SCRALET MEMORIES

BY

UYuPoMieKoRoro

Bagian ke 3: umie solihati

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

RATE: M

GENRE: SUSPENSE, ANGST

WARNING: SEMI CANON, OOC, TYPO, ABAL DLL

Sebelum membaca saya peringatkan dulu yah, ini angst loh, jadi jangan harap ending nya bahagia ok n,n. happy reading :D

.

.

.

.

.

BRAAAAAAAAKKKKKKKK,

.

Hantaman meja itu terdengar sangat keras di ruangan khusus Hokage itu. Pelaku yang menggebrak meja itu kini telah menatap laki-laki yang ada di depannya. Laki-laki yang menjadi sumber masalah yang akhir-akhir ini memusingkan kepalanya.

"Kauuu,,," ucapnya geram,

"Apa yang kau lakukan haaah?" Sasuke mengernyitkan alisnya menanggapi pertanyaan yang tidak jelas dari cucu Hashirama Senju ini.

"Apa maksud Anda, Hokage-sama?" Walaupun Sasuke sedikit tidak terima dengan perlakuan Tsunade yang tiba-tiba marah padanya secara ganas, tapi ia masih berusaha bicara sesopan mungkin pada pimpinan desa ini.

"Delapan bulan yang lalu, apa yang kau lakukan pada Hyuga Hinata delapan bulan yang lalu, bocah?"

Sasuke tersentak kaget. Sesaat memorinya memutar kembali kejadian itu. Delapan bulan yang lalu, Hyuga Hinata, penyerapan chakra,

Oh sia!, darimana dia tau.

.

"Jika kau masih tidak mengerti apa maksud ku, aku meragukan kejeniusan otak Uchiha mu, Sasuke." Kini nada bicara Tsunade sudah tidak sekasar tadi, sedangkan Sasuke masih terdiam.

"Hinata hamil, dan dia sudah melahirkan."

Kini wajah stoic itu benar-benar menampakkan raut kaget dan tak percaya.

"I-itu tidak mungkin, bagaimana bisa?" Entah karena saking kagetnya atau apa, nada bicara Sasuke pun jadi tergagap.

.

"Bodoh, tentu saja bisa kalau kau melakukan hal 'itu' , kemana otak jeniusmu, haaah?" Tsunade kembali membentaknya dengan keras. Sasuke bukannya tidak berpikir kearah sana, tapi dia hanya melakukannya sekali. Ok itu bisa saja terjadi, tapi kenapa Sasuke tidak tau Hinata hamil dan melahirkan, bahkan setelah kejadian itu, dia tidak pernah melihat sosok wanita berambut panjang itu.

"Ia memintaku untuk memberinya misi solo ke Amegakure, dan selama delapan bulan ia tinggal disana." Seolah tau kebingungan Sasuke, Tsunade menjelaskan semuanya.

"Dia menyembunyikannya?"

"Yah, dia menyembunyikannya, dan kau tau bagaimana kondisi Hinata saat kembali ke Konoha?"

"…"

"Dia kembali dengan perut membuncit beserta luka-luka di seluruh tubuhnya, dia sekarat!" tegas Tsunade, Sasuke masih saja membungkam mulutnya.

"Prediksi ku, ada seseorang yang tahu bahwa bayi yang di kandung Hinata adalah benih darimu dan orang itu menyerang Hinata untuk mendapatkan janinnya, kau pasti sudah tau kenapa mereka menginginkan janin yang ada di perut Hinata."

Yah tentu saja Sasuke tau , karena anak itu adalah anaknya dan Hinata, anak yang memiliki dua kekkai genkai, byakugan dan sharinggan, dan dapat dipastikan anak itu akan tumbuh menjadi anak yang sangat hebat.

Sasuke menundukkan kepalanya, entah apa yang kini ia rasakan.

"Kau telah menyakitinya," ujar Tsunade.

.

Yah aku menyakitinya, padahal waktu itu dia sudah menolongku.

.

"Bertanggung jawablah, Hinata sudah sadar kemarin, temuilah dia dan bayinya, bersikaplah selayaknya seorang laki-laki!"

