Murid Baru Itu Indonesia?

Summary: Female Indonesia! Indonesia mendapat misi yang aneh dari bosnya… yaitu menjadi murid SMA! Alasannya agar pemerintah mendapat cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam negeri dengan menempatkan Nesia untuk memata-matai secara langsung kehidupan murid-murid dan guru di sekolah… Tapi bagaimana jadinya kalau SMA itu selalu terlibat dalam tawuran, kakak kelas dan guru killer dan Nation-tan lain yang selalu tiba-tiba muncul dalam jam sekolah? Belum lagi adanya taksir-taksiran. Nesia sama sekali tidak tertarik dengan anak SMA tapi masalahnya siswa kelas 3 yang paling populer sekaligus jagoan sekolah tertarik dengannya dan gencar melakukan PDKT. Padahal Nesia sudah sibuk dengan tugas sekolah dan tugas sebagai Nation, sekarang harus mati-matian menjaga rahasianya sendiri sebagai Nation… TOLONG!

Notes: OCs

Warning: Female Indonesia, adegan kekerasan, adegan mesum oleh France, potty mouth

Notice: Ini hanya fanfiction. Bila ada orang atau tempat atau kejadian yang sama, itu hanya kebetulan

Disclaimer: Hetalia bukan milikku tapi OCs disini baru milikku.

"Berbicara Bahasa Indonesia"

"Berbicara bahasa asing/Inggris"

'Berpikir dalam hati"


Chapter 2: Tawuran dan Tamu Tak Terduga?

Cokro sedang mengagumi senjata-senjata milik Seruni yang dia taruh dalam lemarinya ketika sang pemilik tiba-tiba muncul dengan membanting pintu kantornya. Wajahnya tenang… Terlalu tenang… Matanya menjadi setajam elang… Dingin, cerdik, tidak memaafkan… Matanya menyimpan ribuan tahun sejarah Indonesia yang damai sekaligus berdarah… Cokro dapat melihatnya di bola matanya yang besar...

"Pak Cokro, sekolahmu diserang sama anak SMA." Seruni mengucapkannya dengan enteng sambil berjalan kearah lemari. Dia membuka lemari tersebut dan mengambil sebuah kotak. Kotak yang tak pernah Cokro lihat sebelumnya. "Kurasa kita akan membutuhkan ini." Seruni mengambil sesuatu yang berbentuk seperti... Granat. Cokro langsung mundur ke belakang dan menabrak mejanya.

"B-B-BOM?"

"Tenang, Pak. Ini gas air mata kok. Tidak berbahaya kok... Selama Anda tahu bagaimana cara menggunakannya," kata wanita itu dengan suara dingin. "Sekarang bawa masuk semua kelas 1, semua siswi dan siswa yang tak terlibat, dan para staf. Karena gas air mata ini hanya akan membawa kepanikan kalau terlalu banyak orang dan bisa menyebabkan asma kambuh. Bapak tolong koordinasi semua orang. Aku akan ke tempat tawuran." Seruni mengambil keris kesayangannya dan menyelipkan kerisnya kedalam kemejanya. Cokro entah kenapa bergidik.

"A-apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan membawa masuk yang terluka dan mengobati sebisa mungkin. Dan kalau keadaannya memburuk... Sebagai Nation, aku akan turun tangan... Dan kemungkinan akan ada darah tercecer... Mari berdoa semoga hal itu tidak terjadi..."


Yono dengan tenang memimpin sekolahnya melawan SMA Trunajaya, SMA yang telah menjadi musuh kebuyutan SMA Bakti selama 10 tahun. Pasukannya terdiri dari kelas 3 dan kelas 2. Kelas 1 hanya akan bikin pertempuran tambah susah jadi mereka harus menunggu didalam sekolah. Apalagi murid cewek. Di urutan terdepan adalah murid kelas 3 yang kalau melempar batu rata-rata kena dan tepat sasaran. Di urutan kedua, kelas 2 dan kelas 3 yang kuat-kuat alias pukulan atau tendangannya 'mantap' atau sakit banget. Di urutan 3 barulah pembantu yang bertugas menolong dan membawa masuk yang terluka dan membawa amunisi (batu). Gerard berdiri disebelahnya seperti ajudan yang melindungi jendralnya.

Tak jauh didepannya adalah siswa-siswa dari SMA Trunajaya yang dipimpin oleh Teguh, musuh kebuyutannya. Dia memandangnya penuh benci dan Yono balas memandangnya dengan benci. Orang-orang dijalan sudah menyingkir dengan buru-buru, membuat jalanannya sepi dan hanya ada mereka. Satu kata dari masing-masing mulut dari kedua pemimpin membuat semua orang bergerak.

"SERANG!"

And all hell break loose.

