Kompartemen yang tadinya hanya diisi oleh Draco seorang itu akhirnya bertambah sempit. Pansy Parkinson mengambil langkah masuk dan mendudukkan diri persis di sebelah. Draco melempar pandang untuk mendapati rambut pendek Pansy (yang disihir merah sejak musim panas kemarin) mulai kembali balik ke warna asalnya, cokelat kehitaman.
"Cari siapa?"
Alih-alih menanggapi, si pirang justru memutuskan untuk kembali memaku iris abu-abunya ke jendela, mengawasi peron. Sementara Pansy mengeluarkan cat kuku bersinarnya dengan senyum mengejek, "Ooohh, mencari Potter, yaa?"
Bahu Draco menegang merespon nama itu. Sudah lama sejak terakhir kali ia mendengar seseorang mengucapkannya dengan lantang—walaupun mendengar dari dalam pikirannya sendiri sudah sering—tapi bukan itu intinya. Umpatan yang sejak tadi ditahan di tenggorokan akhirnya tidak jadi tertelan. Draco sedikit menoleh ke arah Pansy, ragu-ragu untuk bertanya. "Tidak mungkin idiot itu mati di tengah jalan, kan?"
Pansy memutar mata sekali. Kelingkingnya sudah mulai bersinar waktu ia membalas, "Jelas tidak, karena dunia sihir masih belum gempar."
Draco mengerucutkan bibir, mengisyaratkan kalau itu sih siapa pun juga tahu, "Tapi bagaimana kalau—"
"Dia belum mati, Drake, oke?"
"Memangnya siapa yang mati?" Suara berat menyela dari pintu geser. Dua Slytherin itu menoleh bersamaan untuk mendapati Theodore Nott sedang menutup pintu kompartemen dengan pelan. Cengirannya lebar dan ia menyapa Pansy lebih dulu untuk rambut tolol itu.
Demi Salazar, di mana sih?
Theo menendang ujung sepatu Pansy. "Cari apa sih, dia?" bisiknya. Mungkin Draco Malfoy dan kerutan permanen di keningnya bukan pemandangan yang wajar di awal tahun ajaran.
Si gadis tidak repot-repot mengalihkan mata dari kukunya. "Siapa lagi?"
"Oh." Theo cuma manggut-manggut. "Bukannya kapan itu ada yang bilang bertemu dia di Diagon Alley?"
Draco mendengus masam. "Yah, aku yang bertemu dengannya. Di antara pasukan Weasley."
Ada paduan tawa kecil di dalam kompartemen. Lengkingan Pansy dan suara bass milik Theo. Draco memilih mengabaikan dua bocah lainnya dan fokus kembali ke jendela.
"Kau serius tidak melihat dia di peron, kan?
Yang ditanyai otomatis menggeleng, bersamaan dengan Vincent Crabbe dan Gregory Goyle yang akhirnya ikut bergabung. Pansy perlahan mengangkat wajah dari seluruh kukunya yang sudah menyala. Rasa puasnya sedikit terusik melihat Draco masih membuang wajah ke arah luar. Mungkin karena semenit lagi keretanya akan berangkat.
Siapa pun tahu pewaris tunggal itu tidak sedang dalam suasana hati baiknya.
"Drake?"
Tidak ada tanggapan yang dilontarkan.
"Kau baik-baik saja?"
Si pirang kemudian mendengus. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan, Pans?"
Pansy menghela napas, memilih memelototi Theo dan kawan-kawan yang sama sekali tidak membantu. "Kalian benar-benar tidak ada yang melihat Potter di peron?"
Semuanya saling menukar tatap.
"Mungkin dia bergabung dengan kompartemen lain?" usul Vincent.
Draco semakin mengalihkan pandang, tidak mau diperhatikan. "Yeah, mungkin juga dia ada di gerbong singa sialan itu."
"Aku yakin Potter tidak begitu," Pansy masih mencoba berbaik hati. Namun melihat reaksi Draco yang sepertinya acuh tak acuh, ia kembali mendesah. "Sayang sekali dia tidak ada di sini. Padahal aku baru saja mau mengenalnya lebih jauh."
"Apa, Pans?" Draco memutar mata, jengah. "Mau apa kau mengenal dia lebih jauh?"
Pansy balas mengangkat bahunya dengan ringan. "Teman kan harus saling mengenal."
"Dan sejak kapan kalian dinyatakan punya relasi pertemanan?"
Sebagian kompartemen tertawa pelan. Draco merasa bodoh sekarang.
"Dia memenangkan piala asrama untuk Slytherin, Drake. Sekarang semua orang jelas tidak keberatan menjadi temannya."
"Atau rekan," cetus Theo.
"Rekan?" Pansy tertawa. "Come on, jangan bilang kau masih mendendam gara-gara disihir waktu itu."
Draco mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa Potter menyihirnya?"
Ada beberapa dengusan geli yang terdengar. "Kelihatannya seperti Theo menyuruh kacamata itu untuk menjauhimu. Lalu dia kena sihir."
Theo merengut. "Itu idemu juga, Pans."
"Tapi kau yang bilang padanya."
"Tapi kau otak rencananya."
