Dan sekarang di sinilah Sakura. Terdiam sambil membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rumah itu—rumah mewah yang sangat indah—dihiasi dengan pekarangan yang luasnya mungkin dapat dijadikan sebagai stadion sepak bola internasional atau mungkin lebih, yang ditanami bermacam-macam tanaman hias yang Sakura ketahui harganya mahal. Dan pandangannya segera berubah menjadi berseri-seri—persis anak kecil yang diberi gulali—ketika matanya menangkap pohon mawar putih yang tumbuh dengan lebatnya di sudut pekarangan rumah itu.

"Mawar putih!" teriaknya. Tanpa mendengar larangan dari empat pria itu, kakinya melangkah dengan cepat menuju pohon mawar itu. Dan ia hampir saja menyentuh salah satu bunganya ketika ia harus terkejut mendengar teriakan seseorang dari beranda yuang berada tepat di atas jendela dekat pekarangan itu.

"MENJAUH DARI TEMPAT ITU, WANITA BODOH!"

Sakura merasakan jantungnya hampir saja copot mendengar teriakan itu. Wajahnya memerah menahan kaget dan amarahnya. Berani sekali mengataiku bodoh, pikirnya. Dengan cepat, ia mengangkat wajahnya, berusaha melihat siapa yang telah berani mengatainya.

Dan sekarang ia harus berusaha untuk tidak berteriak histeris melihat betapa rupawannya wajah itu.

Neji memicingkan matanya, "Sasuke!" teriaknya. Neji tampak agak terkejut juga melihat kelakuan saudaranya itu. Bagaimanapun, Sakura-lah yang akan merawatnya dan empat saudaranya—khususnya si rambut hitam yang memang butuh perawatan ini.

"Sudahlah teme… Sakura-chan itu tidak bersalah! Dia—" Naruto tak sempat melanjutkan kata-katanya—terpotong oleh reaksi Sasuke.

Si rambut hitam super tampan itu mendengus. "Dia yang salah! Hei, kau! Menjauh dari bunga itu!" teriaknya pada Sakura.

Sakura memicingkan matanya, kesal. "Hei sombong! Tanpa kau suruh pun aku akan menjauh!"

Mata hitam pemuda itu tampak berapi-api karena kesal, "Kalau begitu cepat pergi!" katanya kasar pada gadis malang berambut merah muda yang sebenarnya tak mengerti mengapa ia tak diperbolehkan menyentuh bunga yang sebenarnya sangat ia sukai itu.

Kali ini, pandangan si gadis melunak, mencoba memohon. "Aku hanya ingin melihatnya sebentar.."

"KAU—" suara pemuda itu tertahan karena kesal, dan tangannya ternyata bergerak lebih cepat daripada mulutnya itu.

Benda keras di sebelahnya pun menjadi sasaran.

"HARUNO!"

DUKKK

Terdengar suara benda tumpul yang menghantam sesuatu dengan cukup keras—yang tak lain vas bunga bertemu kepala.

"GAARA!"


Naruto © Masashi Kishimoto.


Are You My Prince ?

Chapter 2 : Dia Psikopat

© 2009, Myuuga Arai


Sakura hanya diam tak bergeming melihat apa yang terjadi. Otaknya seolah mengkhianati dirinya yang saat itu butuh penjelasan.

Ditatapnya Gaara yang kini sedang memeluk tubuhnya—yang kini sedang terbaring di tanah karena Gaara secara tiba-tiba mendorong tubuhnya seraya memeluknya. Oh, kali tidak dalam keadaan romantis seperti di telenovela atau novel-novel cinta, tapi dalam keadaan menegangkan.

Menegangkan?

Tentu ya, karena Sakura hampir saja kehilangan nyawanya karena ada vas bunga dengan bahan dasar marmer yang melayang ke arahnya, siap menghantamnya kala itu. Dan yang lebih tidak ia percayai adalah; pelemparnya adalah pria super-duper tampan yang entah mengapa kelihatan tidak merasa bersalah. Raut wajah itu tetap tenang, hanya alisnya yang sedikit bertautan—itu pun bukan karena merasa bersalah, tapi karena kesal.

