"Orangtua mereka hanya salah menafsirkan kedekatan Jimin dan Taehyung selama ini. Tidak masalah, sebenarnya, tapi bagaimana jika berakhir perjodohan diantara keduanya? MASA SEME MAKAN SEME?! Bts Bangtan Boys VMIN MINV VKOOK MINKOOK"

author : MY Yeon

"MISUNDERSTAND"

=hanya sebuah pembuktian apakah cinta bisa berawal dari kesalahpahaman=

MY Yeon hanya memiliki ceritanya, tak bisa memiliki mereka meski banyak mengharap sekalipun

WARNING! AWAS KECEWA!

Happy Reading ^^^

888


Taehyung memberontak, tentu saja. Hell, dia ini seme, dan diperlakukan layaknya uke seperti ini tentu membuatnya naik pitam. Taehyung mencengkram pinggang Jimin yang terasa keras di telapak tangannya, mendorongnya sementara kepalanya berusaha berontak dari pagutan Jimin yang tak berbelas kasih.

Jimin benar-benar memagutnya dengan cara yang berantakan. Manakala Taehyung menghindar, ia menghisap bagian wajah manapun yang mampu ia jangkau. Wajah Taehyung memerah menyadari jika di beberapa kulit wajahnya pasti menimbulkan ruam memalukan.

"Jim lepaskan! Kau ini kesurupan atau apa?! Aku ini bukan Jungkook bangsat!" Taehyung berteriak di telinga Jimin manakala pemuda itu menjangkau lehernya.

"Jungkook?" Jimin tertawa. "Siapa Jungkook?" Jimin mengangkat wajahnya, membuat iris menggelap miliknya tertangkap penglihatan Taehyung. Taehyung terkejut mendapati ekspresi meremehkan nampak pada wajah kawannya. "Jungkook bukanlah apa-apa. Dia hanya alat yang kugunakan sebagai alasan agar aku bisa dekat-dekat denganmu."

Jimin beranjak, menduduki perut Taehyung. "Kau tahu? Sensasi saat berdesakan denganmu di anak tangga itu? Ohh wow sungguh menggairahkan dapat menatapi wajahmu dari jarak dekat." Jimin menjilat bibirnya. "Bibirmu, lebih terasa manis saat aku benar-benar mencicipinya."

Taehyung melakukan kesalahan dengan menganga menatapi Jimin tak percaya. Karena di tengah kelengahannya, tahu-tahu sepasang borgol melingkar di pergelangannya. Taehyung baru kembali ke alam sadarnya manakala dinginnya besi meresap di kulit.

"Yahh! Apa ini?!"

"Itu? Borgol. Yang sudah ku sambung dengan rantai." Jimin tertawa kecil, terlihat senang menatapi wajah Taehyung saat panik. "Kau cantik bahkan di saat kebingungan seperti itu."

Bagaimana tidak bingung? Taehyung sungguh tak mendapati kapan Jimin mempersiapkan semua ini. Taehyung telah mengobrak-abrik ransel Jimin sebelumnya dan tak menemukan benda apapun selain pakaian, perlengkapan 'tampan' dan beberapa gepok uang.

"Aku tampaan! Brengsek! Aku yakin kau kerasukan!" Taehyung menggeliat-geliat, berusaha menjatuhkan tubuh Jimin agar setidaknya kawannya tersadar. Sebuah kesalahan fatal karena Jimin justru menaikkan dagunya dan menggeram. Merasakan bagian selatannya tergesek tak sengaja.

"Jalang sepertimu masih mengaku seme? Kau bahkan tahu benar cara memancing gairah lelaki."

Taehyung mendelik, lebih tak terima jika dirinya diragukan kesemeannya. Taehyung tiba-tiba menyeringai, ia menemukan ide bagus.

"Dengan kau mengikatku, itu sudah membuktikan bahwa aku ini seme."

Jimin menaikkan sebelah alisnya, menghentikan keniatan mengeksplor puting Taehyung dari luar kaus menggunakan gigi. "Ucapanmu tidak berdasar."

"Hell. Dengar kawan, kau pasti mengikatku karena takut aku mampu melawanmu kan?" Taehyung melebarkan seringainya manakala kening Jimin telah semakin berkerut-kerut. "Kau boleh saja berotot, berat badanku boleh saja lebih ringan darimu, tapi tenagaku jauh lebih besar dari yang terlihat. Kau tahu pasti, maka dari itu kau memilih melumpuhkan tanganku lebih dulu menggunakan borgol. Dan Jim, kemari." Taehyung memberi gesture agar Jimin mendekati wajahnya. Berbisik tepat di depan wajah Jimin, Taehyung tersenyum menang.

"Kau sampai melupakan fakta bahwa kakiku masih terbebas."