"Tapi—"
"Tunggu dulu. Theo menyuruhnya menjauhiku?" Draco mengulang, kelihatan bingung. Keempat temannya saling bertukar pandang. "Kalian ini benar-benar mengerikan. Memangnya berapa banyak sih, orang tuaku membayar kalian?"
Ramai tawa kembali menaung. Memang sudah bukan rahasia lagi bagi mereka, kalau Tuan dan Nyonya Malfoy tidak bisa membiarkan putra sematawayangnya menyeleweng sedikit saja. Mereka bahkan butuh jasa pengawasan ekstra dari teman-teman seasrama Draco, khususnya golongan darah murni.
Yah, setahu Draco, orang tuanya adalah orang yang paling menentang keberadaan darah penyihir selain darah murni. Dan mungkin sebagai konsekuensi dari dibesarkan dalam sudut pandang keluarganya, Draco ikut memandang golongan darah lain sebagaimana orang tuanya memandang.
Walaupun belakangan ada suara lain yang ngotot kalau sama sekali tidak ada perbedaan kasta dalam golongan darah. Suara yang menjengkelkan, sok tahu, dan suara yang entah kenapa sangat ingin ia dengarkan saat ini.
Dan semua pemikiran itu mengarahkannya kembali kepada Harry Potter berserta batang hidung brengseknya yang belum kelihatan.
Demi Salazar dan segala dewa yang pernah eksis.
"Crabbe, Goyle." Draco membenamkan jemarinya ke helai-helai pirang yang semakin lama semakin berantakan, lagi-lagi mengacaknya. "Cari ke seluruh kompartemen dan temukan dia."
Jeda sejenak. Semuanya jelas mengira Draco cuma main-main, karena tidak ada yang bergerak sampai Greg membuka mulut.
"Kau bercanda, kan?"
"Apa aku kelihatan seperti sedang bercanda?"
"Tapi—"
"Lakukan saja!" Draco mengerang, frustasi. "Cari dia.. atau kubunuh."
Tegukan ludah Vincent nyaris terdengar. Makhkuk bodoh itu menyikut pundak temannya.
Yah, Draco sendiri jelas tidak memaksudkannya secara harfiah, tapi setidaknya ancaman tadi mengakibatkan kedua Slytherin yang diperintah buru-buru bangkit, meraup pintu geser dan menyusur lorong-lorong Hogwarts Express dalam gegas.
"Kau kelihatan kacau," Pansy mengomentari.
Draco ingin sekali menjawab—
Aku memang merasa kacau.
Namun iris abu-abunya justru kembali menatap ke luar jendela, kembali mencari-cari rambut hitam acak-acakan, atau kacamata bulat bodoh, atau iris hijau berkilauan— dan sementara itu mesin kereta api mulai menyala.
Sesuatu dalam dirinya padam.
.
.
.
A STRANGER IN THE MIRROR
.
sequel of Change Me, Malfoy
GinevraPutri
.
Harry Potter © J.K. Rowling
Saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini
.
.
.
Chapter 3 – Situasi dan Mimpi
.
"Kau yakin kita tidak akan mati?"
Ron mendesah mendengar Harry di kursi sebelah bertanya. Matanya dialihkan sebentar dari kemudi. "Setidaknya bukan karena mobil terbang bodoh ini."
"Tapi Dumbledore bakal mengusir kita dari Hogwarts, kan?"
"Dan Mum bakal menghabisiku."
Harry mengerang.
"Andai kita ada di sana." Dagunya mengedik ke arah ular merah di bawah mereka. Hogwarts Express dan asapnya yang membumbung. Kompartemen Slytherin dan jendelanya yang berkabut. Tempat duduk yang empuk dan gurauan-gurauan si pirang plati— lupakan.
Salazar, tolong jauhkan dia dari kepalaku sebentar.
Harry membenturkan kening ke dashboard. Matanya dipejamkan, berusaha membayangkan kalau saja ia tidak sedang berada di dalam Ford Anglia tua yang bisa terbang, tidak sedang mengikuti jejak kereta sekolah yang bergerak dengan cepat, tidak sedang kelaparan setengah mati. Perutnya justru semakin bergemuruh. "Bayangkan troli-troli makanan di kereta, Ron."
Sebagai tanggapan paling baik yang bisa diberikan, Ron merutuk jengkel. "Semua makananku ada di koper." Ia membanting setir dengan sedikit brutal, berbelok ke kanan. "Dasar peron sialan."
Harry menyetujui dalam hati. Umpatannya tidak jadi dikeluarkan, ditelan lagi. "Menurutmu kenapa tembok di stasiun tadi tidak bisa kita tembus?"
"Entahlah, Harry. Otakku tidak sanggup berpikir lebih jauh dalam keadaan lapar begini."
Yah, ia sendiri pun tidak sanggup memikirkan kemungkinan yang masuk akal, sekali pun tidak dalam keadaan lapar. Harry merenungkan tragedi beberapa jam yang lalu di stasiun dengan jengah, waktu mereka berdua menabrak tembok penghubung ke peron 9 3/4 sekeras-kerasnya. Telinganya seakan mendengar peluit Hogwarts Express berangkat. Pukul 9 tepat.
Harry benar-benar ingin membunuh seseorang.
"Kau ingat peri rumah yang kuceritakan, Ron?"
Ada jeda sedikit sebelum Ron mendengus terang-terangan. "Peri rumah yang menerobos rumahmu dan melarangmu kembali ke Hogwarts?"
