Casts:

Kelas 3: Min Yoongi

Kelas 2: Park Jimin!GS | Jung Hoseok!GS

AU. OOC. School life. Young romance. Friendship.

Rated: T


MELT

Ketika musim panas bertemu dengan musim dingin

.

Chapter 2: New Academic Year


Tahun ajaran baru.

Menandakan hubunganku dengan Yoongi sunbae sudah genap satu bulan. Aku memang pelupa, tapi untuk urusan percintaan, daya ingatku berfungsi dengan baik. Andai saja daya ingatku berfungsi dengan baik juga disaat belajar…

Sekarang Yoongi sunbae naik ke tingkat akhir dan aku naik ke tingkat dua. Dan hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Aku penasaran. Seperti apa, ya, para hoobae-ku nanti?

Sebelum berangkat ke sekolah, aku mengirim chat ke kontak bernama Yoongyoong Sunbae.

"Sunbae, happy 1st mensiversarry ^^"

Yang hanya dibalas "Ne, chukae Jimin" tanpa emoticon, puisi, gombalan, atau hal-hal romantis lainnya. Setelah satu bulan berpacaran dengan Yoongi sunbae, sekarang aku baru memahami kenapa ia dijuluki Ice Prince. Ia memang dingin. Bahkan kepadaku, yang tiga puluh hari yang lalu dinyatakan cinta olehnya.

Selama satu bulan ini, kami hanya berkencan satu kali—saat hari jadi kami yang ke-7. Ia mengajakku ke taman bermain. Hari itu ia sangat menyenangkan. Kami tertawa lepas dan terus bermain hingga puas. Tapi sudah, setelah itu ia tidak pernah mengajakku kencan lagi. Bahkan menghubungiku pun tidak intens. Dalam sehari ia hanya mengirim chat beberapa kali.

Pagi: ia pasti mengucapkan selamat pagi, lalu menyuruhku sarapan.

Menjelang siang: ia pasti akan menanyakan aku sedang apa, apa aku sudah mandi, apa aku sudah makan.

Siang: ia pasti menyuruhku jangan terlambat makan siang.

Petang: ia pasti menanyakan aku sedang apa, apa aku sudah mandi, apa aku sudah makan.

Malam: ia pasti mengucapkan selamat malam, lalu menyuruhku tidur.

Yang terus berulang hingga hari ini. Aku sampai hapal jam-jam tertentu saat Yoongi sunbae menghubungiku dan jari-jari tanganku pun sepertinya sudah hapal harus mengetik apa sebagai jawaban pertanyaan-pertanyaan Yoongi sunbae. Karena bahkan aku bisa mengetik tanpa melihat dengan zero typo, padahal handphone-ku layar sentuh.

Aku heran, entah ke mana perginya Yoongi sunbae yang cerewet dan romantis sewaktu menembakku di halte bis.

Aku sempat berpikir, apa ia kembar? Apa ia punya berkepribadian ganda?

Atau ia sebenarnya tidak pernah menyukaiku dan hanya iseng saja memintaku untuk jadi pacarnya?

Kalau dipikir-pikir, kami jadian memang terlalu cepat dan terlalu tiba-tiba.

Kadang aku berpikir, apa Yoongi sunbae akan menganggap aku gampangan..

Aku menggelengkan kepalaku pelan lalu beranjak ke pintu. Aku harus berangkat sekarang kalau tidak mau terlambat tiba sekolah.

Tidak seperti Hoseok, aku tidak ikut mengospek siswa baru. Pertama, aku bukan pengurus OSIS. Aku tidak suka organisasi yang terlalu resmi dan terlalu mengikat. Kedua, aku malas ke sekolah di saat liburan hanya untuk rapat. Ketiga, kegiatan OSIS akan mengganggu jadwal kencanku dengan Yoongi sunbae yang pada kenyataannya memang jarang terjadi juga, sih.. Tapi, aku selalu setia menunggu di rumah kalau-kalau Yoongi sunbae mendadak mengajakku kencan. Dan ternyata sampai liburan selesai pun ia tidak juga mengajakku, huh!

