[tanda bahaya: genderbender, sedikit utauloid, shoujo-ish (termasuk alur dan karakter), kecepatan alur yang tidak menentu, sedikit bahasa kasar, panjang pendek setiap bab tidak menentu, kemungkinan hubungan romantis antara RinxMikuo dan RinxSiapapun di masa ke depan (maap, belum bisa dibocorkan, hehe), reverse harem alert!]

a.n: makasih buat kamu yang udah membuka halaman ini :)


Gampang saja sebenarnya.

Kalau aku tidak dikaruniai bakat untuk dapat mendengar dengan baik maupun membedakan jeda yang diberikan pada setiap kalimat, aku pasti sudah salah mengartikannya dari awal.

"Dan panggil aku Senpai Idiot!" (tanda koma dihilangkan)

Sesungguhnya aku senang sekali jika harus memanggilmu 'Senpai Idiot'!

.


Circle.


(titik awalnya sudah dimulai dan akan terus berlanjut karena lingkaran tidak pernah berakhir)

.

.

Oke. Jadi, disinilah aku sekarang. Menatap kamar baruku berukuran delapan kali delapan meter. Langit-langitnya cukup tinggi sehingga udara di dalamnya dapat berputar secara baik. Tempat tidurnya terdiri dari dua tingkat. Ada dua meja belajar di bagian sudut kamar yang berdempetan dengan lemari pakaian. Di sisi seberangnya, terdapat sofa pendek dengan meja kecil yang cocok untuk tempat menyantap makanan ringan.

Aku tersenyum memaksa. Tentu saja. Tidak boleh berharap lebih, Rin. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada kulkas. Tidak ada televisi. Tidak ada apapun yang menyenangkan disini. Aku benar-benar akan menderita selama liburan musim panas ini!

Aku menarik napas panjang dan menyeret koperku masuk ke dalam kamar lebih jauh lagi. Di samping tempat tidur, terdapat jendela yang terbuka lebar dengan tirainya yang tertiup angin. Ada beranda di sebelah sana yang dapat dihampiri dengan cara melompati jendela. Tentu saja, Sang Arsitektur memang bisa menebak seberapa liarnya murid-murdi Crypton itu sendiri hingga mereka merancang beranda yang hanya dapat dilewati dari jendela. Demi Tuhan, memangnya mereka nggak tahu benda yang disebut pintu apa?!

Kress...

Aku menundukkan kepalaku, mengangkat sepatu ketsku, dan menemukan remukkan kripik kentang. Dahiku berkerut. Seingatku, lantai sama sekali tidak bisa makan kripik kentang.

"Kau akhirnya datang juga, Bocah Idiot!"

Kepalaku terangkat kembali untuk menemukan pemuda berambut hijau-kebiruan yang menatapku dari beranda kamar. Kepalanya terjulur ke dalam dan sedikit tertutupi oleh tirai yang ditiup angin, menambah kesan artistik yang aneh.

Dia memang orang yang secara tidak sengaja—penekanan pada kata itu!—aku ceburkan ke sungai.

"Hai, Senpai!" Aku membungkuk dalam-dalam. "Mohon bantuan—"

Kalimatku terputus ketika kurasakan air dingin mengenai wajahku. Aku mengerjap pelan, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Orang itu, senior yang jadi teman sekamarku, memegang gelas besar sambil tersenyum sinis padaku.

Dia baru saja menyiramku?

Aku kembali mengerjap.

"Ini belum setimpal dengan kejadian tadi!"

Dia berniat balas dendam?

Aku menarik napas, berusaha menahan semua kejengkelanku. "Dengar, Senpai, bukannya aku sudah minta maaf?"

Dia mengangkat gelasnya sambil tersenyum lebar. "Permintaan maaf ditolak!"

Aku memutar bola mataku dan mengusap wajahku dengan lenganku. "Peduli banget mau diterima atau nggak! Aku kan nggak sengaja tadi dan sekarang ketika aku sudah berusaha untuk baik sama kamu, aku justru disiram. Kamu itu nyebelin banget! Ultra nyebelin! Super nyebelin!" Aku berteriak hingga napasku habis. Aku menatap tajam wajahnya. "Hargai usahaku, Bodoh!"

Dia sama sekali tidak menyahut apa-apa dan kupikir dia memang tidak mau bicara denganku. Mencoba mengabaikannya, aku berjalan menuju lemari yang menjadi milikku—terlihat dari keadaan yang lebih rapi dibandingkan yang satunya.

