Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic © Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, etc.

Enjoy

.

.

Chapter 3: Day 2

Sabtu, 05:00 a.m.

Echo terbangun dari tidur lelapnya karena bunyi alarm dari handphone-nya. Dengan mata masih setengah terbuka, dia mengecek layar HP miliknya. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Dengan malas, dia mendorong tubuhnya untuk bangun.

Teman-temannya yang lain masih tertidur. Maklum, tadi malam hampir semua anak menderita syndrome malam pertama kemah, susah tidur! Hanya Echo, Alice, Alyss dan Lotti selaku anak kelas 9 yang sudah sering berkemah yang bisa tidur dengan mudah tanpa terkena syndrome itu.

Setelah merapihkan sleeping bag-nya, Echo membuka tasnya dan mencari peralatan mandi dan baju pramuka yang akan dipakainya hari ini.

"Sial, TKU-nya belum dipasang!" Echo merutuk dalam hati. Echo baru satu bulan yang lalu dilantik menjadi Penggalang Terap, jadi belum semua baju pramukanya dipasang tanda TKU yang baru.

"Udah deh, pake baju yang kemaren aja." batin Echo pasrah, padahal bajunya yang kemarin sudah agak kotor.

Echo membuka resleting pintu tenda, kemudian melangkah keluar menuju udara pagi yang dingin. Echo kembali menutup pintu tenda dan berjalan menuju villa untuk mandi.

"Pagi, kak!" Echo menyapa kak Glen dan kak Jack yang sedang duduk santai sambil ngopi di teras villa ketika gadis itu melewati mereka.

"Pagi, Echo. Pagi sekali bangunnya. Yang lain belum pada bangun?" tanya kak Glen. Echo menggeleng dan melanjutkan langkahnya memasuki villa.

Selesai mandi, Echo kembali ke tendanya. Gadis itu menghela nafas ketika melihat teman-temannya belum bangun juga. Akhirnya Echo mengguncang-guncang Alyss agar pinru-nya itu bangun.

"Alyss, bangun! Udah hampir setengah enam!" bisik Echo. Alyss langsung terbangun begitu diguncang-diguncang oleh Echo.

"Eh?" Alyss langsung bangkit berdiri. Entah karena kebetulan atau ikatan batin, Alice juga ikut terbangun begitu Alyss bangun.

"Bangunin yang lain!" bisik Echo kepada Alyss dan Alice. Mereka berdua mengangguk dan berusaha membangunkan adik-adik kelas mereka.

"Lotti, bangun!" kini Echo berusaha membangunkan Lotti. Untung saja Lotti mudah dibangunkan.

"Lily, bangun!" Alyss berusaha membangunkan Lily, anggota termuda di regu mereka.

"Lima belas menit lagi, bu!" Lily mengingau dan memutar tubuhnya, semakin merapatkan selimut yang dipakainya.

"Gila, ade-ade kelas kita kebo semua!" kata Alice sweatdrop setelah usahanya membangunkan Sharon juga menemui kegagalan.

"Woi, bangun! Ada kak Glen!" Lotti berteriak. Tapi adik-adik kelasnya itu tidak bangun juga.

Tahu kalau adik-adik kelasnya adalah K-Popers sejati, Alyss membisikkan sesuatu di telinga Lotti. Lotti menyeringai ketika mendengar saran Alyss. Alyss memberi aba-aba dengan jarinya. Satu…dua…tiga…

"Woi, ada Minho di luar!" teriak Lotti dan Alyss berbarengan. Echo dan Alice menutup telinga mereka karena teriakan mereka berdua yang sangat keras.

Efeknya langsung terlihat. Adik-adik kelas mereka langsung meloncat bangun dan kelabakan mencari idola mereka itu.

"Kyaaa, Minho! Minho-nya dimana?" teriak Ada histeris.

"Ada Onew gak? Ada Onew gak?" pekik Vanessa ikut histeris. Keempat senior hanya bisa ber-sweatdrop ria melihat kefanatikan adik-adik kelas mereka terhadap boyband yang satu ini.

"Kak, Minho-nya mana?" tanya Lily dengan memelas. Ada, Vanessa dan Sharon juga ikut memandang Echo, Lotti, Alice dan Alyss dengan tatapan memelas. Rasanya keempat senior itu mau tertawa terbahak-bahak melihatnya.

"Diluar rumahnya di Korea sana!" jawab mereka berempat kompak.

"KAKAK!"

Sementara itu di tenda putra.

"Anak-anak putri berisik amat, sih?" gumam Break yang terbangun dari tidur lelapnya karena keributan di tenda putri. Break berguling dan melihat layar handphone Nokia miliknya, jam setengah enam pagi.

"Geblek! Upacara mulai jam enam! Woi, BANGUN!" Break meloncat keluar dari sleeping bag-nya dan berteriak membangunkan teman-temannya.

