Fiction
.
.
.
Chaptter 3
.
.
.
Naruto : Masashi Kishimoto
.
.
.
SasukexSakura
GaaraxSakura
SasukexKarin
.
.
.
Warning!! Typos, OOC, AU!, mainstream, DLDR!!!!
.
.
.
happy reading
o0o
.
.
.
"Kembalikan!" Seorang gadis kecil berambut merah muda mengejar dua orang anak laki laki yang berlari membawa pita merah di taman sekolah.
"Ambil kalau kau bisa dasar jidat lebar, wew!" anak yang membawa pita menjulurkan lidahnya.
"Lemparkan saja ke kolam Sakon!" Seorang anak perempuan berteriak dari bangku taman lalu tertawa.
"Ide bagus hahaha." Si anak bernama Sakon berlari mendekati kolam ikan.
"Jangan! Jangan lempar pitaku ke kolam!" Si gadis kecil merah muda berteriak dan mulai menangis.
"Haha dasar cengeng, lihat ini!" Anak bernama Sakon mengikat pita pada batu lalu melemparkannya ke tengah kolam, pita merah itu tenggelam.
"Pitaku! kenapa kau melemparnya ke kolam!" Si merah muda berteriak histeris melihat pitanya tenggelam ke dasar kolam.
"Masuk saja ke kolam kalau kau mau pitamu kembali dasar cengeng." Gadis berambut magenta mendekati si merah muda lalu menjambaknya.
"Itai yo! lepaskan Tayuya sakit." anak bernama Tayuya semakin kuat menjambak si merah muda.
"Hei apa yang sedang kalian lakukan, aku akan memberitahu Sensei kalian mengganggu anak lain." Seorang anak laki laki berambut merah mendekati mereka, Tayuya langsung melepaskan rambut si merah muda. Dia tidak mau dihukum karena menjahili teman sekelasnya.
"Kau pikir kami takut eh dasar pendek." Anak yang lebih tinggi mengejek si rambut merah.
"Ne Kidomaru kita pukul saja si pendek itu." Sakon berdiri di sampinh Kidomaru.
Kidomaru langsung menendang perut si merah kencang ia kesakitan dan mencoba melawan dengan menyerudukan kepalanya ke perut Kidomaru hingga jatuh lalu memukul wajahnya, Sakon dari belakang memukul punggung simerah. Si merah menendang Sakon di kakinya.
"Sensei! Ada yang berkelahi!" Si merah muda berteriak. Mendengar teriakan si merah muda Kidomaru dan Sakon berhenti mengeroyok si merah dan berlari mereka tidak ingin ketahuan guru dan di hukum.
"Kau baik baik saja?" si merah muda mendekati si merah.
"Aku baik baik saja."
"Kau kenapa menangis?"
"Sakon melempar pitaku ke kolam."
Si merah mendekati kolam, mencari benda yang dimaksud si merah muda tapi tidak ada pita di kolam itu.
"Mana pitamu? aku tidak melihatnya."
"Sakon mengikatnya dengan batu, pitanya tenggelam hiks hiks"
"Ayo ikut aku!" Si merah mengajak gadis kecil ke dekat bunga bunga yang di tanam di taman sekolah. Si anak laki laki berjongkok di dekat bunga bunga dan mengambil sesuatu.
"Nah ini untukmu." Si merah meletakan mahkota bunga ke kepala si merah muda.
"Arigato, um siapa namamu?"
"Gaara"
"Aku Sakura dari kelas 2-3."
"Aku kelas 2-1."
"jaa na Gaa chan." Sakura berlari meninggalkan Gaara.
Sakura berjongkok di tembok belakang sekolah Tayuya,Kidomaru dan Sakon mengelilinginya.
"Mengaku saja kau yang melaporkann kami pada Pakura senseikan?" Sakon mendaratkan kepalan tangannya ke kepala Sakura.
"Bukan aku, aku tidak melakukannya." Sakura menangis ia menutupi kepalanya dengan tangan.
"Kau pikir kami percaya dasar jidat lebar bodoh." Tayuya menendang kaki Sakura.