Setelah kata-kata dari Tsunade berakhir, Sasuke segera meninggalkan ruangan itu, sementara Tsunade kembali mengurut sisi-sisi kepalanya,

"Sepertinya aku harus menyuruh Shizune untuk membeli meja baru."

[Scarlet Memories]

.

.

Kini, sosok yang sudah koma selama beberapa hari itu pun sudah sadarkan diri, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Di tolehkanlah kepalanya ke samping, melihat sosok mungil yang sedang tertidur pulas. Yah itu adalah bayinya, bayi yang hadir dengan cara yang salah dan menyakitkan fisik dan batinnya. Namun perlahan rasa sakit itu hilang karena kehadirannya. Yah walaupun Hinata sangat membenci pria brengsek itu, tapi tidak adil jika ia membenci bayi ini. Perlahan tangannya terulur menuju puncak sang bayi dan mengusap pelan rambut hitam yang di wariskan pria itu.

Ia tersenyum lembut . kehangatan, kedamaian, itulah yang ia rasakan sekarang. Perasaan seorang ibu, apa mungkin perasaan itulah yang kini dirasakan Hinata kala melihat bayi mungilnya, perasaan yang benar-benar tidak ada duanya bagi Hinata.

"Anakku, kau hanya anakku," gumamnya pelan.

.

CKLEEEEEEEEEEEKKKKKKKKKK

.

Suara pintu terbuka, refleks Hinata menolehkan kepalanya kearah pintu itu. Matanya membulat sempurna kala melihat sosok tegap yang tadi membuka pintu.

"A-ayah,,,"

Yah itu adalah ayah Hinata, Hyuga Hiashi.

Sosok tegap itu kini berjalan perlahan menghampiri Hinata, lalu berdiri disampingnya.

"Siapa ayah dari anak itu?" Pertanyaan Hiashi sangat tajam dan menusuk,. Hinata tak menjawab, ia malah menundukkan kepalanya semakin dalam. Hinata tau, berita tentang dirinya yang hamil diluar nikah pasti sudah beredar luas dan mengejutkan banyak pihak, apalagi keluarga dan klannya, dan ia tau pasti mereka marah dan malu karena apa yang sudah terjadi pada Hinata.

"Ku Tanya sekali lagi, siapa ayah dari anak itu Hinata?" kali ini suara pria paruh baya itu terdengar lebih keras dari sebelumnya.

"A-ayah i-itu,"

"Kau tak perlu menjelaskan apapun, cukup sebutkan saja namanya!" kali ini Hiashi benar-benar membentak Hinata, dan sukses membuat tubuh Hinata bergetar ketakutan.

"Hiks, ma-maaf ayah,"

.

BRAAAAKKKK!

.

Hiashi menggebrak meja yang ada di samping ranjang Hinata dengan penuh emosi.

"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan, kau sudah membuat malu keluarga dan klanmu Hinata, dan bukan maaf yang ku inginkan. Oh Tuhan, Hinata aku tidak pernah mengajarimu menjadi seorang wanita jalang!"

Suara Hiashi benar-benar sangat keras, bahkan sampai membangunkan bayi Hinata.

.

"Howeee,,,howeee,,," Dengan segera Hinata berusaha menenangkan anaknya, walaupun yang menenangkan juga menangis tersedu-sedu.

"Hiks, su-sudah tidak apa-apa , ja-jangan menangis, hiks i-ibu ada disini." Tangannya mengusap-usap kepala si kecil, berharap hal itu bisa menhentikkan tangisnya dan sepertinya itu berhasil. Anaknya kembali tidur dipelukan ibunya. Melihat pemandangan itu, Hiashi menghela nafas berat lalu membalikkan badannya, hingga kini posisinya membelakangi Hinata.

"Aku sudah berusaha melindungimu,"

"Hiks, a-ayah,"

"Aku sudah meyakinkan tetua klan kalau kau hanya pihak korban,"

"Hiks, ma-maaf,"

"Tapi kau memilih keputusan ini," kembali Hiashi menghela nafas.

"Mulai hari ini, tak ada lagi nama Hyuga di depan namamu." Dan setelah pernyataan itu, hanya suara pintulah yang terdengar di telinga Hinata.

