Note: Rated ffn ini naik menjadi M untuk bahasa kasar. Di chapter 2 banyak character baru. Terimakasih untuk yang telah membaca chapter 1 dan terimaksih ddafmipa97, sitilafifah989, xiuka07, hannysha, silvercerry dan cekbioauroran yang sudah meriview chapter 1 HF.
HONOR FOR FAMILY
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by Yuuki Kiraina
Pair: Itachi dan Sakura
Warning: AU, OOC, Typo
Chapter 2 Pertunangan
Beberapa bulan selanjutnya berlalu terlalu cepat, sebanyak apapun aku meminta agar waktu bisa berjalan lambat, untuk memberiku sedikit waktu untuk bersiap-siap. Hanya tinggal dua hari lagi menuju pesta pertunanganku. Ibuku sibuk memerintah para pelayan, memastikan rumah dalam keadaan baik dan tanpa cela dan tak ada satupun yang berjalan salah. Ini bahkan bukan sebuah perayaan besar. Hanya keluarga kami. Hanya keluarga dari Itachi dan beberapa kepala keluarga dari orang orang yang merepresentativekan keluarga dari Akatsuki dan Konoha yang di undang. Kakashi berkata ini semua untuk alasan keamanan. Perjanjian ini masih terlalu segar untuk di bahayakan dengan mengundang ribuan orang.
Aku berharap mereka membatalkan kesepakatan ini bersama. Untuk segala yang aku pedulikan, aku tidak harus bertemu dengan Itachi sampai hari menjelang pernikahan kami. Naruto melompat -lompat di ranjang ku, dengan cemberut diraut mukanya. Dia masih berusia lima tahun, dan mempunyai energi yang terlalu berlebihan. "Aku ingin main".
"Ibu tak ingin kamu berlarian di sepanjang rumah. Segalanya butuh sempurna untuk para tamu".
"Tapi mereka bahkan belum ada di sini!", terima kasih Tuhan. Itachi dan para tamu dari Akatsuki baru akan datang besok. Hanya tinggal malam ini sampai aku akhirnya akan bertemu dengan suami masa depanku, seorang pria yang membunuh dengan tangan kosong. Aku memejamkan mataku.
"Apakah kau menangis lagi?" Naruto melompat turun dari ranjang dan menghampiriku, dan menyelipkan tangannya ke tanganku. Rambut pirangnya sudah acak-acakan. Aku mencoba untuk merapihkannya tapi dia menarik kepalanya menjauh.
"Apa maksudmu?" Aku mencoba untuk menyembunyikan air mataku darinya. Seringnya aku menangis ketika aku terlindung dalam kegelapan.
"Hinata berkata kau menangis sepanjang waktu karena Itachi akan mengambilmu dengan paksa jauh dari kami".
Aku membeku. Aku harus memberitahu Hinata untuk berhenti mengatakan hal-hal seperti itu. Itu semua hanya akan membuatku terlibat masalah. "Dia tidak mengambilku". Pembohong. Pembohong.
"Itu sama saja", Ino berkata dari depan pintu, menyipitkan matanya padaku.
"Shhh. Bagaimana kalau ayah sampai mendengar kita ?"
Ino hanya mengangkat bahu, "Dia tau bagaimana aku membencinya karena telah mengambilmu seperti barang".
"Ino",aku memperingatkan., dan mengangguk ke arah Naruto. Dia mendongak ke arahku. "Aku tak ingin kau pergi", dia berbisik.
"Aku tak akan pergi lama, Naruto". Dia terlihat puas dengan jawabanku. Dan kecemasan hilang dari wajahnya dan digantikan dengan ekspresi seperti 'sesuatu' yang tak baik. "Tangkap aku!" Dia berteriak dan menerobos keluar, mendorong Ino ke samping saat dia melewati Ino.
Ino memburu dia. "Ku tendang bokongmu, kau monster cilik".
Aku terburu -buru ke koridor. Hinata menjulurkan kepalanya dari balik pintunya dan kemudian dia juga berlari ke arah adik dan kakaknya. Ibu akan mendapat sakit kepala jika mereka menabrak salah satu tamu keluarga pewaris. Aku menuruni tangga. Naruto masih tetap memimpin di depan. Dia sangat cepat tapi Hinata hampir saja menangkap dia sedangkan Ino dan aku terlalu lambat karena sepatu bertumit tinggi yang ibuku paksakan untuk kami pakai sebagai latihan. Naruto berlari menuju koridor dan berlari jauh di depan menuju sayap barat rumah. Kami akan mendapatkan banyak masalah jika dia tertangkap sedang bermain di sekitar. Naruto seharusnya bertingkah seperti pria. Tapi bagaimana seorang bocah umur lima tahun bertingkah seperti pria?
Kami melewati pintu ayah dan rasa lega merasuki ku, tapi kemudian ada tiga laki-laki sedang berkeliling di sudut bagian ujung koridor. Aku membuka bibiku untuk meneriakkan peringatan tapi itu sudah terlalu terlambat. Naruto hanya sedikit terpeleset tetapi Hinata berlari ke arah pria yang ada di tengah dengan kekuatan penuh. Kebanyakan orang akan kehilangan keseimbangan. Kebanyakan orang tidak setinggi enam setengah kaki dan berotot seperti banteng.