Mungkin kalimat itulah yang paling pas untuk mendeskripsikan apa yang terjadi sekarang. [1]


Mata violetnya memandang pemandangan didepannya. Jakarta berdiri disebelahnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Dia sudah mendengar kalau kadang pelajar di Indonesia menyerang sekolah lain seperti satu negara menyerang negara lain tapi...

Tak disangka kali pertama dia datang ke Indonesia dia melihat hal seperti ini.

Dia menaruh buket bunga Trilluim Orchid yang dia bawa untuk dia berikan kepada Nesia didalam mobil Kijang putih milik Jakarta dan berpaling ke personifikasi ibukota Indonesia, Jakarta.

"Aku tahu kalau ini bukan urusanku dan harus kalian yang menangani tapi..." Dia melepas dasi merahnya dan menggulung lengan bajunya. Kacamata kotaknya terdorong kebelakang oleh jari telunjuknya. Senyum percaya diri perlahan muncul di wajahnya.

"Aku tak bisa diam saja melihat kakakmu kesulitan menghadapi anak-anak nakal ini."

Sebuah senyum kecil muncul diwajah laki-laki Melayu itu.

"Aku percaya dalam bahasa Perancis, 'Faisons-le,' benar?" [2]


Seruni dengan wajah santai menendang perut seorang siswa SMA Trunajaya ketika dia hendak untuk memukul seorang siswa kelas 2 SMA Bakti yang sudah sempoyongan. Orang itu langsung pingsan dan roboh ke tanah. Dengan sigap Seruni melingkarkan tangan kanannya disekitar pinggang kakak kelasnya dan melingkarkan tangan remaja itu disekitar lehernya. Seruni tersenyum dengan lembut kepada murid kelas 2 itu yang sudah mau pingsan.

"Kamu sudah melakukannya dengan baik. Istirahatlah."

BUAK DUK

Seruni menoleh ke belakang dan mendapati Yono dan Gerald telah menghajar dua orang musuh dibelakangnya. Karena sudah terbiasa di medan perang, Seruni tidak mengatakan apa-apa dan langsung membawa murid kelas 2 tersebut kedalam. Pak Cokro dan seorang guru laki-laki langsung mengambil alih dan membawanya masuk. Disudut matanya dapat dia lihat Tari, Wisnu dan Conan yang tampak tak percaya dan kuatir. Seruni hanya tersenyum dan kembali ke medan perang... Kalau memang bisa disebut begitu.

DZIG

Kepalan tangan Seruni menyentuh dagu seorang musuh, sukses menggeserkan gusinya minimal. Dengan sigap Seruni membungkuk dan mengambil batu yang lumayan besar, sebesar genggaman tangan laki-laki dan melemparnya dan... Yak! Kena!

"Hahahaha..." Dia tertawa ironis. Dia telah melukai pemudanya sendiri. Apanya yang mau dibanggakan? Tidak ada.

Matanya melihat kedepan dan mendapati Yono dan Teguh sedang adu jotos. Senyum sedih penuh ironi menghiasi wajah cantiknya. Matanya yang sendu mulai berair dan air mata nyaris jatuh. Disekelilingnya semua orang berkelahi. Pemuda-pemuda Indonesia dengan darah yang sama. Darah yang ia lindungi selama 500 tahun terakhir dari para penjajah itu.

'Puaskah kalian semua dengan omong kosong seperti tawuran ini? Aku tidak.'

Sebuah pentungan mengarah kepadanya.

DUAK

GREP

Jakarta meninju orang yang hendak memukul Seruni dari belakang dengan pentungan sementara sepasang lengan laki-laki melingkar disekeliling bahu dan pinggangnya. Wajah Jakarta tampak murka. "Beraninya menyerang saudariku dari belakang!"

"Kamu tidak apa-apa?" Seruni mendongak keatas untuk melihat laki-laki yang memeluknya.

"Matthew..?"

Personifikasi Canada tesebut tersenyum lega. "Kamu tidak apa-apa..."

Personifikasi Nusantara itu membuka mulut dan hendak mengucapkan sesuatu ketika Teguh berteriak, "BALIK! BALIK!" Komando dari pemimpin SMA Trunajaya membuat semua siswa SMA Trunajaya langsung berlari ke seberang jalan, sambil membopong yang terluka dan pingsan.

"..." Seruni memandang anak-anak yang sedang berlari itu dengan mata sendu. 'Balik deh...' Dengan hati berat, dia menghapus air matanya dengan tangannya. Seruni tersenyum dan menengokkan kepala untuk melihat Matthew ketika...

TES TES TES

Darah merah segar mengucur dari dahi sang personifikasi negara daun maple itu. Yang punya dahi tidak sadar dan tersenyum polos pada Seruni yang shock.