Tendangan dilayangkan oleh Taehyung. Tidak mengenai Jimin, ia masih sayang sobatnya rupanya. Akan tetapi dari jari-jari kakinya, terlempar sebuah pisau buah yang kemudian bagian tajamnya mengenai rantai. Dan secara ajaib, rantai itu terlepas.

Taehyung dengan mudah membalikkan keadaan. Jimin memekik.

"Dengar? Pekikanmu mirip anak perempuan."

"Yahh!"

Jimin berontak, namun nihil karena benar apa yang dikatakannya, tenaga Taehyung jauh lebih besar dari yang terlihat. Taehyung mendekatkan wajahnya, refleks netra Jimin terpejam. "Aku bisa saja menyetubuhimu sampai kau mampus; hingga kau akan mengakui bahwa aku seme sejati yang bahkan bisa menaklukan seme abal sepertimu. Tapi yeah, aku masih menginginkan Jungkookie. Ku akui kau beruntung malam ini."

Taehyung berguling, kembali merebahkan tubuhnya di samping Jimin sedangkan Jimin terdiam seribu bahasa.

Hanya selang beberapa detik, Taehyung merasa telinganya menangkap sebuah isakan. Jimin menangis? Astaga. Taehyung tak percaya ini. Jimin adalah seme, Taehyung yakin itu. Dan seme tidak cengeng seperti ini. Maka Taehyung berusaha mengabaikannya, mana tahu itu bukanlah suara Jimin melainkan suara dari kamar sebelah. Bisa saja di sana ada yang baru saja kehilangan keperawanannya.

Tapi makin Taehyung menulikan pendengarannya, suara isakan itu makin jelas. Dan memang benar, makin lama suara isakan itu tidak mirip dengan suara Jimin. Ini sedikit lebih tinggi dari suara cempreng Jimin. Taehyung melirik, memastikan bahwa suara ini bukanlah suara seseorang yang dikenalnya.

"Jungkook?!" Taehyung terkejut bukan kepalang. Ini Jungkooknya. JungkookNYA. Perhatikan kalimat kepemilikan itu. Dan seluas pandangan Taehyung, ia tak mendapati Jimin di kamar ini di sudut manapun itu.

Taehyung beranjak, agar dapat manatapi Jungkook lebih jelas. Surai abu-abunya berantakan, wajahnya memerah dialiri air mata dan matanya sembab. Taehyung panik, tak tahu apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini. Taehyung memang menyukai Jungkook, sering menguntit, bahkan mengintip, namun ia tak pernah sekalipun berinteraksi langsung dengannya. Lantas kemana gerangan Jimin? Ia butuh bantuan temannya kali ini namun yang dimaksud tidak terlihat batang hidungnya sekalipun. Oh atau jangan-jangan Taehyung sempat tertidur tadi dan selama itu Jungkook masuk lalu Jimin adalah penyebab Jungkook menangis saat ini?

Taehyung menatapi kondisi kemeja Jungkook yang kusut dan dua kancing bagian atasnya terbuka. Tanpa diperintah, otak Taehyung segera saja mengilustrasikan kejadian yang tidak-tidak.

Bahwa Jimin baru saja melecehkan pemuda manisnya dan meninggalkannya begitu saja untuk kemudian Taehyunglah yang harus bertanggung jawab. Taehyung mengacak rambutnya berang.

"Katakan padaku apa yang dilakukan Jimin padamu?"

Jungkook menghentikan acara tangisannya lalu menatap Taehyung dalam.

"Kau."

Taehyung mengernyit. "Apa?"

"Kaulah alasanku menangis."

"Aku?" Taehyung menunjuk dirinya sendiri. Tidak Jimin tidak Jungkook. Kenapa keduanya membingungkan malam ini?

"Apa aku sebegitu menjijikannya hingga kau tak sudi menyentuhku?" Jungkook beranjak, tahu-tahu kedua lengannya sudah berada di kisaran leher Taehyung. Hidungnya mengendus aroma Taehyung yang khas. Manly sekali. Serta dengan sengaja menyeret bibirnya dari leher menuju tepi bibir Taehyung dan mengecupnya di sana.

Taehyung mematung di tempatnya. Setahunya, Jungkook bukanlah penggoda seperti ini. Jungkook adalah adik tingkat yang manis yang akan menunduk sopan kala bertemu dengannya di mana saja, mengucap kalimat sapaan lantas kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.

Tapi lihatlah yang berada di depannya kali ini. Ia bahkan berani mengecat rambut hitam pekatnya menjadi abu-abu. Lebih dari itu, ia berani membaringkan Taehyung dan merangkak di atasnya.

"Kau benar. Kau seme sejati." Jungkook meraih ujung kaus Taehyung dan menariknya ke atas. Taehyung merinding merasakan ujung jari Jungkook menyusuri kulitnya kala pemuda manis itu berusaha melepaskan kausnya. Untuk kemudian melemparnya entah kemana.

