapannya.

Dan Yunho benar-benar merasa bahagia mendengar kalimat yang diucapkan Changmin hingga tanpa sadar ia tersenyum lebar dengan sebulir air mata berhasil menyeruak dari mata musangnya.

o

oo

ooo

"Bagaimana kencan kalian hari ini?" tanya Yifan to the point saat Yunho dan Changmin tiba di apartemen mereka.

"Biasa saja.." jawab Yunho datar sambil menggendong Changmin bridal style ke kamar mereka.

"Ck! Apanya yang biasa saja? Mengaku biasa saja, tapi sudah menggendong mesra begitu!" gerutu Yifan sambil melanjutkan kembali kegiatannya menonton televisi.

.

.

.

"Kau mau kemana Yifan?" tanya Changmin heran melihat Yifan duduk di meja makan saat sarapan pagi, berdandan rapi dan membawa serta koper besarnya.

"Ada yang aku ingin bicarakan dengan kalian"

Yifan menatap Yunho dan Changmin yang duduk dihadapannya dengan serius.

"Sebenarnya, tujuanku menginap di sini untuk mendapatkan kepastian tentang ini.." Yifan membawa sebuah map biru ke atas meja dan menghadapkannya pada Yunho dan Changmin yang membelalak terkejut.

"Ayo tunggu apalagi? Cepat tanda tangani! Bukankah waktu satu minggu untuk kalian sudah habis?"

Yunho dan Changmin kini saling berpandangan satu sama lain dengan tangan yang saling bertaut.

"Kalau kalian tidak mau menandatanganinya, bakar saja surat itu!"

"Oke! Aku akan bakar sekarang juga!" Yunho yang tersulut emosinya kini meraih map biru tersebut untuk dibawanya ke atas kompor gas.

"Sebelum aku membakar surat ini, kutegaskan satu hal padamu, Yifan! Aku. Tidak. Akan. Menyerahkan. Istriku. Pada. Siapapun!"

Masih dengan penuh emosi, Yunho menyalakan kompor gas di dapur tersebut dan membakar map biru berisi surat perceraiannya dengan Changmin.

Dan hal itu tentu saja membuat Yifan tersenyum dalam hati.

"Baiklah, saatnya aku pergi sekarang.." Yifan bangkit berdiri sambil memasang kacamata hitam Rayban-nya. "Karena semakin lama aku di sini, semakin lama juga aku akan mendapat keponakan dari kalian" ucap Yifan sambil menggeret kopernya cepat-cepat keluar apartemen, sebelum..

"Yifaaaaan! Apa maksud perkataanmu, idiot?!" maki Changmin yang baru menangkap maksud perkataan Yifan.

"Tapi kurasa tidak ada yang salah dengan perkataan Yifan.." ucap Yunho yang telah selesai membenahi sisa pembakaran map biru di tangannya tadi dan menghampiri Changmin untuk memeluk lehernya dari belakang.

"Kenapa kita tidak mencoba memberikan cucu untuk orangtua kita?" bisik Yunho di telinga Changmin dengan seduktif.

"Ish! Yunho hyung mesuuum~!" Changmin cepat-cepat berdiri dari duduknya dan menutup sebagian wajahnya yang merona dengan kedua tangan sambil berlari ke kamar.

Dan Yunho hanya bisa menyeringai kecil mengikuti Changmin ke kamar dan mengunci kamar tersebut rapat-rapat.

"Kyaaaa~! Kenapa Yunho hyung membuka pakaian seperti itu?!" teriak Changmin dari dalam kamarnya.

Biarlah..

Biarkan saja mereka membolos dari aktivitas sehari-hari mereka untuk sementara. Karena aktivitas yang saat ini mereka lakukan, jauh lebih penting dari apapun.

.

.

.

END

.

.

.

~ EPILOG ~

Yifan menggerutu sepanjang koridor rumah sakit sambil membawa segala macam perlengkapan bayi yang Changmin titipkan padanya.

"Haah.. Dimana keponakanku?" ucap Yifan menghela nafasnya lelah ketika sampai di dalam ruang inap Changmin yang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki.

Dan begitu Yifan sampai di sana, keempat orangtua Yunho dan Changmin tampak mengelilingi ranjang Changmin yang tengah menggendong bayi mungilnya bersama Yunho yang menciumi wajah Changmin dan bayinya bergantian.

"Jia Heng.. Kemarilah, Nak!" ajak Tuan Shim pada Yifan yang menghampiri ranjang Changmin dengan segala barang bawaannya di tangan kanan dan kirinya.

"OH!"

Brug!

Tiba-tiba saja Yifan menjatuhkan segala macam barang bawaannya dan mematung bisu dengan memasang wajah yang begitu bodoh.

"Hai Yifan! Ini anakku, Jung Zitao.." ucap Changmin sambil menghadapkan wajah menggemaskan bayinya ke arah Yifan yang terperangah tak percaya.

Yifan seolah terhipnotis pada bayi bersurai hitam dengan mata bulat yang dihiasi kantung mata yang indah, hidungnya yang mancung, serta bibir curvy yang imut seperti kucing sehingga mengundang Yifan untuk segera mengecup bibir berwarna merah itu.

"Paman Shim.. Bukankah kau bilang aku boleh meminta apapun padamu untuk membalas budi padaku?"

Yifan berucap tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah menggemaskan bayi Yunho dan Changmin yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya.

"Ne.. Apapun.." jawab Tuan Shim pasti.

"Aku.. hanya ingin satu hal, Paman.. Aku ingin menikah dengan cucumu!"

"MWO?!" ucap semua kepala yang ada di ruangan itu.

'Kupikir, ia sosok pemuda yang begitu sempurna.. Tapi ternyata dibalik kesempurnaannya.. Ia seorang Pedofil!' batin Tuan Shim tersiksa.

"Yak! Apa-apaan kau idiot?!" maki Changmin yang kini memeluk bayinya posesif.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh anakku seujung rambutpun!" kini giliran Yunho yang memandang Yifan dengan garang.

"Jebaaal~ Izinkan aku menjadi menantu kalian!" ucap Yifan sambil berlutut pada Yunho dan Changmin.

.

.

.

Dan berakhir dengan tidak jelas. Hahaha

Maaf yaa yang sudah menunggu lama chap terakhir ini. Karena nanachan memang sengaja update tanggal segini. Because Today is My Birthday! Yeeaa~ *tiup terompet*

Terima kasih untuk yang bersedia meluangkan waktunya membaca ff nanachan ini. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk membuat tulisan nanachan lebih baik lagi.

Terima kasih untuk reviewer yang sudah memberikan kontribusinya dalam penulisan ff ini! *ketcup basah dari nanachan*

Last, utk ff yang Me and My Brothers baru bisa nanachan update minggu depan. Utk yang request ff juga sedang dikerjakan. Jadi, harap sabar menunggu ^.^