Namun, langkahku terhenti ketika suaranya kembali terdengar.

"Untuk ukuran cowok, suaramu nyaring juga."

Jantungku seketika berdegup kencang. "Ap—" Aku berbalik untuk menghadapnya kembali. Tatapan curiga justru membuatku semakin panik. "Apa yang Senpai bicarakan?" Aku tertawa memaksa.

"Bicara dalam satu tarikkan napas saat sedang emosi," sahutnya datar, "biasanya cuma dilakukan oleh cewek kan?"

Aku mengerjap pelan, masih berusaha tertawa. "Oh ya? Aneh sekali... seingatku... aku sudah bisa melakukan hal itu sejak aku lahir..." Aku menundukkan kepalaku, takut jika dia bisa membaca pikiranku hanya dengan melihat wajahku. "Aku punya bakat untuk hal—"

"Kurasa bukan bakat. Kurasa kamu itu nggak normal. Produk gagal."

Aku mengigit bibir bawahku. Sudah cukup dia mengataiku untuk hari ini!

"Dengar ya! Aku nggak peduli kamu senior atau nggak, tapi—"

Harum tubuhnya terbawa angin ketika dia melompat masuk ke dalam kamar. Campuran antara bau papermint, cemara, dan juga madu. Rambut biru-kehijauannya bergerak seiring gerakannya yang lincah. Matanya yang senada dengan rambutnya menatapku dalam-dalam.

Seketika, aku merasa jantungku akan keluar dari dalam tubuhku.

"Apa? Mau protes?"

Tuhan... Aku benci dia... Aku benci dia!

.

.

Ketika jam makan malam, aku hampir berlari menuju ruang makan asrama barat, berusaha sejauh mungkin dari teman sekamarku. Aku benar-benar tidak nyaman. Sepanjang dua jam aku merapikan barang-barangku, dia tidak berhenti mencercaku, mengomentari semua barang-barangku—yang sebenarnya kebanyakan adalah barang-barang Len.

Seperti misalnya kaos kuning favorit Len yang merupakan hadiah dariku untuknya. Orang itu mengomentarinya dengan kekanak-kanakan dan teralu manis untuk ukuran cowok. Lalu dengan lampu tidur favoritku berbentuk buah jeruk yang dikupas sebagian yang dia komentari teralu mirip cewek—oh, maaf saja, aku memang cewek!

Belum lagi dia tidak memberi kesempatan bagiku untuk memilih tempat tidur mana bagianku. Dia hanya bilang: "Junior harus menuruti Senior, kau tidur di atas! Aku malas repot naik turun!". Dasar sok tua! Dasar kakek tua idiot!

Setelah beberapa jam berada di Crypton, aku dapat satu kata yang menggambarkan sekolah ini. Crypton adalah tempat paling hebat—tempat dimana setiap manusia kehilangan akal pikiran dan menjadi hewan buas.

Persis seperti apa yang kusaksikan sekarang.

Sekarang pukul 06.20 pm bertempat di ruang makan asrama barat, aku bagaikan menonton film Resident Evil dimana para zombie sedang berebut memakan manusia. Perbedaannya adalah zombie disini adalah murid Crypton yang (katanya) terdidik sementara makanannya adalah nasi beserta lauk pauk menu Jepang.

Semua orang saling berteriak sambil berusaha mengambil makanan sebanyak-banyaknya dari nampan. Semua orang saling memaki ketika seseorang yang lainnya berhasil mengambil lebih dari jatah miliknya. Semua orang saling memukul ketika akhirnya makian tadi berujung ke arah yang lebih serius hingga menimbulkan luka hati.

Aku kehilangan selera makanku.

"Ya... Rin..." Aku mencoba tersenyum memaklumi. "Apa sih yang kau harapkan dari semua ini?" Aku hampir menangis. Kurasa ada baiknya aku menyimpan beberapa potong roti dalam koperku di perjalanan tadi siang sehingga kalau pun aku merasa lapar, aku bisa menikmatinya dengan tenang.

Itu pun kalau aku masih memiliki selera makan setelah melihat adegan barbar ini.