Harry mengangguk. "Mungkin ada hubungannya dengan kejadian hari ini."
"Dengan tembok stasiun yang tidak tertembus sampai kita harus ketinggalan kereta?" Ron menarik alis. "Sepertinya memang ada seseorang yang tidak menginginkanmu berada di sana tahun ini, Harry."
"Menurutmu Voldemort?"
"Jangan bercanda." Ron merengut. "Dan jangan sebut namanya. Lagipula, kau baru saja melenyapkannya tahun lalu."
"Aku tidak melenyapkannya, Ron, kau tahu itu. Bagaimana kalau dia mencoba merencanakan sesuatu selama musim panas?"
"Yah, walaupun begitu, ide tentang Kau-Tahu-Siapa yang repot-repot menyuruh peri rumah melarangmu kembali terdengar sangat konyol." Ron memutar mata. "Kenapa tidak sekalian suruh peri rumahnya membunuhmu atau apalah— lagipula kau dilarang menggunakan sihir di luar sekolah."
"Jangan mengingatkanku tentang hal itu lagi, Ron."
"Aku masih tidak mengerti bagaimana Kementerian bisa salah paham," cebik si rambut merah. "Jelas-jelas peri rumah itu yang menggunakan sihirnya. Kenapa kau yang kena dekrit penggunaan sihir di bawah umur?"
Harry menggerutu. "Sudah kubilang, karena si brengsek Dobby itu menyihir di rumahku, dan aku satu-satunya penyihir di dalam sana—"
"—dan karena Neville sekali pun tidak akan percaya ceritamu soal peri rumah yang datang, apalagi Kementerian."
"Neville Longbottom yang sering dikeluhkan guru-guru itu?"
"Poinnya, Harry, mereka tidak percaya karena tidak mungkin peri rumah datang ke sana atas kemauannya sendiri."
"Maksudmu?"
"Tentu saja majikannya harus menyuruhnya terlebih dahulu. Dan lagipula, hanya keluarga-keluarga tertentu yang memperkerjakan peri rumah."
"Keluarga.. tertentu?"
"Kau tahu, para penyihir yang kelebihan galleon." Ron mengangkat bahu. "Biasanya kalangan darah murni."
"Seperti Malfoy?"
Ron mengangguk sedikit. "Walaupun jelas sekali bukan dia yang mengirim Dobby-Dobby itu. Merlin tahu Malfoy menginginkanmu kembali ke Hogwarts setengah mati, kalau dilihat dari kelakuannya di Diagon Alley kemarin."
"Tutup mulutmu, Ronald Weasley."
"Berani taruhan dia sedang kewalahan mencarimu sekarang."
"Berani taruhan—" Harry menghela napas keras. "—dia tidak akan begitu."
"Kita lihat saja waktu sudah sampai nanti." Ron nyengir. "Siapkan saja galleonmu, Harry. Toh kita sudah dekat."
Harry mengerucutkan bibir.
.
Brengsek.
Murid terakhir yang masuk akhirnya menutup pintu Aula Besar dengan debam keras. Di deretan bangku Slytherin, Draco menyumpah. Rasanya kepalanya sudah siap untuk meledak sekarang juga. Pansy mengambil tempat di sebelahnya lagi, tapi kali ini ia menyisakan ruang kosong di antara mereka. Mungkin Salazar tahu apa yang ular betina licik itu rencanakan soal Harry. Mengenalnya lebih jauh? Blah.
Draco menenggelamkan pirang platinanya ke meja. Sejauh ini belum ada tanda-tanda eksistensi dari si idiot itu. Crabbe dan Goyle saja sudah kewalahan mencari ke seluruh kompartemen Slytherin— yang berarti Harry jelas ada di gerbong Gryffindor.
Tapi darah lumpur itu dari tadi sendirian.
Yeah, kelihatan tidak masuk akal, karena Draco yakin seratus satu persen Granger tidak akan meninggalkan Weasley-nya, dan Harry tidak mungkin bersama orang lain lagi kecuali mereka.
Jadi di mana kacamata busuk itu?
Draco membanting garpu ke meja dengan panas, langkahnya membawanya beranjak dari kursi sesegera mungkin. Sekitar selusin murid Slytherin lain mengangkat wajah dengan heran. Sementara lengkingan suara Pansy diabaikan, tatap-tatap penasaran dianggurkan, ia melangkah menuju meja Gryffindor.
"Granger."
Draco tidak suka basa-basi. Butuh beberapa jeda sebelum Hermione akhirnya bangkit dan menghela napas keras-keras. "Aku sedang tidak ingin bertengkar, Malfoy."
Brengsek lagi.
"Di mana dia?" Draco tidak mendengarkan gadis itu. Persetan dengan tatap-tatap curiga dan gumam-gumam penasaran di seluruh sudut Aula Besar. "Katakan."
Hermione memasang tampang sori-bisa-diulang-atau-tidak. Ia yakin Draco bahkan belum menyebutkan nama orang yang dicarinya. "Siapa?"
"Menurutmu siapa?"
"Aku tidak bisa memikirkan siapa di sini yang repot-repot kau cari, Malfoy."
Brengsekbrengsekbrengsek— "Di mana Potter?"