.

Entah ekspresi seperti apa yang harus di tunjukkan olehnya, semua ini terlalu mendadak dan menyakitkan baginya. Kembali ia menoleh kearah bayinya, lalu ia pun tersenyum getir sembari tangannya yang terulur untuk menyentuh pipi tembam si kecil.

"Hey nak, karena ibu masih marah pada ayahmu, ibu tidak akan memberikan nama depanmu Uchiha," Hinata mengambil jeda sebentar lalu melanjutkan lagi kalimatnya,

"Tapi, karena ibu sudah tidak memilik klan lagi, mana mungkin ibu memberi nama Hyuga didepan namamu." Tangannya merangkul erat sosok kecil yang masih tertidur itu, mendekapnya penuh kasih sayang.

"Tidak apa-apakan, kita berdua pasti bisa menjalani hidup tanpa nama sebuah nama klan, Royuki." Dan setelah itu mata Hinata ikut terpejam, mencoba mengistirahatkan dirinya dari semua kelelahan yang ada, iapun terlelap.

.

Tanpa Hinata sadari, ada sepasang onyx yang sedang menatap sendu kearahnya. Mata kelam itu melihat semua kejadian yang terjadi di ruangan yang di dominasi oleh warna putih itu. Perlahan, tubuh tegap itu memasuki kamar dan tentunya setelah memastikan sang penghuni kamar terlelap. Ia mengusap perlahan helaian indigo itu, tatapan bersalahnya terus tertuju pada wanita yang kini terbaring diatas kasur. Lalu mata sekelam malam itupun melirik objek yang ada di samping Hinata. Anaknya, itu adalah anaknya. Sudut bibirnya perlahan terangkat keatas saat menatap lembut anaknya yang tertidur sangat pulas. Ada suatu perasaan yang aneh yang di rasakan oleh Sasuke. Ia merasa sangat hanta dan damai. Apapun perasaan itu, Sasuke merasa itu bukan perasaan yang buruk.

Takut mengganggu ketenangan dua orang yang terlelap itu, sasuke memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu, namun sepertinya itu adalah keputusan yang salah, saat seseorang yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan kini tengah menyeringai lebar,

"Sudah waktunya."

.

.

.

Tubuh mungil itu menggeliat tak nyaman di atas kasur yang sudah beberapa hari ini di tempatinya. Lavender yang tadinya terpejampun perlahan terbuka. Di kerjap-kerjapkannya kedua mata itu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Apa ini, tubuhnya tak bisa bergerak, kaki dan tanganya kini terikat, dengan perasaannya yang panik, ia secepat kilat menolehkan kepalanya ke samping. Kosong, tidak ada apa-apa disana, mana anaknya?

"Royuki, dimana kau." Suaranya bergetar, mencoba memanggil nama buah hatinya, Hinata yakin ada yang tidak beres. Hinata mencoba melepaskan ikatan itu namun sangat sulit karena tali yang digunakan bukan tali biasa namun tali chakra. Semakin kau berontak, maka tali itu akan semakin mengeratkan ikatannya. Andai kondisinya stabil, pasti dia akan bisa melepaskan tali itu dengan mudah.

"Khukhukhu, percuma melawan seperti itu Hyuga." Ia menoleh, suara itu berasal dari jendela dan matanya membulat setelah tau siapa yang ada disana.

"Ka-kabuto." Yah itu adalah Kabuto, orang yang dulu pernah ingin mengambil bayinya yang masih ada di perutnya, dan Hinata lebih kaget lagi saat melihat siapa yang ada di gendongan kabuto, itu Royuki, anaknya. Kini Hinata menatap penuh amarah pada Kabuto.

"Ah salah, sekarang kau sudah di tendang dari Hyuga, tapi tak masalah, bukan kah kau punya klan baru, Uchiha, itu tidak ter-"

"Diam kau, bagaimana bisa kau masuk kesini, dan kembalikan anakku!" Potong Hinata. Tatapan tajamnya terus mengarah pada Kabuto, sedangkan Kabuto hanya tersenyum meremehkan.