"Hoammm, ribut amat sih?" Oz yang pertama bangun.

"Oz! Gimana sih pinrunya telat bangun? Udah jam setengah enam!" teriak Break lagi.

"Eh? Beneran? SEMUANYA, BANGUN SEKARANG KALAU GAK MAU DIKULITIN HIDUP-HIDUP SAMA KAK GLEN!" teriak Oz, berusaha membangunkan teman-temannya.

Ancaman Oz terbukti ampuh. Seluruh anggota regunya langsung bangun dan menatap sekelilingnya dengan panik.

"Mana kak Glen-nya?" tanya Vincent.

"Di villa. Cepetan ganti baju, gak ada waktu lagi buat mandi! Kita belum masak!" perintah Oz.

06.30 a.m. Jalan Pagi!

"Awas licin!"

"Kyaaa!"

"Udah dibilangin awas!"

Sekarang mereka berenam belas ditambah kak Glen dan kak Jack sedang jalan pagi di daerah pedesaan sekitar perkemahan mereka. Berhubung kebanyakan jalannya adalah jalan tanah dan tadi malam sempat gerimis, jalanan yang mereka lalui menjadi licin. Sudah ada beberapa orang dari mereka yang menjadi korban jalanan licin itu.

"Kak, kita mau kemana sih?" tanya Elliot yang berada di barisan paling depan.

"Ada aja." jawab kak Glen singkat, padat, dan gak jelas.

Tiba-tiba kak Glen berbelok di sebuah gang. Yang lain hanya mengikuti, termasuk kak Jack yang menjaga mereka di barisan belakang.

Rupanya kak Glen membawa mereka melewati sebuah pematang kebun singkong. Anak-anak hanya menelan ludah begitu melihat pematang yang akan mereka lalui. Di sebelah kanan pematang, terdapat sebuah selokan yang cukup lebar tanpa pembatas yang jelas, sehingga batas-batas selokan dan pematang tidak terlihat. Di sebelah kiri pematang, terdapat kebun singkong, tapi kebun singkong itu lebih rendah dari pematang yang mereka lalui, setidaknya perbedaan tinggi antara pematang dan kebun sekitar satu setengah meter! Apalagi pematang yang mereka lalui ditumbuhi rumput-rumput yang licin.

"Kak, yakin kita harus lewat sini?" tanya Vanessa ragu.

"Namanya juga pramuka, gak seru kan kalau gak banyak tantangannya? Atau Vanessa mau balik lagi?" goda kak Jack. Vanessa tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti teman-temannya yang sudah berjalan lebih dahulu.

100 meter pertama berjalan dengan aman, setidaknya pematang itu belum meminta tumbal. Tapi ketika mereka hampir mencapai akhir dari pematang itu, barulah pematang itu meminta tumbal.

Tiba-tiba Lily yang berada di depan Alyss kehilangan keseimbangannya. Lily merentangkan tangannya dengan panik, gadis kecil itu hampir jatuh ke selokan di sebelah kanannya. Dengan sigap Alyss yang berada di belakang Lily menjulurkan tangannya untuk membantu adik kelasnya. Tapi hal itu malah membuat Alyss ikut kehilangan keseimbangan.

"Kyaaa!"

"Alyss!"

Lily berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali, tapi tidak dengan Alyss yang malang. Gadis itu jatuh ke kebun singkong yang berada di sebelah kirinya.

"Aw!" pekik Alyss.

Suara tawa meledak dari teman-teman Alyss. Alyss memasang wajah cemberut kepada mereka semua, tapi akhirnya gadis itu ikut tertawa.

"Alyss tidak apa-apa?" tanya kak Jack. Pembina itu mengulurkaan tangannya ke bawah untuk diraih Alyss. Dengan wajah sedikit memerah, Alyss meraih tangan kak Jack dan kak Jack menarik Alyss kembali ke pematang sawah.

"Lain kali hati-hati ya, Lyss!" kak Jack menasihati Alyss.

"I… Iya, kak…" jawab Alyss dengan terbata-bata, masih tidak percaya kalau dirinya baru saja diselamatkan oleh kakak pembinanya yang ahemditaksirnyaahem itu.

"Ayo, jalan lagi!" perintah kak Jack. Semuanya kembali berjalan maju dengan patuh, sementara kak Jack kembali ke posnya di belakang barisan.

"Cieee, yang baru ditolongin sama kak Jack, nih!" goda Alice yang berada di belakang Alyss.

"Shut up!"

08.30 a.m. Materi: P3K

"Jangan kenceng-kenceng, woy!"

"Sa… sakit, Van… SAKIT!"

"Iya, iya, ini udah dikendorin!"

"Lihat, lihat! Tangan Ada kayak pake sarung tangan bayi!"

"Lily, ini bukan waktu untuk main-main!"