Sekali itu Hermione terkesiap. Ia seperti menimbang-nimbang ucapannya. Draco menunggu dengan sabar kali ini. "Seingatku.. dia dari Slytherin, jadi—"
"Dia tidak ada di kompartemen Slytherin, jadi dia pasti ada di—"
"Tidak ada." Hermione tiba-tiba menyela. Suaranya sedikit ragu-ragu. "Dia tidak ada di kompartemen Gryffindor, Malfoy." Kerlingan kecil penuh tanda tanya. "Dan.. Ron juga tidak ada."
.
"DEMI GODRIC, PROFESOR!"
Harry membetulkan kacamata dengan gugup sewaktu Ron akhirnya lepas kendali. Emosinya jelas mengambang di ubun-ubun karena rambutnya yang sudah merah jadi semakin merah. Menatap Profesor Snape dengan gemas, Gryffindor itu kemudian menghela napas jengkel.
"Seharusnya Anda menanyakan apakah kami baik-baik saja, bukan malah menyayangkan si pohon jelek itu!"
"Jaga bicaramu, Weasley, kau baru saja menabrak Dedalu Perkasa yang sudah beribu-ribu tahun ada sebelum mulut bodohmu itu lahir—"
"Tapi—"
"—dengan alat transportasi Muggle yang sudah dimodifikasi. Kau tahu pelanggaran seberat apa yang kau lakukan?"
Sekali itu Ron menelan argumennya.
"Profesor—"
"Kalian sadar ada berapa banyak Muggle yang melihat kalian? Puluhan dekrit menunggu kalian di Azkaban. Aku bisa mengeluarkan kalian dari Hogwarts secara langsung sekarang juga, tapi—"
Menahan kata-katanya kembali meluncur, Profesor Snape bahkan tidak menoleh ke arah pintu.
"—mari kita dengar pendapat Kepala Sekolah terlebih dahulu."
Seperti sudah tahu siapa yang akan datang dan menghalanginya menghukum bocah-bocah bodoh (yang melakukan tindakan ilegal di bawah hidungnya), sementara Albus Dumbledore, Kepala Sekolah Hogwarts dengan jenggot putih panjangnya, melangkah memasuki ruangan. Di sebelah kanannya, berdiri Minerva Mcgonagall, Wakil Kepala Sekolah sekaligus Kepala Asrama Gryffindor.
Keduanya berdeham.
"Selamat malam, Severus, Mr. Potter, Mr. Weasley," Profesor Dumbledore mengambil alih percakapan, senyum memberontaknya menaung dari balik kacamata setengah bulan, "Kukira tentunya murid-muridku membutuhkan istirahat yang sepadan dengan perjalanan panjang mereka. Kuputuskan untuk memberi mereka kesempatan kedua, mengingat semua ini merupakan ketidaksengajaan. Kementerian akan mencatatnya sebagai kasus di bawah umur dan pertanggungjawaban akan diserahkan pada Kepala Sekolah, tentunya itu aku."
"Tapi dengan kerugian yang mereka sebabkan—"
"Oh, detensi seminggu penuh sudah cukup untuk menutup kerugian itu." Profesor Mcgonagall angkat bicara. "Walaupun tidak bisa dipungkiri lagi Mr. Potter dan Mr. Weasley menimbulkan kerusakan yang cukup parah pada Dedalu Perkasa— aku yakin Profesor Sprout tidak akan senang."
"Kurasa akan bijaksana kalau wali murid mengetahui hal ini, Minerva." Profesor Snape memicingkan mata ke arah Harry dan Ron. "Untuk.. pencegahan di masa depan."
"Barangkali kau benar. Harus ada surat dari sekolah untuk menjelaskan."
Harry menelan ludah. Membayangkan wajah Paman Vernon ketika menerima suratnya..
Profesor Dumbledore sekejap tampak seperti sedih, tapi nadanya bersimpati begitu ia bicara. "Sayangnya, dengan berat hati kusampaikan bahwa ada kemungkinan petugas Kementerian datang untuk memeriksa Arthur Weasley, sebagaimana kepala keluarga yang bertanggungjawab atas kendaraan pribadi itu."
Harry bisa membayangkan Ron memucat tanpa harus meliriknya.
"Berterimakasihlah kalian." Profesor Snape kembali memasang senyum kaku, sedikit puas mendengar bencana yang menimpa anak-anak nakal ini. "Silahkan kembali ke asrama masing-masing, dan jangan coba-coba mencuri makanan dari dapur, atau aku akan langsung—"
"Baik, Profesor." Harry menyela, sedikit jengkel, sementara matanya menangkap senyum Profesor Dumbledore, senyum serba tahu yang diam-diam ia rindukan. Ia berusaha tidak kelihatan marah, tapi orang-orang tua ini tidak tahu bagaimana kelaparannya ia sepanjang hari, atau bagaimana mereka nyaris mati tergilas dahan pohon raksasa— tapi tak ingin berlama-lama, Harry menyisipkan permisi sebelum beranjak ke pintu, menyeret Ron yang masih tampak syok, dan menghilang ke ujung tikungan.