Normalkah?

"A-aa.." Sakura dapat mendengar erangan pelan dari Gaara. Dengan perlahan, dilepaskannya pelukan Gaara.

Sesuatu yang merah pekat terasa mengalir dari kening gadis itu.

Darah.

"Astaga, Sakura-chan! Keningmu berdarah!" Suara Naruto memecah keheningan yang melanda mereka. Sakura cepat-cepat menghapus jejak-jejak darah yang mengalir dari pelipisnya yang sedikit terasa perih. Tangan halusnya mencoba meraba bagian kepalanya yang memang terasa perih itu, kemudian tersadar bahwa lukanya hanya sebuah luka goresan yang memang cukup perih—tapi tidak seharusnya darah sampai mengalir.

Lalu darah siapa?

"Aaw.." Gaara mengerang pelan sekali lagi—sehingga hanya Sakura yang notabene berada sangat dekat dengannya yang mendengarnya. Sakura pun dengan sigap segera memeriksa keadaan Gaara, dan benar saja, bagian leher Gaara sedikit sobek.

"Kalian! Tolong ambilkan kotak P3K di tasku!" perintah Sakura cepat. Dalam keadaan seperti ini, bisa dibilang Sakura memang telah terlatih.

Sai dengan sigap segera berlari masuk ke rumah besar itu, melakukan perintah Sakura.

Neji tampak berpikir sesaat. "Naruto! Amankan Sasuke! Suntikkan obat penenang padanya!" katanya cepat. Sakura dapat merasakan bahwa semuanya tampak memucat, tapi satu hal yang membuat Sakura tak paham begitu melihat mata Neji adalah; ia tampak terbiasa.

Ah, tak hanya Neji, karena Sakura dapat merasakan orang-orang yang berada di sini tampak terbiasa.

Kenapa?

"Sakura-san?" suara Neji mengejutkannya.

Sakura segera menggeleng grogi. "A-ada apa, Neji-san?" katanya sedikit terbata. Dan begitu Neji menggeleng pelan, Sakura segera mengkonsentrasikan pikirannya ke Gaara yang saat ini masih menahan sakit. Tangan kanan pria itu memegangi lukanya yang tampaknya memang cukup dalam itu, dan tangan kirinya mencengkram erat pergelangan tangan Sakura.

Sakura dapat merasakan nyeri di tangannya yang digenggam Gaara itu, namun ia membiarkan Gaara melakukannya. Toh, Gaara terluka pun karena berusaha melindungi dirinya.

"Sakura-san, kepalamu sakit?" tanya Neji lagi. Sakura menggeleng.

"Tidak seberapa sakitnya. Aku lebih khawatir pada Gaara-san…" katanya pelan. Dan Neji segera menyadari adanya perubahan eksperesi di wajah gadis cantik itu.

Neji tahu, Sakura merasa bersalah.

"Sudahlah, Sakura-san. Ini bukan salahmu. Sasuke memang—"

"Ini kotak P3K-nya." Sai tampak lelah begitu sampai. Sakura dan Neji segera mengangguk. Dengan perlahan, Sakura mencoba melepaskan cengkraman Gaara pada tangannya.

Segera, tangan Sakura segera memeriksa luka di leher Gaara. Ada sesuatu yang menancap; pecahan marmer.

Sekali lagi, tangan Sakura dengan cekatan mencoba mengambilnya dengan sangat hati-hati menggunakan pinset yang sebelumnya ia lumuri cairan alkohol.

"Tahan sakitnya, aku akan menjahit lukanya. Tenanglah, ini hanya sekitar 3 jahitan. Perlukah obat bius?" tanya Sakura pelan. Gaara menggeleng.

Kres, kres.

"Aww." Gaara meringis pelan. Matanya terbuka perlahan, dan saat itulah dia terkejut.