"Gara gara kau kami dihukum membersihkan perpustakaan selama seminggu."
"Aku yang melaporkan kalian, jika kalian masih mengganggunya aku akan melaporkannya lagi." Gaara muncul dari balik tembok kelas.
"Dasar menyebalkan, ayo kita pergi." Tayuya menyeret kedua temanya pergi.
"Kau tidak apa apa?"
"Ung, arigato Gaa chan. Kau selalu menolongku."
"Im yours prince knight. I ewill protect you until my last breath My Lady." Gaara berlutut dengan satu kaki dan tangan kanan di dada.
"Are? kau mengatakan apa?" Sakura memiringkan kepalanya bingung.
"Aku juga tidak tau, aku mendengarnya saat menonton film bersama neesan ku." Gaara memalingkan wajahnya malu dia mengatakan itu karena menurut kakaknya pria di film itu terlihat keren karena itu dia mengikutinya.
"Neesanku bilang itu artinya. Aku akan selalu menjagamu."
"Benarkah? Aku menyukaimu." Sakura memeluk Gaara. "Ne Gaa chan kau harus menepati janjimu."
"Aku akan menjagamu selamanya." Mereka pergi sembari bergandengan tangan.
o0o
Sakura membuka matanya, ia memimpikan pertemuan pertamanya dengan Gaara saat itu usianya baru tujuh tahun. Mereka selalu masuk sekolah yang sama hingga SMA tapi Sakura pindah ke Konoha karena pekerjaan ayahnya dan kuliah disana. Dia ingat dulu saat kecil mereka sering bermain princess and prince knight Gaara bilang ia sering menonton film itu bersama kakaknya Temari, film tentang tuan putri yang cantik dan kesatria yang sangat hebat.
"Saki kau sudah bangun?" Ibunya duduk di tepi ranjang sakura. "Apa kau ingin makan sesuatu?" Mebuki membelai wajah putrinya yang terlihat pucat.
"Oka chan gomene." Sakura memeluk ibunya erat, ia melihat kantung mata ibunya sangat tebal entah berapa lama ibunya tidak tidur wajahnya terlihat sangat lelah.
Bagaimana mungkin dia dengan sampai hatinya melukai perasaan orangtuanya yang begitu menyayanginya. Bukan hanya dirinya yang terluka karena pria itu, tapi juga mereka sama terlukannya dan dia dengan bodohnya menambah luka hati mereka.
"Dasar anak nakal!" Mebuki memukul bahu Sakura pelan. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan hah? Kau ingin meninggalkan Ayah dan Ibumu? Apa kau membenci kami karena itu kau melakukannya?" Mebuki mulai terisak.
"Gomenasai." Sakura menangis dipelukan ibunya ia menyesali perbuatannya.
Kizashi memasuki ruang rawat putrinya dan melihat dua orang perempuan yang paling di kasihinya menangis ia memeluk keduanya.
"Otou chan gomenasai." Kizashi tersenyum tipis membelai surai pink putrinya.
"Berjanjilah kau tidak akan melakukanya lagi. Otou chan tidak akan pernah sanggup melihatmu dalam keadaan seperti itu." Sakura semakin terisak di pelukan kedua orang tuanya.
Karin melihat Sasuke sedang menelfon seseorang wajahnya terlihat murung.
"Bagaimana keadaannya?" Sasuke bertanya dengan nada khawatir.
"Dia sudah sadar tapi tidak mau berbicara dengan siapapun. Temui dia mungkin saja keadaanya akan membaik setelah bertemu denganmu." Sasuke mencengkeram pagar balkon matanya menatap hampa pemandangan kota Konoha.
"Aku tidak bisa. Aku janji pada Karin tidak akan menemuinya lagi."
"Haha! Janji kau bilang! Bukankah kau juga berjanji akan membahagiakan Sakura lalu apa yang kau lakukan kau menghancurkannya Uchiha!" Hatinya mencelos dia benar dirinya sudah menginkari janjinya pada si gadis musim semi.
"Sara aku..."
"Berhenti bersikap seolah kau peduli padanya, kau benar benar brengsek Uchiha!"