Pernah, waktu hari jadi kami yang ke-3 minggu, aku pergi menemani Hoseok membeli sepatu untuknya berlatih dance. Aku sudah memberitahu Yoongi sunbae sejak satu hari sebelumnya, bahwa aku akan menemani Hoseok belanja. Tapi ia hanya menanggapinya dengan cuek. Lalu pada saat hari H, saat aku sedang makan siang—ditraktir Hoseok, Yoongi sunbae menghubungiku dan mengatakan kalau tadinya ia mau mengajakku kencan, tapi aku malah sudah pergi bersama Hoseok. Padahal sebelumnya Yoongi sunbae tidak mengatakan apa-apa, tidak mengajakku kencan, tidak memiliki janji apapun denganku. Tapi karena dia berkata begitu, aku jadi agak menyesalinya. Gara-gara aku pergi dengan Hoseok, aku kehilangan kesempatan kencan dengan Yoongi sunbae.

Karena melamun, aku tidak menyadari kalau bis yang kunaiki sudah sampai di halte tujuanku. Untung saja di depanku ada anak yang berseragam sama denganku turun dari kereta. Kalau tidak, mungkin aku akan lanjut ke stasiun berikutnya.

Sesampainya di sekolah, aku disambut oleh pemandangan asing. Hoobae di mana-mana. Kenapa aku tahu mereka hoobae? Terlihat jelas dari warna jas seragam mereka yang masih berwarna kuning menyala, pertanda belum lusuh karena telah dicuci berkali-kali. Selain itu, wajah mereka juga masih segar-segar, belum merasakan dahsyatnya tumpukan tugas dari guru-guru di SOPA. Oh, ya, apa aku sudah bilang? Aku sekolah di School of Performing Arts. Aku sudah bilang, kan? Apa belum, ya? Ah.. IJP-ku kumat lagi.

Aku melangkahkan kakiku ke kelasku yang sekarang ada di lantai 2. Setibanya di dalam kelas bertuliskan 2-B di pintunya, aku langsung disambut oleh pelukan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Nona Jung Hoseok si biang gosip. Saat aku mendengar Hoseok merengek dan menyebut namaku, aku langsung berkata, "Ya! Aku baru sampai. Setidaknya biarkan aku menyimpan tasku dulu, baru kau cerita."

Hoseok melepaskan pelukannya lalu bergerak mundur, memberikanku ruang untuk berjalan menuju mejaku di dekat jendela. Setelah aku menaruh tasku dan mendudukkan diriku di kursi, aku bertanya, "Ada apa?"

Hoseok yang tadinya diam langsung berubah menjadi cerewet kembali. "Park Jimin! Astaga! Kau pasti tidak percaya siapa yang masuk ke sekolah ini tahun ini!", katanya berisik.

"Memangnya siapa? Rookie idol?", tanyaku santai.

"Aniya! Si Kim Taehyung brengsek, mantanku!", seru Hoseok sambil menghentak-hentakkan kakinya.

"Mwo?! Hahahahaha.. Terus 'gimana rasanya satu sekolah lagi sama mantan?", godaku.

"Argh, menyebalkan sekali! Apa kau tahu? Waktu hari pertama ospek, saat aku sedang mengontrol hoobae barisan paling belakang, tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku."

"Pasti si alien itu."

"Iya! Saat aku berbalik, ternyata itu dia. Kim Taehyung itu! Argh, kenapa dia harus masuk ke sini sih dari sekian banyak SMA di Korea Selatan!", gerutu Hoseok.

"Ya sudah, sabar, ya.", kataku sambil menepuk-nepuk punggung Hoseok. "Semua terjadi karena ada alasannya. Tuhan pasti punya rencana lain dengan mempertemukan kalian lagi di sini. Hahaha."

Hoseok memutar matanya malas. "Oh, memang, semua terjadi karena ada alasannya. Dan kau tahu, si alien itu bilang apa saat itu?"

Aku mengangkat alisku, tanda kalau aku bertanya-tanya.

"'Hobi-ku, astaga! Aku merindukanmu! Apa kau tahu? Aku daftar ke SOPA agar bisa satu sekolah lagi denganmu!', dan dia memelukku setelah berkata 'merindukanmu'.", kata Hoseok. "Astaga, Jimin, demi Tuhan, saat itu kami sedang berada di tengah lapangan. Walaupun dia barisan paling belakang, tetap saja banyak orang yang melihat. Memang si alien itu tidak pernah berubah, selalu mengejutkan."

Aku menarik kedua garis bibirku ke atas, menggoda Hoseok. "Tapi… Kau senang, kan?"

"A-apaan, sih?! Tidak, tuh..!", kata Hoseok gugup.