Entah apa yang membuat Gaara begitu terkesima melihat Sakura yang sedang mengobati lukanya. Ah, ia bisa merasakannya. Gadis ini berbeda, tak terlihat seperti gadis-gadis lain yang berisik dan cengeng begitu melihat ada orang yang terluka cukup parah. Gadis ini berbeda; tampak begitu tegar namun lembut. Sorot matanya menunjukan sesuatu yang tampak terbiasa dengan perlakuan kasar, yang seharusnya ditakuti oleh anak-anak gadis seusianya.

Kenapa?

"Selesai!"

Gaara terhentak dari lamunannya tentang gadis ini begitu mendengarnya berteriak. Dengan wajah yang menunjukakan keterkejutan, Gaara melirik gadis berambut merah yang kini tersenyum mengalihkan pandangannya begitu mata hijau teduhnya bertatapan dengan mata yang sewarna dengan matanya—namun terlihat menyimpan misteri.

Indah, namun tak teraba. Gaara sadar, mata hijau emerald itu menyimpan suatu kenangan buruk.

"Gaara-san? Masih sakitkah?" tanya Sakura lembut.

Gaara tampak meraba bagian lukanya yang kini terbalutkan perban dengan rapi sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Tidak. Terima kasih."

Wajah Sakura memerah sesaat ketika menyadari bahwa ia sendiri belum mengucapkan kata-kata terima kasih pada orang yang telah menyelamatkannya ini. Tangan kanannya mengibas pelan di depan wajahnya, "A-aku yang harusnya mengucapkan terima kasih padamu! Terima kasih!" ucap Sakura sopan seraya membungkukkan tubuhnya.

"Hn. Sama-sama."


Sasuke kini telah terduduk tenang di sofa mahalnya, tertidur. Ah, mungkin tenang bukanlah kata-kata yang tepat, mengingat ketenangan Sasuke sendiri karena obat bius yang diberikan Naruto.

"Hhh.." Naruto menghela napas lelah. Cukup bosan juga menyuntiki Sasuke dengan obat bius. Bosan? Tentu saja, menyuntiki orang setiap hari apabila yang bersangkutan sedang mengamuk—yang berarti terjadi hampir sehari lima kali adalah hal yang membosankan, dan tentu menyakitkan.

CREKK

Naruto terhenyak sesaat, terkejut."Uhh.. Kukira siapa. Ternyata kalian—mana Sakura-chan?" katanya cepat begitu ia melihat Neji dan Sai memasuki ruangan itu.

Sai menggeleng. "Dia sedang berada di ruang tengah. Naruto-kun, kita harus menjelaskan pada Sakura-san sekarang. Ayo ikut."

-

-

"Baik," Sakura berkata dengan penuh penekanan, "kurasa sekarang saatnya kalian menjelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya." Gadis itu membuka pembicaraan dengan wajah datar—terlalu bingung mau memberikan ekspresi apa pada empat pria yang hampir membuatnya celaka itu.

Empat pria itu secara bersamaan berpandangan—ada ekspresi perasaan bersalah yang tercermin dari mata mereka.

Hening beberapa saat.

Sakura kembali menatap mereka satu persatu, dan masih tak mengerti mengapa mereka mempunyai ekspresi yang terlalu berbeda. Si Naruto tampak senyum-senyum—namun Sakura tahu ia merasa tak enak juga.

Gadis itu mendengus kesal. "Kalau kalian tidak mau buka mulut, tolong biarkan aku pergi."

"JANGAN!" teriakan Naruto keluar dengan cepat. "Ehm, maksudku, Neji akan menjelaskannya padamu, jadi jangan pergi dulu!"

Neji mengerutkan kening, "Aku?" katanya heran, tapi begitu melihat raut serius dari ketiga saudarnya, ia sadar ia harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. "Ehm. Baiklah," katanya membuka pembicaraan. "Begini Sakura, kami telah menyeleksi ratusan—atau ribuan—orang yang ingin menjadi perawat di sini. Dan kami memutuskan—yah sebenarnyas atas bantuan Tsunade-sama, kepala rumah sakit—untuk mempekerjakanmu di sini." Jelasnya pelan.