"Sara, aku benar benar minta maaf."
"Cih! Katakan itu pada Sakura dan orang tuanya, jika kau tidak bisa maka enyahlah dari hidupnya dan nikmati hidupmu dengan jalang itu pecundang!"
Sambungan telefon di putus sepihak oleh Sara, Sasuke menghela nafas lelah. Kenapa rasanya begitu salah saat dia memilih Karin.
"Kau menelfon siapa Sasuke?" Karin berdiri di hadapan Sasuke.
"Bukan siapa siapa." Sasuke melewati Karin begitu saja.
"Apa kau menelfonnya?" Karin menghadang Sasuke.
"Tidak, Aku menelfon orang lain."
"Kau bohong, kenapa kau masih menghubunginya?" Karin menatap nanar Sasuke.
"Aku tidak menelfon Saku-" Karin menutup mulut Sasuke dengan tangannya.
"Jangan menyebut namanya, aku mohon jangan menyebut namanya saat bersamaku." Sasuke menganggukkan kepalanya, Karin memeluk pria emo itu erat ia akan melakukan apapun agar Sasuke tidak pernah meninggalkannya.
o0o
Mebuki menyuapi putrinya, ini pertama kalinya Sakura meminta makan sejak ia sadar dua hari yang lalu. Entah apa yang pemuda bertato "Ai" itu katakan pada putri merah mudanya hingga Sakura kembali mau bicara. Mebuki tau pemuda itu menyukai Sakura tapi putrinya tidak pernah menyadari perasaan pemuda itu.
Gaara memasuki ruang rawat Sakura ia membawa sebuket bunga mawar putih. Pemuda itu tersenyum dan mengelus lembut surai merah muda sahaatnya.
"Aku harus kembali ke Suna sekarang. Yashamaru jisan membutuhkanku."
"Tidak bisakah kau pulang besok saja?" Sakura mengerucutkan bibirnya. "Bahkan kita belum banyak mengobrol Gaa chan." Ia merengek dan meneluk lengan Gaara.
Gaara bersyukur setelah pembicaraan mereka tadi siang Sakura sudah lebih baik. Awalnya dia ragu menemui gadis merah muda mungkin saja ia akan membencinya karena telah lancang memintanya melupakan Sasuke secara tidak langsung dan menyatakan perasaannya. Tapi ia salah bahkan Sakura tetap memperlalukannya sama seperti dulu.
"Gomene Saki aku tidak bisa." Gaara menepuk puncak kepala Sakura, "tapi aku janji aku akan segera kembali ke Konoha." Sakura menggembungkan pipinya membuat Gaara gemas dan mencubitnya.
"Itte tte tte" Sakura meringis dan membalas mencubit perut Gaara. Gadis merah muda tertawa mendapati sahabatnya meringis.
Mebuki tersenyum melhat bagaimana pemuda bertato "Ai" itu dengan mudahnya membuat putrinya tertawa. Jika saja pemuda itu yang menikahi putrinya ia yakin putriya akan bahagia.
"Pastikan kau sudah sehat dan berada di rumah saat aku kembali." Gaara memeluk gadis merah muda yang menganggukan kepalanya. "Basan aku permisi." Gaara beralih memeluk Mebuki.
"Arigato sudah membawa Sakura kami kembali. Aku selalu berdoa untuk kebahaagianmu." Mebuki membalas pelukan Gaara erat. Dan putriku yang bodoh segera menyadari perasaanmu dan membalasnya lanjutnya dalam hati.
Gaara sangat menyukai Mebuki wanita itu memperlakukannya dengan baik sejak ia masih kecil. Gaara tidak pernah mengenal Ibunya, Ibunya meninggal ketika melahirkan pemuda merah itu dalam keadaan prematur. Pamannya mengatakan Karura tetap mempertahankan bayi yang ia kandung walaupun ia dalam keadaan sakit, itu sebagai wujud rasa cinta wanita itu pada putra bungsunya. Gaara tumbuh bersama Yashamaru adik Karura sedangkan Ayah pemuda itu menyibukan dirinya dengan pekerjaan untuk mengobati rasa sakit kehilangan wanita yang ia cintai. Hingga ia bertemu Sakura dan dirinya menemukan arti sebuah keluarga dari gadis merah muda dan kedua orang tuanya.