"Hosiki Jung, sudah berapa tahun kita berkawan, hm? Aku tahu sekali saat kau senang, sedih, marah, kecewa, bahagia, apapun emosimu aku tahu.", kataku sambil memegang kedua bahu Hoseok agar menatapku. "Dan aku melihat pancaran kebahagiaan ketika kau menceritakan saat si alien itu memelukmu."

"Huh, fine! Iya, aku senang! Aku bahagia! Puas?!", kata Hoseok sambil menepis kedua tanganku dari bahunya, lalu berjalan ke arah pintu kelas. Mungkin ia ingin menutupi wajahnya yang memerah dari jangkauan penglihatanku. Aku tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda sahabatku itu.

Ω

Saat sepulang sekolah, aku ditemani Hoseok ke lapangan basket indoor. Hari ini Yoongi sunbae latihan. Dan karena hari ini hujan, latihannya diadakan di dalam ruangan.

Seharusnya siswa kelas 3 sudah berhenti dari kegiatan klub. Tapi, Yoongi sunbae yang memang keras kepala itu tidak mau berhenti. Ia pernah bilang kalau basket sudah seperti musik untuknya. Tidak bisa lepas. Jadi, di sana lah Yoongi sunbae sekarang. Sedang melakukan pertandingan kecil dengan hoobae yang baru ikut klub.

Sebelum duduk di bangku penonton, aku menyeret Hoseok ke tumpukan tas anak-anak klub basket. Sebagai pacar yang baik—dan romantis—aku ingin memberikan kejutan kecil untuk Yoongi sunbae. Aku membelikannya dua botol minuman dingin dan satu sandwich untuk disantapnya setelah latihan. Namun, masalah datang saat aku melihat bukit tas itu. Aku lupa yang mana tas Yoongi sunbae.

"Hosiki, eottokhe?"

"Mana kutahu! Lagian, tas pacar sendiri kok lupa! IJP-mu itu, ya…", seru Hoseok sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

"Habis, tas namja modelnya mirip semua. Rata-rata bagpack warna hitam. Masa aku harus memastikan isinya supaya tahu yang mana yang milik Yoongi sunbae..?"

"Kenapa tidak?", kata Hoseok lalu ia mulai membuka satu-per-satu resleting bagpack yang berwarna hitam.

"Ya! Kalau kita dituduh mencuri, bagaimana?!"

"Tidak mungkin. Toh kita kelihatan sama mereka. Jadi mereka pasti lihat kalau kita tidak mengambil apa-apa dan malah menaruh sesuatu di salah satu tas di sini. Nah, apa ini punya Jadi mereka pasti lihat kalau kita tidak mengambil apa-apa dan malah menaruh sesuatu di salah satu tas di sini. Nah, apa ini punya barang Yoongi sunbae?", kata Hoseok sambil menarik kaos dalaman dari dalam bagpack hitam pertama yang ia buka.

"Hiiii, mana kutahu! Aku tidak pernah melihat kaus dalamnya!"

Hoseok menutup bagpack itu lalu mulai membuka bagpack lainnya yang juga berwarna hitam.

"Kalau ini?"

Hoseok menarik handuk kecil berwarna abu-abu. Aku mencoba mengingat-ingat apakah itu handuk Yoongi sunbae, dan aku rasa itu benar. Aku mengangguk, mengiyakan kalau bagpack itu milik Yoongi sunbae.

Hoseok membuka resleting bagpack itu lebih lebar sehingga aku lebih leluasa memasukkan minuman dan makanan ke dalamnya.

Setelah mengembalikan bagpack itu seperti semula, aku menarik lengan Hoseok untuk duduk di bangku penonton.

Namun, karena Hoseok ditelepon eomma-nya, disuruh belanja sayuran dan buah-buahan, aku jadi ikut pulang dan tidak menunggu Yoongi sunbae hingga latihannya selesai.

Aku mengirim pesan singkat ke kontak bernama Yoongyoong Sunbae:

"Sunbae, kalau sudah latihannya, dilihat ya tasnya. Aku memasukkan sesuatu untukmu. Kekeke. Jangan sampai kelelahan. Aku pulang duluan, ya.."

Lalu aku melangkahkan kakiku keluar lapangan sambil sesekali masih melirik ke arah Yoongi sunbae yang masih serius bermain, tidak menoleh sedikit pun ke arahku.

Ω

tbc