Aku tersentak berhenti saat waktu tampaknya terhenti di sekitarku. Ino tersentak di sampingku, tapi tatapanku membeku ke arah suami masa depanku. Dia menunduk ke bawah, ke arah kepala adikku , memantapkan adikku dengan tangannya yang kuat. Tangan yang dia gunakan untuk menghancurkan tenggorokan seorang pria.
"Hinata" , kataku, suaraku melengking ketakutan. Aku tak pernah memanggil adikku dengan suara melengking kecuali dia dalam kesulitan atau ada sesuatu yang sangat sangat salah. Aku berharap aku bisa menyembunyikan dengan baik ketakutanku. Sekarang semua orang menatapku, termasuk Itachi. Mata hitam sekelam malam dinginnya mengamatiku dari kepala hingga kaki, lalu berlama-lama di rambutku.
Tuhan, dia tinggi. Orang orang di sampingnya hampir setinggi enam kaki tapi tetap saja terlihat seperti kerdil di sampingnya. Tangannya masih di bahu Hinata. "Hinata kemarilah", kataku tegas sambil mengulurkan tangan. Aku ingin dia jauh dari Itachi. Dia terhuyung mundur, kemudian berlari ke arahku, membenamkan wajahnya di bahuku. Itachi menaikkan satu alis hitamnya.
"Itu Itachi Uchiha!", kata Ino membantu, bahkan dia tanpa repot-repot menunjukkan rasa jijik ya. Naruto mengeluarkan suara seperti kucing kecil yang marah dan menyerbu ke arah Itachi, dan memulai pukulan kecilnya di perut dan kaki Itachi. "Tinggalkan Sakura sendiri. Kau tak akan mendapatkan dia!".
Jantungku berhenti saat itu. Orang -orang di samping Itachi mengambil langkah maju. Menampilkan pistol yang terpampang di bawah rompi ya. Dia pasti pengawal Itachi, meskipun aku benar-benar tak mengerti mengapa dia butuh seorang pengawal.
"Jangan Sasori", Kata Itachi singkat, dan pria itu berhenti. Itachi menangkap salah satu tangan adikku dan menghentikan serangannya . Aku ragu bahwa dia bahkan merasakan pukulan itu. Aku mendorong Hinata ke Ino yang langsung membungkusnya dalam perlindungan lengannya , dan aku mendekati Itachi. Rasa takut menguat dari pikiranku, tapi aku harus mendapatkan Naruto dari dia. Mungkin Akatsuki sudah meletakkan permusuhan mereka untuk beristirahat, tapi sebuah aliansi bisa saja hanya sekejap. Itu bukanlah pertama kalinya. Itachi dan pengawalnya tetaplah musuh.
"Inikah sambutan hangat yang kita dapatkan. Ini bentuk keramahan yang terkenal dari Konoha". Kata pria lain yang bersama Itachi, dia memiliki rambut hitam yang sama tapi matanya merah. Dia beberapa inci lebih kecil dari Itachi, dan tidak bidang, tapi nampak jelas bahwa mereka berdua bersaudara.
"Obito", Itachi berbicara dengan suara pelan yang membuatku merinding. Naruto tetap masih saja menggeram dan memberontak layaknya binatang liar, tapi Itachi memegangi sepanjang lengan Naruto.
"Naruto", aku berkata dengan tegas, dan menggenggam bagian atas lengannya. "Cukup. Ini bukan cara memperlakukan tamu dengan benar".
Naruto terdiam., dan memandangku dari atas bahunya. "Dia bukan tamu, dia mau membawa mau pergi, Sakura".
Obito tergelak. "Ini sungguh menghibur. Aku senang kakek meyakinkanku untuk datang".
"Memerintahkanmu" Itachi mengoreksi, tapi dia tidak mengalihkan matanya dariku. Aku tidak bisa balik menatapnya. Pipiku bersemburat merah akibat dari panasnya tatapannya. Ayahku dan pengawalnya memastikan bahwa Ino , Hinata, dan aku tidak berada sering-sering dengan pria. Dan satu satunya yang boleh dekat dengan kami hanyalah keluarga dan juga orang yang sudah tua. Dan Itachi bukanlah dua-duanya, dia bukan keluarga dan juga tidak tua. Dia hanya lima tahun lebih tua dariku, tapi dia sudah tampak seperti lelaki dewasa dan itu membuatku membandingkan diriku dengan seorang gadis cilik.
Itachi melepaskan Naruto dan aku menariknya ke arahku, punggungnya menempel di kakiku, Aku meletakkan tanganku diatas bahu kecilnya. Dia tidak berhenti menyeringai ke arah Itachi. Aku berharap aku mempunyai keberaniannya, tetapi dia hanyalah anak kecil, dan pewaris takhta ayahku nantinya. Dia tak kan dipaksa untuk menuruti siapapun, kecuali si Boss. Dia tidak akan bisa memperlihatkan keberaniannya.
"Aku minta maaf", kataku, walaupun. Kata-kata itu terasa salah. "Adikku tak bermaksud bertindak kurang ajar".
"Itu memang maksudku", Naruto berteriak. Aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku dan dia berontak dari kekangananku tapi aku tak membiarkan dia pergi.
"Jangan minta maaf" , kata Ino tajam, mengabaikan tatapan peringatan yang ku arahkan padanya. "Ini bukan kesalahan kita kalau dia dan pengawalnya mengambil ruang terlalu besar di koridor. Setidaknya, Naruto berkata jujur. Semua orang berpikir kita harus bermanis manis karena dia akan menjadi pewaris"
"Ino!", suaraku bagaikan cambuk. Bibirnya langsung terkatup, menatapku dengan mata melebar. "Bawa Hinata dan Naruto ke kamar mereka. Sekarang".