Gaara selalu berharap bisa menjadi bagian dari keluarga itu bukan hanya sekedar sahabat Sakura atau seseorang yang dianggap sebagai anak oleh Kizashi dan Mebuki tapi benar benar bagian dari hidup mereka. Usianya baru 10 tahun saat itu dan dia tidak mengerti apa nama perasaan itu ia tidak suka saat melihat Sakura bermain dan tertawa bersama anak laki laki lain dan memukul Temujin karena dia merangkul Sakura. Ia melarang Sakura bermain dengan anak laki laki lain gadis itu marah dan mengatakan jika ia membencinya saat itu hatinya berdenyut nyeri. Ia bertanya pada pamannya jika dadanya sakit padahal tidak ada luka ia menceritakan apa yang terjadi di sekolah. Yashamaru bilang itu luka hati yang hanya bisa di obati dengan kasih sayang dan senyuman, dan yang bisa mengobati luka hatinya hanyalah Sakura keesokan harinya Gaara menemui gadis merah muda itu dan meminta maaf saat si gadis tersenyum memaafkan dan memeluknya rasa sakit itu menghilang pamannya benar hanya Sakura yang bisa mengobati luka hatinya. Seiring bertambah usia dia menyadari jika dirinya mencintai Sakura dan cintanya tak berbalas si gadis musim semi selalu mengatakan menyayanginya seperti Naruto sepupunya sejak saat itu ia sadar ia tidak akan pernah memiliki gadis itu dan ia memutuskan akan selalu ada untuknya sebagai sahabat, menjaganya seperti seorang kakak dan mencintainya dalam diam.
Katakanlah ia kejam karena bersyukur dengan pembatalan pernikahan sahabatnya, hanya saja dengan terlukanya Sakura ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan gadis yang sangat dicintainya ia akan mengorbankan segalanya agar gadisnya melihatnya sebagai seorang pria yang mencintainya bukan seorang sahabat.
o0o
Karin memeriksa ponsel Sasuke yang tertinggal Sasuke pergi ke kantor Ayahnya setelah mendapat telefon dari Itachi, ia penasaran dengan siapa ia bicara baru saja. Nama Sara tertera pada log panggilan, Untuk apa kekasihnya menelfon sahabatnya dan terlepas dari apa yang terjadi mereka bersahabat sejak SMA tapi kenapa gadis itu tidak pernah menemuinya atau menghubunginya. Apa mungkin Naruto melarangnya, ia menyalin nomor Sara dan mengirim pesan pada sahabatnya agar mereka dapat bertemu.
Karin memasuki kafe Akatsuki tempat dimana dulu ia dan sahabatnya sering menghabiskan waktu bersama. Ia melihat Sara duduk di meja dekat jendela.
"Kau datang sangat awal." Karin duduk di hadapan Sara.
"Aku akan menjenguk Sakura." Sara meminum kopinya.
"Kelihatannya kau sangat akrab dengannya." Ucap Karin sinis.
"Aku menyayangi Sakura dia manis dan polos, dia juga adik iparku." Sara mengerlingkan matanya menggoda.
"Cih!" Karin mendecih mendengar kata kata Sara.
"Kenapa kau kembali dan merusak segalanya?" Sara menatap Karin datar.
"Aku kembali untuk mengambil milikku!"
"Milikmu? Siapa? Sasuke? Kau sudah mencampakannya tiga tahun lalu!"
"Aku sakit saat itu karena itu aku pergi." Karin menceritakan semua yang ia alami tiga tahun lalu. Sara diam mendengarkan sahabatnya hingga selesai.
"Aku turut bersedih atas apa yang menimpamu tapi bukan berarti kau bisa menarik Sasuke masuk kedalam hidupmu hanya karena alasan itu. Jika saja keadaannya berbeda mungkin aku akan memelukmu tapi aku tidak bisa melakukannya." Karin menyeka air matanya.
