*chap 3*

*Mamori*

Latihan neraka ala Hiruma sudah selesai dan saatnya anak2 harus pulang. Matahari sudah mulai menyembunyikan dirinya di balik pegunungan. Cahaya merah kecoklatannya sungguh indah, dapat membuat hati siapa saja yg melihatnya menjadi tenang.

"kak Mamori?" suara itu menyadarkanku dari lamunanku.

"iya?" jawabku

"emm.. ini" adik kelas yg tadi siang sempat bertanya pada Suzuna, memberikanku sebuah amplop berwarna biru. Dia berani melakukannya karena di ruang club hanya ada aku dan dia. Mungkin dia meminta izin ke toilet agar bisa memberikannya padaku. Yg lain masih di lapangan sedang melakukan briefing bersama Hiruma, sedangkan aku melamun di dekat jendela dengan tugas kuliah yg menumpuk di tambah pula tugas 'tambahan' dari Hiruma.

Aku pun menerima amplop biru itu yg ternyata isinya sebuah surat, dan dia pun pergi kembali ke lapangan. Aku membuka surat itu dan membacanya, 'akan ku tunggu besok habis pulang latihan ya ^^sampai jumpa' begitulah tulisannya. Aku mengernyitkan alisku tanda kalau aku bingung 'menungguku? untuk apa?' bergegas aku menyembunyikan surat itu dari yg lain terutama Hiruma, aku masukan surat itu ke dalam tas kemudian kembali ke pekerjaanku.

Akhirnya setelah briefing selesai, yg lainnya masuk ke dalam ruang club kemudian mengganti baju mereka di ruang ganti. Bau keringat meyerbak ke seluruh ruangan. Tapi aku sudah biasa dengan keadaan ini

"oi, manager sialan.. tumben gak bawa manisan lemon"

"siapa bilang aku gak bawa" aku langsung mengambil manisan lemon dari dalam tas, ku perhatikan surat itu masih berada di dalam. 'Berarti masih aman, blm ada yg tau' pikirku.

Kemudian aku membawa 2 kotak manisan lemon yg memang sengaja kubuatkan untuk semuanya hari ini. Dan mereka dengan ganasnya langsung menyantap semuanya. Kecuali Hiruma dan anak itu, anak yg ingin menungguku besok setelah latihan -padahal aku tidak tau siapa namanya- . Aku menghampirinya, dia berada di dekat pintu sedang memakai jaketnya bersiap untuk pulang.

"hey" panggilku, dia pun menoleh.

"kau mau?" tanyaku sambil tersenyum, wajahnya berubah merah kemudian dia menunduk

"ti.. tidak kak.. terima kasih" dengan cepat dia mengambil tasnya lalu beranjak dari tempat itu. Aku hanya bisa diam di tempat, ternyata masih ada anak pemalu selain Sena juga Ikyuu.

"kekekeke jadi selama ini kau sukanya ama anak kecil yg masih bau kencur ya? kekekeke pantas saja, dapat ancaman baru" Suara Hiruma tepat di belakangku, aku langsung berbalik dan wajahku menabrak dadanya. Dia begitu dekat denganku, dan itu berhasil membuat wajahku memanas. Ku paksakan untuk melihat ke atas dan menatapnya.

Tapi tubuh Hiruma membelakangi cahaya lampu, jadi aku tidak begitu bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sekilas ku lihat wajahnya yg mengeluarkan ekspresi muka yg aneh. "ke.. kenapa Hiruma kun?" dia tidak menjawab. Hening...

"yaaa... Mamo nee sama Yo nii lagi ngapain tuh?" ku lihat Suzuna di balik badannya tertawa senang bersama yg lain. Seseorang di depanku tidak beranjak juga malah terus menatapku. Pandangan yg menurutku sangat aneh. "ya ya yaa... " Suzuna mulai teriak lagi. Hiruma mulai bergerak, dia berbalik tanpa berbicara sedikitpun. Mengambil tasnya kemudian tasku. Melewati semuanya tanpa melirik, melihat, apalagi mengancam mereka. Dia... hanya diam..

Dia melewatiku sambil berbisik " ayo pulang, masih banyak pekerjaan yg harus di kerjakan" kemudian melempar tasku ke arahku. Dia terus berjalan tanpa menghiraukanku, membuat yg lain diam seribu bahasa. Bahkan Suzuna menjadi bungkam. Aku pun mengucapkan selamat tinggal kepada semuanya kemudian berlari kecil ke arah Hiruma yg menungguku di pintu gerbang. Suara terakhir yg kudengar adalah suara Suzuna yg berkata pada Sena "apa mereka sedang bertengkar?" pertanyaan itu terus berputar-putar dalam pikiranku. 'bertengkar?'

'apa Hiruma marah?'