"Tapi-", dia melirik ke belakangku. Aku sangat senang tidak bisa melihat ekspresi Itachi.
"Sekarang !".
Dia meraih tangan Naruto dan menyeretnya dan membawa Hinata pergi. Takku kira pertemuan pertamaku dengan calon suami masa depanku mungkin bisa jadi lebih buruk lagi. Menguatkan diri , aku menghadapi dia dan anak buahnya. Aku kira Aku akan disambut dengan kemarahan, tapi aku justru mendapati seringai di wajah Itachi sebagai gantinya. Pipimu merona dengan rasa malu, dan sekarang aku sendirian dengan tiga orang pria, saraf berputar di perutku. Ibu akan panik jika mengetahui aku tidak berpakaian dengan pantas untuk pertemuan pertamaku dengan Itachi. Aku menggunakan gaun maxi favoritku dengan lengan yang mencapai siku dan aku diam-diam senang atas perlindungan yang kain ini tawarkan. Aku melipat tanganku di depan tubuhku, tak yakin dengan apa yang harus aku lakukan. "Aku minta maaf atas perlakuan adik-adikku. Mereka -", aku berjuang untuk sebuah kata selain kasar.
"Mereka sangat protektif terhadap dirimu", Kata Itachi dengan simpel. Suaranya bahkan, dalam, tanpa emosi. ". Ini adikku Obito".
Bibir Obito ditarik menjadi seringai lebar. Aku senang dia tidak mencoba untuk meraih tanganku. Aku tak yakin aku bisa tetap tenang jika salah satu dari mereka bergerak lebih dekat. "Dan ini adalah tangan kananku, Sasori". Sasori memberiku anggukan singkat sebelum, dia kembali pada tugasnya, mengawasi koridor. Apa sebenarnya yang dia tunggu? Kami tak memiliki pembunuh yang bersembunyi dibalik pintu perangkap rahasia.
Aku memfokuskan ke dagu Itachi dan berharap itu sama saja dengan menatap langsung ke matanya. " aku harus menyusul saudaraku",
Itachi memasang ekspresi paham di wajahnya, tapi aku tak peduli bahkan jika dia Tau bagaimana tak nyamannya aku, bagaimana dia membuatku ketakutan. Tanpa menunggu dia memberiku ijin, dia masih belum menjadi tunangan ataupun suamiku, aku berbalik dan berjalan dengan cepat, dan bangga karena aku bisa mengabaikan dorongan untuk berlari.
-000-
Ibuku menarik naik gaun yang ayah Pilihkan untuk acara ini. Untuk pertunjukan kulit, Ino menyebutnya. Tak peduli berapa kalipun ibu menariknya, gaun ini tak akan bertambah panjang. Aku menatap diriku di cermin dengan ragu. Aku tak pernah mengenakan apapun yang seterbuka ini, gaun hitam ini menempel di pantat dan pinggangku, dan berakhir di paha atasku, dan bagian atasnya adalah bustier emas berkilauan dengan tali hitam. "Aku tak bisa mengenakan ini, ibu".
Ibu membalas tatapan ku di cermin. Rambutnya telah di sanggul. Dia mengenakan gaun panjang. Aku berharap diizinkan untuk mengenakan sesuatu yang lebih sederhana. "Kau tampak seperti seorang wanita" bisiknya.
Aku meringis. "Aku terlihat seperti pelacur".
"Pelacur tak mampu memakai gaun seperti ini".
Wanita-wanita ayah memiliki pakaian yang harganya lebih mahal dari harga yang beberapa orang habiskan untuk membeli mobil, ibu menaruh tangannya di pinggangku. "Kau memiliki pinggang tawon dan gaun ini membuat kakimu terlihat sangat panjang. Aku yakin Itachi akan sangat menyukai itu".
Aku menatap belahan dadaku. Aku memiliki payudara kecil bahkan efek push-up dari bustier tidak bisa mengubah itu. Aku baru lima belas tahun dan berdandan seperti seorang wanita.
"Kemarilah", ibu menyerahkan heels setinggi lima inci. Mungkin aku akan setinggi dagu Itachi ketika aku memakainya. Aku mengenakan heels itu. Ibu memaksakan senyum palsu di wajahnya, dan merapikan rambut pandangku. "Angkat kepalamu tinggi-tinggi. Hasirama Senju menyebut kau sebagai wanita paling cantik dari Konoha. Tunjukkan pada Itachi dan rombongannya bahwa kau lebih cantik dari wanita di daerah Akatsuki juga. Tentunya, Itachi mengenal keseluruhan mereka". Cara ibuku mengatakan itu aku yakin dia membaca artikel tentang penaklukkan Itachi juga, atau mungkin ayah telah mengatakan sesuatu juga padanya.
"Ibu", kataku ragu-ragu, tapi dia melangkah kembali. "Sekarang pergilah. Aku akan menyusulmu, tapi ini adalah harimu. Kau harus memasuki ruangan sendirian. Orang-orang akan menunggu. Ayahmu akan hadir untuk Itachi dan kemudian kita semua akan datang bersama sama di ruang makan untuk makan malam". Dia sudah mengatakan padaku puluhan kali.