Ron, yang sudah diyakinkan bahwa Mrs. Weasley tidak akan membunuh anaknya sendiri (setidaknya tidak secara langsung), bergegas menuju menara Gryffindor untuk mengabari Hermione— yang sudah jelas bakal mengutuknya mentah-mentah, dan sementara itu Harry buru-buru melangkahkan kakinya menuju asrama bawah tanah yang rasanya sudah lama sekali ia tinggalkan, Slytherin dan lorong-lorong gelapnya yang dipenuhi obor dengan api menyala terang.
.
Api berkobar dari perapian.
Tidak seperti kelihatannya, tinggal di bawah danau dengan tentakel cumi-cumi raksasa yang bisa membekukanmu sekali cebur bukan berarti suasana bakal selalu dingin. Buktinya ruang rekreasi Slytherin tidak pernah sepanas ini, sekalipun musim gugur sudah tiba. Atau hanya hatinya sendiri saja yang panas, tapi yang jelas Draco merasa terpanggang karena sesuatu.
Ada edisi khusus Daily Prophet di atas meja tengah, halaman depannya memuat kendaraan aneh Muggle dengan latar belakang langit. Tidak biasanya ia menaruh peduli pada hal-hal mengenai Muggle (orang tuanya bakal membakar koran itu kalau ia berani membacanya terang-terangan), tapi percaya atau tidak, mereka menyebutnya mobil terbang.
Kasak-kusuk merambati telinga Draco secara perlahan. Pansy baru saja membaca beberapa baris keras-keras, dan demikianlah ia menggarisbawahi soal nyaris sepuluh Muggle melihat mobil tolol itu, dan soal kemungkinan diterbitkannya dekrit-dekrit baru gara-gara insiden ini. Theo baru saja akan menyela mengenai tindakan yang diambil Kementerian terhadap pelaku— tapi demi Salazar, Draco benar-benar berdoa semoga saja mereka memasukkan dua bocah tolol itu ke Azkaban.
Ia mendengus.
Mana bisa otak lurusnya yang hanya berisi logika disuruh mencerna soal— soal usaha dua murid bodoh pergi ke Hogwarts, dengan kendaraan Muggle hasil modifikasi (yang demi apa pun, adalah pelanggaran berat di dunia sihir)?
Dan hal paling menakjubkannya, salah satu dari dua idiot itu adalah cowok sialan menyebalkan kurang ajar yang sejak pagi tadi (atau mungkin sejak musim panas lalu?) ia cari-cari.
Oke, Draco Malfoy. Bernapas.
Anggap saja kecemasannya sedikit berkurang (tapi bukan, bukan berarti ia cemas) karena sekarang setidaknya semua orang tahu di mana cowok nekat itu berada, tapi tetap saja rasanya Draco harus membunuh si kacamata busuk ini begitu ia datang.
Harry Potter.
Dan tingkahnya yang luar biasa.
Draco baru saja memikirkan akan menghajarnya di kanan atau kiri waktu si bekas luka jelek ini akhirnya muncul di pintu ruang rekreasi. Bedanya adalah, tidak hanya perhatiannya yang kali ini langsung tertuju ke sana— namun perhatian seluruh murid juga langsung tersita.
Ada jeda sejenak sebelum sorak sorai merespon dalam ledakan.
Draco merasakan dadanya mencelus.
Sekitar selusin orang segera merapat, dan kerumunan di depan pintu masuk itu bertambah besar. Sebagian menyodor-nyodorkan sepiala penuh jus labu (yang bisa dikatakan menciprat-ciprat tidak karuan) dan bermacam-macam kacang segala rasa dari bufet. Ada gumam-gumam di udara, seputar kau memang jenius dan sebagainya, namun yang paling kentara adalah banyak tawa kagum dari seluruh penjuru ruang. Tapi baru kali ini Draco merasa tidak senang sekali pun ada pelanggar aturan yang begitu liar.
Salazar, ampuni aku.
Dan menyusul tanpa peringatan, ia segera saja merasa aneh. Ada sesuatu yang mencegahnya bernapas dengan benar. Draco menahan diri, berusaha mencari tahu apa yang membuatnya merasa asing. Apa yang membuatnya merasa seolah ada yang berubah. Apa yang membuatnya merasa seakan-akan kehilangan.
Kehilangan? Kehilangan apa, tepatnya?
Mungkin karena pada awalnya Harry hanya punya Draco dan kini ia punya segalanya. Atau mungkin karena pada awalnya hanya Draco yang memedulikan cowok itu dan sekarang semua menaruh perhatian padanya. Atau mungkin juga karena pada awalnya hanya ada mereka berdua di dalam sudut pandang Draco, tapi—
Ia merasa konyol.
Kurang lebih naluri yang membuat si pirang itu berbalik dari tujuan sebelumnya, dan alih-alih melayangkan satu-dua kepalan tangan ke tulang pipi si idiot yang sedang disambut habis-habisan, Draco justru memaku langkahnya menaiki undak-undakan ke arah kamar anak laki-laki.
Yang ada di pikirannya hanya betapa lelah tubuhnya hari ini karena seharian di kereta. Atau betapa lelah hatinya mencemaskan seseorang yang bahkan tidak acuh sedikit pun— tapi tidak, Draco sudah bilang ia tidak cemas.
Aku ingin melempar punggung ke ranjang dan melupakan semua yang bisa dilupakan.
Setidaknya iris kehijauan itu baik-baik saja.
.