"Kau membenciku?" Karin menatap Sara dengan pandangan terluka.
"Aku tidak membencimu hanya saja aku belum bisa menerimamu, kau memisahkan dua orang yang saling mencintai."
"Aku mencintai Sasuke dan dia juga mencintaiku!" Ucap Karin setengah berteriak menarik perhatian beberapa pengunjung kafe.
"Kau mencintainya tentu saja aku tau tapi, apa dia mencintaimu? Sasuke dia mencintai Sakura itu faktanya." Seorang pelayan meletakan satu box strawberry chessecake di meja mereka. Sara menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan dan berdiri.
"Bawa Sasuke pergi dari sini karena jika tidak ia akan berlari kembali pada Sakura. Aku berani jamin itu. Sasuke mencintai Sakura melebihi cintanya padamu dulu, dia melamar Sakura di hadapan semua orang saat wisuda Sakura." Sara mengetikan sesuatu di ponselnya.
"Kau tidak tau apa saja yang sudah Sasuke lakukan untuk mendapatkan Sakura. Dan bagi orang tuanya Sakura adalah adalah putri idaman mereka bukan hal yang tidak mungkin mereka mewujudkannya bukan? Ah aku harus segera kerumah sakit, Sakura menunggu kuenya." Sara meninggalkan Karin.
Drt drt drt.
Karin merasakan ponselnya bergetar sebuah video di kirim oleh Sara. Ia melihat seorang gadis berbicara di mimbar di atas panggung dan dari sisi panggung ia melihat Sasuke berjalan menaiki panggung hingga gadis itu selesai bicara di sambut tepuk tangan orang orang yang hadir di sana, Sasuke berjalan menghampiri gadis itu dan berdiri di hadapannya. Si gadis terlihat bingung sementara pria emo itu hanya tersenyum tipis.
"Cherry hidup dan tualah bersamaku sebagai Uchiha"
Sasuke mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. Si gadis melompat kedalam pelukan Sasuke di iringi sorakan dan tepukan gemuruh. Sasuke memakaikan cincin di jari manis si gadis dan mengetuk dahi lebarnya dengan jari telunjuk dan tengah.
Karin memukul meja kafe, hatinya sakit ia berpacaran dengan Sasuke sejak SMA hingga mereka kuliah tidak pernah sekalipun kekasihnya membahas tentang pernikahan. Sasuke selalu mengatakan ia akan selalu berada disisinya dan menjaganya. Sara benar ia harus menjauhkan Sasuke dari gadis itu secepatnya. Karin keluar dari kafe dan bergegas pulang.
Karin mengepak barang barangnya ia akan mengajak Sasuke ke Ame mereka akan tinggal di sana jauh dari Sakura. Mereka akan hidup bahagia tanpa gangguan dari siapapun. Karin melihat Sasuke masuk ke apartemen mereka ia menyeret kopernya ke ruang tamu.
"Karin apa yang kau kakukan?" Sasuke terkejut melihat Karin membawa koper.
"Ayo kita pergi! Kita kembali ke Ame!" Karin memeluk Sasuke.
"Aku tidak bisa." Sasuke melepas pelukan Karin.
"Kenapa? Kenapa kau tidak mau pergi dari Konoha?" Karin menatap Sasuke marah.
"Ada proyek yang harus ku selesaikan, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku." Sasuke mencoba menjelaskan.
"Mereka sengaja melakukannya! Mereka ingin memisahkan kita! Karena itu mereka menahanmu disini agar kau kembali bersama gadis jalang itu! Me-"
"Jaga bicaramu Karin!" Sasuke membentaknya. "Jangan pernah sekalipun kau menghina atau mengumpati Sakura." Sasuke mendesis memperingatkan. Lalu ia berlalu memasuki kamarnya.
"Brengsek!" Karin menendang kopernya.
Sasuke merebahkan diri di ranjangnya, kenapa semua orang memintanya meninggalkan Konoha bahkan Ayahnya memberinya proyek di Ottogakure yang langsung ia tolak. Dan sekarang Karin juga mengajaknya pergi ke Ame. Bagaimana ia bisa meninggalkan kota ini jika dia bahkan belum meminta maaf pada gadis yang telah ia lukai. Entah bagaimana keadaan gadis itu saat ini. Ia teringat kata kata Sara jika Sakura tidak mau berbicara dengan siapapun padahal gadis itu sangat cerewet. Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya.