Regu putra hanya bisa sweatdrop melihat kehebohan regu putri. Sekarang mereka sedang mempelajari tentang P3K. Masing-masing regu diberikan sepuluh mitela dan empat bidai kemudian disuruh membalut seorang pasien dengan balutan-balutan yang mereka ketahui dalam waktu lima belas menit. Regu putra bekerja tanpa banyak cincong, tapi hasilnya berantakan. Regu putri kebalikannya, ribut tapi hasilnya rapih.

"Selesai!" pekik Sharon. Ada yang hari itu sedang sial sehingga dipilih menjadi pasien hanya bisa berbaring tak berdaya di atas rumput. Hampir separuh tubuh gadis itu tertutup oleh balutan, mulai dari kepala, hidung, dada, tangan, lutut, hingga kaki.

"Regu putri udah beres tuh, cepetan!" bisik Gil kepada teman-temannya. Regu putra baru menggunakan lima mitela dan dua bidai.

"Balutan apa lagi, nih!" tanya Oz panik karena waktu tinggal lima menit lagi.

"Kalian ini gimana sih? Cepetan dong! Emangnya enak dijadiin kelinci percobaan kayak gini?"Elliot yang menjadi pasien mulai nyerocos.

"Oz, ada gak yang namanya balutan mulut?" tanya Vincent, kesal karena pasien mereka dari tadi ribut melulu.

"Oh, ada kalau kita ciptakan!" jawab Oz sambil menyeringai licik.

"Hei, asal kalian tahu, ya. Gak ada yang namanya balutan mulut! Yang ada balutan kepala, balutan lutut, balutan kak…. Mphhh!" cerecosan Elliot berhenti di tengah jalan karena Reo melilitkan kain mitela di mulut Elliot.

"Udah ah, berisik!" kata Reo datar sambil mengencengakan lilitannya.

"Good job, Reo!" puji Break sambil mengangkat dua jari jempolnya.

"Anak-anak, waktunya dua menit lagi!" kak Glen memperingatkan dari villa.

"Ngeek, kita bikin balutan apa lagi, nih?" tanya Fang panik.

"Udah ngasal aja. Paling cuma disemprot sama kak Glen." bisik Doug.

"Disemprot sama kak Glen dibilang "cuma"?"

Dua menit kemudian…

"Balutan kalian sudah bagus, tekniknya sudah benar. Tapi, nanti kalau ngiketnya jangan terlalu kendor, oke? Nilai kalian 85!" puji kak Glen.

"Asyik!" Regu Mawar, minus Ada, bersorak sambil ber-highfive.

"Sekarang kakak periksa yang putra." kak Glen bergerak menuju kerumunan anak laki-laki yang sedang menunggu dengan gelisah.

"Mana pasiennya?" tanya kak Glen. Mereka semua memandang satu sama lain dengan gelisah sebelum melangkah kak samping, menunjukkan tubuh Elliot yang tadi terbaring di belakang mereka.

1…

2…

3…

"Kalian ini… mau bikin MUMI YA?"

10.30 a.m. Materi: Semaphore

"Regu putra sudah siap di posisi, Jack!" suara kak Glen terdengar sedikit bergemerisik di radio kak Jack.

"Oke, putri juga sudah siap di posisi." balas kak Jack, kemudian dia memutuskan hubungannya.

"Siapa yang mau pertama nyoba?" tanya kak Jack kepada anak-anak putri.

"Saya, kak! Saya mau coba!" Lotti mengacung-ngacungkan bendera semaphore-nya dengan semangat.

"Oke Lotti, kamu duluan!"

Kini mereka semua sedang berlatih mengirim dan menerima pesan yang disampaikan dengan bendera semaphore. Regu putri dan regu putra akan saling mengirim pesan, regu putri berada di atas sebuah tebing, sedangkan regu putra berposisi di tebing lain yang lebih rendah sekitar dua ratus meter di depan mereka.

"Siapa pengirim dari Mawar?" suara kak Glen kembali terdengar di radio.

"Lotti, kalian?"

"Vincent. Lotti sudah siap?"

"Sudah."

"Oke, silahkan kirim!"

"Lotti, kirim pesannya, isinya terserah kamu." komando kak Jack.

"Siap kak!" Lotti menyilangkan bendera semaphore-nya di depan bawah tubuhnya. Setelah mengela nafas panjang, Lotti menyentakkan kedua tangannya ke atas, membawa bendera semaphorenya menyerong ke atas, huruf U. Kemudian Lotti mengubah posisi tangannya lagi, kini kedua tangannya membentuk sudut 180 derajat antara satu sama lain, huruf R. Kembali ke posisi huruf U, kemudian R lagi. U-R U-R, tanda agar penerima pesan siap. Setelah itu Lotti kembali menyilangkan benderanya.