Aku menarik napas panjang dan berbalik keluar. Namun, langkahku terhenti ketika melihat teman sekamarku, pemuda berambut biru-kehijauan dengan kaos putih dan celana pendek, tepat berjalan kira-kira lima meter di hadapanku. Di sebelahnya, terdapat pemuda biru yang tadi siang membantuku berdiri, yang super keren, yang super cakep, yang super baik hati.

Kurasa, nggak ada salahnya masuk asrama cowok karena aku bisa melihat cowok seganteng ini dalam baju kasual dan apa adanya.

"Apa lihat-lihat?!"

Kembali ke dunia nyata, Rin, kembali ke dunia nyata.

"Tidak ada apa-apa, Senior." Aku memaksakan senyum termanisku padanya.

"Mikuo, jangan bersikap ketus begitu!" Si Biru tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya. "Hai, Manis," dia mengedipkan sebelah matanya padaku, "kamu nggak mau makan malam memangnya?"

Dia memanggilku manis?! Tuhan! Aku manis baginya!

"Umm... nggak, Senpai." Aku berusaha menahan senyumku. "Rame banget... Aku nggak selera lagi."

"Duh, seharusnya kau memanfaatkan statusmu sebagai teman sekamar Mikuo-kun."

"Memangnya apa sih untungnya sekamar dengannya?" Aku berkata jutek. Kurasa memang tidak akan ada untungnya sama sekali.

Si pemuda biru tadi melirik teman sekamarku. "Kamu bakalan lihat sebentar lagi deh."

"Aah! Mikuo-kun!" Aku melihat semua orang mendadak jadi begitu sibuk memperhatikan kami. Semua orang langsung berdiri dari tempatnya masing-masing dan menunduk penuh hormat.

Aku memberikan pandangan tidak mengerti pada Kaito-senpai (aku ingin langsung memanggilnya dengan nama kecilnya saja), tapi dia hanya membalasku dengan senyuman lebar.

"Mikuo-sama!"

"Apakah Anda ingin makan malam?"

"Tentu saja Mikuo-sama ingin makan! Segera siapkan tempat!"

"Rapikan meja!"

"Makanannya masih ada kan? Cepat keluarkan dari dapur!"

Aku tidak mengerti kenapa semua orang begitu ingin melayaninya. Aku melirik si orangnya sendiri yang justru memasang ekspresi datar. Memangnya dia siapa sih sampai semua orang berubah kembali dari manusia barbar menjadi manusia modern?

"Naah, ayo kita duduk disana, Len-kun!" Kaito-senpai berjalan ke belakangku dan mendorong tubuhku. Teman sekamarku mengikuti langkahku di samping. Aku mencuri pandang ke arahnya: dia bukan anak yakuza atau anak presedir sekolah kan?

Kami bertiga duduk di salah satu bangku yang menghadap ke jendela besar. Aku bisa melihat sungai tadi siang dengan pantulan bintang disana.

"Len-kun," aku bahkan baru sadar kalau Kaito-senpai memanggilku dengan nama kecilku (maksudku nama kecil adik kembarku, tapi dalam kasus ini, aku kan sedang jadi Len, jadi dia memanggil nama kecilku!) dan itu membuatku senang karena aku merasa lebih akrab dengan cowok seganteng dia! "Kau mau makan apa?"

"Aah... aku akan mengambil sendiri, Senpai!" Aku segera berdiri dari kursiku. "Aku tidak mau merepotkan Senpai."

Kaito-senpai tersenyum dan beralih ke teman sekamarku yang menyebalkan. "Kau mau makan apa, Mikuo-kun?"

"Menu yang biasa."

"Hei, Mikuo-sama ingin menu seperti biasa!"

"Ambilkan! Cepat ambilkan! Yang masih hangat!"

Dalam hitungan detik, aku bisa melihat nampan berisi nasi karaage yang disiram dengan kuah kare berada di atas meja. Aku mengerjap dan menengadahkan kepalaku untuk melihat ekspresinya. Teman sekamarku masih memasang wajah datarnya, tanpa sorot terharu, maupun ucapan terima kasih. Aku melirik orang-orang yang barusan membawakan makanan untuknya. Terlihat jelas sorot mata ketakutan, sikap tubuh penuh hormat, dan aura bawahan.

Siapa sih orang ini sebenarnya?

Kaito-senpai tertawa di sebelahnya. "Hebat seperti biasa yah!" Setidaknya, Kaito-senpai punya sedikit etika untuk— "Mana bagianku?" Eh, tunggu dulu!

