Happy Reading

.

.

.

Pintu berderit membuka, baik Psyche maupun Izaya menatap kearah sumber suara dan mendapati Roppi yang sedang bersandar pada kusen pintu dengan tangan terlipat di dada. Matanya menatap awas pada Izaya yang baru saja menyelesaikan makan malamnya. Memberi perintah diam pada Psyche untuk menyingkir.

Awalnya Psyche merajuk, namun intimidasi Roppi sudah cukup untuk membuatnya tunduk. Dia mengambil nampan Izaya dan pamit mundur, "Psyche akan menemui Iza-chan lagi." Dia menghilang di balik pintu sambil melambai gembira. Izaya tak memiliki kuasa untuk tidak tersenyum. Psyche dengan sikap manjanya yang seperti adik. Meski dia adalah pembunuh, Izaya tak bisa berhenti memberikan empati penuh kasih pada orang itu.

Namun sekarang yang ada di hadapannya adalah Hachimenroppi. Berbeda dengan Psyche yang childish, Roppi membawa kesan yang menakutkan.

"Hachimenroppi."

Roppi mendengus, melangkah masuk dan berjalan kearahnya dengan tatapan yang tak berhenti mengawasinya. "Kau tahu tentang kami?"

Izaya mengalihkan perhatiannya pada apapun selain kilat mata Roppi yang mengancam, "Ah terimakasih untuk kemarin dan ..."

"Kau tahu tentang kami." Roppi merubah pertanyaannya menjadi pernyataan. Dia duduk tepat di sebelah Izaya. Membuat Izaya beringsut menjauh dengan waspada. Namun tangan Roppi berhasil menekan pergerakannya, dengan mengambil dagu Izaya yang memaksanya menatap kedua irisnya. "Lihat aku jika sedang bicara tuan!"

Bohong jika Izaya berkata tidak merasa terancam. Berbeda dengan semalam tidak ada sedikitpun empati yang terlihat di kedua mata Roppi yang berkilat, "kenapa kau membawaku kemari?"

"Pertama perkenalkan dirimu!" Roppi menuntut. Dia tidak menjauhkan dirinya dari Izaya. Malah semakin beringsut mendekat. Namun ketika melihat mata Izaya yang masih membengkak. Dia menghela nafas, "maaf."

Izaya mengerjap, tidak mengerti dengan perubahan situasi yang terjadi. Kenapa seorang Hachimenroppi yang terkenal kejam meminta maaf padanya. Mungkin jika dia adalah Orihara Izaya yang lama dia akan menyeringai senang. Tapi jati diri itu masih terkubur, perlu waktu untuk menggalinya kembali. Dan dari semua orang di dunia ini kenapa Hachimenroppi lah yang ada di depannga ketika dia benar-benar hancur?

Izaya menjauhkan tangan Roppi dari dagunya, "Aku Orihara Izaya."

"Orihara Izaya?" Roppi mengulang perkenalan Izaya dengan sebelah alis yang terangkat dalam rasa penasaran. "Ah pantas saja aku merasa mengenalimu."

Tubuh Izaya menegang, dengan segera dia melompat mundur dan menjauh seolah di todong senjata. "Lalu?"

Roppi menyamarkan tawa dengan sebuah dengusan. Kemudian berjalan kearah Izaya yang memegang kepalanya karena gerakan tiba-tiba dan menarik sebelah tangannya. Menjatuhkannya kembali pada tempat tidur, "Meski kau melawan kau tidak bisa pergi, Izaya."

Izaya merintih, dia tahu benar dirinya tidak akan bisa menang melawan Roppi. Tanpa senjata. Fisik yang belum pulih sepenuhnya, ah tidak bahkan setelah dia pulihpun Izaya tak yakin dapat mengalahkan atau bahkan hanya kabur dari Roppi. Matanya bahkan seolah mengerti gerak-gerik sekecil apapun yang Izaya timbulkan.

"Jadi kenapa kau membawaku kemari?" tuntut Izaya.