Untuk sesaat, aku ingin meraih tangannya, dan memohon padanya untuk menemaniku, alih -alih aku berbalik dan melangkah ke ruangan. Aku senang ibuku sudah memaksaku untuk mengenakan heels selama beberapa minggu terakhir. Ketika aku sampai di depan pintu Lorong fireplace di lantai pertama di sayap barat, jantungku berdetak di tenggorokanku. Aku berharap Ino ada di sampingku, tapi tampaknya ibuku sudah memperingatkan dia untuk tidak bertingkah sekarang. Aku harus melewati ini sendirian, tak seorangpun boleh mencuri pertunjukan ini dari calon pengantin.
Aku menatap kayu hitam dari pintu. Dan berharap untuk kabur. Suara tawa pria terdengar di balik pintu itu, ayahku dan Boss yang tidak lain adalah kakekku. Ruangan dipenuhi oleh pria paling berpengaruh dan berbahaya di negeri ini dan aku harus masuk ke dalam. Seorang domba sendirian dengan para serigala. Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus berhenti berpikiran seperti itu. Aku sudah membuat mereka menunggu lama.
Aku menggenggam Handel pintu dan mendorongnya. Aku masuk, belum melihat ke seorangpun di dekat pintu. Mengumpulkan keberanianmu, aku menghadapi ruangan. Percakapan tiba-tiba senyap. Apakah seharusnya aku mengatakan sesuatu? Aku merinding dan aku berharap merek tak bisa melihat itu. Ayahku tampak seperti kucing yang berlapis krim. Mataku mencari Itachi, tatapan menusuk diarahkan kemana pun aku bergerak. Aku menahan napas. Dia meletakkan gelas dengan cairan berwarna gelap dengan suara berdentang yang terdengar, jika tak ada yang mengatakan sesuatu segera aku akan melarikan diri dari ruangan ini. Aku cepat-cepat mengamati wajah orang-orang yang berkumpul. Dari Akatsuki ada Obito, Itachi, Madara dan dua pengawal. Sasori dan seorang pemuda yang takku kenal. Dari Konoha ada ayahku, Hasirama, dan Kakashi dan sepupu ku Konohamaru yang ku benci dengan semangat ribuan matahari. Dan disamping, berdiri si Malang Naruto yang mengenakan setelan hitam seperti orang lain. Aku bisa melihat bahwa dia ingin berlari menuju padaku untuk mencari hiburan, tapi dia tau apa yang akan ayah katakan mengenai itu.
Ayah akhirnya bergerak ke arahku. Meletakkan tangannya di punggungku dan membawaku ke arah para lelaki yang berkumpul seperti domba dalam pembantaian. Satu satunya orang yang tampak kebosanan adalah Konohamaru , dia hanya melihat ke scotchnya. Keluarga kami telah menghadiri pemakaman istrinya dua bulan yang lalu. Seorang duda berusia dua puluhan. Aku akan merasa kasihan padanya jika saja dia tidak membuatku takut secara tidak masuk akal, hampir sebanyak takutku pada Itachi.
Tentu saja ayahku mengalahkanku lurus menuju suami masa depanku dengan ekspresi menantang seolah olah ia berharap Itachi jatuh berlutut penuh kekaguman. Melihat ekspresinya, Itachi tampaknya seperti sedang melihat sebuah batu. Mata hitam keras dan dingin karena matanya fokus kepada ayahku.
"Ini adalah putriku Sakura".
Rupanya Itachi tidak menceritakan tentang pertemuan memalukan kami. Hasirama berbicara. "Aku tidak bicara muluk muluk bukan?".
Aku berharap tanah akan membuka dan menelanku utuh-utuh. Aku tak pernah dibicarakan dengan begitu banyak...perhatian. Cara Konohamaru menatapku membuatku merinding. Dia sudah mulai begitu akhir akhir ini terutam setelah istrinya meninggal dua bulan yang lalu. Sejak saat itu bahkan dia lebih menjengkelkan daripada sebelumnya.
"Anda benar", kata Itachi singkat.
Ayah tampak jelas terdiam. Tanpa ada yang memperhatikan Naruto telat menyelinap di belakangku dan menggenggam tanganku . Nah, Itachi telah melihat dan menatap adikku, yang membawa tatapannya penuh ke arah paha telanjangku. Aku bergeser gugup dan Itachi mengalihkan pandangan.
"Mungkin pengantin dan suami masa depan ingin sendirian selama beberapa menit?" Madara Uchiha menyarankan. Mataku tersentak ke arahnya dan aku tak berhasil menyembunyikan keterkejutanku cukup cepat. Itachi telah melihat tapi tak peduli.
Ayahku tersenyum dan berbalik. Aku tak bisa percaya.
"Haruskah aku tinggal ?"tanya Kakashi dan aku memberinya senyum cepat , yang menghilang ketika ayahku menggeleng. "Beri mereka beberapa menit saja," katanya. Madara sebenarnya mengedipkan mata pada Itachi. Mereka semua berbaris keluar sampai hanya tinggal Itachi, Naruto dan aku.
"Naruto," terdengar suara tajam ayahku. "Keluar dari sana sekarang ".
Naruto enggan melepaskan tanganku dan pergi, tapi sebelum mengirimkan pada Itachi tatapan mematikan bocah lima tahun. Bibir Itachi terangkat. Kemudian pintu di tutup dan kami sendirian. Apa arti kedipan mata ayah pada Itachi?