Sara melihat adik iparnya sedang bertengkar dengan sahabat pirangnya Yamanaka Ino. Dan Sara tau adiknya baik baik saja.
"Kau benar benar membuatku khawatir jidat, kau terus mengabaikan semua orang termasuk orang tuamu!" Ino memeluk sahabatnya erat air mata terus mengalir di pipinya.
"Kau membuatku sesak Pig, aku tidak bisa bernafas bodoh." Sakura memukul bahunya pelan.
"Aku tidak peduli." Ino makin mengeratkan pelukannya. "Ini hukuman karena membuatku khawatir."
"Apa aku sedang menyaksikan yuri live action?" Sara meletakan box kue di meja. Ino dan Sakura nyengir kuda tanpa melepaskan pelukan mereka.
"Onee chan kau bawa apa?" Sakura bertanya penasaran.
"Chesseecake." Sara meletakan chesseecake pada piring kecil. "Aku membelinya di kafe Akatsuki." Sara memberikannya pada Sakura.
"Untukku mana?" Ino mengulurkan tangannya.
"Kau bisa mengambilnya sendiri pirang." Ino mengerucutkan bibirnya. "Dimana bibi?"
"Ibwu swedwang mwengwambhhl-"
"Telan dulu makananmu baka!" Ino memukul kepala Sakura dan membuatnya mengaduh kesakitan. "Bibi sedang mengambil pakaian ganti Sakura."
"Aku senang kau kembali Sakura, kami semua menyayangimu. Saat kau jatuh kami akan menangkapmu jangan pernah takut menghadapi apapun karena kami ada di sisimu." Sakura menghentikan kunyahannya. Ia menatap kakak iparnya dengan mata berkaca kaca.
"Lanjutkan makanmu dan jangan menangis kau akan cepat tua kalau sering menangis." Sara mencium pucuk kepala adik iparnya. Sakura menganggukan kepalanya.
o0o
Mebuki mengepak pakaian Sakura hari ini ia sudah bisa pulang. Ia sangat merindukan kasurnya di rumah satu minggu di rumah sakit benar benar membuatnya bosan mungkin setelah pulang ia akan mencoba mengirimkan beberapa CV ke perusahaan penerbit dia mungkin saja bisa menjadi editor penulis terkenal dan karyanya menjadi best seller.
"Ayo kita pulang!" Mebuki meraih tangan putrinya.
Kizashi membawa tas berisi pakaian putrinya, ia menatap punggung kecil Sakura dia tau putrinya masih terluka tetapi tetap tersenyum agar ia dan istrinya tidak khawatir. Ia menyadari butuh waktu lama untuk mengobati luka hatinya.
Sakura membka pintu rumahnya confeti warna warni menghujaninya.
"Okaerinasai!" Sakura melihat Naruto, Sara, Ino dan Sai berdiri di ruang tamu rumahnya.
"Tadaima, arigato mina." Sakura memeluk Naruto dia sangat merindukan kakak sepupu pirangnya. Naruto membalas pelukan adik sepupunya erat.
"Ayo kita mulai pestanya!" Ino menyeret Sakura ke ruang makan ada banyak makanan kesukaannya.
Ino, Sai, Naruto dan Sara sudah pulang sejak dua puluh menit yang lalu, Sakura memandangi bingkai foto yang tergantung di dinding kamar fotonya dan Sasuke saat ia di wisuda. Ia merindukan pemuda itu, mantan kekasih yang masih sangat ia cintai.
Pagi harinya Sakura menemukan pemuda dengan surai merah duduk di kursi meja makan rumahnya sedang berbincang dengan ayahnya.
"Gaara kapan kau datang?" Sakura duduk di sebelah pemuda berambut merah.
"Semalam, kau sudah tidur saat aku datang." Gaara menyerahkan segelas susu hangat pada Sakura.