"Jangan meragukan ku, aku pernah menjadi kaki tangan Orochimaru, menyusup dan menyembunyikan chakra agar tidak ketahuan bukanlah hal yang sulit untukku, dan hei jangan bercanda, susah payah aku mendapatkan, mana mungkin ku serahkan." Hinata semakin geram mendengar jawaban dari Kabuto.

"Kau tau, anak ini akan menjadi senjata yang sangat hebat di masa depan nanti, selain dia keturunan Uchiha, dia juga memiliki dua kekkai genkai, pasti menyenangkan mempunyai senjata sekuat itu." Kabuto semakin menunjukkan seringainya setelah mengatakan itu pada Hinata.

Sedangkan Hinata tersentak , apa, senjata? Hinata tidak akan membiarkan itu terjadi. Perlahan Tubuh Hinata yang tadinya tegang mulai lemas. Wanita bersurai panjang itu kembali menatap Kabuto, namun tatapan kali ini berbeda, bukan sorot mata yang tajam, namun sorot mata itu terlihat sayu dan memelas. Lalu ia menundukkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sesak di dadanya.

"A-aku mohon, hiks , walau awalnya memang salah, tapi aku menyayanginya, hiks dia satu-satunya yang kumiliki sekarang, kembalikkan anakku, aku benar-benar memohon padamu, berbaik hatilah."

Tetes demi tetes cairan itu membasahi pipinya. Sekarang ia sedang memohon sebagai seorang ibu yang menginginkan anaknya kembali, ia benar-benar memohon dengan segala kerendahan hatinya. Namun sayang sepertinya itu tak berhasil.

"Maaf Hinata, tapi aku bukanlah orang yang baik hati, tapi tenang saja, akan ku pastikan dia Hidup."

Hinata mendongakkan kepalanya dan kembali menatap tajam Kabuto.

"K-kau" geram Hinata. Ia memberontak kembali, berharap ikatannya lepas, namun tetap saja itu percuma.

"Sepertinya akan ada yang datang,"

.

BRAAAAKKKK!

Dan benar saja , pintu kamar itu terbuka dengan keras, menampakkan seorang pria yang sedang terengah-engah. Mata kelamnya membulat saat melihat apa yang sedang terjadi. Hinata pun tak menyangka bahwa 'dialah' yang baru saja mendobrak pintu itu,

"Sa-suke,"

"Uchiha memang hebat, bisa merasakan kehadiran chakraku, bahkan Hokage saja tak bisa merasakannya." Ujar Kabuto, sementara Sasuke tidak menjawab. Ia hanya melihat kearah Hinata yang sedang terikat lalu menatap tajam Kabuto yang sedang menggendong yang Sasuke yakin itu adalah anaknya. Dia menggeram marah, matanya yang tadinya kelam kini sudah berubah ke bentuk sharinggan, dengan cepat Kabuto menutup matanya untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.

"Cepat kembalikkan anakku, Kabuto!" perintah itu begitu keras dilontarkan Sasuke pada Kabuto, sedangkan Kabuto sepertinya tidak terpengaruh oleh nada bicara Sasuke, terbukti saat ia kembali membuka matanya dan memberi seringainya pada Sasuke. Sedangkan Hinata cukup kaget mendengar apa yang di ucapkan Sasuke, Hinata menyadari kalau sasuke sudah tau semuanya.

"Kau bisa mengambilnya jika kau mau." Dan setelah mengatakan itu dengan cepat Kabuto menghilang dari hadapan mereka, bahkan Hinata tak sempat melontarkan kalimat untuk mencegah Kabuto. Kini lavendernya hanya menatap kosong pada jendela yang tadi di tempati Kabuto dan anaknya, air matanya terus mengalir, namun kali ini tak ada isakan yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Sasuke hanya terdiam membeku saat Kabuto dengan tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa aba-aba.

Masih dalam diam, Sasuke melangkahkan kakinya mendekati Hinata lalu melepaskan ikatan yang ada pada tangan dan kaki wanita yang statusnya sudah menjadi seorang ibu itu. Setelahnya Sasuke akan segera pergi. Sebenarnya, masih banyak yang ingin di bicarakan Uchiha bungsu itu pada Hinata, namun ia bingung harus memulainya dari mana, semuanya benar-benar sangat sulit. Sasuke memutuskan untuk pergi saja dan mengejar Kabuto. Namun langkahnya terhenti .