Sakura mendengus sebal. "Kau pikir aku bodoh? Aku tak mau dengar asal-usul kalian mempekerjakanku dan bukannya orang lain, aku hanya ingin tahu kenapa cowok bernama Sasuke itu tampak sangat membenciku!'

"Kau benar-benar ingin tahu, Sakura-san?" Sai bertanya dengan wajah datar, membuat Sakura ingin sekali meremas wajahnya.

Sakura mendengus. "Ya."

"Dia—"

-

-

"—mengalami gangguan jiwa."

Sakura mengangguk. "Oh."

.

Hening.

.

"APAAA??" Naruto menirukan suara Sakura sambil berteriak. Yang lain hanya memandanginya dengan tatapan heran. "Oh, ayolah, Sakura-chan," katanya tampak frustasi, "kenapa kau tampak tak terpengaruh? Kenapa kau biasa-biasa saja? Setidaknya jatuhkanlah gelas—atau berteriaklah seperti itu."

Sai tersenyum. "Kau berlebihan, Naruto-kun." katanya datar. "Tapi kau juga terlalu biasa, Sakura-san. Padahal kami bertaruh kalau kau akan berteriak. Naruto-kun bahkan bertaruh kau pingsan."

Sakura ikut tersenyum. "Kalian bertaruh? Huh, kekanak-kanakan sekali. Aku tentu saja tidak kaget, jelas-jelas aku tadi melihatnya hampir membunuhku. Kalau tidak setengah sinting, apa lagi?" katanya datar. "Jadi…, si Sasuke itu sudah mendapat terapi dari rumah sakit mana, hm?" tanyannya pelan. Matanya beralih dari empat cowok tampan di depannya ke arah Sasuke tertidur pulas—di atas sofa.

Empat pasang mata tajam milik keempat pria tersebut saling berpandangan, tampak bingung menjelaskan. Tapi mereka sadar, mereka harus menjelaskan semuanya pada gadis ini.

Naruto membuka suara pertama kali, "Ano, Sakura-chaaan. Kami akan menjelaskannya, tapi kami harap kau tidak terlalu terkejut atau apalah itu—kami benar-benar ingin kau yang merawat kami. Jadi…, janji, yah, kau enggak akan ninggalin kami—apapun keadaannya?" tanya Naruto was-was. Matanya melirik ke sana-kemari, tampak sekali ia setengah ketakutan.

Sakura mengerutkan kening. "Well, tergantung apa yang ingin kau jelaskan. Pokoknya aku jelas-jelas akan meninggalkan kalian kalau kalian menyembunyikan sesuatu yang seharusnya aku ketahui. Lagipula, apa kalian pikir aku sepengecut itu? Maksudku, apakah aku kelihatan seperti anak manja cengeng yang akan kabur khanya karena masa lalu kalian berlima yang di luar batas kewarasan—khususnya si rambut hitam setengah sinting itu," katanya hati-hati, "tenanglah, aku memang sudah berniat bekerja di sini—apapun yang terjadi." tambahnya penuh penekanan. Yang lain mengangguk mantap.

"Kalau kau memang bersungguh-sungguh," Neji menjelaskan, "kami akan memberi tahu semua masalah kami. Jujur saja, kau orang pertama yang tahan dengan Sasuke." katanya seraya tertawa ringan. "Begini, sebenarnya, Sasuke itu pernahdi bawa terapi di banyak rumah sakit kejiwaan—bahkan yang di luar Konoha. Hanya saja…, tak ada yang berhasil—" N00eji menjelaskan hati-hati, matanya tak lepas dari wajah Sakura, berusaha mengamati perubahan ekspresi gadis itu sekecil apapun. Neji menghela napas lega begitu melihat wajah Sakura yang tetap tenang dan tampak mendengarkan dengan serius. "—karena itu, dokter menyerah dan menyarankan di rawat di rumah saja—dengan salah satu perawat potensial tentunya. Dia juga menyarankan perawat itu seumuran dengan kami, agar Sasuke dapat teman baru. Dan Tsunade-sama menyarankanmu."

Sakura mengangguk mengerti. "lanjutkan."