"Setelah ini aku akan sangat sibuk, aku tidak bisa sering sering mengunjungimu." Gaara menyesap kopinya. "Kami mendapatkan proyek besar. Yashamaru jisan dan Shikamaru nii sudah bekerja keras untuk memenangkan proyek ini, giliranku untuk mengerjakannya."
"Apa ini perpisahan?" Sakura menundudukan kepalanya.
"Tidak Saki, aku akan tetap berkunjung hanya saja tidak bisa sesering sebelumnya." Gaara menepuk kepala Sakura pelan.
"Apa ini karena permintaanmu saat di rumah sakit?"
Kizashi mengerti pembicaraan ini menyangkut perasaan pemuda itu karena itu ia memilih pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ini tidak ada hubungannya. Bukankah sudah ku katakan kau tidak perlu membalas perasaanku. Aku sudah merelakan hatiku terluka sejak sangat lama. Aku mencintaimu sejak usiaku sepuluh tahun dan akan terus mencintaimu." Gaara membelai pipi Sakura, "jangan pernah terbebani dengan perasaanku aku tulus mencintaimu."
Sakura menangis kenapa rasanya begitu menyakitkan mendengar sahabatnya mengungkapkan perasaannya. Kenapa bukan pemuda ini yang hatinya pilih, kenapa harus dia tempatnya melabuhkan cintanya.
"Gaara aku sangat mencintainya." Sakura mulai terisak.
"Aku tau, seperti aku yang mencintaimu kau juga mencintainya. Aku tidak akan memintamu melupakannya karena itu sangat sulit. Bahkan aku sendiri tidak pernah sanggup melupakanmu."
"Lalu apa yang kau harapkan dariku?"
"Biarkan aku mengobati luka hatimu, bersandarlah padaku, beri aku kesempatan untuk berada disisimu. Jika tidak bisa aku akan menyerah dan melepaskan mu tapi aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Sakura semakin terisak apa yang harus ia lakukan ia begitu mencintai Sasuke ia selalu berharap pemuda itu kembali padanya. Tapi ia tidak bisa mengabaikan perasaan sahabatnya sudah terlalu banyak hal yang Gaara korbankan hanya untuk mencintainya.
"Gaara gomenasai." Mata sakura membengkak karena tangis dan pandangannya memburam oleh air mata ia tidak dapat dengan jelas melihat wajah sahabatnya tapi ia tau pemuda itu terluka.
"Aku mengerti aku akan tetap menjadi sahabat dan kakakmu yang akan selalu menjaga dan melindungimu." Gaara memeluk Sakura erat, ia akan melepaskan gadis ini rasanya sangat menyakitkan ketika gadis yang ia cintai menolaknya tapi dirinya harus menerima keputusan gadis itu.
Mebuki melihat putrinya meringkuk di ranjangnya ia masih menangis setelah menolak pemuda berambut merah yang saat ini dalam perjalanan menuju Suna.
"Saki." Mebuki memanggil putrinya ia duduk di tepi ranjang.
"Oka chan aku sudah melukai Gaara, apa dia akan memaafkanku?"
"Gaara dia pemuda yang baik, bukankah dia bilang dia tetap akan menjadi sahabatmu." Mebuki menyeka air mata putrinya.
"Aku masih mencintainya, apa aku salah berharap dia kembali padaku?"
"Saki dia mencintai gadis lain, kau tau itu bukan?"
"Kenapa rasanya sangat sakit " Sakura memukul dadanya.
"Saki, menyerah bukan berarti kau lemah tapi itu menunjukan bahwa kau kuat untuk melepaskannya. Bukankah Gaara juga begitu ia telah menguatkan hatinya untuk melepasmu, kami semua ingin kau bahagia, karena itu lanjutkan hidupmu." Mebuki keluar dari kamar putrinya.
o0o
Sakura berdiri di depan pagar sebuah mansion mewah, dengan ragu dia menekan bel hingga seoranh pelayan membukakan pintu untuknya. Pelayan itu tampak terkejut melihatnya dan dengan canggung mempersilahkannya masuk, tanpa diminta ia membantu Sakura mengangkat beberapa box yang di bawa Sakura.
