Summary :
Bagaimana jika apa yang dikatakan Kawaki benar? Boruto tak ingin percaya kalau sang ayah dan guru telah tiada. Ia yakin kalau -mantan- temannya itu hanya menggertak padanya. Namun, benarkah demikian?
Sebelumnya :
Naruto memandang haru gerbang di depannya itu. Gerbang tersebut mengingatkannya akan berbagai hal yang telah terjadi sejak dirinya masih genin.
Tidak jauh berbeda dengan Naruto, Sasuke juga sontak mengingat kembali ssgala yang pernah terjadi di tempat itu. Mulai dari misi pertama mereka ddngan Tazuna hingga saat kepergiannya meninggalkan desa.
Melihat sorot seperti itu di mata kedua sosok tersebut, Minato segera berucap.
"Ayo kita melapor pada Hokage terlebih dahulu," ajak Minato.
"Yosh!" seru Naruto yang kembali bersemangat.
Mereka pun mulai melewati pintu gerbang tersebut dan memasuki desa Konoha.
.--~[•••••]~--.
Tekad Api
Story by elemenkayu19
Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto
Rating : T
Don't Like, Don't Read
Enjoy,
Chapter 3
Tak ingin keberadaan Naruto dan Sasuke dicurigai, mereka segera ber-shunshin ke kantor Hokage.
"Tok, tok,"
"Masuk," terdengar suara dari balik ruangan yang sangat dikenali kedua sosok tersebut.
"Ceklek"
Minato yang pertama masuk setelah membuka pintu tersebut.
"Hokage-sama," sapa sang Namikaze sopan.
"Ah~ Kau sudah kembali, Minato? Bagaimana laporannya?" tamya Sandaime Hokage; Sarutobi Hiruzen.
"Misi sukses, Sandaime-sama. Namun kami bertemu beberapa orang yang cukup menarik di perjalanan," jawab Minato ambigu.
"Apa maksudmu? Kau membawanya ke Konoha?" lanjut Hiruzen.
"Ya," balas Minato singkat. Setelah itu, tampaklah kedua sosok yang sedari tadi menunggu di luar bersama Kakashi, Shibi dan Choza.
"Halo Sandaime Jii-san," sapa akrab sosok yang tak lain adalah Naruto seolah mereka adalah kenalan lama.
"Halo, siapa namamu?" tanya sang Sandaime mengabaikan panggilan -yang tergolong tak sopan bagi seorang Hokage- dari Naruto barusan.
"Saya Uzumaki Naruto, dan ia adalah Uchiha Sasuke." Naruto memperkenalkan diri mereka dengan penuh wibawa.
"A-apa? Bisa kau ulangi?" ucap sang Hokage tak percaya.
Setelah Naruto mengulangnya, Hiruzen kembali bertanya.
"Dari mana asal kalian? Kami tak memiliki data penduduk tentang kalian," lanjut Sandaime.
Melihat sang rival yang tampak tak akan mengucap sepatah kata pun, Naruto menghela nafasnya.
"Baiklah, sebenarnya …"
Beberapa menit setelahnya mereka habiskan untuk mendengar penjelasan lengkap Naruto.
•••
"Begitu ya?" gumam Sandaime masih tak percaya.
Naruto hanya menganggukkan kepalanya memberi konfirmasi.
"Lalu apa rencana kalian?" tanyanya lagi.
"Izinkan kami menetap di sini. Kami akan mencari cara untuk kembali," ujar Sasuke yang akhirnya mau membuka mulut.
"Bagaimana kalian menyewa penginapan? Apa mata uang Konoha tak berubah di masa depan?" tanya Minato kemudian.
"Ehh?!! Aku lupaa," teriak Naruto yang baru teringat akan hal itu.
"Tch, baka!" umpat Sasuke pada rivalnya itu.
"Hehe.."
"Sandaime-sama, apa kami boleh meminjam uangmu?" pinta sang Uzumaki sembari menggaruk pelipisnya yang sama sekali tak gatal itu.
Sandaime tampak menghela nafasnya.
"Kau bisa tinggal di tempatku, Naruto." Minato memberi saran.
"Dan Sasuke. Fugaku sepertinya tak akan keberatan kalau ada seorang tambahan menghuni rumahnya," lanjutnya lagi.