Lotti menyipitkan matanya untuk melihat balasan Vincent. Huruf K, tanda bahwa Vincent sudah siap menerima pesan. Lotti mulai mengirimkan pesannya.

"K-A-L-I-A-N D-I-M-A-N-A?" Lotti mengakhiri gerakannya.

Balasannya datang beberapa detik kemudian.

"U-D-A-H J-E-L-A-S D-I D-E-P-A-N M-A-T-A L-U M-A-S-I-H A-J-A N-A-N-Y-A"

"Tenang Lotti, tenang, tenang!" kak Jack berusaha menenangkan Lotti yang kelihatannya sangat ingin melempar bendera semaphore-nya ke kepala Vincent.

"Siapa yang mau coba lagi?" tanya kak Jack. Vanessa mengacungkan tangannya.

"Oke, sekarang regu putra yang mengirim pesan lebih dulu. Gil yang akan mengirim pesan." Vanessa mengangguk dan bersiap-siap untuk menerima pesan dari Gil.

Beberapa saat kemudian mereka semua melihat pesan yang dikirim oleh Gil.

"K-A-L-I-A-N L-A-G-I N-G-A-P-A-I-N?"

Sharon membisikkan sesuatu di telinga Vanessa, gadis berambut hitam itu mengangguk dan segera mengirimkan pesan yang dibuat oleh Sharon.

"L-A-G-I T-I-D-U-R, Y-A G-A-K-L-A-H"

"Kayaknya daritadi gak ada pertanyaan yang bermutu deh?" kata Alyss sweatdrop.

Satu persatu, anak-anak putri dan putra bergiliran mencoba mengirimkan pesan. Lima menit kemudian, tinggal tersisa satu orang dari regu Mawar dan satu orang dari regu Kelinci. Mereka berdua adalah pasangan yang terkenal karena setiap kali mereka berdua bertemu satu sama lain, selalu terjadi hujan lokal dan badai yang memaksa teman-teman mereka menjauh. Selain itu, mereka berdua juga terkenal karena kebutaan mereka soal semaphore!

"Yang putri siapa?" bisik Elliot, salah satu dari kedua orang tersebut, kepada Break. Anak laki-laki itu sudah siap dengan semaphorenya, hanya tinggal mengirim pesan.

"Ada." bisik Break.

"Kalau ngirim pesan I hate you, kayak gimana?" tanya Elliot seketika.

"Gini nih!" Break menunjukkan gerakan yang diperhatikan Elli dengan seksama.

"Trims!" gumam Elliot, kemudian dia mulai mengirimkan pesan.

Ketika Elliot masih sibuk dengan pesannya, Oz berbisik di telinga Break, "Break, tadi itu I hate you, atau I love you?"

"I love you, salah sendiri dia gak belajar semaphore! " jawab Break santai. Teman-temannya yang lain, termasuk kak Glen, terkikik pelan.

"Ayo kita lihat apa yang akan terjadi!"

Kembali ke tempat putri.

"I L-O-V-E Y-O-U?" bisik Echo kepada dirinya sendiri. Teman-teman di kanan kirinya tertawa terbahak-bahak melihat pesan Elliot, sementara kak Jack hanya senyum-senyum sendiri. Ada menoleh ke arah teman-temannya dengan bingung.

"Emangnya si Elliot bilang apa?" tanyanya bingung.

"Dia bilang I hate you!" Sharon berbohong.

"Kalau mau jawab I hate you too, gimana?" tanya Ada yang sudah siap melancarkan serangan balik untuk musuhtapijugaahemcintaahemnya.

"Perhatikan!" Sharon menggerakkan semaphore-nya, sedangkan gadis yang lebih muda itu menirunya.

"Sudah hafal?" tanya Sharon, Ada mengangguk.

"Sekarang, serang!"

Kembali lagi ke tempat Elliot dkk.

"I L-O-V-E Y-O-U T-O-O!" Reo membaca pesan yang dikirimkan oleh Ada dengan suara keras. Suara sorakan langsung meledak di antara mereka semua.

"Selamat Elliot, pernyataan cintamu diterima!" kak Glen menjabat tangan Elliot dengan gaya formal sementara anak didiknya itu hanya bisa memandangnya kebingungan.

"Elliot, undangannya ditunggu, ya!"

"Peje, peje!"

"Kenapa sih? Aku kan cuma bilang I hate you aja!" seru Elliot kesal.

"Makanya, belajar semaphore yang benar dong!" saran Break santai.

Satu…

Dua…

Tiga…

"BREAK! KENAPA PESANNYA DIUBAH?"

12.30 p.m. Makan siang!

Setelah menyiksa Ada dan Elliot habis-habisan, seluruh anggota regu Mawar dan Kelinci kembali ke tenda mereka masing-masing untuk beristirahat dan tentu saja, makan siang!