"Gomene karena sudah menganggu waktu Oka san." Sakura membungkukkan badannya.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu seformal itu." Mikoto memeluk Sakura. Ia merindukan si gadis musim semi dulu ia sering menghabiskan banyak waktu bersama. Tapi sekarang ia sangat malu untuk nenemuinya.
"Oka san aku kemari karena ingin mengembalikan semua ini." Sakura menunjuk beberapa box yang disusun di atas meja dan sebuah box karton besar di lantai.
"Sakura chan, kenapa kau mengembalikan semua ini?" Mikoto terkejut karena Sakura mengembalikan semua hadiah pernikahan yang ia dan suaminya berikan.
"Gomene aku tidak bisa menyimpannya, dan ini milik Sasuke kun." Lidahnya terasa kelu saat menyebut nama pemuda itu. "Aku permisi." Sakura berojigi dan berlalu dari hadapan Mikoto. Mikoto berlari dan meraih bahu gadis itu.
"Sakura chan. Gomenasai."
"Tidak, Kasan tidak melakukan kesalahan apapun ini semua takdir Kami sama."
Mikoto meneteskan air matanya saat melihat gadis itu menghilang di balik pagar, ia selalu bermimpi memiliki seorang putri saat ia pertama kali melihat gadis itu ia tau hatinya telah mengklaim gadis musim semi sebagai putrinya. Tapi semua impiannya di hancurkan oleh putranya gadis itu tidak akan pernah mengisi rumahnya dengan tawa riangnya dan dia takan pernah lagi melihat binar binar cerah di mata gadis itu.
Mikoto membuka box besar yang ada di lantai, ia melihat sebuah Album, bantal berbentuk bulat dengan gambar buah cherry, boneka kelinci berwarna biru, beberapa novel dan dua buah kotak beludru berisi kalung dengan liontin bunga sakura dan cincin yang Sasuke berikan saat ia melamarnya.
o0o
Gaara melirik jam di meja kantornya ini sudah lewat jam makan malam tapi pekerjaannya belum selesai. Ia menghubungi Sakura siang tadi tapi gadis itu tidak menjawab panggilannya, mungkin gadis itu menghindarinya. Ia tidak ingin Sakura menjauhinya karena terbebani oleh perasaannya. Sebersit penyesalan menghampiri karena telah mengungkapkan perasaannya pada si gadis musim semi, pemuda itu mengusap kasar wajahnya ia menutup laptopnya dan memasukkannya kedalam tas ia akan melanjutkan pekerjaannya di rumah.
Pemuda bersurai merah memasuki rumahnya ia mendengar suara tawa familiar dari ruang tengah, Gaara menggelengkan kepalanya tidak mungkin gadis itu ada di sini fikirnya. Jantungnya terasa melompat ketenggorokan saat netranya menangkap seorang gadis berambut merah muda sedang bermain dengan keponakannya.
"Kau pulang terlambat, kami semua menunggumu untuk makan malam bersama." Sakura mempoutkan bibirnya. Ia menghampiri pemuda berambut merah yang masih mematung menatapnya.
"Aku datang untuk mengambil obat untuk menyembuhkan luka hatiku." Sakura tersenyum dan meraih tangan Gaara. "Ayo, aku sudah sangat lapar."
Sakura menyeret Gaara menuju ruang makan. Pemuda bertato "Ai" itu menyentuh dadanya jantungnya berdebar begitu kencang dan rasa hangat mengisi rongga dadanya. Sebuah senyum bahagia perlahan menghiasi wajah tampannya.
Arigato Kami sama. Gaara berguman dalam hati.
o0o
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : Makasihh yang udah baca dan review gomene ga bisa balassatu satu, aku akan update cerita ini seminggu sekali. Buat para GUEST pleasse tulis nama kalian biar aku ga bingung.
Thanks to : Aitara furuhayu, Guest, Guest, read story, Sofi asat, Guest, Guest, Sakura, Guest, Hachiko, Guest, dan para silent reader pleasse tinggalin jejak.
RnR Pleasse
With love,
Ritsu