Harry mendengar gemuruh yang mengepungnya dari berbagai sudut ruang. Tidak hanya syok, ia bahkan tidak percaya kalau kedatangannya sedang disambut. Maksudnya, disambut oleh murid-murid Slytherin.
Lelucon apa lagi ini?
Harry berusaha bernapas di tengah gagap gempita itu, sementara iris kehijauannya mencari-cari sosok yang sudah ia bayangkan bakal menghadang di depan pintu begitu ia melangkah masuk.
Tapi sosok itu tidak ada di sana.
Nyatanya, Draco Malfoy dan cercaannya yang setengah mati ingin Harry dengar tidak ada di mana-mana.
Padahal ia sudah punya firasat (atau harapan) kalau si pirang bakal mengamuk menjadi-jadi dan mengacaukan situasi. Setidaknya itu lebih baik daripada digempur orang-orang yang tidak ingin ia temui saat ini. Apa Harry salah perkiraan, atau memang dirinya tidak sepenting itu untuk Draco khawatirkan?
Dan demi jenggot busuk Merlin, buat apa dia khawatir padamu?
Cowok itu mulai merasakan pening di kepalanya.
"Jadi?" Pansy Parkinson, sebagai satu-satunya orang yang lengkingannya terdengar dalam situasi seperti ini, akhirnya menyeletuk. Cengirannya lebar. Piala jus disodorkannya dengan santai. "Bagaimana soal mobil terbang keren itu?"
Gumam-gumam di sekitar semakin memenuhi udara. Pertanyaan-pertanyaan bagaimana bisa kau melakukannya dan kekeh tidak habis pikir mulai membanjir lagi. Harry menyingkirkan piala tawaran Pansy dari dekat tubuhnya dengan pelan. Ia mengedarkan pandang sekali lagi, memastikan memang tidak ada yang ia cari di tengah-tengah semua makhluk asing ini.
Jangan konyol. Draco bahkan tidak peduli kau masih hidup atau sudah mati.
Sesuatu sedingin es bersarang di dadanya.
"Kurasa.." ia mencoba berbicara, dan anehnya keramaian itu perlahan mereda, "..aku butuh istirahat."
Seseorang yang tidak ia kenal, hanya sekadar pernah melihat wajahnya, membukakan jalan. Hidungnya bengkok, namun setidaknya cengirannya mencapai mata.
Kerumunan itu bubar menyisakan tatap-tatap yang masih mengikuti Harry sampai ke kamar anak laki-laki. Ia merasakan tanda tanya yang masih berputar tapi tidak terlalu dipedulikan— mereka lebih sibuk mengorek informasi dari koran-koran terbitan malam, edisi khusus, soal insiden yang membuat girang asrama ini. Mungkin mereka bahkan tidak terlalu serius menanggapi poin Syltherin yang dipotong sebelum tahun ajaran dimulai, asal nama panji-panji hijaunya mendapat ketenaran.
Harry menutup pintu kamar di belakangnya dan menatap keseluruhan ruangan yang masih terang benderang. Kopernya sudah nangkring dengan rapi di sisi ranjang, namun yang lebih mendapat perhatiannya adalah rambut pirang itu, dan tatapannya yang seakan berkata:
Oh, kau?
.
"Malfoy?"
Nada suara yang sudah sangat dikenalnya kali itu justru membuat kepalanya semakin pening. Karena itu Draco sendiri berusaha melupakan betapa leganya ia melihat batang hidung Harry lagi, masih utuh walau sedikit tergores— masih cowok yang sama dengan tahun lalu, sekali pun keadaan sudah berbeda.
"Dengar," ia mulai bicara. "Kau tidak mengerti situasinya."
Nah, kan. Seolah tidak sadar kalau sedang diabaikan, rambut hitam bodoh itu terus berceloteh seperti Draco memang menuntut penjelasan.
"Aku benar-benar harus menjelaskan segala sesuatunya sejak awal musim panas karena—"
"Sebenarnya kau tidak perlu menjelaskan, Potter." Yang satunya tiba-tiba memberitahu.
"Memangnya kenapa?" Harry mengangkat alis.
Draco bala mengangkat bahu, suaranya lebih dingin daripada yang dimaksudkan. "Bukankah sudah jelas itu berarti aku tidak peduli sama sekali?"
Jeda sejenak.
"Ada apa sih, denganmu?"
Bukan Draco namanya kalau tak meledak saat disenggol begitu."Ada apa denganku, kau tanya?" Ia nyaris membuat seisi ruang rekreasi di bawah mendengar raungannya jika tidak segera memaksa tawa mengalun dari tenggorokan. "Jadi apa kau memang setolol itu, atau kau pikir nama Harry Potter-mu sudah cukup keren sampai kau tidak akan mati gara-gara kecelakaan di udara, atau setidaknya kena hukuman penjara—"
"—atau dikeluarkan dari Hogwarts?" Harry menyela. "Aku sudah memikirkan semua kemungkinannya, Malfoy, percaya deh, dan kalau itu bukan satu-satunya kesempatanku untuk pergi ke Hogwarts, tentu aku akan mencari cara lain."