"Aku hanya membawamu yang tertidur." Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menyembunyikan rona yang secara tipis muncul ke permukaan. "Aku juga tidak mengerti kenapa aku membawamu kemari, alih alih meninggalkanmu di hotel atau mungkin rumah sakit."

Hanya perasaannya saja atau gambaran seorang Hachimenroppi jauh meleset dari imajinasinya? Dia pikir Roppi hanya orang kejam yang tidak mempunyai perasaan. Tapi .. Oh ... Kemudian wajahnya memanas. Mengingat kejadian tadi malam di mana dia menangis tersedu di pelukan orang ini.

Izaya menatap Roppi dari sela-sela poninya, "Kau mendengar apa saja kemarin?"

Roppi secara mengejutkan ikut terdiam, seolah tidak menyangka dari sekian banyak pertanyaan penting Izaya hanya akan menanyakan itu?

"Bukankah ada hal yang lebih penting dari pada itu untuk ditanyakan?" dia menjeda. Berpikir pertanyaan apa yang sekiranya lebih berarti ketimbang pertanyaan remeh dari Izaya barusan. Namun nyatanya dia ingin mengelak saja. "Seperti tentang apa yang akan terjadi padamu setelah ini?"

Dahi Izaya berkerut, "itu benar," gumamnya. "Tapi aku ingin tahu." Dia kembali mendudukkan diri, mendongak menatap Hachimenroppi yang berdiri.

Izaya tertegun ketika mendapati kilat mata Roppi yang tak dapat dibaca. Tidak seperti miliknya yang tak terbaca karena kelicikan. Roppi. Mata Roppi seperti batu yang seolah menyembunyikan banyak hal.

Roppi mendudukkan dirinya. Menghela nafas, dan menatap menembus Izaya. Pada punggung tempat tidur yang seolah lebih menarik ketimbang sepasang mata Izaya yang membuat perasaannya campur aduk.

"Kau hanya mengatakan tentang Shizuo, Shizu-chan."

"Apa yang kukatakan tentangnya?" tuntut Izaya tidak sabar.

Roppi menatap sangsi, bertanya-tanya apakah Izaya akan kembali menangis jika dia menceritakannya.

"Pengorbananmu untuk orang ini. Kau berkata menjadi seseorang seperti sekarang adalah karena dirinya." Roppi menatap seolah iri. Orang ini mau melakukan apa saja demi seseorang yang dicintainya. Jika saja dia bisa melakukan hal yang sama. Ah tidak jika saja dirinya lah yang menjadi obyek yang Izaya cintai. Roppi segera menepis pikiran itu. Sial apa yang dipikirkannya? "Aku heran apa maksudmu sekarang dengan dulu. Aku sama sekali tidak tahu kau. Kemudian kau menceritakan tentang Shizuo yang mengecewakanmu. Apa yang dikatakan Shizuo. Semuanya. Mungkin semuanya. Tapi kau tidak mengatakan apapun tentang dirimu sendiri."

Apa benar dia sudah mengatakan itu semua? Lalu kenapa orang ini jadi berempati padanya? Dia tidak dapat mengerti Hachimenroppi sekarang.

"Sebenarnya siapa Shizuo ini?" tanya Roppi tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.

"Suamiku," jawab Izaya lirih. "Dia suamiku tiga tahun terakhir."

"Seorang laki-laki?"

Izaya mengangguk ragu. Kemudian menatap Roppi dengan tatapan yang tidak lagi ragu, "Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan padaku?"

"Tetap tinggal."

"Kenapa?"

Roppi memandang Izaya dengan tatapan seolah mengerti, "memang jika kau pergi dari sini, kau akan melakukan apa?"

Izaya mematung. Apa yang akan dia lakukan?

Roppi berdiri, berjalan kearah pintu dan memutuskan untuk pergi. "Tidurlah. Kita bisa bicara besok."

Dan Izaya tidak lagi dapat menemukan sosoknya dibalik pintu. Izaya bisa mendengar rengekan Psyche di balik ruangan. Namun dia terlalu sibuk berpikir untuk tersenyum. Apa yang akan dia lakukan sekarang?