Aku melirik Itachi. Aku memang benar, dengan heelsku, bagian atas kepalaku mencapai dagunya. Dia melihat keluar jendela. Dia tak menatapku sedikitpun. Pakaian ku yang seperti pelacur membuat Itachi tak tertarik sama sekali padaku. Mengapa dia harus tertarik? Aku telah melihat wanita yang dia kencani.
"Apakah kau yang memilih gaun itu?"
Aku terlontar, terkejut karena dia telah berbicara. Suaranya yang dalam dan tenang. Apakah dia selalu seperti itu? "Tidak", aku mengakui. " ayahku yang melakukan".
Rahang Itachi berkedut. Aku tak bisa membaca dia dan itu membuatku semakin gugup. Dia merogoh bagian dalam jaketnya dan untuk sesaat yang konyol aku benar benar berpikir dia menarik pistol. Sebaliknya dia memegang kotak hitam di tangannya . Dia berbalik ke arahku dan menatap tajam ke kemeja hitamnya. Kemeja hitam, dasi hitam, jaket hitam. Hitam seperti jiwanya.
Ini adalah apa yang jutaan wanita impikan, tapi aku merasa dingin ketika Itachi membuka kotak itu. Di dalam itu ada cincin emas putih dengan berlian besar terjepit di antara dua berlian yang sedikit lebih kecil. Aku tak bergerak.
Itachi mengulurkan tangannya ketika kecanggungan di antara kami memuncak. Aku memerah dan mengulurkan tanganku. Aku tersentak ketika kulitnya menggesek kulitku. Dia menyelipkan cincin pertunangan di jari ku, kemudian membebaskan tanganku.
"Terima kasih". Aku merasa berkewajiban untuk mengucapkan kata kata dan bahkan melihat ke wajahnya yang tanpa ekspresi, walaupun tak begitu dengan matanya. Matanya tampak marah. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Dia mengulurkan tangannya dan aku menakutkan tanganku dengannya dan dia membawaku keluar dari ruang tunggu dan menuju ke ruang makan. Kami tak berbicara. Mungkin Itachi cukup kecewa denganku dan membatalkan kesepakatan?
Ketika kami melangkah ke ruang makan, para wanita dari keluargaku telah bergabung dengan para lelaki. Para Uchiha tidak membawa wanita. Mungkin dia tak percaya dengan ayahku dan Hasirama merasa cukup berisiko untuk membawa para wanita ke sini.
Aku tak bisa menyalahkan mereka. Aku pun tak akan mempercayai ayahku ataupun Boss. Itachi melepaskan rangkulannya dan aku dengan cepat langsung bergabung dengan ibu serta adik perempuanku, yang berpura-pura mengagumi cincinku. Ino melontarkan pandangan ke arahku. Aku tak tau ancaman apa yang telah ibuku berikan padanya hingga membuatnya terdiam. Aku berani bertaruh bahwa Ino memiliki sesuatu yang ingin dia katakan di ujung lidahnya. Aku menggelengkan kepalaku ke arahnya dan dia memutar matanya. Makan malam menjadi tak jelas. Para lelaki membicarakan bisnis ketika para perempuan diingatkan untuk diam. Mataku terus menerus menatap ke cincin di jariku. Cincin ini terasa terlalu berat, dan secara keseluruhan serasa terlalu berlebihan. Itachi mengikatku dibawah kekuasaannya.
-000-
Setelah makan malam para pria berpindah ke lobi untuk minum dan merokok dan mendiskusikan apapun yang butuh untuk di diskusikan. Aku kembali ke kamarku, tapi tetap tak bisa untuk tidur. Sebenarnya aku menggunakan bathrobe di atas piyama ku, aku diam diam keluar dari kamarku dan merayap ke lantai bawah. Di penuhi kegilaan, aku bergerak menuju bagian yang mengarah ke pintu rahasia di balik dinding ruang tunggu. Kakekku berpikir sangat perlu memiliki ruangan rahasia untuk meloloskan diri di kantor dan di ruang perapian karena Disitulah orang orang dari keluarga biasanya berkumpul. Aku bertanya tanya apa yang para pria pikir akan terjadi kepada para wanita setelah para pria semua melarikan diri dari pintu rahasia?
Aku menemukan Ino dengan mata yang sedang menempel di lubang intip pintu rahasia. Tentu saja, dia sudah ada disana. Dia berbalik, matanya melebar, akan tetapi kembali santai ketika dia melihatku.
"Apa yang terjadi disana?" Kataku dengan bisikan yang pelan, khawatir para pria di ruang tunggu akan mendengar kami.
Ino bergeser ke samping sehingga aku bisa mengintip dari lubang intip yang kedua. "Hampir semua orang sudah pergi, ayah dan Hasirama memiliki hal hal yang perlu di diskusikan dengan Madara Uchiha. Sekarang hanya tinggal Itachi dan rombongannya.
Aku menyipitkan mata melalui lubang, yang memberiku pemandangan. Yang sempurna dari kursi yang berkerumun di dekat ruang perapian. Kakinya santai, dengan Scotch di tangannya. Dan adiknya Obito berada di lengan kursi di sampingnya, kakinya membuka lebar dengan senyuman serigala di wajahnya. Sasori dan Bodyguard kedua yang di panggil Deidara terlihat seumuran dengan Obito , sekitar delapan belas . Masih sangat muda di komunitas sosial pada umumnya, tapi tidak di dunia kami.