.

GREEEP!

.

Tangan mungil itu kini melingkar di pinggangnya, dan sukses membuatnya diam membeku.

"Hiks, a-aku mohon," Hinata kembali terisak,

"…"

"Aku menyayanginya," Hinata semaikn mengeratkan tangannya di pinggang Sasuke.

'…'

"Hiks, aku mohon, tolong selamatkan dia Sasuke, hiks, aku benar-benar memohon padamu!" Setelah itu tangis yang tadi tertahan pun pecah kembali. Hinata menangis di pelukkan Sasuke, di pelukkan pria yang telah menorehkan luka dalam di hatinya, pria yang tak dapat di pungkiri kalau dialah ayah dari anaknya. Sekarang Hinata tak peduli akan semua itu, yang ia pedulikan sekarang hanya satu, Royuki.

Perlahan, Sasuke melepaskan tangan yang tadi melingkari pinggangnya. Tangannya terulur ke dagu Hinata dan dengan sangat hati-hati, ia mengangkat wajah itu untuk berhadapan dengannya.

"Hinata,,," ujarnya lembut. Orang yang di panggil masih saja sesenggukan. Sasuke kembali menatapnya lembut.

"Jangan khawatir," tangan kekar itu menyentuh pipi Hinata dan menghapus air mata yang sedari tadi setia turun di sana.

"…'

"Aku pasti akan membawa anak kita kembali," ujarnya lembut dan

.

CUP!

.

Kecupan singkat dari pria itu mendarat di kening Hinata, dan sukses membuat Hinata terbelalak dan menghentikkan isakannya. Hinata pun menatap tak percaya pada Sasuke yang dibalas dengan senyum lembut dari pria itu.

"Sekarang istirahatlah, kau sudah banyak terluka dan itu semua karena aku," ujarnya lirih. Sasuke melangkahkan kainya meninggalkan Hinata, namun sebelum itu Hinata dapat melihat gerakan bibir Sasuke yang menggumamkan satau kata, dan Hinata dapat membaca itu.

"Maaf."

.

.

.

Dengan usaha yang sangat keras, akhirnya Sasuke berhasil mengejar Kabuto. Dan kini mereka sedang berhadapan di dekat danau, di perbatasan hutan Konoha.

"Kau tidak akan selamat," ucap sasuke dengan nada mengancam, dan seperti sebelumnya, Kabuto tak gentar sedikitpun pada Uchiha yang ada di depannya.

"Ah begitukah, aku sungguh tidak takut." Kabuto membalasnya dengan sebuah seringai yang membuat Sasuke kembali menggeram.

"Kau…"

"Apa, kau akan membunuh ku eh, silahkan saja, namun jika aku terbunuh maka dia akan terbunuh juga." Ujar Kabuto sambil mengeluarkan kunai dan mengarahkannya pada leher Royuki yang masih tertidur.

"Kau akan mati jika sedikit saja kau menyentuhnya." Ancam sasuke. Kabuto hanya menyeringai mendengarnya.

"Kalau begitu ku beri kau dua pilihan." Sasuke terdiam mendengarkan Kabuto, perlahan emosinya sedikit turun.

"Kau ingin dia hidup atau mati?" Tanya Kabuto pada Sasuke, Sasuke hanya mendecih.

"Kau sudah tau jawabannya."

"Kalau begitu, aku akan membiarkannya hidup, aku akan membesarkannya dengan baik, asal kau melepaskan ku."

"Kau bercanda, mana mungkin itu terjadi," protes Sasuke. Kabuto yang tahu reaksi sasuke seperti itu mendekat kan kembali kunainya pada leher sang bayi, melihat itu sasuke membeku, cih dasar licik.

"Jika kau memilih yang kedua, maka dalam sekejap kunai ini akan menusuk leher mulus anakmu." Kabuto kini menyeringai penuh kemenangan saat melihat raut wajah Sasuke yang berubah menjadi pucat pasi, sedangkan Sasuke menggeram keras, namun tiba-tiba saja ia memikirkan sesuatu yang mungkin berhasil.