"Bolehkah, tou-chan?!" tanya Naruto tak percaya. Sejak dulu ia ingin merasakan bagaimana tinggal dengan orang tuanya -hanya sang ayah sekalipun-.
"Tentu saja. Tapi ada syaratnya," balas Minato menggantungkan ucapannya.
Naruto menyipitkan matanya; bingung.
"Kau harus memanggilku 'Minato-san'. Lagipula usiamu kini di atasku," lanjut Minato.
"Ah~ Oke!" seru Naruto kemudian sembari mengacungkan jempol kanannya.
"Sandaime-sama," ucap Kakashi yang memang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Ada apa, Kakashi?"
"Apa tak masalah, kalau kita memiliki memori tentang mereka?" tanya sang Hatake saat menunjuk Naruto dan Sasuke.
"Itu pilihan kalian," balas Sasuke kemudian.
"Apa maksudmu, Sasuke-san? Bukankah nanti akan mengganggu alur waktu?" tanya Minato tak mengerti.
"Hidup bukanlah sebuah takdir. Jika kalian pada akhirnya akan memilih untuk melupakan kehadiran kami, mungkin alur waktu akan berjalan seperti di era kami. Jika sebaliknya, akan muncul dimensi paralel dengan alur waktu yang berbeda." Ucap Sasuke panjang lebar.
"Jadi mereka bisa memilih?" tanya Naruto ragu.
Sasuke hanya menganggukkan kepalanya.
'Jika seperti itu, mungkin diriku di masa ini bisa hidup seperti anak-anak normal pada umumnya,' batin Naruto penuh harapan.
"Jadi, bagaimana?" lanjut sang Uchiha.
Sang Hokage tampak berpikir sejenak.
"Apakah banyak kejadian buruk akan terjadi?" tanya Sandaime.
"Yah. Cukup banyak masalah yang telah -atau mungkin akan- terjadi," jawab Naruto.
"Baiklah, tolong beri tahu kami." Sandaime akhirnya memutuskan untuk tidak akan menghapus memori mereka tentang kedatangan Naruto dan Sasuke.
"Yosh! Ini akan memakan waktu cukup lama," ujar sang Uzumaki kemudian.
•••
Beberapa menit setelahnya, Naruto akhirnya selesai menceritakan semua kejadian buruk yang akan terjadi. Sebut saja seperti tragedi lepasnya Kyuubi dan pembantaian klan Uchiha.
"A-apa ada lagi?" gumam Minato yang masih mencerna semua informasi yang baru didengarnya itu.
"Apa yang tou- Minato-san tahu tentang Uchiha Obito?" balas Naruto dengan sebuah pertanyaan.
"Obito? Dia salah satu muridku bersama Kakashi dan Rin," jawab Minato.
"Apa akan terjadi sesuatu dengannya?" lanjutnya tak mengerti.
"Hmm.. Kuberi tahu tidak ya?" ucap Naruto dengan seringai jahil.
"Huh?"
"Yang pasti, semuanya terhubung. Kakashi, baik-baiklah dengan teman Uchihamu itu." Sasuke menimpali dengan penjelasan yang juga menggantung.
"Apa maksudmu?" tanya Sandaime yang ikut tak mengerti.
"Kuberi petunjuk. Misi di jembatan Kanabi. Kalian akan segera mengetahuinya," ucap Naruto menutup penjelasan ambigunya.
"Apa boleh buat," ujar Minato kemudian.
"Baikah. Hari sudah menjelang petang. Kalian sudah boleh pergi," lanjut sang Sandaime mengakhiri pembicaraan mereka hari itu.
Kakashi, Choza dan Shibi segera kembali ke kediaman mereka masing-masing, Sedangkan Minato dan Naruto memutuskan untuk mengantar Sasuke menemui Fugaku terlebih dahulu.
•••
Tak terasa lama kemudian, mereka akhirnya tiba di depan kompleks kediaman Uchiha.
Sasuke sontak tampak tak yakin ingin kembali memasuki tempat tersebut. Meski telah lama berlalu, ia masih saja tak dapat melupakan tragedi yang terjadi di dalamnya.
Mengetahui apa yang sedang dipikirkan sang rival, Naruto segera menepuk sebelah bahu Sasuke; menenangkannya.
"Tak apa," ucap sang Uzumaki.
"Hn," balas Sasuke singkat.
Mereka pun memasuki kompleks tersebut dan sampai di depan rumah milik Fugaku.
