Chapter 3 : The Truth?

Gempa berjalan keluar ruangan yang langsung di sambut tatapan kejam Adudu di depan pintu. Dia benar benar sudah kesal dan berusaha mengabaikannya.

"Kalau aku tak di terima itu berarti ada hubungannya denganmu" gumam Adudu sembari melihat Gempa dengan tatapan tak dapat di artikan.

Gempa langsung masuk dan membiarkan Pak Kusma mengantarnya ke alamat Solar. Dia duduk diam sembari melihat pemandangannya yang jarang ia lihat dalam diam. Hingga tiba tiba mobil berhenti dan membuat kepalanya mau tak mau bertemu dengan kaca jendela yang tertutup. Gempa langsung menatap tajam sang supir, kala mood nya sudah buruk sifatnya akan seperti Halilintar.

"Glup" sang supir meneguk ludah kasar, ia akan dapat masalah jika salah bicara "ano... Sudah sampai"

"Huh" Gempa menghela nafas kasar, ia membuka pintu dan langsung turun.

Is melihat lihat rumah itu dari balik pagar. Rumahnya besar, seperti gabungan empat rumah depan belakang. Namun masih besar rumahnya kok. Gempa melihat bel di samping pagar itu dan memencetnya.

Ting Tong

Setelah beberapa lama dari suara, tiba tiba ada yang membuka pintu. Solar. Ia langsung berlari ke arah gerbang. Ia berlari dengan kecepatan yang bisa di bilang cepat namun terlihat sangat lama saking luasnya halaman rumahnya—walau masih kalah dengan rumah Gempa. Gempa menyunggingkan senyuman saat Solar dengan sigap membuka gerbang itu sendirian.

"Kamu lama banget. Tapi aku harus bersyukur, kalau kau tidak memencet bel mungkin aku sekarang sudah tepar di sana" ujar Solar setelah berada di depan gempa

"Maaf ya" ucap Gempa yang merasa bersalah. Namun tak lama wajahnya menunjukkan wajah bingung, "Tepar itu... Apa? "

Solar langsung facepalm sambil menatap Gempa, "Kamu gak perlu tahu. "

"Udahlah ayo masuk" ujar Solar yang langsung masuk sambil memegang kepalanya "semoga dia gak kayak Thorn" gumam Solar

"Kau mengatakan sesuatu? " tanya Gempa dengan wajah polos

"Nggak kok" Solar lalu berhenti "ini ruang kerja kelompoknya. Ayo masuk"

Gempa hanya mengangguk dan mengikuti Solar yang sudah masuk kedalam. Saat di dalam Gempa berdecak kagum. Ruangan itu hampir sebesar kamarnya. Interiornya juga bagus. Sepertinya banyak ornamen yang terbuat dari emas. Walau dia yakin masih besar kamarnya.

"Ini kamarmu? " tanya Gempa

"Iya dong keren 'kan? " tanya Solar sambil bergaya narsis

"Solar cepet sini! Lama banget! "

"Iya! Bentar dong Yaya! " balas Solar yang langsung berlari ke arah Yaya dan teman temannya diikuti Gempa di belakangnya

"Lebih bagus Kuning! "

"Item aja! "

"Gak mau! Item itu kelam! Auranya gak menyenangkan! "

Semakin mendekat Gempa mendengar suara suara tak menyenangkan dari arah sana. Gempa pun berhenti mendekat dan memilih berdiam beberapa meter di belakang Solar.

Solar terlihat bercakap cakap dengan Yaya. Dan Gempa sedang menutup telinganya agar tak mendengar suara teriakan dua orang yang bertengkar itu. Yaya menoleh ke arah Gempa setelah berbincang dengan Solar. Ia menunjukkan wajah bingung. Yaya pun segera berdiri dan menghampiri Gempa yang masih menutup telinganya.

"Gem. Gem" panggil Yaya seraya menepuk pundak Gempa. Namun yang di panggil masih mematung di tempatnya.

"Woy diam dulu napa?! " bentak Yaya

Seketika semuanya hening. Merasa sudah hening Yaya mencoba menepuk Gempa lagi. Namun reaksi pemuda beriris emas itu masih sama. Sesekali ia menggumamkan sesuatu.

"Kak Upan pasti selalu ada" gumam Gempa. Setelah mengatakan itu beberapa kali—tepatnya sepuluh—ia membuka telinganya—juga matanya yang tertutup.

"Gem, kamu kenapa? " tanya Yaya tenang

Gempa menggeleng cepat, "hanya seperti deja vu saja. Biasanya aku ketakutan kalau ada yang bertengkar seperti itu. Maaf ya"

"Cih. Kenapa kamu harus ngajak orang kayak dia sih? Udah penakut, cengeng lagi" ujar Fang yang menatap rendah pada Gempa

"Jangan gitu, wo... Kamu sendiri masih takut sama kakak kamu" ejek Ying yang membuat muka Fang memerah malu

"Itu beda lagi. Itu masalah keluarga! " bentak Fang

"Bisa gak sekali aja kalian gak berantem? " tanya Yaya

"Dia yang mulai" ujar Ying dan Fang serentak sambil menunjuk satu sama lain.