"Jika kau setuju pada pilihan pertama, sekarang berbaliklah!" pinta Kabuto, dan dengan mudahnya Sasuke mengikuti perintah Kabuto. Saat itu terjadi, Kabuto dengan cepat melarikan diri, namun mungkin karena kelengahannya, ia tidak sadar saat ia mulai berlari Sasuke pun ikut berbalik dan mengejarnya kembali dengan gerakan yang lebih cepat dan,

HAAPP!

.

Sasuke sudah berada di belakang Kabuto dengan kunai yang ada di leher Kabuto. Pria onyx itu menyeringai, karena rencananya berhasil.

"Sudah ku bilangkan kau tidak akan selamat," tutur Sasuke dingin. Matanya pun sudah berubah kebentuk sharingan.

"Cih, Uchiha, jadi ini pilihanmu?" ujar kabuto.

"Yah" Sasuke menjawabnya enteng. Kabuto menyeringai, lalu dengan satu gerakkan tangan yang tak terduga, Kabuto melemparkan sesuatu yang sedari tadi di gendongnya itu ke danau, sukses membuat sasuke kaget dan refleks melepaskan cengkramannya pada Kabuto. Melihat kesempatan ini kabuto langsung melarikan diri.

Sasuke berusaha menggapai tubuh mungil anaknya, namun terlambat, tubuh kecil itu sudah terjatuh ke dalam kolam yang dangkal. Sasuke berusaha mengambil bayinya dari kolam itu. Sasuke mengecek keadaan anaknya, dan kenyataan pahitlah yang ia dapatkan.

"Royuki!" panggilan itu mengalihkan perhatian sasuke, itu Hinata, dia hinata yang sedang berdiri mematung dan menatap tak percaya pada apa yang sedang di pandangnya sekarang. Perlahan dengan terseok-seok, Hinata berjalan kearah sasuke. Ia berusaha berjalan secepat mungkin, lalu ia menghampiri jasad anaknya lalu mengambilnya dari dekapan Sasuke.

"Royuki, bangun sayang, ibu sudah datang."

Sasuke menatap miris pada Hinata. Ia merasa ia adalah orang yang tak berguna, bahkan tak bisa melindungi anaknya sendiri.

"Royuki, ayo bangun nak."

.

Tangan Hinata kini sudah berada di dada Royuki, lalu menekan-nekan nya, berharap anaknya akan sadar . namun itu percuma tapi hinata masih terus melakukan itu. Ia mulai terisak, air matanya turun dengan deras di pipnya.

"Ibu mohon, menangislah Royuki, jangan diam saja, aarrrggghhttt, hiks."

Hinata masih belum mengehntikkan kegiatanya, sampai sebuah tangan terulur di bahunya.

"Sudahlah, Hinata."

.

Dan setelah itu, tangisan dan pelukan seorang ibu terhadap anaknya lah yang dapat dilihat Sasuke.

.

.

.

Di hari itu, dia tak menangis lagi, dia hanya menatap kosong pada nisan yang ada di depannya. Tak ada kata sedikit pun yang keluar dari bibirnya. Hanya kekosongan dan kehampaan yang ada dalam hatinya, hanya luka dan rasa sakit yang tersisa untuk jiwanya.

.

.

.

End

.

.

.

a/n: hay minna n.n/, maaf atas keterlambatan fic ini, bnyak sekali kendala untuk mempub chptr 3 ini, gmna ceritanya, apa bagus,hha aku tak menjamin kalian suka yah, karena dari kita bertiga, mungkin akulah yang paling newbie. Ok aku mewakili pororo dan yuko mengucapkan banyak terimakasih atas review , saran, kritik, dll. Maaf tak bisa membalas satu-satu. Oh iya fic collab ini mungkin emnag ga bagus, tapi percayalah, kami membuatnya dengan tulus, dan emng benar fic ini di kerjakan sendiri-sendiri jadi tidak ada diskusi author, jadi mohon maaf jika ada yang kecewa. ok sudah cukup cuap-cuap nya, terakhir, mind RnR?