"Siap! Menu seperti biasa untuk Kaito-sama!"

Dan dalam hitungan detik juga, terdapat semangkuk besar es krim rasa coklat dengan taburan meses di atasnya. Aku mengerjap. Sama saja ternyata.

"Kagamine-sama! Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?" Aku rasanya hampir melompat dari kursiku. Aku menatap orang-orang yang barusan melayani teman sekamarku dan Kaito-senpai.

"Hah?"

"Sebagai teman sekamar Mikuo-sama, kami memiliki tanggung jawab untuk melayani Anda!"

Aku mulai merasa horor.

"Senpai..." Aku menarik tangan Kaito-senpai.

"Ya, Len-kun?"

"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Aku menatapnya dengan ekspresi serius.

"Maksudnya?" Kaito-senpai masih tersenyum.

Aku menatap horor ke arah teman sekamarku yang sibuk menyantap makan malamnya dengan ekspresi datar. Ada yang salah dengan pemuda ini. Aku tahu itu!

"Mereka hanya ingin menanyakan kau ingin makan malam apa." Kaito-senpai menjawab dengan tenang.

Aku menatap wajahnya dengan serius. "Dia—" aku menunjuk teman sekamarku, "—bukan anak yakuza kan?"

Pemuda berambut biru kehijauan itu berhenti menyuapkan makanannya dan menatapku tajam sementara Kaito-senpai tertawa terbahak-bahak. "Apa yang barusan kau katakan, Len-kun?"

Aku menelan ludah dengan takut. Kalau dia benar-benar anak yakuza, aku yang sudah menceburkannya (secara tidak sengaja) bisa punya masalah besar—aku mungkin tidak punya masa depan. Selamat tinggal dunia. Sungguh, aku merasa senang karena bisa menikmati 17 tahun. Sungguh, Tuhan, aku sebenarnya ingin punya pacar dulu sebelum bertemu denganmu... Sesungguhnya aku juga ingin pergi ke Perancis... Menyusuri Venice dengan kanonya... Dan...

"Kamu itu benar-benar idiot ya!"

Aku mengerjap. Imajenasiku buyar seketika itu juga. "Apa?"

"Ada hal yang logis yang pernah terpikir di otakmu itu nggak sih?"

Aku ingin meraih salah satu sumpitnya dan menusuk-nusuk wajahnya!

"Kurasa teori anak yakuza dilayani oleh semua orang termasuk logis sebenarnya!"

Dia menatapku lama. "Kau bodoh ya?"

Aku benar-benar akan meraih sumpitnya dan menusuk-nusuk wajahnya!

"Kamu lucu banget, Len-kun!" Kaito-senpai masih sibuk tertawa—oh, sungguh, dia terlihat berkilauan dalam tawanya yang riang. "Mikuo-kun bukan anak yakuza seperti teorimu barusan."

"Terus, dia anak presedir Crypton?"

Kaito-senpai lagi-lagi tertawa. Sejujurnya aku merasa dibodoh-bodohi.

"Kalau aku anak presedir Crypton, aku bersumpah akan menendang bokongmu keluar dari sini secepat mungkin!" Si biru kehijauan itu berkata lambat-lambat penuh dengan penekanan. Setidaknya, aku bisa bernapas lega karena itu berarti dia nggak punya kekuatan buat menyingkirkanku dari Crypton.

"Terus, kenapa orang-orang ini mau melayaninya? Maksudku, siapa sih yang sudi melayani orang macam dia?" Aku berkata dengan santai sementara tatapan teman sekamarku kembali berubah tajam.

Kaito-senpai menyuapkan es krim ke dalam mulutnya. "Habisnya orang-orang itu," Kaito-senpai menunjuk orang-orang bodoh yang maunya disuruh-suruh Idiot Besar itu, "mau masuk tim utama."

"Tim utama?" Alisku terangkat.

"Tim utama sepak bola."

"Hoo..." Aku mengangguk walaupun aku sebenarnya tidak benar-benar mengerti. "Memangnya dia apa?" Aku lagi-lagi bertanya seolah teman sekamarku itu tidak berada di dekatku.

"Kapten Sepak Bola. Ketua klub."

"Hoo..." Aku kembali mengangguk. Teman sekamarku masih mengawasiku. "Pantes aja dia punya hak untuk mengatur siapa saja yang masuk ke tim utama." Aku kembali mengangguk dan kali ini tersenyum menatapnya. "Kamu pinter manfaatin orang yah."