"Kau seme sejati hingga mampu membuat seme sepertiku rela berlutut di bawah kakimu."

Beberapa detik, Taehyung merasa bahwa yang tengah menghisap putingnya kali ini adalah Jimin. Jimin. Taehyung menggelengkan kepalanya, berharap penglihatan ngawurnya berhenti sekarang juga. Namun tetap saja, yang tengah menggigiti dadanya adalah Jimin. Rambut Jimin memang abu-abu, dan apalagi ini?! Jangan membuat Taehyung bingung di tengah libidonya yang tengah membumbung Ya Tuhan..

Ini Jungkook ini Jungkook ini Jungkook kan?

Pertanyaan Taehyung terjawab kala makhluk yang tengah meraba kebanggaannya dari luar celana itu mendongak. Menunjukkan wajah bayi Jungkook yang terkontaminasi napsu di sana. Itu memang Jungkook. Tapi manakala ia menyeringai, wajah manis itu berganti wajah Jimin.

Hell! Apa Taehyung tengah mabuk saat ini?

Seketika Taehyung ingat makan malamnya beberapa jam yang lalu. Saat dua porsi besar makanan tersaji di hadapannya. Jimin bilang itu adalah paket honeymoon di hotel ini. Ia sengaja memesannya karena paket honeymoon lebih murah dengan porsi yang lebih besar, cukup untuk perut laparnya dan cukup untuk menghemat uangnya yang kian menipis.

Dan sekarang Taehyung curiga bahwa mungkin saja di dalam makanannya tercampur zat-zat aneh yang membuatnya hilang fokus seperti ini.

Tapi disaat ia yakin pemuda di atasnya adalah Jimin, wajah itu justru berubah menjadi wajah Jungkook!

Astaga imanku..

"Mau menjadi submisif seperti ini? Tidak mau mendominasiku?" Jungkook cemberut, dan Taehyung tak kuasa menghentikan nalurinya.

Di helanya tubuh Jungkook, disentuhnya di mana-mana hingga tahu-tahu kain yang melekat di sana telah menghilang. Pun dengan kain yang membalut kakinya. Keduanya saling menggesekkan tubuh telanjang mereka dan saling mendesah mengisi udara. Taehyung menciumi tubuh pemuda di bawahnya dengan beringas. Jungkook memberinya imbalan dengan mendesahkan nama Taehyung berulang kali.

"Kau wangi.. Jungkook." Taehyung mengendus leher Jungkook. Tak lupa menjilatnya dan memberikan tanda di sana. "Dan manis.." Jungkook menggeliat, antara merasa geli sekaligus nikmat.

"Ya.. Anghh. Masuk, Tae.. Rasakan aku."

Taehyung mematung.

Barusan itu.. Suara Jimin.

Dan burungnya terlanjur memasuki sarang hangat di bawah sana.

.


.

Pagi yang indah.

Meski tak ada nyanyian burung asli yang terdengar di lantai delapan tepatnya kamar nomor 132, dimana terdapat dua orang pemuda tengah tertidur pulas.

Pulas sekali.

Sementara di depan mereka, seorang pria dewasa duduk di sofa sembari menikmati secangkir teh yang barusan dikirim oleh pegawai hotel untuknya. Manik berlapis kacamata itu memicing, menatapi pemandangan merusak mata di depannya. Sungguh tidak enak dipandang sampai rasanya ia ingin memberi tabokan sayang pada kedua makhluk yang masih tertidur pulas di atas ranjang berantakan yang lebih mirip kapal pecah.

Setidaknya begitulah keduanya tertidur, sebelum salah satu diantara mereka mengendus aroma aneh yang beberapa detik kemudian terasa familiar di indera penciuman.

Park Jimin membuka mata, mengedarkan tatapan ke sekeliling dan menggeram jengkel begitu tahu apa yang telah terjadi.

"TAE SPERMAMU ASTAGA!"

Taehyung yang masih di alam mimpi tentu terkejut. Sebab dirinya dipaksa kembali ke dunia nyata dengan begitu kejam. Tubuh seksinya terguling dari ranjang akibat kamekameha yang dilancarkan oleh Jimin dengan sempurna.

Taehyung mengaduh, menatap Jimin nyalang; bermaksud mengeluarkan amaterasu -api hitam yang dipelajarinya dari itachi- sebelum kemudian terdengar suara dehem yang begitu dikenalinya. Bukan suara Jimin.

Taehyung melirik patah-patah. Begitu pula dengan Jimin. Setelah menemukan sosok yang dicari, keduanya membulatkan mata kompak.