"Anoo... Gimana kalau kita mulai saja kerkomnya? Aku gak boleh pulang terlalu sore" ujar Gempa malu malu.

Semua saling bertatapan dan duduk di meja yang berada beberapa meter di belakang mereka. Solar yang terabaikan pun membuka mulutnya.

"Biar kita mulai. " ucap Solar serius, "kali ini kelas kita mendapat tugas dari guru IPA untuk membuat makalah serta miniatur sistem tata surya dan inti bumi. " jelas Solar.

Yang lain mengangguk. Sementara Gempa melongo mendengar penjelasan Solar. 'Banyak sekali' pikir Gempa

"Mungkin kita bisa mulai dengan inti bumi saja. Itu yang lebih mudah" saran Yaya

"Boleh juga idemu Yaya" ujar Fang

Yaya tersipu malu ketika di puji. Sedangkan Ying dan Solar sudah berasap di belakang mereka berdua. Dan Gempa hanya menatap dengan tatapan polos.

Drtt drtt

Ponsel Gempa berdering.

"Anu... Aku izin angkat telepon" ujar Gempa

"Silakan saja. Karena aku yakin kamu tidak akan mau lihat apa yang terjadi" ujar Solar dengan nada horor.

Gempa hanya mengangguk dan pergi ke pojok ruangan yang bertolak belakang dengan sisi satunya.

Gempa langsung mengangkat telefon dari kakak keduanya tersebut.

"GemGem! " teriak suara dari ujung sana sehingga Gempa harus menjauhkan handphone tersebut

"Kak Upan jangan berisik deh" balas Gempa "ada apa? "

"Harusnya aku yang nanya seperti itu. Kenapa kamu gak ada di rumah? Dan Kak Hali juga gak ada di rumah. Kamu di mana? " tanya Taufan di ujung telefon

"Gempa lagi di rumah temen. Kerkom" balas Gempa untuk meyakinkan kakaknya itu.

"Kenapa gak bilang? Kakakmu ini habis melewati serangkaian ujian yang menyeramkan. Dan memerlukan pelukanmu" ujar Taufan manja

"Maaf ya kak. Kalau begitu aku pergi lagi. Kerkom dulu. Bye" ucap Gempa yang langsung mematikan telefon satu pihak.

Gempa kembali ketempat kelompoknya. Di sana keadaan tak jauh beda. Hanya ada beberapa lebam di muka Fang dan Solar juga aura mengerikan dari Yaya dan Ying. Gempa hanya memiringkan kepalanya dan membuat muka bingung.

"Kalian kenapa? " tanyanya dengan wajah polosnya.

"Gak ada apa apa. Kamu nggak harus tau" ujar Yaya dengan lembut(?)

"Aduuh... Yaudah kita lanjut" Solar mengelus pipinya yang merah itu dan langsung meraih sebuah buku.

"Itukan buku edisi lama. Belum beli yang baru? " tanya Gempa dengan wajah polos

Solar menjetikkan jarinya "Mustahil. Ini edisi terakhir yang di keluarkan, sudah sempurna"

"Tapi di rumahku ada yang baru" ujar Gempa lagi

"Yaudah terserah" balas Solar cepat, "ayo mulai dari bagi bagi tugas. Tapi aku hanya punya dua buku ini. Tadinya dua orang satu, tapi aku rasa sekarang harus ada yang bertiga. "

"Gak perlu kok. Aku bisa sendiri pakai bukuku" ucap Gempa.

"Maksudmu kau membawa buku setebal ini? " tanya Fang sambil mengangkat buku punya Solar yang tadi ia ambil paksa dari sang empu.

Gempa menggeleng kuat 'bawa empat buku bos aja udah berat apa lagi bawa itu' batinnya

"Lalu? " tanya mereka semua serempak

"Aku merangkum kok" ucap Gempa sambil mengeluarkan sebuah buku BigBoss tipis dari kantongnya.

Mereka semua hanya mengangguk kagum dan membicarakan tugas kelompoknya.

Di luar, terlihat dua orang laki laki mengintip kediaman Boboiboy Solar

"Kau benar, dia cukup manis untuk ukuran laki laki"

"Bos baru tau? Seingatku dia pernah masuk 'perangkap' dan hampir 'di kirim' "

"Begitu yah? Lain kali pastikan dia datang"

TBC*Baca Ulang* *tepuk jidat*Tulisan macam apa ini? Huh. Ternyata aku gak bakat nulis :' .Lagi pula ini tulisan udah lama banget.Well, review ya?