Semenjak itu Izaya benar-benar tidak bisa keluar ari flat ini. Roppi tidak pernah lupa mengunci semua pintu dan jendela di flat saat dia hendak tidur ataupun pergi untuk melakukan pekerjaannya. Izaya tidak di perbolehkan keluar. Dia benar-benar menjadi tahanan rumah. Psyche berkata itu adalah bentuk rasa peduli Roppi. Namun Izaya tidak bisa merasakan hal lain selain hasrat ingin memonopoli.

Roppi juga selalu mencoba mengalihkan perhatiannya dari pikirannya tentang Shizuo. Selalu membuatnya membicarakan hal lain selain itu. Izaya sadar akan usaha yang dilakukan Roppi untuknya. Namun tetap saja Izaya hanya mengubur kenangan itu, tidak menyembuhkannya. Rasa sakit di hatinya tidak jarang menyeruak disaat dia sendirian. Dan terkadang dia mendapati dirinya telah bergelung di tempat tidur dengan bekas jejak air mata.

Tidak ada tayangan televisi pula, hanya ada dvd yang secara rutin Psyche bawa untuk mengusir bosannya. Jadilah dia tidak tahu di kota mana dia berada. Dia pernah mencoba menginterogasi Psyche secara halus, namun meski begitu Psyche tetaplah pembunuh dengan kewaspadaan tinggi di setiap ucapannya.

Dan Izaya menyerah.

Hanya saja dia tak ingin tetap terseret rasa sakit yang selalu coba dia bendung. Setelah sebulan berlalu dia menemukan ide itu. Ide gila itu.

"Roppi," Roppi menatap Izaya yang baru saja memanggilnya. Dia baru saja kembali, dan dia tidak tahu dimana Psyche berada. "Ada yang ingin kubicarakan."

Roppi menatap tajam pada Izaya yang menyembunyikan ekspresinya dengan helai hitam yang terlihat sedikit lebih panjang dari sebelumnya, "Jika kau ingin keluar dari sini, pembicaraan sudah berakhir."

"Bukan itu," sanggah Izaya cepat.

"Lalu?"

Izaya menarik nafas panjang, menutup matanya dan membukanya kembali dengan keyakinan. "Biarkan aku bekerja dengan kalian."

Rahang Roppi mengeras, dia dengan segera mencengkram bahu Izaya dan mendorongnya pada dinding di sebelahnya. "Apa maksudmu?"

"Aku ingin menjadi pembunuh."

"Jangan bercanda, Izaya," geram Roppi. Matanya berkilat marah. Itu adalah pertama kalinya tatapan marah Roppi tertuju padanya. Sejujurnya itu membuatnya sedikit ragu. Atau takut?

Namun dia memantapkan diri, "Apa aku terlihat bercanda?"

Roppi mengerang. Dia mundur dan menghempaskan diri pada sofa dengan kasar. Permintaan Izaya tidak masuk akal. Roppi tidak membawa Izaya kemari untuk menjadikannya salah satu dari mereka.

"Ini pekerjaan yang kotor, Izaya. Orang penuh kasih sepertimu tidak seharusnya bekerja seperti kami. Tetaplah diam, dan biarkan kami bekerja."

"Aku kotor. Kalau kau lupa aku adalah Informan. Membuat keributan, mempermainkan hidup seseorang, membuatnya bunuh diri, membunuh mereka. Itu telah kulakukan. Aku bukan orang yang penuh kasih. Jangan pernah bicara bahwa aku adalah seseorang yang penuh kasih!"

"Kau tidak mengerti!" Roppi meraung keras. Menatap sengit pada Izaya yang masih menatapnya dengan keras kepala. "Kau tidak mengerti," dia menurunkan suaranya.

"Aku ingin membuang diriku. Jika membunuh adalah caranya maka akan kulakukan. Bahkan jika kemungkinannya hanyalah sepersekian persen. Aku ingin mencobanya. Jika itu bisa membuatku menjadi setengah iblis. Menjadi Orihara Izaya."

Izaya merosot. Kepingan memori merangsek masuk dan itu membuat matanya kembali panas.

"Itu berbahaya, Izaya." Suara Roppi melembut.