'atau dia cemburu?' yg pasti aku tidak pernah tau apa yg di pikirkan setan itu.

Kami keluar dari wilayah Deimon dan berjalan menyusuri jalan menuju Apartemenku. Semenjak aku kuliah, aku sudah tidak di rumah lagi dan harus tinggal di apartemen dekat kampus karena jarak dari rumah ku menuju Saikyoudai lumayan jauh. Yaa.. sebenarnya apartemen Hiruma persis berada di atas apartemenku. Jadi lebih mudah untuk bikin strategi dan juga bisa lebih cepat jika suatu saat aku membutuhkan jasanya.

Entah kenapa sepertinya Hiruma berjalan agak lambat dari biasanya, padahal hari sudah semakin gelap. Ku coba saja bertanya.

"Hiruma kun?"

"hah?"

"kamu kenapa?"

"apanya?"

"daritadi diam, apa kamu marah? padahal waktu datang sepertinya kau senang sekali"

"oh"

jawaban itu berhasil membuatku jengkel. Ku putuskan untuk diam saja, tidak ingin membahasnya lagi.

"manager sialan" sekarang giliran dia yg memanggilku

"hah?" ku lakukan sama persis dengan apa yg dia lakukan terhadapku

"benda sialan ini aku bakar saja ya"

"oh" jawabku reflek, TUNGGU ! dia bilang benda sialan? benda apa yg dia maksud?

Aku langsung menoleh ke arahnya yg tangan kirinya sedang memegang amplop berwarna biru dan tangan kanannya memegang flame. 'amplop itu kan...' batinku.

Segera ku cari ke dalam tas tapi hasilnya nihil. Aku melihat ke arahnya, dia sedang menyeringai dan bersiap menyalakan flame kesayangannya.

" tu.. tunggu Hiruma kun ! kau dapat darimana?"

"tas sialan mu" jawabnya enteng

"kau mengobrak abrik tas ku?

"keh.. bukan mengobrak abrik tapi surat mencurigakan sialan ini keluar dengan sendirinya dari tas sialan mu yg kau geletakan sembarangan di meja.. saat kau menghampiri adik kelas sialan itu, langsung saja ku ambil"

"mou ! itu namanya pencuri ! cepat kembalikan !"

"enggak mau, ambil aja sendiri kalo bisa" Hiruma memanjangkan tangannya ke atas agar aku tidak bisa menggapainya. Tapi saat aku hampir berhasil, dia malah menurunkan tangannya dan kemudian dia justru memegang pundakku dan sedikit di dekatkan padaku dan dia mengeluarkan suara beratnya "apa kau akan pergi menemuinya?" dia kembali memasang wajah anehnya, wajah yg aku tidak tau emosi apa yg di keluarkannya.

aku tidak bisa menjawabnya, aku terpaku.

melihatku yg tidak kunjung menjawabnya, dia menjauhkan wajahnya dari hadapanku, memegang tanganku kemudian menaruh surat itu di telapak tanganku. "terserah kau sajalah." dia berbalik lalu berjalan beberapa langkah di depanku kemudian berhenti.

dia memberikan kode tangannya. "silahkan saja kau pergi dengannya, dengan siapapun di dunia ini tapi... " ada jeda waktu di bagian itu, tak di sangka dia berbalik dan menghampiriku yg masih mematung di tempat. Aku terus menatap matanya hingga dia benar2 berada di depanku, jarak kami hanya 1 kepal tangan saja. Dia menatapku, aku menatapnya.. kami saling menatap.

Tanpa aba2 dia menarikku ke dalam pelukannya yg ku akui memang hangat.

Dia berbisik tepat di samping telingaku "Tapi kau hanya akan bahagia bila bersamaku... Anezaki... " Ini pertama kalinya dia memanggil margaku dengan penuh arti dan amat sangat lembut. Tanganku bergerak dengan sendirinya membalas pelukannya. Dan kami tenggelam ke dalam pelukan yg hangat.

This is it chap 3

hehehe

Hiruma : Kenapa gue super OOC hah?

Ane : Lu kece kok bang *-*d

Hiruma : Kece dari Hongkong !

Ane : Kalo dari Hongkong ketemu Tou Ming she dong?

Hiruma : Dia di Taiwan Author bego sialan !

Ane : Si abang tau aje #colek

Hiruma : *bakar author dengan santainya*

Ane : RIP

Hiruma : Walaupun begitu fic ini tetap di hargai ya readers sialan. Udah di baca aja ini author sialan udah mati kesenengan kekeke

Ane : Arigatou *nunduk* RnR yaa... aa' Yoichi baik beuudh *peluk*

Hiruma : *gorok leher author dengan santai dan cool*

Ane : 2nd RIP

Hiruma : Yaha ! Read And Review !