Dia langsung meletakkan sumpitnya. "Maumu apa sih, Kagamine-san?"

"Memujimu." Aku tersenyum.

"Sarkastik?"

"Nggak." Aku menggeleng. "Aku barusan benar-benar memujimu."

"Mikuo-kun..." Kali ini Kaito-senpai memegang bahu teman sekamarku. "Kurasa Len-kun nggak punya niat buruk."

"Oh ya? Kau berpikir begitu, Kaito?" Dia tersenyum lebar. "Tahu nggak, aku bersyukur aku sudah mengeluarkanmu dari awal karena kamu itu memang menganggu."

Mengeluarkan? Apa yang dia bicarakan?

"Orang bodoh yang nggak punya kemampuan dan bermulut besar," dia mengangguk-anggukkan kepalanya, "aku heran Crypton mau menerimamu."

Aku masih menatapnya tak mengerti. "Apa yang kau bicarakan?"

Seharusnya, aku menutup mulutku. Seharusnya aku memang melakukan itu sejak awal.

Gebrakan keras di meja membuat aktivitas barbar di ruang makan terhenti seketika. Semua orang menatap meja kami dengan tatapan penasaran. Aku sendiri tidak bisa mempedulikan semua tatapan penasaran itu karena aku justru hampir terdesak dengan satu tatapan ingin membunuh tepat di hadapanku.

Aku mengerjap saat melihat piring makan malam teman sekamarku pecah karena getaran pada meja barusan. Dia marah?

"Kagamine-san, aku nggak akan pernah membiarkanmu menginjakkan kaki di lapangan sepak bola! Aku nggak akan pernah membiarkanmu bermain lagi!"

Tunggu dulu—memangnya apa pentingnya main sepak bola di saat musim panas seperti ini? Siapa coba yang mau main bola di lapangan di bawah terik matahari? No thanks! Lebih baik aku duduk di bawah teduhan pohon sambil makan es serut! Bahkan aku seharusnya berada di kamarku sekarang ini... seandainya saja adik kembarku tidak—

Eh... Len... aku sedang menjadi Len saat ini ya?

Len masuk ke Crypton karena Ayah kan ya? Bukankah Len masuk ke klub sepak bola ya?

Mendadak, ucapan Oliver tadi siang terngiang kembali dalam pikiranku. "Semenjak kamu dikeluarkan dari tim sepak bola, kamu benci olahraga itu dan bersumpah untuk tidak menggelutinya lagi. Dan kamu pindah ke kelas atletik bareng Piko kan? Ingat?"

Len dikeluarkan dari tim sepak bola?

Kenapa?

Aku menatap seniorku yang berjalan menjauh setelah kehilangan nafsu makannya. Aku mengerjap ketika memahami semuanya.

"Kamu yang ngeluarin Len dari klub sepak bola?!"

Aku berteriak dengan sekuat tenaga hingga semua orang kembali menatap meja kami.

Kaito-senpai melirikku sekilas. "Len-kun?"

Aku berdiri dari tempatku dan berjalan menuju tempat pemuda berambut hijau kebiruan itu. Dia menatapku begitu tajam dan kubalas dengan sama tajamnya. "Kenapa kamu ngelakuin hal itu?!"

"Apa?"

Itu responnya? Satu kata?

"Demi Tuhan, kamu nggak tahu seberapa kerasnya Len harus latihan! Kenapa kamu nggak menghargai usahanya? Kenapa kamu dengan mudahnya mengeluarkan Len? Setidaknya, hargai usahanya!"

Hatsune Mikuo-senpai hanya menatapku—oh sungguh, aku benar-benar serius ingin mencekiknya!

"Dengar, aku nggak peduli apa jabatanmu, tapi Len—"

"Bukankah namamu Kagamine Len?"

Mendadak mulutku terasa kering.

"Kenapa kamu bicara seolah 'Len' adalah orang lain?"

Aku merasakan jantungku berdebar kencang.

Tuhan, sungguh, kenapa mulutku sulit sekali untuk dikontrol sih?!

.

.

tobecontinued


author note.

kok jadi pendek lagi yah? haha. maap yah, saya cuma merasa bakalan lebih mendebarkan kalau dipotong disini :P

update akan bergantung pada hits cerita yah! )

bolehlah kalau mau berpendapat di kolom review hehe ;)