"Masak apa nih? Lapeeerrr…" tanya Alice lemas. Gadis itu kini sedang bergelayut di lengan kembarannya.

"Alice, berat tahu!" protes Alyss.

"Masak apa, ya? Gimana kalau mie rebus aja supaya cepet?" Sharon menawarkan.

"Jangan mie lagi, dong! Tadi pagi kan udah makan mie. Asal kalian tahu ya, kita dianjurkan makan mie tidak lebih dari tiga hari sekali, karena mie memiliki kandungan yang hanya bisa dicerna oleh pencernaan setelah tiga hari. Makanya,…" tanpa diminta oleh siapapun, Vanessa memulai ceramahnya tentang bahaya mie instan.

"Gak usah sedetail itu juga kali, kita semua udah tahu kok!" kata Lotti sweatdrop.

"Nah, kalau udah tau, kenapa masih mau makan mie? Seharusnya, kita makan makanan yang…" Vanessa melanjutkan ceramahnya.

"Eh? Itu siapa yang masak di depan tenda kita?" tanya Lily sambil menunjuk seseorang yang sedang memasak di halaman(?) tenda mereka.

"Baunya enak…" perut yang kosong membuat jawaban Alice sama sekali tidak nyambung.

"Itu bukan kak Miranda?" jawab Ada ragu-ragu. Yang lain berusaha melihat orang itu dengan lebih jelas.

"Iya! Itu kak Miranda!" pekik Lotti girang. Gadis berambut merah muda itu segera berlari untuk memeluk pembina mereka tercinta.

"KAK MIRANDA!" yang lain mengikuti contoh Lotti, berlari untuk menyambut pembina mereka.

Lotti segera memeluk kak Miranda begitu gadis itu sampai di hadapannya, "Kak Miranda kenapa baru datang sekarang? Kenapa gak dari kemarin? Kita disiksa habis-habisan sama kak Glen!" celotehLotti.

Kak Miranda hanya terkekeh kecil setelah mendengar celotehan Lotti. "Kan kakak ada rapat dengan walikota, masa gak hadir? Nanti bisa-bisa kakak sama kak Reim dipecat, lho!"

"Tapi kak Glen memang kejam, kak!" keluh Alyss.

"Dari dulu kak Glen udah kayak gitu, kok. Gak bisa diubah lagi, kalau gak kejam bukan kak Glen namanya." kak Miranda menanggapi keluhan anak didiknya sambil tersenyum.

"Ini apa kak?" tanya Alice sambil melirik isi penggorengan yang sedang bertengger manis di atas kompor di depan kak Miranda.

"Kornet goreng, nanti dimakan sama nasi dan telur dadar. Karena kalian tadi materinya sampai siang, jadi khusus untuk hari ini kakak masakin deh."

"Asyik!" pekik anak-anak girang, masakan kak Miranda terkenal karena kelezatannya.

"Kak Miranda, kamar mandinya sudah kosong. Kakak mau pakai?" mereka semua menoleh ke arah suara itu untuk melihat siapa pemilik suara itu. Ternyata tanpa mereka sadari, seorang perempuan berumur sekitar dua puluh tahunan telah berdiri di belakang mereka semua. Perempuan itu memakai baju pramuka untuk pembina, lengkap dengan atribut-atributnya. Kalau dilihat sekilas, penampilan perempuan itu mirip dengan Alice dan Alyss, tapi matanya tidak berwarna ungu gelap, tapi merah darah.

"Tante Lacie?" tanya Alice dan Alyss tidak percaya ketika melihat perempuan itu.

"Sssttt, disini panggilnya kak, bukan tante, oke?" perempuan yang tadi dipanggil tante Lacie itu memperingatkan Alice dan Alyss.

"Kalian berdua kenal dengan Lacie?" tanya kak Miranda.

"Iya, kak. Kak Lacie itu tante kita!" jawab Alyss.

"Yah, sekarang selain sebagai tante Alice dan Alyss, kak Lacie juga akan menjadi pembina putri yang baru." jelas kak Miranda.

"Lacie Baskerville, panggil saja kak Lacie. Salam kenal!" kak Lacie memperkenalkan dirinya.

"Salam kenal, kak!" balas anak-anak putri kecuali Alice dan Alyss. Mereka berdua menelan ludah dengan takut-takut.

"Udah ada kak Glen, sekarang kak Lacie lagi! Mati kita!" pikir mereka berdua kompak.

03.00 p.m. Outbond!

Pos 1

"Lice, kamu masuk duluan sana!"

"Kenapa harus aku? Yang lain kan bisa juga!"

"Karena Alice yang paling berat, gak mungkin kan kita ngegotong kamu ke atas?"

"Ngehina, ya?"

"Iya."

"Ughhh, fine!"