Neji menghela napas. "Menurut dokter itu, Sasuke cukup diberi obat penenang dosis tinggi kalau sedang mengamuk." lanjut neji. Dan di situlah ia menghentikan kata-katanya, takjub atas reaksi Sakura.

Takjub? Ah, tidak. Bukan takjub, tapi khawatir begitu melihat raut wajah Sakura yang tadinya tenang segera berubah.

"O-obat penenang dosis tinggi? Dan orang amatiran seperti kalian yang memberikan—ini GILA! Berapa kali seminggu kalian berikan?" suara lembut Sakura berubah melengking tinggi.

Yang lain bertatapan was-was.

"Hampir lima kali sehari," Gaara berkata jujur.

"LIMA KALI SEHARI? KALIAN BERNIAT MEMBUNUHNYA?" amarah Sakura kali ini tak terbendung. Tak ada main-main lagi, ini sudah keterlaluan, pikirnya garang. "Kalian tahu, pemberian obat penenang dosis tinggi dapat menyebabkan kelumpuhan syaraf pada otaknya!" itu jelas bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Naruto berusaha mencairkan keadaan,"Tenanglah dulu, Sakura-chaaan. Kami mana mungkin berniat jahat pada saudara kami…"

Sakura segera menghela napas m,endengar kata-kata Naruto. Bagaimanapun, Sakura harus harus memaklumi keadaan ini, toh mereka Cuma orang amatir. "Oke, sudah berapa lama kalian memberi obat bius tersebut?"

Sai mengerjapkan matanya."Hem, kurang lebih sudah dua minggu. Apakah seberbahaya itu?" tanyannya mendengus kesal.

"Sangatsangatsangat berbahaya, asal kalian tahu saja. Ah, sudahlah. Aku akan melakukan pemeriksaan sebentar pada Sasuke, sudah sejauh mana kalian hampir membunuhnya," katanya sarkastik. Rasa simpatinya pada keempat pria tampan itu tiba-tiba saja meluap entah ke mana.

-

-

"Ah, kau sudah sadar, Sasuke-kun?", adalah kata-kata yang pertama kali Sasuke dengar ketika matanya terbuka. Matanya memincing dan otaknya segera bekerja, berusaha mengingat-ingat kenapa ada gadis berambut aneh di rumahnya.

"MENJAUH DARI TEMPAT ITU, WANITA BODOH!"

Sekarang Sasuke ingat apa yang terjadi. Gadis di hadapannya ini adalah sebuah ancaman, setidaknya begitulah pikir Sasuke. Gadis ini berniat menghancurkan mawar putihnya!

Sakura sadar akan reaksi Sasuke, karena itu ia segera ingat apa yang harus dikatakannya pada pemuda ini. "Aku…, aku minta maaf karena mendekati mawar putih tersebut tanpa izinmu, Sasuke-kun. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak berniat merusaknya. Aku juga menyukai mawar putih tersebut, asal kau tahu saja." Jelas Sakura lembut, pandangan matanya memohon.

Sasuke jelas tidak mempercayai gadis ini. Cih, mana mungkin Sasuke akan mempercayai gadis yang baru dikenalnya. Sangat bukan Uchiha sekali.

"Aku bersumpah aku tidak akan merusak mawar-mawar tersebut!" Sakura memulai lagi.

Sasuke menggeram, "Pergilah," katanya dengan emosi tertahan.

Sakura menggeleng pelan, masih berusaha mencairkan suasana. "Tidak." katanya tegas.

Tangan Sasuke terangkat, hendak memukul kepala berambut pink tersebut. Tapi sesuatu dengan cepat menahan pergelangan tangannya yang sudah terayun.

"Bukan begitu cara memperlakukan wanita, Sasuke."

Sasuke membelalakkan matanya, "Neji!"

TBC


ohoho, kependekankah? Tadinya mau dibuat lebih panjang, tapi segini dulu, yah? Aku hampir aja nangis waktu file ini terancam ilang dari kompiku yang lagi kena virus, huhuhu…

oke, oke, masih sekedar capter penjelas yang enggak penting, jadi mohon sabar menunggu!

Salam,

Myuuga Arai