"Tok, tok, tok." Minato mengetuk pintu di depannya beberapa kali hingga terdengar jawaban dari dalam.
"Sebentar!" seru sosok tersebut ssmbari membukakan pintu.
"Sraat!" Terdengar bunyi pintu di depan mereka yang digeser terbuka oleh sang penghuni.
"Minato?" ucap sosok yang ternyata adalah Fugaku.
"Hai! Bisa mengobrol sebentar? Mereka kenalanku," balas Minato dengan senyum khasnya mengetahui rasa penasaran Fugaku pada kedua sosok tersebut.
"Masuklah," lanjut Fugaku sembari mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya.
Rumah ini tak terasa familiar bagi Sasuke. Tentu saja karena ini adalah bangunan yang berbeda. Sepertinya sang ayah memutuskan untuk pindah rumah saat kelahiran dirinya di masa depan -atau masa lalu?-.
Meski tampak lebih kecil, tempat ini tetap terasa nyaman dan tentunya sangat bersih. Tampak sebuah simbol kipas -lambang khas Uchiha- yang cukup besar di dinding yang menghadap pintu masuk. Sasuke juga dapat melihat pigura sang ayah yang berlatar di akademi dan saat bersama kedua rekan geninnya.
Saat dirinya sibuk memandangi interior rumah tersebut, sang pemilik keluar dari dapur dengan membawa empat cangkir the hijau.
"Arigato," ucap mereka sopan.
"Hn," balas sang senior Uchiha singkat.
"Jadi, siapa mereka?" lanjutnya to the point.
"Haha.. langsung seperti biasanya, Fugaku?" balas Minato dengan sedikit candaan.
Fugaku hanya menatap datar dirinya.
"Dia sangat mirip denganmu, Sasuke." Naruto berbisik pada sang rival yang tentu hanya dibalas dengan lirikan singkat.
"Baiklah. Sebelumnya, tolong perkenalkan diri kalian!" ujar Minato pada Naruto dan Sasuke.
"Yosh! Namaku Uzumaki Naruto,"
"Hn. Uchiha Sasuke,"
Fugaku sontak membulatkan matanya terkejut.
"Uzumaki? Kau bercanda?" ucap Fugaku tak percaya saat melihat surai pirang Naruto.
"Dan kau," Fugaku menatap Sasuke lekat.
"Aku belum pernah melihatmu di sini," lanjutnya dengan pandangan penuh selidik.
"Ma, ma~ Santailah sedikit Fugaku, mereka bukan ancaman. Biar kujelaskan," sela Minato.
Fugaku pun mendengar dengan seksama penjelasan sang Namikaze.
•••
Fugaku tampak sedang berusaha mencerna setiap penjelasan Minato beberapa menit yang lalu.
"Kau tak berbohong?" tanyanya masih curiga.
"Tentu saja tidak!" sanggah Minato.
"Apa ada bukti?" tanya Fugaku ingin memastikan.
"Tentu saja," jawab Sasuke mendahului Minato sembari mengaktifkan Sharingan-nya dan menjebak Fugaku dengan mudah ke dalam genjutsu miliknya.
"Sasuke!" ujar Minato khawatir ketika Fugaku ambruk ke lantai.
"Tenang saja. Aku hanya memberikan beberapa memoriku," terang Sasuke.
"Oh. Souka," jawab Minato.
Tak lama setelahnya, Fugaku kembali tersadar. Kini dirinya benar-benar percaya pada kedua sosok di depannya.
"Lalu apa rencana kalian?" Fugaku membuka suara beberapa saat kemudian.
"Jika boleh, izinkan Sasuke tinggal denganmu. Tempatku hanya terdapat dua kamar dan Naruto akan bersamaku," terang Minato.
"Mereka akan tinggal ssmentara ini untuk melakukan beberapa hal. Akan kujelaskan besok karena sudah larut," lanjutnya lagi.
Fugaku tampak memikirkannya sejenak.
"Baiklah," ucapnya kemudian.
"Terima kasih," ucap Sasuke kemudian yang hanya dibalas anggukan oleh sang -calon- ayah.
TBC
A/N :
Gomenasai minna~
Sepertinya beberapa minggu ini author akan jarang update dikarenakan ujian akhir yang makin dekat. Masa penderitaan para pelajar, hehe..
Mohon dimaafkan. As always,
Arigato gozaimashita~