"Itu bisa saja lebih buruk", kata Obito, menyeringai. Dia mungkin tidak terlihat semematikan Itachi, tapi sesuatu di matanya mengatakan bahwa dia hanya menyembunyikan itu dengan lebih baik. "Dia bisa saja buruk rupa. Tapi sialan, tunangan kecilmu adalah seorang bidadari. Gaun itu. Tubuh itu. Rambut serta wajahnya". Obito bersiul. Dia tampaknya sedang memprovokasi kakaknya dengan sengaja.
"Dia masih anak-anak". Kata Itachi acuh. Kemarahan naik dalam diriku, tapi aku harus senang dia tidak melihatku seperti seorang pria memandang wanita.
"Dia tak terlihat seperti anak-anak menurutku". Kata Obito kemudian mendesakkan lidahnya. Dia menyikut pria yang lebih tua, Sasori. "Bagaimana menurutku? Apakah Itachi buta?"
Sasori mengangkat bahu dengan pandangan hati-hati ke arah Itachi. "Aku tak melihat dia dari dekat".
"Bagaimana denganmu Deidara? kau punya mata yang masih berfungsi di kepalamu?"
Deidara mendongak, lalu cepat cepat menunduk kembali ke minumannya.
Obito melemparkan kepalanya ke belakang dan tergelak. "Sialan Itachi, kau memberitahu para pria, bahwa kau akan memotong penis mereka jika melihat ke gadis itu? Kau bahkan belum menikah dengan dia"
"Dia milikku". Katanya pelan. Mengirimkan rasa dingin ke bawah punggungku dengan suaranya , belum lagi matanya. Dia menatap Obito, yang menggelengkan kepala. "Untuk tiga tahun kedepan, kau akan jauh darinya, dan dia akan berada disini. Kau tak bisa selalu mengawasi dia atau kau berniat untuk mengancam setiap pria di Konoha. Aku tak bisa memotong semua penis mereka. Mungkin Kakek tahu beberapa kasim yang bisa menjaga dia".
"Aku akan melakukan apa yang memang harus ku lakukan",kata Itachi, memutar minuman di gelasnya. "Sasori, temukan dua orang idiot yang harusnya menjaga Sakura". Cara namaku bergulir di lidahnya membuatku menggigil. Aku bahkan tak tau bahwa aku punya dua penjaga sekarang. Kakashi selalu melindungi ku dan saudaraku.
Sasori segera pergi dan kembali sepuluh menit kemudian dengan Kakashi dan Konohamaru keduanya tampak seperti habis di tendang pantatnya , karena dipanggil oleh seseorang yang berasal dari Akatsuki. Ayah ada di belakang mereka.
"Apa artinya ini?" Tanya ayahku.
"Aku ingin berbicara pada orang-orang yang Anda pilih untuk melindungi apa yang menjadi milikku".
Ino gusar di sampingku, tapi aku mencubitnya. Tak ada yang tau kami mendengarkan percakapan ini. Ayah mungkin akan melempar kami jika kami mengungkapkan posisi pintu rahasia.
"Mereka berdua adalah prajurit yang baik, Konohamaru adalah sepupu Sakura dan Kakashi telah berkeraja untukku selama dua dekade".
"Aku ingin memutuskan sendiri apakah aku mempercayai mereka", kata Itachi. Aku menahan napas. Itu sangat dekat dengan penghinaan saat dia bisa melakukan itu tanpa benar-benar menghina ayahku secara terbuka. Bibir ayahku menipis, tapi dia ,mengangguk singkat. Itachi melangkah ke Kakashi. "Aku mendengar kau ahli dalam pisau".
"Yang terbaik". Sela ayahku. Otot rahang Itachi berkedut.
"Tak sebagus adikmu, seperti yang telah di rumor kan". Kata Kakashi dengan anggukan ke arah Obito yang melintas kan senyuman ke arah Kakashi. "Tapi aku lebih baik di banding lelaki lain di wilayah kami". Kakashi mengaku pada akhirnya.
"Apa kau sudah menikah?"
Kakashi menganguk. "Selama sepuluh tahun".
"Itu waktu yang lama". Kata Obito. "Sakura pastinya terlihat lebih lezat dibanding istri lamamu". Aku menahan dengus ku.
Tangan Kakashi berkedut satu inci menuju sarung di pinggangnya. Semua orang melihatnya. Ayah menyaksikannya seperti elang tapi tidak mengganggu, Kakashi berdeham. "Aku sudah mengenal Sakura sejak dia lahir. Dia adalah seorang bocah".
"Dia tak akan menjadi bocah lebih lama lagi". Kata Itachi.
"Dia akan selalu ,menjadi bocah di mataku. Dan aku setia pada istriku". Kakashi memelototi Obito. "Jika kau menghina istriku lagi aku akan meminta izin kakekmu untuk menantangmu dalam adu pisau untuk membela kehormatan dan aku akan membunuhmu".
Ini akan berakhir buruk.
Obito memiringkan kepala. "Anda bisa mencoba". Dia memamerkan giginya yang putih. "Tapi kau tak akan berhasil".
Itachi menyilangkan lengannya kemudian memberi anggukan. "Kurasa kau pilihan yang baik, kakashi". Kakashi melangkah mundur, tapi pandangannya tetap ke arah Obito yang mengabaikannya.