Kini, di depan anak-anak regu Mawar terdapat rintangan pertama mereka. Dua pohon berada di depan mereka, diantara kedua pohon itu dipasang beberapa utas tali rafia yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk semacam jaring. Terdapat sembilan kotak di dalam jaring rafia itu, tiga kotak di bawah, tiga kotak di tengah, dan tiga kotak di bagian atas.

Tugas mereka adalah, setiap anak harus masuk ke dalam salah satu kotak yang ada di jaring itu, dan setiap kotak hanya bisa dilalui oleh satu anak. Jadi, mau tidak mau mereka harus mendiskusikan siapa yang masuk ke kotak mana.

"Ayo cepat! Masa ngediskusiin kayak gitu aja lama?" tanya kak Lacie selaku penjaga pos satu.

"Alice, ayo cepat! Nanti kita dimarahin kak Lacie!" bisik Alyss di telinga Alice. "Tau sendiri kalau kak Lacie marah kayak gimana, kan?"

Alice bergiding ngeri. Dengan terpaksa, akhirnya dia masuk ke salah satu kotak yang berada di bagian bawah, tepatnya kotak yang paling kanan bawah.

"Ayo, siapa berikutnya?" tanya Alice yang sudah sampai di seberang sana. Tatapan yang lain segera tertuju ke arah Lily, sebuah seringai terukir di wajah mereka.

"Kenapa pada ngeliat ke aku?" tanya Lily sambil merinding disko, firasat buruk datang menghampirinya.

Tanpa aba-aba, Echo, Alyss, Lotti dan Ada memegang tubuh Lily dengan kuat, membuat gadis kecil itu berteriak terkejut. Kemudian, mereka berempat mengangkat tubuh kecil Lily dan memasukkan kakinya ke kotak kiri atas.

"Alice, pegangin Lily!" perintah Alyss. Alice menurut dan memegang kaki Lily.

"Kenapa aku harus yang kedua?" tanya Lily tidak rela. Perlahan-lahan, Alyss, Echo, Lotti dan Ada memasukkan tubuh Lily ke dalam kotak tersebut.

"Woi, cepetan! Berat nih!" protes Alice yang sedari tadi memegangi kaki Lily.

"Iya, lu kira gampang ap… LILY!" tanpa disengaja, pegangan Lotti dan Ada pada tubuh Lily terlepas, padahal kepala Lily belum masuk ke dalam kotak. Tidak kuat dengan beban mereka, Alyss dan Echo mendorong kepala Lily masuk ke dalam kotak kemudian melepaskannya. Tidak kuat karena menahan Lily sendirian, Alice juga melepaskan pegangannya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi.

"BRUUUKKKK"

Lily terjatuh dari ketinggian yang lumayan. "Awwww…" rintihnya kesakitan.

"Sorry!" kata Alice, Alyss, Echo, Lotti, dan Ada kompak ketika Lily men-deathglare mereka semua.

"Yo, lanjut!"

Pos 2

Kak Glen menyuruh anak-anak regu Kelinci berbaris bersaf, kemudian mengikat kaki mereka menjadi satu. Setelah selesai, dia berdiri dan menjelaskan aturan mainnya kepada mereka.

"Sekarang kalain jalan ke sana, ambil tongkatnya," kak Glen menunjuk ke arah sebuah tongkat komando yang tergeletak di rumput sepuluh meter jauhnya,"… kemudian kembali ke sini. Tapi, tongkatnya hanya boleh diangkat dengan jari telunjuk SAJA, mengerti?" semuanya mengangguk.

"Kak, kenapa cuma kakiku yang disilang?" tanya Reo bingung sambil memandang kedua kakinya. Kaki kanannya diikat bersama kaki kanan Elliot yang berada di sebelah kirinyanya, sedangkan kaki kirinya diikat bersama kaki kiri Vincent yang berada di sebelah kanannya. Sedangkan kaki teman-temannya diikat dengan cara normal, kaki kanan dengan kaki kiri. Jadi hanya kaki Reo yang berada dalam posisi menyilang.

"Supaya seru! Siap, ya? Waktu kalian lima menit. Satu, dua, tiga, MULAI!" Mereka semua mulai berusaha untuk berjalan segera setalah kak Glen berteriak mulai. Tapi karena kaki mereka diikat, mereka terpaksa berjalan menyamping.

"Reo, cepetan dong!" kata Elliot kesal karena dari tadi Reo berjalan dengan lambat.

"Iya, cepetan dong!" Vincent juga ikut memprotes.

"Woi, emangnya gampang jalan kalau kaki disilang kayak gini?" Reo juga mulai emosi.

"Kalian bertiga, jalan terus! Jangan berhenti!" teriak Oz yang berada di barisan paling depan. Rupanya karena asyik bertengkar, Vincent, Reo, dan Elliot malah berhenti berjalan.

Akhirnya dengan kemajuan yang sangat lambat, mereka semua berhasil sampai didepan tongkat itu.