"Tentu saja. " Draco menandas, berang. "Hogwarts Express tidak selevel dengan Anak-Yang-Bertahan-Hidup!" Sudut bibirnya naik sesenti. Ia benar-benar mengamuk. "Sudah jelas Harry Potter yang terkenal harus datang dengan sensasi yang bakal menggemparkan seisi sekolah!"
Harry menarik napas tajam. "Kau pikir kenapa aku nekat terbang ke Hogwarts dan membahayakan diriku sendiri beserta orang lain kalau bukan karena kau?" Ia membetulkan kacamatanya dengan kasar, bersiap menyerang. "Jangan bicara seakan kau memang tidak mau tahu apa-apa—"
"Tapi aku memang—"
"—karena aku tahu kau mencemaskanku lebih dari apa pun!"
Draco menggertakkan gigi.
"Biarkan aku menjelaskan semuanya supaya kau bisa tutup mulutmu dan membukanya lain kali dengan kalimat yang setidaknya relevan."
"Jangan—" Draco nyaris meremukkan gerahamnya, "—salah paham."
"Kau yang salah paham." Harry masih ngotot. "Apa pedulimu kalau ada seorang peri rumah misterius datang ke rumahku, memaksaku untuk jauh-jauh dari Hogwarts, dan menyihir-nyihir seenak jidat sampai aku kena dekrit penggunaan sihir di bawah umur dari Kementerian?" Telinganya begitu merah, sampai-sampai ia tidak menyadari amarah Draco menguap lenyap, digantikan dengan kebingungan yang amat kentara.
"Atau apa pedulimu kalau aku dikurung di kamar gara-gara hal itu, lalu Ron membantuku kabur, dan kemudian saat kupikir aku sudah selamat, kami justru tidak bisa menembus tembok di stasiun— tembok penghubung ke peron 9 3/4 itu, dan berakhir dengan berusaha pergi ke Hogwarts menggunakan cara lain— satu-satunya cara yang terpikir dan mungkin dilakukan?"
Respon Draco cuma mengerjap.
"Tentu saja kau tidak peduli karena yang kau pedulikan hanya dirimu sendiri dan kacung-kacungmu. Bagaimana mungkin kau bahkan memikirkan posisiku dan—"
"Hari ini aku mencarimu ke mana-mana, Potter."
Harry terhenti di sana.
"Kupikir kau—" Draco bisa saja mengatakan kalimat yang lain, kalimat yang mana saja— "..sedang menghindariku atau apa."
Ada yang remuk.
Draco telah memilih kalimat yang paling menyakitkan.
"Tapi waktu darah lumpur itu bilang kalau kau tidak ada di gerbong asramanya, dan begitu juga si Weasel, aku tahu ada yang tidak beres." Iris abu-abu itu perlahan mengalihkan pandang. "Kukira.. kau sudah mati."
Sesuatu membuat Harry tercekat.
"Dan kukira karena situasinya sudah berbalik arah sekarang, tentu saja kau tidak membutuhkanku lagi. Jadi aku tidak boleh peduli."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Kau sudah lihat apa yang bisa terjadi setelah kau memenangkan piala asrama, bukan? Atau harus kubilang apa yang sudah terjadi?"
Draco menoleh, menemukan iris kehijauan itu. Kilauan yang sempat dirindukannya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini, Potter?" Cowok itu meneruskan, melempar tanya. "Toh ada banyak orang di ruang rekreasi yang akan senang mendengar ceritamu barusan."
Harry mengacak rambutnya dengan putus asa, memilih mendekat ke tempat tidurnya sendiri. Ia menghempaskan tubuh ke atasnya.
Hela napas meluncur begitu saja.
"Kau tidak cemburu kan, Malfoy?"
Draco tertegun. Ada jeda sejenak sebelum ia berhasil menjawab.
"Cemburu pada apa?"
"Kalau begitu jangan." Harry melepas kacamatanya, meletakkannya di nakas sebelah, sebisa mungkin tidak menatap abu-abu yang akan menyesatkannya pada lirikan pertama. "Karena aku lebih memilihmu daripada orang-orang di luar sana."
Slytherin itu berbaring memunggungi yang satu lagi, perlahan memejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat. Seharian di mobil terbang Mr. Weasley benar-benar menguras tenaganya. Harry rasa ia masih punya waktu besok untuk menceritakan apa pun yang perlu ia ceritakan pada Draco.
"Kalau kau tidak keberatan," ia menggumam, akhirnya sepenuhnya dikuasai kantuk, "aku mau tidur."
Harry mendengarkan Draco ikut beringsut di atas tempat tidurnya.
"Tentu."
Memaksakan dirinya terlelap, mengusir semua pikiran soal iris kelabu dan rambut pirang yang sering mengganggu waktu tidurnya—
"Potter?"
Ia menahan dorongan menguap. "Ya?"
"Aku tidak cemas." Suara itu terdengar ragu-ragu. Bahkan kata-katanya lebih terdengar seperti pertanyaan ketimbang pernyataan. Harry segera sadar Draco ingin diyakinkan.
"Aku tidak cemas." Ia mengulang, seakan menegaskan kepada dirinya sendiri. "Oke?"
Harry membalik posisinya, gatal ingin menyindir. Mungkin kantuknya bisa menunggu. "Kau tidak pintar berbohong, tahu."