"Its ok, kalau kalian ingin saling mencicipi terlebih dahulu.. Tapi bukan berarti harus bolos sekolah selama seminggu kan?" pria itu beranjak, merapikan jasnya lantas mengubah raut ramah di wajahnya menjadi lebih tegas. "Pulang sekarang, atau menikah besok?"

Taehyung meneguk ludah. Ayahnya, CEO Kim Namjoon bukanlah seseorang yang dapat dibantah.

Namjoon mendekati Jimin, lantas mengusap kepalanya sayang. Senyum yang tadi sempat hilang telah kembali dengan kilat. "Bersihkan dirimu dari aroma Taehyung. Lalu ajak setan ini pulang, oke? Ayah mengandalkanmu menantu."

Hell. Dia ini ayahku atau bukan sih?

Namjoon beranjak pergi. Jemarinya baru saja menyentuh kenop pintu ketika kemudian dia berbalik.

"Oh, ayah baru pulang dari Jepang kemarin sore dan kebetulan menemukan nama kalian di daftar tamu. Maaf mengacaukan bulan madu kalian." Namjoon menyeringai, dan saat memastikan ayahnya menghilang, Taehyung berteriak.

"KUADUKAN PADA IBU KALAU AYAH PERGI KE JEPANG KARENA GADIS-GADIS SEMOK ITU!"

Tengnong.

Tepat semenit usai Taehyung mengumpat, ponsel Taehyung menampakkan notif line di layarnya.

=appa kece eothokke=
[tahu tempat sampah yang cocok untuk dvd baru ini? Padahal tadinya ayah beli khusus untukmu]

Taehyung mengatupkan mulut yang tadinya berniat menyumpahi ayahnya. Kalau begini Taehyung tidak jadi mengadu macam-macam. Dvd itu akan menjadi pengganti mimpi basahnya yang kacau pagi ini.

Ya, mimpi basah bersama Jungkooknya. Lupakan keberadaan Jimin sebagai pengacau di sana.

.

.

.

putus atau nyambung?

.

.

.

Big Thanks To :

tobikkoARMY / MingyuAin / nuruladi07 / Elixir Edlar / vanillatae / Arvhy / IronChan / Hinter EBrille / Park RinHyun-Uchiha / ParkceyePark / Mara997 / Swaggxr13 / Baby Shin Chimchim / Pongpongie / ParkMitsuki / hhanqueen / TaeHyun / MelvyE / yohanasoherti98 / GoodFF / tity / HunHanLoverz / CuteTaetae / LianaPark / Sweetmatcha / Guest / zaet00 / lilcyriel / 9 duolC / SIDERS / [mohon maaf jika ada yang terlewat]

Ehem. Langsung saja, sebenarnya saya fleksibel mengenai pairing. Tidak masalah siapa uke siapa seme diantara mereka bertujuh. Kecuali Namjoon yang memang tidak bisa dibayangkan sebagai uke. Tapiiii jujur saja saya memang cenderung ke KookV dan YoonMin dimana Jimin dan V adalah uke sejati di mata saya *plak. Dan ff ini sungguh jadi tantangan untuk saya. Dimana saya harus menjadikan Kookie sebagai uke di sini. Mengenai Jimin atau Taehyung yang terlihat seperti uke, itu memang sengaja saya bikin seperti itu.

Ingat? Orangtua mereka masing-masing saja diceritakan salah paham mengenai keduanya. Baik Park maupun Kim sama-sama menganggap anak mereka seme dan lainnya uke. Apalagi kalian sebagai pembaca? Tentunya saya juga ingin membuat kalian salah paham wahahaha *guling-guling

Jadi, soal siapa seme sejati dan siapa seme yang akan berakhir menjadi uke akan diketahui di chap akhir atau menjelang akhir.

Bahkan bisa saja saya membuat keduanya seme tak terbantahkan. Yang berakhir saling mencintai, atau tetap berebut Kookie.

Tolong ampuni saya jika cerita ini tidak menarik di mata kalian atau bahkan membuat kalian muntah.

Ohya, terima kasih atas saran kalian, khususnya kak Elixir Edlar yang menyarankan orangtua mereka bertukar pair /?/ bikin imajinasi saya makin kemana-mana

Jadi orangtua Tae adalah Kim Namjoon dan Kim Baekhyun, sementara orangtua Jimin adalah Park Chanyeol dan Park Seokjin. Semoga kalian tidak kecewa karena ff ini bergenre humor, jangan diambil hati. Bertukarnya mereka bukan tanpa sebab, tentu akan saya kaitkan dengan jalan cerita. Btw saya merasa puas membayangkan Taehyung begitu tunduk pada ayah Namjoon, daddynya mayon *eh.

terima kasih sudah membaca cuap-cuap saya yang tidak penting ini

Tertanda,
MY Yeon

p.s=mimpi, sekalipun itu mimpi basah, saya rasa tidak ada yang sesempurna kenyataan *ngeles *kabur