"Ini gimana ngambilnya?" tanya Doug bingung.

"Jongkok, terus ambil pake telunjuk!" jawab Fang.

Dengan perlahan, mereka semua berjongkok dan mencoba mengangkat tongkat itu dengan jari telunjuk mereka. Tapi, Elliot terjatuh ketika berusaha melakukannya.

"Elliot, kenapa mesti jatuh sih?" tanya Gil kesal sementara Elliot berusaha bangkit.

"Salahin Reo tuh! Kenapa dia narik-narik kakiku gak jelas?" Elliot menuding Reo.

"Kenapa nyalahin aku? Kalau berani, salahin kak Glen sana!" protes Reo. Kak Glen hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan anak-anak binaanya.

"Udah, cepetan! Nanti yang putri keburu dateng!" kata Break. Dengan susah payah, mereka berdua mengangkat tongkat itu dengan jari telunjuk mereka, kemudian berjalan pelan-pelan ke tempat kak Glen berada.

"Selesai, kak!" lapor Oz. Mereka menjatuhkan tongkat komando yang dari tadi mereka angkat bersama.

"Ulang lagi." perintah kak Glen dengan wajah datar. Mereka semua langsung berteriak memprotes.

"Kakak gimana sih? Kan kita udah cape-cape ngambilnya!" protes Break mewakili teman-temannya.

"Kalian yang gimana, masa gitu aja sepuluh menit? Kan dikasih waktu cuma LIMA menit!

Pos 3

"Coba kalian taksir tinggi pohon ini. Kalau jawaban kalian mendekati jawaban sebenarnya, kalian boleh ke pos selanjutnya." jelas kak Reim, yang baru tadi siang sampai di lokasi bersama kak Miranda dan kak Lacie.

"Taksir tinggi pohon itu, ya?" tanya Lotti sambil menunjuk ke arah pohon yang dimaksud kak Reim. Kak Reim mengangguk.

"Empat meter?" jawab Sharon asal.

"Salah."

"Aku tahu, kak! Pasti dua koma lima meter, kan?" jawab Vanessa sok tau.

"Jelaskan bagaimana kamu bisa tahu kalau tinggi pohon itu dua koma lima meter?" kak Reim bertanya balik.

"Ngasal, kak. Hehe…" Vanessa hanya tersenyum polos.

"Anak kayak gini kok bisa naik tingkat ke penggalang rakit, sih?" kira-kira itulah yang sedang berada di pikiran pembina berkacamata itu.

"Empat koma delapan meter…" jawab Echo lirih. Sayangnya, tidak ada seorangpun diantara teman-temannya yang mendengar jawaban Echo. Mereka semua sibuk melontarkan jawaban asal mereka.

"Tiga meter?"

"Salah!"

"Satu meter aja deh, kak!"

"Masa pohonnya sependek itu?"

"Empat koma delapan…"

Krik…

Masih tidak ada yang mendengar jawaban gadis malang ini.

"Sepuluh meter deh!"

"…"

"Au ah, sepuluh centimeter kali."

"Alice, kalau naksir yang bener atuh!"

"EMPAT KOMA DELAPAN, WOY!"

Semuanya melonjak kaget ketika mendengar teriakan itu. Mereka semua menoleh ke belakang dan mendapati Echo yang sudah kembali ke emotionless state-nya. Rupanya Echo telah kehilangan kesabarannya dan meneriakkan jawabannya.

"Er, Echo? Bisa jelaskan kenapa kau menjawab empat koma delapan?" tanya kak Reim yang masih kaget karena teriakan Echo tadi.

Echo menunjuk ke arah pohon yang sedang mereka bicarakan, lebih tepatnya ke arah tongkat pramuka yang bersandar di pohon itu. Hanya Echo yang menyadari keberadaan tongkat itu.

"Tinggi tongkat pramuka itu sekitar 160 centimeter. Kalau dikira-kira dengan menggunakan jari, tinggi pohon itu sekitar tiga kali tinggi tongkat. Jadi, 160 dikali tiga, empat koma delapan meter." jelas Echo singkat, padat dan jelas.

"Ya, jawaban Echo benar!" teman-temannya langsung menyoraki keberhasilan Echo.

"Sekarang kalian boleh jalan terus! Selamat bertemu kak Jack di pos selanjutnya!"

Pos 4

"Kak! Udah gak kuat lagi!"

"Ayolah, Fang! Masa baru segitu udah gak kuat lagi?"

"Lu kira gampang naiknya? Coba aja nanti!"

"Udah, udah. Fang, kalau mau turun loncat aja!"

"Loncat kak?"

"Iya, loncat!"

Hup. Fang meloncat dari arena panjat tebing yang sedang dia naiki. Tali pengaman yang dipakainya membuat dia bisa mendarat dengan mulus di atas tanah.