Nada lawan bicaranya langsung menajam lagi. "Dan siapa kau, wahai penyihir yang begitu mengenalku?" Draco memutar mata sebal. "Bukannya tadi katamu kau nekat melanggar dekrit gara-gara aku?"
"Apa?"
"Jelas-jelas kau bilang—"
"Tidak juga." Harry mendengus buru-buru. "Aku punya musim panas yang menyiksa, dan itu sudah cukup sebagai alasan kenapa aku butuh pergi ke Hogwarts."
"Oh, menyiksa karena jauh dariku?"
"Tutup mulutmu, Malfoy." Harry mengerucurkan bibir, membalik posisi tubuhnya lagi. "Aku mau tidur."
Draco menguap. "Kata Ibuku, kau tidak akan bisa tidur sepanjang malam kalau seseorang sedang memimpikanmu."
"Dan siapakah orang yang berani-berani memimpikanku ini?"
"Memangnya siapa lagi?"
Harry mengumpulkan udara di sekitarnya. "Dengar, Malfoy, aku sudah melewati hari yang panjang—"
"Oh, ya ampun, jadi hariku tidak sama panjangnya denganmu?"
"Diam sajalah—"
"Kau pikir cuma kau saja yang stres hari ini?"
"DIAM SAJA, MALF—"
"JANGAN KAU KIRA KAU BISA SEENAKNYA MENGANGGAP AKU BERSANTAI-SANTAI—"
"AKU MAU TIDUR, DEMI SALAZ—"
"TIDUR SAJA, KALAU BEGITU!"
Draco menarik napas panjang. Mengembuskannya. Pipinya menggembung kesal. "Jangan berani-berani mencoba berbaikan denganku."
"Kau yang jangan berani-berani."
"Diam."
"Kau yang diam."
"Kau yang diam."
Hening.
"Jadi, menurutmu siapa yang tidak menginginkanmu kembali ke Hogwarts tahun ini?"
Hela napas terdengar.
"Siapa pun itu, sudah pasti ia akan terus menggerecokiku sampai aku memutuskan untuk kabur ke rumah."
"Dia hanya tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
Harry mendengus. "Memangnya dengan siapa?"
"Kau baru saja mengalahkan si mengerikan itu, Potter," Draco bergerak tak nyaman. Ia melirik sedikit ke arah Harry. "Coba naikkan dagumu sedikit."
Harry mengeratkan cengkramannya ke bantal. "Aku tidak mengalahkannya, dan kau tahu itu."
"Tapi setidaknya—" Draco kelihatannya berusaha keras melanjutkan ucapannya, "—setidaknya kalau ia nanti kembali—"
"Malfoy—"
"Kau tidak sendirian, Potter." Draco berkeras. "Apa pun yang terjadi tahun ini.. siapa pun yang ingin mendepakmu dari sekolah.."
Harry akhirnya menoleh. Hijau menubruk abu-abu.
"Kau janji kan, Malfoy?"
Mungkin ada banyak yang ingin Harry tumpahkan begitu saja kendati ia tidak tahu caranya— betapa cemasnya ia mengenai si peri rumah, dan tembok stasiun, dan surat dari sekolah untuk Paman Vernon, dan kerusakan pohon besar di halaman, dan masalah bagi Mr. Weasley, dan pengurangan poin asrama bahkan sebelum tahun ajaran dimulai, dan detensi, dan penghuni asrama yang menggila. Betapa gugupnya ia memulai tahun kedua dengan semua kesialan bertubi-tubi itu. Dan firasatnya yang mengatakan kalau ini hanyalah permulaan..
"Aku janji."
Harry tertegun.
Seperti sihir, tiba-tiba saja hari esok tidak terlihat begitu mencemaskan.
.
to be continued
.
a/n:
halo, semua! kangen banget ahaha. udah berapa lama ya ga ketemu:( maaf yang sebesar-besarnya nih buat para pembaca yang mungkin nungguin, terutama yang minta dilanjutin lewat review bahkan pm, atau lebih-lebih lagi yang dari wattpad. apalagi kalau sayanya waktu itu enggak membalas pesan kalian huhu. mau maafin, kan? *kedip-kedip*
sebenernya enggak mau kasih alasan macem-macem, tapi kalian berhak tahu lah ya, apa penghambat terbesar seri ini. kabar buruknya adalah laptop saya tamat riwayatnya setelah diguyur satu cangkir kopi—
dan hasilnya seri ini tersendat mengingat semuanya ada di laptop saya, termasuk kerangkanya, dan perencanaan bab-babnya, dan lain-lainnya. saya masih berusaha pelan-pelan menyusun ulang (walaupun nyebelin banget harus mikir lagi dari awal), tapi yah, doakan aja lah ;)
terakhir nih special thanks buat para Guest, BreezeCookie, Eve, Fanita Al-Hapizd, aisyah prionggo, EYErLa, Nico984, HiNa devilujoshi, Kyu, Park RinHyun-Uchiha, dini, chronossoul, fazira. ciiwiiw, Xiao Lulu, Liuruna, Driedleaves, DraRry Shipper, ArachellVictoria, paradisaea R, fr. amel. lia, ScarheadFerret, maiolibel, dan finchleyxchan yang sudah berbaik hati memberikan umpan balik di kolom review :) kalian bener-bener membantu keberlangsungan seri ini.
Terima kasih banyak atas dukungannya!
Putri.