"M-MATTHEW! KAMU BERDARAH!" Dengan panik, wanita melayu itu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, tanpa sengaja ikut menjatuhkan gas air mata.

"Ah..." Secara bersamaan ketiga personifikasi itu mengatakaannya dengan wajah pucat.

BOOM


"Matthew... Maaf ya sudah melibatkanmu..." Dengan wajah merah, Seruni dengan telaten membalut kepala Matthew yang juga ikut tersipu. Dia tersipu karena jarak mereka yang sangat dekat. Samar-samar dia dapat mencium wangi bunga anggrek dari wanita didekatnya itu.

"Tidak apa-apa kok... Aku yang melibatkan diri sendiri... Aku tak bisa tinggal diam..." Dengan malu-malu dia melirik kearah lain.

Cokro memperhatikan kedua Nation itu. Dia asli kaget saat Seruni membanting pintu kantornya sambil menarik dua orang laki-laki. Satu laki-laki bule dan satu Melayu. Dengan panik dia langsung mengambil kotak P3K dan mengobati luka-luka mereka. Sementara diluar masih penuh dengan asap dan siswa-siswa buru-buru masuk kedalam lingkungan sekolah sambil terbatuk-batuk dan air mata terurai. Dia menoleh ke Jakarta dengan pandangan meminta penjelasan.

"Orang ini juga Nation. Dia Canada. Ngomong-ngomong, aku Jakarta, panggil Jaya saja. Provinsi juga ada personifikasinya juga lho."

...Begitu? Cokro sekarang sudah tak bisa dikagetkan lagi dengan Nation dan personifikasi.

"Pak, karena kakakku sedang sibuk mengobati si pecinta sirup maple ini, saya yang minta maaf karena gas air mata tadi. Tapi jadinya Anda dan staf dapat menangkap semua yang ikut tawurankan?"

"Ah, tidak apa-apa kok... Saya agak terbantu juga sih..."

Jakarta tersenyum, senyumnya mirip Seruni. Kalau dipikir, dia seperti versi laki-laki Seruni...

"Pak Cokro, coba lihat itu." Jakarta menunjuk Seruni dan Matthew yang tengah berbincang dengan seru. Pemandangan yang menghangatkan hati. "Canada dan Indonesia hubungan internasionalnya cukup baik tapi personifikasi Canada ini datang kemari bukan karena disuruh bosnya tapi atas keinginan sendiri. Kadang Nation suka seenaknya begitu tapi... Kalau semua orang seperti ini, bukankah dunia akan menjadi lebih baik?"

"..." Sebuah senyum kecil muncul diwajahnya yang sudah tua. "Kau benar..."


Matthew memandang wajah cantik Seruni. Sudah lama dia menyukai wanita ini. Sejak tahun 1952 dia telah menyukai wanita personifikasi Nusantara ini...

FLASHBACK

Matthew duduk di kursinya sambil memeluk Kumajirou. Semua orang, lagi, tidak menyadari kehadirannya. Matthew melirik kursi disebelah kanannya, dimana sebuah papan nama bertuliskan 'INDONESIA' ditaruh. Indonesia? Sepertinya dia belum pernah bertemu. Yah, yang satu ini mungkin tidak akan menyadari kehadirannya. Matthew tertawa penuh ironi.

"...permisi..."

Matthew mendongak keatas dan matanya melebar. Di sebelahnya berdiri seorang wanita Asia dengan kulit kecoklatan seperti kulit Spain, rambut hitamnya yang panjang diikat menjadi satu kepang yang tebal. Dia mengenakan suatu pakaian yang belum pernah dia lihat (Kebaya dan batik) tapi terlihat sangat cocok padanya. Sepasang bunga melati disematkan di kedua telinganya. Mata hitamnya yang besar bertemu dengan mata violetnya.

"Saya duduk disinikan? ...Canada-san?"

FLASHBACK END

Sejak saat itu, dia menyimpan rasa kagum dan respek yang kemudian menjadi rasa suka pada Nesia. Yang paling dia sukai darinya adalah senyumnya yang semanis sirup maple. Matthew langsung blushing.

"Matthew? Wajahmu merah..."

"A-Aku tidak apa-apa kok..."


BRUAK!

Teguh dengan murka menendang mejanya sampai jatuh. Tadi dia belum juga menang melawan Yono. Padahal dia sudah mengatur strategi untuk menyerang mereka saat istirahat untuk membuat mereka lengah. Tapi setiap kali ketemu, sepertinya SMA Bakti makin susah dikalahkan. Bikin dia makin panas saja. Teman-temannya yang lain diam saja selagi mereka merokok di gudang sekolah.

"Aaargh!" Dia melempar batang rokoknya ke tanah.