"Siapa selanjutnya?" tanya kak Jack.

"Saya, kak! Saya mau coba!"

"Jangan, kak! Saya aja yang coba!"

"Saya! Saya!"

"Udah, kalian hompimpah aja." perintah kak Jack sweatdrop setelah melihat keributan anak-anaknya. Yang belum mendapat giliran untuk mencoba adalah Vincent, Gil, dan Doug.

"Yay! Aku duluan!" teriak Vincent girang.

"Untung dapet yang terakhir." gumam Gil penuh syukur.

"…" Doug hanya diam membisu setelah mendapatkan hasilnya.

"Ayo, Vincent! Pakai helmnya!" perintah kak Jack. Vincent memakai helmnya sementara seorang petugas memasangkan tali pengaman di tubuh Vincenbt.

"Saya naik dulu ya, kak!" Vincent langsung berlari ke arah penjat tebing, meninggalkan petugas yang masih cengo di tempat.

"Kenapa, pak?" tanya kak Jack kepada petugas yang masih terdiam di tempat.

"Tali pengamannya belum sempet saya kencengin, pak!" jawab petugas itu.

Butuh tiga puluh detik bagi kak Jack dan yang lainnya untuk mencerna informasi itu.

"VINCENT! TURUN!" Gil langsung berteriak menyuruh adiknya turun. Pada saat itu Vincent sudah naik sekitar dua meter.

"VINCENT! TURUN! Talinya belum kenceng!" kak Jack ikut berteriak, tapi Vincent tidak mempedulikan peringatan kakak dan pembinanya.

"Santai, kak! Gini aja sih gam…AAAAAAA" akhirnya tali pengaman yang masih kendor itu menyebabkan Vincent terjatuh dari ketinggian yang lumayan. Semua orang berteriak histeris ketika melihat Vincent terjatuh.

"VINCENT!" Gil langsung berlari ke arah tubuh adiknya yang terbaring tak bergerak di tanah.

"Vincent! Jangan mati dulu! Kamu belom boleh mati!" Gil menangis dengan lebaynya di samping tubuh adiknya. Kak Jack mengelus-ngelus rambut berantakan Gil dengan lembut.

"Sabar ya, Gil. Vincent pasti sudah berbahagia di sana…" hibur kak Jack dengan mata berkaca-kaca.

"Utang kamu masih banyak! Kamu juga belum ngeganti bonekaku yang kamu robek! Kapan kamu ngegantinya kalau kamu mati?" tangis Gil tersedu-sedu.

"….." teman-temannya hanya bisa ber-sweatdrop ria melihat adegan di depan mereka.

" Sabar ya…" kak Jack masih berusaha menghibur Gil.

"Si Vincent masih hidup, ya? Sayang sekali!" tanya Break datar.

"Hush, gak boleh gitu. Kita harus menghormati orang mati, tau!" Oz memperingatkan Break.

"Mana ada mayat yang bernafas?" tanya Break. Tanpa menunggu jawaban dari Oz, Break berjalan ke arah tubuh Vincent dan menendangnya.

"Gak usah pura-pura kayak gitu. tukang tidur!" bentak Break.

"Break! Kamu tidak berhak melakukannya pada Vincent!" kak Jack memarahi Break. Break hanya menatap pembinanya dengan wajah datar.

"Dia memang cuma pura-pura mati, kok!" Break menunjuk Vincent.

"Yah, ketahuan ya?" Semua orang terlonjak terkejut ketika mendengar suara yang familiar itu. Mereka menoleh dan melihat Vincent sudah membuka matanya, sebuah seringai licik terukir di mulutnya.

"Vincent!" teriak mereka semua terkejut, minus Break.

"Bener kan?" kata Break.

"Yah, Break gak seru, ah!" cibir Vincent. Break hanya berjalan menjauh dengan sikap tidak peduli.

"Vincent! Kenapa kamu pura-pura mati? Kita semua panik, tahu!" Gil memarahi adiknya tanpa ampun.

"Abis, wajah Gil lucu kalau lagi panik." jawab Vincent sekenanya.

"Awas kau ya!"

"Hiii, Gil marah! Kabur!"

"Mereka romantis banget, ya?" komentar Reo ketika melihat kedua kakak beradik itu. Sementara itu Elliot sibuk men-update status di facebooknya.

Pasangan incest + yaoi minggu ini: Gil dan Vincent!

Bisa ditebak apa yang akan terjadi ketika mereka kembali ke sekolah nanti

TBC

A/N:

Yo, minna! Chapter 3 update! *tebar bunga*

Tadinya Aoife mau masukin kegiatan api unggun di chapter ini, tapi karena kepanjangan, Aoife masukin ke chapter empat dan terakhir. Gomen, ya!

RnR, ya? Flame juga boleh

See ya!