Mata Itachi menetap di Konohamaru dan dia mengabaikan kesopanan apapun yang telah mengekang monster dalam dirinya sampai pada titik ini. Dia bergerak begitu dekat dengan Konohamaru sampai sepupuku harus Memiringkan kepalanya untuk menatap balik dia. Konohamaru berusaha menjaga ekspresinya tetap arogan dan percaya diri, tapi dia tampak seperti anjing Chihuahua yang mencoba untuk mengesankan harimau bengal. Itachi dan dia tentu saja adalah dua spesies yang berbeda.
"Dia keluarga. Apakah kau benar benar akan menuduhnya memiliki ketertarikan dengan putriku?"
"Aku melihat bagaimana kau melihat Sakura", kata Itachi, tak pernah mengalihkan matanya. Dari Konohamaru.
"Seperti buah Persik berair yang ingin kau petik". Obito melemparkan omongan, sepenuhnya sangat menikmati situasi ini.
Mata Konohamaru melesat ke arah ayahku , mencari bantuan.
"Jangan menyangkalnya, aku tau ketika aku melihatnya. Dan kau menginginkan Sakura". Itachi geram dan Konohamaru tak menyangkalnya. " jika aku sampai tau kau menatapnya seperti itu lagi. Jika aku sampai tau , kau berada di sebuah ruangan yang sama dengan dia. Dan jika aku sampai tau kau menyentuhnya sebesar telapak tangannya aku akan membunuhmu".
Konohamaru memerah. "Kau bukan anggota Konohagakure. Tak akan ada yang memberitahumu bahkan jika aku memperkosanya. Aku bisa merusak dia untukmu". Oh Tuhan, Konohamaru tutup mulutmu. Tak bisa kah dia melihat aura membunuh di mata Itachi?. "Mungkin aku bahkan akan memfilmkannya untukmu".
Sebelum aku bahkan bisa berkedip. Itachi telah melemparkan Konohamaru ke tanah. Dan menekan lutut ke belakang , salah satu lengan sepupuku memutar ke belakang. Konohamaru berjuang dan mengutuk, tapi Itachi menahannya dengan cepat. Salah satu tangannya mencengkram pergelangan Konohamaru saat dia menarik ke bawah rompi ya dengan satu tangan lainnya, menarik keluar pisau.
Kakiku menjadi lemah. "Pergilah sekarang". Kataku pada Ino berbisik. Dia tidak mendengarkan.
Berpaling Sakura.
Tapi aku tak bisa. Ayah pasti akan menghentikan Itachi. Tapi ekspresi ayah merasa jijik saat dia menatap Konohamaru. Mata Itachi mencari tatapan ayah, Konohamaru bukan prajuritnya. Ini bahkan bukan wilayahnya. Kehormatan menuntut dia mendapat izin dari pemilik wilayah dan ketika ayah memberikan anggukan, dia membawa pisau itu dan memotong jari manis Konohamaru. Jeritan menggema di telingaku ketika pandanganku menjadi gelap. Aku menggigit kepalan tanganku untuk meredam suaraku. Ino tidak. Dia mengeluarkan suara memekik yang bisa membangunkan orang mati sebelum dia muntah. Setidaknya dia berbalik dan menjauh dariku. Muntahannya tumpah menuruni tangga.
Di balik pintu, keheningan memerintah. Mereka telah mendengar kami. Aku mencengkram lengan Ino saat pintu rahasia terbuka, menampakkan wajah marah ayahku. Di belakangnya berdiri Sasori dan Deidara, dengan senjata mereka yang telah di tarik. Ketika mereka melihat Ino dan aku, mereka kembali menyarungkan senjata mereka ke sarung di bawah jaket mereka.
Ino tidak menangis. Dia jarang menangis,tapi wajahnya pucat dan dia bersandar di tubuhku. Jika aku tidak harus menahan tubuhnya, kaki ku sendiri pasti sudah lemas. Tapi aku harus Kuat untuknya.
"Ino", kata ayahku, cemberut ke arah Ino. "Seharusnya aku tau pastilah kau yang membuat masalah lagi". Dia direnggut menjauh dariku dan menuju ruang tunggu, ayahku mengangkat tangannya dan menampar keras wajah Ino.
Aku melangkah ke arah ayahku dan melindungi Ino dan ayahku mengangkat tanganku lagi. Aku menguatkan diri untuk menerima tamparan, tapi Itachi menangkap pergelangan tangan ayahku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih memegang pisau yang tadi dia gunakan untuk memotong jari Konohamaru. Pisau dan tangan Itachi berlumur darah. Mataku melebar. Ayah adalah tuan rumah. Tuan dari kami. Intervensi Itachi adalah penghinaan terhadap kehormatan ayahku.
Kakashi menarik pisaunya dan ayahku meletakkan tangannya di pisauya. Obito, Sasori dan Deidara telah menarik senjata mereka sendiri. Konohamaru meringkuk di lantai, memegangi tangannya, rintihannya adalah satu satunya suara di ruangan ini.
"Aku tak bermaksud tidak hormat ". Kata Itachi tenang, seolah olah perang antara Konoha danAkatsuki diambang pecah. "Tapi Sakura bukan lagi tanggung jawab Anda. Anda kehilangan hak untuk menghukumnya ketika Anda menjadikan dia tunangan ku. Dia adalah milikku sekarang".
Ayah memandang turun ke arah cincin di tanganku, kemudian menegakkan kepalanya. Itachi melepaskan lengan ayahku, dan para pria di ruangan ini kembali santai tapi tetap mengembalikan senjata mereka kembali. "itu benar". Dia melangkah mundur dan mengarahkan tatapan padaku. "Kemudian bisakah kau memberi sedikit pelajaran pada dia?"