Tapi kali ini... Ada sesuatu yang baru... Kali ini ada cewek terlibat dalam tawuran...

Seorang cewek...

Bagi Teguh, yang namanya tawuran itu murni urusan cowok, dia yakin Yono juga begitu. Dia takkan melibatkan siswi, dari sekolah dia atau sekolah musuhnya. Dia gak sekejam itu pada cewek. Dia sempat melihat itu cewek membopong seseorang yang terluka masuk kedalam dan dicover oleh Yono dan Gerald. Beberapa saat kemudian dia balik lagi dan meninju seseorang yang dia kenal sebagai kelas 2. Itu anak langsung pingsan, sepertinya.

Saat akhirnya dia berantem satu lawan satu dengan Yono, tuh cewek muncul lagi, memandang mereka. Walau sedang tawuran, Teguh dapat dengan jelas wajah cantik cewek itu. Dia tersenyum dan menangis pada saat yang sama. Sekilas dia seperti dewi perang, atau mungkin dewi kedamaian?

Ketika dia melihat cewek itu... Dia merasa dia pernah bertemu dengannya... Dan mengenalnya sejak lahir...

Kemudian tiba-tiba tuh cewek menghilang karena tertutup oleh cowok-cowok berkelahi dan kemudian mulutnya berteriak balik dan asap menutupi pandangannya.

"...OI!" Seorang temannya kelas 3 maju.

"Kenapa, Guh?"

"Lo liat gak tadi ada cewek pas tawuran?"

"Lihat. Heran deh. Tuh cewek cakep disuruh tawuran. SMA Bakti emang parah banget."

"Iya. Yang itu. Cari tahu tentang dia. Itu cewek mungkin bisa jadi kelemahannya si Yono yang bajingan itu!"


"Matthew kenapa datang kesini tanpa menghubungiku?"

"Ah... Kamu pernah menawarkan untuk datang berkunjung kenegaramu... Dan... Aku ingin memberi kejutan..."

"Begitu..." Seruni tersenyum lemah.

"Kak, Matthew-san membawakan ini untukmu. Tadi kuambil dari dalam mobil." Jakarta menyerahkan buket bunga Trillium Orchid kepada Matthew.

"I-Ini namanya Trillium Orchid... Trillium itu bunga nasionalku... Karena anggrek bunga nasionalmu juga jadi..." Dengan wajah merah, Matthew alias Canada menyodorkan buket tersebut kepada Seruni.

"...Merci..." Dia tersenyum lembut dengan warna pink terlihat jelas dikedua pipinya. "Nanti aku akan mengajakmu jalan-jalan..."

"..." Cokro merasa seperti menonton sinetron.

GREK

"Pak Kepsekku yang terhormat! Aku datang untuk ceramah mingguanku! Ada snack gak? Ah!"

Yono langsung bertemu mata dengan Matthew.

Wajah Seruni memucat.

Jakarta merasakan tanda bahaya dari Yono.

Cokro merasa akan ada suatu hal terjadi.

'Ya ampun... Orang ini lagi...' kata Seruni menangis dalam hati.


Selesai juga chapter 2. Maaf kalau pendek dan scene berantemnya gak bagus. Saya masih payah dalam scene berantem. Kalau tawuran, Anda bisa bayangkan sendiri parahnya kayak gimana. By the way, Seruni diam-diam menyeludupkan banyak senjata tradisional dan modern dan gas air mata di ruang Kepsek. Di bagian mana hanya dia yang tahu. Pak Cokro sekarang harus hati-hati karena bisa saja ada senjata yang mengarah padanya atau menemukan senjata di tempat yang tidak terduga. Canada menjadi tamu tak terduga, Anda pasti tidak mengira Canada akan muncul secepat inikan? Yang pasti di tiap chapter saya ingin menampilkan satu Nation lain di sekolah Seruni.

[1] Saya coba ketik pake Bahasa Indonesia tapi terasa gak pas

[2] Indonesia dan Jakartakan dikunjungi banyak turis mancanegara jadi bisa banyak bahasa asing walau cuma seperti "Hello" "Guten Tag", dll. Btw artinya "Let's do this"

Di chapter berikutnya akan ada lebih banyak lagi interaksi antara Seruni dan Yono. Dan Nation-tan yang akan berkunjung adalah dari Eropa!

Sedikit bloopers:

"Yono! Jaga sikapmu sama tamu!"

"Pak Cokro sekali-kali santai dong~"

"Jadi kamu mau PDKT dengan saudariku yah?"

"I-I'm Seruni's friend... I'm from Canada..."

"...Aduh... Setelah Matthew, kamu yang datang... Ah, bukannya aku gak mau..."

Thank you for reading dan review! No flame please!