"Aku tahu," lirihnya.

Roppi berdiri, menarik Izaya dalam pelukannya. Dan berbisik di telinganya. "Baiklah."

Malam itu Izaya mulai melumuri tangannya dengan darah dan dosa.

Roppi mengajarinya dengan sangat baik. Meski pada awalnya Izaya adalah orang yang tangguh. Tapi melakukan pekerjaan ini menjadi jauh lebih mudah dengan adanya Psyche dan Roppi. Tanpa ampun. Tanpa emosi.

Psyche menyukai saat-saat dimana korbannya sekarat, Izaya menyukai saat-saat dimana dirinya mengejar mangsanya yang berada dalam ambang keputus asaan. Ia sangat menyukai saat mangsanya seolah memiliki harapan namun nyatanya tidak.

Namun berbeda dengan Roppi. Dia melakukan tugasnya dengan lugas. Kaku. Sekali serang. Bersih. Pergi. Karena dia membenci para manusia. Dia adalah mesin pembunuh yang sesungguhnya.

Apapun itu Izaya menyukai kehidupannya sekarang. Dia benar-benar hampir lupa dengan keberadaan Shizuo di hatinya. Dia benar-benar lupa dengan semuanya. Membunuh adalah cara yang ampuh untuk melakukannya. Mempemainkan manusia yang di cintainya. Melihat ekspresi mereka. Reaksi mereka. Dia menyukainya. Sesuatu yang tertahankan. Adiksi nya bertambah. Mempermainkan manusia, dan melenyapkan mereka.

Izaya terus melakukannya. Terus. Terus. Terus. Menggerus segala kasihnya. Menggerus segala iba miliknya. Dia menjadi iblis. Menjadi dirinya yang dia inginkan.

Dan Izaya tak berniat untuk berhenti.

Malam itu Izaya memutuskan untuk berjalan-jalan. Menyusuri lekuk kota yang dia tahu jauh dari Ikebukuro. Keramaian ini membuatnya rindu pada Ikebukuro.

Dia terkekeh. Menertawakan dirinya dulu yang menyedihkan. "Jika Shizuo tidak memintaku menjadi Istrinya. Apa aku akan tetap menjadi informan Shinjuku ya?" Dia bertanya pada langit yang gelap. Bahkan bulan enggan menunjukkan dirinya. Begitupula bintang yang tertutup gumpalan awan.

"Iza-chan."

Izaya menoleh, mendapati Psyche yang melambai ceria di ujung keramaian. Coat putihnya melambai mengikuti gerakan tubuhnya yang terlalu aktif.

"Psyche," Izaya berjalan menghampirinya. Mengusap kepala Psyche gemas. Senyum bocah yang tiga tahun lebih muda darinya ini memang selalu membuatnya gemas. "Ada apa?"

"Roppi-chan memanggil, ayo kembali. " Psyche mengamit tangan Izaya. Menariknya keluar dari kerumunan dan membawanya menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan dengan Roppi yang menunggu di kursi kemudi.

"Izaya," ucap Roppi saat Izaya mendudukkan dirinya di samping kursi kemudi. Matanya menatap hati-hati, dan mengingat Psyche yang diam saja. Izaya tahu itu bukan hal yang bagus. "Tidak bukan apa-apa. Kita bisa membatalkannya.

"Roppi-chan, tapi ..."

Psyche hendak memprotes, namun satu sentakan tajam membuatnya kembali bungkam. Izaya menatap pemuda 32 tahun di sampingnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Katakan saja, Roppi." Izaya menyenderkan kepalanya pada jok mobil. Mengalihkan perhatiannya pada pejalan yang berlalu lalang.

"Izaya," Izaya melirik Roppi melalui sudut matanya. Rambutnya yang sekarang pendek tak lagi menghalangi pandangannya. "Kita akan ..."-Roppi menatap spion dengan tanpa minat-" ke Ikebukuro."

TBC

Yosha sudut Iza-chan selesai /usap ingus/

Chapter depan ayo kita kunjungi Shizu-chan. /nyengir/

Sampai jumpa di chapter 3