Pandangan matanya mengeras ke arahku dan aku berhenti bernapas. "Dia bukan tidak mematuhiku".
Bibir ayahku menipis. "Kau benar. Tapi seperti yang aku lihat Sakura akan tinggal dibawah atasku sampai waktu pernikahan dan sejak itu pula adalah hakku untuk memukulkan tanganku kepada dia, aku harus menemukan cara untuk membuat dia mematuhiku". Dia merunduk ke arah Ino dan memukulnya untuk kedua kalinya. "setiap kali kau melakukan kesalahan Sakura, adikmu akan menerima akibatnya".
Aku menggigit bibir bawahku, airmata menetes dari mataku. Aku tak melihat ke Itachi ataupun ayahku, tidak sampai aku bisa menemukan cara menutupi kebencianku pada mereka.
"Kakashi, bawa Ino dan Sakura ke kamar mereka dan pastikan. Mereka tinggal disana". Kakashi menyarungkan pisaunya, dan menunjuk ke arah kami untuk mengikuti dia. Aku melangkah melewati ayahku, menyeret Ino denganku dengan kepala tertunduk. Dia menegang saat kami melangkah diatas darah yang menggenang di lantai dengan jari yang terputus di atasnya. Mataku melesat ke Konohamaru yang mencengkram lukanya yang masih pendarahan. Tangannya, kemeja, celananya yang berlumuran darah. Ino tampak seperti dia akan muntah lagi.
"Jangan" kataku "lihat aku".
Dia menarik matanya menjauh dari darah dan bertemu tatapanku. Ada air mata di matanya dan bibirnya sedikit Sobek dengan darah yang menetes di dagu dan baju tidurnya. Tanganku di bibirnya menegang. Aku disini untukmu . Mata kami saling terkunci saat Kakashi membawa kami keluar ruangan.
"Perempuan", kata ayahku dengan nada mengejek. "Mereka bahkan tak tahan melihat sedikit darah " aku bahkan bisa merasakan mata Itachi tampak kebosanan di belakangku sebelum pintu tertutup. Ino mengusap bibirnya yang berdarah saat kami bergegas menyusul Kakashi ke koridor dan menaiki tangga. "Aku benci dia" gumamnya. "Aku benci mereka semua".
"Shh", aku tak ingin berbicara seperti itu di depan Kakashi. Dia peduli pada kami, tapi dia adalah prajurit ayahku yang sangat setia.
Dia menghentikanku ketika aku ingin mengikuti Ino ke kamarnya. Aku tak ingin dia sendirian malam ini. Dan akupun tak ingin sendirian. "Kau dengar apa yang di katakan ayahmu"
Aku memelototi Kakashi." Aku perlu membantu mengobati bibir Ino"
Kakashi menggeleng. "Kalian berdua bersama sama dalam satu ruangan akan selalu jadi pertanda masalah. Apakah kau pikir bijaksana untuk membuat ayahmu jengkel malam ini? " Kakashi menutup pintu Ino dan mendorongku ke kamarku dengan lembut.
Aku masuk, dan berbalik ke arahnya. "Ruangan penuh dengan pria dewasa menonton seorang pria memukul gadis lemah, itulah keberanian terkenal seorang Anggota mafia"
"Calon suamimu menghentikan ayahmu"
"Dia menghentikan ayahku memukulku, bukan Ino".
Kakashi tersenyum padaku seakan-akan aku adalah seorang anak bodoh. "Itachi mungkin menguasai sebagian besar wilayah, namun ini bukan wilayah yang dikuasainya".
"Kau mengagumi Itachi" kataku tak percaya. "Kau menyaksikan dia memotong jari Konohamaru dan kau mengaguminya".
"Sepupumu beruntung Itachi tidak memotong sesuatu yang lain. Itachi melakukan apa yang setiap orang lakukan".
Mungkin setiap orang di dunia kami.
Kakashi menepuk pelan kepalaku seperti aku anak kucing yang menggemaskan. "Pergi tidur".
"Apakah kau akan menjaga pintu sepanjang malam untuk memastikan aku tak menyelinap keluar lagi?" kataku menantang.
"Lebih baik aku melakukan itu. Sekarang Itachi sudah menyematkan cincin di jarimu, dia akan memastikan kau selalu di jaga".
Aku membanting pintu hingga tertutup. Di jaga. Bahkan dari jauh Itachi akan mengendalikan hidupku. Ku pikir hidupku akan seperti dulu hingga pernikahan, tapi itu tak akan bisa ketika semua orang tau apa arti cincin di jariku? Jari manis Konohamaru adalah sinyal, peringatan. Itachi telah membuat klaimnya padaku dan akan menegakkannya dengan darah dingin.
Aku tak mematikan lampu malam itu. Khawatir kegelapan akan membawa kembali gambaran darah dan anggota badan yang di potong. Aku takut ingatan itu akan datang kembali.
Bersambung….
Note: Please review untuk memberi saran dam masukan atau mungkin sekedar menyemangati yuuki. Sebenarnya yuuki sangat suka jika ffn yuuki banyak riview karena berasa ffn yuuki dibaca dan yuuki sangat menghargai setiap riview pembaca apalagi yang bersifat membangun. Semoga para pembaca menyukai ffn ini. Terimakasih
